Bu Kek Siansu -11 | Kho Ping Hoo


Buku 11
"Banyak terima kasih kami haturkan atas bantuan Ji-wi yang mulia," kata Toan Ki. "Kalau tidak mendapat bantuan Ji-wi, tentu kami berdua telah tewas di tangan para pengawal Kaisar itu."

"Ah, diantara kita, bantu membantumerupakan hal yang sudah sewajarnya," jawab Kwee Lun. "kami sendiri juga mengharapkan bantuan Ji-wi."

"Bantuan apa? Kami akan bergembira sekali kalau dapat membantu Ji-wi," seru Liem Toan Ki yang telah merasa berhutang budi.

"Kami berdua sedang mencari seorang tokoh bernama Ouw Sian Kok, tokoh dari Pulau Neraka. Barangkali Ji-wi dapat membantu kami di mana adanya Ouw-locianpwe itu?"

Kaget juga Swi Nio dan Toan Ki mendengar disebutnya Pulau Neraka, mereka saling pandang dan menggelengkan kepala. "Sayang, kami sendiri belum pernah mendengar nama Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka. Akan tetapi kami akan membantu sekuat tenaga. Di manakah adanya beliau yang terakhir kalinya, dan apakah Ji-wi sudah mendapatkan jejaknya?"

"Itulah sukarnya. Kami tidak tahu beliau berada di mana maka mengharapkan keterangan dari orang-orang kang-ouw."

"Kalau begitu, mari Ji-wi ikut dengan kami ke timur. Saya kira, mencari seorang tokoh besar di dunia kang-ouw akan bisa kita dapatkan keterangan selengkapnya di sekitar kota raja. Apalagi sekarang, setelah perjuangan An Lu Shan Tai-ciangkun berhasil, tentu banyak tokoh kang-ouw muncul di kota raja dan kita dapat bertanya-tanya kepada mereka."

"Akan tetapi kabarnya di sana terjadi perang, bahkan banyak orang mengungsi ke Secuan."

Toan Ki tersenyum. "Jangan khawatir, kami berdua adalah orang-orang dalam! Kami berdua bekerja untuk An-tai-ciangkun, maka kami mempunyai banyak kenalan di sana. Sekarang Tiang-an telah diduduki, dan agaknya keadaan tentu telah aman kembali. "

Mereka bercakap-cakap dan terdapatlah kecocokan di antara mereka. Juga Soan Cu menjadi akrab dengan Swi Nio. Gadis Pulau Neraka yang masih hijau ini senang sekali mendengar penuturan Swi Nio yang sudah berpengalaman, sebaliknya Swi Nio juga kagum terhadap dara cantik yang ternyata adalah seorang dari Pulau Neraka yang hanya dikenal dalam dongeng, kagum menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Soan Cu tadi dan jug ngeri menyaksikan senjata-senjata yang ampuh dan ganas itu.

Berangkatlah mereka berempat, kembali ke timur menuju ke Tiang-an, kota raja pertama yang telah terjatuh ke tangan An Lu Shan.

Setelah berhasil menduduki Lok-yang ibu kota kedua itu melalui pertempuran yang seru, An Lu Shan memimpin pasukan intinya menuju ke Tiang-an. Kembali dia harus menghadapi perlawanan gigih di Lembah Tung Kuan, akan tetapi setelah lembah ini didudukinya, pasukan-pasukan terus menekan dan bergerak menuju ke Tiang-an.

Demikianlah, Tiang-an, ibu kota yang megah itu, diserbu dan didudukinya dengan amat mudah, hampir tidak ada perlawanan sama sekali. Hal ini adalah karena banyak kaki tangan dan mata-matanya yang dipimpin oleh Ouwyang Cin Cu dan The Kwat Lin, telah lebih dulu melakukan kekacauan-kekacauan sehingga melemahkan pertahanan, juga Kaisar melarikan diri meninggalkan kota raja Tiang-an, hal ini membuat para pasukan penjaga menjadi kehilangan semangat dan sebagian besar di anatara mereka menyatakan takluk tanpa melalui peperangan yang lama, ada pula yang melarikan diri menyusul rombongan Kaisar ke barat.

Seperti biasa terjadi di waktu perang, dari jaman dahulu sebelum sejarah tercatat sampai sekarang, akibat-akibat yang mengerikan terjadi dan menimpa diri pihak yang kalah perang. Demikian pula nasib para bangsawan di kota raja yang tidak sempat melarikan diri. Banyak orang dibunuh hanya oleh tudingan jari tangan orang lain yang memfitnahnya, mengatakan bahwa orang itu adalah mata-mata pemrintah. Mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan anggauta-anggauta pasukan pemberontak yang menang perang itu berpesta pora mengangkuti harta benda dan wanita dari pihak yang kalah. Jerit tangis wanita-wanita yang dipaksa dan diperkosa, membumbung tinggi ke angkasa, bercampur baur dengan sorak dan tawa kemenangan. Dan An Lu Shan, seorang yang ahli dalam hal memimpin pasukan, sengaja membiarkan saja hal itu terjadi agar darah yang bergolak di dada para anak buahnya dapat diredakan. Beberapa hari kemudian, setelah anak buahnya sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya mengganggu wanita dan merebutkan harta benda yang ditinggal lari, barulah muncul perintah yang melarang perbuatan seperti itu.

Namun An Lu Shan juga tidak melupakan janji-janjinya kepada para pembantunya yang telah berjasa. Dengan royal dia lalu membagi-bagikan pangkat, gedung bekas tempat tinggal para bangsawan yang melarikan diri atau terbunuh, membagi-bagikan harta benda dan para puteri cantik yang menjadi tawanan. Maka selama beberapa bulan lamanya berpesta poralah para kaki tangan An Lu Shan yang menerima hadiah-hadiah itu.

Tentu saja An Lu Shan lebih lagi memperhatikan para pembantu yang tangguh dan yang masih diharapkan bantuan mereka. Kepada mereka ini dia memberi hadiah yang lebih besar lagi. Dia tidak mengingkari janjinya terhadap para pembantu yang berjasa besar seperti The Kwat Lin bekas Ratu Pulau Es itu, maka setelah Tiang-an diduduki, putera The Kwat Lin yang bernama Han Bo ong lalu diberi anugerah pangkat pangeran! The Kwat Lin sendiri diangkat menjadi seorang panglima pengawal, sedangkan Ouwyang Cin Cu diangkat menjadi koksu (guru penasihat negara).

