Si Tangan Sakti -5 | Kho Ping Hoo



Si Tangan Sakti -5 | Kho Ping Hoo
“Siauw-moi, tidak ada nasib buruk itu! Segala sesuatu yang terjadi menimpa diri kita sudah sewajarnya, dan ada sebab akibatnya. Bukan nasib buruk, karena nasib buruk itu hanya pandangan seseorang yang kecil hati dan tidak tabah menghadapi kenyataan hidup. Kenyataan hidup memang tidak selalu putih, ada kalanya hitam, tidak selalu manis, ada kalanya pahit. Akan tetapi, manis atau pun pahit, kalau kita dapat menerimanya sebagai suatu kenyataan hidup yang tidak terlepas dari hukum alam, maka kita dapat menghadapinya dengan tabah. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, asalkan kita tabah, tidak meninggalkan daya ikhtiar dan didasari penyerahan kepada Yang Maha Kuasa, Kim-moi. Aku tadi sudah melihat perubahan pada sikapmu. Ketika Li-moi bercerita dengan terus terang, memang wataknya terbuka dan jujur, bahwa ia dan Yo Han saling mencinta, aku melihat engkau terbelalak kaget dan mukamu pucat sekali. Kim-moi, aku yakin bahwa kedukaanmu tentu ada hubungannya dengan cerita Li-moi itu, atau setidaknya, ada hubungannya dengan Yo Han. Benarkah dugaanku?”

Bi Kim menundukkan mukanya, sampai lama tidak menjawab, hanya menarik napas panjang berulang kali. Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengelak lagi, dan kalau sampai Sian Li mengetahui hal ini, sungguh amat tidak enak. Pemuda ini dapat dipercaya, dan dengan bantuan pemuda ini ia akan lebih mudah menyembunyikan rahasianya dari Sian li.

“Gak-toako,” katanya sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam, “Kalau aku berterus terang kepadamu, maukah engkau berjanji untuk merahasiakan ini dari adik Sian Li?”

“Aku berjanji demi kehormatanku, Kim-moi.”

“Ketahuilah, Toako, bahwa guru dari Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah adik nenekku. Pada suatu hari, Yo-toako datang berkunjung ke kota raja dan dia berhasil menolong ayahku yang terancam malapetaka karena beberapa buah pusaka istana lenyap padahal ayahku menjabat sebagai pengatur gedung pusaka itu. Karena bersyukur, di depan meja sembahyang paman kakekku itu, nenekku lalu menjodohkan aku dengan Yo-toako.”

“Ah, begitukah....,” Gak Ciang Hun menggumam lirih.

“Ya begitulah, Toako. Biarpun perjodohan itu belum diresmikan, akan tetapi sejak saat itu, aku sudah menganggap diriku sebagai calon isteri Yo Han. Dan dapat kaubayangkan betapa kaget rasa hatiku ketika tadi aku mendengar bahwa adik Tan Sian Li saling mencinta dengan Yo Han.”

Ciang Hun mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya. “Apakah Yo Han sudah menyetujui ikatan jodoh itu?”

Gadis itu menggeleng. “Belum, Toako. Bahkan dia minta agar urusan perjodohan itu ditangguhkan sampai dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Usul perjodohan itu datang dari nenek, dan dia belum menyatakan setuju atau tidak setuju.”

“Akan tetapi.... maafkan pertanyaanku ini, apakah kalian sudah saling mencinta?”

Gadis itu menarik napas panjang dan wajahnya nampak memelas sekali walaupun tidak kelihatan jelas di bawah sinar ribuan bintang yang lembut, namun tarikan muka itu membuat Ciang Hun maklum bahwa pertanyaannya mendatangkan kepedihan hati.

“Terus terang saja, Toako, aku amat kagum kepadanya dan selama ini aku menganggap bahwa aku cinta padanya. Akan tetapi.... ah, cinta sepihak tidak mungkin, bukan? Dia sudah saling mencinta dengan adik Sian Li.... aku akan memberitahu kepada nenekku dan orang tuaku bahwa aku tidak mungkin berjodoh dengannya.”Hening sejenak, kemudian Bi Kim tercengang melihat pemuda itu tertawa, akan tetapi suara tawanya sumbang. “Haha-ha-heh-heh, alangkah lucunya! Betapa lucunya....!!”

Tentu saja Bi Kim mengerutkan alisnya dan wajahnya berubah merah, pandang matanya bersinar tajam karena marah. Ia mengira bahwa pemuda itu mengejeknya! Padahal, ia telah mempercayainya dan menceritakan rahasia hatinya yang sebetulnya tidak harus diceritakan kepada siapa pun.

“Toako, kau.... kau mentertawakan aku....!!” bentaknya marah.

Ciang Hun menyadari sikapnya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman itu, maka dia menghentikan tawanya dan cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada meminta maaf. “Maafkan aku, Siauw-moi. Aku sama sekali bukan mentertawakan engkau melainkan mentertawakan diriku sendiri karena sungguh amat lucu keadaan kita berdua!” Kembali dia tertawa akan tetapi menahan sehingga tawanya tidak bersuara.

Bi Kim masih mengerutkan alisnya. “Hemmm, apanya yang lucu dengan ceritaku tadi?”

“Dengarlah, Kim-moi. Sudah lama aku pun jatuh cinta kepada adik Tan Sian Li! Dan kautahu, sebelum aku sempat menyatakan cintaku kepadanya, ia mengaku kepadaku seperti yang diceritakan kepadamu tadi, yaitu bahwa ia mencinta Yo Han dan hanya mau berjodoh dengan Yo Han. Kau tentu mengerti betapa hancurnya perasaan hatiku, namun aku dapat menerima kenyataan pahit itu. Sama sekali tidak aku duga bahwa engkau mengalami hal yang sama benar dengan aku, dan kita berdua sama-sama mendengar keputusan yang menghancurkan itu dari mulut Li-moi. Hanya bedanya di antara kita, engkau mencinta yang laki-laki, aku mencinta yang perempuan. Ha-ha-ha, bukankah lucu sekali?”

Ciang Hun tertawa-tawa lagi dan sekali ini, Bi Kim juga tertawa. Mereka berdua tertawa-tawa, akan tetapi tawa mereka sumbang dan makin lama, suara tawa mereka semakin sumbang dan akhirnya Bi Kim menangis, dan Ciang Hun juga mengeluh dan menahan tangisnya!

Dalam keadaan seperti itu, keduanya dapat saling merasakan betapa sedih dan perihnya hati yang hampa karena cinta sepihak. Perasaan yang mendatangkan iba diri karena diri serasa tiada harganya, tidak ada yang menyayang! Dan timbullah perasaan iba yang mendalam satu lama lain.

“Kim-moi,kita harus dapat menerima kenyataan.... sudahlah, Kim-moi, jangan bersedih lagi....” karena merasa iba sekali, Ciang Hun mendekat dan menyentuh lengan gadis itu.

Bagaikan tanggul penahan air bah yang bobol, bendungan itu pecah dan setengah menjerit Bi Kim menangis dan merangkul Ciang Hun, menangis di dada pemuda itu sampai mengguguk. Semua perasaan pedih perih dan duka yang sejak tadi ditahan-tahannya dalam hati, kini terlepas semua melalui tangisnya yang meledak-ledak.

Ciang Hun mengelus rambut itu dan dia pun berdongak memandang langit penuh bintang-bintang, kedua matanya sendiri basah. Dia maklum bahwa gadis itu sedang ditekan perasaan yang amat berat, maka jalan terbaik adalah membiarkannya menangis melarutkan semua tekanan batin yang dapat menimbulkan penyakit luar dan dalam.

Setelah tangisnya itu agak mereda, seperti badai yang mereda, Ciang Hun berkata, “Eh, Kim-moi, lihatlah betapa bodohnya kita. Apakah dengan gagalnya cinta kasih kita, lalu dunia ini akan kiamat? Lihat di langit itu, jutaan bintang mentertawakan kita yang lemah. Kita bukan orang lemah, kita harus mampu menanggulangi semua tantangan hidup. Kegagalan hanya akan memperkuat batin kita, mematangkan kita. Sama sekali keliru kalau kita putus asa dan membiarkan diri tenggelam dalam kecewa dan duka.”

Bi Kim sadar dan ia pun seperti baru menyadari bahwa ia telah menangis di atas dada Ciang Hun. Ia melepaskan rangkulannya dan tersipu. Ia menghapus sisa air matanya, memandang kepada pemuda itu, mencoba untuk tersenyum.

“Engkau benar, Toako. Maafkan atas kelemahanku, dan maafkan kelakuanku tadi yang tidak pantas.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Siauw-moi, tidak ada yang tidak pantas. Aku mengerti perasaanmu dan aku dapat merasakan pula kepahitan yang melanda hatimu. Kita sama-sama mengalaminya, akan tetapi sama-sama pula dapat mengatasinya, bukan?”

“Terima kasih, Gak-toako.”Ciang Hun lalu menasehati agar gadis itu kembali ke kamarnya karena akan kurang baik dugaan orang kalau ada yang melihat mereka berada di taman berdua saja pada waktu malam seperti itu. Bi Kim menyetujui dan ia pun kembali ke kamarnya, meninggalkan Ciang Hun yang termenung seorang diri di taman itu. Mulai saat itu, tumbuhlah perasaan aneh di dalam hati kedua orang itu. Mereka saling merasa kasihan, dan perasaan ini menumbuhkan suatu perasaan baru dari cinta kasih, ingin saling menghibur, saling membahagiakan!

Pohon cinta memang dapat tumbuh dengan perantaraan belas kasihan, atau kekaguman, senasib, kesamaan pandangan, kesamaan selera dan banyak perasaan, lain lagi. Dan sekali orang jatuh cinta, maka segala yang ada pada diri orang yang dicintai nampak indah, segala yang dilakukan orang yang dicinta selalu menyenangkan hati. Tidak terlalu berlebihan kalau orang mengatakan bahwa cemberut seorang yang dicinta menjadi pemanis, sebaliknya senyum seorang yang dibenci makin menyebalkan!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Li sudah bangun dan mandi. Ketika ia keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan pakaian bersih, seperti biasa pakaiannya serba merah sehingga ia nampak segar dan jelita bagaikan setangkai bunga mawar merah di waktu pagi, masih segar membasah bermandikan embun pagi, ia melihat Gan Bi Kim dan Gak Ciang Hun juga sudah mandi dan mereka duduk di ruangan dalam di luar kamar mereka.

Setelah mereka duduk bertiga, Sian Li berkata. “Pagi ini aku akan melanjutkan perjalananku, dan sebelum aku bertemu dengan Han-ko, aku tidak akan pulang.”

“Memang, sebaiknya kalau kita bertiga pergi dari sini,” kata Ciang Hun. “Tidak enak kalau mengganggu keluarga Lurah So terlalu lama.”

“Adik Sian Li, aku akan mencoba untuk membantumu, ikut mencarikan anak yang hilang itu. Siapa tahu aku akan bertemu dengan gadis yang mempunyai tanda-tanda di pundak kiri dan kaki kanan itu. Siapa namanya?”

“Namanya Sim Hui Eng,” jawab Sian Li.

“Aku pun akan membantumu mencari Yo Han, kalau jumpa akan kuberitahu bahwa engkau mencarinya. Paling lambat pada hari Sin-cia (Tahun Baru Imlek), berhasil atau tidak, aku akan memberi kabar kepadamu, di rumah orang tuamu di Ta-tung.” kata Ciang Hun.

Sian Li tersenyum memandang kepada dua orang sahabatnya itu. “Terima kasih, kalian baik sekali. Karena kita bertiga mencari orang, maka akan lebih besar harapannya akan berhasil kalau kita berpencar. Kita mencari dengan berpencar dan berjanji saling jumpa lagi pada hari Sin-cia. Bagaimana pendapat kalian?”

“Setuju!” kata Ciang Hun. “Pada hari Sin-cia, aku akan berkunjung ke rumahmu, Li-moi.”

“Dan bagaimana dengan kau, Kim? Di mana kita akan bertemu hari Sin-cia nanti?”

“Aku setuju dengan pendapat Gak-toako. Aku pun akan berkunjung ke rumahmu pada hari Sin-cia, Li-moi.”

“Bagus! Aku akan menanti kunjungan kalian dengan hati gembira. Ayah dan ibu juga tentu akan bergembira sekali bila menerima kunjungan kalian. Nah, sekarang kita berangkat!”

Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamit kepada Lurah So sekeluarga, kemudian meninggalkan rumah dan dusun itu. Setelah tiba di perempat jalan, mereka berpisah. Sian Li menuju ke utara, Ciang Hun ke selatan dan Bi Kim ke timur.


***

Gadis itu duduk di bawah pohon, agak jauh dari jalan raya dan tidak nampak dari jalan karena tempat itu agak tertutup oleh hutan kecil yang berada di luar tembok kota raja. Gadis yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun itu anggun dan cantik jelita. Pakaiannya indah dan rambutnya digelung tinggi dan dihias tiara kecil. Melihat pakaiannya pantasnya ia seorang puteri bangsawan yang kaya raya. Namun sungguh aneh, ia berada seorang diri di tempat sunyi itu, bahkan lebih aneh lagi, ia duduk termenung dengan air mata mengalir menuruni kedua pipinya.

Kalau orang mengetahui sikap gadis itu, dia tentu dan semakin terheran-heran. Gadis itu adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang ketika itu disebut Sang Puteri atau Nona Dewi. Oleh semua anggauta Pao-beng-pai dan bahkan di dunia kang-ouw, ia dikenal sebagai puteri ketua Pao-beng-pai Siangkoan Kok, dan nama gadis itu adalah Siangkoan Eng atau biasa dipanggil ayah ibunya Eng Eng saja.

Akan tetapi, telah terjadi peristiwa hebat yang mendatangkan perubahan besar dan yang membuat Eng Eng kini duduk termenung di bawah pohon itu sambil mencucurkan air mata! Padahal, dahulu sebagai puteri ketua Pao-beng-pai ia dikenal sebagai seorang wanita perkasa yang dingin dan keras, belum pernah menangis! Kalau orang yang pernah mengenalnya melihat ia kini duduk menangis, tentu orang itu akan merasa terkejut dan heran bukan main.

Bagaimana ia tidak akan menangis? Setabah-tabahnya, sekeras-keras hatinya, saat itu Eng Eng dilanda perasaan yang hancur lebur. Ia berduka, kecewa, penuh penasaran dan dendam. Karena membebaskan Yo Han dan Cia Sun, ia hampir dibunuh ayahnya. Kemudian ayahnya menyakiti hati ibunya dengan memaksa Tio Sui Lan, murid ayahnya dan sahabat baiknya, menjadi isteri pengganti ibunya. Sui Lan diperkosa ayahnya tanpa ia dan ibunya dapat berbuat sesuatu! Dan setelah ia terluka parah oleh pukulan ayahnya, terjadi hal yang lebih hebat lagi, yaitu ibunya membuka rahasia bahwa ayahnya itu, Siangkoan Kok, sebetulnya hanyalah ayah tirinya! Dan ketika ia bertanya kepada ibunya, siapa ayah kandungnya, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa ibunya itu amat membenci ayah kandungnya. Semua peristiwa itu membuat ia merasa sedih bukan main. Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri, ternyata orang lain dan amat kejam terhadap ibunya dan terhadap dirinya sendiri. Kemudian, ibunya malah amat membenci ayah kandungnya dan tidak mau memberitahukan siapa nama ayah kandungnya, masih hidup ataukah sudah mati. Semua ini menghancurkan hatinya dan ia pun malam itu juga melarikan diri dari rumah, meninggalkan Pao-beng-pai dan bersembunyi di sebuah gua yang banyak terdapat di Ban-kwi-kok. Di Lembah Selaksa Setan ini terdapat gua-gua besar yang ditakuti orang, yang menurut tahyul dijadikan tempat tinggal para setan dan iblis. Karena itu, jangankan rakyat biasa, bahkan para anggauta Bankwi-kok sendiri jarang ada yang berani datang, apalagi bermalam di gua-gua itu.

Dalam kedukaannya, Eng Eng tidak mengenal takut. Ia bersembunyi di sebuah gua dan setiap hari dan malam ia hanya duduk bersamadhi, menghimpun tenaga sakti untuk mengobati luka yang diderita akibat pukulan ayah tirinya! Ayah tirinya amat jahat, hampir membunuhnya, memperkosa Sui Lan, dan menurut ibunya, ayah kandungnya juga amat jahat sehingga dibenci ibunya. Dunia seperti hancur rasanya bagi Eng Eng.

Pada keesokan hatinya, selagi bersamadhi, ia mendengar suara ribut-ribut. Agaknya terjadi pertempuran di Ban-kwi-kok! Kalau saja ia tidak terluka, dan kalau saja ia belum bentrok dengan ayah tirinya, tentu ia akan membela Pao-beng-pai dengan taruhan nyawa. Akan tetapi, sekali ini ia diam saja, tidak bergerak dan tetap duduk bersila. Ia masih belum pulih, kalau ia bertempur melawan musuh yang agak tangguh saja, ia akan celaka. Selain itu, ia tidak sudi membantu ayah tirinya lagi. Bahkan hatinya condong untuk menentang dan melawan! Kalau saja ia tidak ingat betapa sejak kecil ia dididik dan digembleng oleh ayah tirinya yang ia tahu sayang kepadanya, tentu sekarang ia sudah menganggap ayah tiri itu musuhnya! Karena perasaan itu, ia pun diam saja dan tidak keluar dari dalam gua.Akan tetapi setelah pertempuran itu berhenti, baru ia teringat akan ibunya! Betapapun ia marah kepada ibunya yang mengatakan membenci ayah kandungnya, tetap saja kini ia mengkhawatirkan ibunya. Ayah kandungnya sakti, juga ibunya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga mereka akan mampu membela diri dengan baik. Akan tetapi, ia tidak tahu siapa yang melakukan penyerbuan ke Pao-beng-pai dan ia harus melihat bagaimana keadaan ibunya, agar hatinya lega.

Karena keadaan amat sunyi, ia pun keluar dari dalam gua dan pergi ke sarang Pao-beng-pai. Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat para anggauta Pao-beng-pai banyak yang tewas, sisanya entah lari ke mana. Yang lebih mengejutkan hatinya lagi adalah ketika ia menemukan mayat ibunya dan mayat Sui Lan! Ia menubruk dan menangisi mayat ibunya. Ketika dua orang anggauta Pao-beng-pai yang melihat munculnya nona mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, Eng Eng bertanya apa yang telah terjadi.

Dua orang anggauta Pao-beng-pai lalu bercerita bahwa pasukan pemerintah datang menyerbu Pao-beng-pai. Tanpa bertanya lagi Eng Eng dengan sendirinya menganggap bahwa Sui Lan dan ibunya tewas di tangan para penyerbu!

“Dan di mana Pangcu (Ketua)?” Ia tidak mau menyebut ayah.

“Kami tidak tahu, Nona. Melihat bahwa tidak ada jenazah Pangcu di sini, tentu beliau telah berhasil menyelamatkan diri.”

“Bagaimana pasukan pemerintah mampu naik ke tempat ini melalui semua jebakan rahasia?” tanyanya penasaran.

“Kami melihat bayangan Cia Ceng Sun yang pernah menjadi tawanan di sini, Nona. Tentu dia yang menjadi penunjuk jalan.”

Eng Eng terkejut, bangkit berdiri dan dengan muka pucat ia mengepal tinju, hatinya berteriak memaki Cia Sun. Tahulah ia. Tentu pangeran Mancu itu yang telah membawa pasukan datang menyerbu! Pangeran itu tentu dahulu datang sebagai mata-mata. Laki-laki berhati palsu! Kelak aku akan membuat perhitungan denganmu, geramnya dalam hati. Dibantu dua orang anggauta Pao-beng-pai itu, Eng Eng lalu mengubur jenazah ibunya dan Sui Lan, di lereng sebuah bukit yang bersih.

