Jodoh Rajawali -19 | Kho Ping Hoo



Buku 19

Urusan yang menyangkut Sin-siauw Seng-jin merupakan rahasia besar bagi Si Raja Pengemis, akan tetapi karena dia percaya bahwa Raja Maling ini merupakan seorang gagah yang dapat dipercaya, maka tanpa banyak cakap lagi dia mengangguk.

“Nah, terus terang saja, aku pernah bentrok dengan kakek yang angkuh dan sombong itu dan aku telah kalah olehnya. Memang dia lihai bukan main dan betapapun aku berusaha, aku tidak pernah dapat menangkan kakek yang penuh rahasia itu.”

Sai-cu Kai-ong tersenyum. “Hal itu tidak aneh, Touw-ong. Aku sendiri pun tidak akan mampu menandinginya.”

“Dan aku merasa penasaran, bukan main,....“

“Ahhh, orang-orang macam kita ini, tua bangka-tua bangka yang sudah banyak makan garam dunia, masa masih harus merasa penasaran kalau dikalahkan orang? Engkau tentu tahu bahwa tidak ada orang terpandai di dunia ini” cela Si Raja Pengemis.

“Engkau benar. Akan tetapi entah bagaimana, aku merasa penasaran sekali. Lebih-lebih ketika aku mendengar betapa engkau mempercayakan seorang cucumu kepada kakek sombong itu untuk dididik! Kai-ong, engkau memang terlalu. Kalau hanya untuk mendidik cucumu saja, di dunia ini masih banyak sahabat-sahabat lainmu yang tidak sombong, dan termasuk aku yang tentu akan bersedia untuk menurunkan seluruh ilmu tak berharga yang ada padaku kepada cucumu. Akan tetapi, engkau justeru menyerahkan cucumu itu kepada kakek tekebur yang kubenci itu! Tentu saja aku menjadi makin penasaran saja.”

Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya. “Bagaimana engkau dapat berkata demikian, Touw-ong? Urusan keluarga adalah urusan kami sendiri dan kalau aku menyerahkan cucuku kepada Sin-siauw Seng-jin, hal itu tentu terjadi dengan suatu sebab dan alasan yang kuat. Kalau tidak demikian, apa kaukira aku malas untuk mendidik cucuku sendiri?”

Hek-sin Touw-ong mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Agaknya engkau benar pula. Akan tetapi ketika itu aku dibikin buta oleh perasaan penasaranku terhadap si suling sombong itu, maka aku tidak dapat berpikir jernih. Untuk melampiaskan kemarahan dan rasa penasaranku, aku lalu memasuki rumahnya dan.... kuculik cucumu itu, kubawa pergi!”

Terdengar teriakan nyaring dan Sai-cu Kai-ong sudah bangkit berdiri dari bangkunya, matanya melotot dan mukanya menjadi merah sekali. Mendengar teriakan nyaring tadi, Ang-siocia terkejut bukan main karena dia merasa betapa jantungnya tergetar hebat dan tentu dia sudah roboh kalau saja dia tidak cepat mengerahkan sinkangnya untuk melawan serangan suara yang luar biasa itu. Itulah Ilmu Sai-cu Ho-kang yang dikeluarkan oleh Sai-cu Kai-ong dalam kemarahannya.

“Hemmm, jadi kiranya engkaukah yang menculik cucuku itu?” Suara Raja Pengemis itu terdengar penuh ancaman dan kemarahan yang ditahan-tahan.

Akan tetapi Hek-sin Touw-ong masih bersikap tenang saja sungguhpun wajahnya berubah agak pucat. Dia mengangguk. “Benar, Kai-ong, akulah yang menculiknya, dan aku tidak menyesal karena aku menganggap anak itu seperti anakku atau cucuku sendiri, aku menurunkan seluruh ilmuku kepada muridku itu....“

“Suhu....!” Ang-siocia berteriak kaget mendengar ini. Sejak tadi dia mendengarkan saja tanpa mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang kakek itu. Akan tetapi, ucapan terakhir suhunya itu membuka matanya. Kiranya dialah anak kecil yang dipercakapkan itu. Dialah cucu Raja Pengemis ini yang dititipkan kepada Sin-siauw Seng-jin kemudian diculik oleh suhunya! Pantas saja suhunya rnengatakan bahwa yang dapat menceritakan semua keluarganya adalah Sai-cu Kai-ong yang ternyata adalah kakeknya sendiri!

“Dia.... dia ini Yu Hwim cucuku....? Tapi.... tapi....“ Sai-cu Kai-ong memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya pucat, suaranya gemetar karena keharuan yang mendalam.

“Maksudmu tahi lalatnya? Tahi lalat di dagu itu telah kuhilangkan dengan obat, dan dia pun hanya mengenal namanya sebagai Kang Swi Hwa, atau julukannya Ang-siocia murid Si Raja Maling.”

“Yu Hwi.... kau.... kau cucuku....“ Sai-cu Kai-ong berseru dan melangkah maju.

Kang Swi Hwa atau lebih tepat lagi Yu Hwi juga memandang kakeknya itu, yang agaknya merupakan satu-satunya keluarganya, maka dia pun lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. “Kong-kong....!”

“Yu Hwi.... ah, Yu Hwi....!” Kakek itu mengangkat dara itu dengan memegang kedua pundaknya, memandangi wajah itu. “Benar, benar...., engkaulah satu-satunya keturunan keluarga Yu kita.... wajah dan mulutmu serupa dengan mendiang ibumu, akan tetapi matamu.... ah, matamu adalah mata keturunan keluarga Yu....!”

Kakek itu merasa terharu sekali dan memeluk cucunya. Tak dapat menahan keharuan hatinya, Yu Hwi menangis.

Hek-sin Touw-ong tertegun. Baru sekarang dia merasa betapa dia telah melakukan suatu kesalahan besar. Dia melihat sekarang persamaan sinar mata kedua orang itu, dan dia merasa betapa dia telah membuat sahabatnya itu menderita hebat. Dia tidak mengira sama sekali bahwa sahabatnya itu pun baru belum lama ini mendengar tentang hilangnya Yu Hwi, baru setelah Sin-siauw Seng-jin menemuinya beberapa bulan yang lalu. Tadinya, Raja Pengemis itu mengira bahwa cucunya masih belajar pada Kakek Suling Sakti itu dalam keadaan sehat.

“Kai-ong, aku telah melakukan kesalahan besar padamu....!” Dia berkata dengan suara penuh kedukaan, bukan duka karena menyesali kesalahannya, melainkan duka melihat betapa muridnya yang dianggap sebagai keluarga sendiri itu kini benar-benar telah bertemu dengan keluarga aseli muridnya, dan baru terasa olehnya bahwa dia bukan apa-apa, bahwa dia adalah orang luar, tidak berhak terhadap diri muridnya itu, bahkan dia orang luar yang telah melakukan kesalahan terhadap keluarga Yu!

“Kau.... kau.... plakkk!” Tiba-tiba tangan kanan Sai-cu Kai-ong menampar pipi Hek-sin Touw-ong. Melihat ini, Yu Hwi terkejut bukan main. Akan tetapi yang ditampar masih berdiri dan menundukkan mukanya. Pipi kirinya menjadi merah sekali oleh tamparan itu. Kedua kakek itu saja yang tahu bahwa betapapun marahnya Si Raja Pengemis, namun dia tadi menampar tanpa mengerahkan tenaga sinkang, karena kalau hal itu dilakukannya, tentu yang ditamparnya sudah roboh dengan tulang pipi remuk! Dan juga, yang ditampar tadi sama sekali tidak mengelak, bahkan sama sekali tidak mengerahkan sinkang untuk melawan atau melindungi pipinya!

“Aku sudah layak kau tampar, bahkan kalau engkau hendak membunuhku sekalipun, Kai-ong, aku tidak akan melawan. Silakan!”

“Engkau tua bangka keparat!” Sai-cu Kai-ong membentak dan tangannya sudah bergerak lagi.

“Kong-kong, tahan....!” Tiba-tiba Yu Hwi berteriak dan dara ini sudah meloncat ke depan dan memegang lengan kakeknya. Kakeknya memutar tubuh dan menatap wajah cucunya dengan sinar mata penuh selidik.

“Kong-kong, biarlah aku yang mintakan ampun untuk Suhu!” Dara itu menjatuhkan diri berlutut. “Setelah aku mendengar riwayat itu, aku tahu bahwa Suhu bersalah besar kepada keluarga kita, terutama telah membuat Kong-kong menderita duka. Akan tetapi, selama ini, semenjak aku kecil, Suhu telah menjadi guruku, sahabatku, dan juga menjadi pengganti orang tuaku. Kalau Kong-kong mau menghukumnya, biarlah aku yang mewakilinya sebagai pembalas semua budi kebaikannya yang telah dilimpahkan kepadaku selama ini.”

Sai-cu Kai-ong berdiri tegak sambil menunduk, memandang kepala cucunya yang berlutut itu, dan Hek-sin Touw-ong juga berdiri dengan kepala tunduk, kelihatan terharu sekali. Hening sekali suasana di dalam ruangan itu setelah Yu Hwi menghentikan kata-katanya.

Tiba-tiba meledak suara ketawa bergelak yang memecahkan keheningan itu. Hek-sin Touw-ong mengangkat muka memandang, juga Yu Hwi memandang wajah kakeknya dengan penuh keheranan. Kakek itu tertawa bergelak, menghadapkan mukanya ke atas dan tertawa lagi.

“Ha-ha-ha! Bagus, bagus! Kiranya Hek-sin Touw-ong tidak mencemarkan namanya dan tetap terbukti sebagai seorang laki-laki sejati yang pandai mendidik. Touw-ong, aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Engkau telah mendidik Yu Hwi sebagaimana mestinya sehingga dia tetap menjadi seorang dara yang gagah perkasa, berjiwa pendekar, sungguh tidak memalukan sebagai keturunan terakhir keluarga Yu. Ha-ha-ha, kaumaafkanlah tamparanku sebagai ledakan kemarahanku tadi, Touw-ong!”

Hek-sin Touw-ong kini juga tertawa, akan tetapi ketika dia tertawa, ada dua titik air mata meloncat keluar dari sepasang matanya, dua titik air mata yang hinggap di pipi dan cepat dihapusnya dengan punggung tangannya. “Ha-ha-ha, engkau Raja Pengemis, jembel tua bangka yang menjemukan! Kau bilang menampar, akan tetapi sesungguhnya engkau hanya mengelus pipiku saja. Kalau engkau benar menampar, apakah mukaku yang buruk ini masih utuh sekarang? Ha-ha-ha, mengelabuhi anak sekalipun engkau tidak becus, Raja Pengemis! Sekarang hutangku telah impas, cucumu telah kukembalikan. Dan tentang si sombong Sin-siauw Seng-jin, sampaikan kepadanya bahwa aku mentertawakan dia, katakan bahwa akulah yang dulu mencuri muridnya dan kalau dia tidak terima, dia boleh mencariku. Rumahku tidak tersembunyi seperti rumahnya! Dan katakan lagi bahwa sekumpulan kitab-kitab palsunya telah dicuri orang, dan pencurinya adalah.... ha-ha-ha, cucumu inilah! Jangan heran, Kai-ong, cucumu ini adalah murid Hek-sin Touw-ong, maka jangankan hanya milik manusia macam Sin-siauw Sengjin, biar milik kaisar sekalipun dia sanggup untuk mencurinya tanpa diketahui sang pemilik! Dan kalau si suling sombong itu ingin mendapatkan kitab-kitab palsunya kembali, suruh dia mengambil di rumahku. Nah, aku sudah cukup bicara, dan di antara kita tidak ada hutang-pihutang lagi. Selamat tinggal, Kai-ong!”

Setelah berkata demikian, Hek-sin Touw-ong membalikkan tubuh dan melangkah keluar dengan langkah lebar, tanpa menoleh kepada Yu Hwi lagi.

“Suhu....!” Yu Hwi meloncat dan menghadang di depan suhunya. Kini tampak olehnya betapa muka suhunya itu basah oleh air mata yang masih menetes-netes dari kedua mata itu dan mengalir di sepanjang kedua pipi yang keriput.

“Suhu....!” Yu Hwi menjatuhkan diri berlutut dan menangis di depan kaki suhunya, memegangi tangan suhunya dengan perasaan penuh keharuan. Teringatlah dia akan semua kebaikan suhunya itu semenjak dia masih kecil sekali. Terasa benar olehnya kasih sayang gurunya ini kepadanya. Tahulah dia mengapa tadi suhunya pergi tanpa pamit, bahkan sama sekali tidak menoleh kepadanya. Kiranya suhunya merasa tidak kuat untuk berpamit padanya, dan suhunya hendak menyembunyikan kedukaan hatinya karena harus berpisah darinya, bukan hanya berpisah lahir, bahkan harus memutuskan hubungan karena kini dia sudah kembali kepada keluarganya, kepada kakeknya.

“Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan Suhu terhadap teecu, dan sampai mati teecu tidak akan melupakan budi kebaikan Suhu....“

“Swi Hwa, muridku, biarpun engkau adalah Yu Hwi cucu si Raja Pengemis, akan tetapi bagiku engkau tetap Kang Swi Hwa muridku. Engkau sekarang telah kembali kepada kakekmu, seorang gagah perkasa yang patut kaujunjung tinggi, patut kauhormati dan patut kautaati. Aku hanyalah seorang maling yang tidak berhak menjadi gurumu, dan aku telah melakukan kesalahan besar terhadap keluargamu. Akan tetapi, biarpun aku tidak mengharapkan lagi untuk kauingat, aku minta kepadamu, Swi Hwa, agar engkau mempergunakan semua ilmu yang pernah kuajarkan kepadamu untuk membela kebenaran dan keadilan. Nah, sudahlah, muridku, kita berpisah dan jangan ingat aku lagi.” Sebelum muridnya sempat menjawab, kakek itu telah berkelebat dan lenyap dari situ, melarikan diri dengan mengerahkan tenaga ginkangnya sehingga sebentar saja dia sudah jauh sekali.

“Suhu....!” Yu Hwi memekik dan hendak mengejar, akan tetapi sebuah tangan memegang pundaknya dengan lembut.

“Yu Hwi, belum pernah keturunan keluarga Yu memperlihatkan kelemahan! Apakah yang kekal di dunia ini? Pengikatan diri hanya merupakan sumber segala derita. Ada waktu berkumpul, pasti ada waktu berpisah.”

Ucapan yang keluar dari mulut kakek Raja Pengemis itu terdengar sedemikian penuh wibawa dan semangat sehingga Yu Hwi atau Kang Swi Hwa atau Ang-siocia seketika berdiri tegak dengan muka agak pucat akan tetapi matanya bersinar-sinar. Dia dapat merasakan kegagahan yang terpancar keluar dari sikap, kata-kata dan pandang mata kakeknya itu dan dia merasa bangga menjadi keturunan keluarga Yu.

Kebanggaan makin membesar dalam diri dara itu ketika kakeknya mengajaknya berkeliling ke dalam istana kuno itu dan mendengar penuturan kakeknya tentang kebesaran nama keluarga Yu, yaitu keluarga nenek moyangnya yang terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan. Kiranya dia bukanlah keturunan keluarga sembarangan, dan hatinya mengandung perasaan penasaran! Dia adalah keturunan keluarga Yu yang besar dan gagah perkasa, tidak kalah hebat dibandingkan dengan keluarga Pulau Es, keluarga dari Siluman Kecil!

“Yu Hwi, setelah engkau dapat kutemukan, kita harus cepat-cepat pergi menemui keluarga calon suamimu.”

Ucapan tenang dan lembut dari kakeknya itu mengejutkan hati Yu Hwi bukan kepalang. Namun dara ini dapat menekan perasaannya. Dia adalah keturunan keluarga besar, maka dia pun harus berjiwa besar dan berwatak gagah, tidak boleh memperlihatkan perasaan hatinya! Kenyataan bahwa dia adalah keturunan keluarga besar ini seketika telah mengubah sedikit watak Yu Hwi, mendatangkan semacam keangkuhan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya “besar”. Maka dengan kekuatan batinnya dia telah berhasil menindas perasaannya yang terkejut ketika mendengar ucapan kakeknya itu dan dia hanya memandang tajam kepada kakeknya. Suaranya terdengar tenang saja ketika dia bertanya.

“Calon suami? Apa yang kaumaksudkan, Kong-kong?”

Sikap Sai-cu Kai-ong juga tenang sekali dan diam-diam dia merasa girang melihat sikap cucunya. Benar-benar Si Raja Maling tidak mengecewakan, telah mendidik cucunya ini menjadi seorang dara yang gagah perkasa. Dia tersenyum dan memandang cucunya dengan wajah berseri.

“Yu Hwi, semenjak engkau masih bayi, engkau telah bertunangan. Dan jangan engkau khawatir atas keputusan yang diambil kakekmu ini. Tunanganmu itu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah keturunan dari keluarga yang jauh lebih besar dan gagah perkasa daripada keluarga kita malah! Dia adalah keturunan dari keluarga Pendekar Suling Emas, satu-satunya keturunan pendekar itu yang masih ada. Dan jangan kau khawatir, Kam-kongcu, calon suamimu itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, memiliki kepandaian silat yang amat tinggi karena dia mewarisi kepandaian nenek moyangnya, yaitu, Pendekar Suling Emas.”

Biarpun sikapnya masih tenang, namun sepasang alis yang hitam kecil itu berkerut. Tentu saja dia sama sekali tidak tertarik mendengar seorang pemuda bernama Kam-kongcu itu, biarpun kakeknya mengatakan betapa pemuda itu tampan dan gagah.

“Kong-kong, mengapa kau mengikat perjodohanku ketika aku masih seorang bayi? Bukankah perjodohan adalah urusan dua orang yang berhak memilih sendiri calon jodohnya sesuai dengan perasaannya?”

Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek menarik napas panjang. “Boleh jadi benar anggapanmu, cucuku. Akan tetapi di antara kita keluarga Yu dan keluarga Suling Emas, yaitu keluarga Kam, terdapat ikatan yang amat erat semenjak nenek moyang kita dahulu. Kebetulan sekali keturunan keluarga kita yang terakhir terlahir sebagai seorang wanita, yaitu engkau, dan keluarga Kam yang terlahir sebagai seorang pria. Oleh karena itu, atas persetujuan bersama, engkau kutunangkan dengan Kam-kongcu, sehingga dengan demikian, keturunan Yu biarpun akan putus karena tidak ada lagi keturunan laki-laki, namun keturunanmu akan menjadi keturunan keluarga Kam dan berarti keluarga kita tidak putus melainkan menggabungkan dengan keluarga Kam. Sungguh penggabungan yang amat baik dan mengharukan.” Suara kakek itu agak gemetar ketika mengatakan kalimat terakhir. Biarpun di dalam hatinya merasa tidak setuju dan tidak senang, namun sebagai keturunan keluarga “besar”, Yu Hwi hanya menunduk. Dia tahu bahwa janji seorang seperti kakeknya itu pasti tidak mungkin dapat ditarik kembali! Maka dia pun akan melihat dulu bagaimana keadaan tunangan itu, kalau kelak dia merasa tidak cocok, sampai bagaimanapun juga dia tidak akan tunduk dan menyerah begitu saja!

Sai-cu Kai-ong merasa girang bukan main ketika dia minta kepada cucunya untuk bersilat mempertunjukkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh cucunya itu dari Touw-ong. Dia merasa kagum melihat kehebatan Kiam-to Sin-ciang, dan lebih kagum sekali melihat kecepatan gerakan tangan cucunya yang memperlihatkan kemahiran ilmunya mencopet, kemudian tertegun melihat cucunya dapat “pian-hoa” (mengubah diri) menjadi orang lain dalam ilmu penyamarannya yang hebat!

“Ah, engkau telah menjadi seorang gadis yang lihai Yu Hwi. Dalam penggemblenganku sendiri, belum tentu engkau akan menjadi lihai seperti ini. Akan tetapi, engkau berhak untuk mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Yu kita, maka engkau harus menghafal semua ilmu itu untuk kemudian kau latih berlahan-lahan.”

Tentu saja Yu Hwi merasa girang sekali dan selama tiga hari tiga malam kakeknya menurunkan ilmu yang amat hebat, yaitu ilmu warisan keluarga Yu yang mengangkat nama keluarga itu selama puluhan, bahkan ratusan tahun, yaitu Ilmu Silat Khong-sim Sin-ciang, ilmu inti dari para raja pengemis perkumpulan Khong-sim Kai-pang! Setelah dara itu menghafal teori ilmu silat ini dengan baik, maka kakek itu lalu mengajaknya untuk pergi menemui tempat tinggal tunangannya!

Yu Hwi tidak membantah, dan jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika dia melakukan perjalanan dengan kakeknya menuju ke tempat tinggal calon suaminya, yang menurut kakeknya tinggal bersama Sin-siauw Seng-jin! Dia tidak pernah menyinggung nama tunangannya itu, akan tetapi mendengar nama Sin-siauw Seng-jin, dia berkata, “Apakah Kong-kong lupa akan pesan suhu? Aku pernah mencuri kumpulan kitab-kitab dari kakek suling sakti itu. Kalau dia mendengar itu dan melihatku, apakah dia tidak akan marah?”

Kakek itu tertawa. “Dia marah kepadamu? Ha-ha-ha, tidak mungkin cucuku. Dan dia tentu malah akan tertawa girang melihat kelihaianmu, apalagi kitab-kitab yang kaucuri itu hanya kitab-kitab palsu. Sudahlah, jangan khawatir. Kita akan menemui keluarga yang paling hebat dalam dunia ini, dan Sin-siauw Sengjin itu hanya merupakan keturunan dari pelayan saja dari keluarga tunanganmu!”

Diam-diam Yu Hwi terkejut sekali mendengar ini dan timbul keinginan hatinya untuk melihat seperti apakah gerangan macamnya orang yang menjadi calon suaminya itu sehingga kakek sakti Sin-siauw Seng-jin hanya merupakan keturunan pelayan dari keluarga pemuda itu!

Hari telah sore dan cuaca mulai gelap ketika akhirnya kakek dan cucu itu tiba di puncak sebuah bukit kecil yang kini menjadi tempat tinggal Sin-siauw Seng-jin dan para pengikutnya. Di puncak itu terdapat sebuah bangunan sederhana namun cukup besar dan kelihatan sunyi saja. Di sekeliling bangunan terdapat tanaman bermacam-macam sayur dan bunga-bunga, suasananya hening dan bersih sekali.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di depan rumah besar itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri menghadang seorang kakek bertubuh tinggi kurus yang memegang tongkat butut. Yu Hwi kagum melihat gerakan kakek ini yang memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi sehingga dapat bergerak secepat itu.

Sejenak kakek tinggi kurus itu memandang kepada Sai-cu Kai-ong dan Yu Hwi, akan tetapi segera sikapnya berubah ketika dia mengenal Sai-cu Kai-ong. Kalau tadinya dia bersikap galak dan angkuh, kini wajahnya tersenyum dan dia cepat membungkuk dengan hormat.

“Ah, kiranya Kai-ong yang berkenan datang berkunjung. Harap maafkan bahwa guru kami tidak mengetahui sebelumnya sehingga tidak sempat menyambut.”

“Ha-ha-ha, Gin-siauw Lo-jin, engkau makin tua makin gagah saja. Tak usah bersikap sungkan, lebih baik lekas beritahukan gurumu bahwa aku datang dan minta menghadap kepadanya karena urusan keluarga yang amat penting,” kata Sai-cu Kai-ong.

“Silakan Kai-ong masuk dan menanti di ruangan tamu, saya akan melaporkan kepada suhu, kata kakek itu sambil mempersilakan dua orang tamu itu masuk. Sai-cu Kai-ong mengangguk dan mengajak Yu Hwi masuk, kemudian mereka berdua duduk di sebuah ruangan yang lebar dan sederhana, sedangkan kakek bertongkat itu lalu mengangguk lagi dan meninggalkan mereka.

“Siapakah kakek lihai itu, Kong-kong? Kalau tidak salah, ketika Sin-siauw Seng-jin bertanding melawan Pendekar Siluman Kecil, aku pernah melihatnya,” bisik Yu Hwi yang masih kagum melihat kakek itu.

“Dia adalah Gin-siauw Lo-jin. Kaulihat, muridnya saja demikian lihai, apalagi gurunya! Dan selihai itu pun masih belum dapat menguasai ilmu-ilmu Pendekar Suling Emas dengan sempurna. Yang dapat menguasainya kelak tentu hanya Kam-kongcu, tunanganmu itu,” kata kakek itu dengan bangga sehingga makin tertarik hati Yu Hwi untuk melihat bagaimana tampangnya pemuda yang dipuji-puji kakeknya ini.

Terdengar suara orang tertawa halus dari arah pintu dalam dan muncullah seorang kakek tua renta yang bukan lain adalah Sin-siauw Seng-jin sendiri. Kakek ini nampak tua sekali dan begitu melihat tamunya, dia cepat menjura dengan dalam ke arah Sai-cu Kai-ong sambil berkata, “Ah, sungguh girang sekali mendapat kunjungan Kai-ong yang terhormat. Mengapa tidak memberi kabar lebih dulu sehingga kami dapat mengadakan penyambutan meriah?”

Sai-cu Kai-ong cepat bangkit dan membalas penghormatan sahabatnya itu, kemudian dia menjawab, “Kami datang secara tergesa-gesa, membawa berita yang amat penting dan tentu akan menggirangkan hati Seng-jin yang sudah tua.”

