Kisah Si Bangau Merah -1 | Kho Ping Hoo



Kisah Si Bangau Merah Buku 1 | Kho Ping Hoo
Hujan pertama semalam amat lebatnya, deras dan merata sampai puluhan li jauhnya, melegakan hati para petani. Melegakan tanah kering yang sudah berbulan-bulan merindukan air. Pagi hari ini udara amatlah cerah, seolah matahari lebih berseri daripada biasanya, seperti wajah seorang kanak-kanak tersenyum-tawa sehabis menangis. Kewajaran yang indah tak ternilai.

Seluruh permukaan bumi segar berseri seperti seorang puteri jelita baru keluar dari danau sehabis mandi bersih. Daun-daunan nampak hijau segar dan basah, demikian pula bunga-bunga, walaupun tidak tegak lagi melainkan banyak menunduk karena hembusan air dan angin semalam, Tanah yang disiram air selagi kehausan itu, mengeluarkan uapan bau tanah yang sedap, bau yang mengingatkan orang pada masa kanak-kanak ketika dia bermain-main dengan lumpur yung mengasyikkan.

Burung-burung pun lebih lincah pagi itu. Suasana menakutkan mereka semalam, hujan dan angin ribut, merupakan bahaya malapetaka yang telah lewat dan mereka menyambut munculnya matahari pagi dengan kicau saling sahutan, dan mereka siap-siap berangkat bekerja mencari makan. Kegembiraan nampak pada wajah para petani yang memanggul cangkul, berangkat ke sawah ladang yang kini kembali menjadi subur menumbuhkan harapan hasil panen yung baik,

Segala sesuatu di dunia ini nampak indah selama kita tidak menyimpan kenangan masa lalu. Kenangan hanya menimbulkan perbandingan dan perbandingan menghilangkan keindahan saat ini.

"Yo Han, engkau ini bagaimana sih?. Aku dan suhumu bersungguh-sungguh mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu, akan tetapi engkau selalu acuh menerimanya, buhkan tidak mau berlatih." Suara wanita yang mengomel ini pun merupakan sebagian dari keindahan pagi itu kalau tidak dinilai. Perusak keindahan adalah penilaiun dan perbandingan.

Anak laki-laki itu berusia dua belas tahun. Dia berdiri dengan sikap hormat, namun pandang matanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut kepada wanita yang menegurnya, wanita yang duduk di atas bangku di depannya. Mereka berada di kebun yang terletak di belakang rumah, di mana tadi anak laki-laki itu menyapu kebun yang penuh dengan daun-daun yang berguguran semalam.

Wanita itu adulah Kao Hong Li atau Nyonya Tan Sin Hong. Suami isteri pendekar ini sejak menikah lima tahun yang lalu, tinggal di kota Ta-tung, di sebelah barat kota raja Peking, di mana mereka membuka sebuah toko rempa-rempa dan hasil pertanian dan perkebunan.

Tan Sin Hong adalah seorang pendekar yang terkenal, walaupun kini dia hidup dengan tenang dan tenteram di kota Ta-tung, tidak lagi bertualang di dunia persilatan. Dia pernah terkenal sekali dengan julukannya Pendekar Bangau Putih atau Si Bangau Putih. Julukannya ini adalah karena dia merupakan satu-satunya pendekar yang menguasai ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) ciptaan dari mendiang tiga orang sakti yang menggabungkan ilmu-ilmu mereka, yaitu mendiang Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir, isterinya Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio atau Wan Tek Hoat yang pernah terkenal dengan julukan Si Jari Maut! Si Bangau Putih Tan Sin Hong pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat. Akan tetapi setelah menikah, dia hidup dengan tenang tenteram bersama isterinya di kota Ta-tung, walaupun usianya masih sangat muda, yaitu baru dua puluh tujuh tahun. Kesukaannya akan pakaian berwarna putih membuat dia lebih dikenal sebagai Si Bangau Putih.

Tan Sin Hong seorang pria yang nampaknya biasa dan sederhana saja, sikapnya selalu lembut dan ramah. Hanya pada matanya sajalah nampak bahwa dia bukan orang sembarangan. Matanya itu kadang mencorong penuh kekuatan dan kewibawaan.

Isterinya yang kini duduk di kebun, bernama Kao Hong Li, berusia dua puluh enam tahun. Isteri Si Bangau Putih itu pun bukan wanita sembarangan. Ia puteri pendekar Kao Cin Liong, bahkan cucu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mengherankan kalau nyonya muda ini pun memiliki ilmu silat yang hebat, walaupun tidak sehebat suaminya. Sukarlah mencari seorang yang cukup lihai untuk mampu menandingi Kao Hong Li.

Kao Hong Li seorang wanita yang cantik. Wajahnya bulat telur dan kecantikannya terutama terletak kepada sepasang matanya yang lebar dan jeli. Sikapnya lincah, gagah dan juga galak. Ia seorang wanita yang cerdik, pandai bicara. Seperti juga Tan Sin Hong yang pernah menikah dengan wanita lain kemudian bercerai, Kao Hong Li juga seorang Janda muda ketika menikah dengan Sin Hong.

Biarpun kedua orang pendekar ini saling mencinta ketika Mereka masih perjaka dan gadis, namun keadaan membuat mereka tidak berjodoh dan menikah dengan orang lain. Tan Sin Hong menikah dengan Bhe Siang Cun, puteri guru silat Ngo-heng Bu-koan, sedangkan Kao Hong Li menikah dengan Thio Hui Kong, putera seorang jaksa di kota Pao-teng, Namun, karena pernikahan ini tidak dilandasi cinta, sebentar saja terjadi keretakan dan akhirnya keduanya bercerai dari isteri dan suami masing-masing. Dalam keadaan menjadi duda dan menjadi janda inilah mereka saling berjumpa kembali dan kegagalan perjodohan mereka masing-masing itu makin mendekatkan dua hati yang memang sejak dahulu sudah saling mencinta itu. Dan mereka pun manjadi suami isteri.

Suami isteri yang saling mencinta itu hidup cukup berbahagia, dan setahun setelah pernikahan mereka, mereka dikaruniai seorang puteri yang mereka beri nama Tan Sian Li, yang kini telah berusia empat tahun.

Adapun anak laki-laki berusia dua belas tahun yang sepagi itu telah menerima teguran Kao Hong Li, adalah murid suami isteri itu. Namanya Yo Han dan sejak lima tahun yang lalu dia sudah diambil murid oleh Tan Sin Hong. Yo Han adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibunya telah tewas di tangan tokoh-tokoh sesat. Ayah Yo Han seorang petani yang jujur dan sama sekali tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia memiliki watak yang gagah perkasa melebihi seorang pendekar silat! Ibu anak itu seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal, bahkan dahulunya sebelum menikah dengan Yo Jin, yaitu ayah Yo Han, wanita itu merupakan seorang tokoh sesat yang ditakuti orang. Namanya Ciong Siu Kwi dan ia dijuluki Bi Kwi (Setan Cantik) karena biarpun wajahnya cantik jelita, namun ia jahat seperti setan! Setelah bertemu Yo Jin dan menikah dengan pemuda dusun yang sama sekali tidak mampu bermain silat itu, wataknya berubah sama sekali. Ia menyadari semua kesalahannya dan ia hidup sebagai seorang isteri yang baik, bahkan setelah melahirkan Yo Han, ia menjadi seorang ibu yang baik. Akan tetapi, agaknya latar belakang kehidupannya mendatangkan malapetaka. Pohon yang ditanamnya dahulu itu berbuah sudah dan ia pula yang harus memetik dan makan buahnya. Biarpun ia sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari dunia kang-ouw, bahkan dari dunia persilatan, namun tetap saja musuh-musuh mencarinya! Melibatkan suami dan puteranya pula sehingga untuk menyelamatkan anak dan suami, terpaksa Bi Kwi Ciong Siu Kwi mencabut kembali pedangnya! Dan akibatnya, ia dan suaminya tewas di tangan tokoh-tokoh sesat. Masih baik bagi anaknya bahwa dia, yaitu Yo Han, tertolong oleh Tan Sin Hong yang kemudian mengambilnya sebagai murid.Demikianlah riwayat singkat Yo Han dan kedua orang gurunya. Dan semenjak gurunya, Tan Sin Hong, menikah dengan Kao Hong Li dan tinggal di kota Ta-tung Yo Han bekerja dengan rajin sekali. Biarpun gurunya telah berhasil dalam usaha perdagangannya, dan sudah mampu menggaji pelayan, namun tetap saja Yo Han membantu semua pekerjaan dari menyapu kebun, membersihkan prabot rumah dan sebagainya. Tidak ada yang menyuruhnya, melainkan karena dia suka bekerja, dia suka mengerjakan kaki tangannya.

Sejak menjadi murid Sin Hong, pendekar ini mengajarkan ilmu silat dasar kepada Yo Han. Akan tetapi sungguh mengherankan sekali, anak itu tidak suka belajar silat. Dia lebih tekun belajar membaca dan menulis sehingga dalam usia dua belas tahun, dia telah mampu membaca kitab-kitab sastra dan filsafat yang berat-berat seperti Su-si Ngo-keng! Dia pandai pula menulis sajak, pandai bermain suling dan pandai bernyanyi! Akan tetapi, selama lima tahun menjadi murid Si Bangau Putih Tan Sin Hong, dia belum mampu melakukan gerakan menendang atau memukul yang benar!

Tan Sin Hong dapat memaklumi keadaan muridnya itu. Dia teringat betapa dahulu, ayah dan ibu anak ini selalu menjaga agar putera mereka tidak mengenal ilmu silat. Mereka mengajarkan ilmu baca-tulis kepada putera mereka, akan tetapi Yo Han sama sekali tidak diperkenalkan dengan ilmu silat. Hal ini dikehendaki oleh Yo Jin, dan Bi Kwi juga menyetujui karena suami isteri ini melihat kenyataan betapa dunia persilatan penuh dengan kekerasan, dendam dan permusuhan. Bahkan Bi-kwi sendiri benar-benar meninggalkan dunia persilatan, hidup sebagai seorang isteri dan ibu di dusun sebagai petani yang hidup sederhana namun tenteram penuh damai. Karena memaklumi bahwa pendidikan ayah ibu ini ikut pula membentuk watak dan kepribadian Yo Han, maka biarpun dia melihat betapa Yo Han sama sekali tidak suka mempelajari ilmu silat, dia pun tidak pernah menegur.

Akan tetapi, yang suka mengomel dan merasa penasaran adalah isterinya, Kao Hong Li. Wanita ini memiliki watak yang lincah, gagah dan juga galak, ia merasa penasaran bukan main melihat Yo Han tidak pernah memperhatikan pelajaran ilmu silat, bahkan mengacuhkannya sama sekali. Padahal, mereka, terutama suaminya, sudah berusaha sedapatnya untuk menjadi seorang guru yang baik bagi Yo Han. Apa akan kata orang dunia persilatan kalau melihat Yo Han menjadi seorang yang sama sekali tidak tahu ilmu silat, padahal dia adalah murid ia dan suaminya? Yang tidak tahu tentu akan mengira bahwa mereka suami isteri memang tidak bersungguh hati mengajarkan silat kepada Yo Han, bahkan tentu disangkanya membenci anak itu. Padahal ia dan suaminya amat menyayang Yo Han. Anak itu mereka anggap sebagai anak sendiri, atau adik sendiri. Apalagi Yo Han adalah seorang anak yang tahu diri, pandai membawa diri, rajin bekerja, juga amat cerdik. Mempelajari segala macam kepandaian, dia cerdik luar biasa Akan tetapi hanya satu hal, yaitu ilmu silat dia tidak peduli.

Karena sudah merasa kesal sekali, pagi hari itu, melihat Yo Han hanya bekerja di kebun, sama sekali tidak mau berlatih silat, Kao Hong Li tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi dan ia pun menegur muridnya.

"Nah, hayo jawab. Kenapa engkau tidak mau melatih ilmu-ilmu silat yang sudah diajarkan oleh suhumu dan aku? Sudah berapa banyak ilmu silat yang kami ajarkan, bahwa engkau sudah hafal akan semua teorinya, akan tetapi belum pernah aku melihat engkau mau melatihnya! Hayo jawab sekarang, Yo Han, jawab sejujurnya, mengapa engkau tidak mau berlatih silat?"

Sejak tadi anak itu menatap wajah subonya (ibu gurunya), dengan sikap tenang dan pandang mata lembut, wajah tersenyum seperti seorang tua melihat seorang anak kecil yang marah-marah!

"Benarkah Subo menghendaki teecu (murid) bicara terus terang sejujurnya, dan Subo tidak akan menjadi marah, apa pun yang menjadi jawaban teecu?"

"Kenapa mesti marah? Dengar baik-baik, Yo Han. Pernahkah aku atau suhumu marah-marah kalau engkau memang bertindak benar? Selama ini, kami harus mengakui bahwa engkau seorang anak yang baik, seorang murid yang patuh, juga rajin bekerja dan semua ilmu pengetahuan dapat kau kuasai dengan baik dan kau pelajari dengan tekun. Kecuali ilmu silat! Kalau memang jawaban dan keteranganmu sejujurnya dan benar, mengapa aku harus marah? Kalau aku ini menegurmu karena engkau tidak mau berlatih silat, bukanlah untuk kepetinganku, melainkan demi masa depanmu sendiri.”

Anak itu memandang kepada subonya dengan mata membayangkan keharuan hatinya. Setelah gurunya selesai bicara, dia pun menarik napas panjang.

"Subo, teecu tahu benar betapa Subo dan Suhu amat sayang kepada teecu, amat baik kepada teecu. Teecu tak habis merasa bersukur dan berterima kasih atas segala budi kebaikan Subo dan Suhu, Dan maafkanlah kalau tanpa sengaja teecu telah membuat Subo dan Suhu kecewa, menyesal dan marah. Sekarang, teecu hendak menjawab secara terus terang saja, sebelumnya mohon Subo memaafkan teecu."

Diam-diam Kao Hong Li memandang kagum. Sering ia merasa kagum kepada anak ini. Bicaranya demikian lembut, sopan, teratur seperti seorang dewasa saja, yang terpelajar tinggi pula!

"Katakanlah jawabanmu mengapa engkau tidak suka berlatih silat. Aku tidak akan marah," katanya, kini suaranya tidak keras penuh teguran lagi.

"Subo, teecu suka mempelajari ilmu silat karena di situ teecu menemukan keindahan seni tari, juga teecu menemukan olah raga menyehatkan dan menguatkan badan, memperbesar daya tahan terhadap penyakit dan kelemahan. Akan tetapi, teecu tidak suka melatihnya karena teecu melihat bahwa di dalam ilmu silat terdapat pula kekerasan. Karena itu, maka ilmu silat itu jahat!"

Sepasang mata Kao Hong Li yang memang lebar dan jeli itu terbelalak semakin lebar. "Jahat...?!?"

"Ya, tentu jahat, Subo. Ilmu silat adalah ilmu memukul orang, bahkan membunuh orang lain. Apa ini tidak jahat namanya?"

"Wah, pendapatmu itu terbalik sama sekali, Yo Han! Justeru ilmu silat membuat kita dapat membela diri terhadap kejahatan, juga dapat kita pergunakan untuk membasmi kejahatan. Kalau ilmu silat dipergunakan untuk kejahatan, tentu saja tidak benar. Akan tetapi ilmu silat dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan, seperti yang dilakukan para pendekar. Ilmu silat adalah ilmu bela diri dari serangan orang jahat maupun binatang buas. Yang jahat itu bukan ilmu silatnya, seperti juga segala macam ilmu di dunia ini. Jahat tidaknya, baik tidaknya, tergantung dari manusianya, bukan dari ilmunya. Ilmu silat atau ilmu apa pun tidak ada artinya tanpa Si Manusia yang memergunakannya."

Yo Han mengangguk-angguk. “Teecu mengerti, Subo. Apa yang Subo katakan itu memang kenyataan dan benar adanya. Baik buruk tergantung dari orang yang menguasainya. Seperti Suhu dan Subo, walaupun ahli-ahli ilmu silat, namun sama sekali tidak jahat. Yang membuat teecu tidak mau melatih diri dengan ilmu silat adalah karena melihat sifat dari ilmu silat itu. Sifatnya adalah kekerasan, perkelahian, saling bermusuhan. Itulah yang membuat teecu tidak suka menguasainya.

Kao Hong Li sudah mulai merasa perutnya panas. Ia memang galak dan teguh, dalam pendiriannya. "Yo Han, lupakah engkau bahwa kalau tidak ada ilmu silat, engkau sudah mati sekarang ketika engkau terjatuh ke tangan para tokoh sesat?"

"Maaf, Subo. Nyawa kita berada di tangan Tuhan! Kalau Tuhan belum menghendaki teecu mati, biar diancam bahaya bagaimanapun juga, ada saja jalannya bagi teecu untuk terhindar dari kematian. Sebaliknya, kalau Tuhan sudah menghendaki seseorang mati, biar dia memiliki kesaktian setinggi langit sedalam lautan, tetap saja dia tidak akan mampu menghindarkan diri dari kematian. Bukankah begitu, Subo?"

Diam-diam Kao Hong Li terkejut. Dari mana anak ini dapat pengertian seperti itu?

"Anak baik, biarpun nyawa berada di tangan Tuhan, akan tetapi sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk menjaga diri, untuk selalu berusaha menyelamatkan diri dari segala ancaman. Dan ilmu silat dapat menjamin kita untuk menyelamatkan diri dari ancaman orang jahat atau binatang buas."

"Subo, maafkan kalau teecu berterus terang. Teecu selalu ingat betapa Ayah dan Ibu tewas, karena Ibu pernah berkecimpung di dunia persilatan. Ibu sudah terlalu banyak menanam permusuhan, sudah terlalu banyak bergelimangan kekerasan, maka akhirnya Ibu tewas dalam kekerasan pula, bahkan membawa Ayah menjadi korban. Selain itu, pernah teecu mendengar kisah yang dituturkan oleh Subo dan Suhu, kisah para pendekar sakti. Mereka itu hampir semua tewas dalam perkelahian, dalam kekerasan."

"Kau keliru, Yo Han. Memang benar bahwa banyak pendekar tewas dalam perkelahian, seperti juga sebagian besar perajurit tewas dalam pertempuran. Akan tetapi justeru itu merupakan kematian terhormat bagi seorang pendekar. Tewas dalam melaksanakan tugas menentang kejahatan adalah kematian yang terhormat!"

"Membunuh atau terbunuh merupakan kematian terhormat, Subo? Ahh, teecu tidak dapat menerimanya. Semua kepandaian manusia didapatkan karena kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Juga ilmu silat. Akan tetapi sungguh sayang bahwa kemurahan dari kekuasaan Tuhan itu oleh manusia diselewengkan, untuk saling bunuh. Tidak, Subo. Teecu tidak mau membunuh orang! Teecu tidak mau belajar ilmu silat, ilmu memukul dan membunuh orang."

Kao Hong Li menjadi semakin marah. "Bagaimana kalau engkau sekali waktu diancam oleh orang jahat untuk dibunuh?"

"Teecu akan berusaha untuk menyelamatkan diri, melindungi diri dengan segala kekuatan dan kemampuan yang ada, bukan berarti teecu akan berusaha membunuhnya. Kalau teecu sudah berusaha sekuatnya. untuk melindungi diri, cukuplah."

"Hemm, bagaimana engkau akan mampu melindungi dirimu dari serangan orang jahat yang hendak membunuhmu kalau engkau tidak pandai ilmu silat?"

"Teecu serahkan saja kepada Tuhan! Sudah teecu katakan tadi bahwa nyawa berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan belum menghendaki teecu mati di tangan penjahat itu, tentu teecu akan dapat menghindarkan diri."

Kao Hong Li sudah kehilangan kesabarannya, Ia bangkit berdiri dan menatap wajah anak itu. "Yo Han, aku khawatir bahwa engkau telah dihinggapi kesombongan besar yang tolol!"

"Meafkan teecu, Subo," kata Yo Han sambil menundukkan mukanya.

"Bocah sombong! Kalau engkau tidak mau belajar silat, kalau engkau menganggap bahwa belajar silat itu salah, lalu engkau mau belajar apa? Engkau menjadi murid suami isteri pendekar, kalau tidak mau belajar silat dari kami, lalu mau belajar apa?"

"Teecu ingin belajar hidup yang benar dan sehat, belajar menjadi manusia yang berguna, baik bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi Tuhan. Teecu akan mempelajari segala ilmu yang berguna dan indah, sastra, seni apa saja, asalkan bukan ilmu yang merusak...."

"Sombong!" Kao Hong Li membentak, kini ia sudah marah. "Kau mau bilang bahwa ilmu silat adalah ilmu yang merusak?"

Pada saat itu, muncullah Tan Sin Hong. Sejak tadi dia sudah mendengar percakapan antara isterinya dan murid mereka. Dia tidak menyalahkan isterinya yang marah-marah. Dia sendiri pun tentu akan marah kalau saja dia tidak teringat akan keadaan Yo Han di waktu kecilnya. "Aih, ada apakah ini sepagi ini sudah ribut-ribut?" Sin Hong menegur sambil tersenyum tenang.

Melihat suaminya datang, Kao Hong Li segera menuding kepada Yo Han.

"Coba lihat muridmu ini! Dia menjadi murid kita tentu kita beri pelajaran ilmu silat. Eh, dia malah menganggap bahwa ilmu silat itu jahat, ilmu yang merusak! Apa tidak membikin panas perut?"

"Sudahlah, nanti kita bicarakan hal itu." Sin Hong menghibur isterinya, lalu bertanya kepada Yo Han. "Yo Han, apakah engkau lupa hari lusa, adalah suatu hari yang bahagia? Nah, ada peristiwa bahagia apakah hari lusa itu?"