Demikianlah, kini ia berada di luar kota raja, bersembunyi di hutan itu dan menangis. Ia bukan seorang wanita cengeng yang menangisi kematian ibunya berulang kali. Sudah cukup ia menangisi di depan jenazah dan di depan makam sederhana ibunya. Kini ia mencucurkan air mata bukan karena teringat kematian ibunya. Ia menangis karena teringat akan Cia Sun! Ia akan mencari, menangkap dan menyiksa, membunuh Cia Sun! Akan tetapi, sukar membayangkan bagaimana ia akan dapat melakukan itu. Ia amat mencinta pangeran itu! Mengenangkan sikap manis dan mesra pangeran itu, bagaimana mungkin tangan ini akan mampu melukainya, menyakitinya, apalagi membunuhnya? Inilah yang membuat ia bercucuran air mata menangis!

Senja datang dan suasana semakin sepi. Eng Eng mengepal kedua tangannya. “Ceng-eng! Lemah!” Ia memaki diri sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah musuh besar. Dialah yang menyebabkan Pao-beng-pai runtuh dan terbasmi, bahkan dia pula yang menyebabkan ibuku tewas! Aku bukan membalas dendam untuk Pao-beng-pai, bukan pula membalas dendam untuk Siangkoan Kok, melainkan ia harus membalas dendamnya atas kematian Sui Lan dan ibunya, terutama ibunya. Pangeran Cia Sun harus membayar lunas hutangnya!

Setelah menghapus air mata dan mengeraskan hatinya, Eng Eng memasuki pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Karena Ia kelihatan seperti seorang gadis bangsawan atau hartawan, tidak membawa senjata karena senjata istimewanya, yaitu sebatang hud-tim (kebutan) terselip di phiggang, di balik baju, maka para penjaga di pintu gerbang hanya memandang kagum, tidak mengganggunya.

Malam itu gelap. Udara mendung. Gelap dan dingin karena angin malam meniupkan hawa yang lembab. Karena gelap dan dingin, orang-orang lebih suka tinggal di dalam rumah yang lebih hangat dibandingkan hawa di luar. Apalagi di rumah kaum bangsawan dan hartawan, di mana terdapat perapian yang mendatangkan hawa hangat. Kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, tidak ada yang mau meninggalkan rumah. Jalan-jalan raya juga sepi dari lalu lintas.Kesepian itu membantu Eng Eng yang sudah mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya digelung dan diikat ke belakang, tidak disanggul rapi seperti biasa, juga tidak dihias tiara. Pakaiannya yang serba hitam dan ringkas itu membuat gerakannya yang cepat sukar diikuti pandang mata. Senjata kebutan berbulu merah dan bergagang emas terselip di pinggang depan, dengan bulunya digulung rapi, sedangkan pedang beronce merah tergantung di punggung. Sekuntum jarum hitam juga tergantung di pinggang. Eng Eng kini membekali diri dengan senjata lengkap karena ia hendak menangkap Pangeran Cia Sun di rumah gedung keluarga pangeran itu. Sore tadi setelah memasuki kota raja, ia telah melakukan penyelidikan dan tidak sukar untuk mendapat keterangan tentang rumah tinggal Pangeran Cia Sun. Sebuah gedung besar dan megah berdiri di sudut kanan kota raja. Itulah tempat tinggal Pangeran Cia Sun dengan keluarga ayahnya, yaitu Pangeran Cia Yan seorang di antara putera-putera Kaisar Kian Liong (1736 - 1796).

Seperti kita ketahui, biarpun secara resmi Pangeran Cia Yan adalah anak angkat Kaisar Kian Liong, yaitu seorang keponakan yang diangkat menjadi putera, namun sesungguhnya, Pangeran Cia Yan adalah putera kaisar itu sendiri, hasil hubungan gelapnya dengan kakak iparnya. Karena itu, biarpun resminya pangeran akuan, atau anak angkat, namun Kaisar Kian Liong menyayangnya seperti anak sendiri. Pangeran Cia Yan tidak dapat diangkat menjadi putera mahkota, namun dia merupakan seorang di antara para pangeran yang disayang kaisar.

Malam itu, di sekitar gedung milik Pangeran Cia Yan juga sunyi. Karena dia sendiri tidak memegang jabatan penting, juga tidak merasa mempunyai musuh, maka gedung tempat tinggal keluarga Pangeran Cia Yan ini tidaklah dijaga ketat seperti tempat kediaman para pangeran lainnya. Hanya ada enam orang yang berjaga malam dan melakukan perondaan di sekitar gedung besar itu untuk menjaga keamanan.

Tentu saja amat mudah bagi Eng Eng untuk menyusup masuk dengan melompati pagar tembok tanpa diketahui para penjaga. Ia melompat pagar tembok belakang dan masuk ke taman bunga yang terpelihara rapi. Sambil menyelinap di antara pohon dan semak bunga, ia menghampiri bangunan besar dan beberapa menit kemudian, ia sudah dapat meloncat ke atas genteng dan melakukan pengintalan dari atas. Lampu-lampu di luar genteng sudah banyak yang dipadamkan sehingga gerakan Eng Eng tidak dapat terlihat ketika ia berkelebatan di atas genteng. Dengan cara mengintai dari atas, akhirnya ia mendengar percakapan di bawah yang dilakukan dengan suara keras. Jantungnya berdebar tegang ketika ia mendengar suara Pangeran Cia Sun! Suara yang lembut namun kuat.

“Ayah dan Ibu, sekali lagi saya mohon maaf, bukan sekali-kali saya ingin membantah dan tidak menaati perintah Ayah dan Ibu. Bukan sekali-kali saya menolak karena menganggap pilihan Ayah dan Ibu kurang baik untuk saya. Sama sekali tidak! Saya telah mendengar tentang Si Bangau Merah, mendengar bahwa ia seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi, berwatak gagah perkasa dan berbudi baik, juga ia cantik jelita, keturunan keluarga pendekar sakti yang terkenal.”

“Nah, mau apa lagi?” Engkau sendiri bilang, ia keturunan pendekar besar, ia gagah perkasa, berbudi baik dan cantik jelita. Apakah semua itu belum memenuhi syarat bagimu untuk menjadi isterimu?” terdengar suara Pangeran Cia Yan, ayah pemuda itu, membentak.

“Benar sekali kata Ayahmu, anakku. Selain gadis itu amat baik bagimu, juga kami telah mengikat janji dengan orang tuanya, yaitu Pendekar Bangau Putih dan isterinya. Masih kurang apakah Si Bangau Merah itu, anakku?”

Kalau tadinya Eng Eng yang mendengar semua itu sudah merasa gemas dan ingin segera menangkap orang yang menyebabkan kehancuran Pao-beng-pai dan terutama kematian ibunya, kini mendengar apa yang dipercakapkan, dia tertarik sekali dan ingin ia mendengar apa yang akan dikatakan pangeran itu tentang ikatan jodoh. Ia sendiri tentu saja tadinya mencinta pangeran itu dan mengharapkan menjadi isterinya, dan tentu ia akan marah sekali kalau mendengar pangeran itu akan menikah dengan orang lain. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Ia tidak mungkin menjadi isteri Cia Sun, dan tidak semestinya mencintanya, bahkan sepatutnya membencinya karena pria yang tadinya menjadi kekasihnya itu sekarang telah menjadi musuh besarnya. Biarpun ia tidak peduli lagi apakah pangeran itu akan menikah dengan gadis lain ataukah tidak, tetap saja ia tidak dapat membohongi hatinya sendiri. Ia ingin sekali mengetahui apa jawaban pangeran itu dan bagaimana isi hatinya! Maka, ia pun mendengarkan dengan jantung berdebar tegang.

“Sebagai seorang gadis, memang harus saya akui bahwa Si Bangau Merah itu baik dan tidak ada kekurangannya, Ayah dan Ibu. Akan tetapi untuk menjadi isteriku, ia memiliki kekurangan besar sekali artinya, yaitu ia tidak memiliki cinta! Saya tidak mencintanya dan ia pun tidak mencintaku. Dan saya hanya mau menikah dengan gadis yang saya cinta!”

Eng Eng merasa betapa kedua kakinya gemetar dan ia mengerahkan tenaga untuk melawannya karena ia tidak ingin gerakan tubuhnya terdengar orang. Ucapan pangeran itu terasa begitu nyaman di hatinya, seolah-olah hatinya dibelai oleh tangan yang lembut. Dia musuh besarku, aku benci dia, demikian dengan pengerahan tenaga Eng Eng melawan perasaan hatinya sendiri dan mendengarkan terus.

“Omong kosong!” kata sang ayah. “Kalau kalian sudah saling bertemu dan saling bergaul, cinta itu akan datang dengan sendirinya. Ia cantik dan engkau tampan, kalian sama-sama suka ilmu silat, kalau kalian saling bergaul, pasti kalian akan saling jatuh cinta.”

“Itu mungkin saja kalau saya belum jatuh cinta kepada orang lain, Ayah. Akan tetapi saya telah mencinta seorang gadis lain, dan saya hanya mau menikah dengan gadis yang saya cinta itu.”

Kini kedua kaki Eng Eng menggigil dan hampir saja ia tak mampu bertahan lagi. Ia memejamkan mata, menahan napas dan dengan susah payah baru berhasil mengauasai jantungnya yang melonjak-lonjak mendengar pengakuan itu. “Dia musuhku, aku benci padanya, dia musuhku!” demikian berulang-ulang ia melawan gejolak hatinya sendiri, dan ia mendengarkan terus.

“Kalau engkau jatuh cinta kepada gadis lain, hal itu pun tidak menjadi persoalan. Engkau menikah dengan Si Bangau Merah, dan gadis yang kaucinta itu menjadi selirmu.... “ kata sang ibu.

“Maaf, Ibu. Saya tidak mau mempunyai selir!”

“Hemmm, apa salahnya dengan itu?” bantah ayahnya. “Engkau seorang pangeran, sudah sepatutnya mempunyai selir. Semua pangeran di sini mempunyai selir, tidak hanya seorang malah.”

“Akan tetapi saya tidak, Ayah. Saya hanya mencinta gadis itu, dan saya tidak mau menikah dengan wanita lain.” Pangeran itu berkeras.

“Aihhh, engkau keras kepala, Cia Sun. Siapa sih gadis yang telah menjatuhkan hatimu seperti ini? Siapa namanya?” tanya sang ibu.

Di atas genteng, di luar kehendaknya sendiri, Eng Eng menerawang dan matanya setengah terpejam, mulutnya tersenyum simpul, hatinya senang sekali. Semua ucapan pangeran itu terdengar olehnya bagaikan sebuah lagu yang amat merdu. Dan ia mendengarkan terus, siap untuk memperkembangkan senyumnya mendengar ibu pangeran itu menanyakan namanya!

“Ibu, gadis yang saya cinta itu, yang saya pilih untuk menjadi calon isteri saya, ia she (bermarga) Sim dan namanya Hui Eng....”

Terdengar gerakan di atas genting, Cia Sun mendengar suara itu akan tetapi dia mengira itu suara kucing. Ketika mendengar disebutnya nama itu, seketika wajah yang tadinya tersenyum itu menjadi pucat, senyumnya berubah menjadi ternganga, matanya terbelalak. Kemudian wajah yang pucat itu berubah kemerahan dan kedua tangannya dikepal.

“Jahanam keparat kau!” bentaknya di dalam hatinya dan kini kebenciannya terhadap Cia Sun memuncak. “Engkau membohongi aku, engkau merayu dan menipuku!” Sekarang ia mengerti. Cia Sun telah menyelundup ke dalam Pao-beng-pai, untuk menyelidiki keadaan perkumpulan, itu, dan ketika orang mulai mencurigainya, dengan ketampanan dan kehalusan budinya, pangeran itu merayunya dan menjatuhkan hatinya. Semua itu palsu! Semua itu hanya untuk berhasil dalam tugasnya sebagai mata-mata. Pangeran itu telah mempunyai seorang kekasih yang akan dijadikan isterinya. Namanya Sim Hui Eng! Keparat! pan dia masih berani berpura-pura meminangku!

“Jahnam kau!” Eng Eng tidak dapat menahan lagi kemarahannya dan beberapa kali loncatan membuat ia berada di luar jendela ruangan di mana pangeran dan ayah ibunya bercakap-cakap. Ia mengerahkan tenaga dan menerjang daun jendela.“Brakkk....!” Daun jendela pecah berantakan dan Eng Eng sudah berdiri di depan pangeran itu yang terbelalak memandang kepadanya.

“Kau....!” seru Cia Sun, akan tetapi pada saat itu, dari jarak dekat, selagi pangeran itu tertegun karena sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dalam keadaan seperti itu dengan kekasihnya. Eng Eng menggerakkan tangan kirinya dan dua batang jarum hitam menyambar cepat, mengenai kedua pundak Cia Sun.

“Ahhhhh....!” Pemuda itu mengeluh dan roboh terpelanting. Sebelum tubuhnya terbanting, dengan cepat Eng Eng sudah menggerakkan tubuhnya, lengan kirinya mengempit tubuh Cia Sun yang terkulai lemas dan sekali meloncat, dia sudah keluar dari rongga jendela yang berlubang.

Suami isteri yang tadinya terbelalak itu, baru sempat berteriak-teriak melihat betapa putera mereka diculik seorang wanita yang cantik dan berpakaian serba hitam.

“Tolong....! Pangeran diculik....!” teriak isteri Pangeran Cia Yan.

“Tangkap penculik! Tangkap penjahat!” Pangeran Cia Yan juga berteriak-teriak. Suami isteri itu mencoba untuk mengejar lewat pintu.

Akan tetapi, dua orang penjaga yang mencoba untuk menghalangi bayangan hitam yang mengempit tubuh Pangeran Cia Sun, roboh oleh tendangan Eng Eng dan gadis itu pun menghilang dalam kegelapan malam.

Karena malam itu sunyi, gelap dan dingin, maka tidak sukar bagi Eng Eng untuk melarikan Cia Sun dari rumahnya. Sejenak pemuda itu sendiri tertegun dan bingung. Kedua pundaknya terasa panas sekali dan tubuhnya lemas. Akan tetapi dia menahan rasa nyeri itu dan setelah gadis itu tidak berlari lagi, dia berkata dengan heran.

“Bukankah engkau Eng-moi? Eng-moi, kenapa kaulakukan ini kepadaku?”

Eng Eng diam saja, tidak menjawab, ia sedang memikirkan bagaimana dapat membawa pangeran ini keluar dari kota raja. Sebentar lagi, kota raja tentu akan penuh dengan pasukan yang melakukan pengejaran dan pencarian. Untuk keluar begitu saja dari pintu gerbang sambil mengempit tubuh Pangeran Cia-Sun, tentu menimbulkan kecurigaan dan ia akan segera dikepung perajurit. Sementara itu, Pangeran Cia Sun berpkir, apa yang membuat orang yang dicintainya dan yang dia tahu juga mencintanya kini bersikap seperti ini, bahkan tega untuk melukainya dan menculiknya. Dan dia pun teringat. Ketika terjadi penyerbuan ke Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah, dia pun nampak di antara para penyerbu. Tentu Eng Eng mengira bahwa dia yang membawa pasukan itu melakukan penyerbuan.

“Eng-moi, engkau hendak membalas dendam atas penyerbuan ke Pao-beng-pai? Eng-moi, bukan.... bukan aku yang melakukan. Engkau salah duga. Mari kita bicara baik-baik dan kaudengarkan semua keteranganku.”

Mendengar ucapan ini, Eng Eng mendapatkan akal untuk dapat membawa keluar pangeran ini dari kota raja tanpakesulitan. Ia harus dapat membawa pangeran inikeluar. Ia akan menyiksanya, memaksanya mengakui dosanya dan ia akan membunuh pangeran ini di depan makam ibunya!“Aku memang ingin bicara denganmu, di luar kota raja. Kalau engkau membawaku keluar dari pintu gerbang, aku mau bicara denganmu di sana. Kalau tidak, aku akan membunuhmu di sini juga tanpa banyak cakap lagi.”

Cia Sun bergidik. Dia tidak takut mati. Biarpun dia seorang pangeran, namun dia berjiwa pendekar dan kematian bukan sesuatu yang menakutkan baginya. Yang membuat dia merasa ngeri adalah sikap dan suara gadis yang dicintanya itu. Segitu tidak wajar, begitu dingin dan penuh ancaman maut! Dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu sedang dibakar api dendam dan kebencian.

“Baiklah, Eng-moi. Bebaskan totokanmu dan hentikan kenyerian ini agar tidak ada orang curiga. Aku akan mencari dua ekor kuda untuk kita.”

“Jangan mengira engkau akan dapat lari dariku, sebelum kau lari, aku akan membunuhnya!” kata Eng Eng, kemudian dia memberi sebuah pil merah untuk ditelan oleh Cia Sun setelah ia membebaskan totokannya. Setelah menelan pil itu, Cia Sun tidak begitu menderita lagi.

Kebetulan ada serombongan penjaga keamanan kota terdiri dari enam orang menunggang kuda datang dari depan. Cia Sun cepat memberi isyarat kepada rombongan berkuda. Ketika mereka telah dekat dan melihat siapa yang menahan mereka, enam orang itu terkejut, turun dari atas kuda dan memberi hormat kepada Pangeran Cia Sun.

“Kami membutuhkan dua ekor kuda, berikan dua ekor yang terbaik,” kata pangeran itu. Enam orang itu tergopoh memilihkan dua ekor kuda dan Cia Sun segera mengajak Eng Eng untuk menunggang kuda dan segera melarikan kuda ke pintu gerbang selatan seperti dikehendaki Eng Eng.

Sejam kemudian, kota raja geger karena Pangeran Cia Yan minta bantuan pasukan keamanan untuk menangkap penculik yang melarikan Pangeran Cia Sun. Terjadilah geger dan kekacauan, apalagi ketika ada perajurit yang melapor bahwa Pangeran Cia Sun tidak diculik, melainkan pergi dengan suka rela bersama seorang yang berpakaian hitam, bahkan pangeran itu sendiri yang minta dua ekor kuda kepada rombongan perajurit dan menunggang kuda keluar dari pintu gerbang selatan. Tentu saja berita ini membuat para perwira yang memimpin pengejaran itu menjadi bingung dan ragu. Bagaimana kalau Pangeran Cia Sun tidak diculik melainkan pergi dengan suka rela? Tentu pangeran itu akan marah kalau pasukan melakukan pengejaran. Karena kebingungan inilah maka pengejaran dilakukan setengah hati, dan andaikata mereka dapat bertemu Pangeran Cia Sun, tentu mereka tidak akan berani lancang menangkap gadis berpakaian hitam seperti diperintahkan Pangeran Cia Yan.

Mereka tentu akan melihat bagaimana sikap Pangeran Muda Cia Sun.

Karena memang sudah merencanakan lebih dahulu, tanpa ragu-ragu Eng Eng mengajak pangeran itu memasuki hutan kecil di mana tadi ia menangis, dan mereka lalu turun dari atas kuda, menambatkan kuda dan membiarkan dua ekor kuda itu makan rumput. Karena tubuhnya masih terasa sakit akibat tusukan dua batang jarum di pundaknya, jarum-jarum hitam yang mengandung racun, Cia Sun lalu menjatuhkan diri di atas rumput, memandang kepada gadis itu yang berdiri memandangnya dengan sinar mata yang bernyala-nyala. Biarpun tempat itu gelap, namun Cia Sun seolah-olah dapat melihat sepasang mata yang memandang marah itu.

Malam masih amat dingin, akan tetapi mendung telah tersapu angin dan langit kini nampak bersih dengan sinar bulan sepotong sehingga mereka dapat saling melihat, walaupun hanya remang-remang.“Nah, katakanlah. Eng-moi, apa artinya semua ini? Benarkah dugaanku tadi bahwa engkau marah kepadaku karena mengira aku yang memimpin pasukan menyerbu Pao-beng-pai?”

Sejak tadi Eng Eng menahan kemarahannya terutama kemarahan karena mendengar percakapan antara pangeran itu dan orang tuanya tadi. Kini, kemarahannya meledak! “Engkau manusia paling busuk di dunia! Engkau manusia palsu, jahanam keparat yang berbudi rendah!”

“Silakan memaki dan mencaci, bahkan engkau boleh saja membunuhku, Eng-moi, akan tetapi, setidaknya jelaskan dulu mengapa engkau begini marah kepadaku, agar andaikata engkau membunuhku, aku tidak akan mati penasaran.

