Suling Naga -14 | Kho Ping Hoo



Buku 14

“Tepat sekali, cihu! Kita membuat undangan dan juga undangan terbuka ditujukan kepada seluruh orang kang-ouw. Aku akan membantu penyebaran surat undangan itu ke seluruh dunia kang-ouw, cihu!”

Gembiralah hati Cin Liong dan isterinya. Mereka segera kembali ke Pao-teng dan membuat persiapan. Pesta ulang tahun itu tentu makan banyak biaya, apa lagi kalau yang datang benkunjung nanti banyak sekali orang. Akan tetapi mereka berdua siap untuk menghabiskan semua harta simpanan mereka untuk keperluan itu, karena apa artinya semua harta itu kalau anak mereka tidak dapat ditemukan kembali? Setelah kehilangan Hong Li, barulah suami isteri ini merasa betapa pentingnya anak itu bagi mereka, dan betapa hal-hal lainnya tidak ada artinya lagi!

Hidup merupakan gabungan dari segala macam hal yang multi kompleks. Kebutuhan hidup bermacam-macam yang bergabung menjadi satu. Ada kebutuhan harta, kebutuhan sandang, pangan, kesehatan, kerukunan keluarga, dan seterusnya. Tidak mungkin mementingkan yang satu saja dan meremehkan yang lain. Karena kekurangan satu saja di antaranya, hidup akan menjadi pincang. Apa artinya mempunyai segala itu kalau anaknya hilang seperti halnya suami isteri itu? Sama saja susahnya kalau yang ditiadakan itu satu di antara kebutuhan-kebutuhan itu. Apa artinya semua ada, keluarga lengkap, kalau badan selalu menderita penyakit? Apa pula artinya kalau sehat, berharta, cukup segala kebutuhan, akan tetapi tidak rukun dengan keluarganya? Masih banyak contoh-contoh lain lagi, namun kesemuanya itu merupakan akibat kepincangan yang serupa.

Karena suami isteri di Pao-teng itu kehilangan anak mereka, tentu saja yang terasa hanyalah hal itu saja. Mereka mau mengorbankan yang lain asal anak mereka dapat ditemukan kembali.

Dengan cepat, undanganpun disebar dan dalam hal ini, Suma Ceng Liong membantu dengan sekuat tenaga. Tentu saja tidak mungkin mengundang semua orang, akan tetapi yang penting, demikian keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu berpendapat, dari delapan penjuru harus ada tokoh-tokoh yang mewakili daerah masing-masing. Juga disebar undangan terbuka, tidak untuk nama tertentu, melainkan ditujukan kepada semua orang kang-ouw yang suka datang, dipersilahkan untuk datang pula meramaikan pesta hari ulang tahun bekas panglima yang amat terkenal itu, bukan saja terkenal sebagai bekas panglima besar, juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti bersama isterinya yang juga pendekar keturunan keluarga Pulau Es.

Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun itu tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng telah berada di rumah Cin Liong di Pao-teng. Juga ayah dan ibu Kam Bi Eng yang merupakan suami isteri terkenal sekali dan pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmu dari Suling Emas dan merupakan tokoh ke tiga sesudah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir yang terkenal, hadir pula atas undangan puteri mereka, Kam Bi Eng. Mereka itu bukan lain adalah pendekar sakti Kam Hong yang kini sudah berusia enampuluh tiga tahun, sedangkan isterinya, Bu Ci Sian telah berusia empatpuluh delapan tahun. Mereka berdua ini tinggal tak begitu jauh dari kota Pao-teng, di puncak Bukit Nelayan, yaitu sebuah puncak di antara puncak-puncak Pegunungan Tai-hang-san. Mereka berdua ikut merasa prihatin ketika mendengar cerita tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang yang masih belum diketahui jelas siapa adanya.

Selain keluarga Suma Ceng Liong dan keluarga Kam Hong ini, juga telah hadir di rumah itu Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng. Pemuda ini sudah banyak mendengar tentang suami isteri pendekar dari istana Khong-sim Kai-pang, yaitu Kam Hong, akan tetapi baru sekarang sempat bertemu. Hatinya merasa kagum dan dengan girang dia memperkenalkan diri. Karena para keluarga berkumpul, suasana sudah meriah sekali dan banyak hal mereka percakapkan, dan tentu saja terutama sekali tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang. Karena Hong Beng merupakan murid dari Suma Ciang Bun, maka diapun diterima oleh keluarga Kao sebagai anggauta keluarga sendiri.

Selagi tokoh-tokoh keturunan keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir dan keluarga Suling Emas ini saling berbincang-bincang sebagai sekelompok keluarga, tiba-tiba pembantu memberitahukan bahwa di luar datang dua orang tamu laki-laki dan perempuan yang masih muda. Kao Cin Liong dan isterinya tidak menanyakan siapa dua orang tamu itu, akan tetapi karena mereka berada dalam suasana berpesta, sehingga mereka mengharapkan munculnya banyak tamu, segera mereka menyuruh pembantu mereka untuk mempersilahkan dua orang tamu itu masuk saja ke ruangan besar di mana mereka tadi bercakap-cakap.

Ketika dua orang itu masuk, semua orang memandang, ingin tahu siapakah tamu yang datang agak terlalu pagi itu. Biasanya, yang datang lebih pagi dari hari pesta yang ditentukan, hanyalah anggauta keluarga sendiri yang datang dengan maksud membantu tuan rumah mempersiapkan pesta ulang tahun itu.

Ketika melihat munculnya Sim Houw dan Bi Lan, sebagian besar dari mereka yang hadir di situ mengerutkan alisnya. Terutama sekali Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun. Mereka berdua sudah bangkit berdiri dan mengepal tinju, akan tetapi ketika teringat bahwa di situ terdapat orang-orang tingkatan lebih tua seperti Kam Hong dan isterinya, guru dan murid ini menahan diri dan duduk kembali. Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui memandang marah. Mereka sudah mendengar dari Hong Beng dan gurunya tetapa Bi Lan yang diambil murid suami isteri dari Istana Gurun Pasir, telah menyeleweng, membela iblis betina Bi-kwi dan bahkan menentang Suma Ciang Bun dan muridnya. Perasaan tidak senang membayang di wajah tuan rumah dan nyonya rumah. Baru satu kali Kao Cin Liong dan isterinya bertemu dengan Sim Houw dan Bi Lan, yaitu ketika mereka semua di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio menentang dan membasmi Sai-cu Lama dan kawan-kawannya. Demikian pula Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng yang juga membantu dalam pertempuran hebat itu.

Sim Houw juga merasa girang sekali dapat bertemu dengan sekalian orang gagah itu, dan kini dia dapat memandang Kam Bi Eng yang telah menjadi nyonya Suma Ceng Liong dengan wajah cerah dan ternyata setelah ada pertalian cinta antara dia dan Bi Lan, kini tidak terjadi sesuatu di dalam hatinya ketika dia bertemu dengan Kam Bi Eng, wanita yang pernah dikasihinya itu. Akan tetapi, yang membuat Sim Houw menjadi semakin girang dan terharu adalah ketika dia melihat Kam Hong dan Bu Ci Sian di tempat itu. Sebelum memberi hormat kepada yang lain, Sim Houw mengajak Bi Lan untuk menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri ini.

“Suhu dan subo.... telah bertahun-tahun teecu tidak pernah menghadap ji-wi, harap ji-wi sudi memaafkan teecu. Teecu harap selama ini suhu dan subo selalu dalam keadaan sehat dan dilimpahi berkah oleh Thian.”

Melihat muridnya, diam-diam Kam Hong dan Bu Ci Sian merasa kasihan akan tetapi juga girang. Mereka masih merasa kasihan mengingat betapa murid yang baik ini, yang tadinya mereka jodohkan dengan puteri mereka, Kam Bi Eng, kemudian ternyata ditolak oleh Bi Eng yang jatuh cinta kepada Suma Ceng Liong. Akan tetapi dengan jiwa besar murid mereka itu dengan suka rela mengundurkan diri dan memberi kebebasan kepada Kam Bi Eng untuk berjodoh dengan pria yang dipilihnya, sedangkan dia sendiri lalu merantau dan baru sekarang guru itu bertemu dengan murid yang pernah menjadi calon mantu itu. Yang membuat suami isteri pendekar ini prihatin adalah karena mereka mendengar bahwa sampai sekarang murid mereka itu belum juga menikah. Hal ini bagi mereka menjadi tanda bahwa hati murid mereka itu telah terluka karena kegagalan cinta dan pernikahannya dengan Kam Bi Eng, dan mereka berdua ikut merasa berdosa atas penderitaan pemuda itu.

“Sim Houw, selama ini engkau ke mana sajakah maka tidak pernah datang menjenguk kami? Dan kami mendengar bahwa engkau mendapatkan julukan Pendekar Suling Naga! Sungguh kami ikut merasa bangga dan.... eh, siapakah nona ini?” Kam Hong memandang kepada Bi Lan yang berlutut di dekat Sim Houw.

“Locianpwe, nama saya Can Bi Lan....“ jawab Bi Lan dengan sikap hormat. Ia sudah sering kali mendengar penuturan Sim Houw tentang suami isteri yang sakti ini, yang agaknya hanya boleh disejajarkan dengan suhu dan subonya di Istana Gurun Pasir, atau dengan para pendekar Pulau Es!

“Suhu dan subo, adik Can Bi Lan adalah.... tunangan teecu dan ia adalah murid dari Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir dan isterinya....”

“Juga murid mendiang Sam Kwi!” Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng memotong kata-kata yang diucapkan oleh Sim Houw itu.

Semua orang terkejut dan diam-diam Suma Ciang Bun menyesalkan ucapan muridnya yang lancang itu, namun dia maklum bahwa perasaan dongkol di dalam hati muridnya yang membuat muridnya bersikap lancang seperti itu. Keadaan menjadi kaku dan tegang, akan tetapi Kam Hong yang menoleh kepada Hong Beng, kini tersenyum.

“Aihh, seorang yang sakti dan bijaksana seperti Kao-locianpwe, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, tidak mungkin salah memilih murid. Dan ia menjadi tunanganmu, Sim Houw. Selamat! Sungguh kami ikut merasa gembira sekali.”

“Tunanganmu ini cantik dan gagah, Sim Houw. Selamat!” kata pula Bu Ci Sian, lega hatinya karena dengan adanya pertunangan ini, berarti iapun terlepas dari beban batin yang merasa bersalah terhadap Sim Houw yang patah hati.

“Terima kasih, suhu dan subo,” kata Sim Houw, Barulah dia dan Bi Lan menghadap takoh-tokoh lain dan memberi hormat.

Ketika memberi hormat kepada Kao Cin Liong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan menyebutnya “suheng” (kakak seperguruan). Mendengar sebutan ini, wajah Cin Liong menjadi merah dan hatinya tidak senang sekali. “Can Bi Lan,” katanya halus namun mengandung kemarahan, “engkau telah menyebut suheng kepadaku, maka aku berhak untuk menegurmu. Aku banyak mendengar hal-hal yang tidak baik tentang dirimu, dan kalau memang benar, maka berarti aku sebagai suhengmu akan terkena lumpur dan noda pula. Benarkah engkau bersekongkol dengan wanita jahat Bi-kwi dan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, bahkan engkau dibantu oleh Pendekar Suling Naga telah memusuhi keluarga Pulau Es?”

Bi Lan mengerling ke arah Hong Beng dan ingin rasanya ia pada saat itu juga menyerang pemudaitu. Ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah yang menyebar fitnah, yang memburukkan namanya di depan semua orang. Akan tetapi, sentuhan tangan Sim Houw pada lengannya membuat ia menyadari bahwa di hadapan para locianpwe, tidak sepantasnya kalau ia memperlihatkan sikap kasar. Maka iapun memberi hormat kepada Kao Cin Liong.

“Kao-suheng, tidak kusangkal bahwa aku dan Sim-koko pernah membantu dan membela suci Ciong Siu Kwi, akan tetapi untuk urusan itu terdapat alasan-alasannya yang kuat. Sama sekali kami tidak membantu kejahatannya. Ia telah mengubah hidupnya, bertaubat dan ia hanya diperalat oleh para tosu jahat yang telah menyandera calon suaminya. Akan tetapi semua hal itu akan kuceritakan lain kali saja, sekarang yang penting, aku hendak menyampaikan kepada suheng sekeluarga bahwa aku dan Sim-koko datang ke sini sebagai utusan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir.”

Mendengar ini, Kao Cin Liong tertegun. Kalau gadis ini sudah diterima orang tuanya, bahkan dijadikan utusan, itu tentu hanya berarti bahwa gadis ini tidak jahat. Sambil mengerutkan alisnya, dia bertanya, “Apakah kalian berdua mengunjungi orang tuaku?”

“Benar, suheng. Kami baru saja datang dari sana dan kami mendapat tugas dari suhu dan subo untuk memberitahu kepada suheng berdua bahwa kalian telah kejatuhan fitnah yang amat keji, dituduh menjadi pembunuh-pembunuh dari Ang I Lama.”

Bukan main kagetnya hati Kao Cin Liong mendengar ini. “Apa! Apa maksudmu? Ceritakan yang jelas!”

“Suheng, ketika kami berada di istana, muncul seorang hwesio yang telah kita kenal baik karena dia adalah Tiong Khi Hwesio. Locianpwe inilah yang mengabarkan kepada suhu dan subo bahwa Ang I Lama tewas dibunuh orang, dan para pembunuhnya adalah suheng berdua....“

“Gila! Kami tidak melakukan hal itu!” Kao Cin Liong berseru keras.

“Itu fitnah keji!” Suma Hui juga berseru marah.

“Locianpwe Tiong Khi Hwesio menjadi utusan para pendeta Lama di Tibet untuk menyampaikan protes kepada suhu dan subo karena mereka semua merasa yakin bahwa suheng berdua pembunuhnya. Menurut cerita locianpwe itu, sebelum tewas, dalam keadaan terluka parah, di depan para pendeta Lama, Ang I Lama sempat menyebut nama suheng berdua.”

“Ahhh....!” Wajah Kao Cin Liong berubah. Urusan ini bukan urusan kecil dan dia mengerutkan alisnya. “Anak kami hilang belum juga ditemukan jejaknya, dan sekarang muncul lagi fitnah keji yang menuduh kami membunuh Ang I Lama!”

“Ahh. aku mengerti sekarang!” Tiba-tiba Suma Ceng Liong yang terkenal cerdik itu berseru. “Pasti ada hubungan antara kedua peristiwa itu, cihu (kakak ipar)! Si penculik Hong Li mengaku bernama Ang I Lama dan kemudian setelah kalian datang ke barat, ternyata bukan Ang I Lama yang menculiknya. Kemudian, Ang I Lama dibunuh orang dan pendeta itu meninggalkan pesan yang menuduh kalian menjadi pembunuhnya. Bukankah jelas bahwa ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba antara kalian dengan para pendeta Lama? Mula-mula Ang I Lama difitnah menculik Hong Li, kemudian karena tidak melihat kalian bermusuhan dengan Ang I Lama, maka fitnahnya dibalik. Pendeta itu dibunuh dan nama kalian yang kini difitnahh.”

“Benar! Tentu ada orang yang mengatur semua ini. Akan tetapi siapa?” Kao Cin Liong berseru, penuh rasa penasaran.

“Hemm, setelah mendengar semua laporan tentang hilangnya Kao Hong Li, ada kemungkinan lain,” tiba-tiba kakek Kam Hong berkata dengan suaranya yang halus namun penuh wibawa sehingga semua orang menengok dan memandang kepada orang tua ini. “Mungkin Ang I Lama yang merasa tidak berdosa, setelah dituduh menculik Kao Hong Li, lalu turun tangan sendiri mencari penculiknya, bertemu akan tetapi dia kalah dan tewas.”

“Akan tetapi mengapa dia meninggalkan pesan, yaitu menyebut nama cihu Kao Cin Liong berdua, ayah.” Kam Bi Eng membantah pendapat ayahnya.

“Hal itu memang aneh, akan tetapi bisa juga dia bermaksud meninggalkan pesan untuk Kao Cin Liong berdua, tentang anak mereka itu, akan tetapi tidak sempat karena keburu tewas,” sambung Kam Hong.

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. “Kemungkinan itu besar sekali, Kam-locianpwe. Akan tetapi tetap saja tidak dapat menemukan jejak pembunuh Ang I Lama dan penculik anak kami.”

“Suheng, aku dan Sim-koko telah ditunjuk oleh suhu dan subo untuk menemukan kembali Hong Li, dan juga membikin terang perkara fitnah atas diri suheng mengenai kematian Ang I Lama.”

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui menatap wajah gadis itu dan wajah Sim Houw bergantian. “Kalian....?” Cin Liong berkata, seperti pada diri sendiri, penuh kesangsian apakah dua orang muda ini akan berhasil, sedangkan dia bersama isterinya telah gagal, bahkan Suma Ciang Bun dan muridnya juga gagal, dan tokoh-tokoh lainnya tidak tahu ke mana harus mencari Hong Li. Pesta ulang tahun itupun menjadi cara untuk mencari keterangan, sesuai dengan yang diusulkan Suma Ceng Liong.

“Suheng, kami berdua telah berjanji akan mencari Hong Li sampai dapat, kami tidak akan kembali sebelum berhasil, bahkan juga kami tidak akan menikah sebelum berhasil,” kata pula Bi Lan dan suaranya terdengar begitu tegas dan penuh keyakinan bahwa mereka berdua akan berhasil. Mendengar tekad ini, diam-diam Kam Hong dan isterinya, Bu Ci Sian, menjadi terharu. Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui merasa bersukur dan berterima kasih mendengar dua orang itu rela mengorbankan diri sampai sedemikian besarnya untuk mencari puteri mereka yang hilang. Kini pandang mereka terhadap Sim Houw dan Bi Lan berubah, menjadi ramah dan lenyaplah prasangka buruk dari hati mereka. Mereka yakin bahwa kalau orang tua mereka di Istana Gurun Pasir mempercayai dua orang muda ini, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk meragukan Sim Houw dan Bi Lan. Sebagai tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya lalu membujuk agar Sim Houw dan Bi Lan suka tinggal di rumah itu sebelum pesta dimulai tiga hari lagi. Walaupun merasa agak sungkan dan tidak enak karena mereka berdua bukan keluarga, walaupun Sim Houw melihat suhu dan subonya juga tinggal di situ, namun untuk menolak mereka merasa tidak berani. Maka merekapun menerima dan mendaparkan dua buah kamar di sebelah belakang.

Hong Beng merasa tidak puas sama sekali dengan kemunculan Sim Houw dan Bi Lan di ruangan tadi. Dia menjadi gelisah di dalam kamarnya, tidak dapat mengaso pada malam hari itu. Hatinya masih panas dan penuh kemarahan kepada Sim Houw dan Bi Lan. Jelaslah bahwa Bi Lan telah melakukan penyelewengan, berpihak kepada wanita jalang dan jahat seperti Bi-kwi, dengan alasan apapun juga, dan sudah dua kali malah Bi Lan dan Sim Houw berkelahi melawan dia dan gurunya. Mereka berdua itu jelas bukan golongan sahabat, melainkan musuh. Akan tetapi mereka kini disambut sebagai tamu-tamu terhormat, bahkan diberi kamar. Yang lebih menyakitkan hatinya adalah pengakuan Bi Lan bahwa gadis itu telah bertunangan dengan Sim Houw! Nah, jelaslah bahwa apa yang dilihatnya tempo hari bukan hanya khayal belaka, pikirnya. Di antara mereka tentu terjalin tali perjinaan yang memalukan sekali! Dan mereka itu mengaku bertunangan begitu saja. Kapan resminya dan siapa pula yang menjodohkan antara mereka? Hong Beng sudah tidak lagi mengharapkan balasan cinta dari Bi Lan, akan tetapi, melihat kenyataan betapa gadis yang menolak cintanya itu telah mendapatkan seorang kekasih, sedangkan dia masih menderita kesepian dan belum ada pengganti Bi Lan, membuat dia tanpa disadarinya merasa iri hati! Terlalu enak rasanya bagi gadis yang telah mengecewakan hatinya itu, yang selain menolak cintanya juga telah melakukan penyelewengan, jelas memihak Bi-kwi dan mewarisi watak jahat dari Sam Kwi, kini diterima secara terhormat seperti itu!

Selagi dia gelisah, masuklah Suma Ciang Bun ke dalam kamarnya. Hong Beng cepat bangkit duduk dan memberi hormat kepada suhunya.

“Engkau belum tidur?” tanya Suma Ciang Bun sambil duduk di atas kursi, sedangkan muridnya sudah turun dari atas pembaringan dan duduk pula di depan gurunya.

“Belum, suhu. Hati teecu gelisah.”

