Pusaka Pulau Es -2 | Kho Ping Hoo



Pusaka Pulau Es -2 | Kho Ping Hoo
Guru silat yang berjuluk Pek-houw-eng dan menjadi kepala dari Pek-houw Bu-koan itu. mendengus. “Hemmm, mana perempuan yang telah menghina murid-murid kami itu?”

“Ia masih makan di dalam, Teng­kauwsu. Akan tetapi harap Kauwsu suka bersabar dan menanti sampai ia keluar. Kasihanilah tamu-tamu lain yang tidak bersalah dan jangan merusak rumah ma­kan kami.”

“Hemmm, baiklah. Hei, kalian jaga di empat sudut, jangan biarkan perempuan itu meloloskan diri!” perintahnya kepada anak buahnya dan dia sendiri men jaga di depan pintu pekarangan rumah makan itu.

Para tamu lain yang melihat kedatangan rombongan itu, menjadi ketakutan. Mereka segera membayar harga makanan dan bergegas meninggalkan tempat itu, takut, terlibat. Kwi Hong melihat hal ini, akan tetapi ia tetap tenang. dan melan­jutkan makannya. Ia melihat semua tamu telah pergi, kecuali seorang pemuda berpakaian sederhana yang duduk di meja tengah ruangan itu. Ia tidak peduli. Setelah selesai makan, Ia menyeka mulutnya dan memanggil pelayan. Dengan sikap seenaknya ia membayar harga makanan, barulah ia melenggang keluar dari rumah makan itu. Keng Han mengikutinya dengan pandang mata dan akhirnya dia membayar pula harga makanan dan menyelinap keluar.

Karena memang sudah dinanti, begitu keluar dari rumah makan yang sudah sunyi itu, Kwi Hong telah datang dihadang oleh Pek-houw-eng Teng Coan bersama tiga puluh orang muridnya! Guru silat itu tercengang juga. Tak disangkanya bahwa perempuan yang telah menghina dan menghajar tiga orang muridnya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita dan masih remaja! Paling banyak tujuh belas tahun usianya! Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia harus tetap menjaga nama dan kehormatan Pek-houw Bu-koan!

“Nona, berhenti dulu!” Bentak Teng Coan ketika melihat Kwi Hong melangkah terus tanpa mempedulikan dia dan para muridnya, dan sengaja dia menghadang di depan gadis itu.

Kwi Hong mengangkat muka memandang seolah baru sekarang ia melihat ada orang menghadangnya. “Hemmm, siapakah engkau dan mau apa engkau menahan perjalananku?” tanyanya dengan sikap acuh tak acuh.

“Nona, benarkah engkau yang tadi telah menghina dan memukuli tiga orang murid kami?”

“Hemmm, kalau memang betul, mengapa?”

“Nona, engkau terlalu kejam. Tanpa alasan yang kuat engkau melukai murid­murid kami, akan tetapi melihat bahwa engkau hanya seorang gadis remaja, maka biarlah aku akan habiskan urusan itu kalau saja engkau suka mohon maaf sambil berlutut di depan kakiku!” Guru silat itu merasa tidak enak sendiri kalau harus berkelahi dengan seorang gadis remaja, maka dia hendak menghapus penghinaan itu dengan balas menghina dara itu. Kalau dara itu mau berlutut dan minta maaf, dia pun sudah akan puas dan semua orang tentu akan melihat dan membicarakannya.

Akan tetapi Kwi Hong mengerutkan alisnya. “Apa katamu? Aku berlutut minta maaf kepadamu? Jadi engkau guru mereka? Sepatutnya engkau yang mintakan maaf bagi mereka kepadaku. Tahukah engkau apa sebabnya aku menghajar tiga orang muridmu? Semua orang melihatnya betapa mereka bertiga itu bersikap kurang ajar kepadaku, maka aku mewakilimu untuk menghajarnya! Sepatutnya engkau menghaturkan terima kasih dan mohon maaf, kepadaku!”

Keng Han yang menonton pertemuan itu hampir tertawa bergelak mendengar ucapan itu. Gadis itu benar-benar hebat. Selain tabah dan berani, ternyata juga amat pandai bicara dan bicaranya tidak ngawur! Akan tetapi kepala perguruan silat itu menjadi merah mukanya dan dia menggertak, “Nona, engkau masih tidak mau minta maaf? Lihatlah, tiga puluh orang muridku siap untuk membalaskan dendam saudara mereka. Apakah engkau tidak takut? Cepatlah minta maaf agar urusan ini segera beres dan habis.”

“Kalau engkau dan mereka itu datang untuk membela orang-orang yang bersalah, aku sama sekali tidak takut, bahkan kalian semua ini patut dihajar karena membela yang salah!” Kwi Hong marah.

“Bagus, engkau ternyata keras kepala dan sombong, sudah sepatutnya aku menghajarmu!” teriak guru silat itu agar semua orang mendengar bahwa dia terpaksa melawan seorang gadis remaja karena gadis itu sombong dan tidak mau minta maaf. Setelah berkata demikian dengan gerakan sembarangan saja tangannya menampar ke arah pundak gadis itu. Bagaimanapun juga, Teng Coan bukan penjahat, bahkan julukannya adalah Pendekar Harimau Putih, maka dia menganggap dirinya seorang pendekar sejati. Dia tidak menyerang dengan sungguh­sungguh, maksudnya cukup asal menjatuhkan gadis itu saja untuk menghukumnya.

Akan tetapi dia kecelik kalau mengira dengan satu tamparan dapat mengalahkan Kwi Hong. Dengan amat mudahnya Kwi Hong menarik pundaknya ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin kosong saja. Melihat tamparannya dapat dielakkan dengan mudah, Teng Coan menjadi penasaran dan kembali tangan kirinya menampar, kini lebih cepat dan kuat ditujukan ke arah muka gadis itu.

“Wuuuttttt....!” Kembali tamparannya mengenai tempat kosong karena dengan mudah dielakkan oleh Kwi Hong yang menggeser kakinya ke kiri lalu tangannya bergerak cepat membalas serangan lawan dengan tonjokan ke arah dada guru silat itu. Kwi Hong tidak me­mandang rendah lawan, maka tonjokannya tidak dilakukan dengan setengah tenaga melainkan dengan cepat dan amat kuat. Melihat ini. Teng Coan cepat menarik tangannya dan sambil miring ke kiri dia menggunakan tangan kanan untuk me­nangkis pukulan Kwi Hong. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dengan maksud membuat pukulan itu bukan hanya tertangkis, akan tetapi agar gadis itu terdorong dan lengannya terasa sakit bertemu dengan lengannya sendiri.

“Dukkkkk....!” Dua buah lengan tangan bertemu, lengan tangan yang bertulang besar dan berotot kekar melawan lengan tangan yang bertulang kecil dan berkulit putih halus seolah tidak berotot. Akan tetapi akibatnya sungguh amat mengherankan. Tubuh guru silat itu terhuyung ke belakang sedangkan Kwi Hong tetap berdiri tegak sambil tersenyum!

Kini anak buah atau murid-murid Teng Coan sudah tidak sabar lagi. Dengan senjata golok dan pedang di tangan, mereka maju mengeroyok.

Melihat ini, Teng Coan tidak melerai bahkan dia pun menghunus pedangnya. Karena menghadapi banyak orang yang memegang senjata tajam, Kwi Hong melompat jauh ke belakang sambil mengerahkan kedua tangannya ke punggung dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Para penonton menjadi panik melihat mereka semua sudah memegang senjata tajam. Banyak yang menjauhkan diri dan memandang dengan ngeri dan khawatir akan keselamatan gadis cantik itu. Akan tetapi, begitu Kwi Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut serbuan para murid Pek-houw-bukoan, terdengar jerit-jerit kesakitan dan tiga orang sudah roboh dan terluka. Ada yang pundaknya, ada yang pangkal lengannya, ada pula yang pahanya terserempet pedang di tangan Kwi Hong yang amat lihai itu.

Keng Han yang melihat itu, tidak mengkhawatirkan Kwi Hong. Melihat gerakan sepasang pedang itu, maklumlah dia bahwa gadis itu memang lihai bukan main dan tidak akan kalah biarpun dikeroyok banyak orang. Akan tetapi karena pengeroyoknya terlampau banyak, mungkin saja gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan dan inilah yang dikhawatirkannya.

“Nona, jangan membunuh orang!” teriaknya dan Keng Han melompat maju. Kaki tangannya bergerak dan para pengeroyok itu berpelantingan seperti diamuk badai. Mereka hanya merasa ada hawa yang mendatangkan angin demikian kuatnya sehingga mereka semua terdorong ke belakang dan terjengkang bergulingan!

Sementara itu, Kwi Hong sudah bertanding melawan guru silat Teng Coan.

Akan tetapi baru sekarang Pek-houweng Teng Coan menyadari betapa lihainya gadis itu. Sepasang pedang itu menutup semua lubang dan sebaliknya dapat menyerang dari arah manapun sehingga dia yang menjadi repot harus melindungi dirinya dari serangan sepasang pedang yang baginya seolah-olah telah berubah menjadi lima buah banyaknya itu! Dan bayangan pedang-pedang yang menyerangnya itu saling mendukung, susul menyusul datangnya seperti rangkaian yang tidak pernah putus! Belum sampai dua puluh jurus, setelah dengan susah payah dia melindungi tubuhnya, akhirnya pedang kiri Kwi Hong mengenai pundak kanannya sehingga tangan kanannya menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan.

“Singgg....!” Tahu-tahu sepasang pedang di tangan Kwi Hong telah menyilang di lehernya sehingga dia tidak mampu bergerak karena bergerak berarti lehernya akan terluka.

“Nah, perintahkan semua muridmu untuk mundur!” bentak Kwi Hong kepada Teng Coan. Guru silat ini dengan muka sebentar pucat sebentar merah saking malunya, melirik dan melihat betapa para muridnya itu sedang diamuk seorang pemuda dengan tamparan dan tendangan.

“Semua murid, hentikan serangan!” bentaknya dan para murid Pek-houw­bukoan segera berlompatan ke belakang. Mereka memang sudah jerih melihat sepak terjang pemuda yang tiba-tiba muncul membantu Kwi Hong itu. Dan kini mereka melihat betapa guru mereka sudah dikalahkan gadis itu, maka semangat mereka hilang.

Keng Han menghampiri guru silat itu dan berkata dengan suara halus namun mengandung teguran, “Engkau adalah pemimpin perguruan, sepatutnya engkau dapat mengajarkan kesusilaan dan sopan santun kepada para muridmu di samping ilmu silat. Ilmu silat bukan untuk main ugal-ugalan dan menang-menangan sendiri. Tiga orang muridmu itu tadi bersikap kurang ajar terhadap Nona ini dan akulah seorang di antara para saksi yang berada di dalam rumah makan. Engkau baru dapat disebut orang gagah kalau mau mengakul kesalahanmu, maka suruhlah murid-muridmu tadi minta ampun kepada Nona ini!”

Pek-houw-eng Teng Coan menyadari kesalahannya. Dia terburu nafsu mendengarkan laporan tiga orang muridnya. Sekarang baru dia bertemu batunya, menghadapi gadis remaja saja dia kalah.

“Hayo kalian bertiga cepat maju ke sini!” bentaknya kepada para muridnya.

Tiga orang murid yang tadi membuat kekacauan di rumah makan maju dengan sikap takut. Kwi Hong sendiri sudah menyimpan pedang dan ia memandang kepada pemuda sederhana itu dengan heran dan kagum. Ia juga dapat melihat betapa pemuda itu dengan tangan kosong telah merobohkan belasan orang murid tanpa melukai mereka. Tentu pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Setelah tiga orang murid itu mendekat, Teng Coan lalu menggerakkan tangannya, tiga kali menampar dan tiga orang muridnya itu terpelanting.

“Hayo cepat berlutut dan minta maaf kepada Nona ini!” kata Teng Coan, kini kemarahannya sepenuhnya ditujukan kepada tiga orang murid itu yang menimbulkan gara-gara sehingga dia mendapat malu di depan banyak orang. Kalau bukan karena ulah tiga orang murid itu tentu dia tidak sampai terlihat orang­orang dikalahkan oleh seorang gadis remaja!

Tiga orang murid itu merangkak ke depan kaki Kwi Hong dan memberi hormat sambil berlutut. “Nona, kami mohon maaf atas kesalahan kami!” kata mereka.

Kwi Hong tersenyum. “Sudah, bangkitlah. Aku tahu bahwa kebanyakan orang muda memang ugal-ugalan. Akan tetapi kalian jangan sekali-kali menggoda wanita. Sepatutnya orang-orang yang belajar silat seperti kalian malah menjadi pelindung dan pembela wanita dari gangguan orang jahat. Apakah kalian ingin menjadi orang jahat yang suka mengganggu wanita?” '

“Tidak, tidak...., Nona.” kata mereka serempak.

“Bagus, kalian harus menjadi pendekar­pendekar yang sejati, yang menghormati wanita dan membela mereka sebagaimana patutnya seorang pendekar yang menentang si jahat dan melindungi si lemah. Nah, sudahlah, kuhabiskan urusan sampai di sini!”

Terima kasih, Nona.” tiga orang itu bangkit berdiri dan mundur ke tempat kawan-kawannya.

Pek-houw-eng Teng Coan juga memberi hormat kepada Kwi Hong dan Keng Han. “Hari ini aku Teng Coan menerima pelajaran dari Ji-wi, untuk itu kami menghaturkan terima kasih dan mulai hari ini, aku akan meneliti kelakuan murid-murid perguruan dan kami bertindak sesuai dengan nasihat Ji-wi (Kalian berdua).”

Setelah berkata demikian, dengan sikap bengis dia membentak para muridnya untuk kembali ke perguruan dan tempat itu kembali sepi. Para penonton juga bubaran dan tentu saja Kwi Hong menjadi bahan pembicaraan mereka. Setelah melihat tindakan Kwi Hong yang gagah, beberapa orang di antara mereka teringat akan pendekar wanita yang ber­juluk Si Bangau Emas. Bukankah gadis itu memakai perhiasan bangau emas di rambutnya.

“Si Bangau Emas, ia tentu Si Bangau Emas yang terkenal gagah dan pemberantas kejahatan!” demikian segera tersiar berita itu dan nama Si Bangau Emas, semakin dikagumi orang.

Sementara itu, Kwi Hong memandang kepada Keng Han. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, pikirnya, dan amat sederhana. Kebetulan Keng Han juga se­dang memandang kepadanya. Dua pasang mata yang bersinar tajam saling bertemu dan bertaut sejenak, lalu Kwi Hong mem­bungkuk dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu, Sobat!”

“Tidak perlu berterima kasih, Nona. Aku tahu bahwa tanpa dibantu sekalipun Nona akan mampu menghajar mereka semua, akan tetapi melihat demikian banyaknya orang pria mengeroyok seorang gadis, bagaimana aku dapat tinggal diam? Terpaksa aku mencampuri, Nona.”

“Ah, tidak mengapa. Aku melihat ilmu silatmu amat hebat, Sobat. Bolehkah aku mengetahui siapa namamu dan dari perguruan silat manakah engkau?”

Keng Han tidak ingin memperkenalkan diri sebagai seorang she Tao, putera pangeran mahkota!. Dia akan merahasiakan keadaan dirinya itu sampai dia dapat bertemu ayahnya. “Aku bernama Keng Han...., Si Keng Han, dan guruku adalah seorang hwesio perantauan dari Tibet. Dan engkau sendiri, bolehkah aku mengetahui siapa namamu, Nona? Dan siapa pula gurumu? ilmu sepasang pedang yang kau mainkan itu demikian hebat, tentu suhumu seorang yang amat terkenal pula.”

Seperti juga Keng Han, Kwi Hong tidak ingin orang mengenalnya sebagai puteri Pangeran Mahkota Tao Kuang. Ia tidak ingin menarik perhatian orang. Kebetulan namanya Kwi Hong nama Kwi itu boleh dipakai sebagai nama marga. “Namaku Kwi Hong, dan guruku adalah kakekku sendiri. Ilmu silatku biasa saja, tidak dapat dibandingkan dengan kepandaiamu, Saudara Keng Han. Atau bolehkah aku menyebutmu Han-koko saja. Bukankah kita telah menjadi kenalan dan sahabat sekarang?”

Girang sekali hati Keng Han. Gadis ini selain tabah, lihai ilmu silatnya, lihai pula bicaranya, juga wataknya amat polos! Sungguh watak yang menyenangkan sekali.

“Tentu Saja dan aku pun tentu boleh menyebutmu Moi-moi saja, karena aku yakin bahwa engkau jauh lebih muda dari padaku.”

“Hik-hik-hik, Han-ko. Engkau bicara seolah engkau ini telah menjadi kakek-kakek saja. Memang aku lebih muda darimu, akan tetapi kuyakin selisihnya tidak seberapa banyaknya. Berapa usiamu sekarang?”

“Sudah hampir dua puluh satu tahun, Nona....eh, Hong-moi.”

“Nah, dan aku sudah hampir delapan belas tahun! Selisihnya hanya sedikit saja, tiga tahun. Eh, Han-ko, sebetulnya engkau hendak ke manakah dan datang dari mana?”

Pertanyaan ini lebih lagi tidak dapat dijawab sejujurnya oleh Keng Han. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa dia datang dari Pulau Hantu dan kini hendak pergi mencari ayahnya. Pangeran Mahkota.

“Aku adalah seorang perantau, Hong-moi. Aku sedang menuju ke kota raja untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Aku belum pernah ke sana dan aku mendengar hahwa kota raja amat besar dan indah.”

“Ah, kebetulan sekali, aku pun hendak pergi ke kota raja. Kita dapat melakukan perjalanan bersama, Han-ko.”

“Aih, apakah engkau.... tidak me­rasa....janggal, Hong-moi? Melakukan perjalanan bersama Seorang pemuda seperti aku yang sama sekali asing bagimu? Apa akan kata orang nanti?”

“Peduli amat dengan pendapat orang, Han-ko. Kalau aku terlalu mempedulikan pendapat orang lain, tidak mungkin aku dapat berkelana seperti ini seorang diri. Aku selalu meneliti langkah sendiri, ka­lau aku tidak melakukan sesuatu yang tidak besar, habis perkara. Orang lain boleh menilai bagaimanapun sesuka perut mereka, aku tidak peduli. Kita telah berkenalan, kita telah menjadi sahabat, sama-sama menghadapi orang-orang yang sesat jalan. Nah, bukankah kita tidak asing lagi satu sama lain? Atau.... engkau yang tidak suka melakukan perjalanan bersamaku, Han-ko?”

Keng Han menghela napas panjang. Tepat dugaannya, gadis ini seorang yang polos dan keras hati. Tentu gadis ini minggat dari rumahnya karena kalau terang-terangan, tentu orang tuanya tidak akan mengijinkannya merantau seorang diri seperti itu! “Hong-moi, bagaimana aku dapat tidak suka melakukan perjalanan bersamamu? Tentu saja aku suka sekali, apalagi engkau dapat menjadi penunjuk jalan. Aku tadi ragu hanya karena mengingat akan dirimu, jangan sampai engkau menjadi celaan orang.”

“Biarkan saja orang mencelaku, asal tidak di depanku. Kalau ada yang berani mencela di depanku, tentu akan kutampar mulutnya sampai semua giginya copot. Han-ko, yang penting adalah kita sendiri, bukan? Kalau kita berdua melakukan perjalanan dengan sewajarnya, sebagai dua orang sahabat yang saling menghormati dan saling menghargai, tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, siapa yang akan berani mencela?”

Bukan main kagumnya hati Keng Han, seorang gadis yang masih begini muda, akan tetapi pengetahuannya tentang kehidupan dan tentang kemanusiaan demikian mendalam. Tentu seorang gadis yang amat terpelajar, di samping ahli silat yang pandai.

“Engkau benar, Hong-moi. Mendengar pendapatmu, aku menjadi tidak ragu lagi, dan bahkan besar dan bangga hatiku mendapatkan seorang sahabat yang masih muda akan tetapi demikian bijaksana sepertimu. Nah, mari kita berangkat, Hong-moi. Mana jalan yang menuju ke kota raja?”

“Kita keluar dari pintu gerbang utara dan terus menuju ke utara, tentu akan sampai ke kota raja, Han-ko. Mari kita berangkat.”

Mereka lalu berangkat meninggalkan Tung-san melalui pintu gerbang utara.

Ternyata perjalanan itu melalui daerah pegunungan yang sunyi. Baru kurang lebih sepuluh li mereka berjalan, tiba-tiba dari depan datang seorang petani berlari-lari dan nampak ketakutan. Keng Han menghadang dan bertanya.

“Paman, ada apakah Paman berlari-lari seperti orang ketakutan?”