Yo Han mengangkat mukanya dan wajahnya berseri memandang kepada suhunya yang telah mengalihkan percakapan yang membuat hatinya merasa tidak enak terhadap subonya tadi. "Teecu tahu, Suhu. Besok lusa adalah hari ulang tahun yang ke empat dari Sian Li."

"Ha, jadi engkau ingat? Dan sudahkah engkau mempersiapkan hadiahmu untuk adikmu itu?"

Yo Han menggeleng kepala. "Belum Suhu."

Yo Han amat mencinta adiknya, puteri kedua orang gurunya itu, bahkan sejak Sian Li dapat merangkak, Yo Han lah yang selalu mengasuhnya dan mengajaknya bermain-main sehingga Sian Li juga amat sayang kepadanya.

Sin Hong mengeluarkan uang dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Yo Han. "Nah, ini uang kau boleh pakai untuk membelikan hadiahmu untuk Sian Li."

Akan tetapi Yo Han menggeleng kepalanya, "Suhu, teecu ingin memberi hadiah sesuatu yang merupakan hasil pekerjaan tangan teecu sendiri kepada adik Sian Li."

"Hemm...." Sin Hong menyimpan kembali uangnya. "Dan sudah kaubuatkan itu?

"Belum, Suhu!"

"Kalau begitu, mulai hari ini engkau boleh mulai mengerjakannya. Jangan bantu pekerjaan tukang kebun dan pelayan, tapi selesaikan membuat hadiahmu untuk adikmu."

Berseri wajah Yo Han. Memang kedua orang gurunya tidak pernah menyuruh dia bekerja, akan tetapi dia sendiri yang merasa tidak enak kalau harus menganggur. Selalu ada saja yang dia kerjakan. Kini, gurunya memberi dia kesempatan sepenuhnya untuk membuatkan hadiah untuk Sian Li.

"Baik, terima kasih, Suhu. Sekarang pun teecu hendak mulai membuatkan hadiah itu!" Dan dia pun pergi meninggalkan kebun itu, menuju ke sungai kecil yang mengalir di sebelah selatan rumah itu.

Setelah Yo Han pergi, baru Sin Hong bicara dengan isterinya. "Sudahlah, kalau dia tidak mau berlatih silat, kita tidak perlu memaksanya. Kita sudah mengajarkan ilmu-ilmu kita yang paling baik, dan dia sudah menghafalkan semua teorinya. Tinggal terserah kepada dia sendiri hendak melatihnya atau tidak."

"Akan tetapi, dia adalah murid kita. Kalau kelak dunia persilatan tahu bahwa dia murid kita akan tetapi lemah dan tidak pandai memainkan ilmu silat, bukankah kita yang menjadi bahan tertawaan?"

Sin Hong menggeleng kepala. "Belum tentu demikian. Aku melihat bahwa dia bukan anak sembarangan. Dia pemberani dan tabah, juga amat cerdik. Dan dia mempunyai kasih sayang kepada sesamanya. Lihat saja. Dia tidak pernah menjadi jagoan, akan tetapi semua anak di kota ini mengenalnya dan bersikap amat baik kepadanya. Dia disukai dan disegani, bukan saja oleh anak-anak, juga orang-orang tua tetangga kita selalu memujinya karena sikapnya yang sopan dan baik budi."

"Bagaimanapun juga, aku khawatir kalau terjadi serangan orang jahat terhadap dirinya...."

"Tidak perlu khawatir, Li-moi. Biarkan saja dia bertumbuh sewajarnya, menurut apa yang disukainya dan kita lihat saja. Yang penting, dia tidak melakukan sesuatu yang menyimpang dari kebenaran, Dan dia amat sayang kepada Sian Li."

Hong Li mengangguk. "Memang, Sian Li Juga amat sayang kepadanya. Justeru inilah yang kadang merisaukan hatiku."

"Eh? Engkau risau karena anak kita menyayang Yo Han?"

"Yo Han bagaikan kakak bagi Sian Li dan kelak, tentu Sian Li akan mencontoh segala prilaku Yo Han. Kalau Yo Han membenci ilmu silat, menganggapnya jahat, bagaimana kelau dia mempengaruhi Sian Li dan anak kita juga tidak suka berlatih silat?"

Sin Hong mengangguk-angguk. "Aku akan bicara dengan Yo Han tentang itu dan minta agar dia jangan menanamkan pendapatnya itu kepada Sian Li, bahkan agar dia membujuk Sian Li agar suka mempelajari dan berlatih ilmu silat." Mendengar ucapan suaminya itu, baru legalah rasa hati Hong Li.

"Sungguh seorang anak yang aneh sekali Yo Han itu," katanya menarik napas panjang. Ia sendiri amat suka kepada Yo Han. Siapa yang takkan suka kepada anak yang pandai membawa diri dan rajin itu? Wajahnya tidak pernah muram, terang dan amat ramah, juga berhati lembut.



***

Memang tidak berlebihan kalau wanita pendekar itu mengatakan bahwa Yo Han adalah seorang anak yang aneh sekali. Memang nampaknya saja Yo Han seorang anak biasa yang tiada bedanya dengan anak-anak lainnya. Akan tetapi memang terdapat sesuatu yang luar biasa pada diri anak ini, yang membuat Kao Hong Li dan juga suaminya mengetahui bahwa Yo Han bukanlah anak biasa. Sikapnya demikian dewasa, pandangannya luas dan kadang-kadang aneh dan tidak pantas dimiliki seorang anak berusia dua belas tahun. Wajahnya memang tampan, akan tetapi itu pun tidak aneh. Dan wataknya sederhana. Pakaian pun amat sederhana walaupun selalu bersih dan rapi. Biarpun kedua orang gurunya amat sayang kepadanya dan selalu berusaha agar dia senang dan tidak kekurangan sesuatu, namun Yo Han tidak pernah minta apa-apa, hanya menerima saja apa pun yang diberikan kepadanya tanpa memilih. Yang membuat suami isteri itu seringkali kagum adalah kecerdikannya. Dia seolah mampu membaca pikiran orang!

Terutama sekali dalam pelajaran sastra, anak itu sangat menonjol kecerdasannya. Dalam usia dua belas tahun, dia sudah mampu membaca kitab-kitab yang berat-berat, bukan saja kitab-kitab sejarah juga kitab-kitab agama dan filsafat. Hafal sudah olehnya kitab-kitab Su-si Ngo-keng, dan andaikata dia mau, dalam usia dua belas tahun itu bukan tidak mungkin dia akan lulus dalam ujian kenegaraan bagi para siu-cai (semacam gelar sarjana). Tan Sin Hong sendiri seorang yang suka membaca dan dia memiliki kumpulan kitab-kitab kuno di dalam kamar perpustakaannya. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kalau sedang membersihkan kamar itu, Yo Han tenggelam ke dalam kitab-kitab itu, membaca kitab-kitab yang kadang masih terasa sukar bagi Sin Hong sendiri!

Banyak hal yang dibacanya, baik dalam kitab sejarah maupun kitab keagamaan, yang mempengaruhi batin Yo Han yang aneh, yang membuat dla ngeri menghadapi kekerasan, membuat dia merasa ngeri melihat kenyataan betapa kehidupan manusia bergelimang kekerasan.

Di samping itu, ada sesuatu yang amat luar biasa pada diri Yo Han, yang seringkali membuat dia sendiri merasa heran. Dia seakan-akan ada kekuatan yang melindunginya, kekuatan yang kadang-kadang bekerja di dalam dan di luar dirinya, bekerja di luar kehendaknya, bahkan di luar pengertiannya. Suatu tenaga mujijat, suatu kekuatan yang bekerja di luar hati dan akal pikirannya. Hal ini tadinya tidak diketahuinya. Akan tetapi karena beberapa kali terjadi hal yang tadinya dianggap suatu "kebetulan" saja, mulailah dia menyadari, bahwa hal itu bukanlah suatu kebetulan belaka.

Mula-mula keanehan itu terjadi ketika dia membaca sebuah kitab agama kuno yang terisi dongeng-dongeng yang mengandung makna-makna terpendam. Amat sukar dimengerti oleh orang dewasa yang sudah banyak membaca kitab agama sekalipun. Yo Han menemukan kitab ini dalam kamar perpustakaan suhunya. Dia membacanya dan segera menemui kesulitan. Banyak huruf kuno yang tak dikenalnya, dan lebih banyak pula kalimat yang tidak dimengerti maknanya. Karena dia memang seorang kutu buku, dia tidak putus asa dan terus membaca. Makin dia berusaha untuk mengerti isi kitab, makin sukarlah baginya dan makin bingung dan ruwetlah pikirannya. Akhirnya, karena kelelahan, bukan karena jengkel, dia pun tertidur. Tidur sambil duduk dan kitab itu masih terbuka di atas meja di depannya.

Ketika setengah jam kemudian dia terbangun, dia melihat lagi kitab itu dan.... dia dapat membaca dengan lancar, bahkan dapat mengerti apa arti isi kitab itu. Hal yang tadinya dianggap sukar, setelah dia bangun tidur, menjadi mudah, yang gelap menjadi terang. Hal itu terjadi dengan sendirinya, bukan hasil pemerasan pikiran, seperti secara wajar dan otomatis saja.

Demikianlah, banyak hal seperti itu terjadi selama kurang lebih dua tahun ini dan Yo Han mulai mengerti bahwa kekuatan mujijat itu terjadi kalau dia pasrah kepada Tuhan, kalau dia tidak mempergunakan daya hati dan akal pikirannya. Seperti telah diatur saja oleh tenaga mujijat.

Setelah gurunya memberi ijin kepadanya untuk segera membuatkan hadiah untuk Sian Li, Yo Han segera pergi ke sungai yang letaknya kurang lebih satu li saja dari rumah gurunya. Dia tahu bahwa bahan yang dibutuhkannya untuk membuat hadiah itu berada di tepi sungai. Bahan itu hanya tanah liat, lain tidak! Dia ingin membuatkan patung kecil atau boneka dari tanah liat, buatan tangannya sendiri, untuk Sian Li! Dia tahu bahwa dia dapat membuat sebuah boneka yang indah dari tanah, liat. Sudah sering dia bermain-main dengan tanah liat dan dia mendapat kenyataan betapa tanah liat itu demikian penurut dalam remasan jari-jari tangannya, demikian mudahnya dibentuk menjadi apa saja yang dikehendakinya. Dia dapat membuat segala macam patung binatang dari tanah liat. Rasanya seperti kalau dia melukis. Dengan goresan, dia pun dapat membentuk apa, saja yang dilihatnya, baik yang dilihatnya dalam kenyataan maupun yang dilihatnya dalam bayangan khayal.

Yo Han tiba di tepi sungai dan dia segera menuju ke bagian di mana, terdapat tanah liatnya yang baik. Bagian ini sunyi sekali. Hanya dia dan beberapa oreng kawannya bermain, tetangga gurunya, yang mengetahui tempat ini. Kini dia berada di situ seorang diri dan segera dia turun ke tepi sungai dan mengambil tanah liat dengan kedua tangannya. Mudah saja menggali tanah liat yang lunak dan basah itu, dikumpulkannya sampai cukup banyak, lalu dibawanya tanah liat segumpal besar itu ke bawah sebatang pohon besar di tepi sungai.

Baru saja dia menurunkan tanah liat yang dibawanya, ketika dia duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah, tanpa disengaja kakinya menginjak seekor ular! Bagian ekornya yang diinjaknya itu. Ular itu terkejut, juga marah dan tubuhnya membalik, kepalanya meluncur dan menyerang ke arah leher Yo Han yang sudah duduk. Tangan kanan Yo Han bergerak dan tahu-tahu leher ular itu telah terjepit di antara jari-jari tangannya. Dia telah dapat menangkap leher ular itu!

Tak jauh dari situ, Sin Hong memandang terbelalak! Tadi pun dia melihat serangan ular yang tiba-tiba itu dan wajahnya menjadi pucat. Terlalu jauh baginya untuk dapat menolong dan menyelematkan muridnya, juga gerakan ular itu terlalu cepat. Dia sudah membayangkan betapa leher itu akan dipatuk ular. Bukan ular biasa, melainkan ular hijau yang racunnya amat jahat! Akan tetapi apa yang dilihatnya? Yo Han telah dapat menangkap leher ular, hanya sedikit selisihnya karena moncong ular itu tinggal sejengkal lagi dari leher Yo Han! Dia sendiri, kalau diserang ular secara tiba-tiba seperti itu, masih meragukan apakah berani menghindarkan diri dengan cara menangkap leher ular itu! Perbuatan ini amat berbahaya karena sekali meleset dan leher terpatuk ular beracun itu, amat hebat akibatnya. Kalau kaki yang terpatuk ular, masih banyak harapan untuk diobati, akan tetapi leher demikian dekat dengan kepala dan jantung. Dia hanya terbelalak memandang dan semakin bengonglah dia ketika melihat apa yang terjadi.

Yo Han sendiri terbelalak ketika melihat bahwa yang ditangkap tangannya itu adalah seekor ular hilau yang dia tahu beracun! Dia merasa heran karena sungguh dia tidak menyadari, apa yang dilakukan tangannya tadi, seolah-olah tangan itu bergerak sendiri dengan amat cepatnya menangkap leher ular! Akan tetapi, dia memang seorang anak yang memiliki keberanian luar biasa. Setelah kini dia melihat kepala ular itu, dengan mata yang nampaknya begitu putus asa dan ketakutan, lidah yang terjulur keluar masuk, tubuh yang menggeliat-geliat melibat lengannya tanpa daya karena dia merasa betapa lengannya diisi tenaga yang membuat lengannya itu seperti berubah menjadi baja, timbul perasaan kasihan di dalam hatinya.

"Ular hijau, kenapa engkau hendak mematukku? Kalau seandainya aku menyentuh atau menginjaknya tanpa kusengaja, sepatutnya engkau memaafkan aku. Engkau yang sengaja hendak mematukku pun dapat kumaafkan. Kita sepatutnya bermaaf-maafan setelah sama-sama diciptakan hidup di dunia ini. Bukankah begitu, ular hijau?"

Sin Hong terbelalak, tak pernah berkedip ketika melihat betapa kini ekor ular yang tadi membelit-belit lengan muridnya itu melepaskan belitannya, dan melihat betapa Yo Han dengan lembut melepaskan leher yang ditangkap tangannya itu, membiarkan ular itu ke atas tanah. Dan ular itu sama sekali tidak nampak buas lagi, tidak menyerang! Juga tidak melarikan diri ketakutan. Ular itu kini perlahan-lahan menghampiri Yo Han yang sudah duduk di atas akar, mengelilingi anak itu, perlahan-lahan, kadang-kadang mendekat dan menyentuh kaki Yo Han dengan tubuhnya, seperti tingkah seekor kucing yang manja mengusapkan tubuhnya ke kaki majikannya. Dan Yo Han sudah tidak mempedulikan ular itu lagi, melainkan asyik dengan pekerjaannya. Kedua tangannya bekerja dengan cekatan, meremas-remas tanah liat itu sehingga menjadi lunak dan liat, dan mulai membentuk patung yang hendak dibuatnya. Sampai beberapa lamanya, ular hijau itu bergerak di sekitar Yo Han mengusapkan tubuhnya ke kaki anak itu, kadang menggunakan lidahnya menjilat, Yo Han yang tenggelam ke dalam pekerjaannya seperti sudah melupakan binatang itu dan akhirnya, ular itu pun pergi dengan tenang.

Beberapa kali, dalam pengintaian itu Sin Hong menelan ludah. Dia merasa seperti dalam mimpi. Yo Han demikian mudahnya menangkap leher ular yang sedang menyerangnya, ular beracun yang terkenal ganas. Kemudian, lebih aneh lagi, dengan ucapan dan sikapnya, dia mampu membuat seekor ular berbisa yang ganas berubah menjadi seekor binatang yang jinak dan manja seperti kucing. Apa artinya semua ini? Tentu saja Sin Hong menjadi penasaran bukan main. Dia adalah guru anak itu. Dan semenjak berusia tujuh tahun, Yo Han selalu ikut dengan dia. Akan tetapi bagaimana sampai saat ini dia sama sekali tidak mengenal muridnya itu? Tidak tahu akan keadaan muridnya yang aneh? Muridnya itu tidak pernah mau melatih ilmu silat yang diajarkan, akan tetapi kini buktinya, anak itu sedemikian lihainya! Kapan belajarnya? Dari siapa? Gerakan tangan ketika menangkap ular berbisa tadi tidak dikenalnya. Mirip dengan jurus Bangau Putih Mematuk Ular. Akan tetapi hanya mirip. Jauh bedanya. Jurus dari ilmu silatnya Pek-ho Sin-kun itu menggunakan jari tangan untuk mencengkeram tubuh ular dan memang yang dimaksud lehernya dan dalam ilmu silat menghadapi manusia dipergunakan untuk menangkap lengan lawan yang menyerang. Akan tetapi gerakan Yo Han tadi begitu cepat akan tetapi begitu lembut sehingga ketika leher ular tertangkap, ular itu tidak mampu melepaskan diri, akan tetapi juga tidak tersiksa dan tidak luka. Gerakan apa itu? Dan sikapnya kemudian terhadap ular berbisa itu, sungguh tidak dimengertinya! Kenapa Yo Han bersikap seaneh itu dan bagaimana pula ular itu berubah menjadi sejinak itu? Apakah artinya semua itu? Ilmu apakah yang dikuasai Yo Han?

Sin Hong adalah seorang pendekar yang gagah dan jujur, tentu saja tidak suka akan hal-hal yang dirahasiakan, tidak suka akan kepura-puraan. Di depannya, Yo Han tidak pernah berlatih silat, sehingga dia dan isterinya menganggap dia lemah dan tidak dapat bersilat. Akan tetapi apa kenyataannya sekarang? Serangan ular tadi amat cepat dan berbahaya. Hanya seorang ahli silat tingkat tinggi saja yang mampu menghindarkan bahaya maut itu dengan menangkap leher ular yang sedang menyerang dalam jarak sedemikian dekatnya. Dan Yo Han mampu melakukannya. Ini membuktikan bahwa anak itu sama sekali bukan lemah, hanya berlagak lemah saja. Apakah diam-diam dia telah mempelajari dan melatih ilmu silat lain? Atau mempunyai seorang guru lain? Dia harus membongkar semua rahasia ini, tidak mau dipermainkan lagi.

Sekali melompat, Sin Hong sudah berada di dekat Yo Han. Anehnya, anak itu sama sekali tidak kelihatan kaget atau gugup, dan kini teringatlah Sin Hong bahwa muridnya itu memang tidak pernah gugup apalagi kaget atau takut. Selalu tenang saja seperti air telaga yang dalam.

"Suhu....!" kata Yo Han memberi hormat dengan membungkuk karena kedua tangannya berlepotan lumpur tanah liat. Sejak tadi Sin Hong mengamati, wajah Yo Han, kini melihat wajah muridnya itu biasa-biasa dan wajar saja, dia melirik ke arah bongkahan tanah liat di tangan anak itu dan dia terkejut, juga kagum. Dalam waktu singkat itu, jari-jari tangan anak itu telah mampu membentuk sebuah boneka anak-anak yang ukurannya demikian sempurna. Kepala, kaki, tangan sudah terbentuk dan demikian serasi. Hanya wajah kepala itu yang belum dibuat.

"Suhu, ada apakah Suhu mencari teecu?" tanya Yo Han.

Suara dan sikap yang amat wajar itu membuat Sin Hong menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa. "Apa yang kaubikin itu?" akhirnya dia bertanya.

"Boneka tanah, Suhu, hadiah teecu untuk adik Sian Li," kata Yo Han. Keharuan menyelinap di hati Sin Hong, Juga sedikit iri hati. Tidak ada hadiah yang lebih indah dan memuaskan hati melebihi benda buatan tangan sendiri. Kalau saja dia mampu membuat boneka tanah seindah yang sedang dibuat Yo Han, dia pun akan senang membuatkan sebuah untuk puterinya!

Akan tetapi, renungan Sin Hong buyar seketika karena dia teringat lagi akan ular tadi. Suatu kesempatan yang amat baik untuk menguji muridnya, untuk mengetahui rahasia yang menyelimuti diri muridnya. Tiba-tiba saja, dengan tenaga terukur, kecepatan yang hampir menyamai kecepatan gerakan ular tadi, tangannya meluncur dan jari tangannya menotok ke arah leher muridnya, seperti ular yang mematuk tadi, dari arah yang sama pula dengan gerakan ular tadi. Gerakannya ini pun tiba-tiba selagi Yo Han tidak mengira, kiranya presis seperti keadaannya ketika diserang ular hijau tadi.

Dan satu-satunya gerakan yang dilakukan Yo Han adalah gerak refleks atau reaksi yang umum. Dia terkejut dan menarik kepalanya sedikit ke belakang. Tentu saja serangan itu akan dapat mengenai leher Yo Han kalau Sin Hong menghendaki. Sin Hong merasa kecelik. Kenapa Yo Han sama sekali tidak menangkis atau mengelak, sama sekali tidak ada gerakan seorang ahli silat yang mahir? Kalau dia bersikep seperti itu tadi ketika dipatuk ular, tentu dia sudah celaka, mungkin sekarang sudah tewas oleh racun ular! Ataukah Yo Han sudah tahu bahwa dia diuji dan sengaja tidak mau menangkis atau mengelak untuk mengelabuhi gurunya? Ah, tidak mungkin! Seorang ahli silat tinggi memang dapat menangkap gerakan serangan dengan cepat, akan tetapi tidak mungkin dapat menduga secepat itu. Serangannya tadi terlalu cepat untuk diterima dan dirancang pikiran. Jadi jelas bahwa muridnya ini memang tidak tahu ilmu silat sama sekali. Akan tetapi ular tadi?