Kakek berambut putih itu memandang kepada Yu Hwi, dan Si Raja Pengemis tahu betapa sinar mata kakek itu nampak tertegun, kemudian sinar mata itu meneliti ke arah dagu cucunya, maka dia tertawa, “Ha-ha-ha, Seng-jin, engkau mencari tahi lalat di dagunya?” Dia teringat akan teguran Si Raja Maling kepadanya dan dia tertawa gembira.

Wajah kakek berambut putih itu berubah. “Apa maksudmu, Kai-ong?” Kini dia memandang kepada kakek raja pengemis itu penuh keheranan. Memang tadi dia tertegun melihat Yu Hwi, akan tetapi tentu saja terdapat perbedaan amat besar antara Yu Hwi belasan tahun yang lalu sebagai anak kecil dengan Yu Hwi sekarang yang telah menjadi seorang dara jelita yang sudah dewasa. Kalau dia tadi memandang tertegun, bukan karena dia melihat persamaan, seperti persamaan antara Yu Hwi dan mendiang ibu kandungnya yang dapat dikenal oleh Sai-cu Kai-ong, melainkan karena dia merasa heran mengapa sahabatnya itu datang membawa seorang gadis cantik yang sama sekali tidak dikenalnya. Maka, mendengar ucapan sahabatnya tentang tahi lalat di dagu, dia terkejut sekali.

“Maksudku, Seng-jin, bahwa yang berdiri di depanmu ini adalah Yu Hwi, cucuku yang dulu kutitipkan kepadamu kemudian hilang diculik orang.”

Mendengar ini, kakek berambut putih itu terkejut bukan main dan dia melangkah maju ke depan, mendekati Yu Hwi dan memandang makin teliti. “Ahhhhh.... terima kasih kepada Thian bahwa engkau akhirnya dapat ditemukan dalam keadaan selamat, anak yang baik!” katanya.

“Yu Hwi, lekas beri hormat kepada Sin-siauw Seng-jin, karena dia inilah sesungguhnya gurumu sebelum engkau dilarikan oleh gurumu yang sekarang.”

Biarpun hatinya meragu, apalagi mengingat bahwa dia telah mencuri kitab-kitab milik kakek sakti ini, namun Yu Hwi tidak berani membantah perintah kakeknya dan dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu.

Sin-siauw Seng-jin tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk. Dengan sikap lembut jari-jari tangannya meraba baju di punggung dara itu dan membetotnya. Ada tenaga kuat yang memaksa Yu Hwi bangkit berdiri lagi.

“Jangan banyak sungkan, Yu-siocia. Silakan duduk,” katanya lembut dan Yu Hwi merasa heran mendengar betapa di dalam suara itu terkandung penghormatan yang agak berlebihan, seolah-olah kakek itu merendahkan diri dengan menyebutnya Yu-siocia. Akan tetapi dia pun tidak banyak cakap dan duduk di atas bangku yang ditunjuk, yaitu di depan kakek rambut putih itu.

“Kai-ong yang baik, mengapa engkau tidak cepat-cepat memberi kabar kepadaku bahwa engkau telah menemukan kembali cucumu?” Sin-siauw Seng-jin menegur sahabatnya.

“Ketahuilah, Seng-jin, bahwa aku sendiri pun baru beberapa hari saja bertemu dengan cucuku, dan setelah menurunkan ilmu-ilmu keluarga kami, aku cepat mengajaknya menghadapmu di sini.”

“Ah, kalau begitu maafkan teguranku dan terima kasih atas perhatianmu, Kai-ong. Sekarang, coba kautolong beri tahu kepadaku, bagaimana engkau dapat menemukan cucumu ini? Siapakah yang menculiknya?”

Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang. “Inilah jadinya kalau kita yang sudah tua-tua ini selalu tidak mau kalah mengadu ilmu dengan orang lain. Apakah engkau ingat akan Hek-sin Touw-ong?”

“Ah, Si Raja Maling dari pantai Po-hai yang lihai itu?”

“Benar dia, dan pernahkah engkau bentrok dengan dia?”

Sin-siauw Seng-jin mengangguk-angguk. “Ah, aku masih menyesal sekali dengan peristiwa itu. Kami sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah sehingga akhirnya dengan menyesal aku terpaksa melukainya.... apa hubungannya dia dengan urusan ini?”

“Bukan hanya jasmaninya yang terluka, akan tetapi juga hatinya, Seng-jin. Karena merasa penasaran, apalagi ketika mendengar bahwa aku, sahabatnya yang akrab, menyerahkan cucuku untuk menjadi muridmu, hatinya menjadi panas sekali dan dialah yang menculik Yu Hwi, yang kemudian diangkat sebagai murid, bahkan dianggap sebagai anak sendiri dan dicintanya.”

“Ahhh....!” Wajah kakek tua itu berubah merah, akan tetapi kemarahannya itu segera meluntur. “Salahku sendiri.... semua sebab tentu berakibat....!”

“Engkau benar, tidak perlu kita merasa penasaran karena Si Raja Maling itu tidak berniat buruk terhadap Yu Hwi. Bahkan semua kepandaiannya telah diturunkannya kepada Yu Hwi dan cucuku dicinta seperti anak sendiri. Dan kau tahu apa yang dikatakannya kepadaku untuk disampaikan kepadamu? Bahkan kumpulan-kumpulan kitab palsumu telah dicuri orang, dan pencurinya adalah.... Yu Hwi sendiri!”

“Ahhh....?” Sin-siauw Seng-jin terbelalak memandang kepada Yu Hwi dan dara itu cepat menundukkan mukanya.

“Harap Locianpwe sudi memaafkan kekurangajaranku....“

Kakek tua renta itu tertawa pahit. “Aihhh, si maling itu sungguh tidak kepalang membalas sakit hatinya. Tidak, Yu-siocia, aku tidak marah dan sudah sepatutnya aku menerirna hajaran itu agar aku tidak lagi memandang rendah kepandaian orang lain.”

“Seng-jin, kenapa urusan penting dilupakan dan kita bicara urusan sendiri saja? Mana dia Kam-kongcu? Peristiwa yang amat menggembirakan ini harus kita saksikan, ha-ha-ha! Ingin aku melihat pertemuan antara dua orang calon pengantin yang amat cocok dan sama-sama elok, bukan? Lekas kau persilakan Kam-kongcu keluar!”

Sin-siauw Seng-jin tersenyum gembira dan mengangguk-angguk. “Wah, aku sudah pikun, Kai-ong. Dia tadi sedang tekun melatih sinkang bagian terakhir. Anak itu dengan cepat dapat menguasai ilmu-ilmu yang paling sukar dan kini sudah melampaui tingkatku. Semua ini berkat bimbinganmu, Kai-ong. Biar kupanggil dia.” Setelah berkata demikian, kakek itu menoleh ke kiri kemudian bibirnya bergerak mengeluarkan suara lirih, akan tetapi suara lirih ini menggetarkan jantung Yu Hwi yang merasa terkejut setengah mati dan cepat dia pun mengerahkan sinkang untuk menahan jantungnya agar tidak terguncang hebat oleh pengaruh khikang suara itu.

“Kam-kongcu, silakan keluar ke kamar tamu, di sini ada Suhumu dan tunanganmu!”

Suara itu lirih saja, akan tetapi mengandung getaran amat kuat dan agaknya getaran itu dapat menembus dinding. Hening sejenak setelah gema suara aneh itu lenyap, kemudian lapat-dapat terdengar bisikan yang lirih pula akan tetapi terdengar jelas oleh Yu Hwi.

“Aku datang, Locianpwe....!”

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang halus dari pintu samping ruangan tamu itu. Jantung di dalam dada Yu Hwi berdebar tegang. Kalau dia menurunkan bisikan hatinya yang biasanya wajar, polos dan lincah, tentu dia akan memandang ke arah pintu itu untuk cepat melihat seperti apa gerangan Kam-kongcu yang dikatakan sebagai tunangan atau calon suaminya itu. Namun, mengingat bahwa dia adalah keturunan keluarga Yu yang “besar”, maka dia menekan perasaan hatinya dan hanya menundukkan mukanya tanpa menoleh. Terasa oleh dia betapa detak jantungnya seperti hendak memecahkan rongga dadanya!

Bukan hanya Yu Hwi saja yang terserang semacam “penyakit”, yaitu kehilangan kebebasan dan kewajaran begitu dia “menempel” kepada sesuatu yang lebih besar atau yang dianggap lebih besar daripada dirinya sendiri. Yu Hwi tadinya adalah seorang dara yang bebas dan wajar, polos dan tidak berpura-pura, hidup lincah gembira tanpa adanya penghalang apa pun. Akan tetapi, begitu dia merasa bahwa dia adalah keturunan keluarga “besar”, maka dia menyamakan diri dengan kebesaran nama keluarga itu dan merasa dirinya besar pula, dan begitu dia merasa dirinya besar, lenyaplah kewajaran dan kebebasannya karena yang besar itu tentu mempunyai sifat-sifat besar tersendiri pula! Bukan hanya Yu Hwi yang terserang penyakit itu, melainkan kita pada umumnya pun demikian! Dapat kita lihat di dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita mau membuka mata melihat kanan kiri, depan belakang dan terutama sekali melihat ke dalam diri sendiri, melihat batin sendiri. Betapa kita hidup dalam alam kepalsuan! Betapa kita memaksa diri untuk berpura-pura, berpalsu-palsu, semua itu hanya karena ingin “menyesuaikan diri” dengan kesopanan, dengan kebudayaan, dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya. Padahal, apa yang dinamakan kesopanan itu sesungguhnya tidak sopan lagi kalau dilakukan dengan pura-pura, dengan paksaan. Apakah artinya senyum di bibir kalau di dalam hati kita mencibir atau menangis? Apakah artinya sikap sopan di lahir kalau di batin kita memandang rendah? Apakah gunanya sikap ramah dan suka kalau di dalam hati kita membenci? Dan semua keadaan yang bertentangan ini terjadi setiap hari, setiap saat, di dalam kehidupan manusia di seluruh dunia! Kita kehilangan kewajaran, kehilangan kebebasan, karena kita INGIN DIANGGAP BAIK, kita ingin dianggap sopan, dianggap ramah, maka kita mengejar anggapan itu dengan menggunakan kedok palsu dari kesopanan, keramahan, kebaikan dan selanjutnya! Betapa menyedihkan hal ini! Betapa munafik dan palsunya kita ini. Dapatkah kita hidup tanpa kepalsuan ini, dengan kesopanan yang tidak dibuat-buat, keramahan yang wajar dan tulus, senyum yang memancarkan cahaya kegembiraan dari hati, bukan sekedar usaha agar kita dianggap baik belaka? Dapatkah? Pertanyaan ini amat penting artinya bagi kita kalau kita ingir mengenal dan menyelidiki diri sendiri.

Biarpun sepasang mata Yu Hwi tidak menoleh, namun pendengaran telinganya dapat menangkap setiap gerakan dari orang yang memasuki ruangan itu. Langkah-langkah yang halus dan tetap, tidak tergesa-gesa, gerakan yang lembut.

“Suhu! Teecu girang sekali melihat kedatangan Suhu, dan teecu menghaturkan hormat kepada Suhu!” terdengar suara seorang pria dan hati dara itu tersentak kaget karena dia merasa seperti sudah mengenal suara itu dengan baik sekali. Akan tetapi “kesopanan” masih membuat dia memaksa diri menundukkan muka, sama sekali tidak berani mengerling ke arah pria yang kini berlutut tak jauh di sebelah kiri bangku yang didudukinya itu. Dia hanya dapat melihat baju yang sederhana di pundak yang lebar.

Biarpun hatinya meragu, apalagi mengingat bahwa dia telah mencuri kitab-kitab milik kakek sakti ini, namun Yu Hwi tidak berani membantah perintah kakeknya dan dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu.

Sin-siauw Seng-jin tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk. Dengan sikap lembut jari-jari tangannya meraba baju di punggung dara itu dan membetotnya. Ada tenaga kuat yang memaksa Yu Hwi bangkit berdiri lagi.

“Jangan banyak sungkan, Yu-siocia. Silakan duduk,” katanya lembut dan Yu Hwi merasa heran mendengar betapa di dalam suara itu terkandung penghormatan yang agak berlebihan, seolah-olah kakek itu merendahkan diri dengan menyebutnya Yu-siocia. Akan tetapi dia pun tidak banyak cakap dan duduk di atas bangku yang ditunjuk, yaitu di depan kakek rambut putih itu.

“Kai-ong yang baik, mengapa engkau tidak cepat-cepat memberi kabar kepadaku bahwa engkau telah menemukan kembali cucumu?” Sin-siauw Seng-jin menegur sahabatnya.

“Ketahuilah, Seng-jin, bahwa aku sendiri pun baru beberapa hari saja bertemu dengan cucuku, dan setelah menurunkan ilmu-ilmu keluarga kami, aku cepat mengajaknya menghadapmu di sini.”

“Ah, kalau begitu maafkan teguranku dan terima kasih atas perhatianmu, Kai-ong. Sekarang, coba kautolong beri tahu kepadaku, bagaimana engkau dapat menemukan cucumu ini? Siapakah yang menculiknya?”

Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang. “Inilah jadinya kalau kita yang sudah tua-tua ini selalu tidak mau kalah mengadu ilmu dengan orang lain. Apakah engkau ingat akan Hek-sin Touw-ong?”

“Ah, Si Raja Maling dari pantai Po-hai yang lihai itu?”

“Benar dia, dan pernahkah engkau bentrok dengan dia?”

Sin-siauw Seng-jin mengangguk-angguk. “Ah, aku masih menyesal sekali dengan peristiwa itu. Kami sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah sehingga akhirnya dengan menyesal aku terpaksa melukainya.... apa hubungannya dia dengan urusan ini?”

“Bukan hanya jasmaninya yang terluka, akan tetapi juga hatinya, Seng-jin. Karena merasa penasaran, apalagi ketika mendengar bahwa aku, sahabatnya yang akrab, menyerahkan cucuku untuk menjadi muridmu, hatinya menjadi panas sekali dan dialah yang menculik Yu Hwi, yang kemudian diangkat sebagai murid, bahkan dianggap sebagai anak sendiri dan dicintanya.”

“Ahhh....!” Wajah kakek tua itu berubah merah, akan tetapi kemarahannya itu segera meluntur. “Salahku sendiri.... semua sebab tentu berakibat....!”

“Engkau benar, tidak perlu kita merasa penasaran karena Si Raja Maling itu tidak berniat buruk terhadap Yu Hwi. Bahkan semua kepandaiannya telah diturunkannya kepada Yu Hwi dan cucuku dicinta seperti anak sendiri. Dan kau tahu apa yang dikatakannya kepadaku untuk disampaikan kepadamu? Bahkan kumpulan-kumpulan kitab palsumu telah dicuri orang, dan pencurinya adalah.... Yu Hwi sendiri!”

“Ahhh....?” Sin-siauw Seng-jin terbelalak memandang kepada Yu Hwi dan dara itu cepat menundukkan mukanya.

“Harap Locianpwe sudi memaafkan kekurangajaranku....“

Kakek tua renta itu tertawa pahit. “Aihhh, si maling itu sungguh tidak kepalang membalas sakit hatinya. Tidak, Yu-siocia, aku tidak marah dan sudah sepatutnya aku menerirna hajaran itu agar aku tidak lagi memandang rendah kepandaian orang lain.”

“Seng-jin, kenapa urusan penting dilupakan dan kita bicara urusan sendiri saja? Mana dia Kam-kongcu? Peristiwa yang amat menggembirakan ini harus kita saksikan, ha-ha-ha! Ingin aku melihat pertemuan antara dua orang calon pengantin yang amat cocok dan sama-sama elok, bukan? Lekas kau persilakan Kam-kongcu keluar!”

Sin-siauw Seng-jin tersenyum gembira dan mengangguk-angguk. “Wah, aku sudah pikun, Kai-ong. Dia tadi sedang tekun melatih sinkang bagian terakhir. Anak itu dengan cepat dapat menguasai ilmu-ilmu yang paling sukar dan kini sudah melampaui tingkatku. Semua ini berkat bimbinganmu, Kai-ong. Biar kupanggil dia.” Setelah berkata demikian, kakek itu menoleh ke kiri kemudian bibirnya bergerak mengeluarkan suara lirih, akan tetapi suara lirih ini menggetarkan jantung Yu Hwi yang merasa terkejut setengah mati dan cepat dia pun mengerahkan sinkang untuk menahan jantungnya agar tidak terguncang hebat oleh pengaruh khikang suara itu.

“Kam-kongcu, silakan keluar ke kamar tamu, di sini ada Suhumu dan tunanganmu!”

Suara itu lirih saja, akan tetapi mengandung getaran amat kuat dan agaknya getaran itu dapat menembus dinding. Hening sejenak setelah gema suara aneh itu lenyap, kemudian lapat-dapat terdengar bisikan yang lirih pula akan tetapi terdengar jelas oleh Yu Hwi.

“Aku datang, Locianpwe....!”

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang halus dari pintu samping ruangan tamu itu. Jantung di dalam dada Yu Hwi berdebar tegang. Kalau dia menurunkan bisikan hatinya yang biasanya wajar, polos dan lincah, tentu dia akan memandang ke arah pintu itu untuk cepat melihat seperti apa gerangan Kam-kongcu yang dikatakan sebagai tunangan atau calon suaminya itu. Namun, mengingat bahwa dia adalah keturunan keluarga Yu yang “besar”, maka dia menekan perasaan hatinya dan hanya menundukkan mukanya tanpa menoleh. Terasa oleh dia betapa detak jantungnya seperti hendak memecahkan rongga dadanya!

Bukan hanya Yu Hwi saja yang terserang semacam “penyakit”, yaitu kehilangan kebebasan dan kewajaran begitu dia “menempel” kepada sesuatu yang lebih besar atau yang dianggap lebih besar daripada dirinya sendiri. Yu Hwi tadinya adalah seorang dara yang bebas dan wajar, polos dan tidak berpura-pura, hidup lincah gembira tanpa adanya penghalang apa pun. Akan tetapi, begitu dia merasa bahwa dia adalah keturunan keluarga “besar”, maka dia menyamakan diri dengan kebesaran nama keluarga itu dan merasa dirinya besar pula, dan begitu dia merasa dirinya besar, lenyaplah kewajaran dan kebebasannya karena yang besar itu tentu mempunyai sifat-sifat besar tersendiri pula! Bukan hanya Yu Hwi yang terserang penyakit itu, melainkan kita pada umumnya pun demikian! Dapat kita lihat di dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita mau membuka mata melihat kanan kiri, depan belakang dan terutama sekali melihat ke dalam diri sendiri, melihat batin sendiri. Betapa kita hidup dalam alam kepalsuan! Betapa kita memaksa diri untuk berpura-pura, berpalsu-palsu, semua itu hanya karena ingin “menyesuaikan diri” dengan kesopanan, dengan kebudayaan, dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya. Padahal, apa yang dinamakan kesopanan itu sesungguhnya tidak sopan lagi kalau dilakukan dengan pura-pura, dengan paksaan. Apakah artinya senyum di bibir kalau di dalam hati kita mencibir atau menangis? Apakah artinya sikap sopan di lahir kalau di batin kita memandang rendah? Apakah gunanya sikap ramah dan suka kalau di dalam hati kita membenci? Dan semua keadaan yang bertentangan ini terjadi setiap hari, setiap saat, di dalam kehidupan manusia di seluruh dunia! Kita kehilangan kewajaran, kehilangan kebebasan, karena kita INGIN DIANGGAP BAIK, kita ingin dianggap sopan, dianggap ramah, maka kita mengejar anggapan itu dengan menggunakan kedok palsu dari kesopanan, keramahan, kebaikan dan selanjutnya! Betapa menyedihkan hal ini! Betapa munafik dan palsunya kita ini. Dapatkah kita hidup tanpa kepalsuan ini, dengan kesopanan yang tidak dibuat-buat, keramahan yang wajar dan tulus, senyum yang memancarkan cahaya kegembiraan dari hati, bukan sekedar usaha agar kita dianggap baik belaka? Dapatkah? Pertanyaan ini amat penting artinya bagi kita kalau kita ingir mengenal dan menyelidiki diri sendiri.

Biarpun sepasang mata Yu Hwi tidak menoleh, namun pendengaran telinganya dapat menangkap setiap gerakan dari orang yang memasuki ruangan itu. Langkah-langkah yang halus dan tetap, tidak tergesa-gesa, gerakan yang lembut.

“Suhu! Teecu girang sekali melihat kedatangan Suhu, dan teecu menghaturkan hormat kepada Suhu!” terdengar suara seorang pria dan hati dara itu tersentak kaget karena dia merasa seperti sudah mengenal suara itu dengan baik sekali. Akan tetapi “kesopanan” masih membuat dia memaksa diri menundukkan muka, sama sekali tidak berani mengerling ke arah pria yang kini berlutut tak jauh di sebelah kiri bangku yang didudukinya itu. Dia hanya dapat melihat baju yang sederhana di pundak yang lebar.

Pertanyaan ini mengganggu hati Kam Hong yang mencari sampai semalam suntuk tanpa hasil. Pemuda ini merasa khawatir bukan main. Padahal dia telah mempergunakan ilmu ginkangnya yang membuat dia dapat berlari seperti terbang cepatnya. Sudah dijelajahinya seluruh daerah itu, sudah dikejarnya ke empat penjuru, namun dia tidak berhasil menemukan jejak dara yang telah menggerakkan hatinya semenjak peristiwa pembukaan rahasia itu, dara yang ternyata adalah tunangannya, calon isterinya sendiri! Berbagai perasaan mengaduk di hati Kam Hong. Diam-diam ada perasaan bahagia yang luar biasa oleh kenyataan bahwa tunangannya, calon isterinya yang dipilihkan oleh Sin-siauw Seng-jin dan Sai-cu Kai-ong, adalah justeru gadis yang selama ini tak pernah dapat dilupakannya itu! Akan tetapi, perasaan bahagia ini mulai berubah menjadi perasaan gelisah ketika dia tidak berhasil menyusul dan menemukan Yu Hwi. Padahal, dalam hal ilmu berlari cepat, dia menang jauh dibandingkan dengan dara itu. Tidak mungkin rasanya dara itu dapat berlari sedemikian cepatnya sehingga dia tidak mampu menyusulnya. Dia merasa cemas sekali karena menduga tentu telah terjadi sesuatu atas diri tunangannya itu.

Maka, Kam Hong mengambil keputusan untuk mencari terus sampai dia dapat menemukan Yu Hwi dan tidak akan pulang ke tempat tinggal Sin-siauw Seng-jin sebelum dia dapat menemukan Yu Hwi.

Dan mengingat bahwa cerita ini masih panjang, dan akan terlalu panjang kalau harus mengikuti perjalanan Yu Hwi dan Kam Hong, maka terpaksa dua orang muda ini kita tinggalkan, dan cerita tentang mereka akan dapat diketahui dalam sebuah cerita terpisah yang akan terbit kemudian, merupakan sambungan atau juga cabang dari cerita Jodoh Sepasang Rajawali ini. Cerita tentang Kam Hong dan Yu Hwi akan merupakan sebuah cerita sendiri, karena keturunan terakhir dari Pendekar Suling Emas dan dari keluarga Raja Pengemis Yu itu akan mengalami hal-hal yang amat hebat. Dan kini kita mengikuti perjalanan tokoh-tokoh lainnya dari cerita ini, yaitu tokoh-tokoh utamanya.

***

Tek Hoat rebah dengan kedua mata terpejam di atas pembaringan dalam kamar yang bersih dan indah itu. Orang yang sudah mengenalnya tentu akan terkejut sekali kalau melihat wajahnya pada saat itu. Wajahnya pucat dan kurus sekali sehingga sepasang alisnya yang tebal itu nampak lebih hitam lagi. Kerut-merut di antara kedua alisnya membayangkan kedukaan besar yang agaknya menindih perasaan pemuda perkasa ini. Rambutnya yang dikuncir itu agak awut-awutan dan tubuhnya tertutup selimut tebal.

Dua orang pelayan wanita muda yang cantik duduk di atas lantai, di depan pembaringan. Mereka adalah pelayan-pelayan yang menjaga, bergiliran dengan pelayan-pelayan lain. Pemuda yang sedang menderita sakit ini selalu dijaga secara bergilir dan pada saat-saat tertentu pelayan menyuapkan obat dan makanan ke dalam mulut pemuda itu yang menerima segala perawatan tanpa pernah bicara atau membantah, bahkan jarang membuka mata. Dia hanya rebahan seperti orang tidur, kadang-kadang berbisik-bisik, kadang-kadang mengeluh bahkan tidak jarang ada pelayan melihat air mata berlinang dan menitik turun ke atas pipi yang pucat dan cekung itu.

Sebetulnya semua luka-luka yang diderita oleh Tek Hoat akibat pertempuran menghadapi para pemberontak itu telah dapat disembuhkan sama sekali oleh ahli-ahli pengobatan Kerajaan Bhutan. Akan tetapi luka di hatinya yang sukar disembuhkan. Para tabib itu merasa khawatir juga. Pemuda itu kelihatan linglung tidak pernah dapat sadar sama sekali dan selalu murung, seperti orang yang putus harapan.

Para pelayan wanita itu, yang sebagian besar merupakan bekas pelayan-pelayan dari Puteri Syanti Dewi, merasa terharu kalau mendengar betapa dalam igauannya, pemuda itu sering kali menyebut-nyebut nama Syanti Dewi. Mereka semua tahu belaka bahwa pemuda ini adalah bekas tunangan sang puteri dan betapa pemuda ini pernah terusir dari Bhutan tanpa salah, betapa kemudian sang puteri juga lolos dari istana untuk mencari pemuda kekasihnya ini. Mereka tahu bahwa ada hubungan cinta kasih mendalam antara pemuda perkasa ini dan sang puteri, dan bahwa pemuda ini jatuh sakit seperti orang linglung karena menyangka bahwa sang puteri telah bermain gila dengan Mohinta, kemudian melihat sang puteri tewas tanpa mengetahuinya bahwa yang tewas dan bermain gila dengan Mohinta itu bukanlah Syanti Dewi yang aseli!