“Huh, tidak perlu engkau merayuku lagi dengan omonganmu yang seperti madu berbisa! Engkaulah yang membuat banyak orang mati penasaran, termasuk ibuku dan Tio Sui Lan! Engkau menyamar, menyelundup ke Pao-beng-pai untuk memata-matai Pao-beng-pai. Engkau bahkan merayuku sehingga aku terbujuk dan membebaskanmu, mengkhianati Pao-beng-pai sendiri. Ternyata engkau hanya palsu, engkau mempermainkan aku, engkau memimpin pasukan membasmi Pao-beng-pai, membunuhi keluargaku! Engkau sungguh keji, kejam dan curang!” Suara Eng Eng terkandung isak tangis.

“Hemmm, kalau begitu tepat dugaanku. Engkau marah kepadaku karena mengira aku yang memimpin pasukan menyerbu Pao-beng-pai. Semua itu tidak benar, Eng-moi! Aku tidak memimpin pasukan itu! Baru sebentar aku pergi, bagaimana aku dapat mengumpulkan pasukan besar untuk menyerbu Pao-beng-pai? Tidak, aku tidak mengerahkan pasukan itu. Aku mendengar bahwa ada pasukan yang pergi menyerbu Pao-beng-pai, karena tempatnya sudah diketahui. Ketika Pao-beng-pai mengadakan pertemuan itu, di antara para tamu terdapat orang-orang yang menentang dan merekalah yang memberi laporan kepada pemerintah. Panglima Ciong yang memimpin pasukan itu menyerbu, dan aku menyusul cepat untuk menyelamatkan engkau dan ibumu.”

“Omong kosong! Rayuan gombal! Siapa dapat percaya? Kalau bukan engkau yang menjadi penunjuk jalan, bagaimana mungkin pasukan dapat naik ke Lembah Selaksa Setan, dapat melampaui semua jebakan dan membasmi Pao-beng-pai? Tidak perlu engkau mencoba untuk membohongi aku lagi!” Saking marahnya, tubuh Eng Eng bergerak, tangannya menyambar ke arah dada Cia Sun.

“Bukkk!” Pukulan tangan terbuka itu keras sekali dan tubuh Cia Sun terjengkang dan terguling-guling. Eng Eng mengejar dan kembali tangannya menampar ke arah kepala orang yang sudah rebah di atas tanah itu. Akan tetapi tangan itu tertahan di udara, tidak jadi memukul.

Cia Sun terbatuk-batuk, dadanya terasa sesak. Akan tetapi dia masih tersenyum ketika mengangkat kepala memandang. “Kenapa tidak kaulanjutkan, Eng-moi? Pukullah, hajar dan siksalah aku, bunuhlah kalau hal itu akan dapat meredakan kemarahanmu.”

“Kenapa.... kenapa engkau tidak melawan? Tidak mengelak atau menangkis? bentaknya.

“Untuk apa? Aku rela mati di tanganmu kalau engkau menghendaki itu, Eng-moi. Hanya kuminta, sebelum engkau membunuhku, dengarlah dulu keteranganku....”

“Huh, keterangan bohong! Penuh tipuan!”

“Andaikata benar aku berbohong sekalipun, kumohon padamu, dengarlah kebohonganku sebelum engkau membunuhku. Setelah aku memberi keterangan, nah, engkau boleh percaya atau tidak, boleh membunuhku atau tidak, terserah.”

“Bohong! Kau penipu! Ah, untuk kebohongan itu saja, aku dapat membunuhmu seratus kali!” Dan kini Eng Eng menampar lagi, menendang dan menampar lagi sampai Cia Sun terguling-guling dan tidak mampu bergerak lagi. Pingsan! Ketika Eng Eng hendak memberi pukulan terakhir, ia teringat akan niat semula, yaitu membunuh pemuda itu di depan makam ibunya, maka ia pun menahan diri.“Biar kubersabar sampai besok. Engkau akan mampus di depan makam ibuku, bedebah!” katanya dan ia pun duduk dibawah pohon, bersamadhi. Akan tetapi, samadhinya tidak pernah berhasil. Ia bahkan gelisah dan beberapa kali mendekati Cia Sun, untuk mendapat kepastian bahwa pemuda itu belum tewas.

Malam terganti pagi. Pagi yang amat indah. Sinar matahari pagi agaknya mengusir semua kegelapan, kegelapah alam yang berpengaruh terhadap keadaan hati. Sinar matahari mendatangkan kehidupan. Burung-burung berkicauan dan sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja. Ayam jantan berkeruyuk saling saut. Semua nampak cerah gembira, bahkan daundaun nampak berseri. Seluruh mahluk seolah-olah menyambut munculnya sinar kehidupan dengan puja-puji kepada Yang Maha Kasih. Sang Maha Pencipta, melalui suara, melalui keharuman, melalui keindahan. Keharuman rumput dan tanah basah, daun dan bunga, keharuman udara itu sendiri.

Eng Eng juga terpengaruh oleh semua keindahan itu. Hatinya terasa ringan dan perasaan marahnya tidak terasa lagi olehnya. Namun, ketika ia menengok ke arah Pangeran Cia Sun, ia teringat segalanya dan ia pun bangkit menghampiri.

Cia Sun sudah siuman, namun seluruh tubuhnya terasa nyeri. Melihat gadis itu menghampiri, dia pun bangkit duduk, memandang kepada gadis itu dengan senyum sedih! Senyum itu seperti pisau menusuk kalbu bagi Eng Eng.

“Eng-moi, kenapa kepalang tanggung? Kenapa engkau tidak membunuh aku semalam?” tanya Cia Sun.

Eng Eng hampir tidak percaya. Pemuda bangsawan ini masih bersikap demikian manis kepadanya. Bukan, bukan sikap yang terdorong rasa takut, melainkan sikap yang demikian wajar. Masih tersenyum, dan pandang mata kepadanya itu demikian lembut dan mesra, jelas nampak sinar kasih sayang di dalamnya. Padahal, ia sudah menyiksanya sampai pingsan, nyaris membunuhnya!

“Aku akan membunuhmu di depan makam ibuku!” katanya singkat.

“Eng-moi, arwah ibumu akan berduka kalau engkau melakukan itu. Aku bukan pembunuh ibumu, aku bahkan berusaha berusaha menyelamatkannya, dan ia meninggal dunia di dalam rangkulanku “

“Bohong!!”

“Eng-moi, untuk apa aku berbohong? Aku tidak takut mati, bahkan aku tidak akan penasaran mati di tanganmu. Aku hanya tidak ingin melihat engkau salah tindakan dan menyesal di kemudian hari, aku hanya ingin agar engkau mengetahui dengan betul siapa sebenarnya dirimu. Aku telah mengetahui rahasia besar mengenai dirimu, Eng-moi, dan aku akan menceritakan semua, kalau engkau bersedia mendengarkan. Memang semua akan kedengaran amat aneh bagimu, dan mungkin engkau akan menganggap aku berbohong, akan tetapi demi Tuhan, aku tidak berbohong.”

Agaknya sinar matahari memang berpengaruh besar terhadap hati manusia, setidaknya terhadap Bng Eng. Gadis itu merasa agak tenang dan ia dapat melihat kenyataan bahwa tidak ada ruginya mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh pemuda itu. Bohong atau tidak, pemuda itu memang berhak untuk membela diri. Dan melihat wajah yang tampan dan yang tadinya amat disayangnya itu agak bengkak-bengkak oleh tamparannya semalam, timbul juga perasaan iba di dalam hatinya.

“Bicaralah, aku tetap tidak akan percaya padamu.” katanya dengan sikap ketus yangdipaksakan. Ia bahkan tidak menatap langsung wajah yang bengkak-bengkak itu, karena ia merasa tidak enak, mengingatkan ia betapa ia telah bertindak kejam terhadap satu-satunya pria di dunia ini yang dicintanya.Lega rasa hati Cia Sun. Dia sama sekali tidak akan menyesal kalau dia dibunuh wanita yang dicintanya ini, hanya dia akan merasa menyesal karena perbuatan itu merupakan suatu perbuatan yang berdosa bagi Eng Eng. Dia tidak ingin melihat kekasihnya ini menjadi seorang yang jahat.

“Eng-moi, setelah engkau membebaskan aku, aku lalu cepat pulang ke kota raja. Akan tetapi, setelah tiba di sana, aku mendengar bahwa Panglima Ciong memimpin pasukan untuk menyerbu Pao-beng-pai. Aku terkejut dan cepat aku kembali lagi ke sana untuk menyusul pasukan itu karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu dan keselamatan ibumu. Namun aku terlambat. Setelah tiba di Ban-kwi-kok, pasukan telah menyerbu ke perkampungan Pao-beng-pai....”

“Tanpa penunjuk jalan, tidak mungkin pasukan akan mudah memasuki daerah Pao-beng-pai yang dipasangi banyak jebakan rahasia!” Eng Eng memotong dan kini sepasang matanya mengamati wajah pemuda itu penuh selidik dan hatinya menuduh bahwa tentu pemuda itu yang menjadi penunjuk jalan.

“Dugaanmu memang benar, Eng-moi. Hal ini pun kuketahui kemudian dari para perwira yang memimpin penyerbuan itu. Ada memang penunjuk jalan yang memungkinkan pasukan itu dapat menyerbu dengan mudah....”

“Engkaulah penunjuk jalan itu!” bentak Eng Eng.

Cia Sun tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Bukan, Eng-moi, bukan aku. Penunjuk jalan itu adalah seorang gadis, murid Pao-beng-pai sendiri, bernama Tio Sui Lan....”

“Bohong tidak mungkin....!” teriak Eng Eng, akan tetapi teriakan mulutnya ini tidak sesuai dengan perasaan hatinya yang menjadi bimbang. Setelah apa yang dilakukan Siangkoan Kok kepada Sui Lan, memaksanya menjadi isteri dan memperkosanya, bukan hal yang tidak mungkin kalau Sui Lan lalu berkhianat. Dan pula, Sui Lan tentu saja mengenal semua jalan rahasia naik ke sarang Pao-beng-pai, sedangkan Cia Sun tidak akan mengetahui banyak tentang jebakan-jebakan itu. Kalau Sui Lan yang menjadi penunjuk jalan, tentu saja pasukan itu akan menyerbu naik dengan mudah.

“Terserah kepadamu, Eng-moi, untuk percaya atau tidak. Aku hanya mendengar keterangan para perwira. Ketika pasukan tiba di kaki bukit dan mulai mendaki, tiba-tiba muncul gadis itu yang kemudian menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Ketika pasukan menyerbu, Siangkoan Kok sedang berkelahi dengan isterinya dan ibumu sudah terdesak. Gadis yang mengkhianati gurunya itu lalu menyerang Siangkoan Kok, akan tetapi dengan mudah ia roboh dan tewas di tangan gurunya sendiri!”

“Tapi ibuku....! Tentu ia terbunuh oleh pasukan pemerintah!” kata Eng Eng, mulai tertarik karena apa yang diceritakan Cia Sun itu agaknya memang masukakal. Ia sudah melihat mayat Sui Lan dan luka yang mengakibatkan kematiannya memang luka beracun yang dikenalnya sebagai racun dari pedang Siangkoan Kok!

Dengan sikap tenang Cia Sun menggeleng kepala, kini senyumnya menghilang dan dia mengerutkan alisnya, mengenang kembali peristiwa menyedihkan itu. “Sudah kuceritakan tadi, ketika pasukan menyerbu, aku cepat ikut di barisan depan karena aku ingin mencegah agar engkau dan ibumu tidak sampai ikut diserang. Ketika kami tiba di sana, kami melihat ibumu berkelahi dengan ayahmu dan ibumu roboh tertendang ayahmu. Aku cepat mencegah ketika pasukan hendak menyerang ibumu yang sudah roboh, dan memerintahkan mereka mengejar ayahmu yang melarikan diri. Aku lalu memondong tubuh ibumu yang pingsan dan ternyata ia telah menderita luka-luka parah, tentu ketika berkelahi melawan ayahmu.” Cia Sun berhenti sebentar untuk mengamati wajah Eng Eng dan melihat bagaimana tanggapan dan sikap gadis itu terhadap ceritanya.

“Terus, lalu bagaimang? “Eng Eng mulai tertarik dan pada saat seperti itu, ia lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap Cia Sun.

“Kubawa ibumu ke dalam rumah dan kurebahkan di bangku panjang. Kucoba untuk merawatnya, akan tetapi sia-sia. Ibumu hanya siuman untuk bicara sedikit kepadaku, meninggalkan pesan-pesan dan akhirnya ia meninggal dunia dalam rangkulanku.”

“Ibuku...., bagaimana aku dapat mempercayaimu? Engkau berbohong. Ketika engkau merayuku, engkau hanya pura-pura....”

“Tidak, Eng-moi. Langit dan Bumi menjadi saksi bahwa aku sungguh mencintamu, sejak pertama kali kita bertemu, sampai sekarang....”

“Bohong! Pendusta!” Eng Eng marah kembali karena ia teringat akan percakapan antara pemuda ini dan orang tuanya, tentang pengakuan Cia Sun kepada ayah ibunya bahwa pemuda itu telah mencinta seorang gadis lain.

“Eng-moi, kenapa engkau tidak percaya kepadaku dan menuduhku berbohong?” Cia Sun bertanya dan dia merasa kepalanya pening sekali, bumi seperti berputaran. Itu adalah akibat racun dari jarum Eng Eng, juga karena dia mengalami tamparan-tamparan malam tadi. Namun, dia mempertahankan diri agar tidak jatuh pingsan lagi. Dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh permohonan.

Eng Eng melompat berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada pangeran itu dengan sinar mata membakar. Makin diingat tentang percakapan keluarga pangeran itu, semakin panaslah hatinya.

“Bagaimana aku dapat percaya omongan perayu busuk macam engkau? Engkau telah mencinta seorang gadis lain dan masih engkau berani mengatakan bahwa engkau mencintaku?”

Biarpun kepalanya sudah pening sekali, akan tetapi mendengar ucapan itu, Cia Sun membelalakkan matanya dan berkata dengan suara mengandung penasaran. “Sekali ini, engkau yang berbohong, Eng-moi! Aku tidak pernah dan tidak akan mencinta gadis lain kecuali engkau seorang!”

“Pendusta besar! Kedua telingaku sendiri mendengar pengakuanmu kepada ayah ibumu bahwa engkau mencinta gadis lain yang bernama Sim Hui Eng! Hayo sangkal kalau engkau berani! Kuhancurkan mulutmu kalau engkau berdusta!”

Cia Sun mencoba untuk tersenyum,akan tetapi karena rasa nyeri berdenyut-denyut di kepalanya,membuat kepala seperti akan pecah rasanya, senyumnya menjadi pahit sekali. “Aku tidak berdusta, Eng-moi. Memang benarlah, aku mencinta Sim Hui Eng, sejak pertama kali jumpa sampai sekarang dan aku akan tetap mencintanya karena Sim Hui Eng adalah engkau sendiri, Eng-moi.... ahhh....” Cia Sun tidak dapat menahan lagi rasa nyeri di dada dan kepalanya. Dia pingsan lagi.

Dia tidak tahu betapa Eng Eng memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat. Sampai lama Eng Eng mengamati wajah Cia Sun, pandang matanya meragu. Ia bernama Sim Hui Eng? Apa pula artinya ini? Benarkah semua yang diceritakan Cia Sun? Ia harus tahu apa artinya semua itu. Cia Sun mengaku kepada orang tuanya bahwa dia hanya mencinta gadis yang bernama Sim Hui Eng, dan kini dia menjelaskan bahwa Sim Hui Eng adalah ia sendiri! Bagaimana pula ini? Namanya seperti dikenal Cia Sun adalah Siangkoan Eng, kemudian karena ibunya membuka rahasia bahwa ia bukan puteri kandung Siangkoan Kok, ia pun tidak sudi lagi memakai nama keluarga Siangkoan, lebih memilih marga ibunya, yaitu Lauw. Dan kini, tiba-tiba saja Pangeran Cia Sun mengatakan bahwa ia she Sim, dan nama lengkapnya Hui Eng! Jangan-jangan pangeran ini tidak berbohong dan sudah mengenal ayah kandungnya. Ayah kandungnya! Ibunya amat membenci ayah kandungnya. Benarkah ayah kandungnya she Sim? Benarkah semua cerita Cia Sun? Sayang bahwa pemuda ini keburu jatuh pingsan sehingga tidak dapat melanjutkan keterangannya.

Eng Eng berlutut di dekat tubuh Cia Sun. Hatinya sempat berdegup ketika ia berada begitu dekat dengan pangeran itu, dan keharuan mulai menggigit perasaannya ketika ia melihat wajah yang tampan itu bengkak-bengkak. Ia cepat mengeluarkan sebutir pil, lalu menggunakan bekal air minumnya untuk memasukkan pil itu ke dalam mulut Cia Sun yang dibukanya dengan penekanan kepada rahang pemuda itu. Pil itu sukar ditelan maka terpaksa ia mendekatkan mulutnya dan meniup ke dalam mulut pemuda itu sehingga pil itu dapat tertelan karena ia telah menotok beberapa jalan darah, membuat pemuda itu hanya setengah pingsan. Kemudian ia mengurut sanasini, mengobati luka-luka memar itu dengan semacam obat gosok yang selalu dibawanya sebagai bekal. Kemudian, ia menempelkan tangan kirinya ke dada pemuda itu, menyalurkan sin-kang untuk membantu pemuda itu terbebas dari luka sebelah dalam tubuhnya.

Akhirnya Cia Sun membuka matanya dan dia tersenyum melihat gadis itu bersimpuh di dekatnya dan menempelkan telapak tangan ke dadanya. Terasa betapa lembutnya telapak tangan yang mengeluarkan hawa panas itu.

“Ah, Eng-moi, engkau masih mau mengobati dan menolongku? Terima kasih....” katanya lembut dan wajah yang kini hanya tinggal membiru karena bengkaknya sudah hilang itu tersenyum! Senyum itulah yang menikam jantung Eng Eng. Kalau pangeran itu marah-marah dan memaki-makinya, kiranya tidak akan sesakit itu hatinya. Sejak ditangkapnya tadi, sampai disiksanya, pangeran itu tidak pernah marah, bahkan selalu berbicara lembut, pandang matanya penuh kasih dan mulutnya tersenyum.

“Aku mengobatimu hanya agar engkau tidak mampus sekarang,” katanya, suaranya diketus-ketuskan. “Hayo katakan, apa maksudmu dengan kata-katamu tadi bahwa aku bernama Sim Hui Eng! Jangan mempermainkan aku kalau kau tidak ingin kusiksa lebih berat lagi!”

“Sejak tadi aku tidak pernah mempermainkanmu, tidak pernah berdusta, Eng-moi. Engkau yang kurang sabar mendengarkan keteranganku. Nah, sekarang kulanjutkan ceritaku tadi. Sebelum ibumu meninggal dunia dalam rangkulanku, ia menceritakan suatu rahasia yang amat mengejutkan hatiku, juga tentu akan mengejutkan hatimu dan mungkin engkau semakin tidak percaya kepadaku. Nah, sudah siapkah engkau mendengarkan ceritaku tentang pengakuan ibumu?”

Eng Eng merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Kini ia hampir yakin bahwa pangeran ini tidak pernah berbohong kepadanya! Tidak pernah berbohong dan ia sudah menculiknya, menyiksanya dan bahkan nyaris membunuhnya. Kemungkinan ini membuat darahnya berdesir meninggalkan mukanya, membuat wajahnya menjadi pucat sekali.

“Ceritakan semua!” perintahnya.

“Rahasia yang dibuka bibi Lauw Cu Si ini seluruhnya mengenai dirimu, Eng-moi. Pertama-tama, engkau bukanlah anak kandung Siangkoan Kok ketua Paobeng-pai!” Cia Sun mengira bahwa gadis itu akan terkejut sekali mendengar ini. Akan tetapi dia kecelik. Gadis itu sedikit pun tidak kelihatan kaget atau heran, bahkan mulutnya seperti membentuk senyum mengejek.

“Aku sudah tahu. Dia adalah ayah tiriku.” katanya pendek.

Cia Sun menggeleng kepalanya. “Bukan, Eng-moi. Sama sekali bukan ayah tirimu. Dia bukan apa-apamu.”

Eng Eng terbelalak. “Apa.... apa maksudmu? Aku dibawa ibu ketika masih kecil, berusia dua tiga tahun ketika ibuku menikah dengan Siangkoan Kok! Kenapa kaukatakan dia bukan ayah tiriku?”