"Apakah maksud gerakan Suhu tadi?" tanya Yo Han dengan sikap masih tetap tenang seolah tidak terjadi sesuatu. Kekagetannya ketika diserang tadi pun hanya merupakan reaksi saja, bukan kaget lalu disusul rasa takut. Ini saja sudah amat mengagumkan hati Sin Hong.

"Yo Han, engkau ini muridku, bukan?" tiba-tiba Sin Hong bertanya dan dia pun duduk di atas akar pohon, di sebelah Yo Han.

Anak itu menoleh dan memandang wajah suhunya dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. "Tentu saja, kenapa Suhu bertanya?"

"Dan sejak lima tahun yang lalu, sejak engkau kehilangan orang tuamu, engkau hidup dengan aku, bukan?"

Sepasang mata anak itu bertemu dengan pandang mata Sin Hong dan pendekar ini merasa seolah sinar mata anak itu menembus dan menjenguk isi hatinya! Dia tahu bahwa muridnya memiliki mata yang tajam dan lembut, akan tetapi baru sekarang dia merasa betapa sinar mata itu seperti menjenguk ke dalam lubuk hatinya.

"Teecu tahu dan teecu selalu ingat akan kebaikan Suhu dan Subo. Selama hidup, teecu akan ingat kebaikan itu, Suhu, dan Suhu bersama Subo, bagi teecu bukan hanya guru, akan tetapi juga pengganti orang tua teecu."

Sin Hong terheran. Anak ini luar biasa, karena memang itulah yang dipikirkannya tadi. Dia merasa penasaran karena anak itu dianggapnya seperti anak sendiri, namun menyimpan rahasia dirinya dan masih berpura-pura lagi!

"Nah, karena itu, Yo Han. Hubungan antara murid dan guru, atau antara anak dan orang tua, sebaiknya tidak menyimpan rahasia, bukan?"

"Memang benar, Suhu. Apakah Suhu mengira teecu menyimpan rahasia? Kiraan itu tidak benar, Suhu. Teecu tidak pernah menyimpan rahasia terhadap Suhu atau Subo."

Anak seperti ini tidak mungkin dibohongi, pikir Sin Hong kaget. Lebih baik berterus terang. "Yo Han, memang terus terang saja, aku dan subomu merasa heran melihat sikap dan pendirianmu. Engkau menjadi murid kami akan tetapi tidak mau berlatih silat. Lalu apa artinya kami menjadi gurumu?"

"Bukan hanya ilmu silat yang telah diajarkan Suhu dan Subo kepada teecu. Teecu menerima pelajaran sifat yang gagah berani, adil dan menjauhi perbuatan jahat dari Suhu dan Subo, juga selama ini banyak yang telah teecu pelajari. Sastra, seni, dan banyak lagi. Terima kasih atas semua bimbingan itu, Suhu."

"Engkau benar-benar tidak dapat bermain silat sama sekali, Yo Han?" pertanyaan ini tiba-tiba saja karena Sin Hong memang bermaksud hendak bertanya secara terbuka.

Yo Han menggeleng kepala, sikapnya tenang saja dan wajahnya tidak membayangkan kebohongan.

"Yo Han, aku tadi telah melihat betapa engkau dapat menghindarkan ancaman maut ketika engkau menangkap leher ular yang mematukmu dengan cepat. Ular hijau berbisa, mematukmu secara tiba-tiba dan engkau mampu menangkapnya. Gerakan apa itu kalau bukan gerakan silat?"

"Ahhh....? Itukah yang Suhu maksudkan? Ular itu tadi? Teecu juga tidak tahu sama sekali bahwa teecu diserang ular, dan teecu juga tidak menggerakkan tangan teecu. Tangan itu yang bergerak sendiri menangkap ular, Suhu."

Sin Hong mengerutkan alisnya, hatinya bimbang. Kalau orang lain yang bicara demikian, tentu akan dihardiknya dan dikatakan bohong. Akan tetapi, sukar membayangkan bahwa Yo Han membohong!

"Engkau tidak mempelajari ilmu silat lain kecuali yang kami ajarkan?"

Sin Hong menatap tajam wajah Yo Han, dan anak itu membalas tatapan mata gurunya dengan tenang. Dia tidak menjawab, melainkan menggeleng kepala. Gelengan kepala yang amat mantap dan jelas menyatakan penyangkalannya.

"Engkau tidak mempunyai seorang guru silat lain kecuali kami?"

Kembali Yo Han tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

"Lalu.... gerakan tangan menangkap ular tadi?"

"Bukan teecu yang menggerakkan maksud teecu, teecu tidak sengaja dan tangan itu bergerak sendiri."

"Ahhh....!" Ingin dia menghardik dan mengatakan bohong, akan tetapi sikap anak itu demikian meyakinkan. "Coba.... kau ulangi gerakan tanganmu ketika menangkap leher ular itu, Yo Han. Anggap saja lengan tanganku ini ular itu tadi." Dan Sin Hong menggerakkan tangannya seperti ular mematuk. Akan tetapi Yo Han hanya menggeleng kepalanya.

"Teecu tidak dapat, Suhu. Sama sekali teecu tidak ingat lagi, karena ketika tangan teecu bergerak, teecu sama sekali tidak memperhatikan dan tahu-tahu ular itu telah tertangkap oleh tangan teecu."

"Hemmmm....!" Sin Hong mengamati wajah muridnya dengan pandang mata tajam menyelidik. Namun muridnya itu tidak berbohong!

"Pernahkah engkau mengalami hal-hal sepertl itu? Ada gerakan yang tidak kausadari dan yang membantumu?"

Di luar dugaan Sin Hong, anak itu mengangguk! Tentu saja Sin Hong menjadi tertarik sekali. "Eh? Apa saja? Coba kauceritakan kepadaku, Yo Han,"

"Seringkali teecu merasa terbimbing, tahu-tahu sudah bisa saja. Misalnya kalau membaca kitab, menghafal dan sebagainya. Kalau teecu merasa kesukaran lalu menghentikan semua usaha, bahkan tertidur, begitu bangun teecu sudah bisa! Padahal sebelumnya teecu mengalami kesulitan besar."

"Kau merasa seperti.... seperti ada sesuatu yang membimbingmu, melindungimu?"

Yo Han mengangguk perlahan, alisnya berkerut karena dia sendiri tidak tahu dengan jelas. "Kira-kira begitulah, Suhu. Teecu hanya dapat bersukur dan berterima kasih kepada Tuhan."

Sin Hong mengerutkan alisnya, pikirannya diputar. Kalau anak ini memiliki sin-kang, yaitu hawa murni yang membangkitkan tenaga sakti, dia tidak merasa heran karena tenaga sakti itu juga melindungi tubuh, walaupun perlindungan itu bangkit kalau dikehendaki. Akan tetapi, tenaga mujijat yang melindungi Yo Han ini lain lagi. Lebih dahsyat, lebih hebat karena bergerak atau bekerja justeru kalau tidak ada kehendak! Semacam nalurikah? Atau kekuasaan Tuhan yang ada pada setiap apa saja di dunia ini, terutama dalam diri manusia dan pada diri Yo Han kekuasaan itu bekerja dengan sepenuhnya? Dia tidak tahu, juga Yo Han tidak tahu! Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa muridnya ini mendapatkan berkah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diam-diam dia memandang muridnya dengan hati penuh kagum dan juga segan. Seorang manusia, biarpun masih bocah, yang menerima anugerah sedemikian besarnya dari Tuhan patut dikagumi dan disegani. Pantas saja kadang-kadang anak ini mengeluarkan kata-kata yang sesungguhnya terlampau tinggi bagi seorang kanak-kanak. Kiranya kalau sedang demikian itu, yang bekerja di dalam dirinya bukan lagi hati dan akal pikirnya yang dikemudikan nafsu badan!, melainkan badan, hati dan akal pikiran yang digerakkan oleh kekuasaan Tuhan!

Ada pula pikiran lain menyelinap dalam benaknya. Apakah bimbingan gaib yang dirasakan Yo Han itu datang dari.... roh ayah dan ibunya? Dia tidak dapat menjawab. Apa pun dapat saja terjadi pada seorang anak yang telah dapat mencapai tingkat seperti itu, kebersihan batin dari kekerasan!

Sin Hong tidak mau mengganggu muridnya membentuk boneka yang sedang dibuatnya. Di sini pun dia dibuat tertegun. Pernah dia melihat ahli-ahli pembuat patung di kota raja, baik ahli-ahli memahat patung, maupun juga ahli pembuat patung dari tanah liat. Mereka adalah orang-orang yang sudah belajar kesenian itu selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan guru-guru yang ahli. Keahlian mereka itu setidaknya masih terpengaruh oleh ilmu pengetahuan, oleh latihan dan belajar. Akan tetapi, Yo Han tidak pernah mempelajari seni membuat patung. Dan lihat! Jari-jari tangan itu demikian trampil, demikian cekatan dan pembentukan patung itu seolah-olah tidak disengaja. Akan tetapi dia mulai melihat bentuk muka puterinya, Sian Li, pada patung boneka tanah liat itu! Diam-diam dia bergidik. Bocah macam apakah muridnya ini? Sungguh tidak wajar, tidak umum! Dia pun meninggalkan muridnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada kagum, ada heran, ada pula ngeri!

Setibanya di rumah, dia menceritakan apa yang didengarnya dari jawaban Yo Han, juga tentang pembuatan patung boneka, kepada isterinya yang mendengarkan dengan alis berkerut. Akan tetapi Kao Hong Li diam saja, walaupun hatinya merasa gelisah pula. Gelisah mengingat akan puterinya, karena hubungan puterinya dengan Yo Han amat dekatnya. Puterinya amat sayang kepada Yo Han, dan ibu ini khawatir kalau-kalau kelak anaknya akan meniru segala kelakuan Yo Han yang aneh-aneh dan tidak wajar.

Ketika hari ulang tahun ke empat dari Tan Sian Li tiba, ulang tahun itu dirayakan dengan sederhana. Hanya keluarga dari empat orang itu, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, murid dan puteri mereka Yo Han dan Tan Sian Li, ditambah dengan tiga orang pembantu rumah tangga yang merayakan pesta kecil yang mereka adakan.

Ketika Yo Han menyerahkan hadiahnya yang dibungkus rapi, Tan Sian Li bersorak gembira. Apalagi ketika bungkusan itu dibuka dan isinya sebuah patung tanah liat yang indah, anak kecil itu tertawa-tawa gembira. Ia tidak tahu betapa ayah ibunya, juga tiga orang pembantu rumah tangga itu, menjadi bengong melihat sebuah patung tanah liat yang merupakan seorang anak perempuan kecil dengan wajah presis Tan Sian Li! Demikian halus buatan patung itu sehingga, nampak seperti hidup saja!

Suami isteri itu saling pandang dan kembali Kao Hong Li merasa tidak enak sekali. Makin jelas buktinya bahwa Yo Han bukan orang biasa, bukan anak biasa. Mana mungkin ada anak berusia dua belas tahun yang tidak pernah mempelajari seni membuat patung dapat membuat patung sedemikian indahnya, dan mirip sekali dengan wajah Sian Li? Diam-diam ia bergidik ngeri, seperti juga suaminya, Akan tetapi tiga orang pembantu rumah tangga itu memuji-muji penuh kagum.

Selain patung kanak-kanak itu, yang membuat Sian Li gembira sekali adalah pakaian yang dipakainya, hadiah dari ibunya. Pakaian yang serba merah! Dasarnya merah muda, kembang-kembangnya merah tua. Indah sekali. Memberi pakaian serba merah kepada anak yang dirayakan ulang tahunnya, merupakan hal yang wajar dan lajim. Namun, tidak demikian halnya dengan Sian Li. Semenjak ia menerima hadiah pakaian serba merah itu, sejak dipakainya pakaian merah itu, ia tidak membiarkan lagi pakaian itu dilepas! Ia tidak mau memakai pakaian lain yang tidak berwarna merah! Ketika dipaksa, ia menangis terus, dan baru tangisnya terhenti kalau Yo Han menggendongnya, akan tetapi ia masih merengek.

"Baju merah.... huuu, baju merah....!"

Tan Sin Hong dan Kao Hohg Li menjadi bingung. Anak mereka itu memang agak manja dan kalau sudah menangis sukar dihentikan, kecuali oleh Yo Han. Kini, biarpun tidak menangis setelah dipondong Yo Han, tetap saja merengek minta pakaian merah!

"Suhu dan Subo, kasihanilah Adik Sian Li. Beri ia pakaian merah, karena warna itulah yang menjadi warna pilihan dan kesukaannya. Dalam pakaian merah, baru akan merasa tenang, tenteram dan senang! Tadi ketika Subo memberinya pakaian serba merah, ketika ia memakainya, ia merasakan kesenangan yang luar biasa, maka kini ia tidak mau lagi diberi pakaian yang tidak berwarna merah."

Suami isteri itu saling pandang. Karena mereka tahu bahwa ucapan Yo Han itu bukan ucapan anak-anak begitu saja, mempunyai makna yang lebih mendalam, maka mereka lalu terpaksa membelikan pakaian-pakaian serba merah untuk Sian Li. Dan benar saja. Begitu ia memakai pakaian merah, ia nampak gembira dan bahagia sekali! Dan sejak hari itu, Sian Li tidak pernah lagi memakai pakaian yang tidak berwarna merah?



***



Malam itu kembali hujan lebat. Hawa udara amat dinginnya. Sian Li sudah tidur nyenyak dan suasana sunyi bukan main. Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, masih belum tidur. Lilin di atas meja kamar mereka masih menyala dan mereka masih bercakap-cakap, Hong Li duduk di atas pembaringan dan suaminya duduk di atas kursi dalam kamar itu.

Mereka biasanya bersikap hati-hati, apalagi malam itu mereka membicarakan tentang murid mereka, Yo Han. Akan tetapi, karena murid mereka sudah masuk kamar, biarpun andaikata belum pulas juga tidak mungkin dapat mendengarkan percakapan mereka. Hujan di luar kamar amat derasnya. Takkan ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka dari luar kamar.

"Bagaimanapun juga, aku merasa tidak enak sekali," kata Hong Li setelah beberapa lamanya mereka berdiam diri. "Sian Li demikian dekat dengan dia. Sukar untuk mencegah anak kita itu tidak mengikuti jejak Yo Han. Tidak mungkin pula kita menjauhkan anak kita dari Yo Han karena Sian Li sudah menjadi manja sekali dan paling suka kalau bermain-main dengan Yo Han. Bagaimana jadinya kalau anak kita itu kelak tidak mau belajar ilmu silat, dan mengikuti jejak Yo Han menjadi anak.... aneh, anak ajaib tidak seperti manusia! Ih, aku merasa ngeri membayangkan anak kita kelak menjadi seperti Yo Han!"

"Hemm, tentu saja aku pun menginginkan anak kita menjadi seorang manusia biasa, dan terutama menjadi seorang pendekar wanita seperti engkau, ibunya. Akan tetapi bagaimana caranya untuk menjauhkannya dari Yo Han?" kata Sin Hong.

"Tidak ada cara lain kecuali memisahkan mereka!” kata Hong Li.

“Memisahkan?" Sin Hong berkata dengan suara mengandung kekagetan. "Akan tetapi, bagaimana? Yo Han adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga lagi, dan dia juga murid kita!"

“Soalnya hanya ini. Kita lebih sayang Sian Li ataukah lebih sayang Yo Han. Keduanya memang kita sayang, akan tetapi mana yang lebih berat bagi kita?"

Sin Hong menarik napas panjang. Isterinya mengajukan pertanyaan yang jawabannya hanya satu. "Tentu saja kita lebih memberatkan Sian Li. Bagaimanapun juga, ia adalah anak kita, darah daging kita. Akan tetapi aku pun tidak ingin melihat Yo Han terlantar, aku tidak mau menyia-nyiakan anak yang tidak mempunyai kesalahan apapun itu."

"Tentu saja! Kita bukan orang-orang jahat yang kejam demi kepentingan anak sendiri lalu membikin sengsara orang lain. Sama sekali tidak. Maksudku, bagaimana kalau kita mencarikan tempat baru untuk Yo Han? Memberi dia kesempatan untuk mendapatkan guru yang baru, atau melihat bakatnya, bagaimana kalau kita menitipkan dia di kuil, dimana terdapat orang-orang pandai dan saleh? Tentu saja kita dapat membayar biaya pendidikannya setiap bulan atau setiap tahun."

Sin Hong mengangguk-angguk. Dia pun tahu bahwa isterinya cukup bijaksana. Isterinya adalah seorang pendekar wanita tulen, cucu dari Naga Sakti Gurun Pasir! Ayahnya putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan ibunya cucu Pendekar Super Sakti! Ia pun setuju dengan usul isterinya itu. Memang, jalan terbaik adalah memisahkan Yo Han dari Sian Li, dan cara pemisahan yang sebaiknya adalah menyingkirkan Yo Han dari rumah mereka dengan memberi jaminan terhadap kehidupan Yo Han selanjutnya. Paling baik kalau dititipkan di kuil agar dapat belajar lebih lanjut. Siapa tahu dibawah pimpinan para pendeta kuil, ketidakwajarannya itu akan berubah dan Yo Han akan menjadi seorang anak yang biasa. Kalau sudah begitu tentu tidak ada halangannya bagi Yo Han untuk kembali kepada mereka.

"Ah, aku teringat sekarang! Bagaimana kalau kita minta tolong kepada Thian Sun Totiang?" dia berkata.

"Maksudmu, kepala kuil di lereng Pegunungan Heng-san itu? Bukankah Thian Sun Tosu itu seorang tokoh Kun-lun-pai?" kata Hong Li mengingat-ingat.

"Benar sekali. Selain ilmu silatnya tinggi juga beliau adalah seorang pendeta yang hidup saleh dan tentu dia dapat membimbing Yo Han dalam ilmu kerohanian. Juga beliau adalah sahabatku. Tentu saja kita dapat memberi sumbangan untuk kuilnya sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan untuk keperluan Yo Han."

"Bagus, aku pun setuju sekali!" kata Hong Li. Keduanya merasa lega dengan keputusan itu dan Sin Hong meniup padam lilln di atas meja, tanda bahwa keduanya akan tidur.

Di dalam hujan yang lebat, dalam udara yang amat dingin itu. Yo Han keluar dari dalam kamarnya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia keluar dari dalam kamarnya. Akan tetapi dia tidak peduli dan hanya menyerah dorongan yang membuat kakinya berjalan keluar dari dalam kamar, keluar melalui pintu belakang ke dalam hujan! Tentu saja rambut dan pakaiannya basah kuyup, namun dia tidak peduli karena kakinya terus melangkah. Bahkan hawa dingin itu tidak dirasakannya sama sekali, kalau pun ada perasaan di tubuhnya, maka yang ada bahkan perasaan sejuk segar dan nikmat! Seperti dituntun, kedua kakinya menuju ke jendela kamar suhunya! Jejak kakinya tentu akan terdengar oleh suhu dan subonya kalau saja malam itu tidak ada hujan. Suara hujan jatuh ke atas genteng dan tanah, juga ke atas daun-daun pohon, jauh lebih berisik daripada jejak kakinya, maka biar andaikata suami isteri pendekar itu memiliki ketajaman pendengaran sepuluh kali lipat, belum tentu akan mampu mengetahui bahwa ada orang melangkah di luar jendela kamar mereka.

Dan Yo Han mendengar semua percakapan mengenai dirinya itu! Dia memejamkan matanya, dan setelah lilin dalam kamar itu tertiup padam, dia pun kembali ke kamarnya dengan tubuh terasa lemas. Dia mendengar percakapan suhu dan subonya. Dia tidak sengaja ingin mendengarkan percakapan mereka. Entah bagaimana kedua kakinya bergerak membawa dia ke dalam hujan dan mendekati kamar mereka sehingga dia mendengar percakapan mereka. Suhu dan subonya tidak menghendaki dia tinggal lebih lama di rumah mereka! Mereka ingin memisahkan dia dari Sian Li! Dia akan dititipkan di sebuah kuil!

Setelah memasuki kamarnya, dia duduk di atas kursi seperti patung. Rambut dan pakaiannya yang basah kuyup tidak dipedulikannya. Dia merasa sedih bukan main. Dia harus meninggalkan mereka yang dia kasihi. Harus meninggalkan Sian Li! Tak terasa lagi, dua titik air mata turun ke atas pipinya, mencair dan menjadi satu dengan kebasahan air hujan. Tidak, dia tidak boleh menangis! Menangis tidak ada gunanya, bahkan hanya membuat hatinya menjadi semakin sedih! Ketika mendengar kematian ayah bundanya dahulu, lima tahun yang lalu, dia pun mengeraskan hatinya, tidak membiarkan diri menangis berlarut-larut.

Pada keesokan harinya, dengan muka agak pucat dan rambut agak kusut, pagi-pagi sekali Yo Han sudah memondong Sian Li yang sudah dimandikan ibunya.

"Subo, teecu hendak mengajak adik Sian Li bermain di kebun," kata Yo Han kepada subonya yang sudah keluar dari dalam kamar bersama suhunya. Kedua orang suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa tidak tega untuk sepagi itu menyatakan keinginan mereka menitipkan Yo Han ke kuil. Biarkan anak itu bermain-main dulu dengan Sian Li.

"Ajaklah ia bermain-main, akan tetapi nanti kalau waktu sarapan, pagi, ajak ia pulang," kata Hong Li dan Sin Hong mengangguk setuju.