Tiba-tiba terdengar suara pengawal di luar pintu kamar dan dua orang pelayan itu cepat berlutut. Raja Bhutan sendiri dengan dua orang tabib dan dikawal beberapa orang pengawal, diiringkan pula oleh Panglima Jayin, memasuki kamar itu. Sang raja mendekati pembaringan, memandang wajah pemuda itu, lalu menarik napas panjang.

“Kasihan....“ keluhnya, lalu dia menoleh kepada dua orang tabib tua itu. “Bagaimana harapannya?”

Dua orang tabib itu saling pandang, kelihatan was-was, kemudian seorang di antara mereka berkata, “Hamba berdua telah berdaya sekuat tenaga, Sri baginda. Hamba telah membersihkan darahnya sehingga tidak membahayakan keselamatan tubuhnya, akan tetapi.... penyakitnya bukan menyerang badan, melainkan batin dan hal ini amat sukar diatasi dengan obat. Perasaan kecewa yang besar dan kedukaan yang hebat telah meracuni jantungnya.”

“Hemmm....“ Sang raja mengusap jenggotnya. “Kalian maksudkan ada hubungannya dengan sang puteri?”

Tabib itu mengangguk. “Kiranya begitulah. Melihat semua peristiwa yang terjadi atas diri wanita yang disangkanya sang puteri, terutama melihat wanita itu tewas, telah mendatangkan guncangan yang amat hebat.”

Raja Bhutan mengerutkan alisnya dan diam-diam dia merasa menyesal sekali. Kini telah terbukti bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan setia, memang patut sekali menjadi mantunya, dan pemuda ini amat mencinta Syanti Dewi. Dia merasa menyesal pernah berusaha memisahkan dua orang muda itu dan sekarang akibatnya, Syanti Dewi masih belum dapat ditemukan dan pemuda ini yang sudah dua kali berjasa terhadap Bhutan, kini rebah dalam keadaan sakit hebat.

“Bagaimana kalau dia diberi tahu bahwa Syanti Dewi masih hidup?” Akhirnya dia bertanya.

“Memang, guncangan itu kiranya dapat disembuhkan dengan guncangan lain yang amat berpengaruh terhadap batinnya, Sri baginda. Akan tetapi hamba juga khawatir kalau-kalau guncangan lain itu bahkan akan mengakibatkan hal yaAg lebih parah lagi.”

“Dapat menewaskannya....?”

“Mungkin saja.”

“Hemmm, kalau begitu amat berbahaya. Biarlah saja dulu, tak usah diberi tahu sampai kita berhasil menemukan Syanti Dewi. Panglima Jayin, bagaimana dengan usahamu menyelidiki sang puteri?”

Panglima Jayin memberi hormat. “Hamba sudah mengerahkan para penyelidik yang terpandai. Ada kabar baik, Sri Baginda. Ada kabar bahwa Sang Puteri Syanti Dewi diberitakan berada di sebuah pulau pada beberapa tahun yang lalu, akan tetapi beliau sudah meninggalkan pulau itu. Para penyelidik sedang melanjutkan penyelidikannya. Setidaknya hasil penyelidikan itu membuktikan bahwa sang puteri memang masih dalam keadaan sehat.”

Raja Bhutan itu mengangguk-angguk, lalu mengomel, “Itulah susahnya kalau wanita diberi pelajaran silat. Jayin, mulai sekarang umumkan di seluruh Bhutan bahwa dilarang mengajarkan ilnmu silat kepada kaum wanita!”

Panglima Jayin merasa geli oleh perintah ini, namun dengan wajah bersungguh-sungguh dia mengambil sikap tegak dan menjawab, “Baik, Sri baginda!”

Setelah memandang sekali lagi wajah pemuda itu, Raja Bhutan lalu keluar dari dalam kamar, diiringkan oleh Panglima Jayin, para tabib dan para pengawal. Dua orang pelayan tadi masih duduk di dalam kamar, di depan pembaringan setelah menutupkan kembali pintu kamar.

Tidak ada seorang pun yang melihatnya, juga Panglima Jayin yang lihai itu tidak dapat melihat betapa ada bayangan yang amat cepat berkelebat di atas genteng kamar itu. Bayangan itu berkelebat seperti setan saja saking cepatnya, demikian ringan seperti seekor kucing yang berlompatan di atas genteng. Setelah rombongan raja itu meninggalkan kamar, bayangan yang amat ringan dan cepat gerakannya itu melayang turun lalu meloncat ke depan pintu kamar Tek Hoat. Dengan amat hati-hati sebuah tangan dengan jari-jari runcing kecil dan halus kulitnya itu membuka pintu mengintai ke dalam, kemudian, daun pintu kamar itu dibukanya dan secepat kilat tubuhnya melayang ke dalam. Gerakannya itu sedemikian ringannya sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa dan dua orang pelayan wanita yang duduk di atas lantai menghadapi pembaringan itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan tidak menengok. Tiba-tiba mereka itu mengeluh dan roboh terguling, pingsan dan tidak sempat melihat siapa orangnya yang menyerang mereka, bahkan tidak tahu apa yang terjadi karena serangan dengan totokan kedua tangan ke arah tengkuk yang membuat mereka pingsan itu demikian luar biasa cepatnya.

Bayangan itu bukan lain adalah Syanti Dewi! Seperti telah kita ketahui, puteri Bhutan yang cantik jetita ini telah melarikan diri dari Kim-coa-to karena jijik melihat kenyataan betapa gurunya, yaitu Ouw Yan Hui, dan Maya Dewi si nenek India ahli kecantikan itu melakukan perbuatan-perbuatan mengerikan, yaitu suka berjina dengan sesama wanita. Sang puteri melarikan diri dengan perahu dan kini dia telah berubah menjadi seorang wanita yang luar biasa cantiknya berkat ramuan obat yang diberikan oleh Maya Dewi. Di samping kecantikan yang luar biasa, bagaikan batu permata yang sudah digosok, dia pun kini memiliki kepandaian istimewa, terutama sekali ilmu ginkang yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang cepatnya!

Dengan kepandaiannya yang hebat itu, Syanti Dewi cepat menuju ke Bhutan.

Dia sudah merasa rindu kepada kampung halaman, dan merasa berdosa telah meninggalkan ayah bundanya di Kerajaan Bhutan. Apalagi ketika dia mendengar berita yang didapatnya di sepanjang jalan bahwa di Bhutan terjadi pemberontakan dan bahwa hampir saja Raja Bhutan menjadi korban, dia mempercepat perjalanannya menuju ke Bhutan. Setelah tiba di daerah Bhutan, berita yang didapatnya lebih mengejutkan hatinya karena berita ini menyatakan betapa dalam keadaan bahaya besar bagi ayahnya dan Kerajaan Bhutan itu, kernbali muncul Ang Tek Hoat sebagai pahlawan dan penolong! Akan tetapi, hatinya merasa gelisah bukan main ketika mendengar bahwa pemuda itu luka-luka parah dan kini rebah di istana dalam keadaan menderita sakit berat.

Syanti Dewi mendengar pula akan adanya wanita yang memalsu dirinya, dan betapa pemberontakan itu dipimpin oleh Mohinta yang telah tewas. Semua ini mendatangkan tanda tanya besar baginya dan dia tidak mau memasuki Bhutan secara terang-terangan, melainkan memasuki daerah istana itu setelah malam tiba. Bahkan dia bersembunyi di atas genteng ketika melihat rombongan ayahnya memasuki kamar Tek Hoat, dan mendengarkan percakapan mereka tanpa diketahui seorang pun. Dengan kepandaiannya yang sekarang, hal ini dapat mudah dilakukannya karena semua gerakannya sedemikian ringan dan tidak menimbulkan suara sedikit pun. Setelah ayahnya dan rombongan ayahnya meninggalkan kamar itu, sejenak dia berdiam dengan hati terguncang hebat. Apa yang didengarnya antara percakapan ayahnya dengan Panglima Jayin dan tabib-tabib tadi benar-benar amat mengejutkan dan mengharukan hatinya. Tek Hoat sakit parah dan mungkin takkan tertolong keselamatannya! Tek Hoat bukan parah karena luka-lukanya, melainkan karena mengira dia telah mati, belum tahu bahwa yang mati adalah wanita yang mertyamar sebagai dia!

“Tek Hoat....!” Setelah dia meluncur turun dan merobohkan dua orang pelayan sehingga mereka berdua itu roboh pingsan tanpa mengenalnya, Syanti Dewi berlari menghampiri dipan di mana tubuh Tek Hoat terbujur terlentang di atasnya.

“Tek Hoat....!” Dia berbisik, menubruk pemuda itu dan duduk di tepi pembaringan, memandang wajah yang kurus pucat itu dengan hati penuh keharuan. Dia merasa terharu karena betapapun juga, Tek Hoat telah membuktikan kesetiaannya terhadap Bhutan dan cinta kasih yang mendalam kepada dirinya sendiri. Kekerasan hatinya yang pernah marah terhadap Tek Hoat yang meninggalkannya tanpa pamit itu melunak, akhirnya mencair bersama keluarnya air matanya dan bangkitlah rasa cintanya terhadap pemuda ini yang memang belum pernah padam.

Perasaan duka dan iba memang merupakan perasaan yang paling kuat untuk menggerakkan cinta kasih dalam batin seorang wanita! Betapa sering dan banyak terbukti bahwa seorang wanita yang menaruh iba dan merasa terharu, akan mudah sekali menyatakan cinta kasihnya.

Agaknya Puteri Bhutan itu juga tidak terkecuali dan pada saat itu, keharuan dan iba hati mempengaruhi batinnya dengan amat kuatnya sehingga hatinya yang memang sejak dahulu mencinta Tek Hoat, kini bagaikan api berkobar lagi.

“Tek Hoat, ahhh.... Tek Hoat....!”

Dia meraba-raba pipi yang kurus itu, air matanya bertitik turun di sepanjang kedua pipinya, semua keangkuhan terbang pergi meninggalkan batinnya dan sang puteri yang cantik jelita seperti bidadari kahyangan ini merangkul, menunduk dan mencium ujung mulut Tek Hoat dengan sepenuh perasaan kasih sayangnya.

Getaran perasaan yang memuncak itu agaknya terasa pula oleh Tek Hoat yang sedang rebah tidur atau dalam keadaan setengah sadar. Dia membuka matanya yang sayu. Pandang mata yang sayu itu bertemu dengan sepasang mata yang amat dekat, sepasang mata bening yang basah air mata, wajah yang cantik, yang begitu dekat sehingga dia merasakan hembusan napas yang hangat, wajah yang selama ini membuat dia seperti bosan hidup, wajah Syanti Dewi yang telah meninggal dunia! Tiba-tiba sepasang mata yang sayu itu terbelalak lebar, Tek Hoat tersentak kaget seperti melihat setan. Ada kekuatan gaib yang menibuat dia seperti kemasukan kilat, membuatnya bangkit duduk.

“Syanti Dewi....!” dia menjerit, akan tetapi jeritannya itu hanya keluar seperti bisikan halus saja. “Tak mungkin....! Tak mungkin....! Engkau telah.... mati....!” Dengan sepasang mata tak pernah berkedip, masih terbelalak, Tek Hoat berkata dengan suara berbisik, dan dadanya bergelombang, napasnya terengah-engah.

Sambil tersenyum dengan mata basah air nata, Syanti Dewi mengulur kedua tangannya, memegang lengan pemuda itu dengan lembut sambil berkata, “Tidak, Tek Hoat, tidak.... aku tidak mati....“ Sungguh mengharukan sekali wajah yang cantik itu, mulutnya tersenyum lebar sehingga nampak deretan giginya yang seperti mutiara, akan tetapi air matanya masih membasahi matanya dan menuruni pipinya.

Akan tetapi, Tek Hoat masih dalam keadaan belum sehat benar lahir batinnya. Tiba-tiba saja dia mengibaskan kedua tangan dara itu dari lengannya, sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan dan wajahnya menjadi merah sekali, mulutnya bersungut-sungut dan kedua tangannya dikepal! Dia seperti melihat lagi bayangan Syanti Dewi bercumbu dengan Mohinta, mendengar kata-kata penuh rayuan dan kegenitan dari Syanti Dewi ketika bercumbu dalam kamar bersama pemberontak itu. Makin dikenang, makin hebatlah kemarahannya dan akhirnya meledak dengan keras dalam bentuk kata-kata yang parau penuh kebencian.

“Enyah kau, perempuan lacur! Perempuan hina dan rendah tak tahu malu! Engkau mengotorkan negaramu, engkau mengotorkan cinta kasih kita, engkau mengotorkan bumi dengan kecabulanmu. Pergi!”

Syanti Dewi terhuyung ke belakang memegangi pipinya seolah-olah menerima tamparan keras dari Tek Hoat dengan kata-kata itu. Wajahnya berubah pucat, matanya terbelalak memandang wajah Tek Hoat dan air matanya makin deras bercucuran. Dia lalu memejamkan matanya, menggigit bibirnya agar jangan menjerit.

“Engkau telah berjina dengan Mohinta! Berani engkau menyentuhku setelah melakukan perbuatan keji dan kotor itu?” Setiap kata yang keluar dari rnulut Tek Hoat seolah-olah menghujam di ulu hati Syanti Dewi, menimbulkan keperihan yang amat hebat sehingga dia menjadi berduka sekali, kemudian kemarahan menguasai dirinya. Tiba-tiba dia meloncat ke belakang, mukanya berubah merah matanya bersinar-sinar, dadanya bergelombang dan napasnya sesak, dengan kemarahan yang luar biasa dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Tek Hoat.

“Tutup mulutmu yang kotor, Tek Hoat! Engkau laki-laki tolol, keji dan jahat! Aku.... aku.... muak perutku melihat mukamu! Uhhhhh....!” Syanti Dewi menutupi mukanya menahan tangis, lalu sekali berkelebat dia sudah meloncat keluar kamar itu.

Sejenak Tek Hoat berdiri seperti patung. Mukanya sudah berubah pucat lagi, seperti mayat hidup. Baru dia sadar betapa dia sudah menghina puteri itu, memaki puteri itu, puteri yang selama ini tak pernah dilupakannya, yang agaknya merupakan bayangan satu-satunya yang masih mampu menahan sehingga nyawanya masih enggan meninggalkan tubuhnya. Betapa dia mencinta wanita itu! Dan betapa dia telah menghinanya dengan kata-kata keji dan maki-makian! Semua itu kini nampak nyata.

“Syanti Dewi....!” Dia berteriak lantang dan cepat meloncat, terhuyung dan keluar dari kamar itu melalui jendela, melakukan pengejaran secepat mungkin, tidak lagi mempedulikan kepeningan yang mengganggu kepalanya dan yang membuat pandang matanya kabur.

“Dewi....! Syanti Dewi...., jangan tinggalkan aku....!” Berulang-ulang Tek Hoat berteriak sekuatnya ketika akhirnya dia dapat melihat bayangan wanita itu. Setengah malam suntuk dia telah melakukan pengejaran, sampai bayangan wanita itu jauh meninggalkan Kota Raja Bhutan, naik turun bukit dan fajar telah menyingsing ketika akhirnya dia dapat melihat Syanti Dewi masih berjalan cepat di sebelah depan.

“Syanti Dewi...., jangan tinggalkan aku....!” Dia berteriak sambil mengeluh dan terus berlari secepatnya.

Syanti Dewi yang tahu betapa Tek Hoat mengejarnya sejak semalam dan sengaja dia tidak mau berhenti, sambil menangis terus berjalan cepat, kini tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya, berdiri di tengah jalan hutan yang kecil itu, berdiri tegak, bahkan bertolak pinggang menanti datangnya pemuda itu.

“Ah, Dewi...., kau tunggu....!” Tek Hoat berkata lemah dan terhuyung-huyung sampai juga di depan dara itu.

“Siapa yang lari meninggalkan siapa? Tek Hoat, lupakah engkau betapa dulu engkau telah lari dari Bhutan tanpa pamit, meninggalkan aku begitu saja? Tidak tahukah engkau, atau pura-pura tidak tahu, betapa sampai mati-matian aku bersusah payah mencari-carimu, menempuh banyak bahaya dan penderitaan, semua kulakukan untuk dapat mencari dan menyusulmu? Beribu macam kesengsaraan kuderita demi untukmu seorang! Dan sekarang, setelah kita saling bertemu, apa yang kudapatkan? Hanya fitnah dari mulutmu yang keji, makian-makian dan kata-kata kotor! Aku muak! Aku tak sudi!” Syanti Dewi lalu menangis dan menutupi mukanya, terisak-isak dengan hati terasa perih sekali.

Tek Hoat berdiri bingung, tubuhnya bergoyang-goyang, kepalanya masih pening, akan tetapi pikirannya mulai berjalan, mulai sadar. Inilah Syanti Dewi yang aseli, dan kalau Syanti Dewi ini masih hidup, jelas bahwa yang mati itu bukanlah Syanti Dewi! Dan kalau yang mati bukan Syanti Dewi, berarti yang berjina dengan Mohinta tentu juga bukan Syanti Dewi. Dan yang mencoba membunuh Raja Bhutan tentu bukan yang berdiri di depannya ini pula!

“Syanti.... Dewiku.... aku.... aku bingung...., aku melihat engkau berjina dengan Mohinta, aku melihat engkau menyerang dan hendak membunuh Raja Bhutan ayahandamu sendiri, kemudian aku melihat engkau.... engkau mati....!”

“Itulah karena matamu telah buta! Buta oleh cemburu! Tidak sadar bahwa engkau sendiri yang mengkhianati ikatan cinta kita, engkau pergi meninggalkan aku begitu saja! Engkau tidak tahu bahwa wanita itu adalah wanita lain yang dipergunakan oleh Mohinta untuk memalsu aku! Dan engkau telah memaki aku dengan kata-kata kotor, menghinaku seperti belum pernah ada manusia berani menghinaku selama hidupku ini....“ Kembali Syanti Dewi menangis.

Mulai teranglah kini bagi Tek Hoat terhadap semua kenangan dan gambaran yang amat membingungkan hatinya itu dan makin jelaslah baginya betapa dia telah melakukan hal yang amat keji dan menyakitkan hati kekasihnya itu. “Dewi .... ah, Dewi.... aku telah bersalah besar, aku berdosa padamu, kaumaafkanlah aku, Dewi, kauampunkan aku....“

“Apa? Maaf? Ampun? Setelah apa yang kuderita selama setahun lebih, setelah apa yang kaukatakan dengan kata-kata keji terhadap diriku? Tidak! Aku tidak sudi merendah lagi, aku sudah cukup merangkak-rangkak dengan mencari-carimu selama ini! Aku tidak mau menyembah-nyembah lagi, aku tidak mau mendambakan cintamu dengan mengemis! Tidak, kini sudah tiba masanya, tiba saatnya bahwa engkau yang harus benarbenar menunjukkan cintamu kepadaku. Engkau yang harus menyembah-nyembah, harus menderita kalau mau mendapatkan cintaku! Nah, dengar kau, Tek Hoat. Aku muak melihatmu, aku.... ah, aku....“ Dia menutupi mukanya dan menangis makin keras sampai sesenggukan.

Wajah Tek Hoat menjadi pucat sekali, tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil. Dia tahu akan kesalahannya. Kata-katanya memang terlampau keji, padahal, kalau dia mengingatkan betapa wanita ini telah menderita hebat demi untuk mencarinya setelah dia meninggalkannya begitu saja! Ah, betapa besar dosanya.

”Syanti Dewi.... Puteri.... ampunkan hamba....!” Dia menangis sesenggukan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Syanti Dewi, menyembah-nyembahnya dengan muka pucat dan air mata bercucuran.

Syanti Dewi terbelalak memandang kepada pemuda yang berlutut dan menyembah itu, mukanya membayangkan kekagetan hebat, menjadi pucat kemudian merah dan dia menjadi semakin marah. Dengan gemas dia membanting-banting kakinya.

“Uhhhhh! Laki-laki macam apakah engkau? Laki-laki lemah, laki-laki canggung, laki-laki cengeng! Uh, mual perutku melihatmu!” Dia terisak dan membalik, terus lari secepat kijang melompat.

“Syanti Dewi....!” Tek Hoat mengangkat muka, terbelalak memandang gadis itu yang lari. Dia pun cepat meloncat dan lari mengejar, akan tetapi terhuyung dan terguling roboh karena matanya gelap. Dia merangkak, bangkit lagi dan berlari lagi terhuyung mengejar Syanti Dewi yang sudah lari jauh di depan.

“Dewiiiii....! Tungguuuuu....., jangan tinggalkan aku....!”

Akan tetapi wanita itu tidak mau peduli, berlari makin cepat dan karena kini dia telah memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi, sebentar saja Tek Hoat tertinggal jauh dan akhirnya dia lenyap dari pandang mata pemuda itu yang masih terus lari mengejar dengan terhuyung-huyung dan akhirnya Tek Hoat merasa matanya gelap sehingga dia menabrak sebatang pohon dan terpelanting, pingsan! Sunyi sekali di tempat itu setelah Syanti Dewi pergi dan Tek Hoat roboh pingsan. Sinar matahari pagi menimpa wajah pucat dari pemuda yang menggeletak terlentang tak sadarkan diri itu. Burung-burung berkicau saling bersahutan sambil berloncatan di atas dahan-dahan pohon. Mereka itu bernyanyi menyambut datangnya matahari ataukah mereka sedang membicarakan persoalan manusia yang hidupnya selalu penuh dengan duka dan sengsara itu?

Matahari telah naik semakin tinggi dan burung-burung telah meninggalkan pohon-pohon di hutan itu untuk bertebaran ke empat penjuru mengikuti jalan sendiri-sendiri untuk mulai mencari makan ketika serombongan pasukan yang dipimpin sendiri oleh Panglima Jayin memasuki hutan itu dan menemukan Tek Hoat yang masih menggeletak pingsan. Panglima Jayin terharu dan girang dapat menemukan pemuda ini, lalu digotonglah pemuda itu dengan hati-hati, kembali ke istana di Kota Raja Bhutan. Panglima ini telah dengan cepat memimpin pasukan untuk mengikuti jejak Tek Hoat dan mencarinya setelah ada dayang yang menjenguk kamar sang pendekar dan melihat dua orang pelayan masih roboh tak bergerak karena tertotok dan pendekar itu lenyap dari atas pembaringan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Syanti Dewi, maka mereka semua, termasuk Panglima Jayin, menyangka bahwa Tek Hoat, dalam keadaan bingung dan belum sadar benar, telah menotok dua orang pelayan itu dan melarikan diri dari dalam kanmarnya.

Ketika siuman dari pingsannya setelah dirawat oleh para tabib, Tek Hoat gelisah dan mulutnya memanggil-manggil Syanti Dewi. Melihat keadaan pemuda ini, sri baginda lalu mendesak kepada Panglima Jayin untuk menggiatkan kembali pencarian terhadap puterinya sampai dapat.

Guncangan batin yang hebat diderita oleh Tek Hoat sehingga untuk kedua kalinya dia rebah dan sakit, kadang-kadang berteriak-teriak memanggil Syanti Dewi seperti orang gila, kadang-kadang merenung dan menangis, seorang diri seperti anak kecil. Dalam penderitaan ini, teringatlah dia akan semua perbuatannya sebelum dia berjumpa dengan Syanti Dewi dan dia merasa menyesal sekali. Agaknya dosa-dosa yang pernah dilakukannya di masa lalu itulah yang kini berbuah dengan kesengsaraan batin yang amat hebat sebagai hukuman baginya.

***

Dia menjatuhkan dirinya yang sudah amat lelah itu ke atas rumput tebal di dalam hutan yang sunyi itu, di bawah sebatang pohon, menangis terisak-isak. Makin diingat, makin sakitlah rasa hatinya. Syanti Dewi menangis sampai mengguguk dan memijit-mijit betis kakinya yang terasa amat lelahnya. Dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaga dan ilmunya berlari cepat, berlari terus sampai dia tidak kuat lagi dan akhirnya terpaksa menjatuhkan diri di situ.

“Tek Hoat....!” Nama ini keluar dari bibirnya seperti rintihan dan memang dia merintih karena jantungnya terasa perih dan nyeri. Dia tidak merasa syak lagi bahwa dia amat mencinta pemuda itu. Akan tetapi, sikap Tek Hoat amat menyakitkan hatinya. Dia pun tahu bahwa Tek Hoat salah sangka, mengira wanita palsu yang menyamar seperti dia itu adalah dia yang sesungguhnya sehingga makian Tek Hoat bukan tidak beralasan. Namun, pengertian ini tidak cukup kuat untuk meredakan kemarahan dan sakit hatinya karena sambutan Tek Hoat itu sungguh menyakitkan hati. Dia telah bertahun-tahun menderita karena pemuda itu, dia telah sengsara dan beberapa kali terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut sendiri dalam usahanya mencari kekasihnya. Dia telah berkorban lahir batin untuk Tek Hoat, akan tetapi pemuda itu malah memakinya dengan kata-kata keji! Hati siapa tidak akan menjadi panas karenanya? Makin diingatnya peristiwa tadi ketika Tek Hoat memakinya, makin marahlah hati Syanti Dewi dan makin membuyar pengertiannya bahwa pemuda itu melakukannya bukan tanpa sebab.