“Inilah rahasia besar yang dibuka ibumu kepadaku, Eng-moi. Memang benar ketika bibi Lauw Cu Si itu menikah dengan Siangkoan Kok, ia membawa seorang anak kecil dian anak itu adalah engkau, Eng-moi. Akan tetapi, engkau bukanlah anak kandung bibi Lauw Cu Si!”

“Ehhh....!!??” Eng Eng berseru setengah menjerit. “Apa… apa maksudmu....!!?” Tangan gadis itu menangkap lengan Cia Sun dan mencengkeramnya, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya semakin pucat.

“Aku mendengar dari Nyonya Siangkoan Kok yaitu bibi Lauw Cu Si, Eng-moi. Agaknya karena tahu bahwa ia akan tewas, maka ia membuka rahasia itu kepadaku. Engkau bukan anak kandungnya, engkau telah ia culik dari orang tuamu ketika engkau masih kecil, kemudian diaku sebagai anaknya sendiri.”

“Tapi.... tidak mungkin! Apa buktinya? Bagaimana aku dapat mengetahui benar tidaknya ceritamu ini?”

“Sabar dan tenanglah, Eng-moi. Aku pun tadinya terkejut dan kalau bukan bibi Lauw Cu Si sendiri yang bercerita, aku pun pasti tidak akan percaya. Akan tetapi, aku lalu teringat kepada Yo-toako! Engkau ingat Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?”

Eng Eng mengerutkan alisnya. Tentu saja ia teringat kepada pendekar yang amat lihai itu. “Apa hubungannya dia dengan ceritamu itu?”

“Eng-moi, ingatkah engkau akan pengakuan Yo-toako bahwa dia hendak mencari seorang gadis yang diculik orang sejak kecil? Gadis itu bernama Sim Hui Eng dan Yo-toako bertugas untuk mencarinya. Bahkan dia kemudian ditipu Siangkoan Kok yang menyuruh mendiang Tio Sui Lan untuk memancingnya ke dalam gua kemudian menjebak dan menangkapnya. Nah, gadis yang dicari-carinya itu adalah engkau, Eng-moi. Engkaulah gadis yang ketika kecil diculik itu, dan penculiknya adalah bibi Lauw Cu Si yang selama ini kauanggap sebagai ibumu sendiri.”

Eng Eng masih terbelalak dan seperti berubah menjadi patung. Ia tentu saja masih diombang-ambingkan kebimbangan. “Tapi.... tapi apa buktinya bahwa.... ibuku meninggalkan pesan itu kepadamu, dan apa buktinya bahwa aku benar-benar gadis yang bernama Sim Hui Eng itu? Tanpa bukti, bagaimana mungkin aku dapat mempercayai ceritamu?”

Cia Sun menghela napas panjang. “Tentu saja aku tidak dapat membuktikan bahwa mendiang bibi Lauw Cu Si membuka rahasia itu kepadaku, juga ketika kami bicara, tidak ada seorang pun saksinya. Dan ia sudah meninggal dunia, jadi tidak mungkin lagi ditanyai. Akan tetapi, aku mempunyai suatu tanda rahasia yang ada pada dirimu, seperti yang diceritakan Yo-toako kepadaku. Ketika Yo-toako menerima tugas mencari anak yang hilang diculik itu, orang tua anak itu memberitahukan kepadanya adanya dua tanda rahasia di badan anak itu yang merupakan ciri-ciri khas atau tanda sejak lahir. Kalau aku katakan tanda-tanda itu. dan kemudian ternyata cocok dengan keadaan dirimu, apakah engkau masih akan menganggap aku pendusta yang patut kausiksa dan kaubunuh di depan makam bibi Lauw Cu Si?”

Tentu saja Eng Eng menjadi bingung dan salah tingkah. Ia merasa ngeri kalau membayangkan bahwa pangeran itu benar dan sama sekali tidak berdusta, sama sekali tidak menipunya, dan ia telah menyiksanya seperti itu!

“Katakanlah, tanda-tanda apa yang ada pada anak yang diculik itu?” tanyanya, suaranya jelas terdengar gemetar.

“Yo-toako hanya berpegang kepada, tanda-tanda itu saja untuk mencari anak yang hilang terculik itu, maka tentu saja amat sukar karena tanda-tanda itu terdapat di bagian tubuh yang selalu tertutup....”

“Katakan cepat, tanda-tanda apa itu?” tanya Eng Eng dengan suara nyaring karena ia sudah tidak sabar sekali.

“Pertama, anak itu mempunyai sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya, dan ke dua, ia pun mempunyai sebuah noda merah sebesar ibu jari kaki di telapak kaki kanannya.”

Eng Eng meloncat ke belakang, terbelalak dan seluruh tubuhnya menggigil. Melihat ini, Cia Sun menguatkan tubuhnya dan bangkit berdiri, menghampiri dengan pandang mata khawatir.

“Kenapa, Eng-moi.... dan be.... benarkah ada tanda-tanda itu pada dirimu....? Benarkah bahwa engkau ini Sim Hui Eng?” Suara pangeran itu juga gemetar karena dia meresa tegang, khawatir kalau-kalau gadis ini bukan Sim Hui Eng seperti yang disangkanya.

Sampai lama Eng Eng tidak mampu bicara, mukanya yang pucat kelihatan seperti mau menangis dan ketika ia bertanya, suaranya hampir tidak dapat didengar, “Bagaimana.... perasaanmu terhadap aku kalau aku tidak memiliki tandatanda itu, kalau aku bukan Sim Hui Eng?”

“Eng-moi, masihkah engkau meragukan cintaku kepadamu? Ketika aku jatuh cinta dan meminangmu, engkau adalah puteri ketua Pao-beng-pai, bukan? Engkau tetap engkau bagiku, satu-satunya gadis yang kucinta, baik engkau mempunyai tanda atau tidak, baik engkau puteri Siangkoan Kok atau bukan, atau puteri siapapun juga. Aku tetap cinta padamu, Eng-moi, biar engkau akan membunuhku sekalipun. Tapi.... untuk meyakinkan, benarkah engkau memiliki tanda-tanda itu?”

Tiba-tiba Eng Eng menjatuhkan diri berlutut dan menangis terisak-isak. Tentu saja pangeran itu terkejut dan khawatir, lalu dia pun berlutut di depan gadis itu. “Eng-moi, kenapa, Eng-moi....? Ah, maafkan kalau aku membuat hatimu berduka, Eng-moi. Lebih baik aku melihat engkau marah-marah kepadaku seperti tadi daripada melihat engkau bersedih seperti ini, Eng-moi.”

Ucapan itu membuat Eng Eng semakin mengguguk. Cia Sun merasa hatihya seperti ditusuk-tusuk melihat keadaan kekasihnya itu dan dia pun menyentuh pundak gadis itu dengan lembut. “Eng-moi, ada apakah....”

Akhirnya Eng Eng dapat bicara tanpa menurunkan kedua tangannya dari muka, dan air mata mengalir melalui celah-celah jari kedua tangannya. “Kau.... kaulihat sendiri.... apakah.... ada tanda-tanda itu....”

Ia lalu menyingkap baju di bagian pundak kiri dan melepas sepatu dan kaos kakinya yang kanan. Cia Sun memandang pundak yang berkulit putih mulus itu dan di sana, jelas sekali nampak sebuah titik hitam, sebuah tahi lalat. Dan pada telapak kaki yang putih kemerahan itu nampak pula noda merah.

“Kau.... kau benar-benar Sim Hui Eng....!” serunya seperti bersorak gembira.

Eng Eng kini merangkul ke arah kaki Cia Sun, “Pangeran...., ampunkan aku.... aku telah berbuat kejam dan tidak adil kepadamu.... aku.... aku layak kau pukul. Balaslah, Pangeran, pukullah aku, siksalah aku, bunuhlah aku.... huuu-huhuuuuu....!” Gadis itu tersedu-sedu, menangis dengan perasaan menyesal, malu, dan juga marah kepada diri sendiri dan amat iba kepada pria yang dicintanya namun yang telah disiksanya tanpa salah itu. Bahkan pangeran itu telah mencegah pasukan membunuh Lauw Cu Si sehingga dia merupakan satu-satunya orang yang telah menemukan rahasia dirinya. Pangeran ini telah berjasa kepadanya. Sebaliknya, ia menuduhnya sebagai pembunuh dan ia telah menyiksanya dengan katakata, dengan perbuatan. Ingin ia menciumi sepatu pangeran itu untuk menyatakan penyesalannya.

Melihat betapa gadis yang dicintanya itu merangkul kakinya dan mencium sepatunya, Cia Sun cepat merangkul, menarik dan mendekap kepala itu, seolah-olah hendak membenamkannya ke dadanya untuk disimpan di dalam dada dan tidak akan dilepaskannya lagi selamanya. Dia sendiri pun membenamkan mukanya yang basah air mata ke dalam rambut itu. Sampai beberapa lamanya mereka berpelukan dan bertangisan, dan. Eng Eng beberapa kali mengusap dan membelai muka yang masih ada bekas-bekas tamparan tangannya itu dengan jari-jari gemetar.

Setelah gelora keharuan hati mereka mereda, Cia Sun membiarkan Eng Eng duduk bersandar di dadanya. Dia membelai rambut yang kusut itu dan berbisik, “Sudahlah, Eng-moi, sudah cukup engkau menyesali diri. Aku tidak akan menyalahkanmu. Memang batinmu mengalami guncangan hebat. Akhirnya semua kegelapan lewat dan kini kita berdua tinggal menyongsong sinar kebahagiaan.”

“Pangeran....”

Cia Sun menghentikan kata-kata itu dengan sentuhan bibirnya pada bibir Eng Eng. “Hushhh...., kalau kau menyebutku pangeran, lalu apa bedanya dengan seluruh wanita yang menjadi kawula dan menyebutku seperti itu. Engkau adalah calon isteriku, engkau tunanganku, engkau kekasihku, ingat?”

Eng Eng tersipu, akan tetapi tersenyum penuh bahagia. “Kakanda.... Cia Sun....” Betapa merdunya panggilan itu.

“Adinda Hui Eng....” Sang pangeran berbisik dan sebutan nama yang terdengar asing baginya itu mengingatkan Eng Eng akan keadaan dirinya.

“Kakanda Pangeran, dengan hati berdebar penuh ketegangan, sekarang aku menanti engkau memberitahu kepadaku, siapa sebenarnya orang tuaku? Ayah ibuku masih hidup?”

“Engkau akan terkejut, berbahagia dan bangga sekali kalau mendengar siapa ayah ibumu, Eng-moi. Ketika engkau masih kuanggap sebagai puteri Siangkoan Kok, aku sudah kagum dan cinta padamu. Ketika aku mendengar dari bibi Lauw Cu Si siapa ayah ibumu, kekagumanku kepadamu bertambah-tambah. Ketahuilah bahwa ayahmu bernama Sim Houw dan ibumu bernama Can Bi Lan eh, kenapa kau, Eng-moi (adinda Eng)?”

Mendengar disebutnya dua nama itu sebagai ayah ibunya, Eng Eng sudah meloncat berdiri sehingga terlepas dari rangkulan pangeran itu. Ia berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat.

“Ayahku.... Pendekar Suling Naga dan ibuku Si Setan Kecil....! Aihhhhh.... Kakanda.... celakalah aku sekali ini....”

Cia Sun cepat bangkit dan merangkul gadis itu. “Tenanglah, Moi-moi, kenapa engkau berkata begitu? Bukankah sepatutnya engkau berbangga? Ayah ibumu adalah suami isteri pendekar yang sakti dan nama mereka terkenal sekali di dunia persilatan!”

“Aih, engkau tidak tahu, Koko! Ah, betapa malunya aku berhadapan dengan mereka. Ketahuilah, aku pernah mewakili Pao-beng-pai mendatangi tiga keluarga besar para pendekar itu dan menantang mereka mengadu kepandaian. Bahkan dalam peristiwa itu, Siauw-kwi Can Bi Lan, ibu kandungku itu maju untuk menandingiku, akan tetapi aku, si tinggi hati tak tahu diri ini, aku bahkan menghinanya dan menantang Pendekar Suling Naga, ayahku sendiri untuk maju menandingiku! Aku telah bersikap angkuh dan menghina tiga keluarga besar dan ternyata Pendekar Suling Naga adalah ayahnya sendiri. Bagaimana aku dapat berhadapan dengan mereka, Koko?” Dalam rangkulan Cia Sun, seluruh tubuh Eng Eng gemetar seperti orang terserang demam.

“Jangan risaukan hal itu, Eng-moi. Engkau tidak dapat disalahkan. Ketika itu, engkau mewakili Pao-beng-pai dan engkau tentu menganggap para pendekar itu sebagai musuh. Apalagi engkau hanya melaksanakan tugas, karena ketika itu engkau menganggap bahwa kau adalah puteri ketua Pao-beng-pai. Dan aku mengerti mengapa engkau mendapatkan tugas itu. Mungkin bibi Lauw Cu Si yang kauangap sebagai ibumu itulah yang mempunyai peran penting, sengaja membujuk Siangkoan Kok agar engkau melakukan penghinaan terhadap keluarga besar para pendekar itu.”

Gadis itu menatap wajah Cia Sun. “Eh, kenapa begitu?”

“Aku sudah melakukan penyelidikan dan mengetahui siapa sebetulnya mendiang bibi Lauw Cu Si itu. Ia adalah seorang keturunan pimpinan Beng-kauw yang telah hancur. Karena ia seorang tokoh sesat, tentu saja ia memusuhi keluarga besar dari Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Siluman. Itu pula yang menyebabkan ia menculikmu, yaitu untuk membalas dendam kepada Pendekar Suling Naga dan isterinya yang terkenal sebagai pendekar-pendekar yang menentang golongan sesat. Dengan mengadukan engkau melawan keluarga pendekar itu, melawan golongan orang tuamu sendiri, agaknya bibi Lauw Cu Si menemukan kepuasan tersendiri.”

“Akan tetapi, Koko. Kalau orang tuaku itu Pendekar Suling Naga dan isterinya yang merupakan sepasang suami isteri pendekar yang sakti, kenapa aku sampai dapat terculik? Dan kenapa pula mereka tidak mencari si penculik dan merampasku kembali?”

“Pertanyaan seperti itu juga kuajukan kepada Yo-toako ketika kami membicarakan anak hilang itu. Menurut keterangan Yo-toako, Pendekar Suling Naga dan isterinya sudah sejak kehilangan puteri mereka itu berusaha sampai bertahun-tahun untuk menemukan anak mereka kembali. Namun semua usaha itu sia-sia belaka. Agaknya, si penculik, yaitu bibi Lauw Cu Si, dengan cerdik sekali telah menghilang, yaitu menjadi isteri Siangkoan Kok dan tak seorang pun mengira bahwa engkau adalah anak yang diculik. Semua orang, bahkan Siangkoan Kok sendiri, menganggap engkau adalah puteri bibi Lauw Cu Si.”

Eng Eng mengangguk-angguk, semua rasa penasaran hilang, akan tetapi tetap saja ia mengerutkan alisnya. Kalau saja ia mendengar bahwa ayah ibunya adalah orang-orang biasa, bahkan petani miskin sekalipun, ia tentu akan berbahagia sekali dan merasa rindu untuk segera dapat bertemu dengan orang tuanya yang aseli. Akan tetapi, Pendekar Suling Naga! Semua pengalamannya ketika ia menantang tiga keluarga besar itu terkenang dan makin dikenang, semakin merah wajahnya karena ia merasa malu bukan main.

“Koko, aku.... aku takut untuk bertemu dengan mereka, aku takut dan malu....”

Cia Sun merangkul pundaknya, dan mengajaknya menghampiri kuda mereka.

Matahari telah naik tinggi dan di jalan raya sana lalu lintas sudah mulai ramai.

“Eng-moi, buang saja semua perasaan itu. Percayalah, orang tuamu tidak pernah berhenti memikirkanmu, bahkan sekarang pun masih minta bantuan Yo-toako untuk mencarimu. Mereka akan berbahagia sekali kalau dapat menemukan anak mereka kembali, dan tentang kemunculanmu tempo hari, mereka tentu akan dapat mengerti. Jangan khawatir, akulah yang akan menemanimu ke sana menghadap mereka, dan aku yang tanggung bahwa mereka tentu akan menerima dengan bahagia dan tidak akan ada yang menyesalkan tindakanmu dahulu.”

“Aih, aku merasa ngeri bertemu mereka, Koko. Bagaimana kalau aku tidak usah memperlihatkan diri saja kepada mereka? Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku.... aku tidak mau membuat suami isteri pendekar itu mendapat malu besar dan nama baik mereka tercemar karena mempunyai anak seperti aku ....”

“Hushhhhh, jangan berkata begitu, Moi-moi. Coba jawab apakah engkau mencinta aku seperti aku mencintamu?”

“Apakah hal itu masih perlu ditanyakan lagi, Koko? Aku mencintamu, bahkan kekejamanku terhadapmu tadi pun karena terdorong cintaku padamu, karena panasnya hatiku mendengar engkau mencinta Sim Hui Eng yang kukira gadis lain. Aku cinta padamu, Koko.”

“Bagus, dan karena kita saling mencinta, apakah engkau mau menjadi isteriku?”

Gadis itu mengangguk. Sebagai puteri ketua Pao-beng-pai yang sejak kecil hidup dalam suasana kekerasan, ia tidak canggung atau malu mengaku tentang perasaan cintanya, “Tentu saja aku mau,koko!”

“Nah, kalau begitu, karena aku seorang pangeran yang tidak mungkin meninggalkan tata-susila dan adat-istiadat, aku akan melamarmu dengan terhormat dan baik-baik. Dan untuk itu, engkau harus mempunyai wali, mempunyai orang tua. Sekarang, mari kita pergi ke Lok-yang, ke rumah orang tuamu. Setelah engkau diterima dengan baik, aku akan kembali ke kota raja dan aku akan mengirim utusan untuk meminangmu secara terhormat.”

Gadis itu mengerutkan alisnya, akan tetapi begitu sinar matanya bertemu dengan pandang mata pangeran itu, ia pun mengangguk dan menurut saja ketika digandeng ke arah dua ekor kuda mereka yang sedang makan rumput. Tak lama kemudian, sepasang orang muda yang berbahagia ini pun sudah melarikan kuda, menuju ke Lok-yang.

Karena Cia Sun merupakan seorang keluarga kaisar, bahkan cucu kaisar, seorang pangeran yang pandai bergaul dan terkenal di kalangan para pejabat daerah, maka di sepanjang perjalanan dengan mudah saja dia mendapatkan pelayanan yang penuh penghormatan, mendapatkan tempat bermalam di rumah para kepala daerah, dijamu pesta dan mendapatkan penukaran kuda-kuda baru sehingga perjalanan ini cukup menyenangkan bagi Eng Eng.


***

Yo Han mendaki lereng bukit itu. Bukit Naga. Thian-li-pang berada di lereng paling atas, dekat puncak. Sudah hampir setengah tahun dia merantau, mencari Sim Hui Eng, puteri Pendekar Suling Naga. Namun, usahanya sia-sia. Tak pernah dia berhasil mendengar keterangan tentang penculikan terhadap putri pendekar sakti itu. Dia sudah memasuki dunia kang-ouw, bahkan banyak menundukkan tokoh-tokoh sesat, hanya untuk dimintai keterangan kalau-kalau ada yang mengetahui, siapa yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga dua puluh tahun yang lalu. Akan tetapi semua usahanya, dari bujuk halus sampai kekerasan, tidak ada hasilnya. Agaknya tidak ada seorang pun tahu siapa yang menculik puteri pendekar itu. Penculiknya agaknya lihai dan cerdik bukan main sehingga setelah menculik anak itu, dia seperti menghilang ke dalam bumi membawa anak culikannya!