“Engkau gelisah memikirkan diri Can Bi Lan itu, bukan?”

Hong Beng terkejut, akan tetapi suhunya yang sudah seperti ayahnya sendiri ini boleh saja mengetahui semua isi hatinya. “Benar, suhu. Teecu merasa penasaran sekali. Gadis yang melakukan penyelewengan itu, bersama Sim Houw yang sombong dan memusuhi kita, kenapa sekarang diterima dengan segala kehormatan di tempat terhormat ini? Apakah hal ini tidak akan membuat para tokoh sesat mentertawakan kita?”

Suma Ciang Bun tersenyum. “Memang, keadaan mereka cukup aneh dan meragukan, apa lagi mengingat bahwa gadis itu murid Sam Kwi dan memihak Bi-kwi. Akan tetapi engkau sudah mendengarkan semua cerita mereka. Mereka mendapatkan kepercayaan dan tugas dari locianpwe Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, bahkan menjadi utusan locianpwe itu. Tentu saja Kao-cihu menerima mereka dengan baik. Hong Beng, engkau agaknya terlalu dibakar hati yang panas. Maklumlah, karena engkau pernah mencinta gadis itu dan ditolak, kemudian kini gadis itu muncul dan mengumumkan pertunangannya dengan Sim Houw! Aku tidak terlalu menyalahkan kalau engkau berpanas hati. Akan tetapi engkau harus bersikap gagah dan bijaksana. Lihat contohnya sikap Pendekar Suling Naga itu dan sikap nyonya Suma-Ceng Liong.”

Hong Beng memandang wajah gurunya dengan heran. “Apa maksud suhu? Ada apa dengan Sim Houw dan isteri susiok (paman guru) Suma Ceng Liong?”

“Persis seperti keadaanmu dengan nona Can Bi Lan itulah! Dahulu, isteri adikku Suma Ceng Liong bernama Kam Bi Eng dan ia oleh orang tuanya telah dijodohkan dengan Sim Houw! Mereka telah ditunangkan secara resmi atas pilihan dan kehendak orang tua. Akan tetapi, Kam Bi Eng kemudian menolak Sim Houw dan memilih Suma Ceng Liong! Dan lihat sikap mereka sekarang. Tidak ada apa-apa, bukan? Seharusnya demikian pula sikapmu terhadap Sim Houw dan Can Bi Lan. Jodoh hanya dapat berlangsung melalui jembatan cintasih, dan cinta kasih haruslah datang dari kedua pihak. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah, muridku, dan engkau sepatutnya bergembira bahwa orang yang kaucinta itu kini berjodoh dengan seorang yang berkepandaian tinggi.”

Hong Beng termangu mendengarkan keterangan suhunya ini. Tak disangkanya bahwa Sim Houw pernah menderita kasih tak sampai seperti dia! Bahkan lebih hebat lagi karena Sim Houw telah ditunangkan dengan bibi gurunya itu, pertunangan yang diikat oleh guru Sim Houw sendiri. Namun kemudian dibatalkan karena bibi gurunya itu mencinta paman gurunya, Suma Ceng Liong!

“Akan tetapi, biarpun pandai, apa gunanya berilmu tinggi kalau melakukan penyelewengan, suhu?”

“Jangan tergesa menduga demikian, Hong Beng. Lihat saja, kalau memang Sim Houw menyeleweng ke jalan sesat, apakah gurunya, pendekar sakti Kam Hang locianpwe akan tinggal diam saja? Pula, kalau benar Bi Lan dan Sim Houw berkelakuan buruk, kukira seorang sakti seperti Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir takkan menaruh kepercayaan kepada mereka.”

“Akan tetapi jelas bahwa mereka memihak dan membela siluman betina Bi-kwi sehingga menentang kita, suhu!” bantah Hong Beng penasaran.

“Menurut mereka, siluman betina itu kini telah bertaubat dan mereka membelanya karena ia sekarang telah kembali ke jalan benar.”

“Ah, siapa dapat percaya keterangan itu suhu? Harap suhu bayangkan, seorang wanita yang sudah demikian bejat ahlaknya, sudah demikian jahatnya seperti Bi-kwi, yang sepak terjangnya mengerikan dan jauh lebih jahat dari pada Sam Kwi sendiri, mana mungkin iblis betina macam ia itu dapat kembali ke jalan benar? Alasan yang dicari-cari saja! Keterangan itu harus dibuktikan dulu sebelum kita menerimanya dan menelannya mentah-mentah begitu saja. Teecu tetap masih belum mau percaya!”

“Engkau percaya atau tidak itu hakmu, akan tetapi aku memperingatkan agar engkau tidak membuat gara-gara dengan panasnya hatimu itu di sini, Hong Beng! Tadi, ketika engkau memotong keterangan Bi Lan dan mengumumkan bahwa Bi Lan murid Sam Kwi, aku sudah merasa sangat malu. Engkau tidak boleh mencari keributan dengan mereka lagi, baik di sini ataupun di lain tempat!”

“Suhu....!” Hong Beng terkejut dan menjatuhkan diri berlutut, menundukkan mukanya. Tak disangkanya bahwa kini gurunya marah kepadanya dan agaknya gurunya bahkan memihak Bi Lan!

Melihat keadaan muridnya, Suma Ciang Bun menarik napas panjang. Dia merasa kasihan kepada muridnya ini. Semenjak kecil, muridnya ini telah bernasib malang. Ayah ibunya dibunuh orang dan hidup sebatangkara. Dia amat sayang kepada muridnya, seorang murid yang baik, patuh, rajin dan berbakat, bahkan muridnya telah membuktikan dirinya sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Kini, dia tahu bahwa muridnya ini rusak batinnya karena cintanya yang gagal! Muridnya menjadi pendendam, iri hati, dan iba dirinya membengkak.

“Hong Beng, apakah engkau tidak dapat melupakan kegagalanmu dalam cinta? Masih banyak wanita di dunia ini yang bahkan lebih baik dari pada Bi Lan, yang kelak dapat menjadi jodohmu....”

“Suhu....!” Dan pendekar itu kaget melihat betapa muridnya menitikkan air mata! Hong Beng, muridnya yang gagah perkasa itu, yang tidak gentar menghadapi ancaman maut, kini menangis!

“Hong Beng, ada apakah? Engkau.... menangis?”

Pertanyaan ini memperbanyak keluarnya air mata dari kedua mata Hong Beng. Pemuda ini cepat menekan perasaannya, menghapus semua air mata dari mata dan pipinya, menggunakan punggung tangan. Setelah semua air mata terhapus, diapun memberi hormat sambil berlutut.

“Ampunkan kelemahan hati teecu, suhu. Akan tetapi perkataan suhu tadi mengingatkan teecu bahwa teecu selamanya takkan mungkin dapat menikah.... agaknya.... teecu.... akan terpaksa mengikuti jejak suhu, tidak akan menikah selamanya.”

Wajah Suma Ciang Bun berubah dan alisnya berkerut, pandang matanya penuh selidik ditujukan kepada wajah muridnya. Selama menjadi muridnya, Hong Beng tidak pernah mendapat kesempatan umuk mengerti akan keadaan dirinya yang tidak normal. Dia telah berjaga diri, dan muridnya itu tidak pernah tahu bahwa dia tidak menikah bukan karena tidak ada wanita yang mau menjadi isterinya, melainkan dia sendiri yang tidak mau menikah karena dia tidak suka berdekatan dengan wanita! Ucapan Hong Beng itu tentu saja mengejutkan hatinya. Apakah Hong Beng kini tahu akan ketidakwajaran dirinya?

“Apa maksudmu, Hong Beng? Kenapa engkau terpaksa tidak akan menikah selamanya?” pancingnya dengan hati tegang.

“Karena cinta pertama teecu (murid) telah gagal, dan untuk menikah dengan wanita lain, tidak mungkin! Teecu telah terikat janji dengan seseorang bahwa teecu harus menikah dengan seorang gadis. Pada hal, perjodohan ini tidak akan mungkin terjadi, dan untuk melanggar janji kepada orang yang teecu hormati dan yang sudah tidak ada di dunia ini, teecu juga tidak berani.”

Lega rasa hati Suma Ciang Bun, perasaan lega yang timbul karena dengan jawaban itu terbukti bahwa Hong Beng tidak tahu akan keadaan dirinya yang tidak wajar. Akan tetapi dia juga merasa heran sekali.

“Sungguh aneh! Kepada siapakah engkau berjanji, dan siapa pula gadis yang harus kau jadikan calon isteri itu dan kenapa pula hal itu tak mungkin terjadi?”



Hong Beng menundukkan mukanya, bingung karena dia tidak berani melanjutkan bicaranya. Gurunya menjadi semakin heran melihat muridnya yang hanya menundukkan muka dan tidak menjawab itu.

“Hong Beng, jawablah pertanyaanku tadi!” dia mendesak, penasaran.

“Teecu.... teecu tidak berani, suhu.”

“Hong Beng, bukankah aku telah menjadi gurumu dan pengganti orang tuamu? Siapa lagi yang akan mengurus dan membela dirimu kalau bukan aku? Akulah yang akan melamarkan gadis yang kaupilih, dan akulah yang akan menikahkan engkau. Katakan, kepada siapa engkau berjanji dan siapa pula gadis itu!”

Hong Beng tadi tidak sengaja hendak membongkar rahasia hatinya itu. Dia tadi bicara karena dilanda duka, dan kini sudah terlanjur. Dia harus membuka rahasia itu kepada suhunya. Pula, kalau diingat benar, siapa lagi kalau bukan suhunya yang akan dapat membereskan persoalan itu?

“Harap suhu maafkan teecu. Sesungguhnya, teecu telah berjanji kepada.... mendiang locianpwe Teng Siang In.”

“Bibi Teng Siang In? Ibu kandung Ceng Liong?” Suma Ciang Bun berseru kaget. “Dan siapa gadis yang akan kaujadikan jodohmu itu?”

“Teecu sudah berjanji kepada mendiang locianpwe itu untuk kelak.... menjadi suami nona Suma Lian....”

“Ehhh....?” Suma Ciang pun menjadi semakin heran dan memandang wajah muridnya dengan mata terbelalak. Dia tidak akan ragu akan kebenaran pengakuan muridnya karena selama menjadi muridnya, dia sudah mengenal benar watak Hong Beng yang tidak akan suka berbohong. Karena kepercayaan dan keyakinan inilah maka dia membela Hong Beng ketika bentrok dengan Bi Lan dan Sim Houw. Dia tidak dapat membayangkan muridnya itu berbohong dan membuat keterangan palsu. “Bagaimana pula ini? Coba ceritakan, bagaimana asal mulanya maka engkau berjanji kepada mendiang bibi Teng Siang In untuk kelak berjodoh dengan Suma Lian.”

Dengan panjang lebar dan jelas Hong Beng lalu bercerita kepada suhunya tentang pengalamannya ketika dia berkunjung ke dusun Hong-cun. untuk pertama kalinya, di mana dia melihat Suma Lian diculik oleh Sai-cu Lama yang berkelahi melawan nenek Teng Siang In. Betapa dia membantunya sampai Sai-cu Lama melarikan diri. Akan tetapi Suma Lian dibawa oleh Lama yang jahat itu, sedangkan nenek Teng Siang In menderita luka parah. Betapa kemudian Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng melakukan pengejaran terhadap penculik anak perempuan itu dan dia merawat nenek Teng Siang In yang terluka parah di pahanya oleh pedang Ban-tok-kiam, pedang yang dirampas dari tangan Bi Lan oleh Sai-cu Lama.

“Ketika itulah, suhu, locianpwe Teng Siang In yang siuman dan menghadapi kematian, minta kepada teecu untuk mencari nona Suma Lian dan minta teecu berjanji agar kelak teecu suka berjodoh dengan nona Suma Lian. Melihat keadaan locianpwe itu, yang dalam sekarat menghadapi maut, bagaimana teecu tega untuk menolak permintaannya yang terakhir itu? Sayang bahwa ketika itu, susiok Suma Ceng Liong dan isterinya tidak ada. Kalau mereka ada, tentu dengan mudah teecu menyerahkan persoalannya kepada mereka. Melihat betapa locianpwe itu menghadapi saat terehir, terpaksa teecu penuhi permintaannya dan teecu mengucap janji itu. Baru kemudian teecu menyesal. Orang seperti teecu ini, mana mungkin menjadi jodoh nona Suma Lian? Teecu tidak berani...., memikirkanpun tidak berani, dan teecu juga tidak berani melanggar janji teecu sendiri, apa lagi janji terhadap seorang locianpwe yang sudah meninggal dunia....”

Suma Ciang Bun termenung, lalu mengangguk-angguk. “Muridku, aku sendiri tidak tahu bagaimana sikap adikku Ceng Liong dan isterinya mengenai persoalan ini. Akan tetapi, menghadapi setiap masalah, kita harus bersikap jujur dan berani, dalam arti kata, berani menghadapi segala akibatnya. Diterima atau ditolaknya oleh mereka kalau urusan ini kita ajukan, hanya merupakan akibat saja dan andaikata ditolak, berarti bukan engkau yang melanggar janjimu terhadap bibi Teng Siang In, melainkan pesan itu tidak terlaksana karena pihak orang tua Suma Lian tidak setuju. Nah, terangkan hatimu. Setelah pesta ulang tahun cihu selesai, aku akan bicara dengan Ceng Liong dan isterinya tentang pesan terakhir bibi Teng Siang In itu.”

“Akan tetapi, suhu, teecu takut....”

“Takut apa? Hong Beng, jangan engkau terlalu merendahkan diri. Engkau muridku, tahu? Engkau cukup gagah dan tampan, cukup berharga untuk menjadi jodoh gadis manapun juga, termasuk Suma Lian! Nah, sekarang mengasolah dan sedapat mungkin hapuskan rasa tidak sukamu kepada Bi Lan dan Sim Houw. Akupun ingin beristirahat. Ceritamu sungguh membuat hatiku menjadi tegang dan kaget tadi.”

Setelah percakapan dengan gurunya ini, hati Hong Beng menjadi tenang kembali dan dia dapat tidur nyenyak. Juga perasaan tidak suka dalam hatinya terhadap Bi Lan dan Sim Houw seolah olah menjadi padam atau setidaknya berkurang banyak.

***

Semenjak membuka rahasia itu kepada gurunya, Hong Beng merasa lebih tenang dan selama beberapa hari ini, dia bahkan selalu menghindarkan pertemuan dengan Sim Houw dan Bi Lan, walaupun mereka tinggal serumah. Mereka hanya saling bertemu waktu tuan rumah dan para tamunya makan siang atau malam saja, dan dalam kesempatan itupun Hong Beng tidak pernah bicara dengan Sim Houw atau Bi Lan.

Seperti telah diduga semula, banyak tamu datang membanjiri tempat pesta ketika hari yang ditentukan tiba. Nama besar Kao Cin Liong cukup terkenal, baik sebagai bekas panglima maupun sebagai pendekar, dan semua orang tahu bahwa selain pendekar ini putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, juga isterinya adalah keluarga Pulau Es. Maka, banyaklah tokoh-tokoh kang-ouw datang membanjiri tempat pesta. Orang tua Kao Cin Liong sendiri tidak nampak. Memang Cin Liong tidak mengabari, tidak ingin membuat orang tuanya yang sudah tua sekali itu melakukan perjalanan yang demikian jauhnya. Pula, ulang tahunnya itu sendiri tidak penting, yang penting adalah maksud yang tersembunyi di balik pesta ulang tahun itu. Maka, Kao Cin Liong tidak mengharapkan kunjungan ayah ibunya.

Di antara para tamu, terdapat pula tokoh-tokoh yang membawa bingkisan sebagai hadiah ulang tahun. Bungkusan-bungkusan besar kecil diterima oleh pihak tuan rumah dan diatur rapi di atas meja di tengah ruangan yang luas itu, di mana para tamu telah berkumpul. Setelah matahari naik tinggi, tidak kurang dari limaratus orang tamu hadir di tempat itu. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh, mewakili daerah-daerah terpencil. Biarpun tokoh-tokoh sesat, asal tidak mempunyai permusuhan dengan keluarga Kao Cin Liong, memerlukan datang untuk menghormati tuan rumah, juga untuk mempergunakan kesempatan yang amat baik ini untuk bertemu dengan tokoh-tokoh dunia persilatan yang lain.

Bahkan banyak pula pembesar-pembesar yang memiliki kedudukan penting, baik dari daerah manapun dari kota raja, memerlukan hadir dalam pesta ini. Tentu saja mereka bukan hanya mengingat bahwa Kao Cin Liong adalah bekas panglima yang sudah banyak jasanya terhadap kerajaan, melainkan juga diam-diam mengintai apa yang akan dilakukan bekas panglima ini dengan mengadakan pesta besar mengundang banyak tokoh kang-ouw.

Yang menarik perhatian banyak tamu, juga menggembirakan hati keluarga Pulau Es adalah hadirnya sepasang pendekar yang terkenal dengan julukan Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda dari Beng-san), yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong sepasang saudara kembar, putera-putera dari pendekar sakti Gak Bun Beng yang kini berjuluk Bu-beng Lokai. Seperti kita ketahui, Gak Bun Beng adalah mantu pertama dari Pendekar Super Sakti, suami dari mendiang Puteri Milana. Seperti telah diceritakan di bagian depan, sepasang pendekar kembar yang usianya sudah hampir limapuluh tahun ini sekaligus menjadi suami dari murid mereka sendiri yang bernama Souw Hui Lan, yang kini hadir pula. Souw Hui Lan merupakan seorang wanita muda berusia hampir tigapuluh tahun, yang cantik manis dan gagah, juga mencinta kedua orang suaminya yang baginya merupakan satu tokoh saja, walaupun memiliki dua tubuh. Setelah menjadi isteri dari saudara kembar ini selama tiga tahun, kini Souw Hui Lan telah mempunyai seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Anak ini mereka ajak pula dan pertemuan antara keluarga Pulau Es itu mendatangkan kegembiraan besar. Sayang bahwa kakek Gak Bun Beng atau Bu-beng Lo-kai tidak hadir, pada hal Suma Ceng Liong dan isterinya sudah merasa rindu kepada puteri mereka, Suma Lian, yang dibawa pergi oleh paman mereka itu untuk digembleng dengan ilmu-ilmu yang tinggi. Sudah setahun mereka ditinggalkan puteri mereka yang ikut bersama kakeknya itu ke puncak Telaga Warna di Pegunungan Beng-san.

Pihak tuan rumah sibuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan dan setelah tidak ada lagi yang datang, tempat itu sudah hampir penuh. Para pembantu sibuk mengeluarkan hidangan dan suasana di situ amat meriah. Keluarga tuan rumah berkelampok di bagian tengah ruangan itu, menghadap ke luar, sedangkan para tamu memilih teman sendiri-sendiri, berkelompok dengan kelompok masing-masing. Seperti biasa, para tamu yang datang tadi tentu mencari-cari teman yang cocok lalu dihampirinya, ada pula tamu yang terdahulu memanggil tamu yang baru tiba untuk bergabung satu meja dengan mereka. Kawan-kawan lama yang sudah lama tak pernah saling berjumpa, kini bertemu dalam pesta itu, maka suasana menjadi semakin riuh dan gembira.

Ketika para tamu sudah disuguhi arak beberapa cawan, Kao Cin Liong lalu bangkit berdiri di atas panggung yang sudah disediakan, sehingga semua tamu dapat melihatnya dari tempat duduk masing-masing.

“Cu-wi (saudara sekalian), kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas kedatangan cu-wi, juga atas semua hadiah yang diberikan kepada saya. Semoga Thian membalas semua kebaikan cu-wi itu. Setelah cu-wi hadir di sini, kami ingin mohon bantuan cu-wi, membantu kami yang sedang prihatin menghadapi peristiwa yang membuat kami bingung. Hendaknya cuwi ketahui bahwa puteri kami yang bernama Kao Hong Li, anak tunggal kami, telah beberapa bulan yang lalu lenyap diculik orang....”

Suasana menjadi gaduh ketika para tamu mendengar pengumuman ini. Kao Cin Liong membiarkan keadaan gaduh itu berlangsung sebentar, lalu dia mengangkat kedua tangan memberi hormat dan minta agar suasana menjadi tenang kembali. Setelah para tamu diam, dia melanjutkan.

“Anak kami itu baru berusia duabelas tahun lebih, dan kami tidak tahu siapa penculiknya. Dan selagi kami kebingungan dan belum berhasil menemukan anak kami, kembali terjadi hal yang semakin membingungkan. Locianpwe Ang I Lama di Tibet telah dibunuh orang, dan kami suami isteri yang tidak berdosa dituduh sebagai pembunuhnya.”