Marah, dalam bentuk apa pun juga, sudah pasti ditimbulkan oleh kekecewaan karena merasa dirinya dirugikan, lahir maupun batin. Dirinya itu pada hal-hal biasa adalah si aku, akan tetapi sering kali juga meluas sifatnya menjadi si kami, keluargaku, golonganku, bangsaku dan selanjutnya yang sesungguhnya tiada bedanya dengan si aku karena di dalam semua itu bersembunyi si aku yang menyamakan dirinya. Si aku ini selalu ingin senang, oleh karena itu kalau dia tidak dibikin senang, marahlah dia.

Dari pengalaman, atau pelajaran kebudayaan, atau pelajaran agama, kita mengenal akibat-akibat kemarahan yang mendatangkan kekerasan, permusuhan, kebencian dan kesengsaraan. Oleh karena ini maka timbullah daya upaya untuk melenyapkan kemarahan, atau setidaknya menekannya dan mengesampingkannya. Maka muncullah pelajaran untuk bersabar. Apakah “belajar sabar” ini dapat membebaskan kita daripada kemarahan? Kiranya hasil belajar sabar ini hanya untuk sementara saja. Belajar sabar berarti penekanan terhadap kemarahan dan biarpun kadang kala nampaknya berhasil, namun sesungguhnya kemenangan itu hanya sementara saja. Api kemarahan itu masih ada, hanya ditutup secara paksa oleh kesabaran yang dilandasi pengetahuan bahwa kemarahan itu tidak baik. Api kemarahan itu masih belum padam, hanya nampaknya saja padam karena tertutup oleh kesabaran, seperti api dalam sekam, nampaknya tidak bernyala namun sebenarnya di sebelah dalam masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat meledak dan menyala kembali! Belajar sabar menyeret kita ke dalam lingkaran setan, marah, ditekan kesabaran, marah lagi, bersabar lagi dan seterusnya seperti yang dapat kita lihat kenyataannya sehar-hari. Akhirnya, bukan api kemarahan yang padam, melainkan api semangat kita sendiri, membuat kita menjadi apatis, tak acuh, tidak peduli, atau sinis! Belajar sabar hanya pemulas, di sebelah dalam, batin, kita marah, akan tetapi di luar, lahir, kita sabar.

Setelah melihat kenyataan ini semua, tindakan apa yang harus kita ambil dalam menanggulangi kemarahan dalam batin? Bagaimana kita harus melenyapkan kemarahan yang setiap saat muncul apabila kita merasa diganggu dan dirugikan lahir batin?

Melakukan tindakan apa pun juga untuk melenyapkan kemarahan tidak akan berhasil membebaskan diri daripada kemarahan. Kemarahan tidak dapat dilenyapkan oleh daya upaya. Kemarahan adalah si aku itu sendiri, satu di antara sifat si aku yang selalu ingin senang, maka kalau kesenangannya terganggu, tentu marah. Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah mengenal aku, mengenal kemarahan, mengerti kemarahan dan hal ini hanya dapat terjadi apabila kita mau menghadapi kemarahan tanpa ingin mengubah, tanpa ingin menekan atau melenyapkan! Kalau kemarahan datang, yang membuat jantung berdebar panas, yang membuat napas terengah, muka merah dan mata mendelik, kalau kita merasa tidak senang lalu marah, kita menghadapi kemarahan itu seperti kenyataannya, kita mengamatinya, memandang dan mengamati saja penuh perhatian, penuh kewaspadaan tanpa pamrih apa-apa, tanpa ingin menguasai menekan atau melenyapkan. Kalau kita memandang dan mengamati dengan penuh perhatian tanpa perasaan atau keinginan apa-apa, berarti kita sadar waspada, maka semua akan nampak terang dan kemarahan akan musnah tanpa kita hilangkan atau tekan. Hal ini tak mungkin dapat dimengerti tanpa penghayatan, tanpa pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari! Dan kalau kemarahan sudah lenyap sendiri, tanpa dilenyapkan, kalau api kemarahan sudah padam, bukan ditutup sekam, melainkan padam sama sekali, kalau di dalam batin sudah tidak ada lagi kemarahan, apa perlunya kita belajar sabar? Tidak dibutuhkan lagi apa yang dinamakan kesabaran itu.

Kemarahan dalam hati Syanti Dewi mendatangkan perasaan nelangsa, iba diri dan duka. Dia merasa hidupnya sengsara, penuh derita batin, dan tidak bahagia.

“Ah, betapa buruk nasibnya....“ dia mengeluh di antara tangisnya. “Betapa jauh dari kebahagiaan....“

Gadis ini menghapus air matanya, lalu duduk bersandarkan batang pohon, termenung dengan hati sayu dan sepi. Mulailah Puteri Bhutan ini bertanya-tanya apakah sesungguhnya kebahagiaan hidup! Apakah yang dapat mendatangkan kebahagiaan? Harta bendakah? Dia adalah seorang puteri kerajaan yang tentu kaya raya, dan apa pun juga yang diinginkannya dalam bentuk benda, sudah pasti akan dapat dia peroleh. Dia memiliki harta benda berlimpahan, namun tetap tidak berbahagia. Jelas bukan dalam harta bendalah letaknya kebahagiaan! Lalu di mana? Apakah dalam kedudukan dan kemuliaan? Juga tidak, karena sebagai puteri raja yang dimanja, kedudukannya tinggi dan terhormat, kemuliaan selalu dirasakan semenjak dia kecil, namun semua itu akhirnya, seperti juga pada harta benda, mendatangkan kebosanan dan dia tetap tidak berbahagia. Apakah dalam petualangan hidup? Juga tidak. Hal itu pun hanya berlalu begitu saja, yang tinggal hanya kenangan hampa. Ataukah dalam cinta? Dia saling mencinta dengan Tek Hoat, akan tetapi selama ini lebih banyak dukanya dirasakan dari cintanya ini daripada sukanya.

Memang kasihan sekali dara jelita puteri bangsawan ini. Wajahnya pucat dan basah air mata, rambutnya yang hitam panjang dan halus itu kusut seperti pakaiannya pula, sinar mata yang biasanya bening, jeli dan tajam itu kini sayu tak bercahaya, dan segala yang nampak oleh sepasang mata itu buruk dan membosankan belaka, seolah-olah matahari sudah kehilangan cahayanya. Dia terbenam dalam lautan duka yang makin mendahsyat oleh gelombang iba diri.

Memang kasihanlah Puteri Syanti Dewi atau siapa saja yang menganggap cinta kasih sebagai suatu hal yang harus menjadi sumber kesenangan menjadi suatu hal yang harus menjadi pemuas keinginan diri sendiri belaka, karena siapa saja yang beranggapan demikian sudah pasti akan menemui kegagalan dalam cinta, sudah pasti pada suatu waktu akan kecewa karena cinta kasih yang tadinya dianggap sebagai sumber kesenangan ternyata tidaklah seperti yang diharapkan semula. Setiap bentuk kesenangan sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut kehilangan, kekecewaan dan kedukaan, maka jika cinta kasih disamakan dengan sumber kesenangan sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut kehilangan, kekecewaan dan kedukaan, maka jika cinta kasih disamakan dengan sumber kesenangan, jelaslah bahwa hal itu berarti bahwa cinta kasih juga merupakan sumber kekecewaan dan kedukaan! Kesenangan mempunyai kebalikannya, yaitu kedukaan. Maka, kalau kesenangan terluput, datanglah kekecewaan atau kedukaan.

Patutkah kalau kita menyamakan cinta kasih dengan kesenangan? Benarkah anggapan sementara orang bahwa cinta kasih adalah pemuasan berahi belaka? Tepatkah kalau cinta kasih mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan kedukaan?

Tidaklah mungkin untuk menentukan bahwa cinta kasih adalah begini atau begitu. Cinta kasih bukanlah benda atau hal mati yang sudah dapat ditentukan sifatnya. Namun jelas bukan cinta kasih kalau mendatangkan duka! Dan pementingan mendatangkan duka, pengejaran kesenangan mendatangkan duka, jadi semua itu bukanlah cinta kasih!

Yang menimbulkan suka dan duka bukan cinta kasih. Yang masih dicengkeram suka-duka tak mungkin mengenal bahagia Cinta kasih atau bahagia tentu jauh lebih tinggi di atas alam suka duka!

Merasa betapa dirinya amat celaka dan bernasib buruk, Syanti Dewi merasa nelangsa dan iba diri. Semenjak menjadi murid Ouw Yan Hui, sedikit banyak watak dan sifat dingin keras dari tokoh wanita majikan Pulau Ular Emas itu menular kepadanya. Tidak, pikirnya sambil mengepal tinju. Aku tidak akan membiarkan diri merendah lebih lama lagi! Dia tidak akan sudi merendah kepada Tek Hoat, betapa besar pun rasa cintanya kepada pemuda itu. Sudah tiba saatnya dia bersikap sebagai seorang puteri raja! Kini sudah tiba waktunya bagi Tek Hoat untuk menerima giliran, bersusah payah mencarinya, menderita karena dia, dan akhirnya bertekuk lutut kepadanya, membuktikan cinta kasihnya, kalau memang Tek Hoat benar cinta kepadanya!

Syanti Dewi terbangun dengan kaget karena dia seperti mendengar teriakan-teriakan suara Tek Hoat memanggil-manggilnya. Dia terloncat dan membelalakkan mata, memandang ke kanan kiri namun sunyi saja. Kiranya dia mimpi! Tanpa disadari, ketika melamun dengan hati penuh duka di bawah pohon tadi, dia tertidur saking lelahnya. Dan kini matahari telah condong ke barat, keadaan di dalam hutan itu sudah mulai remang-remang.

Perutnya terasa lapar bukan main. Syanti Dewi meneliti keadaan di sekeliling tempat itu. Hutan yang sunyi, bahkan suara burung pun tidak didengarnya, padahal pada saat seperti itu biasanya burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka. Jelas bahwa tempat ini tidak dihuni burung, dan ini berarti pula bahwa di tempat itu tidak terdapat pohon-pohon yang berbuah. Padahal perutnya amat lapar. Di hutan itu tidak dapat mengharapkan memperoleh makanan, dan dia pun tidak tahu mana dusun terdekat. Agaknya dia harus menahan rasa lapar di perutnya sampai lewat malam itu!

“Hemmm, pada hari dan malam pertama saja aku sudah harus menderita lagi karena ulah Tek Hoat!” Dia menggerutu sambil mengepal tinju dengan hati gemas. Kalau tidak ada Tek Hoat yang bersikap menyakitkan hatinya, tentu saat itu dia berada di istana ayahnya, melepas rindunya kepada ayah bundanya dan mereka tentu sedang bercakap-cakap dengan gembira, menghadapi hidangan-hidangan yang amat lezat dan yang disukainya. Dia berjalan menyusup lebih dalam ke hutan itu, dengan harapan akan melihat rumah-rumah orang. Kalau ada dusun, dia tentu akan bisa mendapatkan makanan, baik, secara meminta, membeli, atau mencuri sekalipun! Akan tetapi ternyata hutan itu kecil saja dan setelah dia menembus hutan itu, dia tiba di padang rumput yang luas!

Sialan, pikirnya memandang ke depan, pada padang rumput yang agaknya tidak bertepi itu. Angin senja ditiup dan permukaan padang rumput itu bergelombang, merupakan lautan hijau kemerahan karena bermandikan cahaya matahari senja. Bukan main indahnya pemandangan di saat itu, akan tetapi keindahan itu tidak nampak oleh mata Syanti Dewi karena dia sedang merasa jengkel dan duka, apalagi rasa lapar di perutnya amat menyiksa.

Memang demikianlah keadaan hidup kita manusia ini. Keindahan dan kebahagiaan itu SUDAH ADA di manapun dan kapanpun. Akan tetapi keindahan itu tidak nampak dan kebahagiaan itu tidak terasa oleh kita apabila batin kita penuh dengan masalah-masalah kehidupan, penuh dengan pertentangan, kekhawatiran, keputusasaan, kemarahan, kebencian, yang kesemuanya itu mendatangkan duka. Jelaslah bahwa keindahan dan kebahagiaan itu tidak dapat dicari DILUAR DIRI KITA, karena sumber dari segalanya berada di dalam diri kita sendiri. Kalau batin kita sudah bebas dari segala pamrih, bebas dari segala macam keinginan memperoleh hal-hal yang tidak ada, maka akan nampaklah segala keindahan yang terbentang di hadapan kita, di manapun dan bilamanapun, akan terasalah kebahagiaan dan cinta kasih! Hal-hal seperti ini tidak mungkin dapat dimengerti kalau hanya dibicarakan sebagai teori hampa belaka, melainkan harus dihayati di dalam kehidupan sehari-hari itu sendiri.

Makin besar penderitaannya, makin besar pula Syanti Dewi menimpakan kesalahannya kepada Tek Hoat. Makin besar pula kemarahannya kepada pemuda itu dan makin besar pula tekadnya untuk membiarkan Tek Hoat menderita sebelum dia mau “mengalah”. Dia sudah membuktikan cintanya terhadap Tek Hoat, maka kini dia pun menuntut agar pemuda itu membuktikan cintanya pula, dengan cara bersengsara untuknya! Aihhh, betapa sudah gilanya orang yang tercengkeram oleh cinta! Cinta yang sesungguhnya bukan lain hanyalah nafsu menyenangkan diri sendiri belaka, melalui orang lain!

Tiba-tiba Syanti Dewi mendengar suara gaduh dan dari depan nampak serombongan orang berlari-lari ketakutan ke arah hutan dari mana dia muncul. Ah, ada orang! Hati puteri itu menjadi girang. Di mana ada orang tentu ada pula makanan! Akan tetapi dia segera mengerutkan alisnya ketika melihat orang-orang itu semua dalam keadaan ketakutan dan dari pakaian mereka, dia dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang dusun. Anehnya, di antara mereka terdapat pula orang-orang yang agaknya memiliki kepandaian lumayan karena dapat berlari cepat dan gerak-gerik mereka jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang dusun!

Ketika orang-orang itu melihat Syanti Dewi di tepi hutan, mereka memandang dengan terheran-heran karena sungguh merupakan hal yang aneh melihat seorang dara sedemikian cantiknya, lebih mirip bidadari daripada manusia, sendirian saja di tepi hutan pada waktu senja seperti itu! Orang-orang yang memang sedang panik dan ketakutan ini, makin menjadi takut, mengira bahwa Syaoti Dewi sudah pasti bukan manusia, kareka kalau manusia, seorang gadis secantik jelita itu mana mungkin sendirian saja di senja hari di tepi hutan! Maka mereka menjadi pucat terbelalak, tidak tahu lagi harus lari ke mana.

Akan tetapi, beberapa orang yang kelihatan gagah perkasa itu, memandang kepada Syanti Dewi dengan kaget, kemudian mereka berseru girang dan lari menghampiri, terus langsung menjatuhkan diri di depan kaki dara bangsawan itu.

“Sang Puteri.... tak disangka hamba dapat bertemu dengan Paduka di sini...., mari hamba antarkan pulang dengan segera karena ada bahaya mengancam di dusun sana!”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. Orang-orang ini telah mengenalnya dan hal itu tidak mengherankan karena daerah ini tidak jauh dari Kota Raja Bhutan. “Siapakah kalian dan mengapa kalian berlari-lari seperti ini?” tanyanya tenang.

“Hamba berlima adalah pengawal-pengawal yang diutus oleh Panglima Jayin untuk mencari jejak Paduka. Hamba tadinya merupakan pasukan kecil terdiri dari dua belas orang. Ketika hamba sekalian tiba di dusun di luar padang rumput ini, hamba melihat serombongan orang kate yang aneh sedang mengacau di dusun. Sebagai perajurit-perajurit Bhutan tentu saja hamba sekalian segera turun tangan menentang gerombolan itu, akan tetapi Sungguh celaka, Sang Puteri....“

Melihat orang yang bercerita itu kelihatan berduka dan empat orang perajurit lainnya kelihatannya takut-takut dan menoleh ke arah belakang, Syanti Dewi mendesak, “Mengapa? Apa yang terjadi selanjutnya?”

Sementara, itu, orang-orang dusun yang ikut melarikan diri tadi kini pun sudah berlutut menghadap Syanti Dewi ketika mereka mendengar bahwa dara cantik jelita itu bukan lain adalah Puteri Bhutan yang amat terkenal itu. Mereka sudah mendengar bahwa sang puteri ini selain cantik jelita seperti bidadari, juga memiliki kepandaian tinggi, maka begitu melihat munculnya puteri jelita ini secara aneh di tepi hutan, apalagi melihat lima orang yang lihai itu demikian menghormatinya, mereka pun menjadi girang dan timbul harapan dalam hati mereka yang gelisah dan putus asa.

“Sungguh celaka, Sang Puteri, gerombolan orang cebol itu lihai bukan main. Bukan saja hamba sekalian dipukul mundur, bahkan tujuh orang teman hamba tewas oleh mereka dan hamba berlima tentu akan tewas pula kalau tidak cepat melarikan diri untuk mencari bantuan. Hamba hendak melapor ke kota raja.”

“Hemmm, siapakah mereka itu? Dan apa yang mereka lakukan di dusun?” Syanti Dewi bertanya dengan marah.

“Hamba sendiri tidak tahu siapakah mereka. Menurut cerita para penghuni dusun, mula-mula yang muncul hanya seorang kakek cebol yang aneh, yang tinggal di dalam kuil tua di dusun itu. Akan tetapi, munculnya kakek ini disusul kematian para hwesio di kuil itu yang jumlahnya hanya empat orang dan kuil itu sama sekali dikuasainya. Kemudian, berturut-turut bermunculan orang-orang cebol yang lihai dan ternyata dusun itu mereka jadikan semacam tempat pertemuan besar antara orang-orang cebol. Mereka lalu memaksa penduduk untuk melayani mereka, menyediakan makanan setiap hari untuk mereka, dan selain mereka menuntut makanan yang mahal-mahal, juga mereka mulai mengganggu wanita....!”

“Keparat!” Syanti Dewi mengepal tinju dengan marah.

“Penduduk dusun tidak ada yang berani melawan. Lalu hamba dua belas orang secara kebetulan lewat di dusun itu dalam usaha hamba mencari jejak Paduka, dan begitu mendengar laporan mereka, hamba lalu menyerbu ke kuil dan akibatnya, tujuh orang teman hamba tewas dan orang-orang cebol itu mengamuk, membunuhi orang-orang dusun karena menuduh penduduk dusun sengaja melapor kepada perajurit-perajurit kerajaan.”

“Hemmm, kalau begitu kalian boleh minta bantuan ke kota raja, dan aku sendiri akan menghadapi mereka.”

“Akan tetapi, mereka itu lihai bukan main....“ perajurit itu berkata dengan khawatir.

“Aku tidak takut. Besok pagi-pagi aku akan ke sana, biar diantar oleh beberapa orang penghuni dusun, dan kalian sekarang juga boleh pergi ke kota raja mencari bala bantuan.”

Lima orang perajurit itu memberi hormat dan segera melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja, sedangkan Syanti Dewi mengajak para penghuni dusun itu bermalam di hutan sambil mendengarkan penuturan mereka. Juga dia tidak ragu-ragu untuk minta kepada mereka memasakkan makanan sekedarnya dari perbekalan mereka. Biarpun masakan yang dihidangkan dari perbekalan mereka itu adalah masakan sederhana sekali dari para penghuni dusun, namun nyatanya bagi Syanti Dewi, belum pernah dia makan selezat itu selama ini! Sambil mendengarkan penuturan orang-orang dusun sebangsanya itu, dia makan dengan lahap, tanpa mempedulikan tatapan mata penuh kagum dan hormat dari puluhan pasang mata penghuni dusun yang mengungsi itu.

Siapakah sebenarnya gerombolan orang cebol yang telah mengacau dalam dusun itu? Kakek cebol pertama yang memasuki dusun itu bukan lain adalah Su-ok Siauwsiang-cu, orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok (Si Lima Jahat Dari Akherat)! Seperti telah kita ketahui, Twa-ok, Ji-ok, Su-ok, dan Ngo-ok telah bertemu dengan Pendekar Super Sakti dan mereka berempat terdesak mundur. Karena merasa penasaran mereka itu lalu mengajukan tantangan kepada Pendekar Super Sakti untuk mengadakan pertemuan di gurun pasir yang berada di dataran Bukit Chang-pai-san dan tantangan itu diterima pula oleh Pendekar Super Sakti! Tentu saja empat orang datuk kaum sesat itu cepat mengadakan persiapan untuk keluar sebagai pemenang dalam pertemuan itu, karena mereka maklum betapa lihainya Pendekar Super Sakti yang telah mengalahkan mereka berempat dan mereka mengambil keputusan untuk dapat menebus kekalahan dengan persiapan sebaik mungkin. Untuk persiapan inilah maka Su-ok, kakek cebol yang tingginya hanya satu seperempat meter itu meninggalkan rombongannya, pergi ke barat untuk minta bantuan dari saudara-saudaranya, yaitu sekumpulan orang cebol yang tinggal di sebuah lembah di lereng Pegunungan Himalaya, di sebelah timur batas Kerajaan Bhutan! Memang dari sinilah Su-ok berasal, dan di tempat ini dia mempunyai saudara-saudara seperguruan yang selain lihai-lihai, juga semua bertubuh cebol katai seperti dia!

Seperti juga Su-ok Siauw-siang-cu yang menjadi datuk kaum sesat, orang-orang cebol lihai yang menjadi saudara-saudaranya itu pun bukan termasuk golongan orang baik-baik. Maka ketika mereka berkumpul di dusun yang dipilih oleh Su-ok sebagai tempat berkumpul itu, mereka berlaku sewenang-wenang, bukan hanya memaksa penduduk untuk memasakkan daging dan mencari arak untuk mereka berpesta-pora, akan tetapi bahkan mereka tidak segan-segan untuk memaksa wanita-wanita muda untuk menemani mereka dan melayani mereka!

Daerah Pegunungan Himalaya memang merupakan daerah yang liar dan penuh rahasia aneh. Banyak bagian dari daerah ini yang masih belum pernah didatangi manusia karena selain liar dan amat luas, juga terlampau tinggi, penuh salju dan amat berbahaya dan sukar sekali didaki. Menurut dongeng, banyak daerah rahasia yang tersembunyi dan tidak pernah dapat dipijak kaki manusia dan di tempat-tempat rahasia ini tinggal mahluk-mahluk aneh, kabarnya menurut dongeng itu terdapat manusia-manusia salju yang berbulu putih dan tinggi besar seperti raksasa, ada pula manusia-manusia monyet, yaitu monyet-monyet besar yang bertubuh manusia atau manusia-manusia raksasa berwajah monyet, dan bahkan di Himalaya ini pula tempat tinggal para manusia dewa, pertapa-pertapa suci, dan sebagainya yang aneh-aneh lagi menurut khayal kelompok dan golongan masing-masing menurut kepercayaan masing-masing pula. Dan orang-orang cebol ini merupakan segolongan manusia aneh pula yang bertempat tinggal di sebuah lereng Pegunungan Himalaya dan yang menjadi kampung halaman Su-ok. Di sini dia mempunyai saudara-saudara pula dan hampir semua orang cebol ini memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh, bahkan di antara mereka ada lima orang yang menjadi sute-sute (adik-adik seperguruan) dari Su-ok, maka dapat dibayangkan betapa lihainya mereka itu setelah kini berkumpul menjadi satu di dusun itu! Pertemuan ini selain dimaksudkan oleh Su-ok untuk mencari bantuan saudara-saudaranya, juga merupakan semacam pertemuan dengan Su-ok yang lama tidak meninjau kampung halaman, dan merupakan pertemuan gembira yang dirayakan dengan pesta. Akan tetapi celakanya, orang-orang cebol itu yang hidup dalam keadaan miskin sederhana di lereng mereka, kini berpesta di dalam dusun dan memaksa penghuni dusun yang lemah untuk melayani mereka.

Karena khawatir kalau-kalau tidak akan mampu menghadapi Pendekar Super Sakti yang amat lihai, maka Su-ok bertugas untuk minta bantuan saudara-saudaranya, juga sekalian mengundang Sam-ok atau Koksu Nepal yang berada di Nepal, tidak begitu jauh dari tempat di mana dia berkumpul dengan saudara-saudaranya ini.

Sungguh patut dikasihani para penduduk dusun yang didatangi orang-orang cebol itu. Biarpun jumlah mereka hanya ada belasan orang, dan rata-rata bertubuh kecil pendek pula, namun setiap orang penduduk dusun yang coba-coba berani menentang, dengan sekali pukul saja roboh muntah darah! Maka, ketika mereka itu menculik beberapa orang wanita muda, yang menjadi suami wanita itu, atau ayah atau keluarga mereka, hanya mampu mengutuk dalam hati saja, dengan wajah pucat tangan terkepal mereka hanya dapat melihat betapa wanita-wanita itu diseret dan dibawa masuk ke dalam rumah-rumah terbesar di dusun itu yang untuk sementara waktu diduduki oleh para orang cebol. Su-ok sendiri bersama lima orang sutenya berpesta-pora dalam kuil, dilayani oleh lima orang gadis tercantik di dusun itu yang telah dipilih oleh lima orang sutenya. Su-ok sendiri sudah sejak lama tidak lagi suka mengganggu wanita, dan hanya membiarkan lima orang sutenya dan para saudara lain untuk memuaskan diri di dusun itu, sambil tersenyum melihat betapa wanita-wanita itu menjerit dan menangis, takut dan juga jijik melihat lagak orang-orang katai yang buas itu. Akan tetapi, melihat betapa semua laki-laki di dalam dusun itu tidak ada yang berani menentang, akhirnya wanita-wanita yang dipilih oleh gerombolan orang cebol itu terpaksa menerima nasib sambil menangis. Juga lima orang gadis yang kini melayani Su-ok dan lima orang sutenya makan minum di dalam kuil, tidak lagi memperlihatkan sikap melawan, hanya melayani sambil bermuram durja, dengan pakaian dan rambut kusut, muka pucat dan air mata sudah mengering, kalau sekali-kali digoda oleh mereka dan tubuh mereka diraba, mereka itu hanya menunduk saja tanpa menolak akan tetapi juga tidak pernah mau tersenyum.