“Ah, orang muda, jangan pergi ke sana. Aku melihat perkelahian antara orang-orang yang berkepala gundul dan berjubah merah. Tiga orang mengeroyok seorang dan agaknya mereka hendak membunuhnya. Aku menjadi ketakutan ah, jangan-jangan mereka akan mengejarku pula....!” Orang itu berlari lagi ketakutan.Mendengar ini, Keng Han menjadi tidak enak hati. Tiga orang gundul berjubah merah mengingatkan dia akan tiga orang pendeta Lama yang pernah mencari gurunya, Gosang Lama, yang berkepandaian amat tinggi sehingga ketika dia memukulnya, tangannya sendiri merasa kesakitan dan sekali dorong saja seorang di antara mereka merobohkannya! Jangan-jangan yang dimaksudkan petani tadi adalah tiga orang pendeta Lama itu dan yang dikeroyok adalah gurunya!

“Mari kita ke sana!” katanya dan dia pun berlari cepat, dikejar oleh Kwi Hong.

“Tunggu aku, Han-ko!” teriak gadis itu yang mengejar dengan secepatnyd sehingga ia dapat menyusul Keng Han.

Tak lama kemudian mereka melihat tiga orang berpakaian pendeta berjubah merah sedang mengeroyok seorang kakek yang berpakaian biasa seperti seorang petani yang kepalanya botak hampir gundul. Ketika mereka tiba di situ kakek yang dikeroyok itu agaknya sudah terluka parah dan sempoyongan hampir roboh. Melihat ini Kwi Hong yang penasaran melihat seorang dikeroyok tiga, sudah menerjang maju dan membentak.

“Pengecut-pengecut tidak tahu malu! Mengeroyok seorang tua!” Dan ia menyerang pendeta terdekat. Pendeta itu menangkis serangannya. Dukkk....!” Dan tubuh Kwi Hong terhuyung ke belakang. Ia merasa terdorong oleh tenaga yang kuat sekali ketika lengannya tertangkis tadi. Maklum bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, Kwi Hong lalu mencabut sepasang pedangnya dan menyerang pendeta itu dengan ilmu Ngo-heng-kiam. Pendeta itu terkejut melihat kehebatan serangan sepasang pedang dan menggunakan lengan bajunya yang lebar untuk menangkis sam­bil mundur.

Sementara itu, Keng Han melihat bahwa kakek yang terluka parah itu adalah Gosang Lama. Dia cepat menyambar tubuh yang hampir roboh itu.

“Suhu....!” Teriaknya.

“Keng Han...., pergilah.... mereka lihai sekali. Larilah!” kata Gosang Lama ketika melihat muridnya. Akan tetapi Keng Han segera merebahkan gurunya dan meloncat berdiri. Ketika memutar tubuhnya, dia melihat betapa Kwi Hong sudah bertanding melawan seorang pendeta jubah merah kotak-kotak, sedangkan dua pendeta lain hanya menonton. Dia menjadi marah sekali dan meloncat ke depan dua orang pendeta yang menonton pertandingan itu.

“Pendeta-pendeta keparat dan kejam!” bentaknya dan karena dia maklum bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh sekali maka dia lalu menyerang dengan pukulan yang dilatihnya di Pulau Hantu. Tangan kanannya memukul dengan kan­dungan hawa yang amat panas sedangkan tangan kirinya memukul dengan kandungan hawa yang amat dingin. Melihat pemuda itu memukul dan ada angin menyambar dahsyat, dua orang pendeta itu terkejut dan cepat menangkis dengan tangan mereka.

“Wuuuuuttt.... desssss....!” Pertemuan tenaga itu hebat sekali dan akibatnya dua orang pendeta itu terjengkang dan terbanting. Yang seorang merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa panas sekali dan yang kedua merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa yang amat dingin. Mereka tidak terluka parah akan tetapi terkejut bukan main. Seorang pemuda dapat menggunakan pukulan berlawanan dalam satu saat sungguh luar biasa sekali! Dan mereka pernah dengar bahwa ilmu-ilmu tangguh seperti itu hanya di­miliki oleh pendekar keluarga Pulau Es! Mereka menjadi jerih dan dalam bahasa Tibet mereka memanggil teman yang bertanding melawan Kwi Hong untuk melarikan diri. Pemuda itu terlalu tang­guh, apalagi di situ masih terdapat Kwi Hong yang memiliki ilmu sepasang pedang yang hebat. Mereka lalu melarikan diri dengan cepat, jubah mereka berkibar di belakang mereka.

Keng Han hendak mengejar, akan tetapi dia mendengar suara gurunya mengeluh, “Keng Han, jangan....!”

Mendengar suara gurunya ini, Keng Han tidak jadi mengejar dan berlutut di samping tubuh gurunya. Ternyata Gosang Lama telah terluka parah sekali, napasnya terengah-engah. Melihat keadaan gurunya ini Keng Han mencoba untuk membantunya dengan menempelkan kedua tangan di dada gurunya dan mengerahkan sinkangnya. Akan tetapi tiba-tiba mata Gosang Lama mendelik dan napasnya makin ngos-ngosan! Keng Han terkejut dan segera menghentikan pengerahan tenaganya. Bagaimana napas Gosang Lama tidak akan menjadi terengah-engah kalau ada dua hawa yang berlawanan memasuki tubuhnya yang sudah terluka parah

“Ah, Suhu. Bagaimana keadaanmu?” Dia mengguncang pundak kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun itu. Gosang Lama hanya menggeleng kepalanya dan mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara berbisik. Keng Han men­dekatkan telinganya dan mengerahkan pendengarannya untuk menangkap pesan terakhir itu. “Semua ini.... gara-gara.... Dalai Lama...., Keng Han, kau bunuh Dalai Lama untuk membalas dendamku.... kemudian kau hancurkan Bu-tong-pai.... itu juga musuh besarku.... ada puteraku....Gulam Sang temui dia, ajak kerjasama.... aku.... aku....” Kepala itu terkulai dan Gosang Lama telah menghembuskan napas terakhir, membawa semua rahasia hidupnya bersamanya.

“Suhu....!” Keng Han menangis sambil memeluk tubuh yang masih hangat itu.

Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya. “Han-ko, yang sudah mati tidak ada gunanya ditangisi lagi. Suhumu sudah meninggal, sebaiknya diurus jenazahnya.”

Ucapan ini menyadarkannya. Tadi dia menangis karena terharu. Selama lima tahun dia digembleng oleh kakek ini dengan penuh kesungguhan hati dan kakek inilah satu-satunya gurunya. Teringat akan kebaikan kakek itu maka dia tadi terharu dan menangis. Ucapan Kwi Hong menyadarkannya dan dia berhenti menanis.

Dia menghapus air matanya, menoleh kepada Kwi Hong dan berkata, suaranya sudah tenang lagi. “Engkau benar, Hong-moi. Aku terlalu lemah tadi.”

Dengan dibantu oleh Kwi Hong, Keng Han menggali lubang dan mengubur jenazah Gosang Lama dengan sederhana dan khidmat. Setelah itu dia berlutut di depan makam gurunya sambil berjanji, “Suhu, teecu akan melaksanakan semua perintah Suhu.”

Kwi Hong mengerutkan alisnya mendengar ucapan Keng Han ini. “Han-ko, pesan terakhir suhumu itu sungguh luar biasa sekali.”

Keng Han menoleh kepada gadis itu. “Luar biasa? Apanya yang luar biasa? Suhu menyuruh aku membasmi musuh­musuh besarnya yang telah berlaku jahat kepadanya.”

“Pertama, agaknya suhumu itu juga seorang pendeta. Seorang pendeta memesan kepada muridnya untuk membalas dendam! Sungguh luar biasa dan aneh sekali. Biasanya seorang pendeta bahkan melarang muridnya mengandung dendam di hati. Dan kedua kalinya, pesan itu sungguh amat tidak mungkin kaulakukan, Han-ko.”

“Tidak mungkin?” Keng Han mengerutkan alisnya. “Kenapa tidak mungkin, Hong-moi?” Dia merasa penasaran sekali walaupun alasan pertama tadi juga men­jadi bahan pemikirannya. Dia pun sudah banyak membaca kitab agama yang melarang adanya dendam di hati, akan tetapi mengapa suhunya malah menyuruh dia membalas dendam? Akan tetapi tidak mungkin dia mengingkari janjinya kepada suhunya sendiri!

“Tidak mungkin karena permintaan suhumu itu luar biasa beratnya. Kau tahu siapa itu Dalai Lama?”

Keng Han menggeleng kepalanya. Memang dia belum pernah membaca atau mendengar tentang Dalai Lama.

“Belum pernah. Siapa sih dia?”

“Dalai Lama adalah pendeta kepala dari para pendeta Lama di Tibet. Kekuasaannya besar sekali, bahkan melebihi kekuasaan raja. Dan di Tibet terdapat banyak sekali pendeta berilmu tinggi yang tentu akan melindungi Dalai Lama. Kurasa engkau tidak akan dapat menyentuh sehelai rambut pun dari Dalai Lama. Beliau sendiri merupakan seorang yang amat tinggi ilmunya. Bagaimana mungkin engkau melaksanakan tugas yang amat berbahaya itu?”

“Bagaimana besar pun bahayanya, tugas yang diberikan oleh suhu harus kulaksanakan, Hong-moi. Aku tidak takut!” kata Keng Han dengan suara tegas.

“Hemmm, dan tugas kedua lebih aneh lagi.”

“Membasmi Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar suhu? Apa anehnya? Kalau mereka itu musuh besar suhu memang harus dibasmi!”

“Tahukah engkau siapa Bu-tong-pai itu, Han-ko?”

“Yang pernah kudengar, Bu-tong-pai adalah satu di antara perguruan-perguruan silat yang terkenal.”

“Bukan hanya terkenal karena ilmu silatnya, melainkan lebih terkenal lagi bahwa murid-murid Bu-tong-pai merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan pembela kebenaran dan keadilan. Bu-tong-pai adalah perkumpulan para pendekar. Bagaimana engkau disuruh untuk membasminya? Sungguh heran sekali aku. Kalau gurumu itu musuh besar Bu-tong-pai, maka....” Kwi Hong tidak mau melanjutkan kata-katanya karena dia tidak ingin menyinggung perasaan hati Keng Han.

“Maka bagaimana, Hong-moi? Engkau hendak bilang bahwa guruku yang berada di pihak yang salah?”

“Mungkin saja, karena Bu-tong-pai selalu menentang kejahatan dan tidak pernah murid mereka melakukan kejahatan.”

“Apapun alasannya, kalau mereka itu musuh besar suhu, harus kulaksanakan janjiku kepada suhu untuk membasmi mereka!” kata Keng Han berkeras.

“Jangan, Han-ko. Engkau mempertaruhkan nyawamu!”

“Tidak sudah sepatutnyakah budi kebaikan guru dibalas dengan taruhan nyawa?”

“Han-ko....” Kwi Hong merasa bingung sekali. Dara ini mengkhawatirkan Keng Han, pemuda yang menarik perhatiannya dan yang mendatangkan suatu perasaan aneh di dalam hatinya. Ia merasa sayang sekali kalau sampai Keng Han menderita celaka dalam tugasnya itu, apalagi memusuhi Bu-tong-pai! Pemuda itu dapat dianggap sebagai seorang penjahat! “Han-ko, urungkan niatmu itu! Marilah engkau pergi bersamaku ke kota raja....!”

“Tidak, Hong-moi. Aku mengubah tujuan perjalananku. Aku sekarang juga harus pergi mencari Dalai Lama di Tibet!”

“Akan tetapi perjalanan itu jauh sekali, Han-ko.”

“Aku tidak peduli.” Dia bangkit berdiri, “Selamat tinggal, Hong-moi. Aku berangkat sekarang, juga.” Dia lalu melompat pergi.

“Han-ko....tunggu....!” Teriakan ini membuat Keng Han menahan larinya dan dia berhenti. Gadis itu mengejar dan menyusulnya.

“Ada apa, Hong-moi?”

“Han-ko, aku ikut denganmu!” katanya dengan tegas, lupa sama sekali bahwa ia adalah puteri Pangeran Mahkota! “Aku akan ikut ke Tibet!” Benar-benar Kwi Hong sudah lupa diri dan lupa keadaan. Hasrat hatinya hanya ingin bersama pemuda itu, tidak ingin berpisah.

Akan tetapi Keng Han masih memiliki kesadaran. Tidak mungkin dia membawa seorang gadis yang baru dikenalnya melakukan perjalanan sejauh itu. Apa akan kata orang tua gadis itu? Juga ini di luar kepantasan.

“Tidak, Hong-moi. Ini adalah urusan pribadiku yang harus kuselesaikan sendiri. Aku tidak ingin engkau terbawa­bawa. Kalau sudah selesai tugasku, mungkin kita dapat bertemu kembali. Nah, selamat tinggal!” Dia menggunakan ilmunya berlari cepat sekali sehingga sebentar saja sudah lenyap dari pandang mata gadis itu. Dan tanpa disadarinya, kedua mata Kwi Hong menjadi basah! Ia merasa menyesal sekali. Pemuda sehebat itu menerima tugas seberat dan seaneh itu. Ia menoleh dan memandang kepada makam Gosang Lama.

“Hemmm, aku sangsi apakah dia seorang baik-baik.” gumamnya, kemudian ia pun meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja.


***


Kita tinggalkan dulu Kwi Hong yang kembali ke kota raja dan Keng Han yang pergi ke Tibet dan mari kita menengok keadaan perkumpulan Thian-li-pang.

Thian-li-pang terkenal sebagai sebuah perkumpulan para pendekar dan patriot yang diam-diam menghendaki kemerdekaan bagi nusa dan bangsanya, terbebas dari penjajahan bangsa Mancu. Perkum­pulan Thian-li-pang tadinya dibawa menyeleweng oleh seorang sesat, akan tetapi kemudian setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, kembali ke jalan benar. Biarpun sama-sama menentang kekuasaan Mancu, Thian-li-pang tidak sudi bekerja sama dengan dua perkumpul­an lain yang dianggap sesat, yaitu Pek­lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, yaitu Yo Han, seorang pendekar yang terkenal dengan julukan Pendekar Tangan Sakti, perkumpulan itu menjadi makin besar dan maju, pusat perkumpulan ini berada di puncak Bukit Naga. Para murid Thian-li-pang memegang keras peraturan yaitu tidak boleh sembarangan membunuh, biar yang dibunuh pejabat pemerintah kerajaan Mancu sekalipun. Sasaran mereka bukan para pembesar yang baik, akan tetapi para pembesar yang melakukan penindasan terhadap rakyat jelata. Yo Han mengerti betul bahwa belum tiba saatnya untuk memberontak terhadap pernerintah Mancu. Keadaan pemerintah Mancu masih terlampau kuat. Bahkan banyak bangsa Han yang mendukungnya, termasuk perkumpulan-perkumpulan besar dan pendekar-pendekar sakti. Yo Han hanya memimpin para murid untuk bertindak sebagai pendekar-pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang yang jahat dan melindungi yang lemah tertindas. Karena itu, pemerintah pun tidak melakukan usaha untuk membasminya sebagai pemberontak, karena tindakan para muridnya seperti para pendekar, bukan seperti pemberontak.

Ketua Thian-li-pang yang bernama Yo Han adalah seorang pendekar besar yang namanya amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar sakti berjuluk Pendekar Tangan Sakti. Selain terkenal amat lihai, juga dia bijak­sana sekali. Pendekar yang satu ini pantang membunuh lawan, bahkan para penjahat yang ditundukkannya selalu diberi nasihat agar kembali ke jalan benar dan tidak dibunuh. Oleh karena itu, banyak sekali penjahat besar yang berhutang budi kepadanya, telah kembali ke jalan benar karena sikap pendekar ini.

Yo Han telah berusia hampir lima puluh tahun, akan tetapi dia masih nampak tampan dengan matanya yang bersinar tajam dan cerdik. Wajahnya ber­bentuk lonjong dengan dagu runcing berlekuk, kini ditumbuhi jenggot sedang yang sebagian sudah berwarna putih. Rambutnya yang panjang juga bercampur sedikit uban. Akan tetapi alisnya yang menghias dahinya yang lebar masih tetap hitam tebal. Hidungnya mancung dan mulutnya ramah sekali, selalu dihias senyum. Tubuhnya sedang saja, namun tegap berisi. Inilah ,pendekar sakti Yo Han yang menjadi ketua Thian-li-pang di Bukit Naga.

Isterinya juga bukan orang sembarangan. Isterinya yang bernama Tan Sian Li, dahulunya ketika masih menjadi gadis sudah terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Merah. Julukan ini karena pakaiannya yang selalu berwarna kemerahan dan juga karena ilmu silatnya yang khas, yaitu Ang­ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah). Biarpun tingkat ilmu kepandaiannya tidak sehebat suaminya, namun Tan Sian Li merupakan seorang wanita yang sukar dicari tandingnya. Wanita ini adalah campuran keturunan dari para Pendekar Gurun Pasir dan Pendekar Pulau Es bahkan juga pernah mempelajari ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) dan menggunakan sebatang suling yang berselaput emas. Akan tetapi ilmu­nya yang paling diandalkan adalah Ang­ho Sin-kun yang ia pelajari dari ayahnya karena ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih yang namanya juga amat terkenal di dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu. Kini usia Tan Sian L i sudah empat puluh tahun, tujuh tahun lebih muda dari suaminya. Dalam usianya yang empat puluh tahun, ia masih nampak cantik jelita. Wajahnya bulat telur dan kulitnya putih mulus. Matanya lebar,hidungnya mancung dan mulutnya selalu senyum mengejek dengan dihias lesung pipit di kanan kiri. Wataknya keras dan agak galak. Selain pandai ilmu silat, Tan Sian Li ini juga pernah mempelajari ilmu pengobatan tusuk jarum dari mendiang Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat).

Suami isteri ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapan belas tahun. Puteri mereka ini diberi nama Yo Han Li, yaitu gabungan dari nama Yo Han dan Tan Sian Li. Dengan ayah dan ibu seperti itu, tentu saja Han Li amat cantik manis dan juga sejak kecil ia telah digembleng ilmu silat sehingga setelah berusia delapan belas tahun ilmu kepandaiannya sudah setingkat dengan ibunya! Namun, Han Li yang cantik ini berwatak pendiam dan anggun, tidak seperti ibunya yang dahulu lincah dan galak.

Yo Han dan isterinya memimpin Thian-li-pang dengan bijaksana dan keras memegang peraturan sehingga para murid semua patuh dan tunduk. Tidak ada diantara mereka yang berani melanggar pantangan perkumpulan. Mereka tidak boleh mencari perkara, tidak boleh meng­ganggu rakyat, tidak boleh bermain judi, dan kalau bertemu lawan, tidak boleh membunuh.“Kita memang membenci kaum penjajah dan sudah menjadi cita-cita kita bersama untuk membebaskan rakyat kita dari cengkeraman penjajah. Akan tetapi kini belum saatnya. Kekuatan kita tidak ada artinya dibandingkan kekuatan kerajaan Mancu. Kalau saatnya sudah tiba dan dalam pertempuran dengan bangsa Mancu, larangan membunuh dengan sendirinya dihapus. Demi membela bangsa dan memerdekakan tanah air dari cengkeraman penjajah, kita harus berjuang mati-matian, dibunuh atau membunuh.” demikian antara lagi Yo Han memberi peringatan kepada para murid atau anggauta Thian-li-pang.

Perguruan-perguruan lain amat menghormati Thian-li-pang dan terjalin hubungan baik antara Thian-li-pang dengan partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain. Sudah beberapa kali Pek­lian-pai dan Pat-kwa-pai mencoba untuk menghubungi Thian-li-pang untuk bekerja sama memberontak, akan tetapi Thian­li-pang selalu mengelak dan tidak bersedia bekerja sama dengan mereka. Yo Han mengenal benar mereka yang memimpin kedua partai ini. Mereka adalah orang-orang golongan sesat yang menggunakan kedok perjuangan untuk keuntungan mereka sendiri.

Untuk membiayai perkumpulan mereka, Yo Han menyuruh para muridnya bekerja. Mereka membuka piauw-kiok (pengawal barang kiriman) dan juga menjadi penjaga-penjaga keamanan. Karena barang kiriman yang dikawal Thian-li­pang selalu aman dan tidak pernah diganggu penjahat, maka usaha mereka itu maju sekali dan hasilnya dapat untuk biaya perkumpulan mereka. Di samping itu, ada pula para murid yang bekerja sendiri, ada yang berdagang, ada yang menjadi karyawan, ada pula yang bertani. Yo Han sendiri membuka sebuah toko rempah-rempah dan isterinya suka menolong orang sakit dengan pengobatan tusuk jarum.