“Baik, Subo,” kata Yo Han. Dia menurunkan Sian Li, menggandeng tangan anak itu dan keduanya berlari-lari meninggalkan rumah, menuju ke belakang rumah. Melihat betapa gembiranya Sian Li diajak bermain-main oleh Yo Han, suami isteri itu saling pandang lagi dan keduanya menghela napas panjang. Mereka maklum betapa mereka semua, terutama sekali Sian Li, akan merasa kehilangan Yo Han kalau anak itu pergi meninggalkan rumah mereka. Akan tetapi apa boleh buat. Demi kebaikan Sian Li, mereka harus menegakan hati, Yo Han harus dipisahkan dari anak mereka.

Biasanya, pagi-pagi sekali Yo Han sudah rajin bekerja. Bekerja pagi-pagi sebelum matahari terbit menjadi kesukaannya. Bekerja apa saja, menyapu pekarangan, membersihkan jendela-jendela rumah dari luar. Bekerja apa saja asal di luar rumah karena yang dinikmatinya bukan hanya pekerjaan itu, melainkan terutama sekali suasana di pagi hari. Pagi hari baginya merupakan saat yang paling indah, munculnya matahari seolah-olah membangkitkan semangat, gairah dan tenaga kepada segala makluk di permukaan bumi. Akan tetapi, pagi hari itu dia ingin sekali mengajak Sian Li bermain-main. Dia sudah mengambil keputusan untuk pergi, seperti yang dikehendaki suhu dan subonya. Dia mengerti betapa beratnya bagi mereka untuk menyuruh dia pergi. Maka dia harus membantu mereka. Dialah yang akan berpamit sehingga tidak memberatkan hati mereka. Pula, dia tidak mau kalau dititipkan di kuil mana pun juga. Kalau dia harus berpisah dari suhu dan subonya, dari Sian Li yang dikasihinya, lebih baik dia berkelana dengan bebas daripada harus berdiam di dalam kuil seperti seekor burung dalam sangkar. Dan sebelum pergi, dia ingin mengajak Sian Li bermain-main, ingin menyenangkan hati adiknya itu untuk yang terakhir kalinya.

Dia mengajak Sian Li ke tepi sungai, tempat yang paling disenanginya karena tempat itu memang indah sekali. Sunyi dan tenang. Mendengarkan burung berkicau dan air sungai berdendang dengan riak kecil, sungguh amat merdu dan menyejukkan hati. Duduk di atas rumput di tepi sungai, menatap langit yang amat indah, langit di timur yang mulai kemerahan, mutiara-mutiara embun di setiap ujung daun. Tak dapat digambarkan indahnya.

Dia duduk dan memangku Sian Li yang memandang ke arah air di sungai dengan wajah berseri. Dia menunduK dan mencium kepala anak itu. Betapa dia amat menyayang adiknya. Dicium kepalanya, Sian Li memandang dan merangkulkan kedua lengannya yang kecil di leher Yo Han. Sejak kecil dia diajar menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Yo Han. Melihat kakaknya itu memandang kepadanya dengan sepasang mata penuh kasih sayang, anak itu tersenyum.

“Aku sayang suheng....” katanya lucu, Yo Han mencium pipinya. “Aku pun sayang kepadamu, adikku....” hatinya terharu sekali karena dia dapat merasakan kasih sayang di antara mereka yang menggetarkan hatinya. Dan dia harus berpisah dari anak ini! Bahkan karena adiknya inilah dia harus meninggalkan rumah suhunya! Suhu dan subonya tidak ingin kelak Sian Li mencontoh sikap dan wataknya! Begitu burukkah sikap dan wataknya? Dia mengerti bahwa guru dan subonya amat kecewa karena dia tidak suka berlatih silat. Dan membayangkan betapa adik yang bersih ini kelak menjadi seorang gadis yang perkasa, seperti ibunya dahulu, hidupnya penuh bahaya dan acaman musuh, hidup selalu waspada, membunuh atau dibunuh, ingin dia menangis. Adiknya akan menjadi pembunuh! Akan memenggal leher orang dengan pedangnya, atau menusukkan pedang menembus dada dan jantung orang. Atau sebaliknya, disiksa dan dibunuh orang!

“Ihhh, Suheng.... menangis?” anak itu memandang ketika dua titik air mata turun ke atas pipi kakaknya, dan tangannya menyentuh air mata di pipi itu sehingga runtuh. Sentuhan lembut yang menggetarkan hati Yo Han.

“Sian Li....” Dia merangkul, menyembunyikan mukanya di atas kepala anak itu.

“Suheng, Ayah dan Ibu melarang kita menangis....” kata anak itu lagi. “Apakah Suheng menangis?” Suaranya masih belum jelas dan terdengar lucu, namun justeru mengharukan sekali.

Yo Han mengeraskan hatinya dan diam-diam mengusap air matanya, lalu dia membiarkan adiknya dapat memandang mukanya yang tadi disembunyikan di rambut kepala Sian Li. Dia menggeleng.

“Aku tidak menangis, sayang.”

Anak itu tertawa dan alangkah manis dan lucunya kalau ia tertawa, “Hore Suheng tidak menangis. Suheng gagah perkasa!”

Yo Han merasa jantungnya seperti ditusuk. Sekecil ini sudah menghargai kegagahperkasaan! Sekecil ini sudah menjadi calon pendekar wanita, seorang calon hamba kekerasan! Sudah terbayang olehnya Sian Li menjadi seorang gadis yang selalu membawa pedang di belakang punggungnya.

Dia cepat dapat menguasai kesedihan dan keharuannya, dan teringat bahwa dia mengajak adiknya pagi ini ke tepi sungai untuk bermain-main dan menyenangkan hati adiknya.

“Sian Li, sekarang katakan, engkau ingin apa? Katakan apa yang kauinginkan dan aku akan mengambilnya untukmu. Katakan, adikku sayang.” Yo Han membelai rambut kepala adiknya.

Sian Li berloncatan girang dan bertepuk tangan. “Betul, Suheng? Kau mau mengambilkan yang kuingini? Aku ingin itu, Suheng....” Ia menunjuk ke arah pohon yang tumbuh dekat situ.

“Itu apa?” Yo Han memandang ke arah pohon itu. Pohon itu tidak berbunga. Apa yang diminta oleh Sian Li? Daun?

“Itu yang merah ekornya....”

“Hee? Merah ekornya? Apa....”

“Burung itu, Suheng. Cepat, nanti dia terbang lagi. Aku ingin memiliki burung itu....”

YoHan menggaruk-garuk kepalanya. Bagaimana mungkin dia dapat menangkap burung yang berada di pohon? Sebelum ditangkap, burung itu akan terbang.

“Aku tidak bisa, Sian Li. Burung itu punya sayap, pandai terbang, sedangkan aku.... lihat, aku tidak bersayap!” Yo Han melucu sambil berdiri dan mengembangkan kedua lengannya, seperti hendak terbang.

“Uhh! Kalau Ayah atau Ibu, mudah saja menangkap burung di pohon. Suheng kan muridnya, masa tidak bisa?”

Yo Han merangkul adiknya. “Sian Li, terang saja, aku tidak bisa, dan juga, untuk apa burung ditangkap? Biarkan dia terbang bebas. Kasihan kalau ditangkap lalu dimasukkan sangkar. Itu menyiksa namanya, kejam. Kita tidak boleh menyiksa mahluk lain, adikku seyang....”

“Uuuuu.... Suheng....! Kalau begitu, ambilkan saja itu yang mudah. Itu tuh, yang kuning dan biru....”

Melihat adiknya menunjuk ke arah serumpun bunga yang berwarna merah, dia mengerutkan alisnya. Yang diminta yang berwarna kuning dan biru. Itu bukan warna bunga,melainkan warna beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan di sekeliling rumpun bunga itu. Adiknya minta dia menangkapkan seekor kupu kuning dan seekor kupu biru! Memang mudah, akan tetapi dia pun tidak suka melakukan itu. Dia tidak suka menyiksa manusia maupun binatang, apalagi kupu-kupu, binatang yang demikian indah dan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Akan tetapi, untuk menolak lagi permintaan Sian Li, dia pun tidek tega. Maka dia pun pura-pura mengejar kupu-kupu yang beterbangan dengan panik, pura-pura mencoba untuk menangkap dengan kedua tangannya namun tak berhasil dan sebagai gantinya, dia memetik beberapa tangkai bunga merah dan memberikan itu kepada adiknya.

“Wah, kupu-kupunya terbang. Ini saja gantinya, Sian Li. Kembang ini indah sekali. Kalau dipasang di rambutmu, engkau akan bertambah manis.”

“Tidak mau....! Aku tidak mau kembang. Aku ingin burung dan kupu-kupu. Aihh.... Suheng nakal. Aku mau kupu-kupu dan burung....” Sian Li membanting-banting kaki dengan manja lalu menangis.

Yo Han menjatuhkan diri berlutut dan merangkul adiknya. “Dengar baik-baik, adikku sayang. Apakah engkau mau dikurung dalam kurungan, dan apakah engkau mau kalau kaki tanganmu dibuntungi?”

Mendengar ini, Sian Li terheran, dan dengan pipi basah air mata ia memandang kakaknya, tidak mengerti. “Kau tentu tidak mau bukan?”

Sian Li menggeleng kepala, masih terheran-heran mengapa kakaknya yang biasanya amat sayang kepadanya dan memanjakannya, kini hendak mengurung dan bahkan membuntungi kaki tangannya!

“Bagus kalau engkau tidak mau! Nah, sama saja, adikku sayang. Engkau tidak mau ditangkap dan dikurung, burung itu pun akan susah sekali kalau kau tangkap dan kau masukkan sangkar, dikurung dan tidak boleh terbang bermain-main dengan teman-temannya. Engkau tidak mau dibuntungi kaki tanganmu, juga kupu-kupu itu tidak suka dan merasa kesakitan dan susah kalau sayapnya dipatahkan, kakinya dibuntungi. Kita tidak boleh menyiksa binatang yang tidak bersalah apa-apa, adikku sayang. Kubikinkan boneka tanah liat saja, ya?”

Akan tetapi Sian Li yang manja masih membanting-banting kaki dan mulutnya cemberut, walaupun tidak menangis lagi. “Suheng katanya mau.... memenuhi semua permintaanku, ternyata semua permintaanku kautolak....”

Pada saat itu, nampak berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang wanita yang pakaiannya serba merah! Pakaian berwarna merah ini segera menarik perhatian Yo Han karena adiknya pun sejak hari ulang tahun ke empat itu setiap hari juga memakai pakaian merah! Jadi di situ sekarang berada seorang anak perempuan empat tahun yang pakaiannya serba merah, dan seorang wanita cantik yang juga pakaiannya berwarna merah. Yo Han memandang penuh perhatian.

Ia seorang wanita yang berwajah cantik dan bertubuh tinggi semampai, dengan pinggang yang kecil dan pinggul besar seperti tubuh seekor kumbang. Usianya kurang lebih tiga puluh tahun kalau melihat wajah dan bentuk badannya, pada hal sesungguhnya ia sudah berusia empat puluh tahun! Wajahnya bundar dan putih dilapisi bedak, pemerah bibir dan pipi, juga penghitam alis. Rambutnya digelung ke atas model gelung para puteri bangsawan. Pakaiannya yang serba merah itu terbuat dari sutera yang mahal dan halus dan selain pesolek, wanita itu pun rapi dan bersih, bahkan sepatunya dari kulit merah itu pun mengkilap. Di punggungnya nampak sebatang pedang dengan sarung berukir indah dan ronce-ronce biru yang menyolok karena warna pakaiannya yang merah.

“Heii, anak baju merah, engkau manis sekali!” Wanita itu berseru dan suaranya merdu. “Engkau minta burung dan kupu-kupu? Mudah sekali, aku akan menangkapkan burung dan kupu-kupu untukmu. Lihat!”

Wanita itu melihat ke atas. Ada beberapa ekor burung terbang meninggalkan pohon besar dan ada yang lewat di atas kepalanya. Wanita itu menggerakkan tangan kiri ke arah burung yang terbang lewat, seperti menggapai dan.... burung itu mengeluarkan teriakan lalu jatuh seperti sebuah batu ke bawah, disambut oleh tangan kiri wanita itu.

“Nah, ini burung yang kauinginkan, bukan?” Ia memberikan burung berekor merah yang kecil itu kepada Sian Li yang menerimanya dengan gembira sekali.

Yo Han mengerutkan alisnya ketika mendekatdan ikut melihat burung kecil yang berada di tangan adiknya. Burung itu tak dapat terbang lagi, dan ketika mencoba untuk menggerak-gerakkan kedua sayap kecilnya, kedua sayap itu seperti lumpuh dan ada sedikit darah. Tahulah dia bahwa sayap burung itu terluka entah oleh apa. Kini dia menoleh dan melihat wanita itu menggerakkan kedua tangannya ke arah dua ekor kupu-kupu yang beterbangan. Ada angin menyambar dari kedua telapak tangan itu dan dua ekor kupu-kupu itu seperti disedot dan ditangkap oleh kedua tangan itu , diberikan pula kepada Sian Li.

“Nah, ini dua ekor kupu-kupu yang kau inginkan, bukan?”

Sian Li girang sekali. “Kupu-kupu indah! Burung cantik....!” Ia sudah sibuk dengan seekor burung dan dua ekor kupu-kupw yang dipegangnya.

“Adik Sian Li, mari kita pergi dari sini!” kata Yo Han tak senang dan dia hendak menggandeng lengan adiknya, Akan tetapi tiba-tiba tubuh Sian Li seperti terbang ke atas dan tahu-tahu sudah berada dalam pondongan wanita itu. Sian Li terpekik gembira ketika tubuhnya melayang ke atas.

“Suheng, aku dapat terbang....!” tariaknya gembira.

Wanita berpakaian merah itu tersenyum dan wajahnya nampak semakin muda ketika ia tersenyum. “Ya, engkau ikut dengan aku, anak manis, dan aku akan mengajarmu terbang, juga menangkap banyak burung dan kupu-kupu. Engkau suka, bukan?”

“Aku suka! Aku senang....!”

“Sian Li, turun dan mari kita pulang.” Yo Han berkata lagi.

“Tidak, aku ingin ikut bibi ini, menangkap burung dan kupu-kupu, juga belajar terbang!”

“Sian Li....”

Wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Anak baik, jadi namamu Sian Li (Dewi)? Nah, mari kita terbang seperti bidadari-bidadari baju merah, hi-hi-hik!”

Yang nampak oleh Yo Han hanyalah bayangan merah berkelebat, dan yang tertinggal hanya suara ketawa merdu wanita itu yang bergema dan kemudian lenyap pula. Wanita berpakaian merah itu bersama Sian Li telah lenyap dari depannya, seolah-olah mereka benar-benar telah terbang melayang, atau menghilang dengan amat cepatnya.

“Sian Li....! Bibi baju merah, kembalikan Sian Li kepadaku!” Yo Han lari ke sana-sini, berteriak teriak, akan tetapi adiknya tetap tidak kembali, juga wanita yang melarikannya itu tidak kembali. Terpaksa Yo Han lalu cepat berlari kencang, sekuat tenaga, pulang ke rumah gurunya.

Sin Hong dan Hong Li terkejut melihat murid mereka itu berlari-lari pulang tanpa Sian Li dan dari wajahnya, nampak betapa murid mereka itu dalam keadaan tegang dan napasnya terengah-engah karena dia telah berlari-lari secepatnya.

“Yo Han, ada apakah?” Sin Hong menagur muridnya.

“Yo Han, di mana Sian Li?” Hong Li bertanya dengan mata dibuka lebar, mata seorang ibu yang gelisah mengkhawatirkan anaknya.

“Suhu, Subo.... adik Sian Li.... ia dilarikan seorang wanita berpakaian merah....” kata Yo Han dengan napas masih terengah-engah.

Suami isteri itu sekali bergerak sudah meloncat dan memegang lengan Yo Han dari kanan kiri.

“Apa? Apa yang terjadi? Ceritakan, cepat!” bentak Sin Hong.

“Teecu sedang bermain-main dengan adik Sian Li di tepi sungai ketika tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian merah. Ia menangkapkan burung dan kupu-kupu untuk Sian Li, kemudian ia memondong adik Sian Li menghilang begitu saja.”

“Seperti apa wajah wanita itu? Berapa usianya?” tanya Hong Li, wajahnya berubah dan matanya menyinarkan kemarahan.

“Ia berusia kurang lebih tiga puluh tahun, Subo, dan semua pakaiannya berwarna merah, sampai sepatunya, dan wajahnya cantik pesolek, di punggungnya nampak pedang dengan ronce biru....”

“Ke mana larinya?” tanya Sin Hong.

“Teecu tidak tahu, Suhu. Setelah memondong adik Sian Li, ia lalu menghilang begitu saja, teecu tidak tahu ke arah mana ia lari....”

“Inilah jadinya kalau punya murid tolol!” Tiba-tiba Hong Li berteriak marah.

“Lima tahun menjadi murid, sedikit pun tidak ada gunanya. Kalau engkau berlatih silat dengan baik, sedikitnya engkau tentu akan dapat melindungi Sian Li dan anakku tidak diculik orang. Anak bodoh, sombong....!”

.”Suhu dan Subo, teecu bertanggung jawab! Teecu akan mencari adik Sian Li dan membawanya pulang. Teecu tidak akan kembali sebelum dapat menemukan dan membawa pulang adik Sian Li!” Yo Han berseru, menahan air matanya dan mengepal kedua tangannya.

Akan tetapi Sin Hong sudah berseru kepada isterinya, “Tidak perlu ribut, mari kita cepat pergi mengejar penculik itu!” Seruan ini disusul berkelebatnya dua orang suami isteri pendekar itu dan dalam sekejap mata saja mereka lenyap dari depan Yo Han.

Yo Han tertegun sejenak, kemudian sambil menahan isaknya, dia pun lari keluar dari rumah. Dia tidak tahu harus mengejar ke mana, akan tetapi dia tidak peduli dan dia membiarkan kedua kakinya yang berlari cepat itu membawa dirinya pergi keluar kota Ta-tung, entah ke mana!

Sin Hong dan Hong Li berlari cepat menuju ke tepi sungai, kemudian mereka mencari-cari, menyusuri sungai. Namun, usaha mereka tidak berhasil. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak! Tentu saja mereka merasa gelisah sekali.

“Bocah sial itu harus diajak ke sini agar dia menunjukkan ke mana larinya penculik itu dan di mana peristiwa itu terjadi. Kau mencari dulu di sini, aku mau mengajak Yo Han ke sini!” kata Hong Li dan ia pun sudah meninggalkan suaminya, pulang ke rumah untuk mengajak Yo Han ke tepi sungai. Akan tetapi setelah tiba di rumah, ia tidak lagi melihat Yo Han! Dicari dan dipanggilnya murid itu, namun Yo Han tidak ada dan nyonya muda ini pun teringat akan teriakan Yo Han yang akan bertanggung jawab dan akan mencari Sian Li sampai dapat! Terpaksa Hong Li kembali lagi ke tepi sungai.

“Dia.... dia tidak ada di rumah....!” katanya.

Sin Hong mengangguk-angguk. “Sudah kuduga. Tentu dia sudah pergi untuk memenuhi janjinya tadi. Dan dia pasti tidak akan pernah datang kembali sebelum menemukan dan mengajak Sian Li pulang.”

“Uhh, dia mau bisa apa?” Hong Li berseru, marah dan gelisah. “Bagaimana dia akan mampu mengejar penculik yang berilmu tinggi, apalagi merampas kembali anak kita?” Wanita itu mengeluh dan hampir menangis. “Sian Li.... ah, di mana kau....?”

“Mari kita cari lagi!” kata Sin Hong, tidak mau membiarkan isterinya dilanda kegelisahan dan kedukaan. Mereka lalu mencari-cari di sekitar daerah itu, mencari jejak, namun sia-sia belaka. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak dan semua orang yang mereka jumpai dan mereka tanyai, tidak ada seorang pun yang melihat anak mereka atau wanita berpakaian serba merah seperti yang diceritakan Yo Han tadi.

Setelah hari larut malam dan mereka terpaksa pulang, sampai di rumah Hong Li menangis. Suaminya menghiburnya. “Tenangkan hatimu. Kurasa penculik itu tidak berniat mengganggu anak kita. Kalau wanita penculik itu musuh kita dan ingin membalas dendam, tentu ia sudah membunuh anak kita di waktu itu juga. Akan tetapi, ia membawanya pergi dan menurut keterangan Yo Han, ia bahkan bersikap baik, menangkapkan burung dan kupu-kupu untuk Sian Li.”

Dihibur demikian, Hong Li menyusut air matanya dan memandang kepada suaminya. “Kaukira siapakah wanita berpakaian merah itu?”

Sin Hong menggeleng kepalanya. “Sudah kupikirkan dan kuingat-ingat, akan tetapi rasanya belum pernah aku mempunyai musuh seorang wanita berpakaian serba merah. Apalagi usianya baru sekitar tiga puluh tahun. Engkau tahu sendiri, tokoh wanita sesat di dunia kang-ouw yang pernah menjadi musuhku, bahkan yang tewas di tanganku, hanyalah Sin-kiam Mo-li. Tentu ia seorang tokoh baru dalam dunia kang-ouw, bahkan kita tidak tahu apakah ia termasuk tokoh sesat ataukah seorang pendekar yang merasa suka kepada anak kita.”