Kembali suasana menjadi gaduh dan setelah semua orang diam, Kao Cin Liong melanjutkan kata-katanya, “Karena kami kebingungan, tidak menemukan jejak puteri kami, maka kami mohon dengan hormat kepada cuwi, apa bila ada yang mengetahui atau mendengar di mana adanya puteri kami, sukalah memberi kabar kepada kami. Atas kebaikan itu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih kepada cuwi.”

Setelah Cin Liong menyelesaikan pengumumannya, para tamu menjadi semakin gaduh, bercakap-cakap di antara kelompok sendiri, ada pula yang hanya diam termangu-mangu dan menduga-duga siapa adanya orang yang demikian nekat dan beraninya mengganggu keluarga Kao ini dengan menculik puterinya. Kao Cin Liong adalah seorang bekas panglima yang terkenal dan gagah perkasa, juga dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Isterinya juga bukan orang sembarangan, melainkan cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan kini ada orang berani menculik puteri mereka, bahkan menjatuhkan fitnah kepada keluarga ini yang dituduh membunuh Ang I Lama. Apakah peristiwa ini menjadi tanda bahwa nama besar Pulau Es dan Gurun Pasir akan berakhir atau menjadi suram?

Pesta dilanjutkan dengan cukup meriah dan kini percakapan para tamu adalah tentang pengumuman tuan rumah. Mereka saling bertanya, akan tetapi agaknya tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu di mana adanya anak perempuan yang diculik itu.

Selagi pihak tuan rnmah dan keluarganya melayani para tamu makan minum, tiba-tiba penjaga pintu memberi tahu kepada Kao Cin Liong bahwa telah datang lagi tamu baru, sepasang suami isteri she Yo. Karena tidak mengenal siapa suami isteri she Yo ini, Kao Cin Liong dan isterinya bangkit menyambut, sedangkan keluarganya ikut pula memandang dengan penuh perhatian untuk melihat siapa adanya tamu yang datang agak terlambat itu. Ketika Bi Lan yang juga ikut menengok melihat bahwa yang muncul sebagai tamu terlambat itu adalah Bi-kwi dan Yo jin, jantungnya berdebar tegang penuh kegirangan, akan tetapi juga penuh kekhawatiran. Tak disangkanya bahwa sucinya itu berani datang pula ke pesta ulang tahun ini! Akan tetapi hal ini bahkan membuktikan bahwa sucinya memang benar telah mengubah cara hidupnya dan tentu sucinya datang karena menaruh perasaan hormat terhadap keluarga Kao yang gagah perkasa.

Keluarga para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir yang berada di situ, banyak yang mengenal Bi-kwi dan mereka semua memandang dengan alis berkerut. Terutama sekali Gu Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang pernah bertempur melawan wanita yang mereka anggap sebagai wanita iblis yang amat jahat itu. Juga Kao Cin Liong sendiri dan isterinya, Suma Hui, ketika terjadi pertempuran antara para pendekar melawan Sai-cu Lama dan gerombolannya, telah mengenal Bi-kwi sebagai murid Sam Kwi. Demikian pula Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Mereka tidak mengira bahwa wanita ini berani muncul sebagai tamu, dan mereka teringat akan pembelaan Bi Lan terhadap sucinya yang pernah menjadi seorang wanita iblis itu.

Bagaimanapun juga, mereka berdua itu datang sebagai tamu, apa lagi melihat sikap Yo Jin yang demikian sopan dan jujur, juga sikap Bi-kwi yang melihatkan sikap hormat terhadap pihak tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya terpaksa menyambut. Mereka datang sebagai tamu, dan memang undangan itu ditujukan kepada semua tokoh persilatan tanpa memilih bulu, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Setelah memberi hormat dan menghaturkan selamat kepada tuan rumah, yang disambut oleh Kao Cin Liong dan isterinya dengan hormat pula, Bi-kwi dan Yo Jin yang menjadi suaminya, menyerahkan sebuah bingkisan yang berupa sebuah bungkusan kecil dari sutera merah. Bungkusan itu diterima oleh Suma Hui dan diletakkan di atas tumpukan barang-barang hadiah lain dalam bungkusan-bungkusan besar kecil. Kemudian mereka berdua dipersilahkan duduk, akan tetapi karena tempat duduk di bagian depan telah penuh tamu, Bi-kwi dan Yo Jin mencari tempat duduk kosong agak di sudut belakang. Ketika Bi-kwi melihat Bi Lan bersama Sim Houw, ia hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw juga tersenyum kepada mereka. Semua ini dilihat oleh Hong Beng dengan hati yang tidak puas. Jelaslah bahwa ada hubungan baik antara kedua orang itu, pikirnya dan biarpun kini Bi-kwi datang untuk menghormati Kao Cin Liong dan datang sebagai tamu, namun ketika memandang wanita itu, sinar mata Hong Beng penuh rasa tidak senang. Juga Suma Ciang Bun yang pernah berkelahi melawan Bi-kwi, memandang dengan alis berkerut. Namun Bi-kwi yang tahu akan sikap mereka itu, pura-pura tidak tahu saja.

Sebelum berangkat mengunjungi pesta perayaan itu, Bi-kwi memang sudah menduga bahwa di tempat pesta itu tentu akan menghadapi banyak orang yang mengambil sikap memusuhinya. Namun ia tidak peduli akan hal itu. Suaminya, Yo Jin yang sudah membuka kehidupan baru di dusun terpencil, tadinya merasa tidak setuju ketika Bi-kwi yang mendengar tentang undangan yang disebar Kao Cin Liong itu menyatakan hendak datang bertamu.

“Isteriku yang baik, apakah perlunya mengunjungi tempat ramai itu? Aku khawatir hanya akan mengundang datangnya urusan dan keributan belaka,” demikian antara lain suami yang jujur ini berkata.

“Tidak, suamiku, aku tahu benar bahwa urusan dan keributan hanya timbul karena diri sendiri. Dan aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak akan mencari keributan, seperti telah kuputuskan untuk merobah cara hidupku. Bukankah selama berbulan-bulan ini kita hidup aman dan tenteram di sini tak pernah terjadi sesuatu seolah-olah aku hanyalah isterimu yang sederhana, seorang wanita tani yang tidak mengerti ilmu silat?”

“Kuharap engkau akan begini seterusnya, isteriku sayang. Akan tetapi kenapa engkau mengajak aku untuk pergi ke Pao-teng untuk menghadiri pesta ulang tahun seorang pendekar? Biarpun engkau tidak mencari keributan, bagaimana kalau orang lain yang mencari keributan terhadap dirimu? Engkau tahu aku tidak mempunyai kepandaian untuk melindungi dirimu.”

Bi-kwi tersenyum, merangkul suaminya dan merebahkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Biarpun Yo Jin tidak pandai ilmu silat, namun suaminya mempunyai jiwa pendekar yang gagah perkasa dan ia selalu merasa aman tenteram hidup di samping suaminya.

“Jangan khawatir, suamiku. Bentrokan hanya mungkin terjadi kalau kedua pihak menghendakinya. Api tidak akan membakar sesuatu yang basah kuyup. Biarpun ada orang mencari gara-gara, kalau tidak kita layani, bagaikan api dia akan kehabisan bahan bakar dan akan padam sendiri. Aku ingin bertamu ke sana bukan untuk mencari perkara, melainkan untuk menghormati pendekar Kao Cin Liong yang merayakan hari ulang tahun. Dia mengundang para ahli silat pada umumnya tanpa pandang bulu, tanpa melihat golongan, dan aku ingin datang mengingat bahwa dia adalah putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, masih terhitung suheng dari adik Bi Lan. Bi Lan pasti datang dan hadir pula. Karena akupun sudah rindu kepadanya, dan ingin melihat perkembangan dunia sekarang. Sekali lagi jangan khawatir, bentrokan hanya dapat terjadi kalau kedua pihak maju, seperti sepasang tangan yang bertepuk. Tak mungkin sebelah tangan saja bertepuk menimbulkan panas dan bunyi kalau tidak menemukan lawan.”

Demikianlah, akhirnya Yo Jin mengalah dan menemani isterinya melakukan perjalanan ke Pao-teng. Mereka datang agak terlambat, setelah pesta dimulai sehingga kemunculan mereka menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi ketika suami isteri ini memilih tempat duduk di sudut belakang dan tenggelam di antara para tamu yang memenuhi tempat itu, suasana menjadi meriah kembali.

Banyak di antara para tamu mendekati dan merubung meja, agaknya ingin tahu sekali macamnya barang-barang sumbangan yang bertumpuk itu. Melihat ini, Suma Hui yang menjadi gembira karena belum pernah semenjak menikah ia mengadakan pesta dan ternyata pesta ulang tahun suaminya yang hanya diadakan untuk mengumpulkan orang dunia persilatan dan mengumumkan kehilangan anaknya itu dikunjungi demikian banyak orang dan menerima banyak sumbangan, segera mengusulkan kepada suaminya untuk membukai bungkusan-bangkusan itu di depan para tamu. Suaminya setuju dan ketika mereka berdua, dibantu oleh para anggauta keluarga, mulai membukai bungkusan dan mengumumkan nama penyumbangnya sambil mengangkat tinggi setiap buah benda sumbangan, para tamu menjadi gembira sekali. Tiada hentinya para tamu menyatakan kekaguman mereka setiap kali melihat barang sumbangan yang amat berharga dan beraneka warna itu

Memang bermacam-macam benda sumbangan para tamu, dan rata-rata merupakan benda berharga. Ada senjata yang baik, guci-guci berukir, cawan perak, perhiasan-perhiasan dan banyak lagi macamnya. Ketika tiba giliran bungkusan sutera merah kecil pemberian Bi-kwi dan Yo Jin tadi dibuka, pembukanya kebetulan adalah Suma Hui sendiri. Dan di antara para anggauta keluarga, yang paling memperhatikan ketika bungkusan ini dibuka adalah Gu Hong Beng dan gurunya, Suma
Ciang Bun. Mereka berdua yang masih merasa penasaran kepada Bi-kwi, ingin sekali melihat barang macam apa yang dibawa oleh tamu yang mereka anggap sebagai siluman betina yang amat jahat itu. Bungkusan itu kecil saja, entah apa isinya dan ketika jari-jari tangan Suma Hui membukanya, guru dan murid ini mendekat dan melihat dengan hati tegang.

Suma Hui sendiri tadi tidak memperhatikan dari siapa pemberian sumbangan dalam bungkusan merah yang kecil ini, maka ketika ia membukanya, ia tersenyum dan tidak merasakan ketegangan seperti yang dirasakan adiknya dan murid adiknya itu. Ketika bungkusan itu dibuka dan Suma Hui mengamatinya, tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan wanita perkasa ini menahan jeritnya, akan tetapi tetap saja masih terdengar seruannya. “Aihhh....!”

Kao Cin Liong terkejut, cepat mendekati isterinya dan dengan kedua tangan gemetar Suma Hui memperlihatkan benda yang terbungkus sutera merah itu. Sebuah perhiasan rambut dari emas yang diikat dengan segumpal rambut hitam. Benda itu sendiri merupakan perhiasan rambut yang biasa saja bagi orang lain, akan tetapi suami isteri itu terbelalak memandang karena mereka mengenal perhiasan rambut yang biasanya menghias rambut Kao Hong Li, puteri mereka yang lenyap diculik orang. Dan rambut itu.... rambut siapa lagi kalau bukan rambut Hong Li?

“Enci Hui, ada apakah?” Suma Ciang Bun yang melihat perubahan muka encinya dan kakak iparnya segera bertanya.

“Ini.... ini.... perhiasan rambut milik Hong Li....” Suma Hui berkata dengan masih gemetar dan gugup.

“Hemmm, siapakah tadi pengirim sumbangan ini?” Kao Cin Liong juga berkata dengan suara geram dan memandang ke sekeliling. Mendengar keterangan nyonya rumah bahwa isi bungkusan itu adalah perhiasan rambut yang biasa dipakai anak perempuan yang hilang diculik orang, tentu saja para tamu yang merubung meja sumbangan itu menjadi gempar. Mereka yang duduk di belakang segera mendengar dari mereka yang duduk di depan dan sebentar saja seluruh tamu mengetahui bahwa telah terjadi hal aneh, yaitu bahwa seorang di antara para tamu menyumbang perhiasan milik anak tuan rumah yang tadi dikabarkan hilang diculik orang. Tentu saja suasana menjadi gempar seketika.

“Iblis betina itulah yang tadi menyumbangkan bungkusan merah!” Tiba-tiba Gu Hong Beng berseru dan diapun sudah melompat dan lari menghampiri Bi-kwi dan Yo jin yang masih ikut bingung dan bertanya-tanya mendengar peristiwa yang meributkan itu.

Begitu berhadapan dengan Bi-kwi, Gu Hong Beng menudingkan telunjuknya ke arah muka Bi-kwi dan berkata dengan suara lantang, “Iblis betina, sungguh engkau jahat dan keterlaluan sekali, berani menghina kami! Engkaulah yang menculik adik Kao Hong Li, kemudian engkau berani mati datang untuk membawa perhiasan dan rambut adik Hong Li sebagai barang sumbangan!”

“Apa.... apa maksudmu? Harap jangan menuduh sembarangan. Bukan kami yang memberi barang seperti itu. Kami menyumbangkan sebuah benda lain!” kata Bi-kwi dengan sikap masih sabar walaupun pemuda itu memandang dengan mata melotot dan sikap bengis, siap hendak menerjangnya.

“Iblis betina, siapa tidak mengenalmu? Bi-kwi terkenal sebagai seorang wanita iblis yangjahat dan keji. Kiranya engkau yang menculik adik Hong Li dan kini datang sengaja hendak membikin kacau!”

Berkata demikian, pemuda ini menyerang. Serangannya amat hebat sehingga Bi-kwi yang tidak ingin membalas, dan tidak ingin melayani, ketika mengelak ke kiri masih saja tersentuh pundaknya oleh serangan itu dan wanita inipun terhuyung menabrak meja sehingga semua mangkok dan panci di atas meja itu terlempar dan jatuh berantakan. Tentu saja para tamu cepat berloncatan menjauhi perkelahian itu. Melihat isterinya diserang, Yo Jin segera melangkah maju. Dengan sikap sabar dia menghadapi Hong Beng.

“Saudara yang gagah, harap bersabar dulu. Sesungguhnya, apa yang dikatakan isteriku tadi benar belaka. Kami datang dengan iktikad baik, demi penghormatan kami terhadap tuan rumah yang masih terhitung suheng dari adik Can Bi Lan, dan kami berdua tadi memang memberi bingkisan sutera merah, isinya sebuah bros dari emas permata. Aku sendiri yang memilihkan di antara perhiasan milik isteriku, maka harap saudara bersabar dan jangan salah sangka....”

Mendengar bahwa laki-laki ini suami Bi-kwi, tentu saja Hong Beng tidak mau menerima keterangannya. Seorang suami tentu saja membela isterinya, pikirnya dan diapun mendorong tubuh laki-laki itu ke samping sambil berkata, “Minggirlah kau!”

Dorongan Hong Beng adalah dorongan seorang ahli silat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga sin-kang yang hebat, maka tentu saja Yo Jin yang tidak pandai ilmu silat itu, sekali tersentuh dorongan itu, tubuhnya terlempar menabrak beberapa buah kursi kosong dan jatuh terbanting dengan kerasnya!

“Hong Beng, engkau sungguh keterlaluan! Apakah kaukira di dunia ini hanya engkau seorang saja yang gagah dan benar, sedangkan orang lain semua jahat dan bersalah?” Tiba-tiba Bi Lan sudah berada di situ dan membentak dengan marahnya ketika ia melihat Hong Beng tadi memukul Bi-kwi yang sama sekali tidak melawan, bahkan pemuda itu mendorong roboh Yo Jin dengan keras.

Tadinya Hong Beng terkejut sendiri melihat betapa dorongannya membuat laki-laki yang mengaku suami Bi-kwi itu terlempar dan terjatuh, bahkan khawatir kalau-kalau orang itu terluka parah. Dia tidak tahu bahwa laki-laki yang menjadi suami seorang iblis betina seperti Bi-kwi ternyata tidak pandai ilmu silat sama sekali sehingga roboh oleh dorongan begitu saja. Akan tetapi ketika melihat munculnya Bi Lan yang kembali membela Bi-kwi, kemarahannya berkobar lagi.

“Can Bi Lan, engkau kembali berani hendak melindungi orang yang demikian jahatnya? Benar-benar engkau telah tersesat! Ia adalah iblis betina yang telah menculik adik Hong Li, dan kini ia datang untuk membikin kacau, dan engkau masih membelanya? Kalau begitu, engkau benar-benar telah berubah jahat!”

“Manusia sombong, engkau sudah buta oleh kesombonganmu. Engkaulah yang jahat!” Bi Lan membentak dan mereka berdua, seperti dikomando saja, tidak tahu siapa yang mulai, telah saling menyerang dengan marahnya. Karena mereka berdua adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka perkelahian itu hebat dan para tamu menjauhkan diri, diam-diam merasa girang karena mereka memperoleh kesempatan untuk menonton perkelahian yang bermutu. Para tamu itu adalah orang-orang dari dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun putih, maka tidaklah mengherankan kalau mereka suka sekali nonton adu ilmu silat, terutama kalau adu ilmu itu dilakukan oleh dua orang muda yang demikian lihainya. Suara angin pukulan mengaung-ngaung. dan menyambar-nyambar ganas, membuat para penonton menjadi kagum bukan main.

Melihat kekasihnya sudah berkelahi dengan Hong Beng, Sim Houw cepat meloncat ke depan dengan maksud untuk melerai perkelahian itu. Akan tetapi, Suma Ciang Bun yang sejak tadi sudah mendekati tempat perkelahian, siap untuk membantu muridnya kalau muridnya terdesak, merasa curiga dan mengira bahwa majunya Sim Houw tentu untuk membantu Bi Lan. Maka, tanpa banyak cakap lagi diapun menyambut datangnya Sim Houw dengan serangan pukulannya yang ganas dan dahsyat karena dia menyerang dengan pengerahan tenaga Hui-yang Sin-kang yang amat panas. Demikian panasnya hawa serangan itu sehingga terasa oleh para tamu yang sudah menjauhkan diri. Para tamu menjadi semakin gembira melihat dua orang itu sudah saling terjang dengan dahsyatnya. Sim Houw seperti biasa, mengalah dan hanya menangkis atau mengelak, sedangkan hatinya merasa bingung dan gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa kembali dia dan kekasihnya terlibat perkelahian dengan guru dan murid yang galak dan selalu memusuhi Bi Lan itu.

Melihat betapa gara-gara ia dituduh menculik anak tuan rumah, kini sumoinya yang jelas membelanya telah berkelahi, juga Sim Houw berkelahi dengan Suma Ciang Bun, Bi-kwi menjadi bingung dan juga khawatir sekali. Ia meloncat maju untuk melerai perkelahian antara Bi Lan dan Hong Beng. Melihat, ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui cepat lari menghampiri tempat perkelahian. Mereka tentu saja ingin menangkap Bi-kwi yang dituduh sebagai pembawa bingkisan yang berisi perhiasan dan rambut kepala anak mereka. Akan tetapi mereka kecelik kalau tadi mengira bahwa Bi-kwi hendak membantu Bi Lan. Ternyata Bi-kwi meloncat maju bukan untuk membela Bi Lan melainkan untukmelerai. Ia memegang lengan Bi Lan dan menariknya ke belakang sambil berkata, “Sumoi, tahan dulu, sebaiknya kita bicara baik-baik!”

Perbuatan Bi-kwi ini dapat mencelakakan sumoinya karena ia menangkap lengan kiri Bi Lan dan menariknya ke belakang dan pada saat itu, Hong Beng yang juga mengira akan dikeroyok dua, sudah menerjang maju dan menyerang Bi Lan yang posisinya buruk karena sebelah lengannya diganduli Bi-kwi. Pada saat itu, Kao Cin Liong sudah menangkap pundak Hong Beng.

“Hong Beng, tahan dulu!” teriak Kao Cin Liong dan tentu saja Hong Beng tidak berani meronta setelah dia tahu siapa orangnya yang menahannya. Dengan muka masih merah karena marah, matanya bersinar-sinar memandang ke arah Bi Lan dan Bi-kwi, diapun menghentikan gerakannya dan melangkah mundur.

Sementara itu, Suma Hui juga sudah melerai perkelahian antara Suma Ciang Liong dan Sim Houw. Lebih mudah melerai perkelahian ini karena memang Sim Houw tidak melawan. Suma Hui hanya menghadang di depan Suma Ciang Bun dan minta kepada adiknya itu untuk menghentikan serangan. Suma Ciang Bun menahan gerakannya, memandang marah kepada Sim Houw.

“Sudah jelas iblis betina Bi-kwi itulah penculik anakmu, enci Hui. Kalau mereka hendak membela, mari kita turun tangan membasmi mereka yang jahat itu!”