Pada suatu hari, sebuah kereta yang mewah berhenti di depan rumah ketua Thian-li-pang ini. Para murid Thian-li­pang merasa heran karena kereta seperti itu tentu milik seorang bangsawan tinggi. Segera mereka melapor kepada ketua mereka dan mendengar ada kereta bangsawan datang Yo Han bersama isterinya segera keluar menyambut karena mereka sudah dapat menduga siapa yang datang berkunjung.

Dari kereta itu turun seorang laki­laki bertubuh tegap, berusia empat puluh tiga tahun, bermuka bundar berkulit putih dengan mata tajam dan hidungnya agak besar, alisnya tebal dan mulutnya tersenyum-senyum. Di sampingnya turun pula seorang wanita yang usianya sebaya, anggun dan cantik, tubuhnya masih ramping, juga wajahnya nampak berseri ketika melihat Yo Han dan Tan Sian Li keluar menyambut. Rambutnya digelung tinggi dan dihias dengan hiasan rambut dari emas permata. Wajahnya yang can­tik dan anggun itu agak dingin, akan tetapi senyumnya demikian manis sehingga dapat mengusir kesan dingin itu. Paling akhir keluar seorang pemuda bangsawan yang gagah dan tampan.

Siapakah mereka ini yang menjadi tamu-tamu Thian-li-pang? Mereka memang keluarga bangsawan tinggi karena pria setengah tua itu bukan lain adalah Pangeran Cia Sun, seorang pangeran yang tidak penting kedudukannya di kota raja, karena ayahnya yaitu Pangeran Cia Yan hanya menjadi “anak angkat” mendiang Kaisar Kiang Liong. Pangeran Cia Sun ini juga agaknya tidak terlalu membanggakan kedudukannya sebagai pangeran, bahkan di waktu mudanya dia suka pergi berkelana di dunia kang-ouw. Dia memang pandai ilmu silat dan dia mengenal banyak pendekar dan tokoh kang-ouw. Bahkan dia pernah bersahabat baik dan mengangkat saudara dengan Yo Han. Pernah dia rnelakukan perjalanan petualangan di waktu mudanya dengan Yo Han sehingga hubungan mereka akrab sekali, pernah mengalami suka duka bersama dan menghadapi ancaman maut bersama!

Wanita cantik anggun dingin itu adalah isterinya yang bernama Sim Hui Eng. Wanita ini juga bukan wanita sembarangan. Ketika masih muda, ia pernah menjadi puteri angkat ketua Lembah Ban­kwi-kok, yaitu ketua Pouw-beng-pai, juga sebuah perkumpulan sesat yang berkedok perjuangan melawan penjajah. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa Sim Hui Eng ini adalah puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan, sepasang suami isteri pendekar sakti yang hilang diculik orang ketika berusia tiga tahun. Baru setelah gadis, ia bertemu kembali dengan ayah bundanya dan sekarang ia menjadi isteri Pangeran Cia Sun, hidup berbahagia dengan suaminya tercinta di kota raja.Pemuda itu adalah putera mereka, anak tunggal yang diberi nama Cia Kun. Sebagai putera ayah ibu yang pandai, tentu saja dia tidak asing dengan ilmu silat. Selain mempelajari sastra seperti layaknya pemuda keluarga bangsawan tinggi, Cia Kun juga digembleng ilmu silat oleh ayah dan ibunya sendiri. Bah­kan oleh ibunya dia telah diajar ilmu yang amat tangguh dari ibunya, yaitu Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi)! Dan sebagai anak tunggal, watak Cia Kun agak manja dan tinggi hati, walaupun watak itu agak tertutup oleh ketampanan wajahnya yang menimbulkan rasa suka di hati orang yang bertemu dengannya.

“Yo-twako....!” Cia Sun lari menghampiri Yo Han dan merangkulnya.

“Cia-te....!” Yo Han juga memeluknya dengan terharu. Mereka memang seperti kakak adik saja, dan setelah bertahun-tahun tidak saling jumpa, mereka merasa saling rindu, Sim Hui Eng juga segera saling memberi hormat dengan Tan Sian Li.

Ketika melihat Han Li, Sim Hui Eng memandang dan tersenyum manis. “Ini tentu puterimu Han Li itu! Aih, sudah begini besar, sudah dewasa dan cantik jelita seperti ibunya!”

“Aih, engkau terlalu memuji. Han Li ini bodoh seperti ibunya. Hayo, Han Li, beri hormat kepada Paman Cia Sun dan Bibi Sim Hui Eng!” kata Tan Sian Li kepada puterinya yang berada di belakangnya.

Han Li cepat memberi hormat kepada suami isteri itu akan tetapi ia hanya memandang saja sejenak kepada Cia Kun.

“Dan ini tentu putera kalian, bukan? Siapa namanya? Cia Kun, bukan? Ah, sudah lama tidak berjumpa, sekarang telah menjadi seorang perjaka dewasa yang gagah dan tampan seperti ayahnya!” kata Yo Han memuji.

“Cia Kun, hayo cepat memberi hormat kepada pamanmu Yo Han yang sering kuceritakan padamu itu, dan kepada bibimu Tan Sian Li.”

Cia Kun mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada suami isteri itu.

“Aihhh, kenapa kalian berdua hanya saling pandang saja?” tiba-tiba Sim Hui Eng menegur puteranya dan juga Han Li. “Cia Kun, gadis ini adalah Yo Han Li, puteri paman dan bibimu, engkau harus menyebutnya adik. Dan Han Li, jangan malu-malu terhadap Cia Kun, ini adalah putera kami atau kakakmu!”

Mendapat teguran itu, Han Li segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat yang segera disambut oleh Cia Kun dengan hormat pula.

“Mari silakan masuk!” Tan Sian Li mempersilakan tarmu-tamunya masuk dan duduk di ruangan dalam. Sebuah pesta kecil segera diadakan oleh tuan rumah untuk menjamu para tamu yang mereka sayang dan hormati itu. Para anak buah Thian-li-pang hanya saling pandang dan saling berbisik saja, melihat ketua mereka menyambut tamu keluarga bangsawan dari istana demikian akrabnya. Namun, tak seorang pun di antara mereka berani menyatakan ketidak-senangan hati mereka dan hanya memendam di dalam hati saja.

Tengah makan minum, Yo Han berkata, “Cia-te kunjunganmu, sekeluarga ini menggembirakan hati kami sekeluarga. Akan tetapi di balik itu juga mengherankan. Adakah suatu keperluan penting yang kalian bawa dengan kunjungan ini?”

Cia Sun saling pandang dengan isterinya, lalu tersenyum dan menjawab. “Memang ada, Yo-toako. Akan tetapi sebaiknya urusan itu kita bicarakan setelah selesai makan agar lebih santai dan leluasa.”

Demikianlah, setelah makan, mereka pindah duduk di ruangan tamu di samping yang lebih luas dan setelah semua pelayah meninggalkan ruangan, baru Cia Sun bicara.

“Sebetulnya, Yo-toako, kunjungan kami ini selain karena merasa rindu kepada kalian, juga kami membawa niat yang amat baik untuk mempererat tali kekeluargaan di antara kita. Melihat kenyataan bahwa anak-anak kita telah dewasa dan kebetulan anakmu wanita dan anak kami pria, maka kami mengusulkan agar diantara mereka diikat tali perjodohan. Bagaimana pendapatmu dengan usul kami itu, Toako dan Toa-so?”

Mendengar ucapan itu, Yo Han Li bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu dengan muka kemerahan. Melihat ini keempat orang tua itu hanya tersenyum, maklum bahwa sudah wajar kalau seorang gadis merasa malu mendengar dirinya dibicarakan untuk urusan perjodohan! Sementara itu, Cia Kun juga merasa tidak enak dan melihat ini, Yo Han berkata kepadanya.

“Cia Kun, kalau engkau ingin menemani adikmu, pergi ke taman bunga di sebelah. Biar kami orang-orang tua bicara dengan leluasa.”

Cia Kun berterima kasih sekali dan cepat dia pun bangkit lalu melangkah ke taman bunga yang berada di pinggir bangunan itu.

“Yo-toako, tentu saja kami tidak minta keputusan yang tergesa-gesa dan kalau engkau hendak membicarakan dulu dengan Toaso (Kakak ipar), silakan. Kami akan sabar menunggu.”

“Tidak perlu, Cia-te. Apa yang akan menjadi keputusan kami adalah sama dan dapat kami jawab sekarang juga. Sebelumnya kami mengharapkan maaf kalau kami hendak bicara terus terang dan sejujurnya.”

“Kenapa minta maaf? Bicara terus terang dan sejujurnya bahkan yang kami harapkan. Nah, utarakan pendapatmu itu, Yo-toako.”

“Begini, Cia-te berdua. Andaikata Cia-te bukan seorang Pangeran Mancu, tentu pinangan itu akan kami terima dengan kedua tangan dan hati terbuka. Akan tetapi sungguh sayang, Cia-te adalah. seorang Pangeran Mancu. Sedangkan kami, Cia-te tentu maklum sendiri bahwa kami adalah orang-orang yang berjuang dan bercita-cita memerdekakan bangsa dari tangan kaum penjajah. Kami berjiwa patriot yang mendambakan kemerdekaan bangsa. Bagaimana mungkin kami berbesan dengan Pangeran Mancu? Nah, Cia-te tentu dapat memaklumi alasan kami yang berkeberatan untuk menerima usul itu.”

“Akan tetapi, Yo-toako!” Sim Hui Eng membantah. “Suamiku bukan seorang yang berjiwa penjajah. Hal ini aku yakin Toako telah mengetahui sendiri!”

“Aku tahu. Cia-te adalah seorang yang berjiwa pendekar gagah perkasa. Akan tetapi aku juga yakin dia bukan seorang pengkhianat keluarga dan bangsanya. Kita berdua berdiri di seberang yang berlawanan. Kalau kelak terjadi perang antara para pejuang dan para penjajah, lalu bagaimana anak-anak kita akan bersikap? Aku tentu tidak suka kalau melihat mantuku membantu penjajah memerangi pejuang, sebaliknya aku pun tidak suka melihat mantuku menjadi seorang pengkhianat bagi keluarga dan bangsanya sendiri. Tidak, Cia-te berdua. Ikatan perjodohan ini tidak mungkin kita lakukan. Biarlah mereka berdua menjadi sahabat saja seperti halnya kita.”

“Ahhh, Yo-toako, engkau membuat semua harapanku terbanting hancur berantakan. Semula aku datang dengan penuh harapan untuk mengekalkan persaudaraan kita, siapa kira engkau menolaknya dengan keras.” kata Cia Sun menyesal sekali.

“Maafkan kami, Cia-te. Ada suatu saat di mana kita harus mengambil sikap tegas agar di kelak kemudian hari tidak akan menderita karena keputusan yang diambil tergesa-gesa.”

“Aku mengerti maksudmu, Toako. Dan aku tidak menyalahkan engkau. Aku mendengar bahwa Thian-li-pang, di bawah pimpinanmu, menunjukkan sikap sebagai para pendekar, bukan pemberontak, karena itu aku datang penuh harapan. Siapa tahu....”

“Kami memang bukan pemberontak, Cia-te. Akan tetapi cita-cita kami untuk kemerdekaan bangsa tidak pernah padam. Kalau sudah tiba saatnya, tentu kami akan bergerak dengan rakyat jelata menuntut kemerdekaan kami.”

“Sudahlah, dasar nasib kami tidak baik. Kalau begitu, kami mohon pamit, Yo-toako. Harap suruh orang memanggil putera kami.”

Dengan sikap tenang walaupun hatinya merasa tidak enak sekali Yo Han mengutus seorang pelayan untuk memanggil Cia Kongcu yang berada di taman bunga. Ketika itu, Cia Kun sudah dapat bertemu dengan Han Li di taman. Ketika pemuda itu memasuki taman bunga, dia melihat gadis itu sedang duduk di antara banyak bunga sedang berkembang dengan indah­nya. Bermacam bunga ditanam di taman itu dan kebetulan sekali waktu itu musim bunga sedang berkembang. Keharuman bunga semerbak di mana-mana dan pemandangan di taman itu sungguh indah. Tentu saja kalau dibandingkan dengan taman bunga di istana, taman bunga di Thian-li-pang itu bukan apa-apanya, bahkan tidak ada artinya.

“Li-moi, engkau di sini?” tegur pemuda itu setelah menghampiri Han Li.

Han Li membalikkan tubuhnya, memandang kepada pemuda itu dengan kedua pipi kemerahan. Ia merasa tersipu karena baru saja orang tua mereka membicarakan tentang perjodohan mereka dan ia merasa heran akan keberanian pemuda itu menyusulnya ke taman bunga.

“Ah, kiranya engkau, Kun-ko. Aku di sini sedang menikmati bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali bunga-bunga di taman ini, bukan?”

Cia Kun memiliki watak yang tinggi hati. Mendengar ucapan itu, dia memandang ke sekeliling, lalu katanya, “Ah, tidak artinya apabila dibandingkan dengan taman bunga kami di istana, Li-moi. Datanglah ke taman bunga kami dan engkau akan takjub melihat keindahan bunga-bunga yang ratusan macam di sana!”

Han Li mengerutkan alisnya. Tentu saja hatinya tidak senang mendengar ini. Pemuda itu meremehkan keindahan ta­man bunganya!

“Hemmm, tentu saja di istana segalanya serba lebih besar dan lebih indah. Akan tetapi aku tidak ingin melihatnya!” katanya agak ketus karena hatinya tersinggung.

Agaknya Cia Kun menyadari kesalahannya dan dia segera berkata, “Akan tetapi di sini ada setangkai bunga yang tidak ada duanya, bahkan di istana juga tidak ada, Li-moi. Bunga itu amat cantik jelita, membuat hatiku terkagum-kagum, Li-moi.”

“Ah, benarkah?” Han Li kelihatan girang dan memandang ke sekelilingnya. “Bunga mana yang kau maksudkan itu, Toako?”

“Bunga itu adalah engkau, Li-moi. Dirimu yang amat mengagumkan hatiku! Dan orang tua kita sedang membicarakan urusan perjodohan kita, Li-moi. Tidakkah hatimu senang sekali, seperti juga perasaan hatiku?”

Han Li mengerutkan alisnya dan memandang pemuda itu dengan tajam. Kun­ko aku tidak suka mendengar omonganmu ini! Pergilah dan jangan ganggu aku lebih lama lagi!”

Cia Kun hendak membantah akan tetapi pada saat itu datang pelayan berlarian yang melapor bahwa Cia Kongcu dipanggil oleh orang tuanya, karena hendak diajak pulang.

Cia Kun merasa heran, akan tetapi dia segera memberi hormat kepada Han Li sambil berkata, “Maafkan aku, Li­moi. Kita berpisah dulu, sampai bertemu kembali.”

Han Li hanya mengangguk dan tidak pedulikan lagi pemuda itu yang meninggalkan taman. Cara pemuda itu membandingkan taman bunganya dengan taman istana, kemudian cara pemuda itu menyatakan perasaan hatinya, sungguh mendatangkan kesan tidak menyenangkan di dalam hatinya. Ia akan membantah ayah bundanya kalau sampai ia dijodohkan dengan pemuda itu.

Akan tetapi hatinya merasa lega karena ayah bundanya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal perjodohan itu dalam percakapan mereka.


***

Tiga hari kemudian, datang dua orang tosu dari Bu-tong-pai berkunjung ke Thian­li-pang. Karena Thian-li-pang di bawah bimbingan Yo Han memang mempunyai hubungan baik dengan semua partai dan perguruan silat besar termasuk Bu-tong­pai, maka Yo Han sendiri yang menyambut kunjungan kedua orang tosu utusan Bu-tong-pai itu dan mempersilakan mereka berdua memasuki ruangan tamu.

Yo Han menyambut dua orang tamu itu bersama isterinya dan ketika mempersilakan mereka duduk, dia mengamati kedua orang itu. Dua orang tosu yang nampak gagah dan bertubuh tegap. Yang seorang berusia kurang lebih lima puluh tahun, yang kedua lebih muda beberapa tahun. Yang pertama bertubuh tinggi kurus dengan sepasang mata sipit sekali, sedangkan yang lebih muda bertubuh tinggi besar dan memiliki mata yang tajam dan agak liar. Terutama sekali mata itu seperti hendak menelan bulat-bulat nyonya rumah yang cantik jelita itu. Diam-diam Yo Han merasa tidak senang dengan sikap tosu yang lebih muda itu.

“Yo-pangcu (ketua Yo),” kata yang lebih tua sambil mengangkat kedua tangan depan dada, “pinto (saya) bernama Thian-yang-cu dan ini adalah sute pinto bernama Bhok-im-cu. Pinto berdua mendapat perintah dari suhu Thian It Tosu untuk datang berkunjung ke sini dan menyampaikan salam suhu kepada Yo­pangcu sekeluarga.”

Yo Han tersenyum dan membalas penghormatan itu. “Totiang berdua, terima kasih atas kunjungan Ji-wi To-tiang (totiang berdua) dan salam dari Thian It Tosu telah kami terima dengan baik. Sampaikan juga salam hormat kami kepada beliau kalau Ji-wi pulang nanti. Dan selain menyampaikan salam, ada kepentingan lain apa pula yang membawa Ji-wi datang berkunjung ini?”

“Memang ada keperluan lain, Pangcu. Kami membawa sepucuk surat dari guru kami untuk disampaikan kepada Pangcu.” kata Thian-yang-cu sambil mengeluarkan sesampul surat yang dia berikan kepada Yo Han. Sementara itu, Tan Sian Li mengerutkan alisnya karena beberapa kali dia memergoki Bhok-im-cu memandang kepadanya dengan mata lahap sekali. Ia merasakan benar betapa mata tosu itu mengaguminya dan hal ini dianggapnya sama sekali tidak pantas, apalagi tamu itu seorang tosu.

Setelah, menerima surat itu, Yo Han membacanya. Alisnya berkerut dan pandang matanya mengandung keheranan ketika dia menyerahkan surat itu kepada isterinya untuk dibaca. Juga Tan Sian Li merasa heran setelah membaca surat itu. Di dalam surat yang ditulis sendiri oleh Thian It Tosu, dinyatakan bahwa Bu-tong­pai” mengajak Thian-li-pang untuk memberontak dan bergerak. Waktunya sudah tiba dan untuk apa menunda dan menanti lagi, demikian isi surat itu. Nadanya keras dan penuh kebencian kepada pemerintah Mancu. Yang membuat suami isteri itu heran adalah bahwa biasanya Thian It Tosu bersikap lunak dan biarpun berjiwa patriot seperti mereka, namun tosu tua itu tidak pernah menyatakan keinginannya untuk memberontak sekarang. Kekuatan pihak pemerintah masih terlampau besar sedangkan para pejuang belum bersatu, bahkan banyak golongan pendekar masih mendukung pemerintah Mancu. Bergerak dan memberontak sekarang sukar diharapkan hasilnya dan sama dengan bunuh diri. Itulah sebabnya mereka terheran-heran membaca surat yang keras itu, yang mengajak mereka untuk memberontak dan bergerak sekarang juga.

Setelah isterinya selesai membaca surat dan mengembalikannya kepadanya, Yo Han menyimpan surat itu dan memandang kepada kedua orang utusan itu.

“Apakah Ji-wi Totiang telah diberi­tahu akan isi surat ini?”

“Tentu saja sudah, Pangcu!” kata Bhok-im-cu dengan suara lantang dan mulutnya tersenyum, matanya kembali mengerling genit ke arah nyonya rumah. “Kami berdua adalah murid-murid utama yang dipercaya oleh suhu, maka selain mengirimkan surat, kami juga diberi wewenang untuk membicarakan urusan dalam surat itu dengan Pangcu.”

“Hemmm, begitukah? Nah, kalau begitu, ingin kami bertanya, dengan alasan apakah Bu-tong-pai hendak mengajak kami untuk bergerak sekarang?”

Kini Thian-yang-cu yang menjawab. “Menurut suhu, alasannya adalah bahwa sekarang tiba saatnya yang amat baik. Kaisar Cia Cing yang sekarang ini tidak dapat disamakan dengan mendiang Kaisar Kiang Liong. Kedudukannya lemah, apalagi di mana-mana terjadi pemberontakan dan perlawanan dari suku-suku bangsa liar maupun dari bajak laut. Kalau sekarang kita menyerbu dan dapat membunuh kaisar, maka pemberontakan kita akan berhasil baik.”

Yo Han menggeleng kepalanya. “Aku sangsikan benar akan keberhasilan itu. Kalau hanya dengan menyerbu istana dan membunuh kaisar saja lalu berarti dapat memenangkan perang dan menggulingkan pemerintah Mancu, ah, hal itu hanya merupakan lamunan kosong belaka. Kita harus ingat akan ratusan ribu bala tentara pemerintah yang berada di luar istana. Mereka itu dapat menyerbu dan menghancurkan kita, kemudian dalam sehari saja mereka dapat mengangkat seorang kaisar baru. Lalu apa artinya pengorbanan kita? Tidak semudah itu, Totiang!”