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai, puteranya telah menjadi pangeran dan kalau dia pandai mengatur kelak siapa tahu terbuka kesempatan bagi para puteranya untuk menjadi Kaisar! Tidaklah mengherankan apa yang terkandung dalam hati The Kwat Lin sebagai cita-cita ini. Sudah lajim bagi kita manusia di dunia ini untuk selalu menjadi hamba dari cita-cita kita sendiri. Seluruh kehidupan ini seolah-olah dikuasai dan diatur oleh cita-cita kita masing-masing. Kita tenggelam dalam khayal dan cita-cita, tidak tahu betapa cita-cita amatlah merusak hidup kita . Cita-cita membuat pandang mata kita selalu memandang jauh ke depan penuh harapan untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan. Pandang mata yang selalu ditujukan ke masa depan yang belum ada ini, tangan yang dijangkaukan ke depan untuk selalu mengejar apa yang belum kita miliki membuat kita hidup seperti dalam bayangan. Kita tidak mungkin dapat menikmati hidup, padahal hidup adalah saat demi saat, sekarang ini, bukan masa depan yang merupakan bayangan khayal atau masa lalu yang sudah mati. Sekali kita menghambakan diri kepada cita-cita, selama hidup kita akan terbelenggu oleh cita-cita karena tidak ada cita-cita yang dapat terpenuhi sampai selengkapnya, dan kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tak berkeputusan. Mendapat satu ingin dua, memperoleh dua mengejar tiga dan selanjutnya, itulah cita-cita! Dan semua itu akan kita kejar terus sampai kematian merenggut kehidupan kita, bahkan di ambang kubur sekali pun di waktu mendekati kematian, kita masih terus di cengkeram cita-cita, yaitu cita-cita untuk masa depan sesudah mati! Betapa mungkin kita dapat menikmati hidup ini kalau mata kita selalu memandang masa datang yang belum ada? Sebaliknya, orang yang bebas dari cita-cita, bebas dari masa lalu dan masa depan, dapat menghayati hidup ini saat demi saat!

Demikian pula dengan The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai dengan diangkatnya puteranya menjadi pangeran, akan tetapi sudah habis di situ sajakah cita-citanya? Sama sekali belum! jauh dari pada cukup atau habis! Bahkan cita-cita barunya yang lebih hebat baru saja dia mulai, yaitu cita-cita melihat puteranya menjadi kaisar! Karena cita-cita ini, maka keadaannya pada saat itu tidak terasa membahagiakan, bahkan terasa amat kurang. Hanya pangeran! hanya panglima pengawal! jauh dibandingkan dengan puteranya menjadi kaisar dan dia menjadi ibu suri!

Banyak orang membantah, mengatakan bahwa cita-cita mendatangkan kemajuan, tanpa cita-cita kita tidak akan maju. Apakah cita-cita itu? Apakah kemajuan itu? Cita-cita adalah keinginan akan sesuatu yang belum terdapat oleh kita. Dan keinginan seperti ini merupakan dorongan nafsu yang tak mengenal kenyang, makin dituruti makin lapar dan haus, menghendaki yang lebih. Dan akhirnya akan sukar dibedakan lagi dengan ketamakan, kerakusan yang mendatangkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan. Dan apakah kemajuan itu? Sudah menjadi pendapat umum bahwa kemajuan adalah keduniawian, harta benda, kedudukan, nama besar. Apakah "kemajuan" seperti ini mendatangkan kebahagiaan" hanya mereka yang telah memiliki nama terkenal saja yang mampu menjawab, dan jawabannya pasti TIDAK! Bahkan sebaliknya malah. makin banyak kedudukan atau nama besar, makin ketat kita melekat kepada duniawi, makin banyak pula kesengsaraan hidup yang kita derita berupa kekecewaan, pertentangan dan kekhawatiran. karena yang sudah pasti saja, hanya mereka yang masih memiliki lahir batin yang akan kehilangan! Dan kehilangan berarti kekecewaan, kedukaan dan sebelumnya terjadi kehilangan, kita digerogoti kekhawatiran.

Kembali kepada keadaan The Kwat Lin. hasil yang dicapai sampai ke taraf itu disambut dengan pesta pora di dalam sebuah gedung besar, sebuah istana kepunyaan seorang pangeran yang telah dibunuh. The Kwat Lin mengadakan pesta besar dan mengundang banyak teman-teman para pembesar di kota raja.

Amat meriah pesta yang diadakan di istana Pangeran Han Bu Ong itu. The Kwat Lin yang menyambut para tamu bersama puteranya, mengenakan pakaian yang amat mewah dan indah, pakaian yang sepatutnya dipakai oleh seorang ratu atau ibu suri tulen. Ada pun Han Bu Ong yang biarpun masih belum dewasa namun bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu mengenakan pakaian yang pantas pula lagi seorang pangeran tulen.

Biarpun An Lu Shan sendiri yang kini telah menjadi kaisar baru tidak datang dan hanya mengirim wakil karena dia sendiri sibuk merayakan kemenangannya, namun hampir semua pembantu An Lu Shan yang kini menjadi orang-orang berpangkat dan bangsawan baru itu memenuhi halaman istana yang luas. ratusan lampu penerangan membuat tempat itu terang benderang seperti siang hari saja, dan suasana menjadi gembira oleh suara tetabuhan yang menyambut datangnya para tamu yang berbondong-bondong. Biasanya, kalau ada pembesar atau bangsawan mengadakan pesta, rakyat tentu bergerombol di luar untuk menonton.

Akan tetapi pada waktu itu tidak nampak seorang pun karena pada waktu itu, rakyat penghuni ibu kota sedang dicengkeram ketakutan hebat. Seperti biasa setelah perang berakhir, rakyat yang menjadi sasaran mereka yang memperoleh kemenangan. Para anggauta pasukan baru berkeliaran keluar masuk perkampungan, keluar masuk rumah orang seperti rumahnya sendiri, bahkan tidak jarang terjadi mereka memasuki kamar tidur orang seperti memasuki kamar tidur sendiri sambil menyeret nyonya rumah yang masih muda atau anak gadis mereka! Seperti para atasannya yang mengadakan pesta besar-besaran, kaum rendahan juga berpesta dengan gayanya tersendiri. Seperti biasanya pula, penduduk hanya pandai menangis dan mengeluh mengadu kepada Thian sebagai hiburan satu-satunya.

Menjelang tengah malam, pesta masih amat ramai. Ouwyang Cin Cu sebagai seorang yang berkedudukan tinggi sekali sekarang, seorang koksu, datang juga hanya sekedar memberi selamat dan tidak tinggal lama. Akan tetapi para pengawal baru, tentu saja mereka yang berpangkat perwira ke atas, masih berpesta pora karena memang The Kwat Lin ingin mengambil hati para rekannya ini yang kelak dia harapkan bantuan mereka.

Bahkan ketika para tamu orang penting sudah meninggalkan tempat pesta dalam keadaan setengah mabok dan tempat itu mulai sepi, The Kwat Lin masih menahan para pembesar pengawal yang jumlahnya belasan orang itu untuk diajak berunding mengenai tugas mereka yang baru sebagai pengawal-pengawal istana, bahkan mereka merupakan dewan pimpinannya.

Lewat tengah malam, para tamu sudah pulang dan yang tinggal hanyalah empat belas orang pimpinan pengawal yang kini dijamu dan diajak berunding di ruangan dalam, adapun ruangan luar tempat pesta mulai dibersih-bersihkan oleh sejumlah pelayan yang kelihatan lelah dan mengantuk.