“Nanti dulu, Bun-te, kita bicara dulu dengan mereka, minta penjelasan,” kata Suma Hui.

Kini Kao Cin Liong dan Suma Hui menghadapi Bi-kwi yang sudah menolong suaminya. Untung bahwa Yo Jin tidak terluka parah, hanya kulitnya yang lecet-lecet saja. Mereka kini berdiri berdampingan, di depan Kao Cin Liong dan Suma Hui yang melihat betapa sikap suami isteri itu sama sekali tidak kelihatan takut atau khawatir seperti orang yang berdosa. Mereka nampak tenang saja dan wajah mereka membayangkan rasa penasaran.

Melihat ini, Kao Cin Liong tidak mau sembarangan menuduh. Dia mendahului isterinya, berkata kepada Bi-kwi, “Nona Ciong,” katanya, tidak mau menyebut nama julukan Bi-kwi karena dia sudah mendengar penuturan Bi Lan tentang wanita ini, “kami mengharap sukalah engkau memberi keterangan apa artinya engkau dan suamimu sebagai tamu kami memberi bingkisan seperti ini! Ini adalah hiasan rambut anak kami yang hilang diculik orang!” Berkata demikian, Kao Cin Liong dan isterinya memandang tajam kepada wajah wanita itu penuh selidik.

Bi-kwi menghela napas panjang, lalu menjura dengan hormat. “Kao-taihiap berdua yang terhormat, kiranya akan sia-sia kalau orang seperti saya yang memberi keterangan karena tentu tidak akan dipercaya dan sayapun tidak menyalahkan mereka yang tidak percaya karena saya pernah menjadi seorang tokoh sesat yang hidup menyeleweng. Akan tetapi suami saya ini, Yo Jin, adalah seorang petani yang jujur dan selamanya hidup bersih. Biarlah dia yang memberi penjelasan.” Berkata demikian Bi-kwi memandang kepada suaminya dengan sinar mata penuh permohonan, dan Yo Jin pun maju dan memberi hormat kepada Kao Cin Liong dan isterinya.

“Semua yang diceritakan isteri saya tadi benar belaka. Ketika mendengar undangan umum untuk menghadiri hari ulang tahun Kao-taihiap, isteri saya menyatakan keinginan hatinya untuk pergi menghadiri pesta perayaan itu. Saya sudah ragu-ragu dan menyatakan keberatan karena saya takut kalau-kalau timbul urusan lagi dengan isteri saya yang banyak dimusuhi orang. Akan tetapi isteri saya memaksa dengan alasan menghormat Kao-taihiap yang dianggap suheng dari adik Bi Lan yang kami sayang dan hormati. Terpaksa saya setuju dan saya sendiri lalu memilih di antara kumpulan perhiasan isteri saya untuk dibawa sebagai barang bingkisan. Saya memilih sebuah hiasan bros emas permata berbentuk burung Hong. Inilah keterangan yang sesungguhnya dan saya berani bersumpah akan kebenarannya. Kalau sekarang bungkusan sutera merah itu berisi benda lain, bagaimana kami mengetahuinya?”

Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya, keduanya mengerutkan alisnya.

Hong Beng yang sejak tadi mendengarkan, tiba-tiba berkata kepada Kao Cin Liong dengan suara lantang, “Harap Kao-locianpwe dan bibi guru tidak mudah ditipu oleh Bi-kwi. Ia terlalu jahat dan saya mengenal kejahatan dan kepalsuannya semenjak Sam Kwi masih hidup. Saya merasa yakin bahwa kalau bukan ia yang telah menculik adik Hong Li, setidaknya ia tentu tahu tentang penculikan itu!”

Mendengar ucapan Hong Beng itu, Bi-kwi maju dan memberi hormat kepada tuan rumah. “Kao-taihiap, tidak saya sangkal bahwa saya pernah mengambil jalan hidup yang sesat penuh dosa. Akan tetapi biarpun demikian, belum pernah saya menjadi seorang pengecut. Andaikata benar saya yang menculik puteri taihiap, dan saya telah berani datang ke sini mengembalikan hiasan rambutnya, lalu apa perlunya saya menyangkal mati-matian? Kalau saya sudah berani melakukan itu, dan berani pula datang ke sinimenyumbangkan hiasan rambut, tentu saya berani pula menghadapi segala resiko dan akibatnya! Dan tentu saja tidak akan begitu bodoh dan gila untuk mengajak suami saya yang sedikitpun tidak tahu ilmu silat. Harap taihiap pertimbangkan, karena saya tahu bahwa menyangkal dan membela diri dengan kata-kata, tentu tidak akan dipercaya.”

Kao Cin Liong kembali saling pandang dengan isterinya, bingung karena mereka sendiripun bimbang. Mereka percaya kepada tuduhan Hong Beng tadi, akan tetapi mereka juga dapat menerima alasan Bi-kwi.

“Kao-suheng, saya berani menanggung kebenaran ucapan suci Ciong Siu Kwi!” tiba-tiba Bi Lan berkata dengan sikap gagah dan matanya melirik ke arah Hong Beng. “Saya yang mengenal betul keadaan hidup enci Ciong Siu Kwi sebelum ia sadar dan sekarang saya tahu betul bahwa ia telah merobah cara hidupnya. Saya yakin ia tidak bersalah sedikitpun juga dalam urusan kehilangan puteri suheng. Kalau saya menduga bahwa ia penculiknya, saya sendiri yang akan menentangnya, kalau perlu membunuhnya karena bukankah saya sudah berjanji kepada suhu dan subo, bahwa saya takkan menikah dan takkan kembali sebelum dapat menemukan puteri suheng? Tidak, suci Siu Kwi tidak bersalah, hal ini saya yakin benar!”

Melihat sikap dan pembelaan Bi Lan yang demikian penuh semangat, Bi-kwi merasa terharu sekali. “Sumoi, jangan engkau terlalu membelaku. Sudah kulihat betapa karena engkau menolong aku yang kotor dengan air lumpur, maka engkau sendiri terpercik lumpur dan direndahkan orang lain.”

“Tidak, suci. Aku tidak membela engkau atau seorang suci, melainkan membela kebenaran. Siapapun dia kalau berada di pihak benar, sudah sepatutnya kubela.”

Mendengar percakapan antara suci dan sumoi itu, Kao Cin Liong dan Suma Hui menjadi semakin ragu-ragu akan kesalahan Bi-kwi.

“Nona Ciong, bagaimanapun juga, bingkisan ini tadi adalah pemberianmu, oleh karena itu, kami yang kehilangan anak perempuan kami, kalau tidak menuduhmu yang tadi memberi bingkisan ini, lalu harus menuduh siapakah?” kata Suma Hui, sambil memandang tajam kepada Bi-kwi.

Wanita ini lalu melangkah maju. “Saya merasa bertanggung jawab, oleh karena itu, saya mohon sukalah Kao-taihiap menyerahkan barang itu kepada saya untuk saya selidiki sebentar.”

Tanpa ragu-ragu Kao Cin Liong menyerahkan bungkusan perhiasan rambut dan segumpal rambut itu kepada Bi-kwi, berikut bungkusnya, yaitu sutera merah. Bi-kwi menerimanya, lalu memeriksanya dengan teliti. Mula-mula ia memeriksa kain sutera pembungkusnya, kemudian isinya. Sinar matanya mencorong dan iapun memandang ke kanan kiri.

“Kao-taihiap, penculik anak taihiap itu berada di sini, di antara kita semua! Dia seorang di antara para tamu!”

Kao Cin Liong dan isterinya, juga para anggauta keluarga dan para tamu yang mendengar ucapan ini, terkejut dan suasanapun menjadi bising. Bi-kwi lalu berkata kepada tuan rumah, “Kalau Kao-taihiap percaya kepada saya dan suka meluluskan permintaan Saya, marilah kita berunding di dalam saja.”

Kao Cin Liong dan isterinya mengangguk, lalu minta kepada Hong Beng dan gurunya untuk mewakili pihak tuan rumah melayani para tamu, sedangkan dia bersama isterinya, juga diikuti oleh para keluarga, yaitu Kam Hong dan Bu Ci Sian, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, lalu Sim Houw dan Bi Lan juga diajak masuk bersama Bi-kwi dan Yo Jin.

Setelah tiba di dalam, Bi-kwi lalu cepat memberi keterangan. “Kao-locianpwe, jelaslah bahwa bingkisan kami tadi ada yang mengambil dan menukarnya dengan bingkisan ini. Hal itu tentu terjadi ketika orang-orang datang merubung meja tempat hadiah dan orang itu tentu pandai sekali sehingga tidak ada yang melihat perbuatannya. Karena kami datang terlambat dan bingkisan kami berada di atas, maka hal itu mudah dia lakukan.”

“Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa bingkisanmu itu ditukar orang? Apa tandanya?” tanya Suma Hui.

“Sutera merah ini berbeda dengan sutera merah yang kami pakai untuk membungkus perhiasan bros itu. Dan pula, sebelum dibungkus sutera merah, kami membungkusnya dengan kertas kuning lebih dulu. Akan tetapi bungkusan ini tidak ada kertas kuningnya. Jelaslah, ada seorang yang sengaja memalsukannya.

“Akan tetapi, apa maksudnya?” tanya Kao Cin Liong.

“Hemm, kalau benar demikian, maksudnya sudah jelas!” kata Suma Ceng Liong. “Pertama, untuk mengacaukan pesta, ke dua untuk mengadu domba. Kita cari dan tangkap dia selagi masih berada di sini!” Pendekar ini bangkit.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Sim Houw berkata.

“Saya harap cuwi tidak tergesa-gesa dalam hal ini. Sudah jelas bahwa di antara para tamu terdapat seorang atau lebih musuh yang bergerak secara rahasia. Di antara sekian banyaknya tamu, bagaimana kita dapat mengetahui yang mana orangnya? Tidak ada bukti apapun padanya dan dia yang menukar bingkisan tadi tentu tidak begitu bodoh untuk membiarkan bingkisan itu masih ada padanya kalau dilakukan penggeledahan. Kita akan gagal, bahkan mungkin sekali menyinggung perasaan para tokoh yang tidak berdosa. Juga berarti kita mengejutkan ular yang berada di dalam rumput dan semak-semak kalau kita menggebrak rumput dan semak-semak itu. Kalau hendak menangkap ular yang bersembunyi di dalam rumput, harus dengan hati-hati jangan sampai dia kaget dan siap siaga.”

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk. “Pendapat ini memang tepat memang, akan tetapi aku tidak melihat lain jalan untuk dapat menangkap penculik Hong Li.”

“Menangkap penculik itu adalah tugas kami berdua dan kami sudah menemukan jejak. Memang sebaiknya kalau orang yang membikin kacau pesta ini dibiarkan saja agar dia tidak membuat laporan kepada atasannya. Saya yakin bahwa yang datang menukar bingkisan itu hanyalah kaki tangan penculik itu, bukan si penculik sendiri karena kalau ia yang muncul, mungkin kami berdua dapat mengenalnya,” kata Bi Lan.

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan isterinya terkejut, juga girang. “Sumoi, siapakah penculik jahanam itu?” tanya Kao Cin Liong.

“Suheng, kami memperoleh petunjuk ketika melakukan perjalanan dari Gurun Pasir, tentang seorang wanita berjuluk Sin-kiam Mo-li. Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, dan menurut pendengaran kami, ia selain amat lihai dalam ilmu silat, juga pandai ilmu sihir. Kami hendak menyelidik ke sana dan mudah-mudahan kami berhasil. Sebaiknya, urusan penukaran bingkisan ini tidak dibikin ribut agar penculik itu tidak menjadi terkejut dan siap siaga sehingga menyusahkan kita serdiri untuk mencarinya.”

“Hemmm, kalau begitu, aku akan ikut membantumu, sumoi!” kata Bi-kwi. “Urusan ini sekarang menjadi urusanku pula karena aku telah dilibatkan orang sehingga namaku dicemarkan dan aku yang dituduh menculik. Untuk membersihkan ini, tidak ada jalan lain kecuali aku bertindak menangkap si penculik.” Lalu ia berkata kepada Yo Jin, “Suamiku, kuharap engkau pulang sendiri terlebih dulu, aku harus membantu sumoi dan Sim-taihiap untuk menangkap penculik.”

Yo Jin mengerutkan alisnya, menarik napas panjang dan menggeleng kepala, lalu berkata, “Sebenarnya hatiku amat berat melepas engkau pergi, isteriku, akan tetapi aku melihat bahwa memang fitnah itu membuat engkau terpaksa bertindak. Inilah jadinya kalau mendekati keramaian kota , ada saja urusan menyusahkan diri0!”

Suma Ceng Liong yang mendengarkan sejak tadi, mengangguk-angguk. “ Mudah-mudahan saja dugaan semua itu benar. Memang jelaslah bahwa penculik itu sengaja hendak menyusahkan keluarga kita. Pertama dengan menculik Hong Li, kemudian berusaha mengadu domba dan mengacau pesta. Karena Hong Li merupakan keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir, maka si penculik itu tentulah seorang yang memusuhi kedua keluarga itu, atau setidaknya satu di antaranya. Kalau yang disebut Sinkiam Mo-li itu anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio, memang kuat alasannya kalau ia memusuhi kita. Akan tetapi, sebaiknya kalau kita semua turun tangan menyerbu ke tempat tinggalnya.”

“Saudara Suma Ceng Liong, saya kira hal itu tidak perlu karena kami baru menduga saja, belum ada bukti-bukti nyata bahwa Sin-kiam Mo-li penculiknya. Biarlah kami menyelidiki lebih dulu, kalau kami cukup kuat, kami akan merampas kembali nona Kao Hong Li, kalau kami melihat bahwa pihak musuh terlalu kuat, baru kami akan mohon bantuan cu-wi.”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. Tentu saja sebagai ayah, dia menyetujui setiap usaha untuk menemukan kembali puterinya. “Aku percaya kepada kalian berdua,” katanya kepada Sim Houw dan Bi Lan, “dan kalau nona Ciong suka membantu, itu lebih baik lagi agar hati kami tidak ragu-ragu lagi terhadap namanya.”

“Agar tidak menimbulkan kecurigaan, sebaiknya kalau saya dan suami saya meninggalkan tempat ini dari belakang saja, agar para tamu mengira bahwa memang sayalah yang bersalah dan pihak tuan rumah telah mengambil tindakan. Hal ini penting agar orang yang melakukan penukaran bingkisan tadi merasa telah berhasil dan melapor ke atasannya,” kata Bi-kwi. “Dan aku menunggumu di luar kota sebelah barat, sumoi,” tambahnya kepada Bi Lan.

Kao Cin Liong dan isterinya setuju. Kam Hong yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, diam-diam merasa kagum dan bangga akan sepak terjang orang-orang muda itu. Terutama sekali sikap Sim Houw yang demikian tenang, dan demikian teguh pendiriannya sehingga tidak ragu-ragu bersama Bi Lan yang menjadi calon isterinya berjanji tidak akan menikah sebelum menemukan kembali. Hong Li, dan pembelaan mereka terhadap Bi-kwi walaupun wanita ini pernah menjadi tokoh sesat karena mereka yakin bahwa Bi-kwi kini telah merobah cara hidupnya dan kembali ke jalan benar.

“Pendapat dan keputusan kalian memang tepat,” kata Kam Hong. “Akan tetapi kalian harus berhatihati karena ingat, kalau ada musuh yang sengaja menyerang keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir dengan perbuatan rahasia dan fitnah, juga adu domba, berarti bahwa mereka itu telah siap siaga menyusun kekuatan. Karena itu, Sim Houw, dalam melakukan penyelidikan, berhati-hatilah dan kalau sekiranya keadaan pihak musuh terlalu kuat, jangan segan-segan untuk minta bantuan kedua keluarga itu.”

Sim Houw memberi hormat kepada kakek perkasa itu. “Baiklah, suhu, teecu akan mentaati semua pesan suhu.”

Akhirnya Bi-kwi dan suaminya lebih dahulu pergi melalui pintu belakang, tanpa diketahui oleh para tamu. Baru kemudian tuan rumah dan keluarganya keluar ke tempat ruangan pesta. Akan tetapi baru saja mereka keluar, terjadi keributan lain. Terdengar teriakan-teriakan para pelayan dan ketika keluarga itu lari ke dalam, mereka melihat seorang di antara para pelayan telah mati dengan tubuh kaku dan muka hitam. Keracunan!

“Tahan semua hidangan! Jangan dikeluarkan lagi sebelum kami periksa!” Kemudian Kao Cin Liong yang mengeluarkan perintah ini dibantu oleh para keluarga yang gagah perkasa untuk melakukan penyelidikan. Semua makanan bersih, akan tetapi ternyata guci-guci arak yang masih belum dihidangkan, telah keracunan! Ada sepuluh guci arak yang keracunan, dan agaknya pelayan itu tadi minum secawan arak dari guci yang keracunan. Jelaslah bahwa ada orang yang sengaja menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu.

“Apakah tadi ada di antara tamu yang masuk ke sini?” tanya Kao Cin Liong.

Para pelayan itu saling bertanya dan akhirnya seorang di antara mereka teringat bahwa memang ada seorang tamu yang bercambang bauk lebat masuk ke situ, setengah mabok sambil membawa cawan dan sambil tertawa- tawa memuji lezatnya masakan dan harumnya arak, dia minta arak karena guci di depan sudah kosong.

“Dia datang sendiri ke tempat di mana ditaruh guci-guci itu, kemudian dia keluar sambil membawa seguci arak sambil tertawa-tawa dan terhuyung-huyung setengah mabok,” demikian antara lain pelayan itu menerangkan. Kini ada beberapa orang pelayan lain yang juga teringat akan tamu berjenggot dan berkumis brewok itu yang memasuki dapur dalam keadaan setengah mabok.

“Cepat ikut aku dan tunjukkan yang mana tamu itu!” kata Kao Cin Liong mengajak empat orang pelayan itu keluar. Akan tetapi, mereka tidak menemukan orang brewokan itu di antara para tamu.

“Tentu dia sudah pergi,” kata Kam Hong yang ikut pula mengadakan pemeriksaan dengan teliti terhadap semua makanan. “Agaknya setelah melihat bahwa usahanya yang pertama untuk mengadu domba itu tidak memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan, dia lalu menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu. Aih, masih untung racun itu hanya mengorbankan nyawa seorang pelayan. Kalau sampai dihidangkan dan banyak tamu kang-ouw tewas oleh arak beracun, tentu namamu akan menjadi rusak dan keadaan benar-benar akan menjadi kacau balau.”

Kao Cin Liong bergidik dan Suma Hui mengepal tinju. “Keparat jahanam!” kata Suma Hui. “Siapakah orangnya yang demikian membenci kami sehingga melakukan perbuatan kejam dan terkutuk secara bertubi terhadap kami? Kalau saja aku tahu siapa orangnya!”

Kematian pelayan karena keracunan itu dirahasiakan dan tidak diketahui para tamu sehingga pesta itu berakhir dengan tenang. Para tamu mulai berpamit meninggalkan tempat itu dan tidak lupa Kao Cin Liong selain menghaturkan terima kasih, juga mengharapkan agar para tamu ikut bantu mendengarkan kalau-kalau ada di antara mereka dapat mengetahui di mana adanya Kao Hong Li yang lenyap itu. Dengan adanya pesta ini, nama Kao Hong Li segera terkenal di seluruh dunia kang-ouw karena menjadi pokok percakapan dan perbincangan.

Sim Houw dan Bi Lan segera berpamit dari keluarga itu dan memperoleh doa restu, kecuali, tentu saja, dari Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang bagaimanapun juga masih merasa tidak puas. Hong Beng masih merasa tidak puas dan masih tetap saja ada keraguan akan kebersihan Bi-kwi, sedangkan Suma Ciang Bun yang biarpun mulai meragukan kesalahan Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw karena dia tahu betapa muridnya diracuni iri hati dan cemburu, tetap saja terseret oleh sikap muridnya yang memusuhi Bi-kwi tadi. Memang tadi diapun mempunyai dugaan bahwa Bi-kwi bersalah, apa lagi karena dia pernah diserang oleh Bi-kwi yang bersekongkol dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw sehingga hampir saja dia tewas. Kini, kembali ternyata bahwa agaknya dugaan muridnya itu keliru dan Bi-kwi bahkan telah diterima oleh kedua keluarga para pendekar itu untuk bantu mencari Hong Li sampai dapat. Namun, hati pendekar ini tidak merasa puas.

Setelah Bi Lan dan Sim Houw pergi, Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya untuk bicara dengan Ceng Liong dan isterinya. Tentu saja Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa heran ketika Ciang Bun minta kepada mereka untuk bicara di antara mereka berempat sendiri. Mereka memilih sebuah kamar kosong dan begitu mereka duduk di dalam kamar tertutup itu, Suma Ceng Liong tersenyum memandang kepada kakak misannya.