Bhok-im-cu mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri. “Apakah itu berarti bahwa Pangcu tidak menyetujui niat guru kami yang berjiwa patriot? Demi kemerdekaan bangsa, kami rela mempertaruhkan nyawa. Kalau Pangcu merasa takut, Pangcu boleh membantu di belakang saja dan biarkan kami yang maju di depan!”

Biarpun ucapan itu memanaskan hati, Yo Han tetap tersenyum dan bersikap tenang. “Totiang, ingatlah bahwa perjuangan kita ini bukan sekadar hendak menjatuhkan seorang kaisar untuk diganti kaisar baru, melainkan mengusir penjajah dari tanah air. Untuk itu, kita harus mampu menggerakkan seluruh kekuatan para pejuang dan bukan hanya membunuh kaisarnya, melainkan mengalahkan semua kekuatan mereka dan mengusir mereka dari tanah air. Dan untuk itu, kami rasa waktunya belum tepat. Kita masih belum bersatu, dan di belakang kita rakyat belum siap.”

“Kalau menanti seperti yang Pangcu katakan itu, sampai mati pun kita tidak akan pernah bergerak. Membunuh kaisar berarti mengacaukan keadaan mereka. Sekali lagi, kalau Pangcu takut....”

“Bhok-im-cu Totiang” bentak Yo Han memotong kata-kata orang itu. “Mengapa aku mesti takut? Kalau Totiang tidak takut, aku pun tidak takut. Apa yang dapat Totiang lakukan, aku pun tentu dapat! Aku bukan takut, hanya menggunakan perhitungan akal, bukan hanya ingin mati konyol seperti seorang laki­laki yang tolol!”

Bhok-im-cu menjadi merah mukanya. “Bagus! Sudah lama pinto mendengar akan kehebatan Pendekar Tangan Sakti Yo Han. Pinto hanya memiliki sedikit saja kepandaiah, akan tetapi kalau Yo-pangcu dapat menyamainya, biarlah pinto mengaku kalah!” Bhok-im-cu sudah mencabut sebatang golok. Melihat ini, Thian-yang-cu terkejut dan hendak mencegah sutenya.

“Sute, jangan bersikap kasar!” celanya.

“Suheng, aku hanya ingin minta petunjuk Yo-pangcu saja. Jangan khawatir!” jawab Bhok-im-cu. Di sudut ruangan itu, terpisah sedikitnya dua puluh meter dari situ, terdapat sebuah orang-orangan dari kayu. Patung ini gunanya untuk belajar ilmu totok bagi murid-murid Thian-li-pang dan sekali Bhok-im-cu menggerakkan tangannya, goloknya sudah meluncur dengan cepat sekali dan tahu-tahu golok itu sudah menancap di ulu hati patung itu, menancap sampai setengahnya!

Melihat ini, Yo Han tersenyum. Harus diakui bahwa tosu itu selain pandai sekali menyambit dengan golok, semacam ilmu yang disebut hui-to (golok terbang), juga memiliki tenaga yang cukup hebat sehingga dalam jarak sejauh itu goloknya mampu menancap sampai setengahnya pada patung kayu yang keras itu.

“Pinjam pedangmu!” kata Yo Han kepada isterinya. Tan Sian Li yang berjuluk Si Bangau Merah ini memang selalu membawa dua batang suling yang berselaput emas. Ia mencabut dan menyerahkan pedangnya kepada suaminya. Yo Han menerima pedang itu dan tanpa mem­bidik pula dia sudah menggerakkan ta­ngan, melontarkan pedang itu ke arah patung. Pedang meluncur bagaikan sebatang anak panah, mengeluarkan suara berdesing panjang.

“Sing.... cringgg....!” Pedang itu dengan tepat mengenai gagang golok se­hingga gagang golok terbelah dua, akan tetapi pedang masih meluncur dan tepat menancap pada patung itu, dekat sekali dengan golok dan pedang itu menembus sampai ke gagangnya!

“Maaf, Totiang, kalau aku tanpa sengaja merusak gagang golokmu. Nah, ambillah golokmu itu!”

Dengan muka merah Bhok-im-cu meng­hampiri patung itu dan mencabut golok­nya yang sudah pecah gagangnya itu, kemudian menghampiri tuan rumah dan memberi hormat.

“Kepandaian Yo-pangcu memang bukan berita kosong belaka. Pinto kagum sekali.”

Sementara itu, Thian-yang-cu yang mendongkol melihat sikap sutenya, sudah memberi hormat dan berkata, “Yo-pangcu, sekarang kami mohon diri dan maafkanlah kelakuan kami yang tidak sepatutnya.”

“Selamat jalan, Ji-wi Totiang dan sampaikan pesanku kepada Thian It Tosu bahwa pada saatnya nanti kami akan menerima undangannya dan menghadiri pertemuan itu.”

Dua orang tosu itu lalu meninggalkan Thian-li-pang. Setelah mereka pergi, Tan Sian Li mendengus. “Hemmm, kenapa para tosu Bu-tong-pai sekarang menjadi begitu pongah? Sikap tosu tadi tidak mencerminkan pimpinan yang baik. Mengapa engkau berjanji mau datang memenuhi undangan Thian It Tosu?”

Suaminya menghela napas panjang. “Biarpun sikap tosu tadi tidak patut, akan tetapi aku tetap menghormat Thian It Tosu sebagai seorang tokoh yang lebih tua. Dalam suratnya dia menyatakan untuk mengundang semua perkumpulan yang berjiwa patriot untuk hadir. Dan aku akan menghadirinya, biarpun hanya untuk mencegah terjadinya penyerbuan ke istana yang tergesa-gesa, tidak ada manfaatnya bahkan hanya akan membuat kita semua menjadi buruan pemerintah saja.”

Baru setelah dua orang tosu itu pergi, muncul Han Li. Gadis ini memandang kepada ayah ibunya, dan bertanya, “Ayah dan Ibu, siapakah dua orang tosu tadi dan apa keperluan mereka?”

“Mereka adalah murid-murid Bu-tong­pai dan mereka mengundang kami untuk menghadiri pertemuan rapat yang hendak diadakan ketua Bu-tong-pai.” jawab Yo Han sambil menghampiri patung dan mencabut pedang isterinya dari situ.

“Eh, kenapa pedang Ibu menancap di patung itu? Apa yang terjadi, Ibu? Engkau kelihatan seperti tidak senang hati!” Han Li kembali bertanya, kini ditujukan kepada ibunya.

“Hemmm, seorang di antara dua tosu Bu-tong-pai tadi memperlihatkan ilmu golok terbangnya menantang ayahmu sehingga terpaksa ayahmu melayaninya. “Tosu sombong itu menjemukan!” kata Tan Sian Li, masih mendongkol karena Bhok-im-cu tadi memandangnya dengan sinar mata kurang ajar.

“Sudahlah, urusan itu dihabiskan sampai di sini saja!” kata Yo Han dan mereka bertiga meninggalkan ruangan tamu itu.


***

Keng Han melakukan perjalanan cepat menuju ke barat. Dia masih membayangkan wajah Kwi Hong dan merasa kagum sekali kepada gadis itu. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Kalau saja dia tidak ingat akan kepantasan dan juga akan keselamatan gadis itu, tentu dengan senang hati dia menerima tawaran Kwi Hong yang menyatakan hendak ikut dan membantunya menuntut Dalai Lama yang telah menyuruh orang membunuh gurunya!

Pada suatu hari, tibalah dia di sebuah dusun di daerah pegunungan. Ketika dia mendaki bukit itu, dari jauh dia sudah mendengar suara ribut-ribut di depan dan melihat orang-orang dusun berkumpul di luar dusun. Dia mempercepat jalannya dan berlari mendaki lereng. Setelah tiba di sana dia tertegun. Mula-mula jantung­nya berdebar karena mengira bahwa Kwi Hong yang mengamuk itu, akan tetapi ternyata bukan, melainkan seorang gadis lain yang sama cantiknya dengan Kwi Hong. Bahkan gadis ini agaknya memiliki gerakan ilmu pedang yang lebih hebat daripada ilmu pedang yang dikuasai Kwi Hong juga jauh lebih ganas. Gadis itu dikeroyok oleh sedikitnya tiga puluh orang, akan tetapi berbeda dengan ketika Kwi Hong dikeroyok para murid Pek-houw Bu-koan dan yang membuat dia terpaksa turun tangan membantu, gadis ini agaknya sama sekali tidak perlu dibantu! Setiap kelebatan pedangnya merobohkan seorang pengeroyok, bukan hanya melukai ringan, melainkan merobohkan dan menewaskannya seketika!Melihat orang-orang dusun yang menonton bersorak setiap kali ada pengeroyok yang roboh, Keng Han mengambil kesimpulan bahwa gadis itu tentulah orang yang dianggap baik oleh penduduk dusun dan mungkin sekali pembela mereka. Dan melihat para pengeroyok itu rata-rata orang yang kasar dan buas, dia lalu mengambil keputusan untuk menjadi penonton saja. Karena di situ terdapat banyak penduduk dusun, agar tidak me­narik perhatian, diam-diam dia melompat ke atas pohon besar yang berada dekat dengan tempat pertempuran itu.

Dari atas pohon Keng Han dapat melihat lebih jelas lagi dan kini nampak olehnya betapa hebatnya gerakan gadis itu. Gadis itu lebih tua dari Kwi Hong, lebih matang dan dewasa. Kwi Hong masih dapat dikatakan seorang gadis remaja. Dan gerakan pedangnya yang amat hebat itu diimbangi pula dengan gerakan tangan kirinya yang menyambar-nyambar. Sekali tangan kiri menyambar dan mengenai tubuhlawan, maka pengeroyok itu tentu terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali! Dan agaknya gadis itu berkelahi dengan gembira. Mulutnya yang amat manis itu tersenyum-senyum, se­nyum mengejek dan sepasang matanya yang bersinar-sinar seperti bintang kejora itu berseri.

Sudah dua puluh orang lebih yang malang melintang menjadi korban amukan gadis itu. Sisanya tinggal sepuluh orang anak buah dan dua orang pimpinan mereka. Dua orang pemimpin ini adalah dua orang pria setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menakutkan, bengis dan kasar. Mereka menggunakan golok besar sebagai senjata.

Melihat anak buahnya banyak yang menjadi korban amukan gadis itu, dua orang itu lalu melompat ke belakang dan memberi aba-aba kepada anak buahnya, “Pergunakan paku-paku beracun!”

Mendengar ini, agaknya para anak buah baru menyadari dan ingat akan senjata rahasiaa mereka yang ampuh. Mereka juga berlompatan ke belakang, dan serentak mereka mengeluarkan senjata rahasia itu dan menghujankan ke arah gadis itu. Gadis itu sama sekali tidak menjadi gugup. Pedangnya diputar dan paku-paku itu rontok, dan ketika tangan kirinya bergerak, ia sudah menangkap beberapa batang paku beracun itu dan begitu ia menggerakkan tangan menyambitkan paku-paku itu ke arah penyerangnya, empat orang terjungkal roboh oleh senjata mereka sendiri. Agaknya gadis itu marah diserang dengan cara curang. Tubuhnya tiba-tiba melayang bagaikan seekor burung ke arah dua orang pimpinan itu. Mereka terkejut dan mengangkat golok untuk menangkis. Namun, pedang itu bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dua orang pimpinan itu telah roboh dengan dada tertusuk pedang. Bukan main hebatnya gerakan itu. Menyerang dengan tubuh masih di udara, sekaligus merobohkan dua orang pemimpin para pengeroyok yang melihat gerakan golok mereka juga bukan orang-orang lemah.

Keng Han bergidik. Gadis itu lihai bukan main, akan tetapi juga kejam tak mengenal ampun. Sisa para pengeroyok kini melarikan diri cerai berai dan gadis itu tidak mengejar mereka.

Orang-orang dusun yang tadi menjadi telah roboh dengan dada tertusuk pedang. Bukan main hebatnya gerakan itu.

Penonton, kini serentak menjatuhkan diri berlutut ke arah gadis itu, dipimpin oleh seorang tua yang agaknya menjadi kepala dusun.

“Kami semua menghaturkan terima kasih atas pertolongan Lihiap dengan membasmi gerombolan penjahat yang selalu mengganggu kehidupan kami. Akan tetapi, bagaimana kalau kawan-kawan mereka datang henpak membalas dendam, Lihiap?”

Gadis itu mencibirkan bibirnya, membersihkan pedangnya pada pakaian para korbannya lalu menyimpan kembali pedangnya di pinggang, baru ia berkata,

"Hemmm, kalian ini memang pengecut-pengecut besar! Kalian mempunyai banyak laki-laki mengapa membiarkan diri ditekan dan diganggu gerombolan perampok itu? Kalau kalian bersatu, jumlah kalian ratusan orang, tentu akan mampu melakukan perlawanan! Mulai sekarang bersatulah dan kalau ada gerombolan perampok datang mengganggu, lawanlah. Kalau ada yang hendak membalas dendam katakan saja bahwa yang membunuh mereka adalah aku, Bi Kiam Niocu (Nona Pedang Cantik). Nah, sekarang urus dan kuburlah mereka semua ini, aku harus pergi!”

Gadis itu melangkah pergi dan ke­betulan lewat di bawah pohon di mana Keng Han bersembunyi. Tiba-tiba ia ber­henti dan tersenyum-senyum.. “Engkau yang di atas pohon, tidak lekas turun?”

Keng Han terkejut akan, tetapi diam saja, pura-pura tidak mendengar. Dia merasa malu telah ketahuan persembunyiannya, juga dia khawatir akan terjadi kesalah-pahaman kalau dia turun. Maka dia diam saja.

“Nonamu bilang turun, engkau tidak cepat turun?” Gadis itu kembali berseru. Para penduduk yang mendengar ini sudah cepat memandang ke atas pohon dan kini mereka melihat seorang pemuda duduk nongkrong di atas cabang pohon, mereka memandang dengan hati tegang, tidak tahu siapa pemuda itu, kawan dari para penjahat tadi ataukah bukan.

Keng Han sudah terlanjur diam saja. Dia merasa malu untuk melompat turun dan tiba-tiba tubuh gadis itu melayang ke atas. Tidak nampak kapan ia men­cabut pedang akan tetapi tiba-tiba ada sinar terang menyambar ke arah cabang pohon.

“Krakkk....?” Cabang pohon itu terpotong dan jatuh ke bawah. Tentu saja tubuh Keng Han ikut melayang ke bawah. Akan tetapi tubuh pemuda itu tidak terbanting karena Keng Han sudah dapat menguasai dirinya dan hinggap di atas tanah dengan ringan.

Gadis itu kini sudah berada di depannya. Pedangnya sudah disarungkannya kembali dan sepasang matanya meman­dang dengan liar dan penuh ancaman.

“Engkau anak buah mereka?” tanyanya dan sikapnya siap untuk menyerang sehingga diam-diam Keng Han juga bersiap siaga untuk membela diri.

“Sama sekali bukan. Aku seorang perantau yang kebetulan lewat dan melihat pertempuran tadi aku lalu menonton dari atas pohon.”

Agaknya wanita itu dapat membedakan pemuda yang gerak-geriknya lembut ini dengan para anggauta gerombolan yang kasar dan buas, maka pandang ma­tanya menjadi lembut.

“Hemmm, engkau tidak terbanting jatuh, agaknya engkau memiliki kepandai­an ilmu silat yang boleh juga.”

“Ah, tidak, aku hanya belajar satu dua jurus untuk membela diri dari tangan orang-orang kejam.”

“Apa? Kau berani mengatakan aku orang kejam?” Wanita itu membentak marah.

“Tidak, hanya memang kenyataannya engkau kejam sekali, Nona. Orang demikian banyaknya kaubunuh tanpa berkedip mata, apalagi namanya itu kalau tidak kejam?”

“Engkau melihat bagaimana mereka, perampok-perampok itu melakukan terhadap penduduk dusun? Mereka menperkosa, menyakiti, membunuh dan merampok! Sudah sepatutnya mereka kubunuh! Dan kau berani bilang aku kejam?”

“Ya, memang engkau kejam sekali.” kata Keng Han bersikeras karena sudah tidak dapat mundur lagi.

“Setan cilik! Tanyakan kepada penduduk dusun ini! Heiii,warga dusun! Adakah di antara kalian yang menganggap aku kejam karena membunuhi para pe­rampok ini?”

Serentak mereka semua menjawab. “Tidaaak! Yang kejam adalah para perampok itu!”

“Nah, kau dengar itu, bocah kepala batu?”

“Aku tidak mau ikut-ikutan dengan mereka. Aku tadi melihat betapa kau membunuhi orang-orang yang tidak mampu melawanmu dan itu sungguh kejam sekali!”

“Bagus, kalau begitu hanya ada dua pilihan untukmu. Pertama, kau ambil sebatang golok mereka dan membunuh diri di depanku atau, engkau boleh membela diri dari seranganku, aku yang akan membunuhmu!”

“Nah, inilah bukti baru dari kekejamanmu, Nona. Aku yang tidak bersalah apa pun hendak kaubunuh. Bukankah itu kejam sekali namanya!”

“Tidak peduli! Engkau memanaskan perutku, engkau berani memaki aku kejam. Hayo kaupungut golok di sana itu dan membunuh diri di depanku.”

“Aku mendengar bahwa bunuh diri adalah perbuatan seorang pengecut, dan aku bukan pengecut. Aku berani hidup dan tidak takut mati demi membela kebenaran.”

“Aha!” Wanita itu mencibir, “kiranya engkau seorang pendekar pembela kebenaran?”

“Bukan hanya pendekar yang harus membela kebenaran. Biar orang awam seperti aku pun berkewajiban untuk membela kebenaran!”

“Jadi engkau tidak mau membunuh diri mentaati perintahku?” tanya wanita itu, nadanya mengancam.

Keng Han menggeleng kepalanya. “Tidak mau!” jawabnya tegas.

“Kalau begitu, engkau harus membela dirimu dari seranganku. Aku akan menyerangmu, kalau sampai sepuluh jurus aku tidak mampu membunuhmu, biarlah aku mengampuni nyawamu. Akan tetapi kalau sebelum sepuluh jurus kau mati, jangan arwahmu menyalahkan aku!”

“Engkau memang wanita kejam!” Keng Han memaki marah dan memandang dengan mata melotot. Dia tidak menganggap wanita itu jahat, karena wanita itu telah. membantu para penduduk dusun dari gangguan gerombolan perampok, akan tetapi wanita itu terlalu kejam, terlalu mudah membunuh orang.

“Lihat serangan!” Wanita itu berseru dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat sekali menampar ke arah pelipis kanan Keng Han.

Namun dengan mudah saja Keng Han menarik kepalanya ke belakang sehingga tamparan tangan kiri itu lewat dii depan hidungnya dan dia mencium bau harum ke luar dari lengan baju itu.

Agaknya wanita itu pun terkejut melihat betapa tamparannya dengan mudah dielakkan oleh pemuda itu, maka, ia pun menyusulkan serangan yang lebih hebat lagi, menotok ke arah dada Keng Han. Kembali pemuda ini bergerak, miringkan tubuhnya dari totokan itu pun luput!

Ketika wanita itu mendesak terus dengan pukulan ketiga yang amat ganas, Keng Han menggerakkan tangan menangkis pukulan yang mengarah mukanya itu.

“Dukkk!” Pertemuan dua tenaga sin­kang itu membuat wanita itu terdorong mundur dua langkah. Tentu saja ia terkejut bukan main dan merasa penasaran sekali. Pemuda itu ternyata bukan hanya mampu mengelak, bahkan tangkisannya demikian kuat membuat ia terdorong mundur! Dengan kemarahan berkobar wanita itu menyerang terus secara bertubi-tubi, namun sampai jurus ke sembilan, serangannya selalu gagal. Keng Han juga harus mengeluarkan kepandaian­nya karena dia mendapat kenyataan betapa dahsyat dan hebatnya serangan-serangan itu. Hanya dengan ilmu silat sakti Hong-in Bun-hoat dia berhasil lolos dari serangkaian serangan itu.

Tiba-tiba ada sinar hitam menyambar. Keng Han terkejut bukan main karena sinar hitam itu adalah rambut wanita itu yang bergerak secara luar biasa sekali dan tahu-tahu telah melibat muka dan lehernya! Bau harum menusuk hidungnya dan selagi dia tertegun, tidak tahu harus berbuat apa karena untuk merenggut rambut itu dia merasa tidak tega, sebuah totokan mengenai kedua pundak secara beruntun dan dia pun tidak mampu bergerak lagi!