Pada saat itulah berkelebat bayangan tiga orang. Para pelayan yang membersihkan tempat bekas pesta itu hanyalah melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu kelihatan dua orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah sudah berdiri dengan sikap angker! Tentu saja para pelayan terkejut sekali dan mengira bahwa orang-orang aneh yang bergerak amat cepatnya ini tentulah sahabat majikan mereka yang juga terkenal lihai bukan main, maka seorang di antara mereka menyambut sambil menjura dan berkata, "Sam-wi yang terhormat agak terlambat karena pesta telah bubar."

"Kami tidak ingin pesta," jawab wanita yang setengah tua dengan sikap keren. "Kami ingin berjumpa dengan majikan kalian."

Melihat sikap yang keren penuh wibawa ini, para pelayan menjadi gentar dan dua orang di antara mereka cepat memasuki ruangan dalam di mana The Kwat Lin sedang mengadakan perundingan dengan rekan-rekannya. Diam-diam wanita itu, Liu Bwee, memberi isyarat dengan matanya kepada Swat Hong, puterinya. Swat Hong mengangguk dan dengan gerakan yang amat cepat dara ini sudah meloncat dan menyelinap lenyap dari situ, sedangkan ibunya dan Ouw Sian Kok sudah menerjang ke dalam ruangan ketika melihat pelayan tadi pergi melapor.

Baru saja dua orang pelayan itu memasuki ruangan dalam dan belum sempat mengeluarkan kata-kata, pintu telah terbuka lebar dan Liu Bwee bersamaa Ouw Sian Kok telah menerjang ke dalam.

"Heiii! Siapa....!!" Bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu. Dia menjadi pucat ketakuan karena mengira bahwa bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia meloncat ke depan, dua kali menendang membuat dua orang pelayannya terlempar keluar ruangan, kemudian menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek.

"Aih, kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan mengantarkan nyawa!" bentaknya.

"Perempuan hina yang berhati iblis! engkau telah menerima budi kebaikan dari suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak harammu itu harus mampus di tanganku!"

"Mulut busuk!" The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak, tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kananya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee.

"Cringggg....!!" Bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan, tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki kepandaian tinggi pula. "Siapa engkau?" Bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan oleh The Kwat Lin.

Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki guha harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es, karena hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusaka-pusaka itu dapat dirampas kembali. Dia tertawa dan mengelus jenggotnya, seadngkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok, maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi.

"Ha-ha-ha! engkau tanya siapa aku? Aku pun seorang buangan! namaku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka!" Mendengar ini The Kwat Lin diam-diam merasa terkejut dan heran juga. Dia sudah mendengar dari bekas suaminya, Raja Pulau Es, bahwa para buangan di Pulau Neraka bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan banyak di antara mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, juga merasa aman berada di antara para pengawal dan lebih lagi berada di dalam istananya di kota raja, dia memandang rendah.

"Huh, kiranya adalah buangan rendah dan hina dari Pulau Neraka."

Ouw Sian Kok yang ingin mengulur waktu, kembali tertawa untuk mengalihkan perhatian The Kwat Lin. "Ha-ha-ha! Biarpun kami para penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang buangan, namun kiranya sukar dicari seorang pun di antara kami yang memiliki watak rendah untuk mengkhianati orang yang telah menolong dan melimpahkan kebaikan kepada kami seperti yang dilakukan olehmu, The Kwat Lin!"

"Manusia hina! Mampuslah!!"

"Sing-sing-singggg....!!"

Ouw Sian Kok maklum akan kelihaian wanita ini, maka cepat ia mengelak, menangkis dan membalas menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya, dan mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Terjadilah yang amat hebat di antara kedua orang berilmu tingi ini. Melihat betapa Ouw Sian Kok yang memang seperti direncanakan harus menghadapi The Kwat Lin lihai, Liu Bwee cepat memutar pedangnya dan menghadapi pengeroyokan belasan orang pengawal itu. Pedangnya bergerak dahsyat sekali, dan dalam sepuluh jurus saja dia telah merobohkan dua orang pengawal. yang lain tetap mengepungnya karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membantu The Kwat Lin, melihat betapa bayangan wanita itu dan bayangan lawannya lenyap menjadi satu digulung oleh sinar pedang mereka.

Mulai cemas rasa hati The Kwat Lin ketika mendapatkan kenyataan bahwa Ouw Sian Kok merupakan lawan yang berat dan seimbang dengannya. Sedangkan para rekannya itu biarpun berjumlah banyak, ternyata tidak mampu mengimbangi amukan Liu Bwee sehingga berturut-turut roboh pula beberapa orang di antara mereka!

"Cari bantuan dari benteng!" Terpaksa The Kwat Lin berteriak keras dan mendengar ini, seorang di antara para pengawal itu segera lari keluar untuk minta bala bantuan.

Melihat gelagat yang berbahaya ini, Ouw Sian Kok menjadi khawatir juga. Mengapa Swat Hong belum juga kembali? "Lekas robohkan mereka dan bantu aku mengalahkan dia ini!" Katanya kepada Liu Bwee ketika melihat betapa Liu Bwee tidak begitu sukar untuk mendesak para pengeroyoknya. Liu Bwee maklum pula akan kelihaian The Kwat Lin dan tahulah dia bahwa betapapun lihainya Ouw Sian Kok, menghadapi wanita itu amat sukar untuk mencapai kemenangan. Maka dia memutar pedangnya makin cepat, merobohkan lagi tiga orang.

Pada saat itu, berkelebat bayangan yang gesit dan tampaklah Swat Hong yang membawa sebatang pedang dan di punggungnya tampak sebuah buntalan kain sutera merah. "Ibu, aku berhasil....!" teriakan sambil menerjang maju merobohkan dua orang pengeroyok ibunya.

Melihat ini, The Kwat Lin menjadi marah sekali. Maklumlah dia bahwa dia kena diakali dan dia dapat menduga apa isi buntalan sutera merah itu, sutera merah yang amat dikenalnya. Pusaka-pusaka Pulau Es telah berada di tangan Swat Hong!

"Bedebah! Kembalikan pusaka-pusaka itu!" bentaknya dan tubuhnya secara tiba-tiba sekali mencelat ke arah Swat Hong, pedangnya menusuk tenggorokan tangan kirinya meraih ke arah punggung.

"Trangggg....!" Liu Bwee yang menangkis pedang The Kwat Lin, terhuyung dan hampir roboh, Seorang pengawal menubruknya akan tetapi pengawal itu terlempar dengan dada pecah karena ditendang oleh Liu Bwee, sedangkan swat Hong sudah dapat menangkis pedang The Kwat Lin yang kembali menyerangnya. Ouw Sian Kok sudah meloncat pula dan menerjang The Kwat Lin sehingga kembali mereka bertanding dengan hebat .

"Hong-ji, kauselamatkan dulu pusaka-pusaka itu!" tiba-tiba Liu Bwee berteriak kepada puterinya.

"Kita akan cepat menyusul pergi!" kata pula Ouw Sian Kok kepada Swat Hong.

Swat Hong yang melihat bahwa jumlah pengawal tinggal hanya tinggal lima orang dan mereka bukanlah lawan berat bagi ibunya, sedangkan Ouw Sian Kok juga dapat menahan Kwat Lin, mengangguk dan sekali berkelebat dia meloncat ke luar.