Keadaan lima orang sute dari Su-ok itu juga sama mengerikan seperti keadaan Su-ok Siauw-siang-cu sendiri. Melihat wajah mereka, jelaslah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang sudah berusia sedikitnya empat puluh tahun, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berwajah menyeramkan, sungguhpun tidak ada pula yang dapat disebut tampan. Akan tetapi, karena tubuh mereka itu pendek kecil, mereka itu nampak seperti anak-anak yang sudah tua! Sebetulnya mereka itu nampak lebih lucu daripada menakutkan. Akan tetapi karena tindakan mereka demikian buas, terutama sekali dalam menghadapi para wanita yang mereka tawan, mereka itu demikian penuh nafsu sehingga sama sekali bukan kanak-kanak lagi, maka para wanita itu merasa jijik dan juga takut. Kelihatannya saja mereka itu bertubuh kecil-kecil, namun kalau sudah menarik wanita-wanita itu ke kamar masing-masing, mereka buas melebihi binatang liar! Setelah disekap selama dua hari dua malam, lima orang gadis itu kelihatan jinak, akan tetapi sebetulnya mereka itu bukan jinak, melainkan sudah patah semangat mereka untuk melawan, penderitaan mereka sudah melampaui batas pertahanan sehingga mereka itu menjadi seperti boneka-boneka hidup yang berwajah pucat dan bergerak seperti dalam keadaan tidak sadar saja. Mereka menurut saja apa yang diperintahkan oleh para orang cebol itu, seperti mayat-mayat hidup.

“Eh, Suheng, apakah engkau sekarang sudah menjadi pertapa betul-betul dan sudah menjauhkan diri dari wanita?”

“Ha-ha-ha, Suheng agaknya hendak menjadi dewa, maka tidak mau menjamah wanita!”

Mendengar kelakar para sutenya itu, Su-ok tertawa bergelak. “Siapa mau menjadi pertapa atau dewa? Ha-ha-ha, aku masih suka akan semua kesenangan dunia, akan tetapi terus terang saja, aku bosan dengan perempuan, kecuali kalau.... eh, kalau ada seorang perawan yang benar-benar cantik molek. Katakanlah.... eh, puteri istana. Nah, kalau ada perawan istana, tentu saja aku tidak menampik. Akan tetapi segala macam perawan dusun? Huh, menghambur-hamburkan sumber tenaga saja! Padahal kita akan menghadapi lawan tangguh.”

Lima orang sutenya menyeringai dan tangan kiri mereka segera meraih pinggang ramping dari tawanan masing-masing dan menarik tubuh wanita-wanita itu sehingga mereka terduduk di atas pangkuan lima orang cebol itu. Sambil menggunakan tangan kiri menggerayangi tubuh-tubuh wanita itu yang hanya memejamkan mata dan menggeliat sedikit, lima orang cebol itu melanjutkan makan minum.

“Ha-ha-ha, Suheng mengapa kini menjadi demikian kecil hati? Menghadapi seorang lawan saja, apa sih beratnya? Biarpun lawan itu mempunyai nama menjulang setinggi langit seperti.... apa yang kaukatakan tadi, Pendekar Super Sakti? Biarpun namanya setinggi langit, menghadapi ilmu kami berlima yang baru kami ciptakan, tanggung dia akan terjungkal!”

“Benar, Suheng, tidak perlu khawatir. Selama Suheng pergi, kami tidak pernah lalai menggembleng diri, bahkan kami telah berhasil menciptakan kerja sama berlima yang merupakan barisan berlima dan kami namakan Khai-lo-sin Ngo-heng-tin (Pasukan Lima Unsur Dari Malaikat Pembuka Jalan). Biar seorang lawan mempunyai kepandaian seperti dewa sekalipun, menghadapi tin kami tentu akan celaka dia!”

Mendengar ucapan para sutenya itu, agak lega rasa hati Su-ok. Dia tahu bahwa masing-masing sutenya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, hanya setingkat lebih rendah daripada tingkatnya sendiri, dan mungkin setingkat dengan kepandaian Ngo-ok, maka kalau mereka berlima ini berhasil menciptakan barisan seperti itu, agaknya tentu amat lihai. Dia akan dapat membanggakan diri kalau sute-sutenya ini berhasil mengalahkan Pendekar Super Sakti, dan siapa tahu, berkat kelihaian para sutenya, kedudukannya dalam Im-kan Ngo-ok dapat naik!

“Tapi engkau hanya mau kalau mendapatkan perawan istana, wah, wah, jangkauanmu terlalu tinggi, Suheng! Puteri istana? Ha-ha-ha, untuk itu engkau harus lebih dulu menghadapi bala tentara kerajaan yang laksaan orang jumlahnya. Mana mungkin?”

Su-ok hanya tersenyum lebar karena pada saat itu dia memang tidak berselera untuk main-main dengan wanita. Mereka melanjutkan makan minum dan lima orang sute dari Su-ok itu mulai mabuk, mereka tertawa-tawa dan mereka makin buas mempermainkan wanita tawanan masing-masing secara terbuka sehingga lima orang wanita itu makin tersiksa, akan tetapi rintihan dan keluhan mereka hanya lirih saja karena mereka sudah tahu betapa tangis dan jerit tidak akan menolong keadaan mereka.

Malam makin larut dan tiba-tiba pintu ruangan kuil itu terbuka dari luar dan muncullah seorang cebol yang masuk dengan muka pucat. “Twako....., celaka.... ada seorang musuh menyerbu!” katanya sambil memandang kepada Su-ok.

Su-ok bangkit berdiri, alisnya berkerut. “Hemmm, hanya ada seorang musuh saja, mengapa engkau begitu ribut?”

“Tapi.... dia..... dia itu lihai bukan main.... beberapa orang dari kami telah roboh....“

“Keparat! Siapa dia?” Su-ok marah sekali mendengar di antara saudaranya ada yang roboh.

“Entahlah.... dia seorang wanita cantik.... dan dia merobohkan A-chui yang berada dalam kamar seorang wanita.... dan dua orang saudara kami lagi roboh ketika mengeroyoknya. Dia kini sedang dikepung, akan tetapi dia lihai sekali maka aku pergi mencari Twako....“

“Biarkan kami pergi, Suheng!” kata lima orang cebol itu yang sudah berdiri dan melepaskan wanita tawanan masing-masing. Su-ok mengangguk dan dengan cepat lima orang cebol itu meloncat keluar, diikuti oleh Su-ok.

Kagetlah hati Su-ok dan lima orang sutenya ketika mereka tiba di tengah dusun, di pekarangan rumah kepala dusun yang diterangi oleh beberapa buah lampu gantung besar sehingga keadaan di situ cukup terang. Mereka melihat belasan orang saudara mereka mengeroyok seorang wanita cantik dan gerakan wanita itu sungguh membuat mereka terkejut setengah mati karena gerakan itu amat cepatnya seolah-olah tubuh wanita itu seperti seekor burung terbang saja! Dan sudah ada tiga orang saudara mereka yang roboh dan merintih kesakitan, tak mampu bangun lagi.

“Tahan....!” bentak seorang di antara lima orang sute dari Su-ok dengan suara nyaring. Dia ini adalah pimpinan dari lima orang itu, tubuhnya juga kate seperti saudara-saudaranya, namun mukanya penuh brewok, rambutnya juga tebal panjang, tidak seperti yang lain-lain karena sebagian besar dari orang-orang cebol itu seperti Su-ok, miskin rambut dan banyak yang botak!

Melihat munculnya Su-ok dan lima orang sutenya, para orang cebol yang sudah kewalahan itu menjadi girang dan mereka mundur, membiarkan enam orang tokoh jagoan mereka turun tangan. Akan tetapi Su-ok yang ingin sekali menyaksikan kehebatan lima orang sutenya dan yang kini mendapatkan kesempatan untuk menguji mereka sudah meloncat ke samping dan memberi isyarat kepada mereka semua untuk mundur sehingga kini lima orang sutenya yang mengurung wanita cantik itu. Dia memperhatikan dan merasa heran karena wanita ini belum pernah dilihatnya, akan tetapi wanita ini benar-benar amat cantik jelita dan anggun. Sebagai seorang yang bermata tajam dan banyak pengalaman, dia tahu bahwa wanita ini bukan seorang muda lagi sungguhpun amat cantik dan kelihatan muda, tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun nampaknya, dan jelaslah bahwa wanita ini bukan seorang perawan. Akan tetapi dia merasa kagum karena tadi dia telah melihat gerakan ginkang yang amat luar biasa, dan dapat menduga bahwa wanita ini tentu seorang ahli ginkang yang lihai sekali. Selain cantik jelita, juga wanita itu memakai pakaian yang indah gemerlapan, dari sutera mahal, rambutnya digelung tinggi ke atas dan dihias dengan taburan permata. Seperti seorang puteri bangsawan saja!

Dugaan Su-ok tidaklah benar, sungguhpun wanita itu memang patut menjadi seorang puteri atau ratu istana! Dia itu bukan lain adalah Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui, majikan dari Pulau Ular Emas! Tidaklah mengherankan kalau gerakannya amat cepat luar biasa, karena dia berjuluk Bu-eng-kwi (Setan Tanpa Bayangan) dan dia telah mewarisi ilmu ginkang yang amat hebat dari Kim Sim Nikouw.

Seperti telah kita ketahui, wanita ini hidup sebagai ratu di Kim-coa-to dan telah diceritakan pula bahwa selama beberapa bulan lamanya Puteri Bhutan Syanti Dewi tinggal di pulau itu dan menjadi murid wanita cantik ini dan Syanti Dewi akhirnya melarikan diri karena tidak tahan melihat kebiasaan aneh yang dianggapnya mengerikan dan menjijikkan dari gurunya dan juga Maya Dewi, nenek cantik yang memiliki ilmu mempercantik diri dan membikin wanita awet muda itu. Apalagi ketika dia pun mulai terancam oleh mereka itu untuk diajak melakukan perbuatan yang dianggap mengerikan itu, yaitu permainan cinta antara wanita dengan wanita, maka Syanti Dewi lalu melarikan diri.

Ketika mengetahui bahwa puteri itu melarikan diri, Ouw Yan Hui terkejut bukan main, karena dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada muridnya itu. Dia merasa menyesal telah membikin takut muridnya, dan dia merasa bahwa kalau dia harus berpisah dari Syanti Dewi, dia tentu akan merasa berduka selalu, maka wanita ini lalu melakukan pengejaran dan mencari-cari. Karena dia menduga bahwa muridnya itu tentu kembali ke Bhutan, maka dia pun tidak ragu-ragu melakukan perjalanan jauh sampai ke tapal batas negara Bhutan dan pada sore hari itu tibalah dia di dusun, di mana gerombolan orang cebol sedang membikin kekacauan.

Ketika mendengar jerit tangis wanita dari sebuah rumah, Ouw Yan Hui cepat menyerbu rumah itu dan melihat seorang laki-laki cebol sedang memperkosa seorang wanita, kemarahannya memuncak. Seperti kita ketahui, Ouw Yan Hui adalah seorang wanita yang membenci pria karena dia pernah dibikin patah hati oleh pria. Karena inilah maka dia lebih mendekati wanita dan melakukan praktek-praktek perjinaan antara sesama wanita. Maka, begitu melihat seorang wanita muda menjerit-jerit dan meronta-ronta dalam terkaman seorang laki-laki cebol yang buas itu, dia segera menerjang maju dan sekali tangkap dan renggut, dia dapat melepaskan laki-laki cebol itu dari wanita yang diperkosanya, kemudian melemparkan laki-laki cebol itu keluar. Sebelum laki-laki itu sempat bangkit, Ouw Yan Hui yang bergerak ringan seperti burung terbang telah berada di sampingnya dan dengan penuh kebencian wanita ini lalu mengejar laki-laki cebol yang telanjang bulat itu dengan tendangan-tendangan kakinya. Laki-laki itu berusaha mengelak dan menangkis karena dia bukanlah orang lemah, namun setiap kali hendak bangkit, dia roboh lagi oleh tendangan-tendangan yang amat tepat dan amat keras datangnya. Akhirnya, laki-laki itu roboh pingsan setelah muntah darah dan seluruh tubuhnya lukaluka oleh tendangan-tendangan yang dilakukan dengan penuh kemarahan itu.

Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan besar. Dua orang cebol yang mendengar suara gaduh itu memburu keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hati mereka melihat seorang wanita cantik sedang menyiksa seorang kawan mereka dengan tendangan-tendangan keras yang membuat kawan mereka itu terguling-guling tanpa mampu melawan sama sekali, bahkan kawan mereka itu terkulai seperti mati.

“Dari mana datangnya siluman betina?” bentak seorang di antara mereka.

“A-khui, bunuh saja dia!” bentak orang ke dua.

Dua orang cebol itu sudah menyerang Ouw Yan Hui dari kanan kiri dan wanita ini maklum bahwa orang-orang cebol di situ ternyata memiliki kepandaian yang hebat. Si cebol yang disiksanya tadi pun amat kuat sehingga tendangan-tendangannya akhirnya hanya membuat dia pingsan setelah muntah darah, tanda bahwa orang itu memiliki tenaga dalam yang kuat. Kini, serangan dua orang cebol ini amat hebat pula, biarpun mereka itu bertubuh kecil pendek, namun gerakan mereka gesit dan pukulan-pukulan mereka mengandung kekuatan besar. Dia cepat mengelak dan begitu dia mengerahkan ginkangnya, dua orang cebol itu berseru kaget karena mereka kehilangan bayangan lawan. Selagi mereka bingung, tibatiba seorang dari mereka memekik keras dan terpelanting karena tengkuknya telah kena dihantam dengan tangan miring oleh Ouw Yan Hui sehingga dia terbanting dan pingsan seketika. Orang ke dua menubruk, akan tetapi dengan lincahnya Ouw Yan Hui sudah mengelak dan lenyap lagi saking cepatnya gerakan tubuh wanita ini. Untuk kedua kalinya, wanita ini merobohkan lawan dengan pukulan dari belakang pada saat lawan bingung mencarinya.

Akan tetapi, kini datanglah belasan orang cebol mengeroyoknya! Ouw Yan Hui terkejut. Tak disangkanya di tempat itu demikian banyak terdapat orang-orang cebol yang lihai. Dia tidak takut, akan tetapi juga tidak berani memandang ringan, maka dengan mengandalkan ginkangnya dia mengelak dan berloncatan ke sana-sini sambil membalas setiap kali terbuka kesempatan. Dia dikeroyok banyak orang yang lihai, namun karena menang cepat, dia bahkan berhasil mengobrak-abrik mereka dan mendesak para pengeroyok yang menjadi kebingungan karena sebentar-sebentar wanita di tengah-tengah mereka itu lenyap!

Dan pada saat itulah muncul Su-ok dan lima orang sutenya. Kini lima orang sute dari Su-ok itu telah mengepung Ouw Yan Hui. Melihat sikap mereka, Ouw Yan Hui dapat menduga bahwa tentu mereka ini merupakan pimpinan-pimpinan dari orang-orang cebol itu, maka dia bersikap waspada, melihat betapa lima orang itu mengambil kedudukan di lima penjuru angin.

Si brewok yang mengepalai Khai-lo-sin Ngo-heng-tin itu menghadapi Ouw Yan Hui, memandang dengan penuh selidik diam-diam kagum akan kecantikan wanita yang telah matang ini, yang selain memiliki wajah yang cantik dan kulit muka yang halus, juga memiliki bentuk tubuh yang padat mengairahkan di balik pakaian indah itu. Dia lalu berkata dengan suara angker, “Siapakah nama Toanio dan mengapa Toanio merobohkan tiga orang saudara kami?”

Pertanyaan ini biasa dilakukan apabila dua orang atau dua fihak kang-ouw saling jumpa dan sebelum memulai pertandingan. Akan tetapi Ouw Yan Hui tersenyum mengejek karena dia masih marah dan jijik melihat si cebol memperkosa wanita tadi, maka tentu saja dia tidak sudi berkenalan dengan orang-orang ini.

“Siapakah namaku tidak perlu kalian ketahui dan aku pun tidak butuh mengenal nama kalian. Aku merobohkan orang bukan tanpa sebab. Si cebol jahanam itu memperkosa wanita, masih baik aku belum keburu bikin mampus binatang itu! Dan dua orang cebol lain roboh karena mereka menyerangku. Kalian sekarang mau apa?”

Bukan main marahnya lima orang cebol yang menjadi sute Su-ok itu. Mereka memang tidak ternama, tidak terkenal di dunia kang-ouw, namun suheng mereka adalah seorang di antara Im-kan Ngo-ok yang menurut suheng mereka merupakan datuk-datuk kaum sesat paling terkenal di dunia, dan wanita ini sama sekali tidak memandang mata kepada mereka!

“Perempuan sombong! Hayo lekas kau berlutut minta ampun, kemudian melayani kami berlima sampai kami puas, baru engkau masih ada harapan untuk hidup terus!” bentak si brewok yang mempunyai watak paling mata keranjang di antara mereka berlima.

Ouw Yan Hui memang pembenci pria, akan tetapi yang paling dibencinya adalah laki-laki mata keranjang yang suka menghina wanita. Kini mendengar ucapan itu, kedua pipinya yang putih halus itu sudah menjadi merah sekali, matanya mengeluarkan sinar berkilat dan kedua tangannya dikepal. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tanpa berkata apa-apa lagi, tubuhnya berkelebat dan dia sudah menyerang si brewok dengan pukulan maut!

Cepat bukan main gerakan Ouw Yan Hui ini, sampai si brewok menjadi terkejut dan tidak melihat gerakan wanita itu, tahu-tahu tangan wanita itu sudah menusuk ke arah ulu hatinya. Serangan maut! Si brewok berteriak kaget dan cepat melempar tubuhnya ke belakang karena hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman maut itu. Dia melempar tubuh ke belakang, terus bergulingan dan empat orang saudaranya sudah menyerbu dan menyerang Ouw Yan Hui sehingga wanita ini tidak mampu untuk terus mendesak si brewok yang sudah berloncatan bangun kembali dengan muka pucat dan keringat dingin bercucuran. Nyaris nyawanya melayang dalam gebrakan pertama itu!

Kini terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan Ouw Yan Hui memang cepat bukan main, akan tetapi kini dia menghadapi lima orang yang bergerak secara teratur dan terlatih baik sehingga seolah-olah dia menghadapi seorang lawan saja yang memiliki lima pasang tangan dan kaki, yang tentu saja dapat mengimbangi kecepatannya, bahkan mengatasinya! Betapapun dia mengerahkan ginkangnya, namun karena gerakan lima orang lawan itu seperti otomatis, terarah dan senada, payah juga wanita itu menghadapi penyerangan yang tiada hentinya, susul-menyusul dan sifatnya berubah-ubah itu. Memang itulah kehebatan Ngo-heng-tin dari lima orang ini. Selain dapat bekerja sama dengan amat baiknya, saling membantu dan saling melindungi seperti dikemudikan oleh satu otak saja, juga mereka menggunakan tenaga yang berubah-ubah sesuai dengan sifat lima unsur (ngo-heng) dan karena mereka itu rata-rata telah memiliki sinkang yang amat kuat, maka mereka merupakan kesatuan lima tenaga yang amat hebat! Kalau melawan satu demi satu, jelas bahwa mereka berlima ini bukan tandingan Ouw Yan Hui yang lihai. Andaikata mau dibuat ukuran, tingkat kepandaian Ouw Yan Hui itu kurang lebih setingkat dengan kepandaian tiga di antara pengeroyoknya disatukan! Jadi, kalau dia dikeroyok tiga, barulah seimbang. Dan andaikata lima orang itu tidak memiliki Khai-lo-sin Ngo-heng-tin yang membuat mereka bergerak seolah-olah dikendalikan oleh satu otak, kiranya juga tidak mungkin dapat mengalahkan Ouw Yan Hui. Akan tetapi, lima orang itu bergerak sedemikian rupa sehingga seolah-olah lima orang menjadi satu, dan ini terlalu kuat bagi Ouw Yan Hui. Dalam mengadu tenaga, lima orang itu selalu menyatukan tenaga sehingga kembali Ouw Yan kewalahan.

Betapapun juga, berkat ginkangnya yang memang luar biasa sekali, berkali-kali wanita itu dapat menghindarkan diri dari ancaman bahaya dan baru setelah lewat dua ratus jurus, akhirnya kakinya kena ditendang oleh si brewok, tepat mengenai sambungan lutut dan wanita itu jatuh berlutut dengan satu kaki dan sebelum dia mampu meloncat, lima orang itu telah menubruknya dan menotoknya, kemudian menelikungnya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi!

Lima orang itu tertawa dan si brewok berkata gemas, “Hemmm, mari kita kerjakan dia beramai-ramai, kita berpesta dan biar dia yang liar ini menjadi jinak. Ha-ha-ha, ingin aku melihat sikapnya kalau dia sudah kita paksa melayani kita berlima!” Empat orang saudaranya pun tertawa-tawa dan mereka hendak menyeret tubuh Ouw Yan Hui yang sudah tak mampu bergerak itu ke dalam kuil.

“Tahan, Sute!” Tiba-tiba Su-ok berseru dan dia meloncat dekat.

Lima orang sutenya memandang kepadanya dan si brewok tertawa bergerak. “Ha-ha-ha, engkau tertarik kepadanya, Suheng? Bagus, dia ini agaknya memang puteri istana yang kaurindukan!”

Akan tetapi Su-ok menggeleng kepala. “Tidak, biarpun dia cukup cantik jelita dan pantas menjadi puteri istana, namun dia sudah terlalu tua dan dia bukan perawan seperti yang kuidamkan. Tidak, aku minta kepada kalian agar jangan mengganggunya lebih dulu. Kita pergunakan dia sebagai umpan.”

“Sebagai umpan? Apa maksudmu, Suheng?” Lima orang itu bertanya.

“Orang seperti dia yang demikian cantik dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu tidak datang sendiri. Biar kita tahan dia di kuil dan biarkan temantemannya datang agar tidak kepalang kita membasmi mereka.”

Lima orang cebol itu tidak membantah, apalagi karena mereka juga telah mempunyai wanita tawanan mereka yang lebih muda, biarpun tentu saja tidak ada yang mampu menandingi kecantikan Ouw Yan Hui yang luar biasa itu. Maka mereka menyerahkan wanita itu kepada Su-ok yang mengempitnya dan membawanya ke kuil, sedangkan para orang cebol lainnya segera merawat teman-teman mereka yang terluka oleh wanita cantik yang lihai itu. Lima orang sute dari Su-ok kembali ke kamar masing-masing, sedangkan Su-ok sendiri lalu membawa Ouw Yan Hui ke dalam kuil, kemudian dia mengikat kedua tangan wanita itu kepada sebuah pilar besar di bagian belakang kuil, mempergunakan rantai yang amat besar dan kokoh kuat. Jangankan dalam keadaan lemas tertotok seperti itu, andaikata dalam keadaan sehat sekalipun, tidak mungkin bagi Ouw Yan Hui untuk dapat melepaskan dirinya dari belenggu. Kedua lengannya ditarik ke belakang, melingkari pilar besar dan kedua pergelangan tangannya dibelenggu rantai besi yang kokoh kuat. Dan tak jauh dari situ bersembunyi Su-ok pula yang mengintai dan menunggu kalau-kalau ada datang kawan-kawan dari wanita cantik ini seperti yang disangkanya. Andaikata Ouw Yan Hui melakukan usaha untuk membebaskan diri sekalipun, sebelum berhasil tentu telah diketahui oleh Su-ok.

Ouw Yan Hui maklum bahwa dia berada dalam bahaya yang mengerikan. Namun, sebagai seorang wanita gagah, dia memandang bahaya dan kematian sebagai hal yang biasa saja dalam kehidupan, maka sedikit pun dia tidak merasa cemas atau takut. Dia menanti datangnya maut dengan mata terbuka, dan melihat bahwa dia dibelenggu di situ, dia masih melihat harapan untuk dapat lolos. Sebelum maut merenggut nyawanya, dia tidak akan putus asa, sungguhpun pada saat itu dia maklum bahwa dia sama sekali tidak berdaya melepaskan diri dan apa yang dapat dilakukannya hanya berdiri tegak dan diam, mencoba untuk mengumpulkan hawa murni lewat hidungnya untuk berusaha membebaskan totokan yang membuat tubuhnya lemas itu.

Kakek itu melangkah satu-satu di daerah tandus itu, tubuhnya yang bongkok nampak semakin bongkok karena mukanya menunduk, seolah-olah dia meneliti setiap batu yang dilalui kakinya, atau seolah-olah dia menghitung setiap langkahnya. Keadaan kakek itu sungguh menyedihkan, dan janggallah melihat dia melakukan perjalanan di tempat yang liar dan sukar ini. Melihat wajahnya, mudah diduga bahwa kakek ini sudah tua renta, dan keadaan tubuhnya yang tua itu cacat, punggungnya bongkok dan lengan kirinya buntung sebatas pundak! Pantasnya seorang tua renta yang cacat seperti itu tinggal di rumah saja, dilayani cucu-cucunya. Akan tetapi, kakek ini berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, melangkah satu-satu dengan tubuh bongkok dan tangan tunggalnya, hanya yang kanan saja itu memegang sebatang tongkat kayu yang agaknya dipergunakan untuk membantu menopang tubuhnya yang bongkok. Seorang kakek yang cacat dan lemah.