“Tidak mungkin seorang pendekar wanita menculik anak orang!” Hong Li berkata. “Hem, terkutuk orang itu. Kalau sampai kutemukan ia, akan kuhancurkan kepalanya! Eh, jangan-jangan bekas isterimu yang melakukan itu....“

Sin Hong memandang isterinya. Dia tahu bahwa pertanyaan itu bukan terdorong oleh cemburu, melainkan oleh kegelisahan yang membuat jalan pikiran isterinya menjadi kacau. Dia menikah dengan Hong Li sebagai seorang duda, akan tetapi juga Hong Li seorang janda. Mereka telah mengetahui keadaan masing-masing, dan sudah saling menceritakan riwayat mereka dan nasib buruk mereka dalam pernikahan pertama itu.

“Tidak mungkin Bhe Siang Cun yang melakukannya,” kata Sin Hong sambil manggeleng kepala. “Usianya sekarang baru kurang lebih dua puluh empat tahun. Juga ia tidak berpakaian merah. Pula, ia tidak akan berani melakukan hal itu. Ia bukan penjahat dan tidak ada alasan baginya untuk mengganggu kita. Tidak, dugaan itu menyimpang jauh. Coba kauingat-ingat, mungkin pernah engkau dahulu bermusuhan dengan seorang tokoh sesat yang berpakaian merah?”

Hong Li mengingat-ingat. Bekas suaminya jelas tak dapat dicurigai. Bekas suaminya itu, Thio Hui Kong, adalah putera seorang jaksa yang adil dan jujur. Juga tidak ada alasan bagi Thio Hui Kong untuk mengganggunya. Mereka telah bercerai. Tokoh jahat berpakaian merah? Wanita berpakaian merah rasanya belum pernah ia temui dalam semua pengalamannya sebagai seorang pendekar wanita. Pakaian merah?

Tiba-tiba ia meloncat berdiri. “Ahh....!” Ia teringat.

“Engkau ingat sesuatu?” Suaminya bertanya,

“Memang ada tokoh sesat berpakaian merah, akan tetapi bukan wanita. Kau ingat Ang I Mopang (Perkumpulan Iblis Baju Merah)? Tokoh yang terakhir, Ang I Siauw-mo (Iblis Kecil Baju Merah) tewas di tanganku!”

Sin Hong mengerutkan alisnya. “Hemmm.... Ang I Mopang? Bukankah duhulu sarangnya berada di luar kota Kun-ming, di Propinsi Hu-nan? Tapi, Ang I Mopang sudah hancur dan rasanya tidak ada tokohnya yang wanita dan yang lihai....”

“Betapapun juga, itu sudah merupakan suatu petunjuk. Daripada kita meraba-raba di dalam gelap. Aku akan pergi ke Kun-ming, menyelidiki mereka. Siapa tahu penculik itu datang dari sana. Ang I Mopang memang beralasan untuk memusuhiku dan mendendam kepadaku. Aku akan berangkat besok pagi-pagi!”

“Nanti dulu, Li-moi. Jangan tergesa-gesa. Kemungkinannya kecil saja, walaupun aku juga setuju kalau kita menyelidik ke sana. Akan tetapi kita tunggu dulu beberapa hari. Kita menanti kembalinya Yo Han. Siapa tahu dia berhasil....“

“Bocah sombong itu? Mana mungkin? Kalau kita berdua tidak berhasil, bagaimana anak tolol itu akan berhasil? Dialah biangkeladinya sehingga anak kita diculik orang!”

“Li-moi, tenanglah dan di mana kebijaksanaanmu? Bagaimanapun juga, kita tidak dapat menyalahkan Yo Han. Andaikata dia telah menguasai ilmu silat, keppandaiannya itu pun belum matang. Apa artinya seorang anak berusia dua belas tahun menghadapi seorang penculik yang lihai? Andaikata Yo Han pernah latihan ilmu silat, tetap saja dia tidak akan mampu melindungi Sian Li.”

“Akan tetapi, apa perlunya kita menunggu beberapa hari? Dia tidak akan berhasil, dan penculik itu akan semakin jauh....”

“Kita lihat saja, Li-moi. Lupakah engkau betapa banyak hal-hal aneh dilakukan Yo Han? Kita tunggu sampai tiga hari. Kalau dia belum pulang maka kita akan segera berangkat ke Kun-ming, menyelidiki ke sana. Bahkan kalau di sana pun kita gagal, kita terus akan melakukan pelacakan, akan kutanyakan kepada semua tokoh kang-ouw tentang seorang wanita yang berpakaian merah seperti yang digambarkan Yo Han tadi.”

Akhirnya, dengan air mata berlinang di kedua matanya, Hong Li menyetujui keinginan suaminya. Akan tetapi, jelas bahwa semalam itu mereka tidak mampu tidur pulas.



***

“Tidak mau, aku ingin pulang.... aku ingin ayah ibu, aku ingin pulang....!” Anak itu merengek-rengek dan suara rengekannya keluar dari dalam kuil tua di lereng bukit yang sunyi itu.

Wanita berpakaian merah itu mengelus kepala Sian Li. “Sian Li, engkau bidadari kecil berpakaian merah yang manis, tidak patut kalau engkau menangis....”

“Aku tidak menangis!” Anak itu membantah. Dan memang tidak ada air mata keluar dari matanya. Ia hanya merengek, membanting kaki dan cemberut. “Aku ingin pulang, aku ingin tidur di kamarku sendiri, tidak di tempat jelek ini. Baunya tidak enak!”

“Bukankah engkau senang ikut denganku, Sian Li? Tadi engkau gembira sekali! Kenapa sekarang minta pulang?” Wanita itu mencoba untuk membujuk.

“Aku ingin ikut sebentar saja, bukan sampai malam. Aku ingin dekat Ayah dan Ibu. Mari antarkan aku pulang, Bibi.”

“Hemm, baiklah. Nanti kuantar, sini duduk di pangkuan Bibi, sayang. Engkau anak baik, engkau anak manis, engkau bidadari kecil merah....“

Ketika wanita itu meraih Sian Li dan dipangkunya, jari tangannya menekan tengkuk dan anak itu pun terkulai, seketika pingsan atau tertidur. Wanita itu merebahkan Sian Li di atas lantai yang bertilamkan daun-daun kering, memandang wajah ,anak itu yang tertimpa sinar api unggun yang dibuatnya, dan ia pun tersenyum.

“Anak manis.... ah, pantas menjadi anakku atau muridku.... aku berbahagia sekali mendapatkanmu, sayang....”

Siapakah wanita berpakaian merah ini? Di daerah Propinsi Hu-nan, namanya sudah dikenal oleh seluruh dunia kang-ouw, terutama golongan sesatnya. Selama beberapa tahun ini, ia merupakan seorang tokoh kang-ouw yang baru muncul, namun namanya segera tersohor karena kelihaiannya.

Orang-orang di dunia persilatan mengenal nama julukannya saja, yaitu Ang I Moli (Iblis Wanita Baju Merah). Namanya yang tak pernah dikenal orang adalah Tee Kui Cu dan ia tidaklah semuda nampaknya. Usianya sudah empat puluh tahun! Ia memang cantik manis, ditambah pesolek dengan riasan muka yang tebal, maka nampak berusia tiga puluh tahun. Wajahnya selalu putih karena bedak, bibir dan pipinya merah karena yan-ci, dan alis mata, Juga bulu mata, hitam karena penghitam rambut.

Dugaan Kao Hong Li tentang Ang I Mopang yang hanya merupakan dugaan raba-raba itu memang tepat. Ada hubungan dekat sekali antara Ang I Moli Tee Kui Cu dengan Ang I Mopang, perkumpulan yang pernah dibasmi oleh Kao Hong Li dan para pendekar itu. Wanita berpakaian merah ini adalah adik dari mendiang Tee Kok, yang pernah menjadi ketua Ang I Mopang. Ketika Ang I Mopang terbasmi oleh para pendekar, Tee Kui Cu dapat lolos dan ia pun mencari guru-guru yang pandai. Ia berhasil menyusup dan menjadi tokoh Pek-lian-kauw di mana ia mempelajari banyak macam ilmu silat, ilmu tentang racun dan obat, juga mempelajari ilmu sihir yang dikuasai oleh para tokoh Pek-lian-kauw. Setelah merasa dirinya memperoleh ilmu yang cukup tinggi, ia meninggalkan Pek-lian-kauw dan ia pun kembali ke Kunming, mengumpulkan para bekas anggauta Ang I Mopang yang masih hidup, Ia lalu membangun tempat perkumpulan itu, dia mengangkat diri sendiri menjadi ketua!

Demikianlah riwayat singkat Ang I Moli Tee Kui Cu. Ia terkenal sebagai seorang ketua yang pandai menyenangkan hati para anak buahnya, memimpin kurang lebih lima puluh orang anggauta Ang I Mopang, dan hidup sebagai seorang ketua yang kaya. Dan dia pun suka sekali merantau, meninggalkan perkumpulan dalam pengurusan para pembantunya, dan ia sendiri berkelana sampal jauh, bukan hanya mencari pengalaman, melainkan juga untuk bertualang, mencari harta, mencari pria karena ia merupakan seorang wanita yang selalu haus oleh nafsu-nafsunya.

Dan pada pagi hari itu, tanpa sengaja ia melihat Sian Li. Melihat anak perempuan berusia empat tahun yang mungil dan manis itu, dan terutama sekali melihat anak itu mengenakan pakaian serba merah, warna kesukaannya dan bahkan warna yang menjadi lambang dari perkumpulannya, hatinya tertarik dan suka sekali. Ia lalu menculik Sian Li dengan niat mengambil anak perempuan itu sebagai anaknya dan juga muridnya.

Dengan sikap menyayang ia mengeluarkan selimut dan menyelimuti tubuh Sian Li yang sudah pulas atau pingsan oleh tekanan jarinya, pada jalan darah di tengkuk anak itu. Kemudian ia menambahkan kayu bakar pada api unggun yang dibuatnya di dalam kuil tua kosong itu, api unggun yang perlu sekali untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam terlatih menangkap sesuatu dan ia pun melompat bangun. Sebagai seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, ia tabah sekali dan tidak tergesa mengeluarkan pedangnya sebelum diketahui benar siapa yang datang memasuki kuil pada waktu itu.

Sesosok bayangan muncul, memasuki ruang kuil di mana Ang I Moli berada. Bayangan itu tidak berindap-indap, melainkan langsung saja melangkah dengan langkah kaki berat menghampiri ruangan. Ketika bayangan itu muncul, ternyata dia adalah Yo Han yang memasuki ruangan dengan langkah gontai agak terhuyung karena kelelahan!

“Ahh, kiranya engkau....!” Ang I Moli berkata dengan hati lega, akah tetapi juga ia memandang heran. Bagaimana anak laki-laki ini dapat menyusulnya? Bagaimana dapat membayanginya dan tahu bahwa ia berada di kuil tua itu?

Yo Han sendiri tidak mengerti dan tidak mampu menjawab kalau pertanyaan itu diajukan kepadanya. Ketika dia lari meninggalkan rumah suhunya, dia tidak mempunyai tujuan. Dia tidak tahu ke mana harus mencari penculik Sian Li. Maka dia pun membiarkan dirinya terbawa oleh sepasang kakinya yang berlari. Dia tidak sadar lagi bahwa dia bukan berlari menuju ke tepi sungai di mana adiknya tadi diculik orang, bahkan dia lari keluar dari kota Ta-tung dengan arah yang berlawanan dengan tepi sungai itu! Dia berlari terus sampai akhirnya dia tiba di tepi sungai lagi, akan tetapi bukan di tempat tadi Sian Li diculik orang. Dan dia berlari terus, menyusuri sepanjang tepi sungai, ke atas. Setelah matahari naik tinggi, dia pun terguling ke atas lapangan rumput di tepi sungai dan langsung saja dia tertidur. Tubuhnya tidak kuat menahan karena dia berlari terus sejak tadi tanpa berhenti.

Setelah dia terbangun, matahari sudah condong ke barat. Dan begitu bangun, dia teringat bahwa dia harus mencari Sian Li. Dia bangkit lagi dan kembali kedua kakinya berlari, tanpa tujuan akan tetapi makin mendekati sebuah bukit yang berada jauh di depan. Dia tidak peduli ke mana kakinya membawa dirinya. Kesadarannya hanya satu, yakni bahwa dia harus menemukan kembali Sian Li dan yang teringat olehnya hanyalah bahwa kalau Tuhan menghendaki, dia pasti akan dapat mengajak Sian Li pulang! Keyakinan ini timbul sejak dia kecil, sejak dia dapat membaca dan mengenal akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan melalui bacaan.

Yang ada hanya kewaspadaan, yang ada hanya kepasrahan. Tidak ada aku yang waspada, tidak ada aku yang pasrah. Selama ada “aku”, kewaspadaan dan kepasrahan itu hanyalah suatu cara untuk memperoleh sesuatu. Aku adalah ingatan, aku adalah nafsu dan aku selamanya berkeinginan, berpamrih. Kalau nafsu yang memegang kemudi, apa pun yang kita lakukan hanya merupakan cara untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, dan karenanya mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Senang susah bersilih ganti, puas kecewa saling berkejaran, rasa takut atau khawatir selalu membayangi hidup. Takut kehilangan, takut gagal, takut menderita takut sakit, takut mati. Gelisah menghantui pikiran. Kepasrahan yang wajar, bukan dibuat-buat oleh si-aku, bukan kepasrahan berpamrih, kepasrahan akan segala yang sudah, sedang dan akan terjadi, menyerah dengan tawakal sabar dan ikhlas terhadap kekuasaan Tuhan, berarti kembali kepada kodratnya.

Yo Han terus berjalan, kadang berlari mendaki bukit dan ketika dia tiba di lereng bukit, malam pun tiba. Dia melihat kuil tua itu, dan ketika dia menghampiri, dia melihat pula sinar api unggun dari dalam kuil. Dia memasuki ruangan itu dan.... dia melihat Sian Li dan wanita berpakaian merah. Sian Li sudah tidur berselimut, dan wanita berpakaian merah itu berdiri dan menatapnya dengan sinar mata tajam!

Sejenak mereka berpandangan dan wanita itu terkekeh geli. “Kiranya engkau? Bagaimana engkau dapat menyusulku ke sini? Dan mau apa engkau mengejar aku?”

Yo Han menarik napas panjang, terasa amat lega hatinya. Begitu dia dapat menemukan Sian Li, seolah dia baru bangun dari tidur yang penuh mimpi. Baru sekarang dia merasa betapa dingin dan lelah tubuhnya. Dengan kedua kaki lemas dia pun menjatuhkan diri, duduk di atas rumput kering, dekat api unggun.

Bibi yang baik, kenapa engkau melakukan ini? Apa yang kaulakukan ini sungguh tidak baik, menyengsarakan orang lain dan juga amat membahayakan diri Bibi sendiri,” katanya lirih namun jelas dan dia memandang ke arah api unggun, di mana lidah-lidah api merah kuning menari-nari dan menjilat-jilat.

Ang I Moli juga duduk lagi bersila dekat api unggun, menatap wajah anak laki-laki itu dengan penuh keheranan dan keinginan tahu, juga kagum karena anak itu bersikap demikian tenang dan dewasa, bahkan begitu datang mengeluarkan ucapan lembut yang seperti menegur dan menggurui!

“Bocah aneh, apa maksud kata-katamu itu?” tanyanya, ingin sekali tahu selanjutnya apa yang akan dikatakan anak yang bersikap demikian tenang saja. Bagaimana ia tidak akan merasa heran melihat seorang anak belasan tahun berani menghadapinya setenang itu, padahal anak itu mengejar ia yang melarikan adiknya? Orang dewasa pun, bahkan orang yang memiliki kepandaian pun, akan gemetar kalau berhadapan dengannya. Akan tetapi anak ini tenang saja, bahkan menegurnya.

“Bibi, kenapa engkau melarikan adikku Sian Li ini? Itu namanya menculik, dan itu tidak baik sama sekali. Bibi membikin susah ayah ibu anak ini, juga menyengsarakan aku yang menerima teguran. Apakah Bibi sudah pikir baik-baik bahwa perbuatan Bibi ini sungguh keliru sekali?”

Tokoh kang-ouw yang di juluki Iblis Betina (Moli) itu bengong! Akan tetapi juga kagum akan keberanian anak ini, dan juga merasa geli. Alangkah lucunya kalau di situ hadir orang-orang kang-ouw mendengar ia ditegur dan diwejang oleh seorang anak laki-laki yang berusia paling banyak dua belas tahun! Ia menahan kegelian hati yang membuat ia ingin tertawa terpingkal-pingkal, lalu bertanya lagi,

“Dan apa yang kaumaksudkan dengan perbuatanku ini membahayakan diriku sendiri?”

“Bibi yang baik, engkau tidak tahu siapa anak yang kaularikan ini. Ayah dari ibunya kini mencari-carimu dan ke mana pun engkau pergi, akhirnya mereka akan dapat menemukanmu dan kalau sudah begitu, siapa berani menanggung keselematanmu?”

Ang I Moli tidak dapat menahan geli hatinya lagi. Ia tertawa terkekeh-kekeh sampai kedua matanya menjadi basah air mata. “Hi-hi-heh-heh-heh! Kau berani menggertak dan menakut-nakuti aku? Aku suka kepada Sian Li, aku mau mengambil sebagai anakku, sebagai muridku Aku tidak takut menghadapi siapapun juga. Lalu engkau menyusulku ke sini mau apa?”

“Bibi, untuk apa membawa Sian Li yang masih kecil ini? Hanya akan merepotkanmu saja. Ia manja, bengal dan bandel, tentu hanya akan membuat Bibi repot dan banyak jengkel. Kalau Bibi membutuhkan seorang yang dapat membantu Bibi dalam pekerjaan rumah tangga atau mau mengambil murid, biar kugantikan saja. Jangan Sian Li yang masih terlalu kecil. Saya akan mengerjakan apa saja yang Bibi perintahkan, sebagai pengganti Sian Li. Akan tetapi Sian Li harus dikembalikan kepada Suhu dan Subo.”

“Oooo, jadi ayah ibu anak ini adalah suhu dan subomu? Sian Li bukan adikmu sendiri?”

“Ia adalah sumoi-ku (adik seperguruan), Bibi.”

“Hemm, menurut engkau, kalau suhu dan subomu dapat mengejarku, aku berada dalam bahaya. Begitukah?” Ia tersenyum mengejek. Tentu saja, ia tidak takut akan ancaman orang tua anak perempuan yang diculiknya.

“Aku tidak menakut-nakutimu, Bibi. Suhu dan Subo, adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, merupakan suami isteri pendekar yang sakti!”

“Eh? Dan engkau murid mereka, menangkap kupu-kupu saja tidak becus? Hi-hi-hik!” Wanita itu tertawa geli. Yo Han tidak merasa malu, hanya memandang dengan sikap sungguh-sungguh.

“Aku tidak belajar silat dari mereka, melainkan kepandaian lain yang lebih berguna. Akan tetapi aku tidak berbohong. Mereka amat lihai, Bibi, dan engkau bukanlah tandingan mereka”

Ang I Moli menjadi marah bukan main. Ucapan terakhir itu menyinggung keangkuhannya dan dianggap merendahkan, bahkan menghina. Sekali bergerak, ia sudah berada di dekat Yo Han dan mencengkeram pundak anak itu. Yo Han merasa pundaknya nyeri, akan tetapi sedikit pun dia tidak mengeluh atau menggerakkan tubuhnya, seolah cengkeraman itu tidak terasa sama sekali.

“Bocah sombong! Sekali aku menggerakkan tangan ini, lehermu dapat kupatahkan dan nyawamu akan melayang!”

Wanita itu diam-diam merasa heran bukan main. Anak yang telah dicengkeram pundaknya itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. Masih tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan suaranya pun masih tenang dan penuh teguran dan nasihat.

“Nyawaku berada di tangan Tuhan, Bibi. Engkau berhasil membunuhku atau tidak, kalau engkau tidak mengembalikan Sian Li, sama saja. Engkau akan mengalami kehancuran di tangan Suhu dan Subo. Sebaliknya kalau engkau mengembalikan Sian Li dan mau menerima aku sebagai gantinya, aku dapat minta kepada Suhu dan Subo untuk menghabiskan perkara penculikan Sian Li.”

Ang I Moli yang sudah menjadi marah dan tersinggung, hendak menggunakan tangannya mencengkerem leher anak itu dan membunuhnya. Akan tetapi pada saat itu ketika tangannya mencengkeram pundak, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada getaran di dalam pundak itu, getaran yang lembut namun mengandung kekuatan dahsyat yang membuat ia merasa seluruh tubuhnya tergetar pula. Ia merasa heran lalu menggunakan jari-jari tangannya untuk memeriksa tubuh anak itu. Dirabanya leher, pundak, dada dan punggung dan ia semakin terheran-heran. Anak ini memiliki tulang yang kokoh kuat dan jalan darahnya demikian sempurna. Inilah seorang anak yang memiliki bakat yang luar biasa sekali. Belum tentu dalam sepuluh ribu orang anak menemukan seorang saja seperti ini! Tubuh yang agaknya memang khusus diciptakan untuk menjadi seorang ahli silat yang hebat. Dan wataknya demikian teguh, tenang dan penuh keberanian. Akan tetapi anak ini mengaku tidak mempelajari ilmu silat! Biarpun demikian, anak ini mengatakan bahwa suhu dan subonya adalah dua orang sakti! Kiranya bukan bualan kosong saja karena hanya orang orang sakti yang dapat memilih seorang murid dengan bentuk tulang, jalan darah dan sikap sehebat anak ini.

“Brrttt...!” Sekali menggerakkan kedua tangan, baju yang dipakai anak itu robek dan direnggutnya lepas dari badan. Kini Yo Han bertelanjang dada. Ang I Moli bukan hanya meraba-raba, kini juga melihat bentuk dada itu. Dan ia terpesona. Bukan main!