"Tahan dia.....! Jangan larikan pusaka Pulau Es....!" Kwat Lin berteriak marah akan tetapi dia tidak dapat mengejar karena sinar pedang Ouw Sian Kok menghalanginya dengan serangan-serangan dahsyat. Terpaksa dia mengerahkan tenaganya untuk mendesak Ouw Sian Kok dan dalam kemarahan yang amat hebat ini tenaga The Kwat Lin bertambah sehingga Ouw Sian Kok berseru kaget dan mundur karena pundak kirinya berdarah, terluka sedikit kena diserempet sinar pedang kemerahan.

Ketika Swat Hong berlari cepat sekali keluar, dia terkejut setengah mati melihat sepasukan pengawal berbondong datang memasuki istana itu dari pintu luar, bersenjata lengkap, dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu! Binggunglah dia. Pusaka memang harus diselamatkan, akan tetapi betapa mungkin dia meninggalkan ibunya yang terancam bahaya maut?

Selagi dia meragu dan mengintai dari tempat bersembunyi, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan empat orang, dan ketika dia mengenal dua orang di antara mereka adalah Kwee Lun dan Soan Cu, dia menjadi girang sekali. Cepat dia meloncat keluar, berseru lirih, "Kwee-toako! Soan Cu....!!" Soan Cu dan Kwee Lun terkejut dan berhenti, juga Swi Nio dan Liem Toan Ki yang datang bersama mereka. Ketika melihat bahwa orang yang muncul dari balik pohon di luar istana itu adalah Swat Hong, Kwee Lun menjadi girang sekali, akan tetapi Soan Cu cemberut. Bagaimana hatinya dapat merasa girang bertemu dengan dara yang menimbulkan iri di hatinya dahulu itu? Akan tetapi, Swat Hong yang girang sekali tentu saja tidak dapat melihat wajah cemberut di tempat yang remang-remang itu, maka cepat dia berkata, "Soan Cu, Ayahmu berada di dalam, bersama ibuku, sedang dikepung para pengawal."

Seketika pucat wajah Soan Cu dan dia memandang bengong, sampai lama baru dapat berkata gagap, "A.... Ayah.... ku....?"

"Benar! Kita harus membantunya," kata lagi Swat Hong.

"kalau begitu tunggu apa lagi? mari kita membantu orang tua kalian!" Kwee Lun berkata.

"Nanti dulu.... siapakah dua orang ini?" Swat Hong bertanya sambil menuding kepada Swi Nio dan Liem Toan Ki.

"Namaku Bu Swi Nio, Adik Han Swat Hong. Aku sudah mendengar namamu dari kedua saudara ini dan aku merasa kagum sekali. Ketahuilah bahwa aku dahulu adalah murid The Kwat Lin, akan tetapi sekarang aku hendak mencari dan membunuhnya." Swi Nio berkata penuh semangat.

"Dan aku tadinya mata-mata Jenderal An Lu Shan, akan tetapi aku berjuang bukan untuk mencari pangkat, melainkan untuk membalas dendam. Sekarang aku hendak membantu dia....eh, tunanganku ini untuk menghadapi The Kwat Lin."

Tiba-tiba Swat Hong bergerak maju, kedua tangannya bergerak cepat sekali, yang kanan menyerang ke arah leher Liem Toan Ki, sedangkan yang kiri menotok ke arah dada Swi Nio.

"Eiihhh...."

"Haiiiittt......!"

Toan Ki Dan Swi Nio yang terkejut sekali cepat mengelak, namun tetap saja mereka terhuyung dan hampir jatuh terdorong sambaran kedua tangan Swat Hong.

"Eh-eh.... apa yang kaulakukan itu?" Kwee Lun dan Soan Cu menegur heran dan juga marah.

"Aku hanya menguji mereka. Maafkan aku, Enci Swi Nio dan Liem-toako. Melihat tingkat kepandaian kalian, lebih baik kalian tidak ikut masuk. Musuh amat kuat, dan ada tugas yang lebih penting lagi bagi kalian, kalau benar kalian suka membantu kami dari Pulau Es."

Swi Nio dan Toan Ki yang tadinya terkejut dan marah, menjadi lega bahwa kiranya gadis yang amat lihai itu hanya menguji mereka. Biarpun ucapan itu merendahkan tingkat kepandaian mereka, namun harus mereka akui bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan Kwee Lun, Soan Cu, apalagi Swat Hong ini.

"kami berdua siap membantu!" Toan Ki berkata, hampir berbareng dengan Swi Nio.

Tanpa ragu-ragu lagi karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, Swat Hong melepaskan ikatan buntalan dari punggungnya, menyerahkannya kepada Toan Ki. Dia lebih percaya kepada Toan Ki daripada kepada Swi Nio, hal ini karena tadi dia mendengar bahwa Swi Nio adalah bekas murid The Kwat Lin!

"Inilah pusaka kami dari Pulau Es yang seharusnya kuselamatkan. Akan tetapi karena Ibuku dan Ayah Soan Cu terkurung di dalam, aku harus membantu mereka dan kuharap kalian suka menyelamatkan pusaka-pusaka ini jauh dari kota raja. Kelak, kita dapat saling bertemu di Puncak Awan Merah di tempat kediaman Tee-tok Siangkoan Houw, di Pegunungan Tai-hang-san. Nah, kalian pergilah cepat!"

Liem Toan Ki menerima bungkusan itu dengan hati kaget bukan main, juga Swi Nio terkejut dan cepat dia menyambar tangan kekasihnya. "Mari kita segera pergi!" Kedua orang muda itu menyelinap lenyap di dalam kegelapan malam.

"Hayo kita bantu Ibu dan Ayahmu!" kata Swat Hong kepada Soan Cu. Soan Cu mengangguk karena merasa lehernya seperti dicekik oleh sedu-sedan yang naik dari dalam dadanya. Ayahnya! Dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dia lihat itu. Bertemu dalam keadaan terancam bahaya maut!

Tampak tiga bayangan berkelebat ketika Soan Cu, Swat Hong, dan Kwee Lun menyerbu ke dalam istana itu. Ketika mereka tiba di dalam, ternyata Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah dikepung ketat dan kini pertempuran telah berpindah ke ruang luar yang lebih lega. Agaknya, agar dapat melakukan perlawanan dengan leluasa dan mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah pindah keluar dari ruangan dalam yang sempit, dan kini, dengan saling membelakangi, kedua orang itu mengamuk dengan hebat, dikepung ketat oleh para pengawal istana, sedangkan The Kwat Lin dan Ouwyang Cin Cu menonton di pinggir.

Ketika Swat Hong dan dua orang kawannya masuk, mereka melihat Kwat Lin berlari pergi ke dalam istananya. Swat Hong maklum bahwa wanita itu tentulah hendak memeriksa simpanan pusakanya, maka dia lalu menyentuh tangan Soan Cu yang sedang bengong memandang kepada laki-laki setengah tua yang mengamuk dengan gagahnya itu, dengan mata merah hampir menangis. Soan Cu sadar dan menengok.