Akhirnya Yo Han mengambil kesimpulan bahwa tanpa banyak tenaga pembantu, akan sukarlah menemukan anak yang hilang itu. Dia teringat kepada Thian-li-pang. Dia telah dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang dan anak buah Thian-li-pang adalah orang-orang berpengalaman dan memiliki hubungan luas dalam dunia kang-ouw. Mungkin para tokoh kang-ouw yang ditanyainya, merasa enggan untuk membuka rahasia rekan mereka sendiri yang melakukan penculikan, karena dia dianggap sebagai Pendekar Tangan Sakti, seorang pendekar yang menentang kejahatan. Kalau anak buah Thian-li-pang yang melakukan penyelidikan, mungkin akan lebih mudah. Orang-orang kang-ouw tentu akan bersikap lebih terbuka di antara golongan sendiri. Benar sekali, kenapa sejak dahulu dia tidak minta bantuan para anggauta Thian-li-pang, pikirnya menyesali diri sendiri. Paman Lauw Kang Hui tentu akan senang membantuku dan lebih besar harapannya untuk dapat menemukan orang yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga!

Demikianlah, pada pagi hari itu, Yo Han mendaki lereng Bukit Naga. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Thian-li-pang telah terjadi perubahan yang amat besar. Tidak tahu bahwa Lauw Kang Hui dan beberapa orang tokoh Thian-li-pang telah tewas, terbunuh oleh Ouw Seng Bu, yang kini menjadi ketua Thian-li-pang!

Memang Thian-li-pang telah berubah sama sekali semenjak dipegang pimpinannya oleh Ouw Seng Bu. Pemuda yang telah menemukan ilmu silat yang amat hebat ini membiarkan para anggauta Thian-li-pang berbuat apa saja dengan bebasnya. Bahkan dia menjalin hubungan lagi dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti yang pernah dilakukan Thian-li-pang dahulu sebelum muncul Yo Han yang membersihkan perkumpulan pejuang itu, dan Ouw Seng Bu bahkan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan semua kelompok pejuang dengan dia yang menjadi pemimpin besar. Kalau semua kekuatan kelompok pejuang sudah dipersatukan, baik itu dari golongan pendekar maupun golongan sesat, dan dia yang menjadi pemimpin besar, tentu perjuangan mengusir penjajah Mancu akan berhasil. Dan kalau sudah berhasil, dia yang menjadi pemimpin besar, tentu berhak untuk menjadi kaisar kerajaan baru! Besar sekali jangkauan cita-cita pemuda ini.

Setelah secara kebetulan bertemu dengan Cu Kim Giok di dekat Ban-kwi-kok, menolong gadis itu dari ancaman Siangkoan Kok, dan berhasil pula menundukkan bekas ketua Pao-beng-pai yang berjanji untuk membantunya, Ouw Seng Bu mengajak, Kim Giok berkunjung ke Bukti Naga. Cu Kim Giok sudah mendengar tentang perkumpulan Thian-lipang yang di dunia kang-ouw (sungai telaga, atau persilatan) dikenal sebagai sebuah perkumpulan para patriot yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah penjajah. Itulah sebabnya, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Ouw Seng Bu, pemuda tampan dan gagah yang mengaku sebagai ketua Thian-li-pang. Dan di sepanjang perjalana menuju ke Bukit Naga, Kim Giok melihat betapa sikap Seng Bu memang amat baik. Pemuda itu pendiam, juga sopan, juga ramah terhadap dirinya.

Cu Kim Giok adalah puteri tunggal suami isteri pendekar. Ayahnya, Cu Kun Tek, merupakan pendekar keturunan langsung dari keluarga Cu, majikan Lembah Naga Siluman. Ibunya tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya, karena ibunya adalah murid mendiang Bu Beng Lokai. Tentu saja sebagai anak tunggal, Kim Giok telah mewarisi ilmu-ilmu, dari ayah ibunya, dan biarpun usiarya baru delapan belas tahun lebih, Kim Giok telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai. Akan tetapi, tentu saja ia kurang pengalaman karena kali ini merupakan yang pertama ia merantau seorang diri untuk meluaskan pengalamannya. Biarpun demikian, ia sudah membawa banyak bekal nasihat dan pesan kedua orang tuanya. Andaikata Seng Bu bersikap ceriwis terhadap dirinya, terdapat kegenitan dalam pandang mata atau kata-katanya saja, tentu ia akan menjauhkan diri. Akan tetapi, sikap Seng Bu sungguh baik. Dia nampak seperti seorang pemuda pendiam yang sopan dan berwatak pendekar sejati! Inilah sebabnya mengapa Kim Giok mekasa tertarik sekali, kagum dan merasa suka.

Rasa kagumnya semakin bertambah ketika Kim Giok dan Seng Bu tiba di Bukit Naga, di pusat perkampungan Thian-li-pang. Para anggauta Thian-li-pang rata-rata kelihatan gagah perkasa dengan pakaian yang rapi dan bersih, baik prianya maupun wanitanya, dan mereka semua itu menyambut kedatangan Seng Bu dengan sikap yang amat menghormat!

Masih begitu muda, akan tetapi telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pejuang Yang terkenal gagah perkasa. Dan melihat perkampungan Thian-li-pang itu, Kim Giok menaksir bahwa anggauta perkumpulan itu tidak kurang dari seratus orang banyaknya.

Akan tetapi, hati gadis itu merasa penasaran ketika pada keesokan harinya ia melihat lima orang tamu yang datang menghadap ketua Thian-li-pang. Dua orang di antara tamu-tamu itu adalah dua orang tosu (pendeta) berambut panjang yang pada baju di dadanya terdapat lukisan teratal putih. Orang-orang Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih)! Dan tiga orang pendeta lainnya mengenakan gambar pat-kwa (segi delapan) padadadanya. Ia pernah mendengar akan nama perkumpulan pemberontak yang namanya tidak bersih di dunia kang-ouw karena para anggautanya tidak pantang melakukan segala macam kejahatan!

Setelah lima orang tamu itu meninggalkan perkampungan Thian-li-pang barulah Kim Giok memberanikan diri menemui ketua Thian-li-pang untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya. Ia melihat pemuda itu sedang duduk di ruangan rapat yang luas, sedang memberi perintah kepada belasan orang pembantunya. Melihat ini, Kim Giok yang sudah tiba di ambang pintu, mundur kembali. Akan tetapi Seng Bu telah melihatnya dan ketua ini berseru dengan camah.

“Nona Cu, masuk sajalah. Di antara kita orang sendiri tidak ada rahasia. Masuk dan silakan duduk.” Setelah gadis itu memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari mereka yang sedang melakukan perundingan, Seng Bu melanjutkan, “Harap tunggu sebentar, Nona, pembicaraan kami sudah hampir selesai.”

Kim Giok mengangguk dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka, akan tetapi Seng Bu tidak melirihkan suaranya ketika melanjutkan pengarahannya kepada para pembantunya. “Kalian sudah tahu akan tugas-tugas kalian? Terserah kalian membagi tugas, kalian harus ingat apa yang terpenting dalam tugas kalian. Yang pertama menghubungi semua kelompok pejuang, membujuk mereka agar suka bekerja sama dengan mengemukakan alasan seperti yang kujelaskan tadi. Kalau ada yang tidak bersedia bekerja sama, selidiki keadaan mereka, siapa para pemimpinnya dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka agar aku dapat mengambil tindakan. Dan ke dua, selidiki kelemahan-kelemahan yang ada pada keluarga kaisar, terutama orang-orang yang dekat hubungannya dengan kaisar. Sudah mengerti semua?”

Belasan orang itu menyatakan mengerti dan Seng Bu lalu mempersilakan mereka keluar. Sikap pemuda itu demikian tegas dan berwibawa sehingga Kim Giok yang ikut mendengarkan merasa kagum sekali. Setelah belasan orang pembantunya keluar, Seng Bu menghampiri Kim Giok dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Sikapnya seperti biasa amat sopan dan ramah, menghormati gadis yang dianggap sebagai seorang tamu agung di Thian-li-pang.

“Nona Cu, selamat pagi. Maafkan, bahwa aku meninggalkanmu seorang diri karena kesibukanku menerima tamu malam tadi dan memberi tugas kepada para pembantuku. Apakah semalam Nona enak tidur, dan apakah pelayanan kepada Nona tidak ada yang mengecewakan?”

“Terima kasih, Pangcu (Ketua). Pelayanan cukup memuaskan dan aku merasa terlalu disanjung di sini. Pangcu, aku sengaja datang mencarimu karena aku melihat sesuatu yang membuat hatiku merasa penasaran sekali dan aku mengharapkan jawabanmu yang sejujurnya.”

Seng Bu menatap wajah gadis itu. Sejak pertama kali berjumpa, dia telah terpesona. Dia bukanlah seorang pria yang mudah terpikat kecantikan wanita. Akan tetapi, belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis muda seperti Kim Giok. Gadis ini manis sekali dan terutama yang membuat dia terpesona adalah sepasang matanya. Mata itu demikian indahnya. Selain ini, ilmu silat gadis itu pun cukup tinggi, dan sikapnya demikian pendiam dan gagah. Semua ini ditambah lagi kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri pendekar dari Lembah Naga Siluman! Kiranya sukar dicari keduanya gadis seperti ini. Selama ini, Seng Bu sibuk menggembleng diri dengan ilmu yang ditemukan di dalam sumur maut, maka dia pun tidak sempat memikirkan hal lain. Apalagi, dia memang bukan tergolong pemuda yang suka bergaul dengan gadis-gadis cantik. Dan baru sekarang dia merasa kagum dan tertarik kepada seorang gadis.

“Nona Cu, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Kalau ada hal yang membuat engkau merasa penasaran, tanyakanlah dan aku akan menjawab sejujurnya.”Kim Giok juga menatap tajam sehingga dua pasang mata bertaut, seperti saling menyelidik, kemudian Kim Giok berkata, “Pangcu, bukan aku sebagai tamu ingin mencampuri urusan tuan rumah. Akan tetapi, aku suka menjadi tamu Thian-li-pang karena aku merasa yakin bahwa perkumpulanmu ini adalah perkumpulan orang-orang gagah yang merupakan pejuang-pejuang sejati seperti yang pernah kudengar dibicarakan orang di dunia kang-ouw. Aku percaya itu, apalagi setelah aku mengenalmu. Akan tetapi apa yang kulihat hari ini membuat aku merasa penasaran bukan main. Aku melihat para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai menjadi tamu Thian-li-pang! Bagaimana ini? Aku sudah mendengar bahwa kedua perkumpulan itu adalah perkumpulan jahat yang banyak ditentang oleh para pendekar!”

Seng Bu tersenyum, dengan berani menentang pandang mata gadis itu tanpa merasa canggung. “Ah, kiranya itu yang membuatmu penasaran, Nona. Hal ini membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, Nona. Akan tetapi, apakah Nona tertarik oleh urusan perjuangan? Lika-liku perjuangan amat rumit, Nona. Dipandang sepintas lalu dari segi kependekaranmu, memang rasanya janggal kalau melihat kami berhubungan dengan orang-orang dari golongan yang ditentang para pendekar. Akan tetapi, dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan golongan terpaksa harus dikesampingkan. Yang terpenting adalah urusan perjuangan, urusan usaha untuk membebaskan bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah Mancu.”

“Maksudmu bagaimana, Pangcu?”

“Tentu engkau telah mengetahui hampir satu setengah abad negara kita dijajah bangsa Mancu, dan selama satu setengah abad itu semua usaha perjuangan rakyat untuk merebut kembali tanah air selalu gagal. Mengapa begitu? Karena tidak ada persatuan di antara para kelompok yang berjuang! Bahkan banyak kelompok perjuangan yang saling gempur sendiri, bersaing dan memperebutkan kebenaran demi kepentingan pribadi atau golongan. Itulah sebab utama kegagalan perjuangan selama ini, dan kami dari Thian-li-pang melihat kekeliruan itu, maka kini kami berusaha untuk mengubahnya.

“Caranya?”

“Mempersatukan semua golongan, tanpa membedakan mana golongan putih mana golongan hitam, mana golongan pendekar atau mana yang dinamakan kaum sesat. Pendeknya, siapa saja, dari golongan manapun, apa pun pekerjaannya, bagaimana bentuk sepak terjangnya, asalkan dia itu menentang pemerintah penjajah Mancu, dia adalah sekutu kita! Dengan cara ini, maka di seluruh negeri akan terdapat persatuan yang kokoh dan kalau sudah tercapai persatuan itu, maka menggulingkan pemerintah penjajah bukan merupakan masalah yang sukar lagi.”

“Jadi pendirian itukah yang membuat Pangcu tidak memandang bulu dalam memilih sahabat, dan suka menerima Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai sebagai sahabat pula?”

“Benar, Nona. Kalau misalnya Thian-li-pang, Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-pai, yang ketiganya merupakan perkumpulan pejuang, bersatu padu dan bersama-sama menentang penjajah, bukankah itu akan jauh lebih kuat daripada kalau kami berjuang sendiri-sendiri secara terpisah? Apalagi kalau seluruh kekuatan yang ada, baik dari golongan hitam maupun putih, dapat bersatu padu!”

“Tidak dapat disangkal kebenaran pendapat itu, Pangcu. Akan, tetapi kita kaum pendekar bagaimana mungkin bekerja sama dengan kaum sesat? Justeru tugas utama kita adalah untuk menentang segala perbuatan jahat dari kaum sesat, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat tapi jahat!

Ketua yang masih muda itu tersenyum ramah. Dia bicara penuh semangat, akan tetapi tidak terbawa perasaan, masih tetap tenang dan tersenyum sehingga membuat gadis itu pun tidak terbawa dan terseret dalam perbantahan yang memperebutkan kebenaran sendiri.

“Sudah kukatakan tadi bahwa dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan kepentingan golongan harus disingkirkan lebih dahulu. Tanpa sikap seperti itu, bagaimana mungkin ada persatuan dan tanpa persatuan bagaimana mungkin ada kekuatan? Buktinya, semua usaha perjuangan yang lalu selama ini, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam, gagal semua. Karena terpecah-pecah! Kalau kita menuruti kepentingan pribadi dan golongan, misalnya kalau kita tidak mau bersatu dengan golongan sesat dan memusuhi mereka, maka kita akan terpecah belah dan akibatnya melemahkan diri sendiri. Dengan demikian, yang untung adalah pemerintah penjajah! Mengertikah engkau, Nona?”

Cu Kim Giok bukan seorang gadis yang bodoh. Ia termenung dan menelan ucapan ketua itu dalam hatinya, dan mulailah ia mengerti akan apa yang dimaksudkan Seng Bu.

“Aku mengerti, Pangcu. Akan tetapi karena sejak kecil orang tuaku menanamkan jiwa kependekaran dalam hatiku, rasanya amat berat bagiku menerima kenyataan dari kebenaran pendapatmu tadi. Kalau kita para pendekar tidak menentang golongan sesat, bukankah kehidupan rakyat akan menjadi semekin parah dan sengsara, tertindas kejahatan tanpa ada yang membela dan melindungi?”

“Tentu saja kita tidak kalau terjadi kejahatan di depan mata kita, Nona. Kita wajib melindungi menjadi korban kejahatan. Akan tetapi, urusan itu merupakan urusan yarg tidak diutamakan kepentingannya, lebih penting urusan perjuangan sehingga kalau pun kita menentang kejahatan, harus dicegah agar jangan sampai menimbulkan keretakan persatuan antara golongan. Ketahuilah, Nona, bahwa peristiwa kejahatan hanya merupakan akibat dari tidak sehatnya pemerintah. Seperti sebuah penyakit, kejahatan, ketidakamanan, ketidakmakmuran dan bahkan kesengsaraan rakyat hanya merupakan bintik-bintik kecil akibat penyakit itu. Memberantas dan mengobati bintik-bintiknya saja tidak akan banyak manfaatnya karena bintik-bintik itu akan muncul lagi setelah diobati selama penyakitnya masih ada. Kita harus lebih mementingkan pengobatan penyakitnya, sumber penyakit itu sendiri. Dalam hal ini, sumber penyakitnya terletak pada pemerintahan. Bangsa dan tanah air kita dicengkeram penjajah Mancu, tentu saja pemerintahnya tidak sehat dan memeras rakyat jelata. Kalau penjajahan itu dapat kita bongkar dan kita ganti dengan pemerintah bangsa sendiri, maka penyakit itu sembuh pada sumbernya dan tidak akan timbul bintik-bintik berbahaya. Segala bentuk kejahatan akan dapat kita tumpas. Penindasan yang dilakukan para penjahat itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penindasan dan penghisapan yang dilakukan penjajah terhadap kita.”

Kim Giok tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia kagum sekali dan kini ia dapat mengerti sepenuhnya, “Sekarang aku mengerti, Pangcu, dan aku tidak penasaran lagi melihat Thian-li-pang bersahabat dengan golongan sesat, kalau maksudnya untuk mempersatukan tenaga melawan penjajah.”

Sejak percakapan itu, Kim Giok semakin kagum dan tartarik kepada ketua Thian-li-pang itu, dan sebaliknya Seng Bu juga telah jatuh hati kepada puteri Lembah Naga Siluman. Ketika Seng Bu minta agar gadis itu tinggal di Thian-li-pang sebagai tamu kehormatan selama beberapa hari, Kim Giok tidak menolak.

Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Yo Han mendaki Bukit Naga, Cu Kim Giok telah tinggal selama lima hari di perkampungan Thian-li-pang. Hubungannya dengan Seng Bu semakin akrab namun ketua itu masih tetap bersikap sopan dan tidak pernah menyatakan perasaan hatinya. Kim Giok sudah mendengar banyak dari Seng Bu tentang Thian-li-pang, dan ia mendengar pula kisah yang aneh, peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu tentang pembunuhan terhadap ketua Thian-li-pang yang dilakukan oleh seorang yang tadinya dianggap sebagai pemimpin Thian-li-pang, yaitu Sin-ciang Tai-hiap Yo Han. Ia sudah mendengar nama itu, maka menyatakan keheranannya kepada Seng Bu mengapa Yo Han yang dianggap sebagai pemimpin besar malah membunuh ketua Thian-li-pang. Dengan cerdik Seng Bu menceritakan bahwa pembunuhan itu dilakukan Yo Han untuk membalas dendam atas kematian gurunya yang bernama Ciu Lam Hok. Demikian pandainya Seng Bu bercerita sehingga Kim Giok percaya dan gadis ini pun merasa tidak senang kepada pendekar yang di juluki Si Tangan Sakti itu.

Kita kembali kepada Yo Han yang sedang mendaki Bukit Naga dengan santai. Kembali ke tempat ini, di mana selama bertahun-tahun dia hidup dalam sumur maut bersama gurunya, mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, mendatangkan segala macam kenangan lama padanya. Bahkan kenangan itu berkembang sampai akhirnya dia terkenang kepada Tan Sian Li, satu-satunya wanita yang pernah dicintanya sejak dia masih seorang pemuda remaja. Akan tetapi, percakapannya dengan Cia Sun, setidaknya menimbulkan lagi harapan baru dalam hatinya. Ketika dia meninggalkan Sian Li, di rumah orang tua gadis itu yang menjadi suhu dan subonya pertama kali, harapannya sudah hancur luluh. Dia mendengar betapa suhu dan subonya hendak menjodohkan Sian Li dengan seorang pangeran di kota raja! Tentu saja seorang pangeran jauh lebih pantas menjadi suami seorang gadis seperti Si Bangau Merah itu daripada dia! Dia yatim piatu miskin dan papa, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap! Akan tetapi, kebetulan dia bertemu dengan Pangeran Cia Sun, bersahabat bahkan pernah senasib sependeritaan yang mendorong mereka mengangkat saudara. Dan dari adik angkatnya yang pangeran ini dia mendengar bahwa adik angkatnya itulah pangeran yang hendak dijodohkan dengan Sian Li! Akan tetapi, di samping berita mengejutkan itu, terdapat kenyataan yang membuat dia tumbuh lagi semangatnya, timbul pula harapannya, yaitu bahwa Pangeran Cia Sun dan Tan Sian Li tidak saling mencinta. Pangeran itu bahkan mencinta gadis lain, yaitu puteri ketua Pao-beng-pai!

Dalam perjalanannya menuju ke Thian-li-pang, dia pun sudah mendengar akan pembasmian Pao-beng-pai yang dilakukan pasukan pemerintah. Dia mengira bahwa tentu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun, yang melakukan penyerbuan itu, walaupun ada kesangsian di hatinya apakah sang pangeran mau melakukan hal itu mengingat akan cintanya terhadap Siangkoan Eng.