“Hi-hi-hik!” Wanita itu tertawa puas. “Ternyata pada jurus ke sepuluh engkau tidak berdaya, orang muda keras kepala! Sekarang bersiaplah untuk mampus!”

“Hemmm, aku sudah dapat menduga bahwa engkau hanyalah seorang wanita yang suka menjilat ludah sendiri dan melanggar janji sendiri!” kata Keng Han yang maklum bahwa keselamatan nyawanya terancam.

“Keparat!” bentak wanita itu. “Engkau masih berani memaki aku sebagai penjilat ludah sendiri? Kapan aku melakukan pelanggaran janji itu?”

“Memang belum akan tetapi hampir. Tadi engkau berjanji bahwa kalau sampai sepuluh jurus engkau tidak mampu membunuhku, engkau akan mengampuni nyawaku. Sekarang, sudah lewat sepuluh jurus engkau tidak mampu membunuhku, namun engkau akan membunuh aku juga! Bukankah itu berarti menjilat ludah sendiri? Cih, tak tahu malu!”

Keng Han sengaja mengejek karena dia sudah sedikit mengenal watak wanita ini, yaitu angkuh dan tidak mau dianggap rendah budi.

“Baik, aku tidak membunuhmu, akan tetapi aku tidak berjanji akan membebaskanmu. Engkau akan menjadi tawananku dan kalau kelakuanmu baik, kelak barangkali aku akan membebaskanmu!” Setelah berkata demikian, ia menangkap lengan kanan Keng Han yang tidak dapat digerakkan itu dan menarik Keng Han pergi dari situ. Keng Han terseret akan, tetapi wanita itu tetap menariknya dan berlari dengan cepat sekali meninggalkan dusun itu. Para penduduk dusun hanya, menonton saja dan menganggap bahwa pemuda itu tentu mempunyai kesalahan maka pendekar wanita yang telah menolong mereka menjadi marah.


***

Wanita cantik itu kini mencengkeram baju di punggung Keng Han dan membawa lari Keng Han sampai mengangkatnya seperti menenteng seekor ayam saja. Keng Han membiarkan dirinya dibawa pergi. Dia sama sekali tidak merasa khawatir karena dia merasa yakin bahwa dengan hawa sakti yang terkandung di tubuhnya, dengan menyalurkan hawa itu dia akan mampu membebaskan dirinya sendiri dari pengaruh totokan.

Ketika wanita itu sudah menuruni bukit dan masuk sebuah hutan, Keng Han mulai menyalurkan tenaga dari tan-tian untuk membebaskan dirinya dari pengaruh totokan. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa jalan darahnya yang pokok tetap saja tidak, dapat ditembus. Dia hanya mampu menggerakkan kedua kaki dan lengannya dengan perlahan saja dan belum dapat menggerakkan jari-jarinya! Dia mencoba dan mencoba, akan tetapi hasilnya sama saja. Barulah dia merasa khawatir karena kini dia merasa bahwa dia benar-benar berada dalam cengkeraman wanita kejam ini.

Tiba-tiba wanita itu berhenti. Di depannya sudah berdiri dua orang tosu. Mereka itu bukan lain adalah Thian-yang­cu yang tinggi kurus dan Bhok-im-cu yang tinggi besar. Bhok-im-cu ini biarpun sudah menjadi seorang tosu, akan tetapi dia masih, tidak dapat meninggalkan wataknya di waktu muda, yaitu mata keranjang. Kini pun dia memandang Wanita itu dengan mata liar seolah matanya menggerayangi seluruh bagian tubuh wanita cantik itu dan mulutnya berliur seperti seekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk. Akan tetapi, suhengnya, sudah menegur wanita itu dengan suara yang lantang. “Nona, siapakah Nona dan mengapa Nona menawan seorang muda ini?”

“Apa urusanmu, tanya-tanya? Pergilah, jangan menghadang di jalan atau aku akan marah!” kata gadis itu dengan suara ketus.

“Aih, Nona. Engkau begini cantik mengapa bersikap begini kasar? Sayang kecantikanmu kalau begitu!” kata Bhok­im-cu mencela.

Gadis itu melotot. “Apa engkau ingin mampus? Pergilah, atau aku terpaksa akan menghajar kalian!” Gadis itu kini membentak marah. Ia mendorong Keng Han ke belakang dan pemuda itu terhuyung lalu roboh terguling karena tubuhnya masih terasa lemas walaupun sebetulnya dia sudah mampu menggerakkan kaki tangannya dengan kaku, belum sempurna benar.

“Siancai....!” Thian-yang-cu berseru.

“Engkau tentu seorang wanita jahat, Nona. Dan kami dari Bu-tong-pai tidak mungkin tinggal diam saja melihat orang berbuat jahat. Bebaskan pemuda ini atau jelaskan mengapa engkau menawannya, kalau engkau tidak ingin kami terpaksa turun tangan mencampuri urusanmu!”

“Tosu bau! Kalian kira aku takut kepada kalian?”Gadis itu membentak marah dan ia pun sudah menggerakkan kaki tangannya, menyerang ke arah kedua orang tosu itu.

Thian-yang-cu dan Bhok-im-cu adalah dua orang tosu murid utama, tentu saja sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka dapat menghindarkan diri dan Thian-yang-cu membalas dengan serangan tendangannya. Gadis itu mengelak cepat dan kembali tangannya meluncur untuk melakukan totokan ke arah dada lawan. Bhok-im-cu juga menyerang dan dia merangkul dari belakang untuk meringkus nona itu. Serangannya ini membuat gadis itu bertambah marah karena mengira bahwa tosu itu hendak berkurang ajar. Ia mengelak sambil membalik dan sebuah tendangan kilat menyambar ke arah perut Bhok-im-cu. Hanya dengan melempar tubuh ke samping dan bergulingan saja Bhok-im-cu dapat meloloskan diri dari tendangan yang dahsyat itu. Akan tetapi dia terkejut sekali dan bersikap hati-hati, maklum bahwa nona itu memang lihai bukan main.

Thian-yang-cu adalah seorang murid pertama Bu-tong-pai, tentu saja dia tidak mau bertindak sembrono terhadap gadis yang belum diketahui kesalahannya itu. Dia hanya mencurigai gadis yang menawan seorang pemuda, belum ada bukti bahwa gadis itu seorang jahat. Oleh karena itu, dia pun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi setelah beberapa gebrakan, dia terkejut bukan main karena gadis itu ternyata memiliki kepandaian yang amat tinggi. Terpaksa dia menambah tenaga pada tangannya dan dia sudah menyerang cepat, memukul ke arah pundak gadis itu. Akan tetapi agaknya gadis itu sudah tahu bahwa si tosu tidak mempergunakan se­luruh tenaganya maka ia miringkan sedikit pundaknya sehingga pukulan itu mengenai pangkal lengan dan berbareng pada saat itu ia sudah meluncurkan jari tangannya menotok dada Thian-yang-cu sehingga tosu ini terpelanting roboh dan tidak mampu bangkit kembali. Melihat ini, Bhok-im-cu terkejut dan marah. Lenyaplah sifatnya yang main-main melihat gadis cantik. Dia menubruk dengan marah, akan tetapi dengan gerakan memutar yang indah, gadis itu dapat mengelak dan mengirim tendangan yang me­ngenai perutnya dan Bhok-im-cu juga terpelanting roboh. Sebetulnya kedua orang tosu ini tidak akan demikian mudah dirobohkan kalau saja mereka tidak memandang ringan lawannya.

“Hemmm, tosu-tosu bau dari Bu-tong­pai hanya memiliki sedikit kepandaian sudah berani mencampuri urusan orang? Kalian yang lancang tidak pantas dibiarkan hidup!” Gadis itu lalu melangkah maju, siap untuk membunuh. Akan tetapi pada saat itu Keng Han yang belum dapat menggerakkan kaki tangannya dengan baik, sudah me lompat dan menerkam seperti seekor singa menerkam kambing, tahu-tahu tubuhnya sudah menimpa punggung gadis itu, kedua lengannya mendekap dan kedua kakinya juga me­ngait.Gadis itu terkejut sekali, ia me­ronta untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak mampu karena dekapan Keng Han kuat bukan main.

“Hei, bocah gila! Lepaskan aku, lepaskan....!” Gadis itu berteriak-teriak.

“Tidak, engkau tidak boleh membunuh orang!” kata Keng Han. Dengan gemas ia meronta pula, mencoba melepaskan dekapan itu, bahkan menampar dan menyikut. Akan tetapi tamparan dan sikunya menghantam tubuh yang keras dan kenyal seperti karet sehingga tamparan itu membalik. Ia terkejut bukan main.

“Anak setan! Tidak tahu malu kau! Hayo lepaskan....!” Gadis itu menjerit­jerit. Entah mengapa, merasa betapa tubuhnya didekap lengan dan tubuh yang tegap dari seorang pemuda, mendadak saja ia merasa seluruh tubuhnya lemas, jantungnya berdebar keras dan keringat dingin membasahi lehernya. Ia tidak peduli lagi melihat kedua tosu itu merangkak dan pergi dengan cepat dari situ.

“Berjanji dulu bahwa engkau tidak akan membunuh orang, baru aku mau melepaskanmu.” Keng Han yang kini juga menyadari bahwa perbuatannya itu sungguh tidak pantas, mendekap tubuh seorang gadis seperti itu. Baru sekarang terasa olehnya betapa hangat dan lunak tubuh itu berada dalam dekapannya!

“Aku berjanji....!” kata gadis itu ham­pir menangis.

Keng Han melepaskannya dan begitu dilepaskan, sebuah tamparan mengenai pipi Keng Han, membuat dia terpelanting roboh. Akan tetapi dia bangkit kembali dan berdiri memandang gadis itu sambil meraba pipinya dan tersenyum.

“Engkau.... engkau sudah mampu bergerak? Bagaimana mungkin ini?”

“Melihat engkau hendak membunuh orang, agaknya mendatangkan tenaga bagiku untuk menggerakkan tubuh. Nona, mengapa engkau begitu kejam? Sedikit-sedikit membunuh orang, menganggap nyawa orang seperti nyawa nyamuk saja!”

“Huh, kau tahu apa? Orang-orang jahat itu, kalau tidak dibunuh merekalah yang akan menyusahkan atau membunuh kita. Dari pada dibunuh orang, lebih baik membunuh lebih dulu, bukan?” Gadis itu lalu mendekati Keng Han dan memeriksa tangannya. Jari-jari tangan Keng Han dengan kaku terlihat jelas bahwa dia masih belum dapat bergerak leluasa.

“Jalan darahmu baru setengahnya terbuka.” kata gadis itu. “Biarlah aku membukanya sama sekali!” Gadis itu lalu menggerakkan jari-jari tangannya dan kini terbebaslah seluruh jalan darah di tubuh Keng Han. Akan tetapi di luar dugaan Keng Han, tiba-tiba telapak tangan kiri gadis itu menghantam dadanya. “Plakkk....!” Tidak terlalu nyeri, akan tetapi dia merasa betapa ada hawa panas memasuki dadanya.

Gadis itu tertawa. “Hemmm, kenapa engkau memukul dadaku lalu tertawa?” tanya Keng Han penasaran, tidak marah karena tamparan tadi tidak mengandung tenaga sakti sehingga seperti main-main saja.

“Jangan kira bahwa setelah aku membebaskan totokanmu, engkau akan dapat pergi dan bebas dariku. Engkau mau atau tidak mau harus menemani aku.”

“Hemmm, kenapa begitu? Kalau aku tidak mau dan pergi, engkau mau apa?”

“Tidak mau apa-apa, hanya melihat engkau mati dalam waktu sebulan dan tidak ada obat di dunia ini yang mampu menyembuhkanmu. Aku telah membebaskan totokanmu, akan tetapi aku telah memukulmu dengan tok-ciang (tangan beracun). Kalau tidak percaya, lihatlah dadamu!”

Keng Han penasaran dan membuka bajunya. Di sana, di dadanya sebelah kiri, nampak ada tanda lima telapak jari merah, jelas sekali. Diam-diam Keng Han mentertawakan gadis itu. Pukulan beracun tidak akan mencelakainya, dan sekali mengerahkan tenaga dia akan mampu melenyapkan tanda jari merah itu. Tubuhnya sudah kebal racun berkat makan daging ular merah dan gigitan bina­tang itu. Akan tetapi dia diam saja dan memakai kembali bajunya.

“Nona, kenapa engkau hendak memaksaku mengikutimu?” Tanyanya.

“Engkau sudah berani memaki, mengatakan aku kejam, bahkan tadi engkau berani merangkulku. Hemmm....untuk itu saja sudah cukup alasan bagiku untuk membunuhmu. Akan tetapi tidak, aku tidak akan membunuhmu. Terlampau enak untukmu. Engkau harus ikut aku, menyaksikan, kekejamanku seperti yang kaukatakan itu, dan engkau akan mati perlahan-lahan. Racun di tubuhmu itu sebulan lagi baru akan bekerja. Dan melihat engkau masih muda, biar aku melihat kelakuanmu selama sebulan ini. Kalau kelakuanmu selama ini baik saja, aku akan mengobatimu, kalau sebaliknya, engkau akan mati tersiksa.” .

Kejamnya! Maki Keng Han dalam hatinya. Dia tahu gadis ini seorang yang berilmu tinggi, dan tidak jahat, hanya kejam dan tangannya ringan sekali membunuh orang, biarpun orang yang dibunuhnya itu jahat atau bersalah kepadanya. Dua orang tosu Bu-tong-pai itu pun tentu sudah dibunuhnya hanya karena mencampuri urusannya dan hendak membebaskannya. Dan dia merasa sayang sekali. Gadis ini cantik jelita, dan tidak jahat. Mungkin kalau melakukan perjalanan bersamanya selama sebulan, dia akan dapat membujuknya dan memberinya nasihat sehingga tidak kejam lagi.

“Akan tetapi aku mempunyai urusan penting sekali. Aku harus pergi ke Tibet!” kata Keng Han.

“Hemmm, ke Tibet atau ke neraka, apa bedanya bagiku? Aku tidak mempunyai tujuan tertentu, dan tidak mengapa bagiku kalau harus pergi ke Tibet sekalipun. Akan tetapi mau apa engkau pergi ke Tibet? Apakah ingin menjadi hwesio dan mempelajari agama?”

“Aku hendak mencari dan bertemu dengan Dalai Lama!”

Gadis itu tertegun dan memandang kepadanya dengan sinar matariya yang tajam. Mata yang indah itu mengamatinya penuh selidik. Agaknya banyak keanehan terdapat pada diri pemuda ini. Ilmu silatnya cukup baik, dapat menghindarkan diri dari sembilan jurus serang­annya, bahkan dapat hampir membebas­kan diri dari totokannya. Dan kini hendak Mencari dan bertemu dengan Dalai Lama?” tanyanya dengan hati tertarik.

“Mau apa? Dia seorang yang sewenang-wenang. Aku akan menuntutnya, bertanya mengapa dia mengutus orang-orang untuk membunuh guruku!”

Tiba-tiba gadis itu tertawa. Tawanya lepas bebas, tidak ditutup-tutup! seperti gadis lain akan tetapi ketika ia tertawa bebas itu, wajahnya nampak lucu dan cerah, nampak semakin manis seperti wajah seorang kanak-kanak. Lenyaplah garis-garis kekerasan dan sifat dingin dari wajahnya yang menjadi anggun dan menyenangkan sekali, sehingga Keng Hong terpesona. Gadis ini sesungguhnya canttk bukan main kalau saja mau melenyapkan kekerasan hatinya.

“Seharusnya engkau lebih sering tertawa, Enci!” katanya tiba-tiba, menyebut enci karena setelah gadis itu tertawa, dia merasa hubungannya dekat dengannya.

“Ehhh?” Gadis itu dua kali terkejut. Oleh ucapan itu sendiri dan oleh sebutan enci. “Mengapa?”

“ Kalau tertawa, wajahmu indah sekali!”

Tiba-tiba wajah itu menjadi dingin kembali, tangan itu sudah diangkat hendak menampar, akan tetapi ditahannya. “Apa kau ingin ditampar?”

“Kenapa ditampar? Apa salahku?”

“Kau bilang wajahku indah sekali.”

“Habis, harus bilang apa? Apakah aku harus mengatakan bahwa wajahmu buruk sekali, padahal kenyataannya memang indah kalau engkau tertawa?”

Gadis itu menghela napas panjang, agaknya merasa kewalahan untuk berbantah dengan Keng Han. “Siapa sih namamu?”

“Namaku Keng Han, Si Keng Han.” jawabnya, menyembunyikan nama marganya yang dia tahu hanya akan, menimbulkan persoalan baru. “Dan engkau siapa?”

Kembali helaan napas panjang. “Orang menyebut aku Bi-kiam Nio-cu. Aku hampir lupa akan nama sendiri, kalau tidak salah Siang Bi Kiok. Akan tetapi engkau pun harus menyebut Bi-kiam Nio-cu kepadaku. Berapa usiamu?”

“Usiaku dua puluh tahun.”

“Biarpun engkau lebih muda dariku, jangan menyebut enci padaku. Sebut saja Bi-kiam Nio-cu. Eh, gurumu yang dibunuh oleh utusan Dalai Lama itu, siapa namanya?”

“Dia pun seorang bekas Lama, namanya Gosang Lama.”

“Aku tidak pernah mendengar nama itu. Akan tetapi, sungguh keinginanmu untuk menuntut Dalai Lama ini sangat aneh. Orang dengan kepandaian seperti engkau ini akan menuntut Dalai Lama? Engkau mencari mati!”

“Aku tidak takut. Budi seorang guru amat besar, pantas dibela dengan taruhan nyawa.”

“Hemmm, engkau seorang pemuda yang aneh sekali. Mungkin karena inilah aku tidak membunuhmu. Nah, sekarang carilah binatang buruan untukku. Perutku terasa lapar sekali, Keng Han.”

“Engkau tidak takut kalau aku melarikan diri, Niocu?”

“Mengapa takut? Engkau tidak akan melarikan diri, kalau engkau tidak ingin mati keracunan sebulan kemudian. Obat penawarnya berada padaku. Nyawamu berada di tanganku.”

“Hemmm, baiklah, Niocu. Aku pun ingin melakukan perjalanan bersamamu. Siapa tahu dalam sebulan ini aku dapat membujukmu agar jangan bertindak kejam lagi. Setelah berkata demikian, Keng Han lalu memasuki hutan itu dan mencari binatang buruan. Setelah berada seorang diri, dia mengerahkan tenaga dari dalam tan-tian menuju ke dadanya dan dalam waktu sebentar saja dia sudah mengusir racun itu dari tubuhnya. Ketika dia membuka bajunya, ternyata tanda telapak jari merah itu telah lenyap. Dia tersenyum dan merasa heran kepada diri sendiri. Kenapa dia tidak lari saja meninggalkan gadis itu? Atau melawannya? Kalau dia berhati-hati, belum tentu dia kalah. Wanita itu hanya memiliki kelebihan dalam ilmu totok yang memang hebat. Bahkan tenaga sinkangnya tidak mampu menahan totokan wanita itu! Juga dia merasa heran mengapa wanita itu mau saja mengikutinya pergi ke Tibet!

Tiba-tiba dia melihat seekor kijang muda muncul dari semak belukar. Cepat dia menunduk dan bersembunyi di balik semak-semak, untung baginya bahwa angin datang dari arah kijang itu. Kalau sebaliknya, tentu kijang itu tahu bahwa ada manusia di dekatnya dan kalau ia sudah melarikan diri, bagaimana mungkin dapat mengejarnya? Sambil bertiarap itu, tangannya mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan setelah mengintai dan membidik dengan tepat, tiba-tiba dia bangkit dan melontarkan batu itu ke arah kepala kijang.

“Wuuuttttt.... dakkk!” Tepat sekali batu itu menghantam kepala bagian belakang kijang itu. Binatang itu berkuik satu kali lalu roboh dan mati dengan kepala retak. Dengan girang Keng Han lalu mengambil bangkai binatang itu dan dipanggulnya, dibawa kembali ke tempat dimana tadi Bi-kiam Nio-cu menunggu.

Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu menanti kembalinya Keng Han. Sambil duduk di bawah sebatang pohon, di atas sebuah batu datar. Hawa udara amat panas, akan tetapi di bawah pohon itu teduh dan angin yang semilir membuatnya mengantuk.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara berdetak di belakangnya. Ketika ia menengok, beberapa helai jala menyambar ke arah tubuhnya dari atas. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi terlalu banyak jala yang menyerangnya sehingga tanpa dapat dielakkannya lagi, tubuhnya telah terbungkus dua helai jala hitam. Ia meronta dan mencoba untuk mencabut pedangnya, akan tetapi hal ini sukar dilakukan karena tali jala-jala itu ditarik dan kedua tangannya terbalut dan seperti teringkus jala. Dan jala itu agaknya ter­buat dari tali yang amat kuat. Ia sudah diringkus dan ketika ia memandang, dari celah-celah jala, ia melihat belasan orang laki-laki berada di situ. Beberapa orang memegang jala yang meringkusnya dan ketika mereka itu maju mengikatnya bersama jala, ia pun tidak berdaya.