"Kita kejar dia! Dialah yang paling jahat dan berbahaya!"

Soan Cu mengangguk dan kedua orang gadis berkelebat pergi mengejar Kwat Lin. Kwee Lun Sendiri lalu berteriak keras dan meloncat ke depan, meyerbu para pengeroyok. Sepak terjang pemuda tinggi besar ini memang hebat, tenaganya yang amat kuat itu membuat dia sekali turun tangan merobohkan empat orang pengeroyok. tentu saja kepungan menjadi buyar dan kacau. Dan ketika mereka membalik untuk mengeroyok Kwee Lun, pemuda yang lihai ini lalu merobah tenaga dahsyat tadi dengan pukula-pukulan Bian-sin-kun, pukulan kapas yang klihatannya lemah dan lunak namun setiap kali menyentuh tubuh para pengeroyok tentu membuat dia terguling.

"Jiwi-locianpwe, saya adalah Kwee Lun, sahabat baik dari Nona Swat Hong dan Nona Soan Cu! Mereka sedang mengejar Si Iblis Betina!" teriak Kwee Lu dengan suara nyaring.

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok terkejut dan girang sekali, terutama Ouw Sian Kok yang mendengar bahwa puterinya juga datang! Akan tetapi, malang baginya. Karena dia terlampau girang hendak melihat wajah puterinya, dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari.

"Ouw-toako, awas....!!" Tiba-tiba Liu Bwee berteriak dan wanita ini berusaha untuk menangkis sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu.

"Trangggg.....aih.....!!" Liu Bwee terlambat dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, sedangkan Ouw Sian Kok terjungkal karena tamparan tangan kiri Ouwyang Cin Cu mengenai punggungnya.

"Plakk! Aughhhh.....!" Ouw Sian Kok muntahkan darah segar dari mulutnya.

"Curang....!!" Kwee Lun membentak dan kipas di tangan kiri serta pedang di tangan kanannya menyambar ganas.Namun, dia terlalu lunak bagi Ouwyang Cin Cu dan sekali tangkis kipas itu robek dan pedangnya hampir terpental.

"Haiiiitttt.....!!" Ouw Sian Kok yang marah sekali menerjang maju dengan tangan terbuka. Melihat serangan ganas ini, Ouwyang Cin Cu terkejut dan cepat dia meloncat mundur. Sebelum dia didesak oleh tiga orang lawan itu, para pengawal sudah mengepung lagi dan kini mereka bertiga dikeroyok dan dihujani senjata oleh puluhan orang pengawal.

"Twako..... kau.....terluka....?" Sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya.

"Tidak apa.... mati pun aku rela.... pusaka telah diselamatkan......." kata Ouw Sian Kok. "Tapi...... tapi anakku....." Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal.

Sementara itu di dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekli. The Kwat Lin yang melihat datangnya bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur di kamarnya, maka cepat dia meninggalkan tempat pertempuran untuk memeriksa pusaka dan puteranya.

Dilihatnya Bu Ong masih tidur nyenyak dan terjaga, maka dia cepat lari ke dalam kamarnya sendiri. Seperti telah diduganya, para penjaga sebanyak lima orang yang berada di kamarnya tewas semua dan keadaan kamarnya rusak dan kacau. Sekali saja melihat ke arah peti hitam yang terbuka di depan tempat tidurnya, tahulah dia bahwa semua pusaka telah dirampas oleh Swat Hong, seperti yang dikhawatirkannya.

"Mencari apa, wanita iblis? Psaka Pulau Es telah aman!"

The Kwat Lin cepat menengok dan melihat Swat Hong telah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis lain yang tak dikenalnya. Kemarahan seperti api membakar dadanya melihat dara ini. Sambil mengeluarkan jerit melengking nyaring, dia lalu menerjang dan menggerakkan pedang merahnya.

"Cirng-trang....!!" Pedang Swat Hong disusul pedang Coa-kut-kiam di tangan Soan Cu menangkis dan kedua orang dara itu meloncat ke belakang, ke tempat yang lebih lega. Dengan kemarahan meluap-luap The Kwat Lin meloncat keluar dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi, setelah bergerak belasan jurus, wanita ini terkejut dan merasa menyesal mengapa dia menuruti kemarahan hatinya.

Dia berada dalam bahaya! Kiranya selain Swat Hong yang telah memiliki kepandaian hebat juga gadis yang gerakan-gerakannya liar dan ganas itu amat berbahaya, apalagi cambuk ekor ikan Phi yang meledak-ledak dahsyat. Sebentar saja dia tertekan dan terdesak. Beberapa kali dia berusaha untuk meloloskan diri, akan tetapi sambil mengejek Swat Hong selalu menutup jalan keluar dan dia terus digulung oleh sinar dua orang gadis lihai itu.

The Kwat Lin menjadi nekat. Sambil menggigit bibirnya dia menyerang dahsyat kepada Swat Hong, mencurahkan daya serangannya kepada anak tiri yang dibencinya ini. Menghadapi terjangan dahsyat yang bertubi-tubi itu, Swat Hong mundur-mundur juga. Akan tetapi kesempatan baik ini dipergunakan oleh Sian Cu untuk menyerang dari belakang. Cambuk ekor ikan Phi meledak dua kali mengancam ubun-ubun kepala The Kwat Lin, dan ketika wanita ini mengelak kesamping sambil melanjutkan serangan pedangnya kepada Swat Hong, Soan Cu menusukan pedangnya mengarah lambung Kwat Lin.

"Singgg....crat..... aihhhhh!!" Kwat Lin terkejut karena biarpun dia telah mengelak, tetap saja pedang Coa-kut-kiam (Pedang Tulang Ular) itu melukai lambungnya, merobek kulit dan mendatangkan rasa nyeri dan panas dan perih sekali. Akan tetapi, wanita yang lihai ini sudah membalik sambil juga membalikan pedangnya menyambar leher Soan Cu. Hal ini tidak disangka-sangka oleh gadis Pulau Neraka ini.

"Awas Soan Cu.....!!" Swat Hong berseru dan pedangnya menyambar, yang diarah adalah lengan kanan Kwat Lin karena hanya dengan jalan itulah dia dapat menolong Soan Cu.

"Brettt.... crok..... aughhhh......!!"

Soan Cu terhuyung, pundaknya berlumuran darah karena terluka parah, sedangkan Kwat Lin cepat memindahkan pedang ke tangan kirinya karena lengan kanannya juga terluka parah, terbacok di bagian bahu hampir putus! Dengan kemarahan meluap-luap dia menubruk Swat Hong, namun gadis Pulau Es ini mengelak ke kiri sambil mengangkat kaki menendang lutut.

"Dukkk! Aduh....!" Kwat Lin terbelalak ketika tahu-tahu pedang Coa-kut-kiam telah bersarang di perutnya! Kiranya ketika tadi Swat Hong menendangnya Soan Cu yang terluk dengan kemarahan meluap menubruk, maka begitu wanita itu terguling, pedangnya cepat menyambar dan menusuk perut Kwat Lin.

"Bedebah kau....!" Tiba-tiba pedang di tangan Kwat Lin meluncur.