Tiba-tiba Yo Han menghentikan langkahnya dan dia mengerutkan alisnya. Dia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan suara itu makin mendekat, tanda bahwa mereka yang bercakap-cakap itu sedang berjalan menuruni lereng. Yo Han menyelinap ke balik pohon besar. Sudah lama dia meninggalkan Thian-li-pang dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya. Walaupun dia percaya sepenuhnya kepada Lauw Kang Hui yang diserahi pimpinan perkumpulan itu, namun sebaiknya kalau dia menyelidiki keadaannya karena bagaimanapun juga, kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak benar di Thian-li-pang, dialah yang bertanggung jawab. Gurunya berpesan agar dia menyelamatkan Thian-li-pang dari penyelewengan, maka biarpun dia tidak memimpin langsung, dia harus selalu mengawasi.

Mereka yang tertawa-tawa tadi sekarang telah datang dekat dan dari balik batang pohon, Yo Han mengintai. Alisnya terangkat dan kemudian berkerut tidak senang ketika dia melihat dua orang anggauta Thian-li-pang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dua orang pendeta muda yang dari tanda gambar di dadanya diketahuinya sebagai dua orang anggauta Pat-kwa-pai! Dia merasa heran bukan main. Bagaimana mungkin anggauta Thian-li-pang bergaul demikian akrabnya dengan anggaut Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai golongan sesat yang menggunakan kedok perjuangan, atau dapat juga dikatakan pemberontak- pemberontak yang tidak segan menggunakan kejahatan dan kekejaman dalam pemberontakan mereka?

Yo Han menahan diri, ingin tahu lebih banyak, maka dari jauh dia membayangi empat orang itu. Dia tidak mengenal para anggauta Thian-li-pang. Yang dikenalnya hanyalah Lauw Kang Hui dan pimpinannya, bahkan dia tidak tahu nama para pimpinan mudanya satu demi satu. Akan tetapi melihat sikap mereka, siapa lagi mereka itu kalau bukan anggauta Thian-li-pang? Dan mereka telah berada di wilayah Thian-li-pang, maka kehadiran dua orang anggauta Pat-kwa-pai sungguh mencurigakan sekali. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Yo Han untuk membayangi mereka, kadang malah demikian dekat sehingga dia dapat mendengarkan sebagian dari percakapan mereka. Setelah mendengar percakapan itu dia pun yakin bahwa dua orang itu adalah anggauta Thian-li-pang.

“Kenapa kalian khawatir?” terdengar seorang di antara dua anggauta Thian-li-pang itu berkata kepada dua orang tosu itu. “Kalau hanya kami berdua yang menghilang dari tempat penjagaan, tidak akan kentara. Pula siapa sih yang akan berani mendaki Bukit Naga dan mengganggu wilayah Thian-li-pang? Baru mendengar nama Thian-li-pang saja, nyali mereka sudah terbang melayang!” Mereka tertawa-tawa.

“Pula, berapa lamanya untuk sekedar bersenang-senang dengan kalian di dusun bawah sana? Andaikata para pimpinan mengetahui kalau kami pergi bersama kalian, tentu tidak akan dimarahi. Bukankah Thian-li-pang bersahabat baik dengan Pat-kwa-pai?” Kembali mereka tertawa-tawa dan tidak tahu betapa Yo Han mengepal tinju mendengarkan percakapan itu.

Akhirnya, empat orang itu tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Naga. Di dusun itu terdapat sebuah kedai arak dan ke sanalah mereka masuk. Yo Han yang memakai caping lebar, duduk pula dengan memilih tempat jauh di sudut dan capingnya tidak dilepas sehingga mukanya tertutup. Ketika pelayan datang menghampiri, dia memesan arak dan semangkuk bubur.

Terdengar ribut-ribut di meja empat orang itu. Agaknya pemilik kedai arak menghampiri mereka dan menuntut agar mereka lebih dahulu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman yang mereka pesan.

“Sudah terlalu sering teman-teman kalian makan minum di sini tanpa membayar! Aku tidak mau dirugikan, harap kalian suka membayar lebih dulu.” kata pemilik kedai itu, seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang kurus agak bongkok.

Seorang anggauta Thian-li-pang yang tinggi bermuka kuning, bangkit dan bertolak pinggang. “Apa katamu? Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Kami berdua adalah anggauta Thian-ii-pang dan dua orang sahabat kami ini adalah anggauta Pat-kwa-pai. Kami adalah pejuang! Kami adalah pahlawan bangsa, pembela rakyat dan tanah air! Masa hanya mengeluarkan sedikit makanan dan minuman saja bagi kami engkau tidak rela? Kami berjuang dengan taruhan nyawa dan engkau tidak mau menjamu makan minum kepada kami?”

Seorang di antara dua orang tosu Pat-kwa-pai menggebrak meja dan dengan sikap bengis berkata, “Hayo cepat keluarkan hidangan untuk kami atau engkau ingin kedaimu ini kami hancurkan?”

“Kalian sungguh kejam!” Pemilik kedai itu membantah dan mempertahankan miliknya. “Kalau hanya dua tiga orang saja yang datang minta makan minum, kami rela, akan tetapi kalau setiap hari datang dan jumlah kalian sampai puluhan orang selalu minta makan dan minum dengan gratis, kami dapat bangkrut! Kami pun mempunyai keluarga yang harus hidup dari hasil usaha kami yang kecil ini.”

“Jahanam, masih banyak cakap? Engkau memang perlu dihajar!” bentak seorang anggauta Thian-li-pang bermuka kuning tadi dan sekali kaki kanannya terayun menendang, pemilik kedai itu terpelanting keras.

“Penuhi permintaan kami tanpa banyak cakap lagi atau engkau akan kuhajar sampai mampus!” bentaknya.

“Ayah....!” Dari dalam berlari keluar seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan ia segera menubruk ayahnya yang sudah bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.

Melihat gadis itu, yang cukup manis, seorang di antara dua orang anggauta Pat-kwa-pai tersenyum menyeringai dan segera menangkap lengan gadis itu dan menariknya lalu memaksanya duduk di sebuah bangku dekat meja mereka. “Haha-ha, tukang warung. Cepat keluarkan hidangan itu atau kami akan membawa pergi gadismu. Nona, kautemani kami makan minum di dini dan cepat suruh pelayan mengeluarkan hidangan dan arak terbaik.” katanya. Gadis itu tidak berani meronta, bahkan membujuk ayahnya yang sudah bangkit berdiri.

“Ayah, turuti saja permintaan mereka.”

Empat orang itu tertawa bergelak melihat pemilik kedai dengan terhuyung memasuki dapur untuk menyediakan hidangan bagi empat orang itu.

“Manis, engkau lebih bijaksana daripada ayahmu. Untung engkau muncul, kalau tidak tentu ayahmu telah menjadi mayat.” kata si muka kuning sambil mencolek dagu gadis itu.

Gadis itu membuang muka dan berkata, “Kami telah memenuhi permintaan kalian, menyuguhkan hidangan, harap jangan ganggu aku lagi.” Gadis itu bangkit berdiri.

“Duduk saja, engkau tidak boleh pergi.” kata seorang tosu Pat-kwa-pai.

“Aku akan membantu ayah mempersiapkan hidangan untuk kalian.” bantah gadis itu.

“Dan menaruh racun dalam hidangannya, ya? Ha-ha-ha, kami tidak sebodoh itu, Manis. Kami berempat makan minum dan engkau harus menemani kami, ikut pula makan minum sehingga kalau hidangan itu beracun, engkau yang akan lebih dulu keracunan!”

Si muka kuning menekan pundak gadis itu sehingga ia terduduk kembali.

Tiba-tiba terdengar suara lembut namun nadanya mengejek. “Ini rumah makan macam apa, membiarkan empat ekor buaya darat mengotorinya! Sungguh mendatangkan bau busuk sekali, empat orang maling kecil mengaku pejuang seperti empat ekor tikus mengaku harimau!”

Jelas sekali makna ucapan itu dan empat orang tadi tentu saja mengerti bahwa merekalah yang dimaki tikus dan maling! Hampir mereka tidak percaya ada orang berani memaki mereka seperti itu. Mengatakan mereka maling kecil dan tikus. Tentu saja mereka terbelalak dan muka mereka berubah kemerahan ketika mereka menoleh dan memandang ke arah meja di sudut kanan, di mana duduk seorang laki-laki yang mengenakan sebuah caping lebar sehingga muka dan kepala orang itu tertutup sama sekali. Akan tetapi tidak dapat diragukan lagi. Orang bercaping itulah yang mengeluarkan ucapan menghina tadi karena ucapannya datang dari arah itu dan di sudut itu tidak ada orang lain kecuali dia. Serentak empat orang itu meninggalkan gadis puteri pemilik kedai dan dengan langkah lebar mereka menghampiri meja di mana Yo Han duduk.

Yo Han bersikap tenang saja, bahkan kini menuangkan arak ke dalam cawannya yang telah kosong. “Heiii, kaukah yang tadi mengeluarkan ucapan menghina kami!” bentak seorang di antara mereka.

Yo Han mengangkat cawan araknya dan membawanya ke mulut. “Heiii, apakah engkau tuli? Kalau benar engkau yang tadi bicara, coba ulangi ucapanmu kalau engkau berani!” kata si muka kuning yang ingin mendapat kepastian bahwa orang bercaping ini yang tadi bicara. Apalagi melihat orang bercaping itu ternyata masih muda, maka dia agak merasa ragu apakah benar pemuda itu berani mengeluarkan ucapan seperti itu.

“Kalian berempat memang maling kecil dan tikus-tikus busuk. Pergilah!” kata Yo Han, menahan kemarahannya mengingat bahwa dua di antara mereka adalah termasuk anak buahnya sendiri, anggauta Thian-li-pang!

“Jahanam!”

“Keparat!”

Empat orang itu marah sekali dan menggerakkan tangan memukul dari depan belakang dan kanan kiri. Yo Han menggerakkan tangan yang memegang cawan arak ke sekelilingnya dan empat orang itu berteriak dan terhuyung mundur karena muka mereka disiram arak. Biapun hanya arak, dan tidak banyak pula karena isi cawan itu dibagi empat, namun ketika mengenai muka, terutama mata, membuat mereka sejenak tidak mampu membuka mata dan kulit muka terasa perih.

Setelah menggosok-gosok mata dan dapat melihat lagi, empat orang itu mencabut golok mereka dan serentak menyerang sambil memaki dengan kamarahan memuncak. Orang-orang yang sedang makan minum di situ menjadi ketakutan dan berhamburan lari keluar, juga pemilik kedai dan puterinya, beserta para pelayan, sudah bersembunyi di balik meja dengan tubuh gemetar ketakutan.

Yo Han masih tetap duduk, akan tetapi kedua tangan mengambil sepasang sumpit dan juga dua buah mangkok yang kosong. Begitu empat orang dengan golok mereka menyerbu dekat, kembali kedua tangan Yo Han bergerak. Dua sumpit menembus pundak kanan dua orang tosu sehingga golok mereka terlepas dan mereka mengaduh-aduh, sedangkan dua buah mangkok menghantam muka dua orang anggauta Thian-li-pang dengan keres. Dua orang Thian-li-pang itu terjengkang roboh dengan muka berdarah karena mangkok yang menghantam muka mereka tadi pecah-pecah dan melukai mereka. Tidak sampai membunuh mereka, akan tetapi mereka terjengkang roboh dengan muka berlumuran darah dan pingsan! Dua orang tosu terbelalak dan tidak berani melawan lagi, bahkan melarikan diri keluar dari rumah makan itu ketika Yo Han dengan sikap sembarangan saja mencengkeram baju di punggung kedua orang anggauta Thian-li-pang itu dan melempar tubuh mereka yang pingsan ke sudut ruangan itu di mana mereka rebah bertumpuk. Kemudian, dia melanjutkan makan minum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Pemilik rumah makan tadi bersama puterinya segera menghampiri Yo Han dan membungkuk-bungkuk. “Terima kasih atas pertolongan Tai-hiap, akan tetapi.... ah, bagaimana dengan nasib kami? Tentu mereka akan datang dan akan menghancurkan rumah kami, bahkan mungkin kami akan mereka bunuh....”

“Benar apa yang dikatakan Ayah, Tai-hiap,” kata gadis itu sambil menangis. “Harap Tai-hiap suka melepaskan dua orang itu, karena sudah pasti kami yang menderita karena pembalasan mereka.”“ Paman dan Nona, jangan khawatir. Aku akan menanti di sini sampai mereka semua datang. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tidak akan diganggu lagi oleh mereka. Tenang sajalah. Nanti akan kuganti semua kerugian karena kerusakan yang diakibatkan karena keributan ini. Sekarang, tolong tambahkan arak seguci untukku. Aku akan menanti mereka datang semua.”

Biarpun khawatir sekali ayah anak itu tidak berani membantah lagi. Mereka tadi sudah melihat betapa mudahnya pemuda bercaping ini mengalahkan empat orang pengacau, akan tetapi mereka tahu belaka betapa kuatnya Thian-li-pang dan kalau mereka semua itu datang, apakah pemuda itu akan mampu menghadapi mereka seorang diri saja?

Dua orang tosu Pat-kwa-pai yang sedang bermain-main ke Thian-li-pang tadi, tentu saja tidak mau tinggal diam. Mereka terluka dan masing-masing menderita kesakitan dengan sebatang sumpit masih menancap dan menembusi pundak mematahkan tulang pundak, dan dua orang teman mereka ditawan. Mereka cepat mendaki lereng Bukit Naga yang menjadi sarang Thian-li-pang dan sambil meringis kesakitan mereka melapor kepada para anggauta Thian-li-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang perkampungan perkumpulan itu. Tentu saja para anggauta Thian-li-pang menjadi gempar dan marah mendengar bahwa dua orang kawan mereka dirobohkan seorang asing di dusun yang berada di kaki bukit. Mereka segera melapor kepada kepala jaga. Mereka menganggap urusan itu terlalu kecil untuk dilaporkan kepada ketua, bahkan mereka tidak ingin ketua mendengar bahwa mereka tidak mampu membereskan urusan kecil itu.

“Di mana jahanam itu sekarang? tanya seorang murid yang tingkatnya lebih tinggi.

“Di dalam kedai arak dusun itu,” kata dua orang tosu itu.

Murid yang termasuk tingkat atas dari Thian-li-pang itu mengumpulkan empat orang saudara lain. “Kalian tetap berjaga saja di sini, kami berlima yang akan menghajarnya.” katanya dan lima orang yang memiliki tingkat tiga di Thian-li-pang itu segera turun dari lereng bukit sambil berlari cepat.

Sebentar saja, lima orang murid Thian-li-pang yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun ini telah tiba di depan kedai arak itu. Mereka melihat betapa kedai arak itu sepi sekali, dan ada beberapa orang yang mengitai dari jauh dengan sikap ketakutan. Dengan sikap gagah lima orang itu memasuki kedai dan ternyata di dalam ruangan kedai yang biasanya penuh tamu itu, sekarang kosong. Hanya ada seorang tamu sedang minum-minum seorang diri di sudut dan mereka melihat orang itu mengenakan caping lebar sehingga tidak nampak mukanya. Dan mereka melihat pula dua orang adik seperguruan mereka duduk bersandar dinding di lantai sudut itu dengan muka berlumuran darah! Ketika dua orang itu melihat lima orang kakak seperguruan mereka muncul di pintu rumah makan, mereka segera bangkit.

“Suheng, tolonglah kami....” kata mereka dan mereka hendak menghampiri kawan-kawan mereka, akan tetap begitu tangan Yo Han bergerak, dua butir kacang menyambar dan mengenai dada kedua orang itu, membuat mereka mengeluh dan roboh kembali!

Melihat itu, lima orang yang baru datang tentu saja menjadi marah sekali. “Jahanam busuk!” bentak seorang di antara mereka dan lima orang itu serentak menyerang Yo Han dari sekelilingnya. Yo Han masih tetap duduk di atas bangkunya, kedua tangannya bergerak, juga kedua kakinya menyambar dan empat orang pengeroyok roboh terpelanting! Orang kelima yang melihat ini, terbelalak kaget dan dengan jerih dia melangkah mundur. Empat orang yang roboh itu mencoba untuk mencabut pedang dan menyerang lagi, akan tetapi sebelum mereka dapat melakukan serangan, kembali kaki tangan Yo Han bergerak tanpa dia turun dari bangkunya dan empat orang itu roboh kembali, pedang mereka terlepas berkerontangan dan mereka tidak mampu bangkit.

Melihat ini orang ke lima segera meloncat keluar dan melarikan diri ketakutan. Dia tidak tahu bahwa memang Yo Han sengaja melepasnya, dengan maksud agar dia melapor kepada pimpinan Thian-li-pang. Dengan tenang dia lalu turun dari bangkunya, dan bagaikan mencengkeram punggung baju mereka dan melemparkan mereka satu demi satu ke sudut sehingga kini di situ berserakan dan bertumpuk enam orang anggauta Thian-li-pang. Ketika melakukan. ini, enam orang itu dapat sekilas melihat tampangnya dan dua di antara mereka terbelalak.

“Sin.... ciang.... Tai-hiap....” Mereka berbisik dan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya. Tentu saja mereka ketakutan sekali karena mereka telah melawan pemimpin besar Thian-li-pang! Apalagi mereka juga menyadari bahwa mereka telah melakukan penyelewengan besar dari garis-garis yang ditentukan pemimpin besar ini, menyadari bahwa Thian-li-pang telah berubah semenjak ketua Lauw Kang Hui tewas dan pimpinan dipegang oleh Ouw Seng Bu.

Yo Han tidak peduli dan melanjutkan minum seorang diri. Dia harus meluruskan kembali Thian-li-pang seperti pesan mendiang suhunya, yaitu kakek Ciu Lam Hok. Dia sengaja merobohkan para anggauta Thian-li-pang dan menumpuk mereka di sudut ruangan rumah makan itu untuk memancing datangnya para pimpinan Thian-li-pang ke situ, terutama sekali Lauw Kang Hui.

Dia tidak langsung datang ke Thian-li-pang karena maklum betapa besar bahayanya kalau dia melakukan itu. Kalau benar para pemimpin Thian-li-pang sudah menyeleweng dan dia dimusuhi, maka mendatangi pusat Thian-li-pang sama dengan menghadapi buaya besar karena Thian-li-pang memiliki anggauta yang rata-rata kuat, juga para pemimpinya lihai di samping tempat itu berbahaya dan penuh rahasia. Dia harus dapat memancing para pemimpinya keluar ke rumah makan ini, agar lebih leluasa dia turun tangan menghajar mereka dan memaksa mereka ke jalan benar seperti dikehendaki mendiang Ciu Lam Hok gurunya.

Sementara itu, anggauta Thian-li-pang yang ketakutan dan lari pulang, membuat para anggauta lainnya menjadi gempar. Mereka tidak berani menganggap persoalan itu kecil lagi, apalagi ketika rekan mereka menceritakan betapa empat kawannya roboh dengan mudah sekali oleh si caping lebar yang aneh. Mereka lalu berangkat untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.

Ketika itu, ketua Thian-li-pang yang baru, Ouw Seng Bu, sedang menjamu dua orang tamu yang dihormatinya, yaitu Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok. Seperti telah diceritakan dibagian depan, Cu Kim Giok tertarik kepada Ouw Seng Bu dan menganggap pemuda itu seorang ketua perkumpulan besar Thian-li-pang yang tampan, gagah perkasa dan berjiwa patriot, membuat ia merasa tunduk dan kagum bukan main. Adapun Siangkoan Kok, bekas ketua Pao-beng-pai, juga dapat ditundukan Ouw Seng Bu dengan ilmunya yang luar biasa sehingga kini Siankoan Kok yang sudah hancur perkumpulannya itu mau menggabungkan diri untuk menentang pemerintah dan mencari kedudukan yang tinggi. Demikian besar rasa kagum Cu Kim Giok kepada Ouw Seng Bu sehingga ia tidak berkeberatan untuk makan bersama dua orang tosu wakil Pek-lian-kauw dan dua orang tosu wakil Pat-kwa-pai yang datang sebagai tamu Thian-li-pang. Padahal, sejak kecil ia sudah mendengar dari ayah ibunya bahwa pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang banyak melakukan kejahatan, walaupun perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah Mancu. Alasan yang dikemukakan Ouw Seng Bu bahwa untuk menentang penjajah, semau kekuatan harus bersatu, tanpa membeda-bedakan antar golongan putih atau hitam, dapat ia terima bahkan membenarkannya.