“Jahanam pengecut.Lepaskan aku dan mari kita bertanding kalau memang kalian gagah!” Ia mendamprat akan tetapi sia-sia belaka karena orang-orang itu hanya tertawa. Seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan yang memegang tongkat besar, agaknya menjadi pemimpin mereka, memberi aba-aba dan mereka semua berloncatan pergi sambil menggotong Bi-kiam Nio-cu seperti mengotong seekor binatang buruan yang terjerat. Wanita itu memaki-maki, menantang-nantang akan tetapi tidak ada yang mempedulikan dan ternyata mereka itu rata-rata dapat berlari cepat, dida­hului oleh si rakasasa pemegang tongkat besar itu.

Orang-orang itu berpakaian sederhana sekali, dari kulit binatang dan melihat wajah mereka yang brewokan mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup di dalam hutan. Mereka membawa Bi-kiam Nio-cu ke sebuah bukit yang penuh dengan gua-gua batu yang besar. Setelah tiba di depan gua-gua itu, sang pemimpin lalu mem­bawa tawanan itu dengan sebelah tangan, ditentengnya memasuki sebuah di antara gua-gua terbesar. Bi-kiam Nio-cu kini diam saja. Ia tidak takut, melainkan mengumpulkan tenaga, siap untuk memberontak dan menyerang kalau dirinya dibebaskan dari ikatan tali dan jala itu. Akan tetapi, raksasa yang membawanya itu melemparkannya di atas sebuah dipan kayu yang kasar, kemudian dia mengambil guci dan cawan dan tak lama kemudian dia sudah minum arak seorang diri. sambil terkekeh-kekeh senang.

Ketika tiba di tempat tadi, Keng Han tidak melihat Bi-kiam Nio-cu. “Niocu....!Dia memanggil beberapa kali akan tetapi. tidak ada jawabah. Dia lalu memeriksa tempat itu dan melihat bekas tapak kaki banyak orang di situ. Agaknya Nio-cu didatangi banyak orang dan terjadi pergulatan, pikirnya, melihat banyak semak dan pohon kecil yang rusak. Celaka, jangan-jangan Nio-cu ditangkap gerombolan penjahat, pikirnya. Biarpun pikiran ini agak aneh mengingat bahwa Nio-cu seorang wanita yang tidak mudah ditangkap begitu saja, namun Keng Han merasa khawatir. Dia lalu mencari dan mengikuti jejak belasan pasang kaki itu yang menuju ke bukit di luar hutan. Dia terus menelusuri jejak-jejak kaki itu dan mendaki bukit.


***

“Heh-heh-heh, engkau sungguh cantik. Pantas menjadi isteriku dan menemani aku di sini.” Akhirnya raksasa muka hitam itu . berkata sambil menghentikan minumnya dan menghampiri Bi-kiam Nio­cu yang masih meringkus terikat di atas dipan. Wanita ini dapat berusaha untuk membalik dan telentang sehingga ia dapat melihat keadaan di kamar itu. Sebuah kamar gua yang lebar. Terdapat tiga buah bangku sebuah meja dan sebuah dipan kayu itu. Sederhana sekali. Ketika laki-laki tinggi besar itu menghampi mau tidak mau ia merinding juga. Akan tetapi ia tetap tenang. Kalau saja ia membuka ikatan dan jala ini, pikirnya.

Akan tetapi raksasa itu mengangkatnya, masih dalam buntalan jala dan memangkunya. Meraba-raba lehernya yang putih mulus, meraba-raba pipinya.

“Cuh....!!” Bi-kiam Nio-cu yang tidak dapat menahan kemarahannya meludahi muka pria itu. Raksasa muka hitam itu tidak marah bahkan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, engkau kuda betina yang liar! Bagus! Aku senang dengan yang liar!”

Kini tangannya merogoh di antara celah-celah jala dan mengambil pedang dari pinggang Bi-klam Nio-cu! Dia me­mandang pedang itu, mengangguk-angguk. “Pedang yang baik, tidak pantas seorang wanita secantik engkau bermain-main dengan senjata tajam seperti ini!” Dia melontarkan pedang itu dan “ceppp!!” pedang menancap di atas meja. Gagangnya bergoyang-goyang ketika pedang itu menancap sampai setengahnya. Diam-diam Bi-kiam Nio-cu memperhatikan dan mengertilah ia bahwa laki-laki kasar ini memiliki kepandaian, setidaknya memiliki tenaga yang kuat. Maka ia menjadi semakin waspada. Biarlah pedangnya diambil, ia tidak takut. Masih ada tangannya, kakinya, bahkan rambutnya untuk membela diri.

“Engkau cantik, engkau liar, engkau menarik!” Raksasa itu mulai menimangnya dan aneh cara menimangnya. Dia melempar-lemparkan tubuh Bi-kiam Nio­cu yang masih terikat itu ke atas, diterimanya dan dilontarkannya kembali. Dia mempermainkan tubuh wanita itu seperti sebuah bola saja. Demikian ringan dia melempar-lemparkan tubuh itu. Bi-kiam Nio-cu bergidik ngeri. Laki-laki ini berbahaya, pikirnya, dan celakalah aku kalau sampai tidak dapat lolos dari tangannya.

Pada saat itu terdengar teriakan-te­riakan di luar gua. Ada orang-orang berkelahi di luar gua itu. Kepala gerombolan itu lalu melempar tubuh Nio-cu ke atas pembaringan pula dan dia bergegas keluar, membawa tongkatnya yang besar.

Setelah ditinggal seorang diri, Nio­cu kembali berusaha untuk membebaskan dirinya dan sekali ini ia berhasil. Ternyata ketika raksasa tadi melambung-lambungkannya ke atas, tali pengikat tubuhnya mengendur sehingga ia mampu membebaskan kedua lengannya. Ia mencoba untuk membikin putus tali jala itu, akan tetapi usahanya gagal. Maka ia lalu berlompatan sambil masih diselubungi jala, mendekati jala di mana pedangnya diletakkan oleh raksasa tadi. Dan dengan pedang di tangannya, ia mampu membebaskan diri dan membikin putus tali-tali jala. Sebentar saja ia sudah bebas! Dengan kemarahan meluap-luap, ia lalu menerjang keluar dan melihat betapa di luar, Keng Han sedang bertanding melawan kepala gerombolan itu dan dikeroyok banyak anak buahnya. Melihat ini, hatinya merasa girang bukan main. Keng Han berusaha menolongnya dan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri melawan raksasa yang tangguh itu!

“Keng Han, serahkan anjing besar itu kepadaku!” bentaknya dengan suara melengking dan ia sudah menerjang ke depan memutar pedangnya menyerang raksasa yang memegang tongkat itu. Keng Han girang melihat Bi-kiam Nio-cu sela­mat dan dia meloncat mundur sambil berseru, “Nio-cu, mari kita lari saja!”

“Tidak, aku harus membunuh anjing ini dan semua pengikutnya!” Bi-kiam Nio­cu membantah dan menyerang terus. Serangannya amatlah hebatnya sehingga si tinggi besar itu terdesak mundur. Kepala gerombolan itu terkejut bukan main melihat gadis tawanannya bebas, maka dia berteriak, “Pergunakan jala! Tangkap merekal!”

“Awas jala mereka amat lihai, Keng Han!” seru Bi-kiam Nio-cu sambil memutar pedangnya lebih cepat lagi, mendesak si kepala gerombolan dengan amat hebatnya sehingga raksasa itu terpaksa harus memutar tongkatnya melindungi diri. Sementara itu, beberapa orang anak buahnyaa sudah mencoba membantu ketua mereka dengan menggunakan jala. Akan tetapi sekali ini, Bi-kiam Nio-cu sudah siap dengan pedangnya. Begitu jala menyambar, ia melompat dan menggerakkan pedangnya ke belakang dan terdengar jerit mengerikan dan si pemegang jala roboh mandi darah. Dalam waktu sebentar saja, tiga orang pemegang jala sudah tewas di tangan Bi-kiam Nio-cu!

Sementara itu, Keng Han juga dikeroyok banyak orang. Dia bergerak dengan cepat, merobohkan para pengeroyoknya hanya, dengan dorongan kedua tangannya, dan ketika dirinya tertutup jala, dengan mengerahkan tenaga jala itu pecah dan talinya putus-putus! Gegerlah anak buah gerombolan itu dan mereka seperti puluhan ekor semut mengeroyok dua ekor jangkerik.

Gerakan Bi-kiam Nio-cu amatlah berbahaya. Sebetulnya tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada kepandaian si raksasa muka hitam. Tadi ia tertangkap karena tidak menyangka dan tidak bersiap sehingga dapat tertangkap jala musuh. Sekarang, dengan pedang di tangan mana mungkin ia tertangkap jala? Bahkan para pemegang jala itu semua tewas di tangannya dan kini wanita itu mendesak lawannya dengan hebat. Si tinggi besar muka hitam menjadi jerih. Melihat anak buahnya banyak yang tewas dan menghadapi permainan pedang yaog demikian tangguh, apalagi melihat betapa pemuda itu pun tidak dapat ditangkap anak buahnya, nyalinya sudah terbang melayang dan dia menyerang hebat untuk mencari kesempatan melarikan diri.

“Mampuslah!” Bentaknya dan tongkatnya meluncur dengan cepat ke arah dada Bi-kiam Nio-cu. Ketika gadis ini mengelak ke kiri, tongkat itu menghantam dari kanan ke kiri dengan kecepatan kilat. Karena serangan itu berbahaya sekali untuk ditangkis mengingat tenaga rakasa itu besar sekali, Bi-kiam Nio­cu melompat ke belakang dengan sigapnya. Kesempatan inilah yang dinantikan kepala gerombolan itu. Begitu lawannya melompat ke belakang, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri tunggang-langgang!

“Jahanam hendak lari ke mana kau?” Bi-kiam Nio-cu mengejar dan melontarkan pedangnya. inilah satu di antara kepandaiannya yang hebat. Ia dapat melontarkan pedang itu dengan cepat dan pedangnya meluncur bagaikan anak panah saja menuju sasarannya, yaitu punggung lebar kepala gerombolan itu.

“Singgggg.... cappp!” Pedang itu tepat mengenai punggung dan menembus ke dada. Kepala gerombolan itu terbelalak, mengeluh panjang lalu roboh menelungkup, tewas seketika. Bi-kiam Nio-cu sudah berada di dekatnya dan mencabut pedang itu, lalu membersihkannya pada pakaian si raksasa muka hitam. Kemudian ia pun mulai mengamuk! Anak buah gerombolan yang sedang mengeroyok Keng Han itu diamuknya dan pedangnya merobohkan beberapa orang lagi. Sisa anak buah gerombolan cepat melarikan diri melihat ketua mereka telah tewas. Bi-kiam Nio­cu hendak mengejar akan tetapi ditahan oleh Keng Han.

“Musuh yang sudah lari tidak perlu dikejar lagi, Nio-cu!” katanya.

Bi-kiam Nio-cu menyimpan pedangnya dan dengan puas ia memandang kepada belasan orang yang sudah menggeletak tanpa nyawa itu. “Hemmm, sayang masih ada yang mampu meloloskan diri. Seharusnya mereka itu dibasmi habis!”

“Sudahlah, Nio-cu. Kalau mereka semua tewas, tentu kita juga yang repot, harus mengubur mereka. Biarlah yang masih hidup nanti mengubur mayat kawan-kawannya. Sesungguhnya, apa yang telah terjadl Nio-cu?”

“Mereka bertindak curang dan berhasil menangkap aku dengan jala, lalu mereka membawaku ke sini. Ketika tadi engkau menyerang mereka di luar gua, kepala perampok itu meninggalkan aku dan aku sempat meloloskan diri lalu mengamuk. Dan engkau bagaimana engkau bisa menyusul aku ke sini?”

“Aku sudah mendapatkan binatang buruan, seekor kijang yang muda, dan ketika aku kembali ke tempat kita tadi, engkau sudah tidak ada. Aku melihat tapak-tapak kaki yang banyak sekali, lalu aku mengikuti tapak kaki itu ke sini. Ketika mereka melihatku, mereka lalu mengepung dan mengeroyokku sehingga terjadi perkelahian. Mari Nio-cu, kita kembali ke sana. Bukankah perutmu su­dah lapar? Akan tetapi, sebaiknya kalau aku kubur dulu mayat-mayat mereka” “Bodoh! Untuk apa mengubur mereka? Biar teman-teman mereka yang mengurus mayat mereka. Mari kita pergi!” Bi-kiam Nio-cu mendengus marah dan Keng Han mengikutinya. Dia pun percaya bahwa sisa anak buah gerombolan tentu akan kembali ke situ untuk mengubur teman­teman mereka yang tewas. Mereka lalu cepat pergi meninggalkan bukit itu dan memasuki hutan tadi. Keng Han meng­ambil bangkai kijang dan dia simpan di atas sebatang pohon besar dan mulai mengambil dagingnya untuk dipanggang.


***


Bi-kiam Nio-cu memandang dengan sinar mata termenung kepada Keng Han yang sedang membakar daging kijang. Ia sudah menaruh bumbu pada daging itu.

Kalau melakukan perjalanan, wanita ini selalu membawa bekal bumbu, seperti garam, merica dan lain-lain untuk penyedap makanan.

Ia merasa heran sekali. Mengapa hatinya begini tertarik kepada Keng Han dan ia tidak menghendaki pemuda itu jauh darinya? Selama ini, sampai usianya dua puluh dua tahun, ia selalu merasa tidak suka kepada laki-laki. Sejak ia belajar ilmu silat dari gurunya, seorang pendeta wanita yang hidup mengasingkan diri, gurunya selalu menekankan betapa jahatnya kaum pria. Karena ini, sejak kecil sudah tumbuh semacam perasaan tidak suka kepada pria. Apalagi setelah ia mulai remaja ia melihat betapa mata laki-laki seperti mata elang saja menatapnya, seperti mata elang melihat anak ayam, ingin menerkam. Semakin tidak suka hatinya terhadap pria, makin dewasa ia makin muak. Entah berapa banyaknya pria yang sudah dibunuhnya, hanya karena berani memandangnya terlalu lama, menegurnya secara kurang ajar atau hendak menggodanya. Akan tetapi kini ia merasa heran sekali. Mengapa ia begini tertarik kepada Keng Han yang bahkan lebih muda darinya? Apalagi kalau ia membayangkan ketika pemuda itu mendekapnya untuk menghalanginya melakukan pembunuhan. Seolah masih terasa dekapan yang kuat dan hangat itu! Dan jantungnya berdebar aneh.

Daging kijang panggang itu sudah matang dan mereka lalu makan daging yang, lunak dan sedap itu. Bi-kiam Nio­cu mengeluarkan seguci arak dan mereka makan minum dengan lahapnya karena memang perut mereka terasa lapar. Akan tetapi diam-diam harus diakui oleh Nio­cu bahwa belum pernah ia makan daging panggang selezat ini!

Setelah selesai makan, Bi-kiam Nio­cu berkata, “Selama perjalanan kita ke Tibet, engkau harus selalu mentaati omonganku, Keng Han. Aku jauh lebih berpengalaman darimu, kalau engkau tidak mendengar omonganku, bisa-bisa engkau akan celaka.”

“Tidak, Nio-cu. Aku tidak akan nelakukan perjalanan bersamamu. Aku sekarang juga akan memisahkan diri dari­mu dan aku akan melakukan perjalanan ke Tibet seorang diri saja “`

“Ehhh, kenapa begitu?”

“Karena engkau kejam sekali. Kembali engkau membunuhi banyak orang dan aku merasa tidak senang sekali melihat engkau begitu kejam.”

“Engkau tidak boleh meninggalkan aku. Kalau engkau meninggalkan aku, dalam beberapa hari engkau akan mati keracunan. Ingat, tubuhmu sudah kupukul dengan Tok-ciang, dan hanya aku yang dapat memberi obat pemunahnya.”

“Biarlah! Lebih baik mati keracunan daripada menjadi saksi kekejamanmu.”

“Demiklan besarkah perasaan bencimu kepadaku, Keng Han?” Dalam ucapannya itu terkandung kesedihan yang mengherankan hati Nio-cu sendiri.

“Aku tidak membencimu, Nio-cu. Kalau tadinya aku suka melakukan perjalanan denganmu, tadinya aku meng­harap akan dapat menasihatimu agar tidak terlalu kejam. Akan tetapi engkau tetap kejam sekali, maka aku tidak tahan lagi untuk melakukan perjalanan denganmu. Nah sekarang aku harus meninggalkanmu, Niocu. Selamat tinggal!” Keng Han mengemasi buntalan pakaian­nya sendiri, memanggulnya lalu melangkah pergi dari situ. Melihat kenekatan pemuda itu, Nio-cu cepat bangkit berdiri dan berseru.

“Nanti dulu, Keng Han! Engkau akan mati dalam beberapa hari lagi. Biarlah kusembuhkan dulu lukamu karena pukulan­ku yang beracun itu!”

Nio-cu menghampiri Keng Han dan menyuruhnya membuka bajunya. Ketika melihat ke arah dada kiri pemuda itu, ia terbelalak dan ternganga keheranan. Kulit dada itu putih bersih, sama sekali tidak ada tanda telapak tangan merah seperti yang seharusnya ada.

“Aih....aneh sekali....!” Keng Han pura-pura' bertanya.

“Tanda tapak tangan merah itu telah lenyap! ini tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin? Kenyataannya telah lenyap dan berarti aku telah sembuh. Tidak perlu lagi engkau mengobatiku.” kata Keng Han sambil menutupkan kembali bajunya.

“Hemmm, kau mempermainkan aku! Sambutlah serangan ini!” Wanita, itu lalu menyerang dengan hebatnya!

“Ehhh, apa yang kaulakukan ini?” Keng Han melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan itu. Akan tetapi wanita itu mengejarnya dan terus menyerang kalang-kabut dengan gencar sekali.

Keng Han terpaksa mainkan ilmu silat Hong-In Bun-hoat untuk menghindarkan diri. Ternyata ilmu silatnya ini hebat sekali. Dia seolah tidak bersilat, hanya menuliskan huruf-huruf di udara dan semua serangan Bi-kiam Nio-cu dapat dielakkan atau ditangkis!

Tentu saja wanita itu menjadi penasaran sekali. Ia mengeluarkan ilmu totokannya yang ampuh, yaitu Tok-ciang. Ilmu ini bukan hanya menotok, akan tetapi juga menampar dan kedua tangan itu berubah merah! Dan biarpun Keng Han mampu mengelak sampai puluhan jurus, suatu ketika dia tidak dapat menghindar­kan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya membuat tubuhnya lemas dan tidak berdaya! Bi-kiam Nio-cu menambahkan beberapa totokan pada kedua pundak dan dadanya sehingga tubuh Keng Han benar-benar tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa kalau dia mengerahkan tenaga dari pusar­nya, totokan itu pasti akan dapat di­punahkannya dalam waktu tidak terlalu lama. Dia hanya memandang dengan mata melotot kepada wanita itu.

“Wanita kejam! Apakah engkau juga hendak membunuhku? Lakukanlah, aku tidak takut mati!”.

“Keng Han, mengapa engkau begini keras kepala? Apakah tidak ada manusia di dunia ini yang kautaati?”

“Tentu saja ada. Yang kutaati hanyalah ayah bundaku dan juga guruku. Kalau orang lain, hanya yang benar yang akan kutaati, yang tidak benar tidak!”

Wanita itu tersenyum. “Keng Han, aku melihat ilmu silatmu hebat sekali. Akan tetapi buktinya engkau masih kalah olehku. Maukah engkau menjadi muridku?”

“Hemmm, untuk apa menjadi muridmu? Untuk belajar membunuh? Ilmu silatku sudah cukup untuk menjaga diri.”

“Akan tetapi engkau tidak berdaya menghadapi ilmu totokanku. Bagaimana kalau engkau mempelajari Ilmu menotok dariku? Ilmuku menotok itu disebut Tok-ciang Tiam-hiat-hoat. Kalau engkau memiliki ilmu ini tentu tidak mudah engkau dikalahkan orang.”

Keng Han tertarik sekali. Harus diakui bahwa ilmu totokan dari wanita itu lihai bukan main. Dua kali sudah dia roboh karena totokan itu. Dan kalau totokan lain dapat ditolak dengan sin­kangnya, ternyata totokan ini tidak. Baru setelah lama mengerahkan tenaga sin­kang, dia mampu membebaskan diri. Padahal totokan lain dapat ditolak oleh kekebalan tubuhnya karena sinkang dalam tubuhnya.