"Soan Cu, awas....!!" Swat Hong berteriak kaget namun terlambat. Pedang yang terlempar dari jarak dekat dan tak terduga-duga itu dilakukan dengan dorongan tenaga terakhir, tak dapat dielakkan dengan baik oleh Soan Cu dan menancap di bawah pundak sampai dalam!

"Soan Cu!" Swat Hong melompat dan pedangnya membabat. Kwat Lin memekik dan lehernya hampir putus! Dengan cepat Swat Hong memeluk tubuh soan Cu yang tersenyum!

Pergilah.... Aku.... aku tak berguna lagi....!" katanya.

"Omong kosong!" Swat Hong menghardik, mencabut pedang Ang-bwe-kiam dari pundak Soan Cu. Soan Cu menjerit dan pingsan. Dengan gemas Swat Hong melempar pedang itu memondong tubuh Soan Cu, dibawanya keluar.

Betapa kagetnya ketika ia tiba di ruangan luar, pertempuran yang masih berlangsung hebat itu ternyata membuat pihak ibunya terdesak. Bahkan ibunya kelihatan terluka di beberapa tempat, juga ayah Soan Cu, yang mengamuk dengan gagah telah berlumuran darah seluruh tubuhnya. Kwee Lun juga masih mengamuk, dan hanya pemuda inilah yang belum terluka, karena Ouwyang Cin Cu menujukan serangan-serangannya kepada Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, karena menganggap ringan kepada Kwee Lun.

"Ibu....!!" Dengan kemarahan meluap-luap, Swat Hong meloncat, melampau para pengepung dan menurunkan tubuh Soan Cu ke atas lantai. Lalu gadis ini mengamuk dengan pedangnya, merobohkan beberapa orang pengawal. Gerakannya demikian hebat sehigga para pengepung terkejut dan gentar, bergerak mundur.

"Ibu.....!"

"Ayahhhhh.....!"

Ouw Sian Kok menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka panggilan itu menggetarkan jantungnya dan membuat dia lemas.

"Kau.....kau Soan Cu.....?"

"Ayahhhhhhh..... Hu-hu-hu-huuuuu.....!!" Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan iar mata.

"Wutttt..... trangggggg......!!" Dua batang golok terpental oleh tangkisan oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan memciumi dahi puterinya.

"Ayah, aku puas..... dapat bertemu denganmu.......!"

"Soan Cu...... aihhhh, anakku, kauampunkan dosa ayahmu....." Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak.

"Trang-trang..... dessss!!" Dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang.

"Ah, jangan kau keluarkan tenaga....." kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu.

"Ayah..... aku.....aku tidak kuat lagi.....kalu larilah, ayah......."

"Soan Cu......! Soan Cuuuu......!!" Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas di dalam dekapnya, dengan bibir tersenyum. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung, dengan air mata bercucuran ketika dia telah membaringkan tubuh puterinya ke atas lantai kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut diantara pengeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai kegagang, bahkan sampai ke lengannya!

Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kelilangan darah juga makin lemas gerakannya. kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Kok-su ini hanya setengah hati saja bertempur, sering kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apalagi keluarga dari Pulau Es!

"Swat Hong, cepat kau pergi......!"

"Tidak, Ibu!"

"Kalau tidak, kau akan mati......!"

"Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!"

"Hushhhh, anak bodoh. kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kauingat pesan Ayahmu."

"Tapi, Ibu....."

"kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram."

"Ibu......!"

"Lihatlah, dia.....diapun akan mati..... Ibu ada seorang teman yang baik......Ibu dan dia.....ah, kami senang mati bersama.....kau jangan ikut-ikut......!" Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu.Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!

"Ibu......"

"Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!" Sambil bercucuran air mata, Swat Hong mengamuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk. "Toako, hayo kita pergi!!"

"Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya.......?"

"Ayolah.....!!"

"Baik, baik.....!"

Mereka berdua membuka jalan darah, akhirnya berhasil meloncat keluar.

"Jangan kejar mereka! kepung saja yang berada di dalam!" terdengar Ouwyang Cin Cu berseru.

Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya, mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu. Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa dilubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri. Setelah membuat laporan kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan, tentang kematian The Kwat Lin bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. "Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna." Kemudian mengelus jenggotnya dan berkata, "kalau begitu bagaimana dengan puteranya?"

"Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya." An Lu Shan mengangguk-angguk. "habis bagaimana pendapatmu?"

Kok Su yang merupakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata, "Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerahnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya."

"Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan." demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberitahu bahwa dia oleh kaisar "diangkat" menjadi "raja muda" yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot. Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup mewah. Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biarpun dia dicukupi hidupnya, diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah "dibuang" oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya. Anak kecil ini dengan rajin lalu melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunnya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan kelak, selain dia harus membalas kepada musuh-musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa siapa yang mewarisi pusaka Pulau Es dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomer satu di dunia.

Para pembaca yang mengikuti pengalaman Kwa Sin Liong tentu menjadi penasaran kalau pemuda sakti itu sampai tewas dalam keadaan yang demikian mengerikan! Tidak, dia tidak mati! Memang nyaris dia tewas dimakan ratusan ekor ular berbisa yang menjadi penghuni sumur itu. Akan tetapi kalau orang belum tiba saatnya untuk mati, ada saja penolongnya yang bisa dianggak tidak masuk akal, kebetulan atau luar biasa. Dalam halnya Sin Liong tidak ada yang tidak masuk akal atau luar biasa. Memang tubuhnya yang pingsan ituterlempar ke dalam sumur di mana terdapat ratusan ekor ular berbisa dari segala jenis, akan tetapi tidak ada seekorpun ular yang berani menggigitnya. Apalagi menggigit, mendekatipun mereka itu tidak berani, bahkan begitu tubuh pemuda itu terjatuh, ular-ular itu cepat menyingkir ketakutan. hal ini adalah karena tanpa sengaja di saku baju Sin Liong terdapat batu mustika hijau dari Pulau Es! Seperti kita ketahui, batu mustika hijau ini adalah milik Han Swat Hong yang telah menyelamatkan nyawa gadis ini pula ketika terserang racun. Ketika Sin Liong mengobati sumoinya itu, dia menyimpan batu mustika ini di dalam saku bajunya sehingga ketika dia terlempar ke dalam sumur, batu mustika itu ikut terbawa olehnya dan menjadi penyelamatnya karena tidak ada ular yang berani mendekatinya.

Sebetulnya pemuda ini menderita luka yang amat parah dan yang akan mematikan akibatnya bagi orang lain. Namun, pemuda ini pada dasarnya memiliki tubuh yang sempurna, bersih darahnyadan kuat tulang dan urat-uratnya, apalagi sejak kecil dia menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Han Ti Ong sehingga dia memilki tubuh yang amat kuat dan tahan derita.