“Bun-ko, engkau sungguh aneh dan membikin kami merasa heran dan ingin tahu sekali! Ada urusan apakah maka engkau bersikap begini penuh rahasia dan mengajak kami bicara tertutup seperti ini?”

Suma Ciang Bun juga tersenyum dan legalah hati Suma Ceng Liong dan isterinya. Sikap Ciang Bun yang santai itu tidak membayangkan adanya urusan yang amat gawat, walaupun kakak itu mengajak mereka dalam kamar tertutup.

“Ah, hanya urusan kekeluargaan, Liong-te, akan tetapi kurang enak kalau didengar anggauta keluarga lain karena hal ini hanya menyangkut keluargamu dan keluargaku saja,” jawab Ciang Bun.

Kini Kam Bi Eng tak dapat menahan ketawanya. Sungguh aneh kakak misan ipar ini. Jelas bahwa Suma Ciang Bun tidak pernah menikah, maka tentu saja tidak mempunyai keluarga selain keluarga suaminya juga. “Aih, Bun-ko, bukankah keluargamu juga berarti keluarga kami? Mana ada keluarga kami dan keluarga Bun-ko!”

Ciang Bun juga tersenyum. “Yang kumaksud dengan keluargaku adalah aku dan muridku ini, karena dia sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, Nah, aku ingin membicarakan tentang muridku ini dan anak kalian.”

Suami isteri itu saling pandang dan keduanya hampir berbareng bertanya, “Suma Lian....?”

Gu Hong Beng hanya menundukkan mukanya saja. Kalau tidak dipaksa oleh gurunya, sampai bagaimanapun juga dia tentu tidak akan berani membuka mulut! Kini dengan jantung berdebar keras dia menanti suhunya yang mulai membuka rahasia itu.

“Aku ingin membicarakan tentang perjodohan antara Suma Lian dan muridku Gu Hong Beng ini....”

“Bun-ko....!” Ceng Liong berseru kaget dan heran, pandang matanya tajam dan terbelalak.

“Apa maksudmu? Kapankah Bun-ko mengajukan pinangan dan....”

“Anakku Lian-ji masih begitu muda, baru juga duabelas tahun lebih usianya!” Kam Bi Eng juga berseru heran.

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk. Memang agak sukar dia mengatur kata-katanya, maklum karena selama hidupnya baru sekali ini dia bicara tentang perjodohan, apa lagi dia bertindak sebagai orang tua yang ingin menjodohkan muridnya yang dianggap sehagai anaknya sendiri.

“Aku tahu.... aku tahu.... akan tetapi ikatan perjodohan antara anak kalian dan muridku telah terjadi semenjak kematian ibumu, yaitu bibi Teng Siang In, Liong-te....”

“Bun-ko, apa maksudmu? Sungguh aku tidak mengerti Ceng Liong bertanya lagi, memandangi guru dan murid itu dengan heran.

“Muridku tidak berani memberitahukan kepada kalian, dia yang merasa rendah hati itu hanya berani menceritakan kepadaku. Begini, Liong-te, kalian tentu masih ingat ketika terjadi penculikan atas diri puterimu, Suma Lian, oleh Sai-cu Lama yang merobohkan bibi Teng Siang In dengan pedang Ban-tok-kiam yang dirampasnya dari gadis she Can itu.”

Ceng Liong dan Bi Eng mengangguk tanpa menjawab, mendengarkan dengan hati penuh rasa tegang.

“Nah, ketika muridku membawa ibumu pulang dalam keadaan terluka, kalian lalu melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama yang melarikan puterimu, meninggalkan bibi Teng Siang In berdua dengan Hong Beng. Dalam saat terakhirnya itulah bibi Teng Siang In meninggalkan pesan kepada Hong Beng.”

“Ibuku meninggalkan pesan terakhir kepadamu? Mengapa engkau tidak menyampaikan pesan itu kepadaku, Hong Beng?” Suma Ceng Liong bertanya dan menegur pemuda itu yang tidak mampu menjawab.

“Maafkan muridku, Liong-te. Dia tidak berani melapor dan hanya berani menyampaikan kepadaku, itupun baru-baru saja ini dia katakan. Ibumu berpesan agar kelak Hong Beng suka menjadi suami anakmu, dan ia bahkan menyuruh Hong Beng mengucapkan janjinya untuk mematuhi pesan terakhir itu! Dan Hong Beng telah mengucapkan janji itu!”

“Aihhh....!” Suami isteri itu berseru kaget dan Suma Ceng Liong mengerutkan alisnya. “Kenapa ibu meninggalkan pesan seperti itu? Dan kenapa pula engkau mau berjanji seperti itu, Hong Beng?“

“Saya.... saya tidak berani menolak permintaan locianpwe yang sudah hampir meninggal dunia itu....“ kata Hong Beng sambil menundukkan mukanya. Mendengar jawaban ini, Ceng Liong dan Bi Eng saling pandang dan merekapun tidak dapat terlalu menyalahkan Hong Beng. Pesan dan permintaan seorang yang hampir putus nyawanya memang sukar ditolak.

“Dan dia tidak berani melaporkan kepada kalian karena dia merasa rendah diri. Dia merasa tidak pantas menjadi calon suami puterimu, dan takut kalau-kalau kalian menjadi marah kalau dia menyampaikan pesan itu. Akan tetapi di samping itu, diapun gelisah sekali karena dia sudah berjanji kepada bibi Teng Siang In, dan dia akan selalu merasa berdosa kalau kelak tidak memenuhi janjinya itu. Karena itu, dia menjadi gelisah dan menyampaikan pesan itu kepadaku. Nah, adik Suma Ceng Liong, kurasa engkau akan cukup mengerti kalau sekarang aku minta kalian untuk membicarakan urusan perjodohan antara puterimu dan muridku.”

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk dan Kam Bi Eng mengerutkan alisnya. “Bun-ko, memang tindakanmu ini wajar dan tepat. Dan kamipun bukan bermaksud untuk mengabaikan pesan ibu kandungku sendiri. Akan tetapi, engkau sendiripun tentu telah mengetahui riwayat dari pada perjodohan kami berdua. Pilihan orang tua akhirnya tidak cocok dan tidak jadi, dan kami memilih jodoh atas dasar pilihan hati sendiri, bukan pilihan orang tua atau siapapun juga. Oleh karena itu, sudah sejak mempunyai anak, kami suami isteri telah bersepakat untuk memberi kebebasan pula kepada anak kami Suma Lian. Ialah yang kelak akan menentukan dengan siapa ia akan menikah. Tak seorangpun boleh memaksanya, bahkan andaikata ibuku masih adapun, beliau tidak akan kubenarkan kalau memaksa anak kami berjodoh dengan orang yang dipilih ibuku.”

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk, mengerti. “Jadi kalau begitu, kalian tidak setuju kalau anak kalian Suma Lian berjodoh dengan muridku Gu Hong Beng?”

“Tidak setuju kalau perjodohan itu tidak dikehendaki oleh Suma Lian, tentu saja,” kata Kam Bi Eng yang membenarkan keputusan suaminya itu.

“Bagaimana kalau kelak Suma Lian setuju berjodoh dengan Gu Hong Beng?” desak Suma Ciang Bun.

“Kalau memang kehendak anak kami demikian, tentu saja kamipun tidak merasa keberatan, Bun-ko,” kata Suma Ceng Liong dengan suara mantap.

“Bagus, kita telah bicara dengan hati terbuka. Nah, Hong Beng. Sekarang tidak ada yang perlu kaususahkan. Pesan terakhir mendiang bibi Teng Siang In kini telah kita sampaikan kepada orang tua Suma Lian dan merekapun setuju kalau anak itu kelak suka menjadi jodohmu. Kini bebaslah penanggungan hatimu. Kalau kelak Suma Lian suka menjadi isterimu, berarti engkau telah memenuhi pesan terakhir bibi Teng Siang In dan ayah ibu anak itu tidak akan menghalangi dan akan menyetujuinya sehingga semua akan berjalan dengan lancar. Akan tetapi, andaikata Suma Lian tidak setuju dan menolak untuk menjadi isterimu, maka tentu saja tali perjodahan itu gagal, akan tetapi kegagalan itu bukan karena kesalahanmu sehingga engkau tidak perlu merasa berdosa kepada bibi Teng Siang In.”

Hong Beng cepat menghaturkan terima kasih kepada suhunya, juga kepada Suma Ceng Liong dan isterinya. Hatinya memang terasa lega bukan main. Ketika dia berjanji di depan nenek itu dalam saat terakhir, dia terpaksa sekali dan setelah berjanji, dia merasa terikat. Kini, ikatan itu melonggar dan dadanya terasa lega. Tinggal mudah saja baginya. Dia akan menanti sampai Suma Lian menjadi seorang gadis dewasa, sekitar lima enam tahun kemudian, lalu dia akan menemui gadis itu, menceritakan tentang pesan terakhir nenek Teng Siang In dan melihat bagaimana sikap dan tanggapan Suma Lian. Kalau gadis itu setuju, berarti dia akan menjadi suami gadis itu, mantu dari pendekar Suma Ceng Liong, suatu hal yang merupakan penghormatan besar sekali baginya. Kalau sebaliknya gadis itu menolak, maka dia akan bebas dari janjinya terhadap pesan nenek itu dan dia akan bebas berjodoh dengan wanita manapun juga tanpa merasa berdosa dan melanggar janji.

Akhirnya keluarga keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir itu saling berpisah dan kembali Kao Cin Liong dan isterinya ditinggal berdua saja, melamun dan terbenam kedukaan kehilangan anak mereka walaupun kini mereka mempunyai harapan karena Pendekar Suling Naga sendiri bersama Bi Lan dan dibantu oleh Bi-kwi pula, yang akan mencari anak mereka sampai dapat. Mereka percaya penuh akan kemampuan Pendekar Suling Naga Sim Houw, apa lagi dibantu oleh dua orang wanita yang memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi itu. Mereka hanya dapat menanti, dan berdoa.

“Lihat baik-baik, Hong Li, hari ini akan ada pertunjukan yang amat menarik hati,” kata Sin-kiam Mo-li setelah mengajak muridnya meloncat naik ke atas menara. Kini, setelah memperoleh gemblengan setiap hari dari Sin-kiam Mo-li, gadis cilik itu telah mampu melompat naik ke atas menara itu, bahkan di atas menara itu ia diajar untuk berlatih samadhi oleh gurunya.

“Apakah akan terjadi penyerbuan lagi seperti yang dilakukan lima orang tempo hari, subo?” tanya Hong Li sambil memandang ke sekeliling. Dari menara itu, nampaklah seluruh daerah kekuasaan gurunya. Rumah tempat tinggal mereka yang dikelilingi semak-semak belukar dan hutan-hutan kecil buatan yang aneh-aneh, yang penuh dengan jebakan rahasia dan perangkap-perangkap maut, pasir dan lumpur maut yang mengerikan. Dari atas menara itu Hong Li dapat melihat sampai jauh ke bawah, ke kaki bukit dan sampai ke luar hutan-hutan buatan yang penuh jebakan itu. Akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa. Daerah sekitar tempat itu nampak seperti biasa, sunyi saja dan hanya burung-burung yang beterbangan dari pohon ke pohon.

“Aku tidak melihat apa-apa, subo,” katanya.

“Bukan ke situ, lihatlah ke sungai sana.”

Hong Li menengok ke kiri dan terkejutlah ia melihat lima buah perahu menyusuri Sungai Cin-sa. Ia tadi hanya memperhatikan daerah daratan saja, sama sekali tidak memperhatikan sungai itu. Di dalam lima buah perahu itu terdapat orang-orang yang jumlahnya semua tigapuluh dua orang! Tidak dapat ia melihat dengan jelas keadaan orang-orang itu walaupun ia dapat menghitung mereka dengan mudah. Kini tepat di bagian yang paling dekat dengan tempat tinggal subonya, lima buah perahu itu minggir dan semua orang berloncatan ke darat, menyeret perahu-perahu itu naik ke atas daratan,

“Hemm, mereka tentu orang-orang Cin-sa-pang yang tolol!” Hong Li mendengar subonya berkata. “Dan sekarang agaknya mereka dibantu dua orang kakek pandai, entah pimpinan mereka sendiri ataukah orang lain.”

Hong Li memandang penuh perhatian dan kini iapun melihat bahwa semua orang telah berkumpul, membuat lingkaran mengelilingi tiga orang yang sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek. Melihat betapa tiga orang itu berdiri berhadapan dengan dua orang kakek, Hong Li dapat mengerti apa yang dimaksudkan subonya. Agaknya tiga orang itu tentu para pimpinan Cin-sa-pang dan dua orang kakek itulah yang oleh gurunya disebut dua orang kakek pandai. Dilihat dari atas menara, mudah diduga bahwa para pimpinan itu sedang mengadakan perundingan, mereka itu mungkin sedang mengatur siasat untuk menyerbu ke atas. Hong Li merasa betapa jantungnya berdebar saking tegangnya. Teringat ia akan lima orang penyerbu dan diam-diam ia bergidik. Jangan-jangan subonya juga akan membunuh tigapuluh dua orang pendatang itu!

Seolah-olah dapat membaca jalan pikirannya, terdengar Sin-kiam Mo-li berkata, “Orang-orang Cin-sa-pang sungguh tolol dan jahat, berani sekali memusuhi aku yang hidup tenteram di tempat ini.”

“Subo, sebenarnya mengapa mereka itu memusuhi subo?” Hong Li bertanya, teringat betapa lima orang Cin-sa-pang telah dibunuh subonya. “Maksudku, lima orang Cin-sa-pang yang dahulu itu, karena yang sekarang ini tentu ingin membalas atas kematian atau hilangnya lima orang pertama.”

Gurunya mengangguk-angguk. “Engkau benar, tentu saja mereka itu datang menyerbu karena kehilangan lima orang teman mereka itu dan mereka dapat menduga bahwa lima orang itu tentu tewas di sini. Adapun lima orang dahulu itu, ahh, apa lagi yang mereka kehendaki kecuali niat buruk terhadap kita? Mereka adalah penjahat-penjahat dan agaknya mereka mendengar bahwa yang tinggal di sini hanyalah wanita-wanita cantik tanpa pria dan tentu mereka membayangkan bahwa kita mempunyai banyak harta. Mereka menyerbu untuk merampok dan memperkosa, apa lagi! Engkau tentu masih ingat betapa jahatnya mereka. Seorang di antara mereka kauselamatkan dari ancaman bahaya, dan apa yang telah dia lakukan sebagai balasan? Dia menawanmu!“

Hong Li bergidik. Alangkah jahatnya orang-orang itu, pikirnya. Sama sekali ia tidak tahu bahwa subonya menyembunyikan kenyataan yang berlainan sama sekali dari apa yang dikatakannya tadi. Cin-sa-pang adalah perkumpulan orang-orang yang kasar. Mereka adalah nelayan-nelayan, juga bajak-bajak sungai, dan “pemungut pajak paksaan” dari para nelayan dan petani di sepanjang Sungai Cin-sa. Perkumpulan ini diketuai seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun bernama Louw Pa, seorang bekas bajak laut tunggal yang dapat mengumpulkan para bajak laut, menundukkan mereka dan mendirikan perkumpulan Cin-sa-pang itu. Louw Pa adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, terkenal dengan julukan Cin-sa Pa-cu (Macan Tutul Sungai Cin Sa), mungkin karena wajahnya yan bopeng dan totol-totol, tubuhnya tinggi kurus dan dia lihai sekali memainkan sepasang golok besar.

Louw Pa mempunyai seorang anak laki-laki berusia duapuluh tahun lebih yang berwajah tampan, dan bertubuh gagah, bernama Louw Heng Siok,

Pada suatu hari, ketika Louw Heng Siok sedang naik perahu memancing ikan seorang diri dan perahunya tiba di dekat tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, wanita ini melihatnya dan tergeraklah hatinya. Biarpun ia bukan seorang yang gila laki-laki, namun kehidupan yang kesepian dari wanita ini membuat ia sekali waktu suka mencari hiburan dan setiap kali bertemu dengan pria yang menarik hatinya, tentu ia mempergunakan kecantikan dan kepandaiannya untuk memikat hati pria itu dan memaksanya menjadi kekasihnya untuk beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan saja. Setelah ia merasa bosan, ia akan membunuh pria itu agar jangan mengabarkan hal-hal yang memalukan tentang dirinya. Demikianlah, ketika melihat Louw Heng Siok, Sin-kiam Mo-li merasa tertarik dan tanpa kesukaran ia berhasil memikat hati pemuda itu karena Louw Heng Siok juga bukan seorang pemuda alim.

Bagaikan seekor laba-laba berhasil menangkap seekor lalat, Sin-kiam Mo-li membawa pemuda itu ke sarangnya dan seperti biasa, setelah ia kekenyangan mengisap darahnya dan menjadi bosan, pemuda itu dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lumpur maut sehingga lenyap tanpa bekas. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum ia menculik Hong Li.

Biarpun pembunuhan itu tidak meninggalkan jejak, namun akhirnya Louw Pa yang kehilangan puteranya, merasa curiga. Lima orang anak buahnya melakukan penyelidikan dan merekapun lenyap di tempat yang penuh rahasia itu. Louw Pa sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa di bukit yang berada di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu tinggal seorang wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li, dan dia merasa yakin bahwa wanita inilah yang telah melenyapkan puteranya. Apa lagi ketika lima orang anak buahnya yang melakukan penyelidikan juga lenyap, hatinya penuh dengan kemarahan dan diapun mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah tigapuluh orang termasuk dia dan dua orang pembantunya. Bahkan dia lalu minta bantuan dua orang temannya yang menjadi bajak di Sungai Lan-cang (Me-kong), yaitu dua kakek yang kini sudah datang bersama dia dan anak buahnya.

“Kalau kau ingin nonton pertunjukan, kau tinggallah saja di sini menjadi penonton,” kata Sin-kiam Mo-li kepada muridnya. “Aku akan mengajak tiga pelayanku untuk menyambut para penyerbu itu!” Berkata demikian, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat turun dari atas menara. Gerakannya demikian ringan seperti seekor burung yang terbang saja, diikuti pandang mata muridnya penuh kagum. Hong Li merasa amat kagum kepada wanita yang menjadi ibu angkatnya dan juga gurunya itu, menganggapnya seorang wanita cantik jelita, lemah lembut, dan berhati baik di samping ilmu kepandaiannya yang amat tinggi. Kadang-kadang ia suka membandingkan gurunya dengan orang tuanya. Ia tidak tahu siapa yang lebih lihai antara gurunya dengan mereka.

Kini ia melihat betapa gurunya diikuti oleh Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio keluar dari dalam rumah menuju ke pantai di mana para penyerbu itu tadi berkumpul. Dari menara itu ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah sana. Orang-orang Cin-sa-pang itu ternyata kini dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang di antara dua kakek itu. Kelompok pertama yang disertai oleh pimpinan Cin-sa-pang menyerbu dari arah sungai itu, yaitu dari timur sedangkan kelompok ke dua mengambil jalan memutar, dan memasuki daerah berbahaya itu dari arah selatan.

Dengan jantung berdebar Hong Li melihat dari atas menara betapa gurunya dan tiga orang pelayannya itu menyelinap dan menuju ke bagian timur, menyelinap di antara pohon dan semak-semak belukar. Gurunya memberi petunjuk, jari tangannya menuding ke sana-sini dan tiga orang pembantu itu lalu berpencaran, menyelinap di antara pohon-pohon. Pedang telanjang mengkilat di tangan tiga orang wanita pembantu yang cantik-cantik akan tetapi juga lihai itu. Diam-diam Hong Li merasa ngeri. Ia tahu bahwa akan terjadi pembunuhan-pembunuhan lagi dan melihat demikian banyaknya jumlah lawan yang datang menyerbu, ia dapat membayangkan betapa tempat itu akan menjadi tempat pembantaian dan banyak sekali darah akan mengalir dan mayat bertumpuk-tumpuk walaupun semua mayat dapat dilempar ke dalam kubangan lumpur atau pasir dan akan lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ia bergidik.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan Hong Li melihat seorang di antara anggauta rombongan penyerbu, terperosok ke dalam pasir berputar! Nah, sudah mulai, pikirnya dengan hati penuh kengerian. Dari menara itu ia melihat betapa orang yang terperosok itu meronta-ronta dan sebentar saja tubuhnya sudah tersedot pasir sampai ke dada. Akan tetapi, kakek yang memimpin rombongan itu ternyata cerdik juga. Ia telah mengambil segulung tali yang agaknya memang sudah dipersiapkan dan melemparkan ujung tali ke arah orang yang terperosok. Orang itu menangkap ujung tali dan diapun ditarik keluar dari kubangan pasir maut. Hong Li menarik napas lega. Betapapun jahatnya orang-orang itu, hati kecilnya tidak menyetujui niat subonya yang agaknya hendak membunuh mereka semua. Biarpun ia suka sekali mempelajari ilmu silat, namun ia tidak suka melihat pembunuhan, apa lagi kalau pembunuhan itu dilakukan hanya karena urusan sepele saja. Kalau para penyerbu itu memang jahat, ia lebih suka melihat gurunya menghajar mereka saja tanpa membunuh. Pembunuhan mendatangkan suatu rasa ngeri dalam hatinya.