“Kalau engkau suka mengajarkan ilmu totokan itu kepadaku, tentu saja aku suka mempelajarinya.” Akhirnya setelah berpikir-pikir sejenak, dia menjawab.

“Bagus, aku suka mengajarkannya untukmu. Engkau tadi telah berusaha menolongku, sudah sepatutnya kalau aku membalas budimu. Akan tetapi untuk mengajarkan ilmu itu, engkau harus mengangkatku sebagai guru. Ini peraturan perguruanku, dan aku tidak mau melanggar peraturan. Nah, kubebaskan totokan pada tubuhmu agar engkau dapat melakukan upacara pengangkatan guru.”

Secepat kilat tangan wanita itu ber­gerak menotok beberapa kali ke tubuh Keng Han dan segera pemuda itu merasa betapa tubuhnya dapat bergerak kembali seperti biasa. Karena dia memang ingin sekali mempelajari ilmu itu, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi-kiam Nio-cu dan memberi hormat sambil menyebut “subo” (ibu guru).

Bi-kiam Nio-cu tertawa terkekeh, girang bukan main. “Bangkitlah Keng Han. Mulai saat ini, engkau adalah muridku dan aku adalah gurumu, bukan?”

“Benar, Subo. Dan apakah Subo akan mengajarkan Tok-cian Tiam-hiat-hoat itu kepada teecu (murid)?”

“Jangan tergesa-gesa, Keng Han. Mulai sekarang engkau harus mentaati segala perintahku, mengerti?”

“Akan tetapi....”

“Akan tetapi apa? Ingat, aku adalah gurumu dan bukankah engkau sudah mengatakan bahwa engkau hanya taat kepada orang tua dan gurumu?”

“Ahhhk....? Jadi Subo hanya menggunakan akal agar aku selalu taat....?”

“Bukan hanya itu, aku memang ingin engkau menjadi muridku, akan tetapi murid yang taat. Nah, sekarang ceritakan kepadaku tentang suhumu yang katanya terbunuh oleh utusan Dalai Lama. Ingat, aku akan membantumu bertemu Dalai Lama dan hanya aku yang dapat menolongmu.”

Keng Han lalu menceritakan dengan singkat tentang tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang telah membunuh Go­sang Lama, Oh tentang pesan terakhir Gosang Lama agar dia membunuh Dalai Lama yang mengutus tiga grang Lama Jubah Merah itu, dan juga membunuh ketua Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar gurunya itu.

Setelah Keng Han selesai bercerita, Bi-kiam Nio-cu menarik napas panjang dan berkata, “Gurumu itu agaknya seorang yang benar-benar kejam. Aku membunuhi orang jahat kaukatakan kejam, akan tetapi gurumu itu seperti hendak membunuh engkau sendiri! Engkau mimpi untuk dapat membunuh Dalai Lama dan ketua Bu-tong-pai, sukarnya seperti naik ke langit! Aku sendiri, terus terang saja, tidak berani mencoba untuk melakukan dua hal itu, akan tetapi aku dapat membantumu bertemu dengan Dalai Lama dan juga dengan ketua Bu-tong-pai.”

Keng Han merasa girang sekali. “Bantuan itu saja sudah cukup bagi teecu, Subo. Kalau sudah bertemu dengan mereka, aku akan menuntut mereka dan minta keterangan mengapa mereka memusuhi suhu Gosang Lama. Selanjutnya biarlah aku sendiri yang akan menghadapi mereka.”

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat. Kini Keng Han merasa lebih senang karena ternyata gurunya yang baru ini mengenal jalan ke Tibet sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi seperti ketika dia melakukan perjalanan seorang diri. Dia percaya bahwa gurunya ini, biarpun masih muda, namun berilmu tinggi dan sudah memiliki banyak pengalaman. Ingin dia menanyakan riwayat subonya yang tentu menarik. Apakah subonya sudah memiliki suami? Ataukah masih memiliki keluarga lain, dan kalau ada di mana tempat tinggalnya? Namun, dia khawatir kalau dibentak karena subo­nya kadang bersikap galak kepadanya, maka sampai lama dia tidak pernah mengajukan pertanyaan ini.


***

Malam itu gelap sekali, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu terpaksa melewatkan malam di sebuah gua. Menurut Nio-cu, dusun yang terdekat dari situ masih lima puluh li lebih sehingga mereka akan ke­malaman di tengah jalan kalau melanjut­kan perjalanan. Lebih baik melewatkan malam di gua itu, agak terlindung dari angin dan hawa dingin. Keng Han me­ngumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun di depan gua. Dia pun mencari rumput kering untuk alas lantai gua sehingga gurunya akan dapat mengaso.

Akan tetapi Nio-cu duduk saja dekat api unggun dan termenung mengamati api, yang bernyala. Keng Han duduk di de­pannya, terhalang api unggun.

“Keng Han, ke sinilah. Duduk di dekatku sini, aku ingin bercakap-cakap denganmu.”

Keng Han pindah duduk di sebelah gurunya, diam saja. Setelah agak lama mereka berdiam diri, Nio-cu menghela napas panjang dan berkata, “Keng Han, apakah engkau berbahagia?”

Pemuda, itu heran mendengar pertanyaan ini. “Bahagia? Apakah artinya bahagia itu, Subo? Kita sudah makan tadi, perutku kenyang, badan yang letih kini dapat beristirahat, dekat api unggun yang hangat sehingga tubuh ini terasa enak. Hatiku juga merasa senang karena kita tidak mendapat gangguan. Ya, boleh jadi aku berbahagia saat ini, Subo.”

“Aih, betapa rinduku akan kebahagiaan. Aku tidak pernah merasa berbahagia. Senang, memang. Akan tetapi itu lain. lagi. Senang hanya sebentar saja lewat dan berlalu. Aku ingin bahagia! Ah, betapa aku ingin bahagia, akan tetapi bagaimana caranya? Di manakah kebahagiaan itu? Aku ingin mencarinya, Keng Han. Dapatkah engkau membantuku?” .

“Bagaimana caranya membantumu, Subo? Aku sendiri merasa berbahagia, lalu bagaimana aku dapat menularkan kebahagiaan ini kepadamu? Kebahagiaan adalah suatu perasaan, suatu keadaan hati, dan hati orang tidaklah sama. Aku sendiri, saat ini merasa senang, tidak ada apa pun yang mengganggu, maka aku tidak butuh bahagia itu! Barangkali Subo merasa tidak berbahagia, bagaimana bisa mencari kebahagiaan? Hilangkanlah ketidakbahagiaan itu, Subo!”

“Aku merasa kesepian, merasa tidak berbahagia, bagaimana dapat, menghilangkan ketidak-bahagiaan ini?”

“Ah, aku juga tidak tahu, Subo.” Keduanya melamun sambil memandang ke dalam api yang bernyala di depan mereka.

Setiap orang mendambakan kebahagiaan, bahkan ada yang mencari kebahagiaan itu dengan cara apa pun, ada yang menyiksa diri, ada yang bertapa dan sebagainya lagi. Ada pula yang mengejarnya dengan belajar ilmu ini dan itu, seolah kebahagiaan itu adalah sesuatu yang bisa dicari dan didapatkan. Setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak bahagia ini adalah suatu perasaan yang timbul apabila terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya. Dalam keadaan yang tidak berbahagia ini, bagaimana mungkin orang mencari dan men­dapatkan kebahagiaan? Orang yang se­dang berjalan-jalan di pegunungan, melihat matahari tenggelam amat indahnya pikirannya tidak melayang-layang tidak karuan, dia tentu akan mengalami ke­bahagiaan itu dan kalau sudah begitu, tentu dia tidak mencari kebahagiaan! Dari pada mencari-cari kebahagiaan, bukankah lebih tepat kalau mempelajari mengapa dia tidak bahagia, apa yang menyebabkan dia tidak berbahagia. Kalau yang menjadi penyebab ketidak-bahagiaan itu sudah tidak ada lagi, apakah dia membutuhkan kebahagiaan? Tidak lagi, karena dia sudah berbahagia! Jadi, kebahagiaan itu sesungguhnya tidak pernah meninggalkan kita, seperti Tuhan tidak pernah sedetik pun meninggalkan kita dengan kasih sayangNya. Kitalah yang meninggalkan kebahagiaan, kitalah yang meninggalkan Tuhan! Kita meninggalkan kebahagiaan melalui akal pikiran kita yang bergelimang nafsu sehingga kita tidak pernah merasa puas dengan keada­an, kita penuh harap, penuh keceaa, penuh iri, penuh amarah, penuh kebencian. Semua itu membuat kebahagiaan tidak nampak lagi dan membuat kita merasa tidak berbahagia!

Seperti halnya kesehatan. Kita sudah sehat setiap saat, akan tetapi kita tidak dapat merasakan itu, tidak dapat menikmati itu. Kalau kita sakit saja barulah kita dapat membayangkan betapa akan nikmatnya kalau kita sembuh dan sehat!

Kebahagiaan sudah ada setiap saat. Kalau ada gangguan sehingga kebahagiaan tidak terasa, itu adalah kesalahan kita sendiri. Karena itu, setiap saat kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Kalau menghadapi malapetaka, di samping berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan diri, juga kita harus menyerah dan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang berkuasa mengatur segalanya. Juga mengatur. kehidupan kita. Makin kita mendekatkan diri kepada Tuhan, makin kuat iman kita kepada Tuhan, makin dekat pula kebahagiaan dengan kita, makin dapat terasakan.

“Keng Han, di manakah orang tua­mu?”

Ditanya tentang orang tuanya, Keng, Han terkejut. Dia tidak ingin diketahui orang bahwa dia putera pangeran mahkota dari kerajaan Ceng.

“Aku hanya tinggal mempunyai seorang ibu, Subo. Ayah telah meninggalkan ibu sebelum teecu lahir.”

“Ah, keparat!” Dan tiba-tiba tangan wanita itu sudah bergerak cepat dan menotoknya pula sehingga Keng Han menjadi lumpuh seketika.

“Subo mengapa.... mengapa Subo berbuat begini?”

“Jahanam, sama saja. Semua laki­laki memang keparat. Benar kata-kata subo. Karena itu aku benci kepada laki-laki. Ayahmu meninggalkan ibumu ketika ibumu sedang hamil. Hemmm, dan engkau ini. sebagai puteranya tentu sama saja, sama jahatnya!”

“Aku.... aku selama hidupku belum pernah melihat ayah kandungku, Subo. Aku juga sudah bersumpah mencari ayah, dan kalau dia tidak mempunyai alasan kuat meninggalkan dan menyia-nyiakan ibuku, aku akan menghajarnya!”

“Bagus! Kalau begitu engkau tidak sama dengan ayahmu!” Kini Nio-cu kembali menotok Keng Han sehingga terbebas dari totokan. Keng Han mengelus­elus pundaknya yang tadi ditotok dan meringis karena pundaknya terasa agak nyeri.

“Kenapa Subo begitu kejam, dengan mudah saja menotokku tanpa sebab?”

“Aku paling benci kalau mendengar ulah laki-laki yang mempermainkan wanita. Karena ayahmu berlaku keji terhadap ibumu, maka aku menjadi marah dan karena engkau puteranya, aku menjadi marah kepadamu. Akan tetapi sekarang tidak lagi karena engkau menyatakan tidak setuju dengan tingkah laku ayahmu itu.”

“Subo sudah mengetahui banyak tentang diriku, akan tetapi sebaliknya aku tidak tahu apa-apa tentang Subo. Bagaimana kalau kelak orang bertanya tentang guruku, apakah harus kujawab bahwa aku tidak mengenal guruku sendiri?”

Bi-kiam Nio-cu menghela napas pan­jang. “Riwayatku tidak menarik. Aku yatim piatu. Yang terdekat denganku hanya seorang guru dan seorang adik seperguruan. Guruku pembenci pria dan entah sudah berapa banyak pria yang telah dibunuhnya. Ia mengajarkan kami untuk membenci pria pula, terutama pria mata keranjang dan pria yang suka mem­permainkan wanita. Engkau masih beruntung bertemu dengan aku. Kalau eng­kau bertemu dengan guruku atau sumoi­ku, tentu kepalamu sudah dipenggal!”

Keng Han bergidik. Nona ini saja sudah begitu kejam terhadap laki-laki, apalagi sumoinya dan subonya itu. Hemm, mengerikan!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Keng Han sudah terbangun dari tidurnya. Ketika bangun, dia melihat Bi­kiam Nio-cu sudah berdiri di depan gua dan melihat jauh ke depan, ke arah ba­wah karena gua itu terletak di lereng bukit. Tiba-tiba ia membalik dan dengan kakinya ia memadamkan api unggun, bahkan mencerai-beraikan kayu-kayu bakar sehingga tidak ada yang membara lagi dan tidak mengeluarkan asap. Kemudian ia berkata kepada Keng Han, sikapnya seperti orang ketakutan.

“Keng Han, cepat kemasi barang-barangmu. Kita pergi dari sini!”

“Kenapa Subo?”

“Tidak usah bertanya, cepat lakukan perintahku!” kata wanita itu bengis.

Keng Han cepat mengemasi buntalannya dan tak lama kemudian keduanya sudah menuruni bukit itu. Ketika tiba di kaki bukit, tiba-tiba wanita itu manarik tangan Keng Han, diajak bersembunyi di balik semak belukar.

Keng Han menurut saja dan ikut mengintai dari balik semak, dan dari jauh dia melihat seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun yang berjalan terpincang-pincang menggunakan sebatang tongkat. Sungguh aneh sekali. Gurunya yang demikian lihai nampak ketakutan bertemu dengan seorang tua yang tim­pang kakinya! Akan tetapi dia tidak be­rani bertanya.

“Jangan bergerak dan jangan bersuara, bisikan halus itu dekat sekali dengan telinganya .Dan dia mencium bau harum rambut gurunya.

Keng Han semakin heran dan mengintai terus. Setelah tiba tak jauh dari semak belukar itu, si timpang itu berhenti melangkah dan kepalanya dimiringkan seolah-olah dia menggunakan ketajaman pendengarannya untuk mendengarkan sesuatu. Keng Han tidak beran bergerak, bahkan menahan napas.

“Kalian tidak lekas keluar menghadap aku, masih tunggu apalagi?”

Keng Han kaget setengah mati. Kiranya si timpang itu dapat mengetahui kehadiran mereka di situ! Akan tetapi ketika dia hendak bergerak sebuah tangan menahan pundaknya dan dia tetap tidak bergerak. Namun dia siap siaga kalau-kalau diserang oleh kakek timpang itu.

Tiba-tiba dari balik semak-semak di seberang bermunculan tiga orang yang segera keluar dan menjatuhkan diri berlutut di depan si kakek timpang.

“Pangcu, mohon maaf sebesar-besarnya!” kata mereka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak perlu cerewet. Cepat katakan apakah kalian sudah berhasil merampas kuda itu?”

“Ampunkan kami, Pangcu. Penunggang kuda itu ternyata lihai sekali dan kami bahkan menerima hajaran darinya. Kami tidak berhasil merampas kuda itu, bahkan nyaris tewas kalau kami tidak melarikan diri.

Kakek timpang itu mengerutkan alisnya dan matanya mencorong marah. “Kalian orang-orang yang tidak berguna! Cabut pedang kalian!”

Tiga orang itu tidak berani membantah dan mencabut pedang masing­masing dari punggung mereka.

“Cepat buntungi telinga kiri kalian sebagai hukuman!”

Kini tiga orang itu diam saja, agaknya merasa ngeri harus membuntungi daun telinganya sendiri. Melihat ini, Keng Han yang masih mengintai merasa penasaran sekali. Alangkah kejamnya pangcu itu! Dia. membuat sedikit gerakan, akan tetapi tangan Niocu cepat menekannya agar dia tidak bergerak. Kenapa gurunya begitu takut terhadap kakek timpang yang kejam itu?

“Kau tidak cepat melaksanakan perintahku? Baik, akulah yang akan menghukum kalian!” Gerakannya demikian cepat dan begitu dia menggerakkan tangan, tahu-tahu dia telah merampas se­batang pedang dari tangan anggauta yang terdekat dan nampak sinar pedang berkelebat tiga kali.

“Sing-sing-sing....! Crat-crat-crattt...!” Nampak darah muncrat dan tiga orang itu sudah kehilangan telinga kirinya! Kakek timpang itu membuang pedang rampasannya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. “Pergunakan bubuk obat ini agar darahnya berhenti mengalir dan cepat sembuh. Hati-hati, kalau lain kali kalian gagal melaksanakan perintahku, bukan hanya telingamu yang kubuntungi, melainkan leher kalian! Hayo cepat pergi!”

Tiga orang itu menghaturkan terima kasih dan setelah menerima obat mereka lalu pergi dengan cepat, menahan rasa nyeri pada telinga kiri yang daunnya telah buntung itu.

Kini Keng Han tidak lagi dapat menahan kesabaran hatinya. Tanpa mempedulikan tangan gurunya yang mencoba untuk menahannya, dia sudah meloncat keluar menghadapi kakek itu sambil membusungkan dadanya.

“Orang tua, engkau sungguh kejam bukan main! Terhadap anak buah sendiri yang gagal melaksanakan tugas, engkau bersikap begitu, kejam membuntungi daun telinga kiri mereka. Apalagi terhadap orang lain!”

Kakek timpang ini adalah Toat-beng Kiam-sian (Dewa Pedang Pencabut Nyawa) Lo Cit, seorang di antara para datuk persilatan yang terkenal kehebatan ilmu silatnya. Dan sekarang, ada seorang pemuda berani menegurnya seperti seorang tua menegur seorang anak nakal saja! Demikian heran kakek itu sampai dia tidak mampu menbeluarkan kata­kata, hanya memandang dengan bengong kepada Keng Han. Akhirnya setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak sedang mimpi, dia membentak dengan bengis, “Bocah setan, apa engkau sudah bosan hidup?”

Bi-kiam Nio-cu terkejut setengah mati melihat ulah Keng Han. Ia merasa jerih melihat kakek timpang ini. Ketika tadi ia melihat seorang pria timpang berjalan dengan tongkatnya, ia segera mengenal siapa dia dan ia merasa jerih. Lebih baik tidak bertemu dengan datuk ini, pikirnya. Bagaimana ia tidak akan merasa jerih? Gurunya sendiri, Ang Hwa Nio-nio, pernah bertanding melawan da­tuk timpang ini dan berakhir seri, tidak ada yang menang!

Kini melihat Keng Han melompat keluar dan menegur kakek itu, hatinya tentu saja khawatir bukan main. Di luar kesadarannya sendiri Bi-kiam Nio-cu merasa amat sayang kepada Keng Han dan khawatir kalau pemuda itu celaka, maka ia melupakan rasa takutnya sendiri dan meloncat pula keluar dari balik se­mak-semak. Ia cepat memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata dengan nada menghormat.

“Harap Lo-pangcu sudi memberi maaf kepada muridku yang kurang sopan ini. Karena dia tidak mengenal Locian-pwe, maka telah bersikap kurang hormat. Dengan memandang mukaku, dan muka guruku, harap Lo-pangcu sudi memaafkan.”

Kakek itu menoleh kepada Nio-cu dan memandang tajam penuh perhatian. “Hemmm, ini muridmu? Dan siapa gurumu?”

“Guru saya adalah Ang Hwa Nio-nio!”

Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali memandang kepada Keng Han. “Hemmm, jadi anak setan ini adalah cucu murid Ang Hwa Nio-nio? Nenek gurunya saja tidak mampu mengalahkan aku, sekarang cucu muridnya berani menegur aku. Dia harus dapat menahan sepuluh jurus pukulanku, baru aku dapat memaafkan dia!”

Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok terkejut bukan main, ia tahu bahwa kakek itu lihai bukan main. Bukan saja terkenal sebagai ahli pedang sehingga dia disebut. Dewa Pedang dan pedang itu disembunyikan di dalam tongkatnya itu, akan tetapi juga dia ahli mempergunakan ilmu pukulan yang disebut Pukulan Halilintar yang ampuhnya menggila! Mana mungkin Keng Han dapat bertahan sampai sepuluh ju­rus? Lima jurus saja sudah cukup untuk membunuh Keng Han. Ia sendiri belum tentu dapat bertahan sampai sepuluh jurus.

“Saya hanya mohonkan ampun bagi nyawa murid saya. Harap Lo-pangcu tidak membunuhnya karena kalau Pangcu melakukan itu, tentu akan membuat kami semua, juga guru saya, merasa tidak enak sekali.”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak perlu membunuhnya, cukup membuat kaki tangannya lumpuh untuk selamanya agar dia tidak berani lagi bersikap kurang ajar!”