Demikianlah, pada saat itu, Ouw Seng Bu, makan minum semeja dengan Siangkoan Kok, Co Kim Giok, dan empat orang tosu, yaitu dua tokoh Pat-kwa-pai dan dua orang tokoh Pek-lian-kauw. Wakil Pat-kwa-pai yang bertubuh tinggi kurus bernama Im-yang-ji, murid kepala dari ketua Pat-kwa-paiyang lihai, bersama adik seperguruannya. Adapun wakil Pek-lian-kauw adalah kui Thian-cu yang sudah kita kenal ketika dia mewakili Pek-lian-kauw hadir dalam pesta yang diadakan Siangkoan Kok ketika masih menjadi ketua Pao-beng-pai, bersama seorang adik seperguruannya pula.Ouw Seng Bu yang merasa bergembira sekali telah mendapatkan dua sekutu yang boleh dibanggakan, Siangkoan Kok yang selain amat lihai juga dapat diharapkan menghimpun banyak orang menjadi anak buah mereka, dan Cu Kim Giok. Gadis puteri majikan Lembah Naga Siluman ini tentu saja merupakan seorang sekutu yang amat besar artinya, karena tentu akan dapat menjadi jembatan agar para tokoh kang-ouw lainnya suka bergabung dengan Thian-li-pang. Selain itu, sejak pertemuan yang pertama kalinya, hati Ouw Seng Bu sudah terjerat dan dia tahu bahwa dia jatuh cinta kepada gadis yang bermata indah, dan amat manis itu.

“Mari kita minum untuk persatuan antara kita yang kokoh kuat untuk menumbangkan penjajah dan mengusir mereka dari tanah air tercinta!” kata Ouw Seng Bu penuh semangat. Enam orang lain yang duduk semeja itu menyambut dengan penuh semangat pula, bahkan Cu Kim Giok merasa bangga karena ia merasa yakin bahwa ayah ibunya tentu akan merasa bangga pula melihat puteri mereka kini bersekutu dengan para pejuang yang hendak menumbangkan pemerintah penjajah Mancu!

Baru saja mereka mengosongkan cawan, seorang anggauta Thian-li-pang tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu. Dia adalah kepala jaga, dan biarpun dalam hal tingkatan, orang ini masih adik seperguruan Ouw Seng Bu, yaitu murid mendiang Lauw Kang Hui, akan tetapi karena kini Ouw Seng Bu telah menjadi ketua dan orang itu bukan lain hanya seorang anak buah, ketua Thian-li-pang yang masih muda itu mengerutkan alisnya dan merasa terganggu.

“Hemmm, ada urusan apa sampai engkau datang mengganggu kami?” bentaknya dengan sikap berwibawa.

“Harap maafkan kelancangan saya, Pangcu. Akan tetapi saya hendak melapor bahwa ada seseorang yang telah merobohkan dan menawan enam orang anggauta kita di kedai arak dusun bawah sana.”

Kerut di antara mata Seng Bu semakin mendalam dan matanya mencorong marah. “Hemmm, muncul seorang pengacau saja kalian tidak mampu membereskannya sendiri dan masih melapor kepada kami?”

“Maaf, Pangcu. Mula-mula, dua orang anggauta kita bersama seorang teman anggauta Pat-kwa-pai dan seorang anggauta Pek-lian-kauw minum di kedai itu, bertemu dengan si pengacau yang merobohkan dua orang anggauta kita, akan tetapi hanya melukai dua orang tosu sahabat dan membiarkan mereka pergi. Dua orang anggauta Thian-li-pang itu ditawannya di kedai. Kemudian, lima orang saudara tua kami turun lereng untuk memberi hajaran. Akan tetapi, empat orang di antara mereka roboh dan ditawan, seorang dapat melarikan diri melapor dan menurut laporannya, empat orang saudara tua itu dalam segebrakan saja roboh oleh pengacau yang bercaping lebar itu.”

“Hemmm....!” Ouw Seng Bu diam-diam terkejut. Yang disebut saudara tua adalah para anggauta yang tingkatnya sejajar dengannya, yaitu murid atau murid keponakan mendiang Lauw Kang Hui. Kalau empat orang di antara mereka roboh dengan mudah oleh pengacau itu, dapat dibayangkan betapa lihainya orang itu.

“Ah, siapa berani melukai anggauta Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?” seru Im Yang-ji, tokoh Pat-kwa-pai dengan marah. Dia sudah mulai mabuk maka mudah sekali panas hati mendengar bahwa seorang anak buahnya dilukai orang. “Toyu, kita harus menghajar orang itu!” katanya kepada dua orang tosu Pek-lian-kauw.

Kui Thian-cu mengangguk dan bangkit berdiri, memberi hormat kepada Seng Bu sambil berkata, “Pangcu, biarlah kami berempat yang menghajar orang itu dan menyeretnya ke sini agar Pengcu dapat menghukumnya. Pangcu tidak perlu marah-marah dan terganggu makan, minum. Sebaiknya, Pangcu, Nona dan Siangkoan Lo-cian-pwe melanjutkan makan minum. Kami berempat akan segera kembali menyeret si pengacau itu.”

Ouw Seng Bu mengangguk dan bangkit berdiri membalas penghormatan empat orang tosu itu. “Kalau Cu-wi hendak menghajar si pengacau yang telah melukai anggauta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, silakan dan harap jangan membunuhnya karena saya ingin melihatnya dan menanyainya mengapa dia berani memusuhi kita.”

Empat orang tosu itu mengangguk dan ke luar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Setelah mereka pergi, Ouw Seng Bu menoleh kepada Cu Kim Giok sambil tersenyum. “Aih, ada-ada saja. Sayang sekali masih terdapat orang-orang yang tidak menghargai perjuangan kita sehingga mereka itu bukan membantu kita, bahkan memusuhi kita dan rela menjadi antek penjajah Mancu. Siapa tidak akan merasa menyesal kalau orang-orang pandai yang termasuk golongan pendekar, seperti Sin-ciang Tai-hiap Yo Han itu, membiarkan dirinya menjadi anjing penjilat dan antek penjajah Mancu”

“Sangat menyakitkan hati memang!” kata Siangkoan Kok sambil menuangkan arak dari cawan ke dalam mulutnya. “Bahkan para pendekar dari keluarga pendekar terbesar di dunia persilatan, rela mengekor kepada penjajah Mancu. Harap maafkan aku, nona Cu. Selama ini, aku belum pernah mendengar keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman menjadi antek Mancu walaupun hubungan keluargamu dekat sekali dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Dua keluarga pendekar itu sejak dahulu membantu penjajah Mancu, sungguh mengecewakan sekali. Apakah mereka tidak tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa liar yang menjajah tanah air dan bangsa? Kita berjuang untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, dan mereka tidak membantu kita malah memusuhi kita!”

Wajah Kim Giok berubah agak kemerahan. Selain pengaruh arak, juga hatinya tersentuh. Ia telah jatuh cinta kepada Ouw Seng Bu dan merasa yakin akan kebenaran pemuda itu, akan kemurnian perjuangan melawan penjajah, dan ia pun tahu bahwa di antara keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, memang terdapat hubungan yang akrab dengan kerajaan Mancu, bahkan ada pertalian hubungan darah. Biarpun ayah ibunya tidak pernah memusuhi kerajaan Mancu secara berterang, akan tetapi juga mereka tidak pernah menjadi pembantu langsung atau pejabat. Akan tetapi, harus diakui bahwa keluarga orang tuanya dekat dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Kini pandangannya kepada Siangkoan Kok juga berubah. Kakek ini adalah seorang pejuang sejati, pikirnya, seperti juga Seng Bu, walaupun kakek ini berwatak keras dan aneh, tidak seperti Seng Bu yang halus dan tampan.

“Biarpun, keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir tidak memusuhi kita secara terang-terangan, namun mereka tidak mau bersatu dengan kita untuk menghancurkan penjajah. Kita harap saja nona Cu akan dapat membujuk mereka dan membuka mata mereka betapa pentingnya perjuangan menentang penjajah. Yang kukhawatirkan hanyalah satu orang saja yaitu Sin-ciang Tai-hiap....”

“Hemmm, orang itu memang berbahaya dan dia pun telah menjadi antek penjajah. Bahkan dia bergaul akrab sekali dengan seorang pangeran Mancu, yaitu Pangeran Cia Sun.” kata Siangkoan Kok yang lalu menceritakan dengan singkat betapa Yo Han dan Pangeran Cia Sun pernah menyelundup ke dalam perkumpulannya, Pao-beng-pai sehingga mengakibatkan perkumpulannya itu dihancurkan pasukan pemerintah. “Jelas bahwa pasukan itu dibawa datang oleh Yo Han dan Cia Sun yang bekerja sebagai mata-mata,” katanya.

“Yo Han memang harus dibasmi. Dia pun merupakan ancaman bagi Thian-li-pang, karena dia pernah diangkat oleh mendiang suhu Lauw Kang Hui sebagai pemimpin Thian-li-pang. Dia dapat sewaktu-waktu muncul di sini dan menggunakan hak kekuasaannya untuk mengubah Thian-li-pang, dari perkumpulan pejuang menjadi perkumpulan pengekor kerajaan Mancu.” kata Seng Bu penasaran.

“Biarpun dia datang. Kita sambut dia dengan pedang aku akan membantumu menundukkannya, Pangcu.” kata Siangkoan Kok yang masih merasa sakit hati kalau teringat kepada Yo Han dan Cia Sun yang dianggap menjadi penyebab kehancuran Pao-beng-pai.

“Akan tetapi, dia lihai bukan main, paman Siangkoan,” kata Seng Bu, “Sebaiknya kalau kita menggunakan siasat untuk menundukkannya, dan kuharap Paman dan juga nona Cu suka membantuku untuk menundukkannya kalau dia berani datang di sini.”

“Tentu saja aku akan membantumu, Pangcu,” kata Kim Giok tanpa ragu lagi, Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang yang jahat, pikirnya, telah mengkhianati Thian-li-pang, membunuh ketua Thian-li-pang, bahkan bergaul dengan Pangeran Cia Sun dari kerajaan Mancu. Yo Han telah membunuh banyak tokoh Thian-li-pang dan orang sejahat itu memang harus ditentang.

“Kalau perlu, kita minta bantuan tenaga ketua Pek-lian-kauw dan ketua Pat-kwa-pai,” kata Siangkoan Kok yang diam-diam juga merasa jerih terhadap Sin-ciang Tai-hiap.

“Memang aku sudah mempunyai rencana, dan sudah mengirim surat kepada mereka,” kata Seng Bu.

Mereka melanjutkan makan minum dan merasa yakin bahwa dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat kwa-pai tadi akan mampu membereskan kerusuhan dan menyeret pengacaunya ke markas Thian-li-pang.


***


Empat orang tosu itu memasuki rumah makan dengan hati-hati, dan di belakang mereka nampak dua belas orang anggauta Thian-li-pang tingkat tertinggi, siap dengan pedang di tangan. Ketika mereka memasuki pintu depan rumah makan, Kui Thian-cu tokoh Pek-lian-kauw yang memimpin rombongan. itu, memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti. Tadi dia sudah merundingkan dengan Im-yang-ji dan dua orang tosu lain untuk mempermainkan pengacau yang berada di rumah makan itu dengan mempergunakan kekuatan sihir. Kini, mereka berempat mengerahkan kekuatan sihir, mempersatukan kekuatan mereka, mulut mereka berkemak-kemik membaca mantram, mata mereka memandang ke arah caping yang menutupi kepala dan muka Yo Han, kemudian mereka menudingkan telunjuk kanan ke arah caping itu. Kui Thian-cu yang menjadi juru bicara mereka berempat, segera berkata dengan suara bergema dan mengandung kekuatan sihir.

“Caping yang berada di atas kepala pengacau, terbanglah ke sini!”

Para anggauta Thian-li-pang yang bergerombol di luar pintu rumah makan itu terbelalak heran dan kagum melihat betapa caping yang menutupi kepala orang yang duduk membelakangi mereka di sudut itu tiba-tiba saja terbang melayang ke atas meninggalkan kepala itu, dan empat orang tosu itu sudah siap untuk mentertawakan Yo Han. Akan tetapi wajah mereka yang tadinya menyeringai itu berubah seketika ketika caping yang melayang ke atas itu kini menyambar ke arah mereka seperti peluru yang berputar-putar mengeluarkan suara berdesing! Tentu saja mereka terkejut bukan main dan mereka cepat mengelak. Caping itu seperti berubah menjadi seekor burung elang yang menyambar-nyambar kepala mereka sehingga mereka sibuk berloncatan ke sana-sini. Akhirnya, setelah gagal memperoleh korban caping itu melayang kembali ke arah kepala pemiliknya dan hinggap di atas kepala seperti burung terbang kembali ke sarangnya! Kini empat orang tosu itu saling pandang, maklum bahwa pemilik caping itu telah mempermainkan mereka dan bahwa kekuatan sihir mereka tadi sama sekali tidak berhasil!

Kui Thian-cu yang melihat betapa ruangan itu terlalu sempit dan banyak terhalang meja dan bangku sehingga kawan-kawannya tidak akan leluasa untuk mengeroyok lawan yang agaknya amat lihai ini, segera membentak, “orang bercaping sombong! Engkau berani melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw. Kalau engkau memang berkepandaian, dan bukan seorang pengecut, keluarlah dan mari kita mengadu kepandaian di luar yang luas! Kalau engkau tidak mau keluar, kami akan membakar rumah ini!” Setelah berkata demikian, Kui Thian-cu memberi isyarat dan bersama teman-temannya, dia pun melangkah keluar dan menanti di luar rumah makan.

Mendengar ucapan yang bernada mengancam itu, pemilik kedai dan puterinya menjadi ketakutan, nekat keluar dari persembunyian mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han.

“Tai-hiap.... tolonglah.... harap Tai-hiap keluar dari sini dan berkelahi diluar saja....jangan sampai rumah kami dibakar....!”

Juga enam orang anggauta Thian-li-pang yang masih meringkuk di sudut ruangan itu dan tidak berani bergerak, menjadi pucat ketakutan. Mereka sejak tadi takut pergi dari situ, takut kalau dirobohkan lagi oleh si caping lebar yang amat lihai. Akan tetapi sekarang ada ancaman dari tosu tadi, kalau mereka diam saja di situ, tentu mereka akan ikut terbakar!

Yo Han tentu saja tidak ingin merugikan si pemilik rumah makan, tanpa menjawab dia pun menyambar buntalan pakaiannya, menggendong buntalan pakaiannya, mengeluarkan sepotong emas dan melemparkannya ke atas meja.

“Ini untuk pengganti semua kerugianmu, Paman,” katanya sambil melangkah keluar perlahan-lahan. Tentu saja ayah dan anak itu terkejut dan gembira bukan main. Pemberian itu puluhan kali lebih banyak daripada kerugian yang mereka derita.

Sementara itu, ketika si caping lebar melangkah lambat-lambat keluar dari rumah makan, empat orang tosu dan selosin anggauta Thian-li-pang memandang dengan hati tegang. Yo Han melangkah dengan muka ditundukkan sehingga mereka belum dapat melihat wajahnya. Setelah tiba di depan empat orang tosu itu, Yo Han berhenti melangkah.

“Heiii, orang asing!” bentak Kui Thian-cu marah. “Siapakah engkau dan apa pula sebabnya engkau melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-liankauw?”

Tanpa mengangkat mukanya yang menunduk dan tertutup caping, Yo Han menjawab, suaranya terdengar dingin, “Sejak dahulu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw adalah penjahat-penjahat yang berkedok perjuangan, tidak aneh kalau hari ini mereka melakukan kejahatan. Akan tetapi, Thian-li-pang adalah pejuang-pejuang sejati, sekarang anak buahnya menyeleweng, patut disesalkan dan dibuat penasaran!”

“Keparat, enak saja engkau membuka mulut! Perlihatkan mukamu, atau engkau begitu pengecut untuk memperkenalkan diri?”

“Kui Thian-cu, aku bukan orang asing bagimu,” kata Yo Han dan kini dia mengangkat mukanya sehingga sekilas nampak wajahnya, akan tetapi dia sudah menunduk kembali. Mereka yang sudah mengenalnya, terkejut, termasuk Kui Thian-cu.

“Ah, kiranya Sin-ciang Tai-hiap? Sejak kapan engkau memusuhi Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?”

“Kui Thian-cu, aku tidak memusuhi siapapun, akan tetapi akan menghajar siapa saja yang berbuat jahat. Anak buah Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai melakukan kejahatan bersama anak buah Thian-li-pang yang menyeleweng, maka kuhajar mereka. Pergilah dan jangan mencampuri urusanku dengan Thian-li-pang, ini merupakan urusan dalam Thian-li-pang sendiri.”

Akan tetapi Kui Thian-cu sudah marah sekali, apalagi memang dia tahu bahwa ketua Thian-li-pang, sekutunya, harus membunuh orang ini yang merupakan ancaman bagi perkumpulan itu, “Serang dan bunuh dia!” bentaknya dan dia pun sudah menggerakkan pedangnya, diikuti Im Yang-ji dan dua tosu lain yang sudah mencabut pedang. Yo Han dikeroyok empat orang tosu!

Yo Han bergerak cepat, tubuhnya berkelebatan dan menyelinap di antara gulungan sinar empat batang pedang itu. Sementara itu, selosin anak buah Thian-li-pang tadi terkejut bukan main ketika melihat wajah Yo Han. Akan tetapi, mereka semua telah menjadi anak buah Ouw Seng Bu dan mereka sudah ikut melakukan penyelewengan, maka tentu saja mereka pun tidak menghendaki Yo Han yang berkuasa di Thian-li-pang karena hal itu akan berarti hilangnya semua kesenangan yang selama ini mereka peroleh semenjak Seng Bu menjadi ketua. Maka, mereka pun serentak ikut mengeroyok!

Seorang di antara mereka diam-diam sudah lari naik ke lereng bukit untuk melapor kepada ketuanya. Ketika dia tiba di pusat, Thian-li-pang, Ouw Seng Bu yang menjamu Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok, baru saja selesai makan minum.

“Celaka, Pangcu. Sin-ciang Tai-hiap Yo Han telah muncul. Dialah orang yang mengacau tadi!” anggauta itu melapor dengan suara gemetar.

Mendengar ini, Ouw Seng Bu meloncat bangkit dan dia nampak gugup. Akan tetapi, melihat Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok di situ, dia menenangkan diri. “Di mana dia sekarang?”

“Dia berada di luar rumah makan, dikeroyok oleh keempat orang tosu dan sebelas orang anggauta kita, Pangcu. Saya lari pulang untuk melapor kepada Pangcu.”

Ouw Seng Bu yang amat cerdik itu bertindak cepat sekali. “Paman Siangkoan Kok, harap Paman tidak memperlihatkan diri kepada Yo Han dan bersembunyi di dalam kamar Paman. Nona Cu, harap engkau beritirahat di dalam kamarmu sampai nanti aku memberitahukan segalanya kepadamu. Aku akan menghadapi Yo Han dan menerimanya dengan baik-baik untuk mencegah jatuhnya banyak korban.” Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok mengangguk dan mereka pergi ke kamar masing-masing yang sudah diberikan kepada mereka sejak mereka tiba di situ.

Ouw Seng Bu cepat mengumpulkan anak buahnya dan dengan tegas memesan agar mereka semua memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada Yo Han dan bersikap seperti dahulu agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Pendekar Tangan Sakti. Kemudian, dia menuju ke kamar Cu Kim Giok dan mengetuk daun pintunya.

Setelah Cu Kim Giok muncul, Ouw Seng Bu berkata, “Nona Cu, sekarang saatnya engkau membantuku. Aku ingin menalukkan Yo Han tanpa mendatangkan banyak korban, dan aku akan berpura-pura tidak tahu bahwa dia yang telah menyebar pembunuhan di sini. Engkau bersikaplah sebagai seorang tamuku, seorang sahabat baikku....”

“Tapi, apa manfaatnya kehadiranku....”