Kini kakek yang memimpin rombongan itu, yang jenggotnya putih panjang, memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu terus dan jangan takut menghadapi jebakan-jebakan! Kini melihat betapa seorang temannya yang tadi terjebak dapat ditolong keluar, anak buah Cin-sa-pang itu menjadi berani dan mereka menggunakan golok untuk membabati semak-semak yang menghadang di depan mereka. Berhamburanlah daun-daun dan semak-semak dan Hong Li mengerutkan alisnya. Celaka, pikirnya, orang-orang itu merusak tumbuh-tumbuhan dan tempat tinggal gurunya akan menjadi buruk dan rusak keindahannya.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan empat orang di antara rombongan itu roboh, berkelojotan dan tidak mampu bangun kembali. Kakek berjenggot panjang dan anak buahnya yang lain terkejut, cepat memeriksa dan mereka terkejut melihat bahwa empat orang itu ternyata telah tewas dan di leher mereka nampak luka kecil menghitam dan di dalam luka itu masih nampak ujung sebatang jarum yang telah seluruhnya masuk ke dalam leher! Jelaslah bahwa empat orang itu tewas karena serangan senjata gelap, jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

“Awas senjata rahasia!” teriak kakek itu dan sisa anak buahnya yang tinggal sebelas orang itu bersiap siaga dengan golok di tangan. Akan tetapi yang muncul bukan senjata rahasia, melainkan empat orang wanita yang tadi melepas jarum-jarum beracun itu. Sin-kiam Mo-li dan tiga orang pembantunya sudah berloncatan keluar dari balik semak-semak. Sin-kiam Mo-li marah bukan main melihat rombongan itu membabati tumbuh-tumbuhan di situ.

Kakek berjenggot putih panjang, bajak tunggal yang lihai dari Lan-cang itu segera berseru, “Inilah siluman itu!” Dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Sin-kiam Mo-li.

Sedangkan Louw Pa yang berjuluk Cin-sa Pa-cu, sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu. Dia sendiri juga menggerakkan sepasang goloknya, membantu si kakek berjenggot panjang untuk mengeroyok Sin-kiam Mo-li. Anak buahnya yang tinggal sepuluh orang lagi itu kini menerjang tiga orang wanita cantik yang berpakaian merah, putih, dan hitam dan segera terjadi perkelahian yang amat seru.

Melihat serangan pedang kakek berjenggot putih, Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan dari hidungnya. Biarpun kakek itu termasuk seorang bajak tunggal yang lihai, namun melihat gerakan pedangnya, Sin-kiam Mo-li maklum bahwa kepandaian kakek itu tidak ada artinya baginya. Dengan amat mudahnya iapun mengelak dari sambaran pedang. Louw Pa, ketua Cin-sa-pang sudah menggerakkan sepasang goloknya. Juga menghadapi serangan sepasang golok ini, Sin-kiam Mo-li dengan mudahnya meloncat mundur untuk mengelak. Ketika dua orang lawannya itu menerjang lagi, Sin-kiam Mo-li sudah mencabut pedangnya dan begitu sinar pedang ini berkelebat, terdengar suara nyaring dan sepasang golok di tangan Louw Pa patah-patah!

Louw Pa menjadi pucat sekali dan dia sudah siap untuk meloncat ke belakang, namun terlambat. Ada sinar terang menyambar dan tahu-tahu tubuhnya sudah terjungkal dengan kepala terpisah dari tubuhnya dan darah muncrat-muncrat dari leher yang terbabat putus oleh pedang di tangan Sin-kiam Mo-li itu! Melihat ini, tentu saja kakek berjenggot putih terkejut bukan main. Tingkat kepandaian Louw Pa hanya sedikit selisihnya dengan kepandaiannya dan dalam segebrakan saja Louw Pa tewas dengan leher putus! Maklumlah dia bahwa wanita itu sungguh lihai bukan main, akan tetapi hal ini sudah terlambat diketahuinya dan tidak ada lain jalan baginya kecuali memutar pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

“Tranggg.... krekkk!” Kembali pedang di tangan bajak laut itu patah dan sebelum dia sempat mengelak, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li sudah terbenam ke dalam dadanya! Sin-kiam Mo-li mencabut pedangnya sambil menendang tubuh di depannya itu. Tubuh kakek itu terlempar diikuti ceceran darah dari dadanya dan tubuhnya terlempar masuk ke dalam kubangan lumpur. Sebentar saja ular-ular sudah menyeretnya tenggelam ke dalam lumpur itu.

Melihat betapa tiga orang pelayannya dikepung oleh sepuluh orang anak buah Cin-sa-pang, dengan geram Sin-kiam Mo-li menerjang maju, pedangnya berkelebatan dan berturut-turut terdengar orang menjerit dan empat orang di antara para pengeroyok itu roboh mandi darah terkena sambaran pedang Sin-kiam Mo-li. Menggiriskan sekali memang gerakan pedang wanita ini, dahsyat dan panas sehingga tidak mengherankan kalau ia dijuluki Iblis Betina Pedang Sakti.

Pada saat itu, di bagian selatan nampak ada asap tebal bergulung-gulung. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li terkejut dan tahulah ia bahwa rombongan ke dua telah beraksi. Melihat bahwa jumlah pengeroyok tinggal enam orang dan tiga orang pelayannya cukup kuat untuk mengatasi enam orang itu, Sin-kiam Mo-li berkata kepada mereka, “Bunuh mereka semua, jangan sampai ada yang lolos!” Setelah berkata demikian iapun meloncat dan berlari cepat menuju ke tempat kebakaran di selatan.

Dari atas menara, Hong Li nonton semua itu dan mukanya berubah agak pucat, alisnya berkerut dan hatinya diliputi kengerian. Ia tadi melihat betapa gurunya menyebar maut dan masih bergidik ia melihat orang tinggi kurus yang memegang sepasang golok itu dibabat buntung lehernya oleh pedang subonya. Melihat pembantaian itu, beberapa kali ia memejamkan matanya dan hatinya terasa kacau dan gelisah. Rasa sayang yang mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap subonya kini menjadi dingin. Tak disangkanya, subonya yang demikian ramah tamah, lemah lembut dan nampaknya penuh kasih sayang, dapat bertindak sekejam itu, membunuhi orang seperti membunuh nyamuk saja! Pada hal, sejak kecil ayah dan ibunya selalu mengajarnya agar menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, bukan menjadi pembunuh manusia mengandalkan ilmu silat yang dipelajarinya. Bahkan ayah bundanya selalu mencela perbuatan orang yang menggunakan ilmu silat sembarangan membunuh orang lain. Antara lain ayahnya pernah berkata bahwa mungkin sekali kita membunuh orang lain dalam usaha membela diri dan membasmi kejahatan, akan tetapi bukan membunuh dengan tangan dingin terhadap lawan yang tidak mampu melawan. Membunuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut dan membunuh untuk menghindarkan perbuatan jahat dilakukan orang, berbeda dengan membunuh lawan yang tidak berdaya atau tidak mampu melawan. Dan subonya tadi membunuhi lawan yang jelas bukan menjadi lawannya. Baru segebrakan saja subonya telah membunuh tujuh orang berikut yang diserang dengan jarum beracun, dan kini tiga orang pelayan itu sedang berusaha keras untuk membunuh enam orang lagi, setelah merekapun sudah membunuh tiga orang lawan dengan jarum mereka.

Akan tetapi perhatian Hong Li tertarik oleh gerakan subonya yang berlari cepat menuju ke selatan. Di sana ia melihat rombongan yang lain dari orang-orang Cin-sa-pang sedang membabati semak-semak, bahkan menumbangkan pohon-pohon dan sebagian malah membakar semak-semak! Ada pula tadi di antara mereka yang terperosok ke dalam kubangan lumpur dan pasir maut, namun teman-temannya, dipimpin oleh kakek berkepala botak, menyelamatkan mereka yang terperosok itu dengan tali. Dan kini, sambil membabat dan membakar sana-sini, rombongan ini terus maju menuju ke rumah yang nampak gentengnya dari tempat mereka merusak tumbuh-tumbuhan itu.

Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita cantik yang memegang pedang telah berada di depan mereka. Wanita cantik itu mengerutkan alisnya dan memandang dengan sepasang mata berkilat-kilat.

Akan tetapi hal lain yang menarik perhatian Hong Li. Agaknya hanya ia seorang yang dapat melihat munculnya belasan orang dari arah selatan. Belasan orang ini berpakaian putih-putih dan di depan mereka berjalan tujuh orang yang berpakaian seperti pendeta dengan jubah panjang, rambut panjang digelung tinggi di atas kepala dan dari jauh saja Hong Li dapat menduga bahwa tujuh orang itu, yang bentuk tubuhnya berbeda-beda, tentulah pendeta-pendeta To sedangkan belasan orang berpakaian seragam putih itu berjalan berpasangan seperti sebuah pasukan kecil! Ketika tiba di luar hutan yang menjadi batas daerah tempat tinggal subonya, rombongan orang itu berhenti, kemudian hanya tujuh orang pendeta itu yang terus memasuki hutan dan diam-diam Hong Li terkejut melihat betapa tujuh orang pendeta itu amat lihainya, meloncati begitu saja tempat-tempat jebakan dan kubangan-kubangan maut seolah-olah mereka telah hafal akan keadaan di tempat itu. Dan tak lama kemudian tujuh orang pendeta itu telah mendekati tempat di mana subonya sedang berhadapan dengan rombongan orang Cin-sa-pang.

Dengan kemarahan meluap melihat tempatnya dirusak orang, Sin-kiam Mo-li membentak, “Orang-orang Cin-sa-pang, kalau hari ini aku tidak dapat menumpas kalian semua, jangan sebut aku Sin-kiam Mo-li!“

Melihat munculnya wanita ini, kakek botak yang memimpin pasukan orang Cin-sa-pang itu memberi aba-aba dan belasan orang itu lalu mengepung Sin-kiam Mo-li. Sebelum Sin-kiam Mo-li bergerak, tiba-tiba terdengar suara orang dan ternyata di situ telah muncul tujuh orang tosu.

“Siancai, Sin-kiam Mo-li yang gagah perkasa tak perlu turun tangan sendiri. Pinto dan teman-teman akan membasmi tikus-tikus kurang ajar ini!” Sebelum Sin-kiam Mo-li sempat menjawab, tujuh orang itu telah menerjang. Mereka semua bertangan kosong menerjang kepungan itu dari luar. Orang-orang Cin-sa-pang terkejut dan menggerakkan golok untuk menyambut, akan tetapi mereka itu seperti sekumpulan laron melawan api saja. Dalam beberapa gebrakan saja, enambelas orang termasuk kakek botak telah roboh semua terkena tamparan-tamparan tangan tujuh orang tosu tadi. Demikian mudahnya tujuh orang tosu itu memukul roboh dan menewaskan enambelas orang itu sehingga Sin-kiam Mo-li sendiri terkejut dan kini ia memandang kepada tujuh orang tosu itu dengan alis berkerut, penuh curiga, juga khawatir karena ia maklum bahwa kalau ia harus melawan tujuh orang tosu ini, tentu berbahaya karena mereka ini adalah lawan lawan berat, bukan seperti orang-orang Cin-sa-pang yang tak tahu diri itu.

“Hemm, siapakah cu-wi totiang (bapak pendeta sekalian), dan mengapa mencampuri urusanku tanpa kuminta?” Sikapnya cukup hormat akan tetapi juga tegas dan mengandung teguran-teguran karena hatinya merasa tidak senang bahwa ada orang-orang yang memperlihatkan kepandaian menolongnya, seolah-olah ia tadi terancam bahaya dan tidak akan mampu menolong diri sendiri.

Seorang di antara mereka, kakek tinggi kurus berwibawa yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, membawa sebatang tongkat yang setinggi tubuhnya, kakek yang usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih namun masih nampak segar dan penuh semangat, segera menjura. “Sin-kian Mo-li, harap maafkan pinto sekalian. Sudah lama pinto sekalian mendengar nama besar toanio (nyonya), akan tetapi belum sempat berkenalan. Kebetulan kami lewat bersama teman-teman dan timbullah keinginan untuk bertamu dan menyampaikan hormat kami. Melihat toanio dihadapi orang-orang kurang ajar itu, kami sebagai tamu merasa berkewajiban untuk turun tangan, mewakili toanio menghajar mereka.

Harap mau memaafkan kelancangan kami dan menganggap hal itu sebagai uluran tangan persahabatan kami.”

Sin-kiam Mo-li merasa senang melihat sikap yang hormat dari kakek itu, dan kini ia dapat melihat tanda gambar pat-kwa di dada kakek itu, dan gambar bunga teratai di dada beberapa orang kakek lain. Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan tosu-tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, dua perkumpulan yang amat besar pengaruhnya, memiliki banyak orang pandai, pandai silat dan pandai sihir, dan mereka terkenal sebagai pemberontak-pemberontak yang menentang pemerintah. Maka, iapun tidak berani main-main. Lebih baik bersahabat dari pada bermusuhan dengan orang-orang seperti mereka. Pula, mereka sudah memperlihatkan sikap bersahabat, maka iapun membalas penghormatan mereka.

“Terima kasih, cu-wi totiang baik sekali. Tidak tahu ada urusan penting apakah yang membawa cuwi datang mengunjungi tempatku yang sunyi terpencil ini.”

“Toanio, bagaimana kalau kita bicara saja di dalam rumah? Kami membawa bahan percakapan yang amat penting.”

Pada saat itu, muncullah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio. Mereka telah selesai pula membunuh enam orang sisa rombongan musuh yang tadi ditinggalkan Sin-kiam Mo-li. Melihat tiga orang pelayannya, Sin-kiam Mo-li cepat bertanya.

“Bagaimana dengan musuh-musuh itu?”

“Semua sudah tewas dan mayat-mayatnya sudah kami lenyapkan,” kata Ang Nio.

“Bagus, sekarang Pek Nio dan Hek Nio menyingkirkan mayat-mayat ini, dan engkau Ang Nio ikut bersamaku menyambut para tamu! Marilah, cuwi totiang, kita bicara di dalam rumah saja,” katanya mempersilahkan tujuh orang tosu itu. Dengan wajah gembira tujuh orang pendeta itu mengikuti Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang di antara mereka tadi memandangi tiga orang pelayan cantik itu dengan mata mengandung gairah.

Sementara itu, Hong Li yang menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh rombongan tosu itu, menjadi semakin ngeri dan heran. Bagaimana ada pendeta-pendeta yang demikian kejamnya, dalam waktu singkat membunuh enambelas orang demikian mudahnya dengan pukulan-pukulan tangan dan tendangan kaki mereka. Selain lihai bukan main, juga para pendeta itu ternyata amat ganas dan kejam, hal yang sama sekali tidak dimengertinya. Menurut apa yang diceritakan ayah bundanya, para pendeta adalah orang-orang yang taat beragama, yang menjauhkan perbuatan jahat. Akan tetapi mengapa sejak pertemuannya dengan Ang I Lama, juga seorang pendeta, sampai sekarang melihat tujuh orang tosu itu, para pendeta itu demikian jahatnya? Dan bagaimana pula subonya yang dianggap sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, kini mau menerima bantuan para pendeta kejam itu, bahkan kini mengajak tujuh orang pendeta itu menuju ke rumah sebagai tamu yang dihormati? Dengan hati mengandung perasaan tak enak dan penasaran, Hong Li turun dari menara itu dan masuk pula ke dalam rumah.

Setelah tiba di dalam, ia langsung menuju ke ruangan dalam di mana ia mendengar suara para pendeta itu bercakap-cakap dengan gurunya. Ia masuk dan melihat subonya duduk bersama tujuh orang pendeta itu menghadapi sebuah meja bundar dan Ang Nio sibuk mengeluarkan arak dan hidangan. Kembali Hong Li terkejut. Para pendeta itu minum arak pula! Dan hidangan-hidangan itupun semuanya berdaging!

Ketika mereka yang sedang bercakap-cakap itu melihat munculnya Hong Li, percakapan mereka terhenti dan Sin-kiam Mo-li berkata kepada muridnya, “Hong Li, engkau. bantulah Pek Nio dan Hek Nio berjaga-jaga di luar, waspadalah kalau-kalau ada lagi musuh datang menyerbu. Jangan masuk ke sini sebelum kupanggil karena aku sedang membicarakan urusan penting dengan para pendeta yang terhormat ini.”

Hong Li mengerutkan alisnya, sejenak memandang kepada tujuh orang pendeta yang kesemuanya juga menengok kepadanya “Baik, subo,” katanya lalu pergi dari ruangan itu. Akan tetapi ia masih mendengar ucapan-ucapan para tosu itu yang membuatnya mendongkol.

“Itu muridmu? Aih, ia cantik dan berbakat sekali!”

“Manis dan mungil!”

Dan terdengar kata-kata pujian lain yang ditujukan untuk memuji kecantikan dan kemanisannya. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Biarpun pujian bahwa ia cantik manis merupakan pujian biasa, akan tetapi di dalam suara para tosu itu terkandung sesuatu yang menyebalkan hatinya, juga pandang mata mereka tadi disertai senyum menyeringai! Seketika timbul rasa tidak suka di dalam hatinya terhadap para pendeta ini, mungkin pertama kali timbul melihat mereka membunuhi orang-orang Cin-sa-pang tadi.

Setelah keluar dari ruangan itu, Hong Li keluar dari dalam rumah, akan tetapi ia tidak pergi mencari Pek Nio dan Hek Nio. Hatinya sedang mengkal dan iapun tidak bernapsu untuk membantu dua orang itu. Ia bukan hanya kecewa dan mendongkol terhadap subonya yang membunuhi orang, terhadap tujuh orang pendeta itu, akan tetapi juga mendongkol terhadap tiga orang pelayan yang dianggapnya juga kejam dan pembunuh-pembunuh berdarah dingin! Maka ia lalu pergi ke taman bunga di belakang, tempat yang paling disenanginya, tempat di mana ia selalu pergi menghibur diri di waktu ia merasa rindu kepada orang tuanya. Dan sekarang ini ia merasa amat rindu karena guncangan batin yang dideritanya menyaksikan pembantaian tadi.

Rombongan para tosu itu memimpin belasan orang anak buah Pek-lian-pai. Tujuh orang tosu itu adalah tokoh-tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, dipimpin sendiri dalam kunjungan mereka kepada Sin-kiam Mo-li oleh wakil ketua Pat-kwa-pai, yaitu Thian Kong Cin-jin. Di antara mereka terdapat pula sutenya, yaitu Ok Cin Cu tokoh Pat-kwa-pai. Adapun yang empat orang lain adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Thian Kek Seng-jin, dan tiga orang adalah sutenya, Coa-ong Seng-jin si ahli ular, dan dua orang sute lain yang bernama Ang Bin Tosu si muka merah dan Im Yang Tosu yang congkak. Tujuh orang pendeta ini merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai dan mereka sengaja diutus oleh kedua pimpinan partai itu untuk menghubungi Sin-kiam Mo-li dan membujuk wanita sakti itu untuk bergabung dengan mereka dan memperkuatpasukan pemberontak mereka.

Dengan panjang lebar, para tosu itu menceritakan tentang perjuangan mereka, tentang harapan-harapan dan pamrih yang muluk-muluk dalam gerakan mereka, sambil memamerkan kekuatan pasukan mereka, membujuk wanita itu untuk bergabung. Mula-mula Sin-kiam Mo-li merasa ragu-ragu, akan tetapi ketika diingatkan bahwa wanita ini memiliki musuh-musuh yang berpihak kepada Kerajaan Mancu, yaitu keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir, diingatkan betapa ibu angkatnya, Kim Hwa Nio-nio, juga tewas di tangan keluarga itu dan kalau bergabung dengan mereka maka wanita itu lebih kuat dan lebih mudah membalas dendam, akhirnya Sin-kiam Mo-li menerima uluran tangan itu. Dengan gembira para tosu itu lalu mengatur rencana bersama Sin-kiam Mo-li, mengangkat wanita itu menjadi pemimpin pasukan yang terdiri dari angauta-anggauta kedua partai itu bersama rakyat yang dapat mereka bujuk, memimpin pasukan dan bergerak dari barat. Mereka bercakap-cakap dengan asyiknya sambil makan minum. Tak lama kemudian, para tosu yang lihai itu sudah terpengaruh arak, wajah mereka sudah menjadi merah, mereka tertawa-tawa dan kata-kata mereka semakin terlepas bebas. Tak lama kemudian Ang Nio yang tadi hanya seorang diri saja melayani para tamu, kini dibantu oleh Pek Nio dan Hek Nio yang sudah kembali setelah selesai menyingkirkan semua mayat musuh yang berserakan. Datangnya dua orang pelayan cantik ini menambah kegembiraan para tosu dan mereka berpesta pora dengan gembira.