Sementara itu, Keng Han sudah berkata, “Subo, jangan minta-minta seperti itu. Kakek ini memang kejam bukan main.”

“Keng Han, cepat minta ampun kepada Lo-pangcu!” kata Nio-cu.

“Tidak, dia yang harus minta ampun kepada Tuhan atas dosanya! Aku akan menerima tantangannya menghadapinya sampai sepuluh jurus. Harap Subo tidak khawatir. Aku mampu menjaga diri!”

“Bagus, bocah sombong. Nah, terimalah jurus pertama ini!” Kakek timpang itu berseru dan tangan kirinya sudah menyambar dengan hebat sekali ke arah kepala Keng Han. Memang bukan main cepatnya serangan itu, cepat dan kuat sekali sehingga mendatangkan angin pukulan yang dahsyat. Akan tetapi Keng Han sudah bergerak cepat dan berhasil mengelak dari jurus pertama itu. Dia mengelak dengan gerakan dari Hong In Bun-hoat. Melihat serangan pertamanya gagal, kakek timpang itu menjadi penasaran sekali dan kini dia memukul lagi dengan tenaga sepenuhnya. Terdengar angin berdesir dan debu mengepul ketika kakek itu memukul dengan tangan kirinya lagi ke arah dada.

Keng Han mengubah gerakan silatnya dan kini dia memakai ilmu silat Toat-beng Bian-kun, ilmu silat yang dipelajari­nya dari Pulau Hantu. Ilmu silat ini bersifat lemas, namun di balik kelemasan itu terkandung tenaga dahsyat sekali sehingga ketika dia menangkis, pukulan kakek itu seperti masuk ke dalam air saja. Kakek itu terkejut bukan main dan dia segera mengamuk, mengirim pukulan beruntun dengan hebatnya.

Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu hanya menonton dengan hati tidak karuan rasanya. Ia yakin bahwa muridnya yang tersayang itu akan terpukul mati atau setidaknya akan lumpuh seperti ancaman kakek itu dan ia tidak berani turun tangan membantu.

Akan tetapi segera ia memandang dengan terheran-heran. Muridnya itu bukan saja mampu menghindarkan diri, bahkan berani menangkis pukulan datuk itu.

Karena merasa penasaran bukan main setelah lewat sembilan jurus dia belum mampu mengalahkan bocah itu, Toat-beng Kiam-sian lalu merendahkan tubuhnya dan menyalurkan tenaga sinkang ke dalam kedua tangannya, kemudian memukul ke depan seperti mendorong. Ini­lah Pukulan Halilintar yang telah menga­lahkan banyak sekali ahli silat di dunia kang-ouw. Nio-cu mengandang dengan muka pucat sekali karena sekali ini muridnya pasti celaka.

Melihat pukulan yang luar biasa kuatnya itu, yang mendatangkan angin seolah timbul badai, Keng Han juga merendahkan tubuhnya dan dia menyambut pukulan itu dengan kedua tangannya pula. Diam-diam dia mengerahkan dua hawa sakti yang berlawanan dalam tubuhnya dan dua macam tenaga sakti meluncur melalui kedua tangannya, yang kanan mengandung hawa panas dan yang kiri mengandung hawa dingin!

“Wuuuuuttttt.... desssss....!!!” Dua tenaga yang amat hebat bertubrukan di udara dan akibatnya, tubuh kakek itu terpental ke belakang sampai dia terhuyung beberapa langkah, sedangkan tubuh Keng Han hanya bergoyang-goyang saja!

Nio-cu terbelalak, hampir tidak percaya kepada pandang matanya sendiri. Juga kakek timpang itu terkejut setengah mati. Tak disangkanya bahwa pemuda itu bukan saja mampu menahan Pukulan Ha­lilintarnya, bahkan mengatasinya dan membuatnya terhuyung! Dia lalu mengangkat tongkatnya yang menyembunyikan pedang dan hendak menyerang lagi menggunakan pedangnya.

Akan tetapi Nio-cu cepat meloncat ke depan dan berkata, “Lo-pangcu telah menyerang sebanyak sepuluh jurus dan telah mengalah, memberi pelajaran kepada murid saya. Saya sebagai gurunya menghaturkan terima kasih atas kebaikan ini!” Wajah Toat-beng Kiam-sian berubah merah. Akan tetapi dia juga meragu dan agak jerih. Kalau muridnya sudah demikian hebatnya, apalagi gurunya! Agaknya murid Ang Hwa Nio-nio ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Juga dia teringat akan janjinya bahwa dia akan mengampuni pemuda itu kalau mampu menahan sepuluh jurus serangannya, maka sambil mendengus marah dia mem­balikkan tubuhnya dan sekali melompat dia sudah hilang di balik semak belukar. Gerakannya demikian cepat sehingga mengagumkan hati Keng Han.

Setelah bertemu dengan Nio-cu, baru dia tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang yang amat lihai, akan tetapi juga amat kejam.

Nio-cu menghampiri Keng Han dan meraba-raba pundaknya. “Engkau tidak apa-apa?”

“Tidak, Subo. Kenapa Subo melerai? Biarlah dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, teecu tidak takut!” kata Keng Han penasaran.

“Sudahlah, Keng Han. Engkau dapat keluar dengan selamat saja sudah merupakan keajaiban. Keng Han, sebetulnya engkau memiliki ilmu apakah? Bagaimana engkau dapat menahan ilmu Pukulan Halilintar tadi?”

Keng Han tersenyum. “Aku adalah murid Subo, mengapa Subo bertanya? Semua ilmuku tentu kudapatkan dari guruku, bukan?” Dia mengejek. Nio-cu terbelalak dan wajahnya berubah merah. Memang selama ini ia belum mengajarkan apa-apa, juga ilmu totok itu belum ia ajarkan.

“Marilah aku mengajarkannya kepadamu. Akan tetapi engkau harus sungguh-sungguh melawanku, seperti kau melawan kakek tadi!”

“Baik, Subo.” kata Keng Han dengan girang. Dia memang ingin mempelajari ilmu totokan yang disebut Tok-ciang itu, walaupun bukan itu benar yang membuat dia betah melakukan perjalanan bersama gurunya ini. Entah bagaimana, dia pun suka sekali kepada Nio-cu dan tidak ingin berpisah darinya, ingin agar di temani ke Tibet. Bukan hanya pribadi Nio-cu yang menyenangkan hatinya, akan tetapi juga pengalamannya akan amat berguna baginya dalam perjalanan me­nemui Dalai Lama itu.

Keng Han sudah melepaskan bungkusan pakaian dari pundaknya, dan siap menghadapi serangan gurunya. Nio-cu juga melepaskan buntalan pakaiannya dan pedangnya, kemudian ia memasang kuda­kuda.

“Lihat seranganku!” katanya tiba-tiba, dan ia pun menyerang dengan cepat. Serangannya cepat dan kuat dan ia telah mempergunakan Tok-ciang, yaitu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Keng Han tidak berpura-pura lagi. Dia pun menyambutnya dengan Toat-beng Bian-kun. Dan seka!i ini benar-benar Nio-cu dibuat terheran-heran. Ilmu silat muridnya itu demikian aneh dan asing gerakannya, akan tetapi semua pukulannya meleset dan tidak pernah mengenai sasaran.

Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan menyerang dengan hebatnya, menggunakan kedua telapak tangannya. Keng Han menyambut dengan kedua tangannya pula.

“Wuuuttttt....desss....!” Dan tubuh Nio-cu terjengkang seperti ditolak oleh tenaga yang amat dahsyat dan ia merasa betapa tangan kanannya bertemu hawa dingin sekali sedangkan tangan kirinya bertemu hawa panas luar biasa.

“Ahhh.... Subo, engkau tidak ter­luka....?” Keng Han cepat menghapiri gurunya dan membungkuk, untuk mem­bantunya berdiri. Akan tetapi secepat kilat tangan Nio-cu sudah menotok pundaknya dan seketika Keng Han tidak mampu menggerakkan kedua tanganya. “Subo, kenapa....?” tanyanya heran.

Nio-cu bangkit berdiri wajahnya agak pucat, akan tetapi pandang matanya penuh keheranan. Dalam pertandingan ilmu silat tadi, jelas bahwa ia kalah kuat dan bahwa muridnya ini memiliki ilmu silat yang hebat bukan main dan me­miliki tenaga sinkang yang berlawanan, tangan kirinya dingin dan tangan kanannya panas. Akan tetapi menghadapi ilmu totokannya, muridnya ini agaknya tidak berdaya.

“Keng Han, apakah gurumu Gosang Lama itu seorang anggauta keluarga Pulau Es?” tanyanya.

“Bukan, Subo. Akan tetapi tolong bebaskan dulu totokan ini.”

Nio-cu membebaskan totokannya dan Keng Han dapat bergerak kembali. “Diakah yang mengajarkanmu menggunakan tenaga tadi? Dan ilmu silatmu itu, apakah dia pula yang mengajarkannya?”

Terpaksa Keng Han berterus terang. “Sesungguhnya bukan dia yang mengajarkannya, Subo, melainkan aku belajar sendiri dari dalam sebuah gua di Pulau Hantu.”

“Pulau Hantu....?”

Keng Han lalu meceritakan tentang munculnya sebuah pulau baru di permukaan laut itu yang oleh para nelayan disebut Pulau Hantu dan diceritakannya pula penemuannya di gua, yaitu tulisan di dinding batu berikut gambar-gambarnya tentang ilmu silat yang dipelajarinya. Mendengar ini Nio-cu kagum bukan main. “Tidak salah lagi! Pulau itu tentulah Pulau Es yang dikabarkan sudah teng­gelam di lautan itu dan engkau telah mewarisi peninggalan Keluarga Pulau Es!”

“Akan tetapi pulau itu tidak ada es­nya, sama sekali bukan Pulau Es, melainkan Pulau Hantu, Nio-cu.” Keng Han kadang-kadang menyebut subo (ibu guru) kepada Bi-kiam Nio-cu, akan tetapi kadang-kadang dia terlupa dan menyebut Nio-cu begitu saja. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak keberatan disebut Nio­cu.

“Sudahlah, mungkin karena engkau tidak langsung dilatih orang dan hanya belajar sendiri, maka gerakanmu masih kaku sehingga engkau mudah terserang ilmu totokku. Sebetulnya engkau telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi daripada ilmu silatku, Keng Han. Karena itu, tidak perlu lagi engkau mempelajari ilmu menotok itu, hanya akan kuajarkan bagaimana cara untuk menghindarkan diri dari totokanku.”

Demikianlah, mulai saat itu, setiap kali berhenti mengaso, Nio-cu mengajarkan cara menghindari ilmu totokannya sehingga Keng Han kini selalu dapat mengelak dan menangkis, tidak sampai tertotok. Ilmu totok itu memang memiliki gerakan yang amat aneh maka kalau tidak mempelajarinya, tentu dia akan mudah tertotok dan dibuat tidak berdaya. Setelah mempelajari rahasianya, Keng Han bahkan dapat menggunakan sinkangnya untuk menolak totokan-totokan itu, sehingga tubuhnya kini menjadi kebal dari totokan itu seperti dari totokan lain.


***

Pada suatu hari perjalanan kedua orang ini sudah sampai di daerah Propinsi Secuan sebelah utara, yaitu di Pegunungan Beng-san. Selama berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan Keng Han, Bi-kiam Nio-cu nampak semakin akrab. Juga Keng Han merasa betapa gurunya itu ternyata baik sekali kepadanya dan kini tidak lagi membentak atau bersikap keras kepadanya. Bahkan kalau dia berburu binatang dan memasaknya, wanita itu membantu dan bahkan membuatkan masakan-masakan yang lezat untuknya. Maka pemuda ini juga merasa senang sekali dan hubungannya dengan gurunya menjadi semakin akrab. Juga dia sudah mempelajari rahasia ilmu totok gurunya yang aneh sekali itu sehingga kini dia dapat menghindarkan diri dari serangan totokan seperti itu.

Ketika mereka sedang menuruni lereng sebuah bukit dari Pegunungan Beng-san, mereka melihat dari jauh seorang wanita berjalan cepat sekali mendaki lereng itu. Mendadak Bi-kiam Nio-cu mendorong punggung Keng Han dan berkata, “Engkau jalan duluan, cepat!”

Keng Han tidak tahu persoalannya akan tetapi dia tidak membantah dan berjalan cepat meninggalkan gurunya. Tak lama kemudian dia berpapasan dengan seorang wanita yang aneh. Wanita itu memakai sehelai saputangan sutera putih menutupi mukanya dari hidung ke bawah. Akan tetapi bagian atas dari muka itu, dari hidung ke atas yang nam­pak saja sudah membuat Keng Han ter­pesona! Hidung mancung lurus, sepasang mata yang bersinar-sinar seperti mata burung Hong dan memiliki sinar lembut, dihiasi sepasang alis mata yang kecil melengkung hitam, anak rambut yang melingkar di dahi dan pelipis, rambut yang hitam panjang dan disanggul dan diberi pita putih, semua itu sudah cukup membuat Keng Han mengakui dalam hati bahwa dia belum pernah melihat yang seindah itu! Tubuhnya tertutup pakaian yang serba putih dari sutera halus, dan hanya sepatunya saja yang hitam. Dari muka dan tangan yang nampak dapat diketahui bahwa gadis itu memiliki kulit yang putih mulus kemerahan. Ketika berpapasan, Keng Han memandang dan wanita itu pun mengerling kepadanya. Kerlingan yang hanya sebentar itu tidak akan pernah dilupakan Keng Han selamanya, karena kerlingan itu demikian manisnya. Akan tetapi bukan wataknya untuk menoleh dan memandangi orang secara kurang ajar, maka dia melangkah terus, hanya kini langkahnya lambat sekali karena dia ingin tahu apa yang terjadi kalau wanita itu berpapasan dengan Bi-kiam Nio-cu yang berjalan di bela­kangnya.

Apa yang diharapkan Keng Han ter­capai. Dia mendengar percakapan me­reka.

“Suci....!”

“Sumoi....! Engkau dari manakah?”

“Aku baru pulang mencari rumput merah atas perintah subo. Dan engkau sendiri hendak ke mana, Suci?”

“Aku, mempunyai urusan di barat. Sampaikan saja hormatku kepada. subo dan setelah selesai urusanku di barat, tentu aku akan pulang.”

“Baiklah, akan tetapi berhati-hatilah, Suci. Aku mendengar di daerah Tibet terjadi pergolakan. Ada bentrokan antara para pendeta Lama.”

“Aku akan berhati-hati, Sumoi.”

Keng Han yang mendengarkan merasa hatinya semakin tertarik. Jelas bahwa yang disebut sumoi oleh gurunya itu adalah nona berpakaian serba putih yang mukanya ditutupi saputangan putih itu. Suaranya! Belum pernah dia mendengar ada wanita bersuara semerdu dan selembut itu! Hanya ibunya yang dapat bersuara seperti itu, pikirnya. Jadi nona itu adalah sumoi dari gurunya. Mengapa pakaiannya serba putih dan mengapa pula wajahnya bagian bawah ditutupi sutera putih? Wajah itu pasti cantik jelita luar biasa. Melihat hidung ke atas saja dia sudah dapat membayangkan bahwa wanita itu pasti cantik seperti bidadari! Bulu matanya lentik dan yang takkan pernah dapat dilupakan adalah sinar matanya ketika mengerling kepadanya. Dia belum pernah melihat burung Hong, hanya melihat gambarnya saja. Akan tetapi seperti itulah mata burung Hong. Cemerlang indah penuh pesona dengan sinar yang tajam lembut.

Tak lama kemudian subonya sudah menyusulnya. Dia melihat wajah subonya diliputi ketegangan. “Subo, mengapa Subo menyuruh saya berjalan lebih dulu? Ada urusan apakah?”

“Aku baru saja bertemu dengan sumoiku!”

“Kenapa saya disuruh pergi dulu, tidak diperkenalkan kepadanya? Bukankah ia bibi guruku?”

“Tidak! Celakalah kalau ia mengetahui bahwa engkau adalah muridku. Kalau subo sampai mengetahuinya, tentu aku disuruh membunuhmu sekarang juga!”

“Eh, mengapa begitu, Nio-cu?”

“Murid-murid subo harus bersumpah dulu bahwa selama hidupnya tidak akan mencinta dan dicinta seorang pria. Kalau hal itu terjadi, ia harus membunuh pria yang mencintanya dan dicintanya itu.”

“Ahhh....!” Keng Han berseru kaget sekali, bukan hanya kaget mendengar sumpah yang aneh itu, melainkan kaget sekali terutama karena tanpa langsung gurunya itu telah menyatakan cinta kepadanya!

“Kalau kita jalan bersama dan diketahui sumoi, ia tentu akan bertanya padaku siapa engkau dan apa hubungan di antara kita, dan itu berarti bahaya maut bagiku dan bagimu. Kalau subo mengetahui, bersembunyi di manapun kita akan dapat ditemukan dan dibunuh.”

“Akan tetapi bibi guru tadi, mengapa ia menutupi mukanya dengan saputangan putih?”

“Itulah usahanya agar tidak dapat nampak wajahnya oleh pria dan agar tidak ada pria yang jatuh cinta kepada­nya. Sudahlah, kita jangan lama-lama di sini. Ini masih merupakan wilayah kekuasaan subo.”

Keduanya melanjutkan perjalanan secepatnya menuju ke barat. Akan tetapi sejak saat itu, bayangan wanita pakaian putih yang tertutup sebelah, bawah mukanya itu seringkali muncul dalam pikiran Keng Han. Dia tidak dapat melupakan kerling itu!

Berkat kepandaian mereka yang tinggi, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu tiba di wilayah Tibet tanpa ada halangan apa pun. Dalam perjalanan itu, seringkali mereka melihat serombongan kafilah yang juga menuju ke Tibet. Rombongan yang membawa kuda dan onta itu membawa pula pasukan pengawal yang kuat sehingga mengherankan hati Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu. Ketika mereka ber­tanya, mereka mendengar keterangan bahwa perjalanan ke barat sekarang tidak aman karena adanya perang saudara antara para pendeta Lama Jubah Kuning yang memberontak terhadap golongan Lama Jubah Merah. Seringkali terjadi pertempuran dan mereka juga mendapat gangguan dari para pendeta Jubah Ku­ning yang tidak segan merampok mereka untuk merampas senjata dan harta benda karena mereka membutuhkan biaya untuk pemberontakan mereka.

Mendengar ini, Bi-kiam Nio-cu me­nerangkan. “Lama Jubah Merah adalah para pengikut Dalai Lama. Dan mendengar ceritamu dulu bahwa mendiang gurumu adalah seorang pendeta Lama Jubah Kuning, sangat boleh jadi dia masih sekawan dengan para pemberontak itu. Sekarang tidak aneh kalau sampai gurumu dibunuh oleh Pendeta Lama Jubah Merah.”

“Aku tidak peduli akan perang di antara mereka. Aku hanya ingin bertanya kepada Dalai Lama mengapa dia menyuruh bunuh guruku!” jawab Keng Han bersikeras.

Bi-kiam Nio-cu menarik napas panjang. “Wah, kita mencari penyakit.”

“Kenapa kita, Subo? Akulah yang akan menemui Dalai Lama.”

“Dan aku akan mengantarmu sampai dapat berjumpa dengan Dalai Lama, bukan? Jadi, kita berdua yang mencari penyakit.”

“Aku tidak takut!”

“Aku pun tidak takut. Mari kita melanjutkan perjalanan secepatnya.”

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi mereka melihat dua orang pendeta Lama Baju Merah sedang bertanding melawan delapan orang pendeta Lama Jubah Kuning. Melihat pertandingan yang tidak seimbang ini, Keng Han segera mengajak gurunya untuk membantu dua orang Lama Jubah Merah itu.

“Eh, kenapa membantu mereka? Bu­kankah gurumu juga Lama Jubah Kuning dan mungkin mereka itu teman-teman gurumu?”

“Subo, aku tidak peduli. Mereka ber­laku curang mengandalkan banyak orang mengeroyok yang sedikit. Pertama, aku selalu menentang yang curang dan kedua, dengan membantu Lama Jubah Merah itu siapa tahu aku lebih mudah bertemu dengan Dalai Lama!”

“Ah, engkau ternyata cerdik juga. Keng Han. Marilah kita bantu dua orang Lama Jubah Merah itu!”

Delapan orang pengeroyok itu semua mempergunakan tongkat pendeta yang panjang sedangkan dua Lama Jubah Merah menggunakan senjata kebutan. Melihat gerakan mereka, andaikata mereka itu dua lawan dua saja, tentu Lama Jubah Kuning akan kalah. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan delapan orang, dua orang Lama Jubah Merah itu menjadi kewalahan juga dan beberapa kali mereka telah menerima gebukan dan kini hanya main mundur.

Bersambung ke buku 3