Ia tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sian Li. Memang seorang anak yang memiliki tubuh baik pula, bertulang baik berdarah bersih. Akan tetapi dibandingkan anak laki-laki ini, jauh bedanya, tidak ada artinya lagi!

“Anak yang aneh,” katanya sambil tangannya masih meraba-raba dada dan punggung yang, telanjang itu. “Siapa namamu?”

“Aku she Yo, namaku Han.”

“Yo Han...? Siapa orang tuamu?”

“Aku yatim piatu. Pengganti orang tuaku adalah Suhu dan Subo.”

“Siapa sih suhu dan subomu yang kaupuji setinggi langit itu.”

“Aku bukan sekedar memuji kosong atau membual, Bibi. Suhuku bernama Tan Sin Hong berjuluk Pendekar Bangau Putih dan Suboku bernama Kao Hong Li, cucu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.”

Ang I Moli menelan ludah! Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa anak yang diculiknya adalah puteri dari suami isteri pendekar sakti itu! Tentu saja ia pernah mendengar akan nama mereka. Bahkan mereka adalah dua diantara para pendekar yang pernah membasmi Ang i Mopang! Mereka termasuk musuh-musuh lama dari kakaknya, dari Ang I Mopang. Akan tetapi ia pun tidak begitu tolol untuk memusuhi mereka. Biarpun ia sendiri belum pernah menguji sampai di mana kehebatan ilmu mereka, namun tentu saja jauh lebih aman untuk tidak mencari permusuhan baru dengan mereka.

Melihat wanita berpakaian merah itu diam saja, Yo Han melanjutkan. “Nah, engkau tahu bahwa aku bukan menggertak belaka. Tentu engkau pernah mendengar nama mereka. Sekarang, bagaimana kalau engkau mengembalikan Sian Li kepada mereka, Bibi?”

Ang I Moli mengamati wajah Yo Han dengan penuh perhatian. “Kalau aku mengembalikan Sian Li, engkau mau ikut bersamaku dan menjadi muridku?”

“Sudah kukatakan bahwa aku suka menggantikan Sian Li. Bagiku yang penting aku harus dapat mengajak Sian Li pulang ke rumah Suhu dan Subo. Setelah aku mengantar ia pulang, aku akan ikut bersamamu.”

“Hemm, kaukira aku begitu goblok? Kalau aku membiarkan engkau mengajak ia pulang, tentu engkau tidak akan kembali kepadaku. Yang datang kepadaku tentu suami isteri itu untuk memusuhiku.”

Yo Han mengerutkan alisnya, memandang kepada wanita itu. Ang I Moli terkejut. Sepasang mata anak itu mencorong seperti mata harimau di tempat gelap tertimpa sinar!

“Bibi, aku tidak sudi melanggar janjiku sendiri! Juga, hal itu akan membikin Suhu dan Subo marah kepadaku. Kami bukan orang-orang yang suka menyalahi janji.”

“Baik, mari, sekarang juga kita bawa Sian Li kembali ke rumah orang tuanya.”

Biarpun tubuhnya sudah terlalu penat untuk melakukan perjalanan lagi, namun Yo Han menyambut ajakan ini dengan gembira. “Baik, dan terima kasih, Bibi. Ternyata engkau bijaksana juga.”

Ang I Moli memondong tubuh Sian Li. “Mari kau ikuti aku.”

Melihat wanita itu lari keluar kuil, Yo Han cepat mengikutinya. Akan tetapi, Ang I Moli hendak menguji Yo Han, apakah benar anak ini tidak pandai ilmu silat. Ia. berlari cepat dan sebentar saja Yo Han tertinggal jauh.

“Bibi, jangan cepat-cepat. Aku akan sesat jalan. Tunggulah!”

Ang I Moli menanti, diam-diam merasa sangat heran. Kalau anak itu murid suami isteri pendekar yang namanya amat terkenal itu, bagaimana begitu lemah? Menangkap kupu-kupu saja tidak mampu, dan diajak berlari cepat sedikit saja sudah tertinggal jauh. Padahal, anak itu memiliki tubuh yang amat baik. Kelak ia akan menyelidiki hal itu. Ketika ia memeriksa tubuh Yo Han tadi, bukan saja ia mendapatkan kenyataan bahwa anak itu dapat menjadi seorang ahli silat yang hebat, juga mendapat kenyataan lain yang mengguncangkan hatinya. Anak itu memiliki darah yang bersih dan kalau ia dapat menghisap hawa murni dan darah anak laki-laki itu melalui hubungan badan, ia akan mendapatkan obat kuat dan obat awet muda yang amat ampuh!

Tidak lama mereka berjalan karena Ang I Moli membawa mereka ke tepi sungai, lalu ia mengeluarkan sebuah perahu yang tadinya ia sembunyikan di dalam semak belukar di tepi sungai.

“Kita naik perahu, agar dapat cepat tiba di Ta-tung,” kata Ang I Moli dan ia menyeret perahu ke tepi sungai, dibantu oleh Yo Han. Tak lama kemudian, mereka pun sudah naik ke perahu yang meluncur cepat terbawa arus air sungai dan didayung pula oleh Yo Han, dikemudikan oleh dayung di tangan wanita pakaian merah itu. Sian Li masih pulas, rebah miring di dalam perahu.

Melalui air, perjalanan tentu saja tidak melelahkan, apalagi karena mereka mengikuti aliran air sungai, bahkan jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan melalui darat. Maka, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah mendarat di tempat di mana kemarin Ang I Moli bertemu dengan Yo Han dan Sian Li.

Nah, bawalah ia pulang, dan kau cepat kembali ke sini. Kutunggu,” kata Ang I Moli kepada Yo Han. Ia menotok punggung Sian Li dan anak ini pun sadar, seperti baru terbangun dari tidur.

Sian Li girang melihat Yo Han di situ dan Yo Han segera memondongnya, menatap wajah wanita itu dan berkata, “Engkau percaya kepadaku, Bibi?”

Ang I Moli tersenyum. “Tentu saja. Kalau engkau membohongiku sekali pun, engkau takkan dapat lolos dari tanganku!

“Aku takkan bohong!” kata Yo Han dan dia pun membawa Sian Li keluar dari perahu, lalu berjalan secepatnya menuju pulang. Hatinya merasa lega dan gembira bukan main karena dia telah berhasil membawa pulang Sian Li seperti telah dijanjikannya kepada suhu dan subonya. Dia telah bertanggung jawab atas kehilangan adiknya itu, dan kini dia telah memenuhi janji dan tanggung lawabnya.



***



Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, semalam tadi tidak dapat pulas sejenak pun dan pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Dengan wajah muram dan rambut kusut mereka duduk di beranda depan seperti orang-orang yang menantikan sesuatu. Memang mereka menanti pulangnya Yo Han, kalau mungkin bersama Sian Li yang diculik orang. Hong Li menganggap hal ini tidak mungkin, hanya harapan kosong belaka dan sia-sia. Akan tetapi suaminya berkeras hendak menanti kembalinya Yo Han sampai tiga hari!

“Yo Han....” Tiba-tiba Sin Hong berseru.

Hong Li yang sedang menunduk terkejut, mengangkat mukanya dan wajahnya seketika berseri, matanya bersinar-sinar, seperti matahari yang baru muncul dari balik awan hitam.

“Sian Li....!” Ia pun meloncat dan lari menyambut Yo Han yang datang memondong adiknya itu.

“Ibu....! Ayah....!” Sian Li bersorak girang dan ia merssa terheran-heren ketika ibunya merenggutnya dari pondongan Yo Han, mendekap dan menciuminya dengan kedua mata basah air mata!

“Ibu.... menangis? Tidak boleh menangis, Ibu tidak boleh cengeng dan lemah!” Sian Li menirukan kata-kata ayah dan ibunya kalau ia menangis. Ibunya yang masih basah kedua matanya itu tersenyum.

“Tidak, ibu tidak menangis. Ibu bergembira....!”

Sin Hong sudah menyambut Yo Han dan memegang tangan murid itu, menatapnya sejenak lalu berkata, “Mari masuk dan kita bicara di dalam.”

Mereka duduk di ruangan dalam, mengelilingi meja. Sian Li dipangku oleh ibunya yang memeluknya seperti takut akan kehilangan lagi.

“Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengajak pulang adikmu, Yo Han,” kata Sin Hong. Hong Li memandang dengan penuh kagum, heran dan juga bersukur bahwa muridnya itu benar-benar telah mampu mengembalikan Sian Li kepadanya. Padahal ia sendiri dan suaminya sudah mencari-cari sampai sehari penuh tanpa hasil, bahkan tidak dapat menemukan jejak Sian Li dan penculiknya.

“Suhu dan Subo, ketika teecu pergi hendak mencari adik Sian Li, teecu segera berlari ke luar kota, melalui pintu gerbang selatan. Sehari kemarin teecu berlari dan berjalan terus dan pada malam hari tadi, teecu tiba di lereng sebuah bukit. Teecu melihat sebuah kuil dan ada sinar api unggun dari dalam kuil. Teecu memasuki kuil tua yang kosong itu dan di situlah teecu melihat Adik Sian Li tidur dijaga oleh wanita pakaian merah itu.”

“Akan tetapi, Yo Han. Bagaimana engkau bisa tahu bahwa adikmu dibawa ke tempat itu oleh penculiknya?” Hong Li bertanya dengan heran.

“Teecu juga tidak tahu bagaimana Adik Sian Li bisa berada di dalam kuil itu, Subo....”

“Aku diajak naik perahu oleh Bibi baju merah. Ia baik sekali, Ibu. Kami menangkap ikan dan Bibi memasak ikan untukku. Enak sekali! Setelah turun dari perahu, kami berjalan-jalan ke lereng bukit dan memasuki kuil tua itu, Setelah malam menjadi gelap, aku ingin pulang, mengajaknya pulang dan.... dan.... aku lupa lagi, tertidur.”

Sin Hong bertukar pandang dengan isterinya. Pantas usaha mereka mencari jejak gagal. Kiranya anak mereka dibawa naik perahu oleh penculiknya.

“Yo Han, kalau engkau tidak tahu bahwa Sian Li dibawa ke kuil tua itu, bagaimana engkau dapat langsung pergi ke sana?” Sin Hong mendesak, memandang tajam penuh selidik.

Yo Han menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya. “Teecu tidak tahu Suhu. Teecu membiarkan kaki berjalan tanpa tujuan, ke mana saja untuk mencari adik Sian Li. Dan tahu-tahu teecu tiba di sana dan menemukan mereka.”

“Tapi, bagaimana penculik itu membiarkan engkau mengajak Sian Li pulang? Bagaimana engkau dapat menundukkannya?” Hong Li bertanya, semakin heran dan merasa bulu tengkuknya meremang karena ia mulai merasa bahwa ada “sesuatu” yang ajaib telah terjadi pada diri muridnya itu.

Yo Han tersenyum memandang subonya, lalu memandang suhianya. “Teecu membujuknya untuk membiarkan teecu membawa adik Sian Li pulang. Ia tidak tahu bahwa adik Sian Li adalah puteri Suhu dan Subo. Teecu beritahu kepadanya dan mengatakan bahwa kalau ia tidak mengembalikan Sian Li, tentu Suhu dan Subo akan dapat menemukannye dan ia akan celaka. Teecu mengatakan bahwa kalau ia mau menyerahkan kembali Sian Li, teecu yang akan menggantikan adik Sian Li menjadi muridnya, menjadi pelayannya, dan ikut dengannya. Nah, ia setuju dan teecu membawa adik Sian Li, pulang. Akan tetapi teecu harus segera kembali kepadanya. Ia masih menunggu teecu di tepi sungai....”

“Yo Han! Engkau hendak ikut dengan penculik itu? Ah, aku tidak akan membiarkan! Menjadi murid seorang penculik jahat? Tidak boleh!” kata Hong Li marah. “Aku bahkan akan menghajar iblis itu!”

Kao Hong Li sudah meloncat dengan marah, akan tetapi gerakannya terhenti ketika terdengar Yo Han berseru, ,”Subo, jangan!”

“Hah? Iblis itu menculik anakku, kemudian menukarnya dengan engkau untuk dibawa pergi. Dan engkau melarang aku untuk menghajar iblis itu?”

“Maaf, Subo. Apakah Subo ingin melihat murid Subo menjadi seorang rendah yang melanggar janjinya sendiri, menjilat ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut?”

“Ehhh....? Apa maksudmu?”

“Subo, bagaimanapun juga, teecu (murid) adalah murid Subo. Teecu sudah berjanji kepada wanita berpakaian merah itu bahwa setelah teecu mengantar Sian Li pulang, teecu akan kembali kepadanya dan menjadi muridnya, pergi ikut dengannya. Kalau teecu sudah berjanji, lalu sekarang teecu tidak kembali kepadanya, bahkan Subo akan menghajarnya, bukankah bererti teecu melanggar janji sendiri?”

“Tidak peduli akan janjimu itu! Engkau tidak perlu melanggar janji, engkau pergilah kepadanya. Akan tetapi aku tetap saja akan menemuinya dan menghajarnya!” kata Hong Li dengan marah.

“Subo!” kata pula Yo Han dan suaranya tegas. “Kenapa Subo hendak menghajar wanita itu? Kalau Subo melakukan itu, berarti Subo jahat!”

“Ehhh?” Hong Li terbelalak memandang kepada anak itu.

“Yo Han!” kata pula Sin Hong. “Subomu hendak menghajar penculik kenapa engkau katakan jahat?” Dia bertanya hanya karena ingin tahu isi hati anak itu yang amat dikaguminya sejak dia tadi mendengarkan kata-kata anak itu kepada isterinya.

“Suhu, wanita berpakaian merah itu memang benar tadinya hendak melarikan Sian Li, akan tetapi ia bersikap baik terhadap Sian Li, dan ia melarikannya, karena ingin mengambilnya sebagai murid. Ia sayang kepada Sian Li. Kemudian, teecu menemukannya dan teecu membujuk agar ia mengembalikan Sian Li. Dan ia sudah memperbolehkan Sian Li teecu bawa pulang. Teecu sendiri yang berjanji untuk ikut dengannya. Kalau sekarang Subo dan Suhu menghajarnya, bukankah itu sama sekali tidak benar?”

Sin Hong memberi isarat dengan pandang matanya kepada isterinya lalu menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya itu. “Baiklah kalau begitu, Yo Han. Kami tentu saja tidak menghendaki engkau menjadi seorang yang melanggar janjimu sendiri. Engkau sudah yakin ingin menjadi murid wanita itu? Kalau engkau ingin memperoleh guru yang baik, tempat tinggal yang lain, kami sanggup mencarikannya yang amat baik untukmu.”

Yo Han menggeleng kepalanya. “Tidak Suhu. Teecu akan ikut dengan wanita itu seperti telah teecu janjikan. Teecu akan berangkat sekarang juga agar ia tidak terlalu lama menunggu.” Dia lalu pergi ke dalam kamarnya, mengambil buntalan pakaian yang memang telah, dia persiapkan semalam. Memang semalam dia sudah merencanakan untuk pergi meninggalkan rumah itu, akan tetapi karena hatinya terasa berat meninggalkan Sian Li, pagi itu ia ingin menyenangkan Sian Li dengan mengajaknya bermain-main di tepi sungai sebelum dia pergi.

Suami isteri itu juga merasa heran melihat demikian cepatnya Yo Han mengumpulkan pakaiannya karena sebentar saja anak itu sudah menghadap mereka kembali. Yo Han menjatuhkan diri berlutut di depan kedua orang gurunya.

“Suhu dan Subo, teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi kebaikan yang telah dilimpahkan kepada teecu, terima kasih atas kasih sayang yang telah dicurahkan kepada teecu. Dan teecu mohon maaf apabila selama ini teecu melakukan banyak kesalahan dan membuat Suhu dan Subo menjadi kecewa. Teecu mohon diri, Suhu dan Subo” Suaranya tegas dan sikapnya tenang, sama sekali tidak nampak dia berduka, tidak hanyut oleh perasaan haru.

“Baiklah, Yo Han. Kalau memang ini kehendakmu. Dan berhati-hatilah engkau menjaga dirimu,” kata Sin Hong.

“Setiap waktu kalau engkau menghendaki, kami akan menerimamu kembali dengan hati dan tangan terbuka, Yo Han,” kata pula Kao Hong Li, dengan hati terharu. Terasa benar ia betapa ia menyayang murid itu seperti kepada adik atau anak sendiri.

“Terima kasih, Suhu dan Subo” Yo Han membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.

“Suheng, aku ikut....!” Tiba-tiba Sian Li yang sejak tadi melihat dan mendengarkan saja tanpa mengerti benar apa yang mereka bicarakan, kini turun dari pangkuan ibunya dan berlari menghampiri Yo Han.

Yo Han memondong anak itu dan mencium kedua pipi dan dahinya, lalu menurunkannya kembali. “Sian Li, aku mau pergi dulu, engkau tidak boleh ikut. Engkau bersama ayah dan ibumu di sini. Kelak kita akan bertemu kembali, adikku.” Dan dengan cepat Yo Han lari meninggalkan anak itu, tidak tega mendengar ratap tangisnya dan melihat wajahnya.

“Suheng! Aku ikut...., aku ikut....!” Anak itu merengek walaupun tidak menangis, dan terpaksa Sin Hong memondongnya karena anak itu hendak lari mengejar Yo Han.

“Hemm, aku mau melihat siapa iblis betina itu!” Hong Li sudah meloncat keluar dan Sin Hong yang memondong anaknya hanya menggeleng kepala, lalu melangkah keluar pula dengan Sian Li di pondongannya.

Yo Han berlari-lari menuju sungai. Dia tidak ingin wanita berpakaian merah itu mengira dia melanggar janji. Dan benar saja, ketika dia tiba di tepi sungai, wanita itu tidak lagi berada di dalam perahu, melainkan sudah duduk di tepi sungai dengan wajah tidak sabar. Perahunya berada di tepi sungai pula, agaknya sudah ditariknya ke darat.

Melihat Yo Han datang berlari membawa buntalan, wajah yang tadinya cemberut itu tersenyum. “Hemm, kusangka engkau membohongiku! Kiranya engkau datang pula!”

Yo Han juga cemberut ketika dia sudah berdiri di depan wanita itu. “Sudah kukatakan, aku bukan seorang yang suka melanggar janji. Aku harus berpamit dulu kepada Suhu dan Suboku, dan mengambil pakaianku ini.”

“Andaikata engkau menipuku sekalipun engkau tidak akan terlepas dari tanganku Hayo kita berangkat!” kata Ang I Moli Tee Kui Cu.

“Tahan dulu...!” Bentakan merdu dan nyaring ini mengandung getaran dan wibawa yang amat kuat sehingga Ang I Moli terkejut sekali dan cepat ia membalikkan tubuh. Kiranya di depannya telah berdiri seorang wanita cantik dan gagah, berusia kurang lebih dua puluh enam tahun. Wajahnya bulat telur, matanya lebar dan indah jeli, sinarnya tajam menembus.

“Subo....!” Yo Han berseru melihat wanita cantik itu.

“Diam kau!” Kao Hong Li membentak muridnya, matanya tidak pernah melepaskan wajah wanita berpakaian merah. Ia belum pernah melihat wanita itu dan memperhatikannya dengan seksama. Wajah yang cantik itu putih oleh bantuan bedak tebal, nampak cantik seperti gambar oleh bantuan pemerah bibir dan pipi, dan penghitam alis. Pakaiannya yang serba merah ketat itu menempel tubuh yang ramping dan seksi, dengan pinggulnya yang bulat besar.

Mendengar Yo Han menyebut subo kepada wanita muda ini. Ang I Moli terkejut. Tak disangkanya subo dari anak itu masih demikian mudanya. Jadi inikah cucu dari Naga Sakti Gurun Pasir, pikirnya.

“Hemmm, siapakah engkau dan mengapa engkau menahan kami?” Ang I Moli bertanya, senyumnya mengandung ejekan dan memandang rendah.

“Aku Kao Hong Li, ibu dari anak perempuan yang kauculik!” jawab Hong Li, juga sikapnya tenang, akan tetapi sepasang mata yang tajam itu bersinar marah “Siapakah engkau ini iblis betina yang berani mencoba mencoba untuk menculik anakku kemudian membujuk murid kami untuk ikut denganmu? Jawab, dan jangan mati tanpa nama!” Sikap garang Kao Hong Li sedikit banyak menguncupkan hati Ang I Moli. Ia seorang tokoh sesat yang tidak mengenal takut dan memandang rendah orang lain, akan tetapi ia teringat akan ancaman Yo Han tadi bahwa wanita ini adalah cucu Naga Sakti Gurun Pasir, bahkan suaminya adalah Si Bangau Putih yang namanya amat terkenal itu.

“Hemm, bocah sombong. Jangan mengira bahwa aku Ang I Moli takut mendengar gertakanmu.” Ia membesarkan hatinya sendiri. “Aku tidak menculik, puterimu, hanya mengajaknya bermain-main. Dan tentang bocah ini, dia sendiri yang ingin ikut aku menjadi muridku. Kalau, tidak percaya tanya saja kepada anak itu.”

“Subo, memang teecu sendiri yang ingin ikut dengan Bibi ini. Harap Subo jangan mengganggunya!”

Hong Li menarik napas panjang. Kalau sudah begitu, memang tidak ada alasan baginya untuk menghajar wanita berpakaian merah itu, apalagi membunuhnya. Anaknya sendiri tadi pun mengatakan bahwa wanita ini bersikap baik kepada Sian Li, dan kini Yo Han mengatakan bahwa memang dia sendiri yang ingin menjadi muridnya.