Dua hari dua malam dia rebah pingsan di dasar sumur yang lembab, tampa diusik oleh ular-ular itu yang hanya memandang dari jauh seolah-olah dia merupakan mahluk yang menakutkan. Pada hari ke tiga, nampak tanda hidup pada tubuh yang tadinya tak bergerak-gerak seperti mati itu dengan suara mengeluh panjang, kemudian tubuh itu bergerak dan bangkit duduk dengan susah payah. Sejak Sin Liong merasa nanar dan bingung melihat bahwa dirinya berada di tempat yang amat gelap. Begitu gelapnya sehingga dengan terkejut dia menyangka bahwa matanya telah menjadi buta.

Akan tetapi, ketika dia menoleh, tampaklah sedikit cahaya di belakangnya, dan mengertilah dia dengan hati lega bahwa dia tidak buta, melainkan berada di tempat yang amat gelap. Dia tidak tahu bahwa dia dilempar ke sumur dan sumur itu kini telah tertutup oleh batu-batu besar dari atas ketika guha terowongan itu sengaja diruntuhkan oleh Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin. Melihat cahaya terang di belakangnya, Sin Liong menggerakkan tubuhnya hendak menyelidiki, akan tetapi dia mengeluh karena begitu bergerak, dadany terasa nyeri bukan main!

Dia teringat akan pertempuran itu dan mulai mengertilah dia bahwa tentu dia telah tertawan dan berada dalam tempat tahanan rahasia yang amat gelap. Maka dia segera duduk bersila mengatur pernapasan di tempat lembab dan pengap itu, menyalurkan tenaga dan hawa sakti di dalam tubuhnya. Memang dia memiliki sinkang yang amat kuat berkat latihan di Pulau Es, maka tak lama kemudian dia telah mengobati luka di dalam tubuhnya dan menyelamatkan rasa nyeri-nyeri di tubuhnya. Begitu dia menghentikan latihannya, terasa betapa perutnya lapar sekali. Dia tidak tahu bahwa sudah dua hari dua malam perutnya sama sekali tidak diisi apa-apa.

Sin Liong bangkit berdiri dengan hati-hati. Tangannya meraih ke atas. kosong. Dia mencoba meloncat dengan kedua tangannya di atas kepala.Tetap saja disebelah atasnya kosong, tanda bahwa tempat tahanan itu tinggi bukan main! Seperti sumur! Betapapun dalamnya sumur itu tentu dia akan meloncat keluar, pikirnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, kemudian dengan ilmu ginkangnya yang istimewa, dia melompat lagi ke atas, kedua tangannya tetap menjaga di atas kepala.

"Plakkkkk!"

Tubuhnya melayang lagi ke bawah. Kedua tangannya bertemu dengan batu besar yang amat berat, yang menutup lubang sumur itu! Beberapa kali Sin Liong menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari dalam sumur, dan sekali meloncat, dia menggunakan sinkang di kedua tangannya untuk mendorong batu. Akan teteapi usahanya ini selalu gagal. Tentu saja tidak mungkin bagi seorang manusia, betapa kuatpun dia, untuk meloncat sambil mendorong tumpukan batu-batu besar yang menutup mulut sumur itu, batu-batu sebesar rumah dan yang sebongkah saja beratnya ada yang seribu kati!

Akhirnya Sin Liong pun maklum bahwa usahanya meloloskan diri melalui atas tidak mungkin baginya. Maka dia mulai meraba-raba di sekelilingnya. Sumur itu tidak berapa lebar, paling banyak bergaris tengah tiga meter. Ketika dia mendengar suara mendesis-desis dan mencium bau hamis, tahulah dia bahwa di tempat itu terdapat banyak ular berbisa. Kemudian tampak olehnya melalui cahaya redup tadi bahwa di bagian bawah terdapat sebuah lubang dan agaknya dari tempat itulah ular-ular keluar dari sumur. Begitu dia mendekati lubang ini, tampak olehnya ekor ular berkelebat di dalam cahaya remang-remang itu, menjauhkan diri. Dia merasa heran mengapa binatang-binatang itu tidak mengganggunya ketika dia pingsan dan kini kelihatan takut kalau didekatinya. Dia teringat, meraba saku bajunya dan tersenyum mengeluarkan batu hijau yang mengeluarkan sinar di dalam gelap itu. Inilah penolongku,pikirnya. Hatinya menjadi makin tenang. Dengan adanya batu mustika hijau ini, tidak perlu takutmenghadapi binatang berbisa apa pun. Akan tetapi, melihat batu mustika itu, teringatlah dia kepada Swat Hong dan dia merasa khawatir juga. Musuh demikian lihai, dia sendiri kena ditangkap dan agaknya dilempar ke sumur ini. Bagaimana nasib Swat Hong? Dia harus cepat keluar dari tempat ini untuk menolong Swat Hong.

Kekhawatirannya terhadap sumoinya itu membuat dia makin bersemangat mencari jalan keluar. Lubang dari mana ular-ular itu keluar dari sumur terlalu sempit untuk dapat diterobos, maka Sin Liong lalu menggunakan kedua tangannya untuk membongkar batu di lubang itu, memperlebar lubang dengan jalan memukul pecah batu-batu di sekelilingnya. Tidak mudah pekerjaan ini, karena selain tubuhnya masih lemah, juga batu-batu di tempat itu amat kerasa dan hanya dapat digempurnya sedikit demi sedikit. namun akhirnya dapat juga dia memperlebar lubang itu shingga dia dapat merangkak melalui lubang sambil terrus menggempur lubang di depat yang merupakan terowongan panjang.

Melihat betapa makin lama cahayanya dari seberang terowongan kecil itu makin terang, hatin Sin Ling membesar. Jelas bahwa di seberang itu terdapat tempat terbuka dari mana sinar matahari dapat masuk, pikirnya. Akan tetapi pekerjaan menerobos terowongan kecil yang merupakan liang ular dengan hanya menggunakan kedua tangan kosong, memakan waktu lama juga. Saking hausnya, dia menengadah untuk menerima titik-titk air yang jatuh dari atas, yaitu dari dinding sumur yang mengeluarkan air. biarpun memakan waktu lama, dapat juga dia mengobati dahaga dengan meminum secara demikian. Namun perutnya yang lapar terpaksa harus berpuasa lagi sampai tiga hari! karena setelah tiga hari, barulah dia berhasil merangkak keluar dari terowongan itu dan tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, akan tetapi juga merupakan tempat tertutup!

Bedanya, kalau sumur pertama merupakan tempat sempit dan gela, maka ruangan kedua ini luas sekali, garis tengahnya tidak kurang dari sepuluh meter, merupakan sebuah ruang dalam tanah yang aneh. Di sebelah atas, jauh dan tinggi sekali, tertutup oleh tanah atau batu dan ada celah-celah yang merupaka retakan batu-batu dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk.

Sin Liong menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan dalam tanah ini dan harapannya kandas sama sekali. Kalau sumur pertama itu merupakan tahanan yang sukar diterobos adalah tempat ini lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Ular-ular yang banyak sekali berbelit-belit dan kelihatan ketakutan, ada yang merayap naik, ada pula yang menerobos terowongan yang sudah melebar itu untuk kembali ke dalam sumur pertama!