“Banyak sekali, Nona. Engkau akan menimbulkan kepercayaan di hatinya bahwa kita tidak mempunyai maksud tertentu terhadap dirinya. Kalau melihat engkau sebagai tamuku, pasti dia akan percaya kepadaku. Marilah, Nona, aku.... sungguh aku membutuhkan pertolonganmu. Ataukah.... engkau begitu tega tidak mau membantuku?” Ouw Seng Bu. Sudah dapat melihat selama dia bergaul dengan Kim Giok bahwa gadis itu pun membalas perasaan hatinya, bahwa. gadis itu pun jatuh cinta kepadanya, maka dia mempergunakan sikap lunak dan menarik rasa iba gadis itu. Dia berhasil, Cu Kim Giok mengangguk.

“Baiklah, Pangcu. Aku akan, membantumu.”

“Engkau tidak perlu bicara atau berbuat apa pun, hanya mengaku saja bahwa engkau menjadi sahabatku. Nah, aku tidak ingin menyuruhmu berbuat jahat atau berbohong bukan?”

Mereka berdua segera berlari cepat menuruni lereng bukit dan ketika mereka memasuki dusun dan tiba di depan kedai arak, mereka berdua tertegun.

Apa yang telah terjadi? Yo Han dikeroyok oleh empat orang tosu lihai dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, juga oleh sebelas orang murid Thian-li-pang tingkat atas. Para pengeroyok itu semua menggunakan pedang sedangkan Yo Han bertangan kosong! Akan tetapi, tubuhnya yang dapat dibuat ringan seperti bayangan itu berkelebatan di atas belasan batang pedang dan setiap kali terbuka kesempatan, begitu kaki atau tangannya bergerak menyambar, tentu seorang pengeroyok dapat dirobohkan! Dia mengenal gerakan silat orang-orang Thian-li-pang, mengenal cakar beracun mereka, maka dengan mudah dia dapat mengenal bagian lemah mereka sehingga setiap kali dia menggerakkan tangan atau kaki, seorang anggauta Thian-li-pang terjungkal. Dia tidak mau membunuh mereka, hanya merobohkan dan membuat mereka tidak mampu bangkit kembali karena patah tulang atau menotok mereka sehingga tidak mampu beegerak kembali. Akhirnya, sebelas orang Thian-li-pang roboh tak dapat bangkit kembali dan tinggal dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat-kwa-pai saja yang masih mengeroyoknya dengan serangan membabibuta karena sejak tadi, serangan pedang mereka tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu.

“Orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, kalian pergilah. Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian dan jangan mencampuri utusan kami orang-orang Thian-li-pang!” dua kali Yo Han menegur dan menyuruh mereka pergi.

Ketika empat orang itu terus mengamuk tanpa mempedulikan kata-katanya, Yo Han menjadi marah. “Kalian ini orang-orang bandel yang pantas menerima hajaran!” Dia pun bergerak cepat, menggunakan ilmu silat Bu-kek Hoat-keng dan angin berpusing cepat sekali, membuat empat orang tosu itu ikut terputar dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, pedang mereka beterbangan lepas dari tangan dan mereka pun seperti dilontarkan tenaga yang amat kuat, terlempar dan terbanting sampai beberapa meter jauhnya! Agaknya Si Tangan Sakti memang tidak ingin membunuh mereka sehingga mereka hanya terbanting keras tanpa menderita luka parah.Pada saat mereka terbanting itulah, Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok menuruni lereng. Ouw Seng Bu mengenal gerakan Yo Han itu. Dia pun merasa sanggup bergerak menimbulkan angin berpusing seperti itu seperti yang pernah dia pelajari dalam sumur!

Empat orang tosu mendapat hati ketika melihat Seng Bu. Mereka dengan muka meringis kesakitan karena pinggul mereka tadi terbanting keras, bangkit menyongsong kedatangan Seng Bu.

“Pangcu....” kata mereka, akan tetapi Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat.

“Harap To-tiang berempat suka memaafkan kami dan meninggalkan tempat ini. Biarkan kami menyelesaikan urusan dalam Thian-li-pang.”

Empat orang tosu itu merasa heran, akan tetapi karena mereka sudah maklum bahwa ketua baru itu tentu akan menggunakan siasat, mereka pun memberi hormat,dan pergi dari tempat itu tanpa banyak cakap lagi. Kini Seng Bu berdiri berhadapan dengan Yo Han dan keduanya saling pandang.

“Kiranya Sin-ciang Tai-hiap yang datang! Harap maafkan siauwte dan para anggauta Thian-li-pang yang tidak tahu akan kedatangan Tai-hiap dan tidak sempat menyambut seperti mestinya.” Dia memberi hormat.

Yo Han mengerutkan alisnya, memandang penuh selidik. Dia tadi mendengar Kui Thian-cu menyebut “pangcu” kepada pemuda tampan ini! Dengan sikap tenang namun suaranya tegas dan menyelidik, Yo Han berkata, “Wajahmu tidak asing bagiku. Bukankah engkau seorang di antara para murid suheng Lauw Kang Hui? Kenapa tosu tadi menyebutmu sebagai pangcu? Di mana suheng Lauw Kang Hui dan apa yang terjadi dengan Thian-li-pang? Mengapa bersahabat dengan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan mengapa pula ada murid Thian-li-pang yang dapat melakukan kejahatan di dusun ini?”

Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, Seng Bu merasa seperti dihujani serangan yang berbahaya. Dia memberi hormat lagi. “Tai-hiap, banyak sekali hal-hal yang amat hebat telah terjadi di tempat kita. Suhu.... suhu telah....mati dibunuh orang.... dan aku terpaksa untuk sementara mewakili dan diangkat menjadi pangcu karena tidak ada orang lain yang dapat memegang kedudukan itu sebagai pemimpin sementara. Suhu Lauw- Kang Hui dibunuh orang, demikian pula suci Lauw Sek, suheng Lauw Kin, susiok Su Kian den susiok Thio Cu. Semua tewas dibunuh orang....”

“Ahhh??” Yo Han benar-benar merasa terkejut. “Siapakah yang membunuh mereka?”

“Panjang ceritanya, Taihiap. Marilah, ktta naik ke tempat kita dan di sana nanti aku menceritakan semuanya. Banyak sekali rahasia tersembunyi di balik semua peristiwa yang mengerikan itu, Taihiap.”

Yo Han masih mengerutkan alisnya, akan tetapi dia mengangguk dan ketika mereka mulai mendaki bukit dan melihat gadis manis yang datang bersama Ouw Seng Bu ikut pula mendaki, dia berhenti dan bertanya.

“Nanti dulu, siapakah Nona ini?” “Taihiap, Nona ini adalah nona Cu Kim Giok, ia seorang sahabat baikku dan sekarang menjadi tamu terhormat di Thian-li-pang. Ia bukan gadis sembarangan, Taihiap. Kuyakin Taihiap pernah mendengar tentang keluarga majikan Lembah Naga Siluman, yaitu keluarga Cui Nah, Nona ini adalah puteri dari pendekar besar Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman.”

“Ahhh, kiranya Nona dari keluarga yang terkenal itu,” kata Yo Han sambil memberi hormat.

Kim Giok cepat membalas penghormatan itu. “Harap Yo-taihiap tidak bersikap merendah. Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Taihiap. Sayang dalam pertemuan tiga keluarga besar di rumah Paman Suma, Ceng Liong di Hong-oun, Taihiap tidak ikut hadir.”

Yo Han tersenyum dan sejenak mamandang gadis itu penuh selidik. “Jadi engkau adalah sahabat baik dari.... eh, ketua Thian-li-pang ini?”

“Benar, dan baru beberapa hari aku menjadi tamu dari Thian-li-pang.”

“Taihiap agaknya sudah lupa kepadaku. Aku murid termuda dari mendiang suhu Lauw Kang Hui, namaku Ouw Seng Bu,” ketua itu memperkenalkan diri.

Yo Han mengangguk-angguk. “Ya, aku sekarang teringat. Jadi semua murid tertua dari suheng Lauw Kang Hui telah dibunuh orang?”

Diam-diam Cu Kim Giok mengerling dan mengamati wajah pendekar itu. Menurut cerita yang didengarnya dari. Seng Bu, orang inilah yang membunuh Lauw Kang Hui dan para muridnya. Apakah sekarang dia berpura-pura? Ataukah ada rahasia lain di balik pembunuhan itu dan pembunuhnya bukan Sin-ciang Tai-hiap melainkan orang lain? Wajah tampan dengan sinar mata tajam mencorong itu sukar diduga apa yang terkandung dalam hatinya.

“Taihiap, nanti saja akan kuceritakan semua setelah kita tiba di rumah.” kata Seng Bu dan Yo Han mengangguk. Mereka lalu mendaki lereng bukit dan ketika mereka tiba di pintu gerbang perkampungan Thian-li-pang, para murid Thian-li-pang menyambut mereka dengan sikap meriah dan gembira.

“Sin-ciang Tai-hiap telah datang!” demikian mereka berteriak dan bersorak sambil memberi hormat.

Yo Han menerima penyambutan itu dengan senyum, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran bukan main. Betapa jauh bedanya antara sikap, para anggauta Thian-li-pang yang berada di perkampungan ini dengan mereka yang tadi berada di dusun! Seolah tidak wajar lagi!

Setelah mereka memasuki ruangan dalam, Seng Bu berkata kepada Cu Kim Giok, “Nona Cu, maafkan saya, harap Nona suka beristirahat dan meninggalkan kami berdua untuk membicarakan soal perkumpulan kami.”

Cu Kim Giok mengangguk, lalu meninggalkan ruangan utu. Seng Bu menutup pintu ruangan itu, kemudian dia pun mempersilakan Yo Han untuk duduk.

Yo Han duduk dan menghela napas panjang. “Nah, sekarang ceritakanlah semua. Apa yang telah terjadi di sini? Cerutakan semua dengan jelas.”

Tiba-tiba Ouw Seng Bu menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han sambil menangis! Yo Han mengerutkan alisnya dan menegur dengan tegas, “Ouw Seng Bu, sikapmu ini sungguh memalukan sekali! Engkau telah ditunjuk sebagai ketua, akan tetapi anak buah Thian-li-pang menyeleweng, Thian-li-pang mengadakan persekutuan dengan partai-partai sesat seperti Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, dan sekarang engkau menangis seperti anak kecil atau seperti wanita lemah, yang cengeng. Engkau tidak patut menjadi ketua Thian-li-pang!”

“Yo-taihiap, harap maafkan dan kasihanilah saya! Saya terpaksa menjadi ketua karena tidak ada orang lain lagi. Hanya sayalah satu-satunya murid mendiang suhu yang dianggap paling kuat. Akan tetapi, setelah suhu dan para susiok dan suheng tewas, saya menjadi bingung dan tidak dapat mengendalikan semua murid, tidak dapat mencegah kalau ada yang melakukan penyelewengan. Mereka itu condong untuk memberontak dan saya tidak berdaya menghadapi mereka. Juga saya tidak berani menolak ketika Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw melakukan pendekatan, takut kalau-kalau mereka akan memusuhi kami. Sekarang Tai-hiap telah pulang, maka saya menyerahkan kepada Tai-hiap untuk mengatur kembali perkumpulan kita ini.”

“Sudahlah, duduklah dan sekarang ceritakan apa yang terjadi dan bagaimana suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain sampai dibunuh orang, dan siapa pembunuh mereka itu.”

Seng Bu duduk dan menghapus air matanya. “Peristiwa yang terjadi itu amat mengerikan dan penuh rahasia, Yo-taihiap. Kami hanya melihat ada bayangan hitam yang menangkap mereka seorang demi seorang dan membawa mereka masuk ke dalam sumur tua itu. Dan setelah mereka itu dibawa masuk sumur, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya dan kami semua menganggap bahwa mereka tentu telah tewas terbunuh.”“Hemmm, siapakah bayangan hitam itu?” Yo Han bertanya, alisnya berkerut, penasaran sekali.

“Itulah yang membuat kami semua penasaran, Tai-hiap. Tak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat bayangan hitam seperti setan, menangkap mereka dan membawa loncat ke dalam sumur. Tentu saja peristiwa itu membuat semua anggauta menjadi panik dan ketakutan, dan untuk meredakan kepanikan mereka, terpaksa saya untuk sementara menggantikan kedudukan suhu dan memimpin mereka.”

“Akan tetapi, kenapa kalian tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikit apa yang terjadi di sana? Siapa tahu suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain belum tewas?”

Seng Bu kelihatan terkejut dan ketakutan. “Maafkan kami, Yo-taihiap. Tentu saja kami juga berpikir demikian, mengharapkan mereka belum tewas dan sewaktu-waktu akan muncul keluar. Akan tetapi, untuk menyelidikinya, untuk memasuki sumur tua itu, siapa yang berani?”

“Tidak berani? Aih, tak kusangka orang-orang Thian-li-pang berubah menjadi penakut dan pengecut!” Lalu sambil menatap tajam wajah Seng Bu dia melanjutkan, “Dan engkau sendiri, yang telah menerima menjadi ketua, kenapa engkau tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikinya?”

Seng Bu menundukkan mukanya. “Maafkan kami semua, Yo-taihiap. Sebetulnya kami ingin sekali, akan tetapi kami takut. Kalau suhu dan para susiok, suci dan suheng sendiri tidak berdaya dibawa masuk ke sumur oleh bayangan hitam itu, lalu bagaimana mungkin kami akan mampu menandinginya? Memasuki sumur berarti mati konyol, dan kami semua, tidak berani.”

Yo Han menghela napas panjang, teringat akan mendiang kakek Ciu Lam Hok. Gurunya itu adalah seorang yang gagah perkasa, bahkan kedua orang paman gurunya, mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, biarpun keduanya menyeleweng dari jalan kebenaran, tetap saja mereka berdua adalah orang-orang yang gagah perkasa. Demikian pula murid mereka, Lauw Kang Hui, memiliki keberanian dan kegagahan. Akan tetapi bagaimana sekarang para murid Thian-li-pang begitu penakut dan pengecut? Gurunya berpesan agar dia mengawasi Thian-li-pang dan mengusahakan agar Thian-li-pang pulih kembali menjadi perkumpulan besar yang berjiwa pahlawan pembela nusa bangsa.

“Sudah berapa lamakah peristiwa hilangnya suheng Lauw Kang Hui ke dalam sumur tua itu terjadi?”

“Sudah kurang lebih tiga bulan, Yotaihiap.”

Yo Han merasa penasaran dan khawatir. Kalau sampai tiga bulan mereka tidak keluar dari dalam sumur tua itu, kecil sekali harapannya mereka masih hidup. Akan tetapi, mati atau hidup mereka itu, dia harus mengetahui dengan pasti.

“Baik, kalau begitu biar aku sendiri yang akan memasuki sumur itu dan melakukan penyelidikan.” Yo Han berkata.

Ouw Seng Bu memandang dengan mata terbelalak. “Akan tetapi, Tai-hiap. Itu berbahaya sekali!!”

Yo Han tersenyum, “Seorang gagah tidak gentar menempuh bahaya, asal itu dilakukan demi kebaikan. Lupakah engkau akan pelajaran kegagahan dari Thian-li-pang?”

“Be.... benar, Tai-hiap. Akan tetapi.... sumur tua itu penuh rahasia dan menyeramkan, tentu banyak iblis menjadi penghuninya di sana dan tak seorang pun berani memasukinya. Saya takut kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Taihiap....”

“Mati hidup di tangan Tuhan. Aku tidak minta ditemani siapapun kalau memang kalian takut. Biar aku sendiri yang masuk dan kalian berjaga di luar sumur raja. Sediakan sehelai tali yang kuat dan panjang, sekaran juga aku akan memasuki sumur menyelidiki keadaan suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain.”

“Baik, Taihiap.”

“Dan mulai saat ini, Thian-li-pang harus memutuskan hubungan dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw. Para murid dilarang bergaul dengan mereka, dan kalau ada yang melanggar, akan dihukum berat. Dua orang anggauta Thian-li-pang yang membuat kerusuhan di rumah makan, harus dihukum kurung selama sepekan. Nah, laksanakan!”

“Baik, Taihiap.” Ouw Seng Bu membuka daun pintu dan berseru memanggil pembantunya. Para murid kelas tertinggi dari Thian-li-pang datang berlarian dan berkumpul di luar pintu ruangan itu. Seng Bu lalu berkata dengan suara lantang kepada mereka.

“Seluruh anggauta agar bersiap-siap dan berkumpul di dekat sumur tua dan sediakan sehelai tambang yang kuat dan panjang. Sin-ciang Tai-hiap sendiri akan turun ke dalam sumur melakukan penyelidikan sekarang juga!”

Terdengar seruan-seruan kaget di antara para anggauta Thian-li-pang, akan tetapi mereka segera menanti perintah ketua mereka dan diantar oleh Ouw Seng Bu pergi ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang dan tiba di dekat sumur tua. Sumur pertama yang pernah menjadi tempat tahanan kakek Ciu Lam Hok yang berada di tempat itu juga, tidak terlalu jauh dari situ, telah ditutup dengan batu-batu sehingga tidak nampak lagi lubangnya. Sumur ke dua ini lebih besar, juga amat dalam karena kalau dijenguk dari atas, tidak nampak dasarnya, hanya gelap menghitam. Sebetulnya, tanpa tambang sekalipun Yo Han akan mampu menuruni sumur itu dengan merayap, akan tetapi lebih mudah menggunakan tali, juga untuk naik kembali, mudah kalau ada talinya.

Hampir seratus orang anggauta Thian-li-pang sudah berkumpul di tempat itu, mengelilingi sumur tua, wajah mereka tegang. Seorang di antara mereka menyerahkan segulungan tali yang kuat dan panjang kepada Ouw Seng Bu.

“Tai-hiap, apakah tali ini memenuhi syarat?” tanya Seng Bu sambil memperlihatkan tali itu kepada Yo Han. Yo Han menerima gulungan tali, kemudian melepas ujungnya ke dalam sumur setelah ujung itu diikatkan kepada sebongkah batu. Ternyata sumur itu dalam sekali dan sampai lama barulah batu di ujung tali tiba pada dasar sumur dan tali itu memng cukup panjang dan kuat. Setelah batu tiba pada dasar sumur dan tali mengendur, masih ada sisa tiga empat meter, Yo Han melibatkan sisa tali itu pada sebatang pohon dekat sumur, lalu menyerahkan ujungnya kepada Seng Bu.

“Jaga dan pegangi ujung tali ini, aku akan segera turun ke bawah. Kalau aku sudah memberi tanda tarikan tiga kali pada tali kau boleh tarik aku keluar.”

“Baik, Yo-taihiap. Harap Taihiap berhati-hati, siapa tahu ada bahaya mengintai di bawah sana.” kata Seng Bu.

“Jangan khawatir, aku sudah siap menghadapi apa saja,” kata Yo Han. Setelah berkata demikian, Yo Han menuruni sumur malalui tali yang ujungnya dipegang oleh Seng Bu, bagaikan seekor monyet saja, dengan cekatan dia menuruni tali itu, waspada memperhatikan ke bawah karena dia maklum bahwa seperti yang dikatakan Ouw Seng Bu tadi, mungkin di bawah sana mengintai bahaya yan mengancam keselamatannya. Sama sekali Yo Han tidak pernah mengira bahwa bahaya mengintai dari atas, bukan dari bawah! Tadi dia telah menduga bahwa sumur ituu menyerong, yaitu ketika dia mengulur tali yang ujungnya digantungi batu. Batu itu tadi menyentuh dinding sumur dan menggelinding ke bawah, tidak lagi tergantung bebas. Itu berartu bahwa sumur itu menyerong, tidak lurus ke bawah. Kini ternyata memang benar. Tubuhnya menyentuh dinding sumur yang kasar dan dia merayap terus. Dan nampaklah sinar dari samping, yang tidak nampak dari atas karena letaknya yang menyerong itu. Dan begitu kakinya menyentuh lantai batu, dia pun melihat lima sosok mayat yang sudah tinggal tulang dibungkus pakaian yang robek-robek. Lima orang! Dia teringat akan keterangan Ouw Seng Bu yang menceritakan bahwa yang dibawa masuk ke dalam sumur oleh bayangan hitam adalah Lauw Kang Hui, Su Kian, Thio Cu, Lauw Kin dan Lu Sek. Lima orang tokoh Thian-li-pang telah benar-benar tewas di dasar sumur! Akan tetapi kedudukan lima sosok mayat itu bertumpuk, nampaknya seperti dilemparkan dari atas!

Bersambung ke buku 6