“Baiklah, aku tidak akan membunuhnya. Akan tetapi, setidaknya aku harus tahu apakah ia cukup pantas untuk menjadi gurumu, Yo Han. Aku tidak rela menyerahkan muridku dalam asuhan orang yang tidak berkepandaian, apalagi kalau orang itu pengecut. Kuharap saja engkau tidak terlalu pengecut untuk menolak tantanganku menguji ilmu kepandaianmu, Ang I Moli.”

Kulit muka yang ditutup kulit tebal itu masih nampak berubah kemerahan. Tentu saja Ang I Moli marah sekali dikatakan bahwa ia seorang pengecut.

“Kao Hong Li, engkau bocah sombong. Kaukira aku takut kepadamu?”

“Bagus kalau tidak takut! Nah, kau sambutlah seranganku ini. Haiiittt!” Hong Li sudah menerjang maju setelah memberi peringatan, dan karena ia memang ingin menguji sampai di mana kelihaian wanita baju merah itu, begitu menyerang ia sudah memainkan jurus dari ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang amat dahsyat, apalagi karena dalam memainkan ilmu silat ini ia menggunakan tenaga Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) dari ibunya. Hong Li telah menggabung dua ilmu yang hebat itu. Sin-liong Ciang-hoat adalah ilmu yang berasal dari Istana Gurun Pasir, sedangkan tenaga Hui-yang Sin-kang adalah ilmu yang berasal dari Istana Pulau Es, yang ia pelajari dari ayah dan ibunya.

“Wuuuuttt.... plak! Plak!” Tubuh Ang I Moli terhuyung ke belakang dan ia terkejut bukan main. Ketika tadi ia menangkis sampai beberapa kali, lengannya bertemu dengan hawa panas yang luar biasa kuatnya sehingga kalau ia tidak membiarkan dirinya mundur, tentu ia akan celaka. Sebagai seorang tokoh sesat yang telah mengangkat diri menjadi seorang pangcu (ketua) tentu saja Ang I Moli merasa penasaran sekali. Ia lalu membalas dengan serangan ampuh. Setelah mengerahkan tenaga dalam yang telah dilatihnya dari para pimpinan Pek-lian-kauw, ia mengeluarkan suara melengking dan ketika dua tangannya menyerang, dari kedua telapak tangan itu mengepul uap atau asap hitam dan angin pukulannya membawa asap hitam itu menyambar ke arah muka Kao Hong Li.

Pendekar wanita ini mengenal pukulan beracun yang ampuh, maka ia pun melangkah mundur dan mengerahkan tenaga sin-kang mendorong dengan kedua tangan terbuka pula. Dua tenaga dahsyat bertemu di udara dan akibatnya, asap hitam itu membalik dan Ang I Moli kini merasakan hawa yang amat dingin sehingga kembali ia terkejut. Itulah tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Inti Salju), juga ilmu yang berasal dari Istana Pulau Es! Ang I Moli terpaksa mundur kembali dan kemarahannya memuncak. Dua kali mengadu tenaga itu membuat ia sadar bahwa lawannya memang lihai bukan main. Dalam hal tenaga sin-kang, jelas ia kalah kuat.

“Manusia sombong, kausambut pedangku!” bentaknya, lalu mulutnya berkemak-kemik dan ia berseru sambil membuat gerakan seperti melontarkan sesuatu ke udara, “Pedang terbangku menyambar lehermu!”

Kao Hong Li terbelalak ketika ia melihat sinar terang dan bayangan sebatang pedang meluncur dari udara ke arah dirinya! Padahal ia tidak melihat wanita itu mencabut pedang. Inilah ilmu sihir, pikirnya dan ia pun cepat mencabut pedangnya dan melindungi dirinya dengan putaran pedang.

“Hentikan perkelahian! Hentikan....!” terdengar Yo Han berseru dan begitu anak ini melangkah ke depan, sinar pedang itu pun lenyap secara tiba-tiba dan Hong Li mendapat kenyataan bahwa ia tadi “bertempur” melawan bayang-bayang. Sementara itu, Ang I Moli juga terkejut karena tiba-tibapengaruh sihirnya lenyap begitu saja. Pada saat itu, ia melihat pula munculnya seorang laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun yang memiliki sinar mata lembut namun mencorong memondong anak perempuan baju merah tadi. Tahulah ia bahwa tentu laki-laki gagah perkasa ini ayah Sian Li yang berjuluk Si Bangau Putih. Ang I Moli menduga bahwa tentu pendekar ini yang melenyapkan pengaruh sihirnya, maka ia menjadi semakin jerih. Memang tadinya ia merasa suka sekali kepada Sian Li, kemudian melihat bakat yang luar biasa pada diri Yo Han, ia pun rela menukarkan Sian Li yang suka rewel dan tidak mau ikut dengan suka rela itu dengan Yo Han yang suka ikut dengannya. Akan tetapi melihat betapa suami isteri yang amat lihai itu kini berada di depannya dan ia tahu bahwa melawan mereka berdua sama dengan mencari penyakit, Ang I Moli lalu meloncat ke arah perahunya sambil memaki Yo Han,

“Anak pengkhianat!” Ia mendorong perahunya ke air, kemudian perahu itu diluncurkannya ke tengah sungai.

“Tunggu kau, iblis betina!” Hong Li yang masih marah itu berteriak dan kini ia pun sudah mengamangkan pedangnya. Akan tetapi Yo Han cepat berdiri di depan subonya.

“Subo, harap jangan kejar dan serang lagi! Ia adalah guruku yang baru!” Setelah berkata demikian, Yo Han lalu meloncat ke air, dan berenang mengejar perahu itu. “Bibi.... eh, Subo (Ibu Guru), tunggulah aku....!”

Melihat ini, Ang I Moli memandang heran. Anak itu ternyata sama sekali bukan pengkhianat, bukan pelanggar janji! Ia pun terkekeh senang dan menahan perahunya. Ketika Yo Han telah tiba di pinggir perahu, ia mengulurkan tangan dan menarik anak itu naik ke dalam perahunya.

“Anak baik, ternyata engkau setia kepadaku. Hi-hik, aku senang sekali!”

Dari pantai, Hong Li masih mengamangkan pedangnya. “Yo Han, kembali ke sini engkau! Engkau akan rusak dan celaka kalau engkau ikut dengan perempuan iblis itu!”

“Subo, maafkan teecu. Teecu sudah berjanji kepada Bibi ini, dan pula, teecu harus meninggalkan Suhu dan Subo, teecu harus meninggalkan.... adik Sian Li. Bukankah itu yang Subo kehendaki? Teecu harus dipisahkan dari adik Sian Li. Nah, setelah sekarang teecu menentukan jalan sendiri, kenapa Subo hendak menghalangi? Sudahlah, Subo, maafkan teecu dan selamat tinggal.” Yo Han lalu mengambil dayung dan mendayung perahu itu.

Hong Li masih penasaran dan hendak mengejar, akan tetapi ada sentuhan lembut tangan suaminya padalengannya. Ia menoleh dan melihat suaminya tersenyum dan menggeleng kepalanya.

“Suheng aku ikut....!” Tiba-tiba Sian Li yang melihat Yo Han mendayung perahu, berteriak dan meronta dalam pondongan ayahnya. Hong Li menyimpan kembali pedangnya dan memondong puterinya.

“Jangan ikut, Sian Li. Suhengmu sedang pergi menuntut ilmu. Kelak engkau akan bertemu kembali dengan dia.” Ia memeluk anaknya dan menciuminya, menghibur sehingga Sian Li tidak berteriak-teriak lagi.

Suami isteri itu berdiri di tepi sungai dan mengikuti perahu yang menjauh itu dengan pandang mata mereka.

“Aku tetap khawatir,” bisik Hong Li. “Wanita itu jelas tokoh sesat. Julukannya Ang I Moli. Aku khawatir Yo Han akan menjadi tersesat kelak.”

Suaminya menggeleng kepala. “Jangan khawatir. Yo Han bukanlah anak yang berbakat jahat. Aku melihat hal yang aneh lagi tadi. Ketika engkau diserang dengan sihir, kulihat engkau terkejut dan wanita itu berdiri mengacungkan tangan dan berkemak-kemik, ada sinar menyambar ke arahmu....”

“Memang benar. Aku pun terkejut akan tetapi tiba-tiba sinar itu menghilang.”

“Itulah! Begitu Yo Han melompat ke depan dan menghentikan perkelahian, sinar itu lenyap dan kulihat wanita berpakaian merah itu terkejut dan ketakutan. Aku menduga bahwa kekuatan sihirnya itu punah dan lenyap oleh teriakan Yo Han! Nah, karena itu, biarkanlah dia pergi. Aku yakin dia tidak akan dapat terseret ke dalam jalan sesat.”

Mereka lalu pulang membawa Sian Li yang sudah tidur di dalam pondongan ibunya. Berbagai perasaan mengaduk hati kedua orang suami isteri itu. Ada perasaan menyesal dan mereka merasa kehilangan Yo Han, ada pula perasaan lega karena kini puteri mereka dapat dipisahkan dari Yo Han tanpa mereka harus memaksa Yo Han keluar dari rumah mereka, ada pula perasaan khawatir akan nasib Yo Han yang dibawa pergi seorang tokoh sesat.

Segala macam perasaan duka, khawatir dan sebagainya tidak terbawa datang bersama peristiwa yang terjadi menimpa diri kita, melainkan timbul sebagai akibat dari cara kita menerima dan menghadapi segala peristiwa itu. Pikiran yang penuh dengan ingatan pengalaman masa lalu membentuk sebuah sumber dalam diri, sumber berupa bayangan tentang diri pribadi yang disebut aku, dan dari sumber inilah segala kegiatan hidup terdorong. Karena si-aku ini diciptakan pikiran yang bergelimang nafsu daya rendah, maka segala kegiatan, segala perbuatan pun selalu didasari kepentingan si-aku. Kalau sang aku dirugikan, timbullah kecewa, timbullah iba diri dan duka. Kalau sang aku terancam dirugikan, timbullah rasa takut dan khawatir. Si-aku ini selalu menghendaki jaminan keamanan menghendaki kesenangan dan menghindari kesusahan. Si-aku ini mendatangkan penilaian baik buruk, tentu saja didasari untung-rugi bagi diri sendiri. Baik buruk timbul karena adanya penilaian, dan penilaian adalah pilihan si-aku, karenanya penilaian selalu didasari nafsu daya rendah yang selalu mementingkan diri sendiri. Kalau sesuatu menguntungkan, maka dinilai baik, sebaliknya kalau merugikan, dinilai buruk.

Sebagai contoh, kita mengambil hujan. Baik atau burukkah hujan turun? Hujan adalah suatu kewajaran, suatu kenyataan dan setiap kenyataan adalah wajar karena hal itu sudah menjadi kodrat, menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hujan baru disebut baik atau buruk kalau sudah ada penilaian. Yang menilai adalah kita, didasari nafsu daya rendah yang mengaku diri sebagai sang-aku. Bagi orang yang membutuhkan air hujan, maka hujan di sambut dengan gembira dan dianggap baik, karena menguntungkan, misalnya bagi para petani yang sedang membutuhkan air untuk sawah ladangnya. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa dirugikan dengan turunnya hujan, maka hujan itu tentu saja dianggap buruk! Padahal, hujan tetap hujan, wajar, tidak baik tidak buruk. Demikian pula dengan segala macam peristiwa atau segala macam yang kita hadapi. Selalu kita nilai, tanpa kita sadari penilaian itu berdasarkan nafsu mementingkan diri sendiri. Kalau ada seseorang berbuat menguntungkan kepada kita, kita menilai dia sebagai orang baik, sebaliknya kalau merugikan, kita menilainya sebagai orang jahat. Jelas bahwa penilaian adalah suatu hal yang pada hakekatnya menyimpanq dari kebenaran. Yang kita nilai baik belum tentu baik bagi orang lain, dan sebaliknya.

Penilaian mendatangkan reaksi, mempengaruhi sikap dan perbuatan kita selanjutnya. Dan perbuatan yang didasari hasil penilaian ini jelas tidak sehat. Dapatkah kita menghadapi segala sesuatu tanpa menilai? Melainkan menghadapi seperti apa adanya. Kalau tindakan kita tidak lagi dipengaruhi hasil penilaian, maka tindakan itu terjadi dengan spontan dipimpin kebijaksanaan.

Permainan pikiran yang mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan hanya mendatangkan duka dan khawatir, seperti yang pada saat itu dialami oleh Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li.

***

“Jangan bohong kau!” Ang I Moli membentak. Yo Han yang berdiri di depannya memandang dengan sinar mata marah. “Subo sudah berulang kali kukatakan bahwa aku tidak pernah dan tidak akan mau berbohong!” jawabnya dengan tegas.

Mereka berada di dalam sebuah ruangan kuil tua di lereng bukit. Kuil ini belum rusak benar. Baru setahun ditinggalkan penghuninya, yaitu seorang pertapa tosu dan agaknya tidak ada yang mau mengurus kuil yang berada di tempat terpencil ini. Hanya kuil yang berada di daerah pedusunan yang makmurlah dapat berkembang dengan baik. Banyak pengunjung datang bersembahyang dan banyak dana pula datang membanjir sehingga berlebihan untuk pembiayaan kuil. Akan tetapi sebuah kuil tua di lereng bukit yang sunyi? Jauh dari dusun jauh dari masyarakat? Siapa yang mau hidup sengsara dan serba kekurangan di situ? Kuil itu kini kosong dan dalam perjalanannya pulang, ketika melewati tempat ini dan kemalaman, Ang I Moli mengajak Yo Han untuk melewatkan malam di tempat sunyi itu.

Wanita itu masih terkenang akan kelihaian Kao Hong Li. Wanita cucu Naga Sakti Gurun Pasir itu demikian lihainya, dan suaminya, Si Bangau Putih, tentu lebih lihai pula. Ia sendiri yang ditakuti banyak orang di dunia kang-ouw, kini merasa ngeri kalau membayangkan bahaya maut yang mengancamnya ketika ia berhadapan dengan suami isteri pendekar itu. Kalau suhu dan subonya sedemikian saktinya, tentu muridnya juga telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi, demikian pendapatnya. Oleh karena itu, ketika ia bertanya kepada Yo Han tentang ilmu silat, berapa banyak ilmu kedua orang gurunya yang telah dikuasainya, Yo Han menjawab bahwa dia tidak pandai ilmu silat dan tentu saja Ang I Moli menduga dia berbohong.

“Bagaimana mungkin, sebagai murid suami isteri yang lihai itu engkau tidak menguasai sedikit pun ilmu silat? Sudah berapa lama engkau menjadi murid mereka, Yo Han?”

“Sudah lima tahun, Subo.”

“Hemm, apalagi sudah begitu lama. Bagaimana mungkin engkau tidak pandai ilmu silat? Bukankah engkau menerima pelajaran ilmu silat dari mereka?”

“Aku tidak pernah berlatih, Subo. Aku tidak suka ilmu silat.”

Wanita cantik itu terbelalak, lalu ia memandang penuh perhatian kepada Yo Han dengan alis berkerut. “Engkau tidak suka ilmu silat?” Ang I Moli tertawa terkekeh-kekeh karena merasa geli hatinya. “Kao Hong Li dan Tan Sin Hong merupakan sepasang suami isteri pendekar yang sakti, dan murid tunggalnya tidak pandai dan tidak suka ilmu silat?” Ia tertawa-tawa lagi sampai keluar air matanya.”Habis, apa saja yang kau pelajari dari mereka selama lima tahun itu?”

“Subo, kenapa Subo mentertawakan hal itu? Aku memang tidak suka ilmu silat, dan yang kupelajari dari Suhu dan Suboku itu adalah ilmu membaca dan menulis, membuat sajak, bernyanyi dan meniup suling, pengetahuan tentang kebudayaan dan filsafat hidup, mempelajari kitab-kitab sejarah kuno....” Dia terpaksa berhenti bicara karena Ang I Moli sudah tertawa lagi terkekeh-kekeh. Yo Han hanya berdiri memandang dengan alis berkerut dan mata bersinar-sinar marah.

Setelah menghentikan tawanya, wanita itu mengusap air mata dari kedua matanya, lalu memandang kepada pemuda remaja itu. “Anak baik, aku mengambilmu sebagai murid dan aku akan mengajarkan ilmu silat pula kepadamu. Bagaimana?”

Yo Han menggeleng kepalanya. “Percuma saja, Subo. Aku tidak akan menolak segala yang kauajarkan kepadaku, akan tetapi aku tidak akan suka berlatih silat sehingga semua pengertian ilmu silat yang kauberikan kepadaku tidak akan ada gunanya.”

Ang I Moli teringat sesuatu. “Yo Han, kalau engkau memang sama sekali tidak pandai ilmu silat, kenapa engkau begini tabah dan berani? Padahal engkau tidak memiliki kemampuan untuk membela diri apabila diserang lawan. Bagaimana engkau menjadi begini berani?”

“Aku tidak suka akan kekerasan, kenapa mesti takut, Subo? Orang yang tidak melakukan kejahatan, tidak merugikan orang lain, tidak membenci orang lain, kenapa mesti takut? Aku tidak pernah takut, Subo, karena tidak pernah membenci orang lain.”

“Yo Han, kalau engkau tidak mau belajar ilmu silat dariku, lalu kenapa engkau mau ikut dengan aku?” Wanita itu akhirnya bertanya heran.

“Subo lupa. Bukan aku yang ingin ikut Subo, melainkan Subo yang mengajakku dan aku ikut Subo sebagai penukaran atas diri Sian Li.”

Wanita itu menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala dan memandang dengan heran. Sungguh seorang anak laki-laki yang aneh sekali. Begitu tabah, sedikit pun tak mengenal takut, begitu teguh memegang janji, sikapnya demikian gagah perkasa seperti seorang pendekar tulen, akan tetapi, sedikit pun tidak pandai ilmu silat bahkan tidak suka ilmu silat! Akan tetapi, melihat wajah yang tampan gagah itu ia teringat akan keadaan tubuh pemuda remaja itu dan wajah Ang I Moli berseri, mulutnya tersenyum dan pandang matanya menjadi genit sekali.

“Tidak suka berlatih silat pun. tidak mengapalah, Yo Han, asal engkau mentaati semua perintahku menuruti semua permintaanku.” Ia lalu menggapai. “Engkau duduklah di sini, dekat aku, Yo Han,”

Tanpa prasangka buruk, Yo Han mendekat, lalu duduk di atas lantai yang tadi sudah dia bersihkan dan diberi tilam rumput kering yang dicarinya di ruangan belakang kuil tua itu, sebagai persiapan tempat mereka nanti tidur melewatkan malam. Akan tetapi, suaranya tegas ketika dia berkata,

“Subo, aku akan selalu mentaati perintahmu selama perintah itu tidak menyimpang dari kebenaran. Kalau Subo memerintahkan aku melakukan hal yang tidak benar, maaf, terpaksa akan kutolak!”

“Hi-hik, tidak ada yang tidak benar, muridku yang baik. Engkau tahu, aku amat sayang padamu, Yo Han. Engkau anak yang amat baik, dan aku senang sekali mempunyai murid seperti engkau.” Wanita itu memegang tangan Yo Han dan membelai tangan itu. Merasa betapa jari-jari tangan yang berkulit halus itu dengan lembut membelai tangannya, kemudian bagaikan laba-laba jari-jari tangan itu merayap naik di sepanjang lengannya, Yo Han merasa geli dan juga aneh. Jantungnya berdebar tegang dan dengan gerakan lembut dia pun menarik lengannya yang dibelai itu.

“Subo, apakah Subo tidak lapar?” Tiba tiba dia bertanya dan pertanyaan itu sudah cukup untuk membuyarkan gairah yang mulai membayang di dalam benak Ang I Moli. Ia pun terkekeh genit.

“Hi-hik, bilang saja perutmu lapar, sayang. Nah, buka buntalanku itu, di situ masih ada roti kering dan daging kering, juga seguci arak.”

Mendapatkan kesempatan untuk melepaskan diri dari belaian gurunya yang baru itu, Yo Han lalu bangkit dan mengambil buntalan pakaian gurunya, dan mengeluarkan bungkusan roti dan daging kering, juga seguci arak yang baunya keras sekali. Dia menaruh semua itu di depan Ang I Moli dan ketika merasakan betapa roti dan daging kering itu keras dan dingin, dia pun berkata,

“Subo, aku hendak mencari kayu bakar dan air.”

“Eh? Untuk apa? Makanan sudah ada, minuman juga sudah ada.”

“Akan tetapi roti dan daging itu keras dan dingin, Subo. Kalau dipanaskan dengan uap air tentu akan menjadi hangat dan lunak. Juga aku lebih suka minum air daripada arak. Ini aku membawa panci untuk masak air, Subo,” katanya sambil mengeluarkan sebuah panci dari dalam buntalan pakaiannya. Ang I Moli memandang dan tersenyum. Ia semakin tertarik kepada Yo Han dan ia harus bersikap manis untuk menundukkan hati perjaka remaja itu. Pemuda ini tidak mau menjadi muridnya dalam arti yang sesungguhnya. Maka ia harus dapat memanfaatkan pemuda itu bagi kesenangan dan keuntungan dirinya sendiri. Seorang perjaka remaja yang memiliki tubuh sebaik itu akan menguntungkan sekali bagi kewanitaannya. Akan membuat ia awet muda dan kuat, juga hawa murni di tubuh muda itu akan dapat dihisapnya dan dapat menambah kekuatan tenaga dalam di tubuhnya. Selain itu, cita-citanya untuk menguasai sebuah ilmu rahasia yang selama ini ditunda-tundanya, kini akan dapat diraihnya dengan mudah! Untuk dapat menguasai ilmu rahasia itu, ia harus dapat menghisap darah murni selosin orang perjaka yang memiliki darah yang bersih dan badan yang sempurna. Kini ia telah mendapatkan Yo Han dan anak ini sudah lebih dari cukup, bahkan lebih kuat dibandingkan selosin orang pemuda remaja biasa!