Kakek lemah? Orang akan kaget dan kecelik kalau tahu siapa adanya kakek ini. Sama sekali bukan kakek lemah sungguhpun nampaknya demikian, karena kakek ini bukan lain adalah Go-bi Bu Beng Lojin (Kakek Tanpa Nama Dari Go-bi), yaitu Si Dewa Bongkok! Dewa Bongkok sama sekali bukanlah seorang kakek lemah, sebaliknya malah. Dia adalah penghuni dari Istana Gurun Pasir, dan kesaktiannya sedemikian luar biasa sehingga dia dijuluki dewa! Namanya amat terkenal, dan di daerah utara yang liar itu tidak ada seorang pun raja suku bangsa liar yang berani mengganggunya. Sedangkan di selatan, namanya terkenal sebagai seorang tokoh dongeng karena memang tidak sembarang orang dapat mengunjungi istana di gurun pasir itu. Namanya sejajar dengan nama majikan Pulau Es yang juga dikenal sebagai seorang tokoh dongeng. Akan tetapi, nama Go-bi Bu Beng Lojin masih jauh lebih dulu dikenal dalam dongeng daripada nama majikan Pulau Es, karena memang Dewa Bongkok ini jauh lebih tua.

Tentu orang akan merasa heran mengapa kakek sakti yang dikenal sebagai tokoh dongeng dan tidak pernah menampakkan diri di dunia ramai itu kini melakukan perjalanan seorang diri? Apalagi orang lain, bahkan kakek itu sendiri pun merasa heran! Hal ini terbukti dari gerutunya di sepanjang perjalanan di pagi hari itu.

“Hemmm, mana mungkin manusia hidup sendiri? Mana mungkin melepaskan diri dari segala sesuatu di dunia ini? Membebaskan diri dari pikirannya sendiri saja sudah merupakan hal yang amat sukar, apalagi membebaskan diri dari segala sesuatu yang nampak. Uhhhhh, betapa lemahnya manusia.... hemmm, sudah setua ini, setelah puluhan tahun tidak lagi menaruh khawatir sedikit pun juga atas diri sendiri lahir batin, sekarang mengkhawatirkan orang lain. Huhhh.... memang manusia tidak mungkin bisa hidup sendirian saja. Manusia adalah bagian dari dunia dan kehidupan ini, tidak mungkin melarikan diri....“

Tidaklah aneh kalau kakek itu menggerutu. Selama puluhan tahun lamanya dia hidup di Istana Gurun Pasir, menjauhi kehidupan ramai dan tidak pernah memikirkan tentang persoalan hidup lahiriah. Akan tetapi, semua itu berubah setelah dia mempunyai cucu! Yaitu, setelah muridnya, murid tunggal yang bernama Kao Kok Cu, yang berjuluk Naga Sakti Gurun Pasir, bersama isterinya, mempunyai seorang anak. Anak dari muridnya itulah yang membuat kakek ini merasa terikat! Timbul rasa kasih sayang yang tidak sewajarnya dan dia merasa lemah. Apalagi ketika cucunya itu yang diberi nama Kao Cin Liong, diculik orang. Dia ikut merasa khawatir. Sudah berbulan-bulan muridnya pergi meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk mencari Cin Liong yang lenyap diculik orang dan sampai sekarang tiada kabar beritanya. Akhirnya tidak dapat kakek ini menahan diri lagi dan pergilah dia meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk pergi menyusul dan ikut mencari cucunya yang hilang!

Hanya kebetulan saja pada saat itu kalau ada orang melihat Dewa Bongkok berjalan seperti seorang kakek tua renta yang tapadaksa, berjalan melangkah satu-satu dengan lambat sekali. Akan tetapi ada kalanya dia berlari seperti terbang cepatnya sehingga tidak lagi dapat diikuti oleh pandang mata!

Memang bukan merupakan hal yang wajar kalau manusia ingin mengasingkan diri dan hidup sendirian saja di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam gua, menjauhi manusia lain dan tidak mempedulikan hal-hal yang terjadi di dunia! Ini hanya merupakan suatu pelarian saja, suatu pemaksaan diri yang berbahaya dan juga tidak ada gunanya sama sekali. Kita tidak mungkin mengatasi dan menanggulangi sesuatu dengan jalan melarikan diri dari sesuatu itu. Memang kehidupan ini kejam, kadang-kadang membosankan, dan lebih banyak deritanya daripada sukanya. Namun, kita tidak mungkin dapat mengakhiri semua itu dengan jalan melarikan diri ke tempat sunyi! Pelarian diri itu bukan lain hanyalah suatu bentuk pengejaran kesenangan juga!.

Mungkin kalimat terakhir itu mengejutkan dan akan ditentang, maka sebaiknya mari kita membuka mata dan menyelidiki hal itu dengan seksama, jauh dari pendapat pribadi atau golongan, melainkan memandang keadaannya sebagaimana adanya. Kalau kita mengatakan bahwa kita pergi “bertapa” ke gunung atau ke gua karena kita sudah tidak menginginkan apa-apa di dunia ini, bahwa kita sudah terbebas dari nafsu keinginan, benarkah perkataan kita itu? Kalau memang kita sudah tidak menghendaki apa-apa, lalu mengapa kita bertapa di tempat sunyi? Bukankah pergi bertapa ke tempat sunyi, menjauhkan diri dari segala keramaian dan manusia lain, itu sudah merupakan suatu tindakan yang menunjukkan bahwa kita MENGHENDAKI SESUATU? Bahkan kita bosan dengan dunia ramai dan kita INGIN TENTERAM? Bukankah ini merupakan suatu keinginan pula, keinginan untuk ketenteraman diri pribadi, untuk kedamaian diri pribadi, yang bukan lain hanyalah merupakan wajah lain daripada keinginan untuk KESENANGAN diri pribadi? Bukankah karena kita membayangkan bahwa tempat sepi, jauh dari manusia lain, itu akan menjauhkan kita dari kepusingan, jadi berarti mendekatkan kita kepada ketenteraman dan kedamaian yang kita ANGGAP MENYENANGKAN maka kita melakukan pertapaan itu? Karena pada hakekatnya hanya merupakan pengejaran kesenangan belaka, biarpun diberi nama yang lebih agung seperti kesempurnaan, kedamaian, ketenteraman dan sebagainya, maka pada akhirnya, para pengejar kedamaian melalui tempat-tempat sunyi itu akan KECEWA! Di sanapun, di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam gua, di tepi pantai, mereka akan ditelan kehampaan! Mengapa demikian? Karena jelas bahwa SEGALA PENGEJARAN KEINGINAN itu akan menuntun kita kepada KEHAMPAAN dan kekecewaan, kepada perbandingan dan selalu akan membuka mata kita bahwa apa yang kita bayang-bayangkan selagi mencari itu ternyata tidaklah seindah seperti yang dibayangkan! Akan timbul kebosanan, akan timbul keinginan untuk mencari dengan cara lain, yang dianggap lebih unggul, lebih agung, lebih mendalam dan seterusnya.

Mempelajari tentang hidup tidaklah mungkin tanpa kita terjun ke dalamnya! Dan hidup adalah hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan benda-benda, antara manusia dengan pikiran-pikirannya. Segala persoalan yang kita namakan mengandung suka atau duka, bukanlah keluar dari si peristiwa itu sendiri, melainkan timbul dari pikiran. Pikiranlah yang membanding-bandingkan, pikiranlah yang menilai, lalu pikiran yang mengambil kesimpulan, memutuskan bahwa peristiwa ini merugikan lahir atau batin, karenanya mendatangkan duka, dan peristiwa itu menguntungkan lahir atau batin, karena mendatangkan suka. Karena semua kesengsaraan timbul dari pikiran kita sendiri, maka benarkah itu kalau kita mencoba membebaskan diri dari keadaan lahiriah dengan jalan mengasingkan diri? Bukankah batin kita yang menjadi sumber segalanya? Selama hati dan pikiran (yaitu batin) kita masih sibuk dengan seribu satu macam persoalan, biar kita sembunyi di puncak gunung tertinggi sekalipun, kita masih akan mempunyai persoalan-persoalan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Sebaliknya, kalau kita sudah bebas dari pikiran yang menjadi sumber suka-duka, biarpun kita berada di tengah-tengah keramaian dunia, kita akan mengalami keadaan hidup yang lain sama sekali.

Dewa Bongkok adalah seorang pertapa semenjak dia masih muda. Dia sudah terbiasa dengan tempat sunyi. Akan tetapi, begitu dia mempunyai seorang cucu, demi sang cucu inilah maka dia kini meninggalkan tempat pertapaannya dan berkelana di dunia ramai untuk mencari cucunya. Dan kegelisahan mulai menggerogoti hatinya yang sudah tua. Manusia memang amat lemah, selalu mengikatkan diri dengan apa yang disenanginya. Kita mengingatkan diri dengan isteri, anak, keluarga, harta benda, kedudukan, kepandaian dan sebagainya. Karena mengikatkan diri, karena kita merasa MEMILIKI secara batiniah, maka yang kita senangi dan miliki itu melekat dalam batin, berakar. Dan karena berakar inilah maka setiap kali yang melekat itu diambil, baik melalui kematian, kehilangan atau pertentangan, batin kita menjadi sakit, dicabutnya sesuatu yang sudah berakar dalam batin kita itu mendatangkan luka berdarah!

Dapatkah kita hidup tanpa ikatan apa-apa? Dapatkah kita mempunyai, baik keluarga, harta benda dan sebagainya, dalam arti kata mempunyai secara lahiriah saja, tanpa memilikinya secara batiniah? Bukan berarti bahwa kita lalu menjadi tak acuh, bukan berarti kita harus tidak peduli. Sebaliknya malah. Cinta kasih bukan lagi cinta kasih kalau didasari nafsu ingin memiliki, ingin menguasai. Cinta kasih adalah kebebasan!

Dewa Bongkok melangkah satu-satu sambil termenung. Akan tetapi, ilmu kepandaian yang amat tinggi sudah mendarah daging pada diri kakek ini, bahkan dia telah memiliki kepekaan yang luar biasa, semacam indera ke enam yang dimiliki oleh setiap orang ahli apa pun di bidang masing-masing sehingga dia seperti melihat atau mendengar segala ketidakwajaran yang terjadi di sekelilingnya. Memang setiap orang yang sudah ahli memiliki indera ke enam ini. Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, indera ke enam ini berupa kewaspadaan terhadap segala macam bahaya yang mengancam, dari manapun datangnya, sehingga indera ke enam ini dapat menjaganya di waktu dia tidur sekalipun! Bagi seorang pelukis, mungkin dengan indera ke enam itu dia melihat bentuk-bentuk, garis-garis, sifat-sifat dan perpaduan-perpaduan yang tidak dapat dilihat oleh orang awam, yang lalu dituangkannya di atas kanvas. Bagi seorang pengarang, mungkin dengan indera ke enam itu dia dapat menangkap segala sesuatu tentang lika-liku kehidupan manusia dan alam yang kemudian dituangkannya dalam karangannya.

Tiba-tiba Dewa Bongkok nampak seperti orang terkejut, mukanya yang tadinya menunduk itu digerakkan menoleh ke kiri dan sekelebatan nampaklah olehnya bayangan orang amat cepatnya. Dan pada saat itu juga, Dewa Bongkok menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melesat seperti menghilang saja!

Siapakah bayangan orang yang berkelebat cepat itu? Dia ini juga seorang kakek, dan sungguhpun tidak setua Dewa Bongkok, namun usianya tentu sudah ada tujuh puluh tahun. Gerakannya gesit seperti terbang. Kakek ini berwajah menyeramkan, kurus seperti tengkorak, mukanya putih seperti kapur, tubuhnya tinggi kurus. Biarpun kini dia tidak lagi memakai pakaian hitam karena dia sedang menjadi buronan pemerintah seperti yang lain, namun orang-orang kang-ouw tentu akan mengenal siapa adanya kakek ini yang bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi! Dialah ketua Huang-ho Kui-liong-pang di lembah Huang-ho, sarangnya yang kemudian dijadikan benteng para pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Liong Bian Cu itu. Setelah benteng itu dihancurkan oleh fihak pemerintah, dan semua tokohnya melarikan diri, Hek-hwa Lo-kwi juga ikut melarikan diri dan dia berganti pakaiannya yang biasanya berwarna hitam karena tidak ingin dikenal oleh orang-orang pemerintah yang dia tahu disebar untuk mencarinya.

Hek-hwa Lo-kwi berada di tempat itu, karena dia sudah berjanji dengan Hek-tiauw Lo-mo untuk saling bertemu di tempat itu untuk kemudian bersama-sama pergi ke gurun pasir. Mereka telah menerima undangan Twa-ok untuk membantu Im-kan Ngo-ok menghadapi musuh besar mereka, yaitu Pendekar Super Sakti. Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa di tempat itu, dia akan bertemu dengan Dewa Bongkok!

Seperti pernah diceritakan di bagian depan, Hek-hwa Lo-kwi ini dahulunya adalah seorang pelayan yang terkasih dari Dewa Bongkok, dan ketika itu dia bernama Thio Sek. Karena terbujuk oleh Hek-tiauw Lo-mo, juga karena dia ingin sekali memperoleh kitab rahasia dari majikannya yang akan menambah tingkat kepadaiannya, Thio Sek ini lalu melarikan diri bersama Hek-hwa Lo-mo, setelah mereka berdua berhasil mencuri sebuah kitab yang akhirnya mereka perebutkan dan seorang memperoleh separuh.

Inilah sebabnya maka begitu dia melihat Dewa Bongkok, dia menjadi terkejut setengah mati. Biarpun kakek bongkok itu berada di tempat jauh, namun melihat bekas majikannya itu, Hek-hwa Lo-kwi cepat melarikan diri. Kalau ada manusia di dunia ini yang ditakutinya, dan padahal dia tidak takut kepada setan sekalipun, maka manusia itu adalah Dewa Bongkok.

Hatinya agak lega ketika dia melarikan diri jauh sekali dan tiba di tepi sebuah hutan. Dia menghentikan larinya, menarik napas panjang dan menghapus keringat dingin yang membasahi muka dan lehernya.

“Mau apa iblis tua itu di sini....?” tanyanya kepada diri sendiri. Untung dia belum ketahuan dan dia dapat cepat melarikan diri! Kalau sampai berjumpa, hemmm.... dia bergidik ketakutan.

Hutan di depan adalah tempat di mana dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo. Maka dia mengibaskan lengan bajunya dan mulai melangkah maju ke depan. Tiba-tiba dia berhenti dan mukanya yang putih seperti kapur itu menjadi makin pucat sampai kehijauan, matanya terbelalak memandang ke depan dan kedua kakinya menggigil. Dewa Bongkok sudah berdiri di depannya, agak jauh di depannya, seolah-olah menantinya dengan muka menunduk! Bagaimana mungkin ini? Bukankah tadi dia telah lari secepatnya dan jelas meninggalkan kakek itu sebelum kakek itu sempat melihatnya?

Akan tetapi dia tidak mau membuang waktu dengan berheran-heran, cepat dia sudah meloncat ke belakang, jauh dan lari dari kakek yang mendatangkan rasa takut hebat dalam hatinya itu. Akan tetapi, begitu dia turun, dia melihat Dewa Bongkok sudah menanti di depannya! Dia cepat menoleh dan ternyata kakek yang tadi berdiri di tepi hutan sudah tidak ada, entah kapan kakek itu bergerak! Hek-hwa Lo-kwi makin ketakutan dan kembali dia membalikkan tubuh dan lari ke dalam hutan. Akan tetapi, kembali dia melihat Dewa Bongkok bersandar pada tongkatnya di dalam hutan, hanya kurang lebih dua puluh meter di depannya, tanpa memandangnya dan hanya menundukkan muka!

Mau rasanya Hek-hwa Lo-kwi menjerit dan menangis ketakutan. Tubuhnya sudah penuh dengan peluh. Dia akan lebih suka berjumpa dengan raja setan sendiri daripada dengan bekas majikannya ini! Dengan menahan napas dia lalu meloncat ke atas pohon, dan berloncatan dari pohon ke pohon. Akan tetapi, setelah melewati lima batang pohon, terpaksa dia berhenti lagi karena di pohon sebelah depan telah menanti Dewa Bongkok yang duduk di atas cabang pohon di depannya itu.

Hek-hwa Lo-kwi menjadi makin panik, dan pada saat itu dia melihat bayangan rekannya, Hek-tiauw Lo-mo, bersembunyi di balik sebatang pohon. Melihat ini, timbul harapannya. Ada kawan di sini dan hal ini agak membesarkan hatinya. Dia cepat melayang turun ke arah temannya itu. Akan tetapi baru saja kakinya menyentuh bumi di dekat pohon di mana Hek-tiauw Lo-mo bersembunyi, dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Dewa Bongkok sudah berdiri tepat di depannya.

“Thio Sek, apakah engkau masih hendak lari lagi? Tiba-tiba Dewa Bongkok menegur dengan suara halus namun mengandung nada keren yang membuat jantung Hek-hwa Lo-kwi tergetar hebat. Kedua kakinya menjadi lemas dan manusia iblis yang biasanya amat ditakuti orang itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Dewa Bongkok!

“Loya.... ampunkan hamba....“ Hek-hwa Lo-kwi berkata, suaranya gemetar, tubuhnya menggigil. Memang sungguh aneh sekali kalau ada orang kang-ouw melihat keadaan manusia iblis ini. Seperti tidak masuk akal kalau orang seperti Hek-hwa Lo-kwi masih bisa ketakutan seperti itu!

Dewa Bongkok tersenyum dan biarpun wajah yang tua itu membayangkan kelembutan, namun sinar matanya yang
mencorong seperti mata naga sakti itu sungguh penuh wibawa dan menyeramkan.

“Thio Sek, tidak perlu bicara tentang pengampunan. Di mana adanya kitab yang kaucuri itu?” terdengar Dewa Bongkok berkata dengar suara penuh teguran.

“Hamba.... hamba.... membagi dua kitab itu dengan Hek-tiauw Lo-mo....“

“Hemmm, lalu di mana sekarang kitab itu?”

“Bagian hamba.... sudah hamba bakar karena hamba khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang lain. Sedangkan bagian yang ada pada Hek-tiauw Lo-mo.... hamba tidak tahu....“ Hek-hwa Lo-kwi mengangkat mukanya dan dia melihat betapa Hek-tiauw Lo-mo yang bersembuhyi di balik batang pohon itu memberi isyarat kepadanya. Dia dapat menangkap isyarat itu. Hek-tiauw Lo-mo mengajak dia menyerang Dewa Bongkok secara tiba-tiba dan bersama-sama pula. Jantungnya berdebar dan memang itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri!

“Harap Loya sudi mengampuni hamba.... hamba mengaku salah.... hamba telah mata gelap karena ingin memiliki kitab pelajaran yang tinggi....”

Dewa Bongkok adalah seorang manusia yang waspada, maka dia dapat melihat pula sikap tidak wajar dari bekas pelayannya itu, seperti ada sesuatu yang disembunyikan, maka dia membentak, “Hayo kauceritakan semua apa yang akan kaulakukan dan mengapa pula kau berada di sini! Hukumanmu mencuri kitab itu tergantung dari kejujuranmu dalam menjawab pertanyaanku ini.”

Suara kakek bongkok itu angker dan benar-benar menggetarkan perasaan Hek-hwa Lo-kwi yang memang sudah merasa jerih sekali. Dia merangkak maju lebih dekat, lalu membenturkan dahinya di atas tanah. Perbuatan ini seolah-olah membuktikan bahwa dia benar-benar menyesal dan minta ampun, padahal dia melakukannya untuk dapat lebih mendekati kakek bongkok itu.

“Hamba.... hamba memenuhi undangan Im-kan Ngo-ok....“ Dia berhenti, terkejut karena dalam rasa takutnya dia sampai membuka rahasia rencana Im-kan Ngo-ok. Akan tetapi dia sudah terlanjur bicara dan apalagi mengingat akan isyarat Hek-tiauw Lo-mo tadi. Bukankah semua ini hanya untuk memancing perhatian Dewa Bongkok agar lebih mudah bagi mereka berdua untuk melancarkan serangan mendadak?

Dan Dewa Bongkok memang tertarik ketika mendengar disebutnya nama Im-kan Ngo-ok itu. “Im-kan Ngo-ok mengundangmu? Ada perlu apakah?”

“Im-kan Ngo-ok mengadakan perjanjian dengan Pendekar Super Sakti untuk bertemu dan mengadu kepandaian di gurun pasir yang terletak di daratan Gunung Chang-pai-san. Im-kan Ngo-ok minta bantuan hamba untuk menghadapi lawan tangguh itu....“

Sekali ini Dewa Bongkok benar-benar terkejut. “Hemmm, kapankah diadakannya pertemuan itu?”

“Pada bulan purnama bulan depan....”

“Dan kau bermaksud membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti?” bentak Dewa Bongkok.

Pada saat Dewa Bongkok membentak ini, Hek-tiauw Lo-mo dengan langkah hati-hati telah keluar dari balik batang pohon dan mendekati kakek bongkok itu. Betapapun tinggi kepandaian seseorang, dan betapapun tajam perasaannya, namun seorang manusia tidak mampu membagibagi kesibukan batinnya. Selagi dia bicara dengan marah, tentu saja kewaspadaan Dewa Bongkok berkurang, semua perhatian ditujukan kepada bekas pelayannya, dan juga ketajaman pendengarannya penuh oleh suara dari kata-katanya sendiri sehingga dia tidak tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang.

Hek-hwa Lo-kwi melihat ini dan dia mengangkat kedua tangannya menyoja, berkata dengan suara menyesal, “Ampunkan hamba, Loya.... hamba sebetulnya tidak berani akan tetapi....“ Dan pada saat itu, diam-diam Hek-hwa Lo-kwi mengumpulkan tenaganya untuk mengerahkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Pek-hiat-hoat-lek! Kemudian, kedua tangan yang menyoja itu secepat kilat meluncur ke atas dan menghantam ke arah dada Dewa Bongkok! Pada saat yang sama, Hek-tiauw Lo-mo juga sudah menggerakkan tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka dia melancarkan hantaman dengan pengerahan tenaga Hek-coatok-ciang.

“Blukkk! Desss....!”

Dua pukulan itu dengan tepatnya mengenai dada dan punggung Dewa Bongkok yang tidak sempat mengelak lagi karena datangnya pukulan dari depan dan belakang itu sama sekali tidak disangkanya sehingga kakek tua renta ini hanya mampu mengerahkan sinkangnya untuk menerima kedua pukulan itu. Akan tetapi, demikian hebatnya tenaga sinkang dari penghuni Istana Gurun Pasir ini sehingga begitu kedua pukulan itu mengenai punggung dan dadanya, tubuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi terpental mundur, terjengkang dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan, mata mereka membalik dan dari semua lubang di telinga, mata, hidung dan mulut keluar darah! Ternyata bahwa pukulan mereka itu terbentur kepada hawa sinkang amat kuat sehingga tenaga mereka terpental, membalik dan menghantam mereka sendiri mengakibatkan mereka tewas seketika!

Dewa Bongkok masih kelihatan berdiri tegak di tempat yang tadi, sama sekali tidak bergerak seolah-olah dua pukulan itu tidak terasa olehnya. Akan tetapi, kalau orang melihat mukanya, akan tahulah dia bahwa Dewa Bongkok menderita luka hebat. Muka yang tua itu pucat sekali dan di ujung kanan mulutnya nampak darah mengalir bertetes-tetes. Ternyata kakek sakti ini telah muntah darah! Pukulan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang dilakukan dari jarak dekat itu terlampau dahsyat dan tidak terduga datangnya. Kalau bukan Dewa Bongkok yang terkena hantaman seperti itu, betapapun lihainya, tentu akan tewas seketika.

Setelah berdiri sejenak seperti arca dengan kedua mata terpejam, mengumpulkan hawa murni untuk memperkuat diri, akhirnya Dewa Bongkok membuka kedua matanya, menarik napas panjang dan menoleh ke arah mayat dua orang itu. Dengan gerakan perlahan dan menahan nyeri pada dadanya, kakek ini lalu mengumpulkan dahan-dahan yang cukup banyak, meletakkan dua buah mayat itu di atas dahan-dahan dan menutupinya dengan banyak dahan dan daun kering, kemudian membakarnya. Dia maklum bahwa ranting-ranting itu cukup banyak dan akan dapat membakar dua jenazah itu sampai habis. Setelah memandang sejenak, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, jalannya agak tersaruk-saruk dibantu oleh tongkatnya.

***

Luka yang diderita oleh Go-bi Bu Beng Lojin atau Dewa Bongkok memang amat parah. Apalagi ditambah dengan usianya yang sudah amat tua sehingga tentu saja daya tahan tubuh sudah tidak begitu kuat lagi, maka akibatnya dua pukulan dahsyat itu membuat kakek ini benar-benar menderita hebat.