***

Ketika para tosu itu membunuhi enambelas orang Cin-sa-pang, ada dua orang bersembunyi dan mengintai dari puncak sebatang pohon besar, agak jauh dari tempat itu. Kedua orang ini adalah Sim Houw dan Bi Lan. Mereka berdua sempat menonton pembantaian yang dilakukan tujuh orang tosu itu tanpa mampu turun tangan mencampuri karena ketika mereka naik ke atas pohon besar dan mengintai lalu dapat melihat perkelahian itu, hampir semua anggauta Cin-sha-pang sudah terbunuh. Kedua orang pendekar ini bergidik penuh kengerian menyaksikan kekejaman itu, akan tetapi mereka juga terkejut melihat kehadiran para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw di tempat itu.

“Wah, kiranya mereka baru datang,” kata Sim Houw kepada kekasihnya. “Kalau mereka sudah menggabungkan diri dengan wanita itu, keadaan di sini tentu amat kuat. Kita tidak boleh sembrono memasuki tempat ini, harus menyelidiki lebih dahulu apakah benar nona Hong Li berada di sini seperti yang kita duga.”

Bi Lan mengangguk. “Memang berbahaya sekali tempat ini. Para tosu itu sudah amat lihai dan kalau mereka itu memilih Sin-kiam Mo-li sebagai sekutu, tentu wanita itupun lihai bukan main. Apa lagi kalau diingat bahwa ia adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio yang sakti. Kita memang harus berhati-hati. Lihat itu!”

Keduanya memandang dan kini melihat betapa Sin-kiam Mo-li meninggalkan tempat itu bersama tujuh orang tosu, diikuti oleh pelayan berpakaian merah yang cantik itu. Kemudian mereka melihat betapa dua orang gadis lain, yang berpakaian serba putih dan serba hitam, juga cantik-cantik, menyeret mayat-mayat yang berserakan dan melemparkan mayat-mayat itu ke dalam dua kubangan, pasir dan lumpur. Dan mereka melihat dengan hati ngeri betapa mayat-mayat itu disedot masuk dan tenggelam ke dalam kubangan-kubangan itu, kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

“Hemm, kubangan-kubangan itu amat berbahaya,” kata Sim Houw. “Merupakan perangkap yang mengerikan, Sekali kaki terperosok, akan sukarlah untuk keluar lagi. Dan lihat, kedudukan semak-semak belukar dan pohon-pohon itu, demikian teratur rapi merupakan barisan yang aneh. Aku yakin bahwa tempat ini memang merupakan tempat berbahaya yang mengandung penuh rahasia dan jebakan. Lihat, bukankah pohon-pohon itu tumbuh secara teratur dan dari sini berbentuk pat-kwa (segi delapan)! Pernah aku mendengar tentang ilmu mengatur barisan yang ditrapkan untuk membuat lorong-lororg rahasia yang menyesatkan dan berbahaya. Agaknya Sin-kiam Mo-li ahli pula dalam ilmu ini. Kita selidiki dulu dari luar, baru besok menyelinap ke dalam dengan hati-hati. Sukur kalau tujuh orang tosu itu sudah meninggalkan tempat ini.”

Dua orang pendekar itu lalu turun dan mulai melakukan penyelidikan di sekitar tempat itu. Dalam penyelidikan inilah mereka melihat belasan anak buah Pek-lian-pai yang bergerombol dan menanti kembalinya para pimpinan mereka yang kini menjadi tamu Sin-kiam Mo-li. Juga mereka melihat lima buah perahu kosong yang tadi dipergunakan orang-orang Cin-sa-pang untuk menyerbu tempat itu.

“Lihat itu,” Sim Houw tiba-tiba menunjuk ke sebuah jalur air yang berkelak-kelok seperti ular. “Itu merupakan jalan air yang mengalir dari bukit menuju ke Sungai Cin-sa ini. Tentu air hujan yang turun ke atas bukit itu mengalir melalui jalan air itu dan kiranya jalan itulah yang paling aman.”

“Akan tetapi, perlukah kita demikian berhati-hati sehingga kita harus masuk melalui jalan yang aman dan tersembunyi seperti pencuri? Koko, mengapa kita tidak masuk saja melalui jalan biasa, menghadapi semua jebakan dan terang-terangan minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, dan kita minta dikembalikannya Hong Li?”

Sim Houw menggeleng kepala tidak setuju. “Lan-moi, kita berurusan dengan pembebasan seorang tawanan, maka kita harus berlaku hati-hati agar jangan sampai kita gagal menyelamatkan nona Hong Li. Kalau kita masuk berterang, maka terdapat banyak bahaya. Sin-kiam Mo-li dapat saja lebih dahulu menyembunyikan anak itu sehingga tidak terdapat bukti bahwa ia yang menculiknya. Bahkan dapat saja ia membunuh anak itu untuk menghilangkan jejak., Pula, dengan adanya tujuh orang tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, lawan kita akan menjadi semakin berat.”

“Akan tetapi kita dibantu oleh suci! Ah, mana suci Siu Kwi? Kenapa ia belum juga muncul?”

“Aku di sini, sumoi!” Sesosok bayangan berkelebat dan Bi-kwi telah berdiri di depan mereka. Wajah wanita ini menjadi agak pucat. “Apakah kalian melihat apa yang kusaksikan tadi?” Ia bergidik ngeri. Ia tadi memang sengaja berpencar dengan Bi Lan dan Sim Houw. Kalau kedua orang itu melakukan penyelidikan dengan jalan memutar dari barat ke selatan, lalu ke timur, Bi-kwi melakukan penyelidikan dari barat ke utara lalu ke timur dan kini mereka bertemu di sebelah timur tempat itu.

“Pembantaian yang dilakukan oleh tujuh orang tosu itu terhadap belasan orang yang menyerbu?” tanya Bi Lan.

Bi-kwi mengangguk. “Bukan cuma itu, juga di dekat sungai telah dibantai pula belasan orang. Sedikitnya tigapuluh orang yang tewas di tangan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Ihhh, wanita itu sungguh lihai bukan main, juga memiliki kekejaman yang mengerikan!” Diam-diam Bi Lan merasa heran di dalam hatinya. Sucinya memang benar telah berubah kalau dibandingkan dengan dahulu. Dahulu, sebelum sucinya bertemu dengan Yo Jin, perbuatan yang dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li itu belum tentu membuat matanya berkedip, apa pula merasa ngeri! Agaknya kini perasaan hati Bi-kwi juga sudah berubah sama sekali sehingga menyaksikan perbuatan kejam dilakukan orang, wajahnya sampai menjadi pucat dan suaranya agak gemetar.

“Dan tujuh orang pendeta itupun memiliki kepandaian tinggi. Tadi kami sempat menyaksikan ketika mereka membunuh belasan orang itu. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan,” kata Sim Houw.

Bi-kwi mengangguk. “Kita harus mengatur siasat, tidak boleh bertindak sembrono karena tempat ini penuh dengan jebakan-jebakan berbahaya. Dulu, tiga orang suhu Sam Kwi pernah bicara tentang lorong rahasia yang mempergunakan bentuk pat-kwa. Sayang aku belum pernah mempelajarinya karena ketika itu kuanggap tidak perlu. Siapa kira sekarang kita dihadapkan dengan tempat yang dilindungi oleh lorong-lorong rahasia pat-kwa yang sulit dan berbahaya.”

“Sebaiknya kalau kita berunding dulu di tempat penginapan kita. Besok saja kita turun tangan karena sebentar lagi tentu hari menjadi gelap dan lebih berbahaya lagi masuk ke tempat seperti ini. Mudah-mudahan besok para tosu itu telah pergi sehingga gerakan kita akan berhasil tanpa banyak kesukaran,” kata Sim Houw.

Dua orang wanita itu setuju dan merekapun cepat meninggalkan tempat itu, menuju ke kota Teken di sebelah barat, kota yang kecil akan tetapi cukup ramai dan mereka bermalam di satu-satunya rumah penginapan yang ada di kota itu. Setelah tiba di tempat penginapan dan makan sore, malam itu mereka bertiga mengadakan perundingan dan mengatur siasat.

“Tidak ada lain jalan yang lebih baik,” akhirnya Bi-kwi berkata setelah mendengarkan pendapat Sim Houw dan Bi Lan, “kecuali menggunakan siasat bersahabat. Kalau kita mempergunakan kekerasan menyerbu, tentu anak itu akan disingkirkan lebih dulu dan kalau sudah demikian, sukarlah bagi kita untuk mencarinya. Tanpa bukti adanya anak itu, kita tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Sin-kiam Mo-li. Maka, mengingat bahwa ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, paling baik kalau aku datang berkunjung sebagai seorang sahabat, sebagai seorang dari satu golongan.”

“Akan tetapi, suci! Siapa bilang engkau satu golongan dengan orang macam Sin-kiam Mo-li yang kini bergabung dengan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw? Mereka adalah orang-orang jahat, dari golongan sesat, sedangkan engkau....“

Bi-kwi melambaikan tangan. “Sudahlah, sumoi. Lupakah engkau siapa aku ini dahulu? Memang aku telah mencuci tangan dan hatiku, akan tetapi semua ini hanya dipergunakan sebagai siasat saja. Mengingat bahwa aku adalah murid Sam Kwi, tentu ia mau menerimaku sebagai tamu, apa lagi mengingat bahwa aku pernah bekerja sama dengan ibu angkatnya. Tentu ia ingin sekali mendengar dari mulutku sendiri yang dulu bekerja sama dengan Kim Hwa Nio-nio, tentang perkelahian itu dan bagaimana ibu angkatnya tewas. Nah, sebagai tamu, aku tentu akan dapat bertemu dengan anak itu kalau memang benar anak itu berada di sana. Ia tentu tidak akan merahasiakan adanya anak itu di sana terhadapku yang sama sekali tidak akan dicurigainya. Kalau sudah demikian, berarti kita memperoleh dua keuntungan. Pertama, akan ada kepastian apakah anak itu berada di sana dan ke dua, aku sudah mengenal jalan yang aman memasuki daerah itu.”

Sim Houw mengangguk-angguk dan Bi Lan merasa girang sekali. “Ah, bagus sekali, suci. Agaknya memang itulah jalan terbaik bagi kita. Untung sekali bahwa engkau telah ikut membantu kami, suci.”

“Aih, sumoi, jangan memuji dulu. Ini baru rencana, simpanlah pujianmu sampai kita berhasil.”

Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam dan diam-diam Sim Houw maupun Bi Lan melihat kenyataan betapa wanita yang dulunya menjadi iblis betina itu kini benar-benar telah berubah. Apalagi ketika Bi-kwi bercerita tentang Yo jin, di dalam kata-katanya itu penuh berhamburan nada cinta kasih yang mendalam terhadap suaminya itu sehingga Bi Lan merasa terharu sekali.

Kebaikan tidak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan karenanya berpamrih. Dan perbuatan apapun yang mengandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir maupun keuntungan batin.

Segala bentuk perbuatan, yang dinamakan baik maupun buruk, adalah akibat dari pada keadaan pikiran, keadaan batin. Baik buruknya setiap perbuatan ditentukan oleh keadaan batin. Oleh karena itu, bukan perbuatan yang harus dirobah, yang harus dilatih atau dipelajari karena perbuatan hanya merupakan akibat dari keadaan batin. Yang perlu dirobah adalah batin sendiri, keadaan batin itu sendiri. Bukan dirobah oleh kita, karena kalau demikian, hal itu merupakan suatu perbuatan berpamrih yang lain. Bukan dirobah, melainkan BEROBAH! Jadi, perbuatan yang dinamakan perbuatan baik tidak terpisah dari keadaan batin, demikian perbuatan yang dinamakan buruk atau jahat. Batinlah yang menentukan, keadaan batin yang mendorong setiap perbuatan. Kalau batin tenang dan bersih, dapatkah kita melakukan perbuatan yang buruk dan jahat? Sebaliknya, kalau batin keruh dan kacau, mana mungkin kita dapat melakukan perbuatan bersih dan baik?

Dan batin baru dalam keadaan hening, tenang, bersih, berimbang, tegak dan lurus, bersih dan bening, kalau tidak dikeruhkan dan disibukkan oleh pikiran! Pikiranlah yang membentuk AKU dan si aku inilah yang merajalela mengaduk batin, dengan segala keinginannya, mengejar dan mengulang kesenangan, mengelak dan menjauhi yang tidak menyenangkan. Si aku menyeret batin ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan antara baik dan buruk, senang dan susah, puas dan kecewa, suka dan duka, dan setiap saat batin menjadi keruh, menjadi sumber dari segala rasa takut, marah, benci, iri, tamak, prasangka yang menjadi permainan si aku dan akhirnya hanya duka dan sengsara yang menjadi bunga kehidupan kita.

Untuk dapat menyelami semua ini, kita hanya tinggal menjenguk isi batin sendiri, mengamati batin kita sendiri saat demi saat, hidup dalam keadaan sekarang ini, menghapus yang lalu dan menyingkirkan yang akan datang agar kita dapat sepenuhnya hidup di saat ini. Pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin sajalah yang akan membuat kita waspada, tidak lagi menjadi boneka permainan nafsu, tidak ada lagi si aku merajalela dan yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran.



***



Belum lama setelah Sim Houw, Bi Lan dan Siu Kwi (Bi-kwi) pergi meninggalkan daerah tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, menjelang sore, nampaklah seorang pemuda datang ke tempat itu seorang diri saja. Pemuda berusia duapuluh satu tahun kurang lebih, bertubuh tegap dengan muka bersih cerah, tampan, dengan pakaian sederhana berwarna biru. Pemuda ini adalah Gu Hong Beng! Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja dapat muncul di sini?

Kiranya Hong Beng mendengar ketika Kao Cin Liong bercerita kepada Suma Ciang Bun tentang Sin-kiam Mo-li seperti yang diceritakan oleh Bi Lan betapa Bi Lan dan Sim Houw hendak melakukan penyelidikan kepada wanita iblis itu yang mencurigakan dan mengingat bahwa wanita itu adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio maka patut dicurigai sebagai penculik Hong Li untuk membalas dendam atas kematian ibu angkatnya.

Mendengar cerita tentang Sin-kiam Mo-li ini, yang menurut penuturan dalam percakapan itu tinggal di kaki Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sa tapal batas Propinsi Se-cuan, hati Hong Beng tertarik sekali. Penculik itu telah diketahui, dan kini Bi Lan, Bi-kwi dan Sim Houw pergi ke sana! Hatinya merasa tidak puas dan bahkan tidak enak. Bagaimana keluarga Kao percaya kepada tiga orang itu, terutama kepada Bi-kwi? Tidak sepatutnya dan tidak semestinya kalau tugas menyelamatkan diserahkan kepada tiga orang yang masih amat meragukan itu. Siapa tahu mereka itu bahkan akan bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li, maklum sama-sama sesat! Dan timbul pula rasa iri di dalam hatinya. Sepantasnya dialah yang pergi menyelamatkan Hong Li dan mempertaruhkan nyawa untuk membela keluarga itu! Bukan orang orang macam Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi!

Pikiran inilah yang mendorong Hong Beng untuk berpamit kepada gurunya setelah mereka meninggalkan Pao -teng. Kepada suhunya dia hanya mengatakan bahwa dia ingin merantau meluaskan pengetahuannya dan minta waktu selama satu tahun, baru dia akan menyusul suhunya. Suma Ciang Bun menyetujui dan merekapun saling berpisah. Setelah melakukan perjalanan seorang diri, Hong Beng mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke barat. Dia ingin mendahului Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi untuk lebih dulu di tempat tujuan dan lebih dahulu menyelamatkan Kao Hong Li.

Maka ketika pada siang hari menjelang sore itu dia tiba di tempat tujuan, dia segera akan memulai dengan usahanya mencari Hong Li, tidak tahu bahwa baru beberapa jam yang lalu, tiga orang yang hendak didahuluinya itu baru saja meninggalkan tempat itu. Juga dia tidak tahu bahwa kini di rumah Sin-kiam Mo-li terdapat tujuh orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang amat lihai. Kalau saja Hong Beng bertindak lebih hati-hati, tentu dia akan memeriksa keadaan sekeliling dan akan melihat belasan anak buah Pek-lian-kauw yang berada di sebelah selatan hutan.

Dengan penuh semangat, penuh keberanian akan tetapi cukup berhati-hati, Hong Beng memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu. Dari jauh tadi dia sudah melihat genteng rumah besar di antara gerombolan pohon di lereng itu dan menduga bahwa itulah rumah Sin-kiam Mo-li yang dicarinya. Diapun melihat hutan yang pohon-pohonnya tumbuh teratur, bukan seperti hutan biasa dan dia dapat menduga bahwa hutan ini adalah hutan buatan, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Dia memasuki daerah itu dari bagian yang belum pernah didatangi orang, dan jebakan-jebakan di sini berbeda sifatnya dengan yang pernah menjebak orang-orang Cin-sa-pang, walaupun ada pula persamaannya. Ketika Hong Beng memasuki hutan pertama, dia melihat pohon-pohon besar dan tempat itu nampak gelap akan tetapi seperti tak pernah ada bahaya apapun. Dengan santai namun cukup waspada Hong Beng melangkah di antara pohon-pohon besar itu, melalui lorong yang agaknya, membawanya ke tengah hutan, menuju ke rumah yang pernah dilihat gentengnya tadi. Akan tetapi setelah melewati belasan pohon, tiba-tiba lorong itu terhenti dan tertutup oleh pohon besar yang memenuhi jalan. Hong Beng melihat bahwa di belakang pohon itu penuh semak-semak belukar berarti bahwa lorong itu memang berhenti sampai di situ saja! Tentu saja dia menjadi penasaran. Melanjutkan perjalanan melalui lorong itu tak mungkin lagi karena semak-semak belukar di belakang pohon itu penuh dengan duri. Pasti ada jalan lain, pikirnya. Dengan hati-hati Hong Beng lalu meloncat ke atas pohon, dengan maksud untuk mencari jalan dengan mengintai dari atas pohon.

Akan tetapi, baru saja dia melihat-lihat ke kanan kiri, tiba-tiba hampir dia berteriak kesakitan dan tangannya menggaruk ke arah betis kirinya yang tiba-tiba terasa gatal dan panas sekali. Kiranya ada seekor semut, merah yang besar sekali merayap dan menggigit betisnya. Sekali tepuk, semut itupun mati, akan tetapi rasa gatal pada betisnya itu semakin menghebat,

“Aduhh....! Aduhh....!” Hong Beng berseru ketika merasa betapa paha dan pundaknya juga terasa gatal panas digigit semut! Cepat dia meloncat turun dari atas pohon, melepaskan pakaiannya bagian luar dan sibuklah dia membunuhi belasan ekor semut merah yang sudah merayap ke dalam pakaiannya. Untung baru tiga tempat saja tergigit, di betis, paha dan pundak. Akan tetapi semut itu memiliki racun yang ampuh dan berbeda dengan semut-semut lain. Bekas gigitannya nampak membengkak merah dan rasanya gatal dan panas bukan main. Hong Beng cepat mengeluarkan obat anti racun yang selalu dibawanya, buatan suhunya, dan obat berupa minyak itu setelah digosokkan pada bekas gigitan seketika nyerinya hilang. Diapun mengenakan lagi pakaiannya setelah mengebut-ngebutkannya sampai bersih. Sambil memandang ke atas pohon, diam-diam dia bergidik. Entah berapa banyaknya semua-semut itu berada di sana, pikirnya. Dia masih belum menyangka bahwa semut-semut itu merupakan jebakan yang sengaja diatur oleh Sin-kiam Mo-li. Semut-semut itu didatangkannya dari lain tempat, dibiarkan hidup berkembang biak di pohon-pohon besar itu untuk mencegah musuh melakukan pengintaian dari atas pohon. Tentu saja tidak semua pohon menjadi tempat tinggal semut-semut merah beracun ini, hanya pohon di bagian hutan itu saja, karena pohon-pohonnya memang pohon yang disukai semut-semut itu.