“Baiklah, engkau boleh pergi mencari air dan kayu bakar. Akan tetapi cepat kembali. Hari telah sore dan sebentar lagi akan gelap,” katanya halus dan ramah.

“Baik, Subo.” Yo Han berlari keluar dari kuil itu. Dia tidak tahu bahwa Ang I Moli membayanginya dari jauh. Wanita ini tidak ingin kehilangan Yo Han, maka begitu anak itu berlari keluar, ia pun mempergunakan ilmu kepandaiannya dan mengikutinya tanpa diketahui oleh Yo Han. Bagi seorang seperti Ang I Moli Tee Kui Cu, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang benar-benar jujur dan setia dan dapat dipercaya sepenuhnya! Sejak kecil wanita ini hidup di dalam lingkungan dunia hitam, berkecimpung di dalam kesesatan, di dalam suatu masyarakat di mana kata jujur dan setia sudah tidak dikenal lagi, di mana segala cara dihalalkan demi keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, ia pun tidak dapat percaya sepenuhnya kepada Yo Han. Ia tidak ingin kehilangan Yo Han yang baginya kini menjadi amat penting. Ia takut kehilangan pemuda itu, takut pemuda itu melarikan diri atau dilindungi orang lain. Juga ia ingin menguji sampai di mana pemuda itu dapat mempertahankan kejujuran dan kesetiaannya.

Ang I Moli tidak tahu bahwa sesungguhnya ia telah menemukan seorang pemuda yang luar biasa, yang berbeda dengan pemuda-pemuda lain. Di dalam batin Yo Han belum pernah terdapat pamrih yang bermacam-macam, bahkan dia tidak mengenal itu. Dia menghadapi segala sesuatu yang terjadi sebagai apa adanya, tidak pernah dia membuat gagasan atau rekaan macam-macam. Dia hanya melihat kenyataan yang ada untuk dihadapi secara spontan, tidak pernah membuat rencana dan akal demi kepentingan diri sendiri. Dia melihat kenyataan bahwa suhu dan subonya tidak menghendaki dia di rumah mereka, dengan alasan agar puteri mereka tidak sampat kelak meniru sikap dan pendiriannya. Dia tahu bahwa demi kebaikan keluarga suhunya, dia harus menyingkir, menjauhkan diri dari mereka. Karena itulah dia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan mereka yang sesungguhnya amat dia sayang. Kemudian, dia telah berjanji kepada Ang I Moli untuk mengikuti wanita itu sebagai muridnya, karena dia harus menyelamatkan Sian Li. Janjinya itu akan dipegangnya dengan teguh. Dia tidak akan melarikan diri karena dia pun sama sekali tidak pernah merasa takut kepada Ang I Moli. Dia belum mengenal benar orang macam apa adanya Ang I Moli, gurunya yang baru itu.

Bukan main senang dan lega rasa hati Ang I Moli yang membayangi Yo Han, ketika melihat bahwa sedikit pun anak itu tidak memperlihatkan sikap ingin melarikan diri. Dia mengumpulkan kayu bakar, kemudian menemukan sumber air dan mengisi pancinya penuh air, setelah itu dia kembali ke kuil tanpa ragu-ragu. Ketika Yo Han memasuki kuil, Ang I Moli tentu saja sudah lebih dahulu berada di tempat semula, duduk bersila sambil tersenyum manis.

“Aih, cepat juga engkau mendapatkan air dan mengumpulkan kayu kering, Yo Han,” pujinya, kemudian ia membantu muridnya membuat api unggun dan memasak air di panci.

Setelah roti dan daging kering dipanasi dengan uap air, mereka lalu makan roti dan daging yang sudah menjadi lunak dan juga hangat itu yang memang terasa jauh lebih enak daripada kala┬Á dimakan keras dan dingin. Dengan gembira sekali Ang I Moli makan roti dan daging kering minum arak, sedangkan Yo Han hanya minum air yang sudah dimatangkan.

Setelah makan kenyang, mereka duduk di dekat api unggun. Sementara itu, malam telah tiba dan api unggun itu amat menolong mereka mengusir nyamuk dan hawa dingin. Setelah duduk termenung di dekat api unggun, Yo Han mengeluh dan sambil mengangkat muka memandang wajah subonya yang sejak tadi memperhatikannya tanpa bicara, dia berkata, “Subo, sekarang aku merasa betapa aku kehilangan kitab-kitab itu. Biasanya, di waktu malam begini aku tentu membaca kitab. Akan tetapi sekarang, kitab-kitab itu jauh di rumah Suhu dan Subo, dan di sini aku tidak dapat membaca apa-apa.”

Wanita itu tersenyum. “Jangan kau khawatir, Yo Han. Setelah tiba di rumah, aku akan mencarikan kitab bacaan untukmu.”

“Subo mempunyai kitab-kitab bacaan?” Yo Han memandang dengan sinar mata gembira

“Akan kucarikan untukmu. Apa sih sukarnya mencari kitab-kitab, itu? Akan kucarikan sebanyaknya untukmu. Aku sayang kepadamu Yo Han, dan kuharap engkau pun sayang kepadaku dan akan menuruti semua keinginanku.”

“Subo baik kepadaku, mengapa aku tidak sayang? Dan tentu saja aku akan menuruti semua keinginan Subo. Subo, bolehkah aku tidur dulu? Perjalanan hari ini yang tidak melalui air lagi, berjalan kaki sehari penuh, amat melelahkan badan dan aku ingin tidur.” Yo Han lalu merebahkan dirinya miring di sudut ruangan itu, di seberang api unggun, terpisah dari subonya.

Ang I Moli tersenyum. “Yo Han, jangan lupa lagi. Apa yang harus kau lakukan sebelum tidur?”

Yo Han juga tersenyum, lalu bangkit dan membawa air ke bagian belakang kuil untuk membersihkan mulutnya. Pada malam pertama mereka melakukan perjalanan, masih berperahu, subonya yang baru ini telah memberi sebuah pelajaran tentang kebersihan kepadanya, yaitu keharusan membersihkan mulut sewaktu akan tidur.

”Lihat gigiku ini,” demikian kata subonya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi. “Belum ada sebuah pun yang rusak atau tanggal, padahal banyak orang seusiaku sudah hampir kehabisan giginya. Inilah hasil menjaga kebersihan. Bukan saja hasilnya gigi menjadi bersih dan utuh, juga kesehatanku menjadi baik karena hampir semua penyakit datangnya lewat mulut. Dan cara membersihkan mulut dan gigi yang paling baik adalah membersihkannya setiap kali hendak tidur. Hal ini harus menjadi kebiasaanmu sejak malam ini, Yo Han!” Demikianlah Ang I Moli memberi pelajaran tentang kesehatan dan kalau dia terlupa, seperti pada malam ini, Ang I Moli selalu memperingatkannya. Pelajaran kesehatan yang agaknya amat sederhana ini sesungguhnya menguntungkan sekali dan amat baiknya bagi Yo Han. Biasanya orang meremehkannya. Padahal, kebiasaan membersihkan mulut di waktu hendak tidur merupakan satu di antara usaha penjagaan kesehatan yang paling baik dan paling mudah!

Tak lama kemudian, Yo Han sudah tidur pulas di atas rumput kering. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi Ang I Moli sudah berpindah tempat di dekatnya dan kini wanita itu duduk bersila di sebelahnya, tiada hentinya mengamati wajahnya yang tidur nyenyak, di bawah sinar api unggun yang membuat wajahnya menjadi kemerahan.

Aku harus mulai sekarang juga, pikir wanita itu. Lebih cepat ia dapat menguasai Yo Han, lebih baik. Dengan lembut tangannya meraba wajah pemuda itu, membelai dagu dan leher, lalu membelai semua tubuh Yo Han. Pemuda remaja itu menggeliat dalam tidurnya dan Ang I Moli menarik tangannya. Anak ini amat luar biasa, pikirnya sambil menahan gairah yang sudah mulai membakar dirinya. Mungkin saja dia akan meholak keras, bahkan melawan dan tidak mau menyerah biar diancam bagaimanapun juga. Keberaniannya memang luar biasa. Kalau terjadi hal seperti itu, tentu amat merugikan dirinya. Kalau ia menggunakan paksaan, anak ini akan dapat mati sebelum ia memperoleh hasil yang memuaskan. Ia harus dapat menghisap kemurnian anak ini sedikit demi sedikit, tidak terasa oleh Yo Han. Ia akan memberi makanan dan minuman yang mengandung obat penguat badan dan akhirnya, semua hawa murni dan darah murni itu akan berpindah ke tubuhnya tanpa diketahui oleh pemuda remaja itu, atau kelak diketahui kalau sudah terlambat dan pemuda yang kehabisan darah dan hawa murni itu akan tewas pula. Dan ia akan mampu melatih diri dengan ilmu rahasia itu! Ia akan menjadi seorang yang sukar dicari tandingnya! Ia akan dapat merajai dunia persilatan dengan ilmunya itu.

Kembali ia mengamati wajah Yo Han yang masih tidur nyenyak. Ah, mengapa ia begitu bodoh? Kalau membujuk anak ini, agaknya ia akan gagal total. Anak ini bukan seorang anak yang mudah dibodohi atau dibujuk halus, atau pun yang mudah ditundukkan dengan ancaman atau siksaan. Padahal, ia menghendaki agar dia menyerahkan diri dengan suka rela! Dengan demikian maka hasilnya akan lebih baik lagi bagi dirinya. Dan satu-satunya jalan adalah menggunakan kekuatan sihirnya! Mengapa ia lupa akan kepandaiannya itu? Ia pernah mempelajari ilmu sihir dari Pek-lian-kauw dan ilmu sihirnya sudah lebih dari kuat untuk mempengaruhi seorang bocah! Orang dewasa pun kalau tidak memiliki sin-kang yang kuat akan mudah ia tundukkan dengan kekuatan sihirnya. Apalagi pemuda remaja yang lemah ini!

Ang I Moli yang duduk bersila menghadapi Yo Han itu lalu membuat guratan-guratan dengan telunjuk kanannya, kemudian mulutnya berkemak-kemik, matanya terpejam. Ia membaca semacam mantram untuk mulai mempergunakan ilmu sihirnya untuk menyihir dan menguasai semangat Yo Han yang masih tidur nyenyak. Setelah membaca mantram, ia lalu membuka kedua matanya yang mengeluarkan sinar aneh menatap wajah Yo Han, juga kedua tangannya kini digerakkan dengan aneh, jari tangannya terbuka seperti cakar, dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak, kedua tangan itu diputar-putar sekitar kepala dan tubuh Yo Han. Kembali mulutnya berkemak-kemik, kini mengeluarkan bisikan yang mendesis-desis.

“Yo Han, engkau sudah berada dalam kekuasaanku, seluruh semangat dan kemauanmu tunduk kepadaku. Kalau nanti engkau kusuruh bangun, engkau akan tunduk dan menyerah kepadaku penuh kepasrahan, engkau akan menganggap aku sebagai wanita paling cantik yang kaukasihi, engkau akan dibakar gairah berahi dan engkau akan menuruti segala kehendakku dengan gembira. Kemauanmu akan lemah dan lembut seperti domba, gairah berahimu akan bangkit setangkas harimau, engkau akan selalu berusaha untuk menyenangkan hatiku, dengan mentaati semua perintahku, hanya aku satu-satunya orang yang kaukasihi, kautaati....” Ia lalu menutup bisikan mendesis itu dengan tiupan dari mulutnya ke arah muka Yo Han tiga kali.

“Yo Han.... Yo Han.... Yo Han.... bangunlah engkau, sayang!” Ia mengguncang pundak pemuda itu, menggugahnya.

Yo Han adalah seorang anak yang memiliki kepekaan luar biasa. Sejak kecil, di waktu dia tidur, kalau ada sesuatu yang tidak wajar, sedikit suara saja sudah cukup menggugahnya dari tidur pulas. Begitu Ang I Moli menyentuh pundaknya dia pun terbangun, membuka kedua matanya, akan tetapi tidak seperti biasanya, dia tidak segera bangkit duduk, melainkan memandang ke depan kosong, seperti orang melamun seperti melihat sesuatu yang amat menarik hati.

Dan memang dia merasa melihat sesuatu yang amat aneh. Dia merasa seolah kaki tangannya terbelenggu, suaranya lenyap menjadi gagu, dan dirinya hanyut oleh gelombang samudera, semakin ke tengah dalam keadaan tidak berdaya sama sekali. Kemudian, dia merasa ada kekuatan yang menariknya ke tepi, bahkan dia seperti menunggang gelombang, makin dekat ke tepi, lalu kaki tangannya yang seperti terbelenggu itu terlepas bebas, mulutnya dapat bersuara lagi. Dia berenang sekuat tenaga ke tepi, dan berhasil mendarat di pantai.

“Apa.... apa yang terjadi padaku? Ya Tuhan, apa yang terjadi....?” suara ini pun seperti keluar dengan sendirinya, dari balik perasaan hatinya yang diliputi keheranan. Dan begitu dia menyebut nama Tuhan. Semua itu pun lenyap dan seperti orang bangkit dari mimpi buruk, dia kini duduk dan melihat bahwa di depannya duduk Ang I Moli yang bersila.

Melihat pemuda remaja itu telah bangun duduk, Ang I Moli tersenyum manis merasa yakin bahwa sihirnya telah mengena dan telah menguasai anak itu, walaupun ketika Yo Han menyebut Tuhan tadi hatinya merasa amat tidak enak.

“Yo Han, engkau sayang padaku, bukan?” Ia menguji.

Yo Han memandang wajah subonya dengan heran, lalu menjawab lirih, “Tentu saja aku sayang padamu, Subo. Kenapa Subo menanyakan hal itu dan membangunkan aku?”

“Hemm, anak tampan. Aku ingin engkau membuktikan kasih sayangmu padaku Nah, kesinilah, Yo Han, peluklah aku, ciumlah aku,” katanya dengan senyum memikat dan nada suara memerintah.

Akan tetapi, kini terjadi hal yang mengejutkan dan mengherankan hatinya! Anak itu tidak bergerak menuruti perintahnya, bahkan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan mata bersinar marah!

“Subo, apa artinya ini? Subo menyuruh aku melakukan sesuatu yang tidak patut!”

Tentu saja Ang I Moli terkejut. Bukankah sihirnya tadi amat kuat dan anak ini sudah berada di dalam cengkeraman ilmu sihirnya? Kenapa sekarang dia berani membantah dan menolak perintahnya

“Yo Han! Aku sayang padamu dan engkau pun sayang padaku. Apa salahnya kalau engkau memelukku dan menciumku untuk menyatakan kasih sayangmu itu?”

“Tapi aku bukan anak kecil lagi yang pantas dipeluk cium, Subo! Aku seorang pemuda yang sudah berusia dua belas tahun, menuju ke masa remaja!”

Kini Ang I Moli merasa penasaran bukan main. Semua ucapan Yo Han itu tidak menunjukkan bahwa dia berada di bawah pengaruh sihir! Semua jawabannya itu mengandung perlawanan, bukan ketaatan. Ia pun menguji lagi dan dengan suara nyaring mengandung perintah ia berseru,

“Yo Han, bangkitlah berdiri!”

Dan anak itu pun segera bangkit berdiri. Begitu taat!

“Tambahkan kayu pada api unggun!” perintahnya pula.

Tanpa menjawab sedikit pun tidak membantah, Yo Han menghampiri api unggun, memilih beberapa potong kayu bakar dan menambahkannya kepada api unggun sehingga api kini. membesar.

“Yo Han, sekarang duduklah kembali ke sini, di depanku!”

Sekali lagi, Yo Han mentaati perintah itu dan menghampiri subonya lalu duduk di depan subonya. Begitu taat dan sedikit pun tidak membantah. Mereka duduk bersila, berhadapan, dekat sekali sehingga Yo Han dapat mencium bau harum minyak bunga yang semerbak dari pakaian dan rambut wanita itu. Melihat betapa Yo Han selalu taat, Ang I Moli menjadi semakin heran dan penasaran. Kenapa sekarang anak itu begitu taat seolah sihirnya termakan olehnya?

“Yo Han, kau rabalah kedua pipiku dan daguku dengan kedua tanganmu,” kembali ia memerintah.

Yo Han hanya memandang heran saja, akan tetapi kedua tangannya bergerak dan dia pun meraba-raba kedua pipi yang halus dan dagu meruncing itu.

“Teruskan, raba leher dan dadaku....” kata pula Ang I Moli, kini suaranya mulai gemetar oleh bangkitnya, kembali gairahnya. Akan tetapi sekarang, kedua tangan itu bukan turun ke leher dan dadanya melainkan turun kembali ke atas pangkuan Yo Han. Anak itu sama sekali tidak melaksanakan perintahnya.

“Yo Han, aku perintahkan, cepat kauraba dan belai leher dan dadaku dengan kedua tanganmu!” ia mombentak, mengisi suaranya dengan kekuatan sihir sepenuhnya.

Namun, jangankan anak itu melaksanakan perintahnya, bahkan kini Yo Han memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh, heran dan juga penasaran.

“Subo, kenapa Subo mengeluarkan. perintah yang aneh-aneh? Maaf, aku tidak dapat memenuhi perintah itu.”

Barulah kini Ang I Moli terkejut. Jelas bahwa anak ini tidak berada di bawah pengaruh sihirnya! Tidak pernah! Kalau tadi nampak mentaati hanya karena taat yang wajar, bukan pengaruh sihir samasekali. Ia pun menjadi marah.

“Yo Han, bukankah engkau sudah berjanji akan semua perintahku? Kenapa sekarang engkau membantah dan tidak memenuhi perintahku yang sederhana dan mudah ini?”

“Subo, sudah kukatakan bahwa semua perintah Subo akan kutaati, kecuali kalau perintah itu untuk melakukan sesuatu yang jahat dan tidak benar. Perintah Subo itu tidak baik,karenanya m aka aku tidak mau melaksanakannya. Perintahkan aku mengerjakan yang pantas, betapa berat pun pasti akan kutaati, Subo.”

“Yo Han,” kini Ang I Moli ingin mendapatkan kepastian dan ia tidak mau membuang waktu sia-sia dengan membawa anak itu jauh-jauh ke tempat tinggalnya untuk kelak tidak tercapai pula maksudnya. “Engkau harus mentaati semua perintahku, kalau tidak, untuk apa aku mempunyai murid yang membandel dan membantah?”

“Untuk perintah yang tidak pantas, terpaksa aku menolak, Subo.”

Wanita itu yang sudah terbakar oleh gairah nafsunya sendiri, sama sekali tidak tahu bahwa Yo Han adalah seorang anak yang aneh, memiliki sesuatu dalam dirinya yang oleh manusia pada umumnya akan dianggap aneh. Dia tidak pernah mempelajari silat dengan latihan, kecuali hanya menghafal semua teorinya saja, dan dia tidak pernah belajar ilmu sihir. Namun, kekuatan sihir yang digunakan Ang I Moli terhadap dirinya, sama sekali tidak mempan, sama sekali tidak mempengaruhinya, hanya mendatangkan mimpi bahwa dia hampir dihanyutkan ombak samudera. Kekuatan sihir Ang I Moli bagaikan arus air sungai yang menerjang batu, mengguncang sedikit saja lalu lewat tanpa mampu menghanyutkan batu itu.

Karena kini merasa yakin bahwa anak itu tidak lagi dapat dipengaruhinya dengan sihir, Ang I Moli menjadi penasaran dan tidak sabar lagi. Ia lalu menanggalkan pakaian luarnya, begitu saja di depan mata Yo Han. Anak ini mula-mula memandang dengan mata terbelalak heran, akan tetapi pandang matanya lalu menunduk. ketika ia melihat tubuh subonya terbungkus pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang.

Melihat betapa agaknya anak itu tidak dapat dipengaruhi oleh kecantikan dan keindahan tubuhnya, maklum karena usianya pun baru dua belas tahun, belum dewasa, Ang I Moli lalu merangkul dan menciumi Yo Han. Diterkamnya anak itu bagaikan seekor harimau menerkam kelinci!

“Subo, apa, yang Subo lakukan ini? Subo, lepaskan aku! Ini tidak boleh, tidak benar, tidak baik....” Akan tetapi betapa pun dia meronta, tetap saja dia tidak berdaya menghindarkan diri. Yo Han kalah tenaga dan tidak mampu bergerak lagi ketika wanita itu menerkamnya sehingga dia terguling dan dia lalu ditindih, digeluti, didekap dan diciumi. Yo Han hanya dapat memejamkan matanya dan mulutnya berkemak-kemik dengan sendirinya.

“Ya Tuhan.... ya Allah.... ya Tuhan....” Dia hanya menyebut Tuhan berulang-ulang. Semenjak Yo Han mengenal akan kekuasaan Yang Maha Kuasa melalui bacaan kitab-kitab, dia yakin benar bahwa sumber segala kekuatan dan kekuasaan adalah SATU, TUNGGAL dan Maha Kuasa. Keyakinan ini yang membuat Yo Han secara otomatis menyebut Tuhan setiap kali terjadi sesuatu menimpa dirinya. Hal ini mungkin karena dia sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi sehingga dia dapat menyerahkan diri sepenuhnya dan seikhlasnya kepada Tuhan.

Bersambung ke buku 2