Setelah berjalan perlahan-lahan sampai setengah hari meninggalkan hutan itu dan tiba di pegunungan yang penuh batu-batu dan sukar dijalani, kakek ini merasa tidak dapat menahan lagi dan duduklah dia bersila di atas batu besar untuk menghimpun kekuatan dan mengumpulkan hawa murni sebanyaknya guna mengobati luka yang dideritanya. Dengan merasakan keadaan lukanya, kakek ini maklum bahwa sedikitnya dia harus beristirahat satu bulan untuk dapat memulihkan kembali kekuatannya, dan paling tidak selama tiga hari tiga malam dia harus duduk bersamadhi untuk menyelamatkan nyawanya. Dengan penghimpunan hawa murni selama tiga hari tiga malam terus-menerus, barulah ada harapan luka di dalam dadanya itu dapat disembuhkan sehingga dia hanya tinggal menanti pulihnya kekuatannya saja. Kebetulan sekali tempat itu amat baik, sunyi dan bersih, hawanya murni sehingga tepat untuk dipakai menjadi tempat bersamadhi.

Dua hari dua malam sudah kakek ini duduk bersila di atas batu tanpa pernah bergerak. Dia seolah-olah sudah mati, atau sudah berubah menjadi arca batu, menjadi satu dengan batu besar yang didudukinya. Hanya ujung pakaiannya saja, jenggotnya atau sedikit rambut di sekeliling kepalanya yang kadang-kadang bergerak kalau ada angin kencang bertiup.

Pada hari ke tiga itu, Dewa Bongkok sudah merasa betapa luka-luka di dalam dadanya telah banyak mendingan. Rasa nyeri di bagian kiri yang tadinya terasa paling hebat telah lenyap dan tinggal sedikit rasa nyeri di bagian kanan. Dalam sehari semalam ini tentu lukanya ini pun akan lenyap dan dia tinggal beristirahat saja untuk memulihkan kekuatannya selama sedikitnya sebulan.

Akan tetapi, pagi hari itu terjadi hal di luar perhitungan kakek sakti ini. Ketika dia masih tenggelam ke dalam samadhi, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang memiliki gerakan ringan dan wanita ini telah sejak tadi memperhatikan Dewa Bongkok yang sedang bersamadhi. Wanita ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang cabul dan lihai itu! Seperti juga suhengnya, yaitu Hek-tiauw Lo-mo, dia pun menerima undangan dari Im-kan Ngo-ok untuk membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti dan dia pun berjanji dengan suhengnya untuk bertemu di dalam hutan itu. Akan tetapi, dasar Siluman Kucing ini tidak pernah dapat sembuh dari penyakitnya, yaitu gila laki-laki, di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang amat menarik hatinya. Dia lalu merayu pemuda ini dan memuaskan nafsunya sehingga dia lupa akan janjinya dan setelah dia, seperti biasanya, merasa bosan dan meninggalkan pemuda yang telah dibunuhnya pula itu, dia tiba di dalam hutan yang dijanjikan dalam keadaan terlambat dua hari! Dan di dalam hutan itu dia menemukan dua jenazah yang sudah menjadi abu, tinggal beberapa potong tulang saja yang tidak sempat terbakar habis. Dan di situ dia menemukan senjata-senjata dari suhengnya, di antara abu mayat dan arang. Tahulah dia bahwa suhengnya telah tewas dan telah dibakar menjadi abu, bersama seorang lain lagi yang diduganya tentu Hek-hwa Lo-kwi karena suhengnya berjanji akan bertemu dengannya di hutan itu bersama Hek-hwa Lo-kwi.

Siluman Kucing merasa kaget dan juga terheran-heran. Siapakah orangnya yang demikian lihainya, mampu membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi? Dia bergidik, dan juga penasaran. Betapapun juga, Hek-tiauw Lo-mo adalah suhengnya, dan setelah orang itu tewas, dia teringat akan hubungan mereka antara kakak dan adik seperguruan, maka timbul rasa penasaran dan marah dalam hatinya terhadap pembunuh suhengnya.

Setelah mencari-cari di sekitar hutan itu, akhirnya dia menemukan Dewa Bongkok yang tengah bersamadhi seorang diri di atas batu besar! Melihat kakek ini, Siluman Kucing memandang dari jauh penuh perhatian. Dia tidak mengenal kakek ini, akan tetapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dia dapat menduga bahwa kakek itu tengah duduk bersamadhi dan melihat pernapasannya yang teratur dan panjang-panjang, dia pun dapat menduga bahwa kakek itu sedang menghimpun hawa murni. Orang yang melakukan hal seperti itu hanyalah orang yang sedang mengobati luka di dalam tubuhnya. Mengingat bahwa di dalam hutan tak jauh dari tempat ini suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi tewas dan kakek aneh ini duduk bersamadhi mengobati luka dalam mudahlah bagi Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui untuk menarik kesimpulan. Sudah hampir boleh dipastikan bahwa suhengnya dan Hek-hwa lo-kwi tentu telah bertanding melawan kakek ini dengan akibat tewasnya suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, dan kakek ini pun menderita luka parah dalam pertandingan itu! Maka mulailah sepasang mata yang genit itu mengeluarkan sinar berapi. Inilah orangnya yang telah membunuh suhengnya!

Akan tetapi, Lauw Hong Kui bukanlah seorang yang bodoh. Sebaliknya malah, dia amat cerdik. Orang yang sudah mampu menewaskan suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, tentu bukan orang sembarangan dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya. Akan tetapi sebaliknya, betapapun saktinya orang ini, kalau sedang menderita luka dalam yang parah, tentu dia akan mampu merobohkannya tanpa banyak kesukaran.

Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati dan tidak menurunkan nafsu amarah untuk langsung menyerang kakek yang duduk diam seperti arca itu.

“Locianpwe yang terhormat, kalau boleh saya bertanya, siapakah nama Locianpwe?” Siluman Kucing bertanya sambil menjura ke arah kakek tua renta yang duduk bersila dengan kedua mata terpejam itu.

Tentu saja kehadiran wanita itu sudah diketahui oleh Dewa Bongkok. Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Dewa Bongkok sama sekali tidak mau menjawab, bergerak pun tidak. Dia tidak pernah mau memperkenalkan diri kepada siapapun, apalagi kepada seorang wanita yang gerak-geriknya penuh kecabulan dan kejahatan itu. Maka dia diam saja, dan juga dia memang tidak ingin berurusan dengan siapapun di saat itu.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya. Kakek itu sama sekali tidak mau menjawab, dan dia menduga bahwa kakek ini tentu seorang tokoh berilmu tinggi yang menyembunyikan diri. Akan tetapi, dia cerdik sekali dan dia tahu bagaimana caranya untuk memaksa kakek itu membuka suara! Dia tahu bahwa kelemahan dari pada locianpwe adalah keangkuhan! Kalau disentuh keangkuhannya, para Locianpwe biasanya lalu melakukan tanggapan.

“Locianpwe, di dalam hutan saya melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas terbunuh orang. Siapakah yang telah membunuh mereka?”

Kembali tidak ada jawaban dari kakek itu. Dan suara Mauw Siauw Mo-li yang sengaja dikeluarkan dengan pengerahan khikang itu bergema di dalam hutan di bawah lereng itu. Setelah gema itu mengaung, sunyi kembali keadaan di situ.

Siluman Kucing mengerutkan alisnya dan mencari akal. “Saya tadinya menduga bahwa Locianpwe yang membunuh mereka, akan tetapi melihat Locianpwe diam saja, saya menjadi ragu-ragu. Seorang seperti Locianpwe, kalau melakukan sesuatu, tentu berani mengaku dan mempertanggungjawabkannya, berbeda dengan para siauw-jin (orang hina) yang berwatak pengecut tidak berani mengakui perbuatannya!”

Memang cerdik sekali Siluman Kucing. Dewa Bongkok bukan termasuk tokoh yang suka mengangkat diri atau berwatak angkuh, sebaliknya malah dia selalu menyembunyikan dirinya. Akan tetapi ucapan wanita itu tentu saja menggugah watak gagah yang selalu di junjung tinggi oleh semua kaum pendekar di dunia kang-ouw. Lebih baik mati daripada disebut pengecut hina! Seorang pendekar tentu akan selalu berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya dan berani menghadapi semua akibat daripada perbuatannya! Maka, mendengar ucapan itu, sepasang mata itu terbuka memandang ke arah Mauw Siauw Mo-li.

“Ihhhhh....!” Mauw Siauw Mo-li undur dua langkah. Dia terkejut dan merasa ngeri melihat betapa sepasang mata itu mencorong dan seolah-olah mengeluarkan sinar kilat yang menyambar ke arahnya. Belum pernah dia melihat mata yang mencorong seperti itu, seperti bukan mata manusia!

“Aku tidak membunuh mereka, adalah mereka yang memukulku sehingga mereka tewas karena tenaga mereka sendiri!” Setelah berkata demikian, Dewa Bongkok kembali memejamkan matanya dan tidak mau berkata apa-apa lagi. Baginya sudah cukup pengakuan ini dan dia tidak mau membicarakan hal itu dengan wanita ini.

Mendengar ucapan itu, tahulah kini Siluman Kucing bahwa dugaannya tidak keliru. Kakek ini telah bertanding melawan suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi sehingga kedua orang itu tewas dan kakek ini sendiri mengalami luka parah. Dalam keadaan terluka parah dan sedang mengobati lukanya itu, tentu kakek yang amat sakti ini berkurang banyak kelihaiannya. Namun, Mauw Siauw Mo-li tetap bersikap hati-hati dan tidak mau ceroboh yang akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri. Dia tidak mau langsung menyerang kakek itu.

“Mengapa Locianpwe memandang rendah sekali kepada saya? Sebaiknya Locianpwe duduk di atas tanah agar tidak terlalu tinggi hati!” Setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu lalu mendorong dengan kedua tangannya ke arah batu besar yang diduduki oleh Dewa Bongkok. Dorongan itu mengandung tenaga sinkang yang amat kuat dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar dan mendorong batu itu. Batu itu terguling dan tubuh Dewa Bongkok ikut pula terguling, tanpa kakek itu dapat mempertahankan diri. Tentu saja kalau dia hendak mempertahankan diri, bukanlah hal sukar. Akan tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, amatlah berbahaya baginya untuk mempergunakan tenaga sinkangnya. Sekali mengerahkan sinkang, lukanya yang sudah sembuh sebagian itu tentu akan terbuka dan kambuh kembali, bahkan mungkin akan lebih hebat sehingga dapat mengakibatkan kematiannya. Oleh karena itulah, ketika batu besar itu terguling, dia pun ikut terguling dan terbanting ke atas tanah. Namun, kakek ini lalu merangkak bangun dan duduk bersila kembali ke atas tanah.

Melihat ini, Siluman Kucing menjadi heran dan juga girang. Kalau kakek ini sudah dapat membunuh dua orang seperti Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, jelas bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti luar biasa. Akan tetapi, sekarang, dengan sekali dorong saja batu itu roboh bersama tubuh kakek itu yang kelihatan sama sekali tidak mampu menjaga diri, dia pun tahu bahwa kakek itu benar-benar telah terluka parah dan tidak berani mempergunakan sinkangnya!

“Hi-hi-hi-hi-hik! Kiranya engkau telah terluka parah? Tahukah engkau siapa aku, orang tua buruk? Aku adalah Lauw Hong Kui, sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo yang telah kaubunuh. Nah, aku datang untuk membalaskan kematian suhengku!” setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu menerjang ke depan, ke arah kakek yang duduk bersila di atas tanah itu.

Dengan pengerahan tenaga sinkangnya, tangannya menyambar dan menampar ke arah kepala Dewa Bongkok yang botak.

“Syuuuuuttt.... plakkk!”

Dewa Bongkok tentu saja tidak mau menerima kematian secara konyol. Dia tidak berani mengerahkan sinkang karena hal ini dapat berarti bunuh diri, maka dia pun miringkan kepalanya ketika merasa ada angin dahsyat menyambar kepalanya. Pukulan itu luput, akan tetapi masih menghantam pundaknya sehingga untuk kedua kalinya tubuh Dewa Bongkok terguling-guling! Namun dia sudah duduk lagi bersila.

Makin giranglah hati Mauw Siauw Mo-li karena dia yakin bahwa semua dugaannya benar belaka. Biarpun jelas bahwa kakek itu amat lihai, terbukti bahwa dalam keadaan duduk bersila tanpa melawan tadi kakek itu telah mampu mengelak sehingga kepalanya terluput dari tamparannya yang sedemikian cepatnya. Akan tetapi ketika tangannya menampar pundak, dia sama sekali tidak merasakan ada hawa sinkang yang menolaknya, tanda bahwa benar-benar kakek sakti itu tidak berani mengerahkan sinkang! Kakek itu lebih mengandalkan kelemasan untuk menerima tamparan tadi, membiarkan tubuhnya terguling sehingga tamparan itu hanya membuatnya terbanting tanpa mendatangkan luka parah karena dia sama sekali tidak melawan.

“Hi-hi-hik, tua bangka, bersiaplah engkau untuk mampus!” bentaknya dan dia sudah menerjang, maju lagi. Dewa Bongkok maklum bahwa dia tidak akan mampu melawan dalam keadaan seperti itu. Kalau dia mengerahkan sinkang, tentu dia akan mampu menewaskan wanita ini dengan mudah, walaupun untuk itu dia sendiri akan berkorban nyawa. Akan tetapi, kakek ini tidak ingin membunuh orang, apalagi dalam keadaan mendekati akhir hidupnya itu. Kalau dua hari yang lalu dia menewaskan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, hal itu terjadi karena dia tidak sengaja, karena dia diserang dengan tiba-tiba sehingga pengerahan sinkang yang otomatis membuat tenaga pukulan mereka membalik dan mengakibatkan tewasnya dua orang itu. Kini, dia tidak mau melakukan pembunuhan dan dia hanya menanti datangnya maut melalui tangan wanita yang tidak dikenalnya ini.

“Wuuuuuttt.... plakkk!”

Siluman Kucing memekik kaget dan meloncat mundur. Pukulannya telah ditangkis oleh sinar hitam yang panjang dan ternyata yang menangkis lengannya itu adalah seekor ular hitam besar dan panjang yang kini melingkar di lengan dan leher seorang dara cantik jelita berpakaian serba hitam!

“Hwee Li!” bentaknya dengan marah. “Engkau melawan bibi gurumu?”

Dara yang telah menangkis pukulan Siluman Kucing yang menyelamatkan nyawa Dewa Bongkok tadi memang benar Hwee Li adanya. Seperti kita ketahui, dara ini mengalami guncangan batin yang hebat ketika ditinggal kekasihnya yang menyatakan benci kepadanya karena dia keturunan pemberontak, bahkan gurunya sendiri, Ceng Ceng, juga memutuskan hubungan dan tidak mau mengakuinya lagi. Hal ini amat menyedihkan hatinya, akan tetapi karena memang pada dasarnya Hwee Li berwatak keras, lincah dan gembira, penderitaan batinnya itu tertutup oleh kelincahannya dan hanya mukanya yang agak pucat itu saja yang menjadi bukti bahwa di lubuk hatinya, dara ini menderita batin yang amat hebat.

Memang pada kenyataannya, watak Hwee Li jauh sekali bedanya dengan watak Hek-tiauw Lo-mo, orang yang selama belasan tahun dia anggap ayah kandungnya sendiri. Biarpun semenjak kecil dia dididik oleh seorang manusia iblis seperti Hek-tiauw Lo-mo sehingga Hwee Li memiliki sifat-sifat liar yang keras, namun pada lubuk hatinya dia menjunjung tinggi kegagahan dan tidak suka bertindak sewenang-wenang, bahkan lebih condong untuk melindungi orang-orang lemah tertindas. Apalagi setelah dia berkenalan dengan orang-orang gagah, bahkan kemudian dia memperoleh didikan dari Ceng Ceng, sifat kegagahan seorang pendekar ini menonjol. Hal ini makin kuat ketika dia menemukan rahasia bahwa dia sesungguhnya bukan anak kandung Hek-tiauw Lo-mo. Dia merasa lain dan berbeda dengan golongan Hek-tiauw Lo-mo, bahkan dia menentang tindakan-tindakan mereka seperti nampak ketika dia menjadi tawanan Pangeran Liong Bian Cu yang tergila-gila kepadanya. Maka, ketika secara kebetulan dia melihat Mauw Siauw Mo-li, hendak menghantam seorang kakek botak tua renta yang kelihatannya tidak berdaya dan tidak melawan, bangkit kemarahannya dan segera dia turun tangan menangkis pukulan itu dengan menggunakan ular hitamnya yang panjang.

Sambil tersenyum dan sepasang matanya menatap wajah Mauw Siauw Mo-li dengan tajam, dia menjawab, “Sudah tentu, Mauw Siauw Mo-li. Mana mungkin aku membiarkan saja engkau melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, membunuh seorang kakek yang tidak berdaya dan tidak melawan? Seharusnya engkau merasa malu untuk menyerang seorang kakek tua tidak melawan!”

“Bocah setan! Engkau menyebut namaku begitu saja? Bukankah aku ini bibi gurumu?”

“Aku tidak mempunyai bibi guru seperti engkau! Engkau jahat, kejam dan curang!”

“Eh, Hwee Li, berani engkau kurang ajar! Engkau murid murtad! Ingat, aku adalah sumoi dari ayahmu!” Mauw Siauw Mo-li membentak marah. “Kau tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu? Ayahmu, Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas oleh kakek itu! Hayo kita bunuh dia sebelum dia sembuh kembali dari lukanya untuk membalas kematian ayahmu!” Setelah berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li melompat dan hendak menerjang Dewa Bongkok. Akan tetapi nampak bayangan hitam berkelebat dan Hwee Li sudah menghadang di depannya.

“Tidak! Engkau tidak boleh membunuhnya!” katanya dengan wajah keras dan suara tegas.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan mukanya berubah merah, matanya berapi-api tanda bahwa wanita ini sudah kehilangan kesabarannya. Kalau tadi dia masih bersikap sabar adalah karena dia masih mengingat bahwa dara ini adalah murid keponakannya.

“Hwee Li, siapakah kakek ini dan apamukah dia maka engkau hendak melindunginya?”

“Bukan apa-apa. Aku tidak kenal padanya, akan tetapi jelas bahwa dia adalah seorang tua renta yang sudah terluka dan tidak berdaya, maka kalau engkau berkeras hendak membunuhnya, akulah yang akan membelanya!”

“Keparat, murid murtad engkau!” bentak Mauw Siauw Mo-li dan dia sudah menerjang ke depan dan menyerang Hwee Li dengan pukulan maut. Namun, dengan lincahnya Hwee Li mengelak ke kiri dan dari sini kakinya meluncur dengan tendangan kilat ke arah lambung bibi gurunya!

“Ehhh!” Mauw Siauw Mo-li terkejut dan makin marah. Kiranya murid keponakannya ini benar-benar berani melawannya.

“Singgg....!” Sinar hijau nampak dan Siluman Kucing itu telah mencabut sebatang pedang, lalu dia menubruk ke depan dan menyerang dengan dahsyatnya.

Hwee Li cepat berloncatan menghindarkan diri, kemudian tiba-tiba sinar hitam meluncur dari tangannya dan ular hitam itu telah digerakkan seperti senjata, menyerang dan mematuk ke arah leher Lauw Hong Kui. Wanita ini cepat menarik tubuh ke belakang dan mengibaskan pedang untuk membacok putus leher ular itu. Namun, ular itu amat gesit, sudah mengelak dengan leher dilengkungkan, dan pada saat itu, tangan kiri Hwee Li telah melancarkan pukulan tangan kiri yang mengandung uap berwarna putih. Itulah pukulan beracun yang berbau harum.

“Ihhh....!” Untuk kedua kalinya Mauw Siawu Mo-1i terkejut dan cepat dia mengelak, kemudian dia memutar pedangnya dengan cepat sehingga lenyaplah bentuk pedang itu, berubah menjadi segulung sinar hijau yang melingkar-lingkar dan menyambar ke sana-sini dengan hebatnya.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian. Setelah mendapatkan gemblengan dari Ceng Ceng dan petunjuk-petunjuk dari suami gurunya itu, yaitu Si Naga Sakti Gurun Pasir, kini tingkat kepandaian Hwee Li sudah naik tinggi sehingga tidaklah mudah bagi Mauw Siauw Mo-li untuk mengalahkannya. Sebaliknya, Hwee Li pun merasa sukar untuk mengalahkan bekas bibi gurunya yang lihai ini. Sampai seratus jurus mereka bertanding, masih belum ada yang nampak terdesak.

Diam-diam Mauw Siauw Mo-li menjadi penasaran sekali. Masa dia tidak mampu mengalahkan bekas murid keponakannya? Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangan kirinya melemparkan sebuah benda ke atas tanah. Terdengar ledakan dan nampak asap mengepul tinggi. Hwee Li maklum akan kelihaian bibi gurunya ini menggunakan bahan-bahan ledak, maka dia pun cepat meloncat jauh ke kiri. Akan tetapi kembali dia disambut oleh ledakan yang membuat pandang matanya gelap dan pada saat itu, dia masih melihat sinar hijau meluncur ke arah dadanya. Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan menggerakkan ular hitamnya untuk menangkis.

“Crakkk!” Ularnya terbabat putus menjadi dua dan terdengar suara ketawa mengejek dari Siluman Kucing itu, suara ketawa yang bercampur dengan suara kucing, ciri khas dari wanita ini!

“Setan!” Hwee Li memaki dan membuang bangkai ular itu, kemudian dia mengelak dari sambaran pedang berikutnya, lalu membalas dengan tamparan tangannya yang juga dapat dielakkan oleh lawan. Melihat Hwee Li kehilangan senjata ular yang ampuh itu, Mauw Siauw Mo-li tertawa lagi.

“Hwee Li, hayo kau berlutut minta ampun kepada bibi gurumu, baru aku ampuni engkau dan lekas kaubunuh kakek itu untuk membalas kematian ayahmu!” Dia masih tidak ingin membunuh dara cantik itu.

“Siluman betina!” Hwee Li memaki dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, kedua tangannya mengirim pukulan berantai yang cepat dan kuat. Mauw Siauw Mo-li menjadi marah.

“Bagus, engkau sudah bosan hidup!” bentaknya dan dia memutar pedangnya, namun dara itu benar-benar lihai. Biarpun kini tidak lagi memegang ular sebagai senjata, namun setiap serangan pedang dapat dielakkannya dengan mudah, bahkan untuk setiap serangan dia membalas kontan dengan pukulan atau tendangan yang tidak kalah bahayanya.

Mauw Siauw Mo-li makin gemas. Kembali tangannya melempar sebuah benda, sekali ini benda itu dilemparkan ke arah Dewa Bongkok! Melihat ini, Hwee Li menjerit dan tubuhnya meluncur ke samping, cepat dia menyambar benda itu sebelum mengenai tanah dan meledak, kemudian dia melontarkan benda itu ke arah pemiliknya. Terdengar ledakan keras dan asap makin memenuhi tempat itu. Tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan. Hwee Li maklum bahwa bibi gurunya itu menyerang dengan hebat, maka dia mengelak dan membalas dengan tendangan.

“Singgggg.... brettttt!” Sinar hijau menyambar di antara gumpalan asap dan celana kiri Hwee Li di bagian paha terobek ujung pedang, berikut kulit dan sedikit dagingnya sehingga paha itu luka berdarah.

“Ha-ha-ha, bocah murtad, engkau tidak lekas berlutut?” bentak Mauw Siauw Mo-li sambil tertawa dan mendesak dengan pedangnya. Hwee Li terpincang-pincang, namun dara yang berhati baja ini sama sekali tidak mau tunduk, bahkan sambil mengelak dia masih mencoba untuk balas menyerang. Akan tetapi, karena pahanya sudah terluka yang membuatnya terpincang, gerakan kakinya menjadi kaku dan tentu saja kegesitannya berkurang sehingga ia mulai terdesak hebat oleh pedang di tangan Siluman Kucing.

“Serang lambung kirinya!” tiba-tiba Hwee Li mendengar bisikan halus dan dia mengenal suara kakek tua renta yang bersamadhi itu. Suara itu demikian halus namun jelas sekali, seperti diucapkan di dekat telinganya saja, maka tahulah dia bahwa kakek itu telah mempergunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) untuk membantunya. Karena dia merasa yakin bahwa kakek itu adalah seorang yang amat sakti, maka dengan membuta dia lalu mengikuti petunjuknya dan tiba-tiba dia menerjang dengan serangan hebat ke arah lambung kiri Siluman Kucing.

“Ihhh....!” Siluman Kucing menjerit kaget karena pada saat itu memang lambung kirinya “terbuka” dan merupakan bagian yang paling lemah dari kedudukannya. Dia masih dapat melempar dirinya ke kanan sehingga terjangan Hwee Li itu luput sungguhpun dia sudah rnerasakan hawa pukulan menyerempet lambungnya. Kalau saja Hwee Li tadi tidak terheran dan sedikit terlambat, tentu serangannya sudah mengenai sasaran.

Siluman Kucing tidak tahu bahwa lawannya diberi petunjuk oleh kakek itu. Dia mengira bahwa serangan Hwee Li tadi hanya kebetulan saja, maka bangkitlah kemarahannya karena dia nyaris celaka. Sambil mengeluarkan lengking panjang pedangnya menusuk dan membacok kembali dengan bertubi-tubi dan kini Hwee Li terdesak lagi seperti tadi. Hwee Li terpaksa mengelak ke sana-sini dengan kakinya yang pincang. Dia merasa menyesal mengapa tadi dia agak terlambat sehingga petunjuk kakek itu tidak dipergunakan sebaiknya. Kalau dia tidak agak meragu, dia yakin bahwwa serangan tadi pasti mengenai sasaran.