Terpaksa Hong Beng kembali lagi, akan tetapi betapa herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa jalan yang dilaluinya sekarang nampaknya seperti bukan lorong yang dimasukinya tadi! Entah apanya yang berubah, akan tetapi lain sama sekali. Ketika ada jalan simpang empat, dia mengambil jalan ke kanan karena jalan ini yang nampaknya paling rapi dan bersih, memasuki taman rumput yang indah dan di sebelah sana nampak lagi hutan kecil dengan sebuah telaga kecil di tengahnya. Hong Beng bersikap hati-hati sekali. Dia berjalan di atas lapangan rumput sambil mengerahkan gin-kangnya sehingga ketika tiba-tiba rumput yang diinjaknya ambles ke bawah dan ternyata di bawah rumput itu terdapat lubang jebakan berupa sumur dan rumput itu hanya tumbuh di atas sumur dengan saling berkaitan akar saja! Untung bahwa sejak tadi Hong Beng bersikap waspada. Begitu kakinya merasa menginjak tempat kosong, cepat dia memindahkan tenaga dan berat tubuh ke kaki belakang sehingga dia mampu menarik kembali kaki depan. Dengan sebuah ranting yang dipungutnya di tepi jalan, dia mengorek rumput di depannya dan terbukalah lubang jebakan itu yang lebarnya satu setengah meter persegi! Ketika dia menjenguk ke bawah, dia bergidik ngeri melihat benda bergerak-gerak di dasar sumur. Ular-ular sedang menanti jatuhnya korban di bawah sana!

“Jahanam keji!” Dia menggerutu dan melanjutkan langkahnya, mengitari sumur itu, akan tetapi kini setiap langkahnya dilakukan dengan lebih hati-hati dan waspada lagi. Dia melewati dua lagi sumur jebakan yang tertutup rumput, dan pada sumur terakhir, bahkan ketika dia mengorek rumput membuka lubang, terdengar suara berdesing dan dari dalam lubang itu, mungkin alatnya dipasang di bawah rumput menyambar tiga batang anak panah ke atas. Kalau dia kurang hati-hati, tentu luput terjeblos sukar untuk terhindar dari sambaran anak panah beracun!

Kembali dia memasuki hutan dengan pohon yang besar besar dan kini cuaca di dalam hutan agak gelap karena memang matahari sudah condong ke barat dan sinarnya yang tidak begitu kuat agaknya tidak mampu menerobos daun-daun yang lembab. Ketika dia melangkah lagi, dia tidak melihat bahwa di depan kakinya terdapat sehelai tali hitam yang tingginya dua jengkal sehingga kalau ada orang lewat, bagaimanapun juga kakinya tentu akan tersangkut tali. Demikian pula dengan Hong Beng. Dia sudah waspada, namun dalam cuaca yang mulai remang-remang di dalam hutan lebat itu, bagaimana dia mampu melihat tali di bawah yang berwarna hitam dengan latar belakang tanah hitam dan rumput hijau tua? Tahu-tahu, kakinya tersangkut dan dari atas turun menimpa batu yang besar sekali! Kiranya tali itu kalau ditarik, mengakibatkan jatuhnya sebuah batu yang besarnya seperut kerbau bunting dan kalau menimpa kepala, tentu kepala itu akan remuk dan tubuh akan ikut menjadi gepeng!

Namun Hong Beng tidak menjadi gugup. Dengan cekatan, dia melompat ke depan dan batu itu jatuh dengan mengeluarkan suara keras sekali ke atas tanah, membuat tanah tergetar dan pohon-pohon bergoyang-goyang. Dan agaknya jatuhnya batu ini menimbulkan akibat lain dan mengerjakan alat-alat rahasia yang dipasang di situ karena tiba-tiba saja dari atas pohon-pohon di sekeliling Hong Beng juga berjatuhan batu yang besar-besar! Kini Hong Beng tidak berani meloncat lagi. Meloncat tanpa mengetahui apa yang akan diinjaknya di tempat lain, amat berbahaya, maka diapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lutut ditekuk dan diapun siap menanti datangnya hujan batu.

“Darrrr!” Sebongkah batu besar yang menimpa kepalanya, dihantamnya dengan tangan terbuka dan batu itupun pecah dan terlempar jauh. Masih ada lagi beberapa buah batu yang menghantamnya, namun semua dapat ditangkis oleh Hong Beng sehingga terlempar ke kanan kiri sedangkan tubuhnya sedikitpun tidak terguncang, hanya kedua kakinya yang ambles ke dalam tanah sampai ke pergelangan kaki saking beratnya batu yang menimpa dirinya tadi!

Setelah tidak ada lagi batu besar yang melayang turun, Hong Beng melanjutkan langkahnya dengan gagah, sedikitpun tidak merasa takut atau gentar walaupun dia tetap berhati-hati, sepasang matanya melirik ke kanan kiri, seluruh urat syarafnya siap siaga. Sementara itu, pergerakan jebakan-jebakan rahasia tadi tentu saja sudah diketahui oleh penghuni lembah itu dan diam-diam, tiga orang pelayan cantik sudah mengintai dan mengikuti semua gerak-gerik yang dilakukan Hong Beng.

Ketika melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah, Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio menjadi bengong terpesona. Apa lagi ketika mereka menyaksikan betapa dengan tenaganya Hong Beng menghadapi dan mengatasi semua jebakan yang dilaluinya, mereka bertiga memandang semakin kagum. Tiga orang gadis cantik ini baru berusia duapuluh lima tahun kurang lebih, dan mereka hidup di tempat terasing itu, maka tentu saja kadang-kadang mereka merasa kesepian dan butuh akan kehadiran seorang pria di samping mereka. Kadang-kadang Sin-kiam Mo-li membawa pulang seorang pemuda tampan dan kalau sudah bosan, sebelum dibunuh pemuda itu diberikan kepada mereka bertiga. Kadang-kadang mereka bertigapun diperkenankan mencari hiburan di dusun-dusun di bawah pegunungan. Akan tetapi yang mereka dapatkan hanyalah pemuda-pemuda dusun yang bodoh dan kasar. Maka, begitu melihat seorang pemuda yang demikian ganteng seperti Hong Beng, tentu saja mereka terpesona. Apa lagi melihat kegagahan pemuda itu.

“Eh, kenapa kalian bengong saja? Kalau dibiarkan, bisa rusak semua alat jebakan rahasia kita dan kita akan mendapat hukuman dan marah besar,” kata Ang Nio kepada kedua orang temannya.

“Hayo kita serang dia!” kata Pek Nio.

“Akan tetapi jangan dibunuh, sayang kalau dibunuh....“ kata Hek Nio sambil menarik napas panjang.

“Tolol, apa kaukira kamipun tidak dapat melihat kehebatan seorang pria? Akan tetapi jangan harap, Hek Nio. Pria seperti ini tentu takkan dilewatkan saja oleh majikan kita!” kata Pek Nio.

“Sudahlah, kalau kelak kita memperoleh sisanya pun masih untung!” kata Ang Nio sambil meloncat keluar. “Hayo serbu!”

Hong Beng menjadi terkejut, akan tetapi tidak gugup ketika tiba-tiba nampak tiga sosok bayangan berloncatan keluar dari balik batang pohon dan dia telah dihadang oleh tiga orang gadis yang cantik. Pakaian mereka menarik perhatiannya. Seorang berpakaian serba merah, ke dua serba putih dan ke tiga serba hitam. Akan tetapi, mengenakan pakaian warna apapun, mereka itu nampak anggun dan cantik.

Betapapun juga, Hong Beng adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa bersikap sopan, apa lagi terhadap wanita. Dia merasa betapa dia telah melanggar wilayah orang lain, memasuki tempat orang tanpa ijin, maka dengan agak kikuk diapun menjura dengan hormat karena dia tidak tahu siapa adanya tiga orang gadis ini.

“Maafkan aku,” katanya lembut. “Bukan maksudku untuk memasuki tempat orang tanpa ijin, akan tetapi sesungguhnya aku ingin bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Benarkah ia bertempat tinggal di daerah ini? Dan siapakah nona bertiga?”

Tiga orang gadis itu saling pandang dan tersenyum manis. Biasanya, mereka ini bersikap galak, akan tetapi menghadapi seorang pemuda tampan dan gagah, mendadak saja sikap dingin mereka mencair dan berubah hangat dan genit.

“Sobat yang gagah, engkau datang tanpa ijin akan tetapi membawa pertanyaan-pertanyaan! Apakah ini tidak terbalik? Tidakkah sepatutnya kami yang bertanya kepadamu siapa engkau dan apa maksud kedatanganmu ini?” jawab Ang Nio dengan pertanyaan dan suaranya terdengar merdu dan nadanya naik turun seperti orang bernyanyi, bibirnya tersenyum, wajahnya cerah dan matanya bermain dengan lincahnya.

Melihat sikap orang yang manis budi, Hong Beng kembali menjura kepada gadis yang pakaiannya serba merah itu. “Maaf, aku bernama Gu Hong Beng, akan tetapi aku tidak mempunyai urusan dengan nona bertiga. Aku datang untuk mencari Sin-kiam Mo-li, sekali lagi aku mengharapkan keterangan nona, apakah Sin-kiam Mo-li tinggal di sini?”

“Sicu (orang gagah) Gu Hong Beng, aku bernama Ang Nio.”

“Aku Pek Nio,” kata si baju putih.

“Dan aku Hek Nio,” sambung si baju hitam.

Hong Beng merasa dipermainkan. Mana ada orang-orang memiliki nama yang disesuaikan dengan warna pakaiannya? Tentu nama samaran. Apa lagi melihat betapa mereka bertiga memperkenalkan nama sambil tertawa-tawa kecil, dia menganggap bahwa tiga orang gadis ini tentu sedang mempermainkannya.

“Gu-sicu, ada keperluan apakah engkau mencari beliau?” tanya Ang Nio sambil memainkan matanya yang jeli.

Hong Beng mulai mengerutkan alisnya. “Kurasa tidak ada urusannya dengan kalian bertiga. Katakan saja di mana Sin-kiam Mo-li, aku mempunyai urusan pribadi dengannya.”

Ang Nio tersenyum. “Tidak mungkin, sicu. Setiap orang tamu yang hendak berkunjung, haruslah berurusan dengan kami bertiga terlebih dulu. Kami mewakili toanio, dan kami yang berhak menerima atau menolak tamu. Kalau sicu bersikap manis kepada kami, tentu kami akan mengantarmu menghadap beliau.”

“Ada kami bertiga kenapa hendak menghadap toanio?” tiba-tiba Pek Nio dengan sikap genit berkata. “Kami akan dapat membuatmu merasa gembira!”

“Benar, sicu Gu Hong Beng yang ganteng, mari bersenang-senang dengan kami bertiga, besok kami akan mengantarmu menghadap toanio,” kata Hek Nio dengan manis pula, dengan pandang mata penuh gairah.

Kerut merut di antara alis mata Hong Beng semakin mendalam. Barulah dia tahu apa artinya sikap manis dari tiga orang gadis ini. Kiranya mereka adalah gadis-gadis tak tahu malu yang hendak merayunya! Dan agaknya mereka ini murid-murid atau juga pelayan dari Sin-kiam Mo-li. Bangkitlah kemarahannya.

“Kalian perempuan-perempuan tak bermalu! Kalian kira aku ini orang macam apa? Kalau kalian tidak mau mengantarkan aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, biarlah aku mencarinya sendiri!”

Berkata demikian, Hong Beng melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi, tiga orang wanita itu menghadang di tengah lorong dan mereka sudah memegang sebatang pedang.

“Agaknya engkau seorang yang tidak tahu dicinta orang! Baiklah, hendaknya kauketahui bahwa tanpa perkenan toanio, siapapun juga tidak mungkin dapat mendatangi rumah kami! Apakah engkau memilih mati di tangan kami dari pada menikmati kesenangan bersama kami?” kata Ang Nio.

“Ang-cici, jangan dibunuh, sayang, dia begitu tampan dan gagah,” kata Pek Nio.

“Kita tawan dia dan seret ke depan toanio!” kata pula Hek Nio.

Tiga orang wanita itu lalu menerjang Hong Beng. Mereka hanya menyimpan pedang di balik lengan kanan, dan mereka menyerang dengan tangan kiri. Ada yang mencengkeram ke arah pundak, ada yang menampar ke arah leher dan memukul ke arah dada. Gerakan mereka cukup cepat dan gerakan tangan itupun mengandung tenaga yang kuat. Namun, bagi Hong Beng, serangan mereka itu tiada bedanya dengan serangan tiga orang anak kecil saja. Sekali dia memutar tubuh dan menggerakkan tangan, dia telah dapat mengelak dan menangkis tiga serangan itu. Bahkan Hek Nio dan Ang Nio yang terkena tangkisan lengan Hong Beng, hampir saja terpelanting jatuh saking kuatnya tenaga tangkisan pemuda itu.

Kini yakinlah tiga orang wanita itu bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, maka merekapun cepat memutar pedang dan menggunakan senjata mereka untuk menyerang. Setelah mereka bertiga itu menyerang dengan pedang, Hong Beng melihat betapa ilmu pedang mereka hebat dan berbahaya. Teringatlah dia akan julukan majikan mereka, yaitu Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti). Kalau majikan atau gurunya berjuluk Pedang Sakti, tidaklah mengherankan kalau tiga orang wanita ini memiliki ilmu pedang yang demikian hebat. Tiga batang pedang itu berubah menjadi tiga sinar bergulung-gulung yang menyerangnya dengan dahsyat dari tiga jurusan. Hong Beng harus mengerahkan gin-kangnya untuk membuat tubuhnya dapat bergerak dengan ringan dan cepat, mengelak ke sana-sini menyelinap di antara sambaran sinar-sinar pedang itu.

Memang dalam hal ilmu pedang, tiga orang gadis pelayan ini sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Sin-kiam Mo-li telah melatih jurus-jurus ampuh kepada tiga orang pembantunya ini agar mereka menjadi pembantu dan penjaga yang lihai. Jarang ada orang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka, apa lagi kalau mereka itu maju bersama seperti sekarang ini. Tidaklah terlalu aneh kalau kini Gu Hong Beng, murid dari keluarga Pulau Es, merasa repot didesak oleh tiga gulungan sinar pedang yang lihai itu. Hong Beng maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian ini dengan kedua tangan kosong saja menghadapi tiga batang pedang itu, dia dapat celaka. Maka, ketika kembali tiga pedang itu menyerangnya dari tiga jurusan, depan, kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya melayang ke belakang, bukan hanya untuk mengelak, melainkan dia berjungkir balik sampai jauh lalu menyambar sebatang ranting pohon yang dipatahkannya. Kini, dengan ranting yang sebesar lengan sepanjang pedang biasa, dengan terhias daun-daun, dia menghadapi tiga orang lawan itu dan begitu dia memutar ranting, tiga orang lawannya terkejut.

Biarpun hanya sebatang ranting, karena berada di tangan seorang ahli, maka ranting itu dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Tiga batang pedang itu menyambar dan mencoba untuk membabat ranting itu agar patah. Namun, ranting itu dialiri tenaga sin-kang dari Hong Beng yang mempergunakan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju).

“Tak! Tak! Tringgg....!” Tiga batang pedang itu tertangkis dan akibatnya, tiga orang wanita itu mengeluh dan terhuyung ke belakang. Nampak wajah mereka berubah pucat dan tangan mereka agak menggigil. Hawa dingin yang masuk tulang telah menyusup ke dalam tubuh mereka, terutama bagian lengan kanan yang memegang pedang. Tiga orang pelayan itu merasa kaget dan juga penasaran sekali. Memang tadipun mereka sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, akan tetapi sungguh sukar mereka dapat percaya bahwa hanya dengan sebatang ranting di tangan, dalam segebrakan saja pemuda itu mampu membuat mereka terhuyung, melalui serangan tenaga sin-kang dingin yang demikian kuatnya!

“Bunuh orang berbahaya ini!” bentak Ang Nio.

“Orang tak mengenal kebaikan orang lain!” bentak Pek Nio.

“Engkau sudah bosan hidup!” Hek Nio juga berteriak.

Tiga orang wanita itu lalu menggerakkan tangan kiri mereka dan sinar-sinar kecil menyambar ke arah Hong Beng. Namun pemuda ini tidak merasa gugup. Dengan amat tenangnya, ranting di tangannya digerakkan dan sekaligus jarum-jarum halus yang menyambar dari jarak dekat itu dapat dipukul runtuh semua. Akan tetapi, tiga batang pedang yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga sin-kang itu telah menyerangnya dari tiga jurusan karena tiga orang wanita cantik itu telah membentuk barisan segi tiga.

Hong Beng maklum bahwa tiga orang lawannya tidak boleh dipandang ringan, apa lagi dia berada di sarang harimau, di daerah lawan yang amat berbahaya karena tempat itu penuh dengan perangkap dan jebakan-jebakan rahasia. Maka, diapun cepat menggerakkan rantingnya untuk menangkis sambil mengelak ke sana-sini, amat hati-hati karena khawatir kalau-kalau kakinya akan terjeblos. Diapun tidak berniat membunuh tiga orang wanita yang tidak dikenalnya itu. Mereka ini, menurut dugaannya, tentulah pelayan pribadi atau murid-murid tokoh yang bernama Sin-kiam Mo-li itu. Dan dia belum meli. hat bukti bahwa Sin-kiam Mo-li benar orang yang telah menculik puteri keluarga Kao, maka tidak baik kalau sampai dia membuat-gara-gara membunuh tiga orang wanita ini. Ketika dia memperoleh kesempatan, ujung tongkat yang terbuat dari ranting sederhana itu berkelebat dengan kecepatan kilat, tiga kali menyambar dan pedang tiga orang wanita itupun terlepas dari pegangan disusul teriakan mereka karena lengan kanan mereka tiba-tiba menjadi kaku tak dapat digerakkan untuk beberapa detik lamanya. Ujung ranting itu telah menotok jalan darah di lengan mereka secara luar biasa sekali. Maklum bahwa mereka bukan lawan pemuda yang amat lihai itu, tiga orang pelayan cepat berloncatan menghilang di balik semak-semak tanpa memperdulikan pedang mereka. Mereka ingin cepat melapor kepada Sin-kiam Mo-li yang masih bercakap-cakap dengan tujuh orang tosu itu.

Hong Beng hendak mengejar tiga orang wanita itu untuk memaksa seorang di antara mereka mengantarnya bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Tanpa pengantar, dia tentu akan menghadapi jebakan-jebakan rahasia yang berbahaya. Akan tetapi, begitu dia meloncat ke dekat semak-semak, jalan itu buntu dan tidak nampak bayangan tiga orang wanita itu yang sudah menghilang seperti ditelan bumi saja.

Selagi dia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu. Cepat dia bersiap siaga dan memandang. Kiranya di depannya telah berdiri seorang gadis remaja berusia tigabelas atau empatbelas tahun, gadis yang wajahnya manis sekali, sepasang matanya lebar dan sinarnya berkilat dan bergerak-gerak lincah, tanda bahwa ia seorang gadis remaja yang lincah cerdik dan bengal.

“Hi-hik, engkau merasa bangga telah mengalahkan tiga orang tadi, ya? Hemmm, tak perlu menjadi sombong, karena tanpa penunjuk jalan, jangan harap engkau akan dapat memasuki daerah kami ini, hi-hik!”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu meloncat ke kanan di mana terdapat sebuah lorong yang merupakan jalan setapak. Tentu saja Hong Beng tertarik sekali. Dia maklum bahwa ucapan anak itu memang benar, dan kini dia memperoleh seorang penunjuk jalan, yaitu gadis cilik itulah!

“Haiii, berhenti dulu!” teriaknya dan cepat dia mengejar. Girang hatinya melihat gadis cilik itu tidak begitu cepat larinya. Hong Beng bersikap cerdik. Tak perlu menyusul dan menangkap gadis itu, pikirnya, karena siapa tahu kalau ditangkap dan dipergunakan kekerasan untuk menjadi penunjuk jalan, gadis cilik itu malah tidak mau. Kini, mengikuti saja di belakang gadis itu tentu dia akan sampai juga ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li. Maka diapun pura-pura mengejar sambil berseru menyuruh berhenti, akan tetapi sengaja bergerak perlahansehingga selalu berada di belakang gadis itu, mengikuti jejak kakinya, seolah-olah dia tidak pernah dapat menangkapnya! Gadis itu berlari terus, berloncatan ke sana-sini dan selalu diikuti jejaknya oleh Hong Beng.

“Haii, tunggu! Aku mau bicara denganmu!” teriak Hong Beng berkali-kali, teriakan yang merupakan siasatnya untuk membuat gadis itu berlari terus agar dia dapat mengikuti di belakangnya dengan aman. Tentu saja gadis ini sudah hafal akan jalan rahasia di tempat berbahaya ini dan mengikuti jejak gadis itu berarti aman.

Bersambung ke buku 15