“Tendang lutut kiri dan hantam pundak kanan!” kembali terdengar bisikan dan sekali ini Hwee Li bergerak secara otomatis menurutkan petunjuk itu tanpa mempedulikan hal lain. Dia mentaati secara membuta dan secara cepat sekali dan hasilnya luar biasa! Terdengar Siluman Kucing menjerit dan biarpun dia berusaha melempar tubuh ke belakang, namun hantaman ke arah pundaknya itu tetap saja mengenai sasaran.

“Plakkk....! Aduhhhhh....!” Pedang di tangan Siluman Kucing terlepas karena begitu pundaknya kena dihantam, lengan kanannya seperti lumpuh. Tadi dia terkejut melihat tendangan tiba-tiba dari Hwee Li yang ditujukan kepada lutut kirinya. Tendangan itu memang tepat dan berbahaya sekali karena pada saat itu, kuda-kudanya dititikberatkan kepada kaki kirinya yang berada di depan. Maka dia cepat menarik kaki kirinya agar lututnya yang dalam keadaan “terbuka” itu jangan kena tendang, akan tetapi siapa kira, gerakannya ini seperti telah dapat diduga terlebih dulu oleh dara itu yang sudah mengirim pukulan ke arah pundak kanannya pada saat pundak itu dalam keadaan tak terjaga.

Siluman Kucing terhuyung ke belakang dan merasa jerih. Lama dia tidak bertemu dengan murid keponakannya ini dan kiranya sekarang telah memiliki kepandaian yang demikian lihai! Melawan Hwee Li saja dia kewalahan dan hampir roboh, apalagi kalau kakek itu turun tangan membantu! Maka dia lalu mengeluarkan teriakan panjang seperti seekor kucing yang terpijak ekornya, dan tubuhnya sudah meloncat jauh ke belakang dan sebentar saja Siluman Kucing telah lenyap.

Hwee Li cepat mengambil pedang yang ditinggalkan oleh bekas bibi gurunya itu, dan dia menoleh ke arah Dewa Bongkok. Kakek itu masih duduk bersila di atas tanah, memejamkan kedua matanya. Hwee Li menarik napas panjang. Benar dugaannya. Kakek ini lihai bukan main akan tetapi berada dalam keadaan terluka parah. Kalau saja kakek aneh itu tidak membantunya dengan dua kali bisikan dan petunjuk, agaknya tidak mungkin dia dapat menangkan Mauw Siauw Mo-li yang lihai, apalagi karena pahanya telah terluka.

Hwee Li menghampiri kakek itu, sejenak memandang kakek yang masih bersamadhi dengan tekunnya. Dia tidak mau mengganggu, teringat bahwa kakek itu terluka parah dan sedang mengobati luka sendiri. Hwee Li lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, memeriksa pahanya yang terluka dan menaruhkan obat bubuk kepada lukanya. Dia menyeringai. Perih sekali obat itu, akan tetapi dengan cepat dapat menutup luka dan menghentikan keluarnya darah. Dengan saputangan yang bersih dibalutnya paha yang terluka itu, kemudian dia pun duduk bersila tak jauh dari kakek itu. Dia mengambil keputusan untuk menjaga dan melindungi kakek itu sampai kakek itu sembuh dan dapat membela diri sendiri.

Demikianlah, kini di tempat sunyi itu nampak dua orang duduk bersila dalam samadhi! Setelah memulihkan tenaganya dan rasa nyeri di pahanya yang terluka berkurang, Hwee Li membuka matanya, lalu bangkit berdiri. Dia merasa lapar sekali. Kakek itu masih tetap duduk bersila seperti tadi, napasnya panjang-panjang dan sebagai seorang muda yang terlatih, Hwee Li maklum pula bahwa kakek itu memang benar sedang berdaya untuk mengobati dirinya sendiri.

Maka dia pun tidak berani mengganggu, dan hanya ingin menunggu sampai kakek itu selesai mengobati luka
di dalam tubuhnya. Pergilah Hwee Li untuk mencari makanan pengisi perutnya yang lapar. Akan tetapi karena dia tidak berani meninggalkan kakek itu terlampau
jauh, dia hanya mencari di sekitar tempat itu dan akhirnya dia hanya bisa mendapatkan akar-akaran yang dapat dimakan! Tidak ada pohon-pohon buah di hutan dekat situ dan dia tidak melihat binatang hutan pula. Akan tetapi, akar-akaran itu cukup enak kalau dibakar.
Maka dia lalu membuat api dan mulai memanggang akar-akaran itu. Dimakannya sebagian dari makanan itu dan sebagian lagi disisihkannya untuk kakek itu kalau sudah sadar dari samadhinya nanti. Bukan menjadi kebiasaan Hwee Li untuk mencampuri urusan orang. Akan tetapi dia tidak suka kepada Mauw Siauw Mo-li yang dia tahu merupakan seorang iblis betina yang selain kejam dan curang, juga cabul itu. Maka, melihat bekas bibi gurunya itu tadi hendak membunuh kakek ini, dia lalu turun tangan menentang. Kemudian dia mendengar bahwa kakek ini telah membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, maka dia merasa tertarik sekali. Hek-tiauw Lo-mo adalah musuh besarnya, yang telah merusak kehidupan ibu kandungnya, bahkan hampir saja menjerumuskan dia ke dalam lembah kehinaan dengan “menjualnya” kepada Pangeran Liong Bian Cu. Maka, mendengar bekas ayahnya dan juga musuh besarnya itu terbunuh oleh kakek ini, dia merasa tertarik sekali untuk bicara dengan kakek ini. Di samping itu, juga dia tidak ingin melihat kakek ini terancam bahaya dan terbunuh oleh Mauw Siauw Mo-li, maka dia lalu menjaganya dan menanti sampai kakek itu selesai mengobati dirinya sendiri.

Akan tetapi, sehari penuh dia menanti dan hari telah berganti malam, namun kakek itu masih belum juga bangun dari samadhinya! Hati Hwee Li mulai menjadi kesal. Dia bukan seorang gadis yang penyabar. Akan tetapi melihat betapa nyamuk-nyamuk mulai merubung tubuh kakek itu dan tentu merupakan gangguan bagi samadhinya, timbul rasa kasihan di hatinya. Dibuatnya api unggun dan diusirnya nyamuk-nyamuk itu. Setelah kehangatan api unggun mengusir dingin dan nyamuk, barulah dia duduk di dekat api unggun dan menoleh kepada kakek itu sambil mengomel.

“Kalau sampai besok pagi engkau belum juga terbangun, jangan salahkan aku kalau terpaksa aku meninggalkanmu, Kek. Aku masih harus melakukan perjalanan jauh, mencari orang yang entah ke mana perginya!” Dia menarik napas panjang, lalu merebahkan diri di atas daun-daun kering yang dikumpulkannya di tempat itu, rebah miring menghadapi api dan termenung ke dalam nyala api yang menjilat-jilat.

Malam itu Hwee Li hanya dapat tidur ayam, yaitu antara tidur dan sadar, terkantuk-kantuk di dekat api unggun. Biarpun kadang-kadang dia tertidur, namun kesadarannya masih selalu waspada sehingga sedikit suara saja akan cukup untuk membangunkannya, juga dia selalu tahu kalau api unggun padam atau mengecil sehingga cepat dia bangun dan menambah kayu bakar. Berkali-kali, kalau terbangun, dia menengok kepada kakek itu dan ternyata kakek itu masih saja duduk bersila dan tenggelam dalam samadhi seperti siang tadi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari menerangi tanah, Hwee Li memanggang lagi beberapa potong akar-akaran untuk dimakan dan sebagian dia letakkan di depan kakek itu bersama pedang yang ditinggalkan oleh Mauw Siauw Mo-li kemarin.

“Kek, terpaksa aku harus meninggalkanmu. Ini ubi bakar untukmu, dan ini pedang untuk menjaga diri kalau ada penjahat hendak mengganggumu. Maafkan aku, Kek, aku tidak bisa menjagamu di sini selamanya!”

Hwee Li menatap wajah itu dan tiba-tiba sepasang mata itu terbuka.

“Ihhhhh....!” Hwee Li terkejut dan terlompat mundur. Sepasang mata kakek itu benar-benar mempunyai cahaya yang mengejutkan, mencorong seperti mata harimau di tempat gelap! Akan tetapi kagetnya segera lenyap ketika dia melihat hetapa sepasang mata itu biarpun mencorong aneh, namun memandang kepadanya dengan lembut dan mulut tua itu mengulum senyum. Dia mendekat lagi, duduk di dekat kakek itu sambil memandang wajahnya yang agak pucat.

“Thian Yang Maha Kuasa....“ terdengar kakek itu berkata halus, “Kalau belum berkenan mencabut nyawa seorang tua seperti aku, ada saja yang menyelamatkan. Agaknya masih belum cukup hukumanku maka aku masih diberi usia panjang....“

Mendengar keluhan ini, Hwee Li tersenyum geli. “Kek, orang lain minta umur panjang, mengapa engkau sebaliknya mengomel diberi umur panjang? Dan tentang menolong tadi, aku tidak tahu siapa menolong siapa. Kalau tidak ada engkau yang membisiki dua jurus serangan kemarin, mungkin aku yang tidak bisa berumur panjang!”

Sepasang mata itu berseri dan pandang matanya memperhatikan Hwee Li penuh selidik. “Namamu Hwee Li?”

“Benar, Kek.”

“Siapa nama keturunanmu?”

Hwee Li membuang muka, merasa sebal. “Uhhh, tak perlu menyebut nama keturunanku, Kek, hanya mendatangkan sial saja kepadaku. Namaku Hwee Li, cukuplah.”

Karena membuang muka, Hwee Li tidak melihat betapa pandang mata kakek itu makin berseri, karena sikap dara ini amat menarik hatinya dan menimbulkan rasa suka di hatinya.

“Hwee Li, ketika aku diserang oleh wanita itu, mengapa engkau membelaku? Bukankah wanita itu bibi gurumu? Mengapa engkau berani melawan bibi guru sendiri?”

“Huh, bibi guru macam apa dia? Jangankan bibi guru, biar ayah sendiri, kalau jahat, tentu akan kutentang!” jawab Hwee Li marah.

Kakek itu makin tertarik. Gadis ini benar-benar luar biasa. Jarang menemukan seorang gadis yang begini keras namun tegas dan wajar, penuh kepolosan dan keberanian. Mirip watak mantunya, isteri dari muridnya!

“Bukankah engkau sudah mendengar dari bibi gurumu bahwa ayahmu tewas karena aku? Bukankah Hek-tiauw Lo-mo itu ayah kandungmu?”

“Sama sekali bukan!” Hwee Li makin gemas karena dia diingatkan akan keadaan keluarganya yang hanya mendatangkan kesialan baginya. “Dia adalah musuh besarku!”

“Hemmm.... bagaimana pula ini?” Kakek itu bertanya dan tersenyum.

“Sebenarnya aku tidak suka bicara tentang ini, Kek, akan tetapi agar engkau tidak menjadi penasaran dan bingung, biarlah kuceritakan kepadamu. Memang aku dan semua orang tadinya menganggap Hek-tiauw Lo-mo itu ayah kandungku. Akan tetapi kini telah terbuka kedoknya. Dia sama sekali bukan ayah kandungku, bahkan dia musuh besarku yang dulu menculik ibuku dan menjadi sebab kematian ibuku. Ah, andaikata dia itu ayahku sendiri sekalipun, tetap saja kutentang karena dia jahat.”

Kakek itu memandang dengan penuh perhatian.

“Kau akan menentang ayah kandung sendiri?”

“Tentu!” Hwee Li berkata gemas dan mengepal kedua tinju tangannya, lalu bangkit berdiri dan berdongak memandang ke udara. “Apa artinya ayah kandung kalau dia jahat? Dia hanya akan melumuri aku dengan kekotoran namanya! Nama busuk seorang ayah akan diwarisi anaknya yang tidak bersalah, mendatangkan kesialan, membuat aku dibenci orang, hanya karena orang tua....!” Dan tiba-tiba Hwee Li menangis dan membanting-banting kakinya.

Sepasang mata kakek itu terbelalak. Dia membiarkan gadis itu menangis sesunggukan sambil menutupi muka dengan kedua tangan. Akan tetapi tidak lama Hwee Li menangis. Dia tadi menangis karena mendapat kesempatan menumpahkan rasa penyesalan dan penasaran hatinya, teringat betapa Kian Lee menyia-nyiakan dan meninggalkannya hanya karena dia keturunan pemberontak! Kekerasan hatinya membuat tangisnya itu hanya sebentar lalu mereda.

Melihat ini, Dewa Bongkok menarik napas panjang. “Hwee Li, apakah orang tuamu sendiri, ayah kandungmu, juga seorang jahat seperti Hek-tiauw Lo-mo?”

Hwee Li menggeleng kepala. Dia tidak mengenal kakek ini. Dan karena kakek ini orang asing, orang asing yang kebetulan saja kini terlibat menjadi orang yang menjadi tempat pencurahan semua rasa penasaran hatinya, maka dia tidak ragu-ragu untuk bicara tentang dirinya sendiri. “Aku sendiri tidak pernah melihat ayah kandungku, Kek. Entah dia orang baik atau jahat aku pun tidak tahu. Hanya karena dia dikenal sebagai seorang pemberontak, maka orang lalu menghinaku, bahkan orang yang paling baik.... yang paling kucinta.... telah meninggalkanku. Kek, apa sih salahnya orang yang menjadi anak pemberontak? Ayah kandungku memberontak ketika aku masih bayi, aku tidak tahu mengapa dan untuk apa dia memberontak. Akan tetapi mengapa semua orang benci kepadaku?”

Kakek itu menarik napas panjang dan menengadah seolah-olah dia bicara kepada awan yang berarak di langit, bukan kepada Hwee Li, “Begitulah memang pendapat umum, watak masyarakat yang sudah membudaya! Manusia dinilai dari keturunannya, dari agamanya, dari kedudukannya, dari harta bendanya, dari pengetahuannya. Betapa menyedihkan ini. Dan karena penilaian didasarkan atas semua itu, maka manusia lalu memperebutkan semua itu yang dianggap sebagai syarat untuk dapat hidup mulia! Manusia dianggap seperti pohon-pohon, pohon yang buahnya masam pasti menghasilkan bibit yang masam pula. Manusia yang dianggap jahat pasti menurunkan anak yang jahat pula! Betapa menyedihkan anggapan ini! Dan betapa banyaknya anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban nama buruk orang tuanya. Memang tidak adil! Bahkan menilai seseorang sebagai jahat pun tidak adil. Kehidupan ini selalu berubah. Manusia pun selalu mengalami perubahan, ada kalanya dia dianggap jahat, ada kalanya dia dianggap baik. Anggapan itu hanya penilaian belaka, tergantung kepada kepentingan si penilai. Aih, Hwee Li, kalau orang menganggap engkau rendah dan hina, maka yang jelas dia itulah yang rendah dan hina, karena anggapan seperti itu sudah rendah namanya. Mengapa engkau hiraukan benar? Jangankan hanya beberapa orang yang menganggapmu jahat, kalau engkau meneliti diri sendiri dan mendapat kenyataan bahwa engkau tidak jahat, peduli apa? Biarlah semua orang menilaimu jahat. Hidup bukan tergantung daripada penilaian orang lain. Yang penting adalah mengamati diri sendiri. Biar tidak ada seorang pun manusia lain mengetahuinya, akan tetapi kalau dalam pengamatanmu itu engkau melihat dirimu kotor, haruslah segera dibersihkan! Jadi, yang penting bukan penilaian orang lain, melainkan pengamatan diri sendiri terhadap diri sendiri. Mengertikah engkau, Hwee Li?”

Ucapan kakek yang dilakukan dengan suara halus itu meresap ke dalam hati sanubari Hwee Li dan gadis itu merasa bangkit kembali semangatnya, “Engkau benar, Kek! Terima kasih. Akan tetapi, aku pun tidak akan peduli penilaian orang lain, biar orang sedunia sekalipun, hanya.... karena mereka berdua itulah yang membuat hatiku terasa perih...., penilaian mereka berdua yang kini menjauhiku membuat hatiku merana.”

“Hemmm, mereka berdua itu siapakah? Mengapa justeru mereka berdua yang kauhiraukan?”

“Dia.... dia.... pacarku, Kek. Dan yang seorang guruku....“

Diam-diam kakek itu terharu juga. Dara ini sungguh amat jujur, tidak seperti orang lain yang malu-malu kucing dan menyembunyikan perasaannya. Dara ini berterus terang, apa adanya, dan amat menarik hatinya.

“Hemmm, mereka itu tidak bijaksana. Tidak mengherankan kalau pacarmu memiliki pandangan umum seperti itu karena tentu dia masih muda dan hijau. Akan tetapi gurumu, mengapa dia sepicik itu pula?”

“Guruku pun masih muda, Kek, tidak banyak selisihnya usianya dengan pacarku. Dia pantas menjadi enciku. Aku amat sayang kepadanya dan dia pun tadinya amat cinta kepadaku, akan tetapi setelah dia tahu bahwa aku keturunan pemberontak.... dia memutuskan hubungan....“ Hwee Li memejamkan mata menahan air matanya yang sudah membikin panas kedua matanya lagi.

“Hemmm, gurumu masih begitu muda? Dan kau sudah selihai itu? Tentu gurumu lihai sekali.”

“Tentu saja dia lihai! Suaminya lebih lihai lagi, Kek. Suaminya adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir!”

Karena kakek itu menundukkan mukanya, Hwee Li tidak melihat keheranan yang membayang di kedua mata kakek itu. Tentu saja kakek itu terkejut dan heran. Kiranya gadis yang amat menarik hatinya ini adalah murid dari Ceng Ceng, isteri muridnya sendiri! Dia memang pernah mendengar bahwa isteri muridnya itu mempunyai seorang murid yang selama beberapa bulan pernah pula ikut ke Istana Gurun Pasir, akan tetapi dia tidak pernah tahu siapa namanya dan tidak pernah pula saling bertemu. Memang selama itu dia hanya bertapa saja, menyendiri di kamar rahasia dalam istana itu. Dan tadi ketika melawan Mauw Siauw Mo-li, Hwee Li juga tidak pernah menggunakan jurus dari aliran Dewa Bongkok maka dia tidak mengenalnya. Kakek ini tidak tahu bahwa sesungguhnya gadis ini menjadi murid Ceng Ceng hanya dalam hal penggunaan racun dan pukulan-pukulan beracun saja, dan mendapat bimbingan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya, yaitu yang dipelajarinya dari Hek-tiauw Lo-mo. Sebaliknya, Hwee Li tentu saja tahu bahwa suami dari gurunya adalah murid seorang manusia dewa yang berjuluk Si Dewa Bongkok atau Go-bi Bu Beng Lojin, akan tetapi karena belum pernah jumpa, sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa kakek yang ditolongnya ini adalah kakek gurunya itu! Apalagi dia membayangkan kakek guru itu sebagai dewa yang tidak pernah memperlihatkan diri kepada manusia lain.

Hening sampai lama semenjak Hwee Li menyebut nama Naga Sakti Gurun Pasir tadi. Berbagai pikiran memenuhi kepala Dewa Bongkok dan dia sudah mengambil keputusan mengenai gadis ini.

“Hwee Li, maukah engkau menjadi ahli waris ilmu silat yang akan membuat engkau tidak mudah dikalahkan orang, apalagi kalau hanya oleh orang seperti wanita tadi? Maukah engkau mempelajari ilmu simpananku yang belum lama kuciptakan?! Tiba-tiba kakek itu bertanya.

“Dan menjadi muridmu, Kek?” Hwee Li mengangkat muka memandang. Dia merasa pernah melihat sepasang mata mencorong seperti itu, akan tetapi dia lupa lagi entah di mana. Dia lupa bahwa yang memiliki mata mencorong seperti itu adalah suami gurunya, Si Naga Sakti Gurun Pasir! “Akan tetapi, aku belum mengenalmu.”

“Hemmm, tidak perlu mengenal. Engkau sudah tahu bahwa Hek-tiauw Lomo dan Hek-hwa Lo-kwi tewas karena mereka itu menyerangku dan aku menderita luka parah. Biarpun aku telah menyembuhkan luka itu, namun aku perlu beristirahat dan mengingat usiaku sudah amat tua, kalau tidak sekarang kuturunkan kepada seseorang, tentu aku tidak akan sempat lagi mewariskan kepada orang lain. Kau cocok untuk menjadi ahli warisku, Hwee Li.”

“Kalau begitu aku tidak perlu menjadi muridmu?”.

“Murid atau bukan hanya sebutan saja. Aku percaya bahwa di tanganmu, ilmuku tidak akan sia-sia.”

“Baiklah, Kek. Akan tetapi, aku harus melakukan perjalanan jauh menyusul dia....!”

“Pacarmu?”

“Benar. Aku masih penasaran. Dia tidak boleh membawa-bawa aku ke dalam keburukan nama ayah kandung yang sama sekali tak pernah kukenal itu. Dia tidak adil dan aku harus menegurnya!”

“Baaus! Memang engkau benar, dan pacarmu itu picik. Dia tentu seorang pemuda bodoh, mengapa engkau memilih pacar macam dia?”

“Uwah! Kakek terlalu memandang rendah dia! Engkau tidak tahu siapa dia, Kek, dia adalah Suma Kian Lee, putera dari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!”

Kembali kakek itu terkejut bukan main, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu. “Ah, kiranya begitu? Sungguh kebetulan sekali aku memilihmu sebagai ahli waris ilmuku karena dengan ilmu itu engkau harus dapat melindungi Pendekar Super Sakti.”

“Eh, apa maksudmu, Kek?”

“Menurut pengakuan Hek-hwa Lo-kwi sebelum dia tewas oleh ulahnya sendiri, di gurun pasir di dataran Bukit Chang-pai-san akan diadakan pertemuan yang pasti akan menjadi pertandingan mati-matian antara Pendekar Super Sakti dan Im-kan Ngo-ok, maka mereka ini tentu mendatangkan jagoan-jagoan untuk membantu mereka mengeroyok Pendekar Super Sakti. Kalau aku tidak sedang terluka, tentu aku akan dapat mendamaikan mereka dan melindungi Majikan Pulau Es itu, akan tetapi aku terluka, maka aku sengaja memilihmu untuk mewarisi ilmuku dan mewakili aku melindungi pendekar sakti itu.”

“Jadi untuk itukah maka engkau hendak menurunkan ilmu itu kepadaku, Kek?”

“Sebagian, yang terutama, untuk itu. Akan tetapi juga karena aku suka melihatmu, Hwee Li.”

“Biarpun aku keturunan pemberontak?”

“Hemmm, mereka yang menghinamu karena keturunanmu akan kutegur kalau aku sempat bertemu dengan mereka. Mereka itu tolol dan picik!”

Besarlah hati Hwee Li mendengar ini. Kakek ini adalah orang pertama yang bukan saja tidak merendahkan keturunannya, bahkan hendak membelanya dan lebih dari itu, hendak menurunkan ilmunya kepadanya. Dan mengingat betapa kakek ini dapat merobohkan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, apalagi sudah dapat dia buktikan kesaktiannya ketika memberi petunjuk dia menghadapi Mauw Siauw Mo-li, dia yakin bahwa ilmu yang akan diturunkan itu tentu hebat bukan main.

“Nah, sekarang bersiaplah, Hwee Li. Engkau harus menghafal kauw-koat (teori silat) lebih dulu, baru kuberi petunjuk tentang gerakan-gerakannya, yaitu gerakan dasar dan gerakan pokok. Kita hanya memiliki waktu sebulan lebih lagi, yaitu pada malam bulan purnama bulan depan.”

“Mana mungkin menghafal ilmu yang hebat hanya dalam waktu sesingkat itu?” tanya Hwee Li.

“Ilmu itu hanya terdiri dari delapan jurus, Hwee Li.”

“Delapan jurus? Kalau hanya sedemikian pendeknya, mana bisa disebut hebat?”

“Ah, engkau tidak tahu. Aku telah menghabiskan waktu belasan tahun untuk merangkai ilmu yang kunamakan Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Mengejar Arwah) ini. Dan biarpun kauw-koatnya dapat kauhafalkan dalam waktu singkat setelah kuberi kunci-kuncinya, namun untuk mematangkan ilmu ini, biar sampai lima puluh tahun sekalipun masih dapat terus ditingkatkan, Hwee Li. Dasar dan pokok gerakan ilmu yang hanya delapan jurus ini telah mencakup semua dasar ilmu silat dan dapat kaupergunakan untuk menghadapi ilmu yang bagaimana lihai pun dari lawan.”

Hwee Li menjulurkan lidahnya karena kaget, kagum dan juga girang. Dia lalu mulai mempelajari Ilmu Silat Cui-beng Pat-ciang dengan penuh ketekunan dan kakek itu merasa girang karena gadis ini memang cerdas sekali, dengan mudah dapat mengerti ketika dia memberi penjelasan tentang kunci rahasia ilmu itu, kemudian menghafal teorinya.

Semua ini mereka lakukan sambil melanjutkan perjalanan perlahan-lahan karena kakek itu harus sering beristirahat untuk menghimpun tenaganya. Siang malam Hwee Li menghafal dan melatih gerakan-gerakan pokok dan dasar dari ilmu silat baru itu, dan dengan girang sekali dia memperoleh kenyataan betapa baru melatih beberapa hari saja, sinkangnya bertambah kuat. Apalagi ketika kakek itu memberi petunjuk kepadanya cara mengumpulkan hawa murni dan mempergunakan tenaga dari pusarnya, dia memperoleh kemajuan hebat dalam waktu beberapa hari saja!

***
Bersambung ke buku 20