Sin Liong termenung. Dari kamar tahanan kecil dia pindah ke kamar tahanan besar! Hanya lebih lebar dan memperoleh penerangan sinar matahari yang tidak seberapa. Itulah bedanya! Akan tetapi dia tidak menjadi putus harapan. Dihadapinya kenyataan ini dengan tabah dan dilenyapkannya kekhawatiran di dalam hatinya tentang diri sumoinya dengan keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah tanpa dipengaruhi segala kekhawatiran yang tiada gunanya! Dia sendiri menghadapi bencana, menghadapi ancaman maut dan inilah yang terutama harus dihadapi dan diatasi lebih dulu. Dia mulai memeriksa kalau-kalau ada jalan keluar dari tempat itu.

Sama seklai tidak ada jalan keluar. Akan tetapi, dia menemukan benda-benda ya ng sementara dapat menolongnya dari ancaman kelaparan, yaitu jamur yang agaknya bertumbuhan dengan subur di tempat itu karena memperoleh sinar matahari.

Perutnya lapar sekali dan pengetahuannya tentang tetumbuhan meyakinkan hatinya.maka mulailah dia memilih jamur-jamur yang tak mengandung racun, lalu mulai dia makan jamur. Dalam keadaan lapar bukan main, ternyata jamur-jamur mentah itu terasa enak juga! Soal minum dia tidak usah khawatir karena di beberapa tempat pada dinding batu itu terdapat air yang menetes. Ditampungnya tetesan air itu dengan kedua tangannya, lalu diminumnya. Luar biasa segarnya air yang disaring oleh tanah dan batu itu.

Setelah yakin benar bahwa tidak ada jalan keluar dari tempat itu, Sin Liong menerima kenyataan ini dan dia giat berlatih ilmu. Di dalam kesunyian yang amat hebat itu perasaan dan pikiran Sin Liong menjadi luar biasa tajamnya. Semua ilmu yang pernah dipelajari dan dibacanya dahulu sukar dimengerti olehnya karena kitab-kitab kuno Pulau Es memang amat sukar diartikan, kini menjadi jelas dan dapat dia selami intinya. Oleh karena inilah maka diluar dari kesadarannya sendiri, ilmu kesaktiannya bertambah dengan hebat dan cepatnya. Juga ditempat ini dia mulai mengenal diri sendiri, mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Tanpa disadarinya sendiri, dari dalam pribadinya timbul kekuatan mujijat, kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang manusia namun yang selalu terpendam dan tetap tersembunyi sampai saat terakhir dari hidup manusia yang selalu dipermainkan oleh nafsu yang disebut aku.

Tanpa terasa oleh Sin Liong sendiri yang selama hidup di dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengenal waktu, pemuda luar biasa ini telah berada di tempat itu selama dua tahun! Dia mengerti bahwa tanpa bantuan dari luar, tidak mungkin dia meloloskan diri dari tempat itu, maka sudah sejak lama dia tidak lagi berusaha untuk keluar dari situ. Selama itu, yang menjadi teman-temannya hanyalah ular-ular berbisa! Ternyata oleh pemuda itu bahwa binatang berbisa seperti ular pun mengenal siapa lawan siapa kawan. Karena selama itudia tidak pernah mengganggu mereka, ular-ular itu pun jinak dan sama sekali tidak pernah menyerangnya, biarpun dia menjauhkan batu mustika hijau dari tubuhnya. Binatang-binatang ini hanya menyerang untuk menjaga diri saja dari bahaya yang datang mengancam diri mereka.

Juga tanpa disadari sendiri oleh Sin Liong, tubuhnya yang setiap hari hanya dihidupkan oleh sari jamur yang bermacam-macam itu, pertumbuhannya sama sekali berlainan dengan manusia biasa. makanan amat mempengaruhi tubuh dan sari jamu yang dimakannya selama dua tahun itu mendatang kan kepekaan luar biasa, dan kepekaan tubuh ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan batinnya. Dia menjadi seorang manusia luar biasa, tidak menderita apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, karena di dalam keadaan apapun juga, menghadapi keadaan apa adanya, sewajarnya, sebagaimana adanya yang dianggap sudah semestinya demikian, tidak ada lagi apa yang disebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak ada lagi yang disebut senang atau susah, tidak ada lagi puas atau kecewa. Dalam keadaan seperti itu, tubuh sehat dan batin tenang, yang ada hanyalah rasa suka ria yang sukar dilukiskan karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesukaan atau kegembiraan yang dapat dicari. Suatu nikmat yang bukan datang dari gairah nafsu atau kesenangan, nikmat hidup yang datang tanpa dicari, yang terasa hanya setelah batin bebas dari segala ikatan, seperti batin Sin Liong di waktu itu.

Pada suatu hari, di sebelah atas dari tempat rahasia ini, terjadilah kesibukan besar. Puluhan orang katai yang tubuhnya pendek akan tetapi besarnya seperti manusia biasa, bertubuh kuat dan bertenaga besar, dipimpin oleh seorang pemuda tanggung sedang membongkari reruntuhan batu-batu di dalam terowongan bawah tanah itu. pemuda tanggung yang berpakaian mewah itu bukan lain adalah Bu Ong, yang kini telah mengumpulkan sisa orang-orang kerdil bekas taklukan di Rawa Bangkai dan menjadi pimpinan mereka. Han Bu Hong kini telah menjadi seorang pemuda tanggung yang lihai dan tidak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh orang kerdil mampu melawannya. Agaknya, untuk menjadikan mimpi ibunya sebagai kenyataan, dia telah mengangkat diri sendiri menjadi ketua atau lebih tepat lagi menjadi "raja" dari orang-orang katai ini. Gedung di Rawa Bangkaihanya menjadi tempat tinggal umum, akan tetapi diam-diam dia mendirikan "kerajaan kecil" di bawah tanah. Bahkan dia telah membangun sebuah ruang seperti istana di bawah tanah, lengkap dengan kursi kebesaran yang dihiasai dengan sebuah tengkorak di samping hiasan mahal seperti permadani, lukisan dan tulisan indah. Sering kali dia secara sembunyi mengadakan pertemuan dan rapat rahasia dengan para tokoh orang katai yang menjadi pembantunya, dan pemuda tanggung ini diam-diam merencanakan pekerjaan besar untuk melanjutkan cita-cita ibunya. Demikianlah, karena dia ingin menggunakan terowongan bawah tanah itu sebagai markas partai orang kerdil , dan juga karena dia ingin mencari kalau-kalau ada harta atau pusaka peninggalan Rawa bangkai di terowongan itu, dia lalu mengerahkan [ara anak buahnya untuk membersihkan bagian terowongan yang dahulu dirunthkan oleh ibunya dan oleh Kiam-mo Cai-li.

"Akan tetapi, Siauw-pangcu (Ketua Cilik)," seorang pembantu membantah sebelum pembongkaran dilakukan . "Tempat ini dahulu sengaja diruntuhkan oleh Ibu Pangcu untuk menutupi sumur ular di mana tubuh musuh Ibu Pangcu dilempar. Karena musuh itu lihai bukan main, maka Ibu Pangcu bersama Kiam-mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu memutuskan untuk menutup saja tempat ini agar pemuda sakti itu tidak mampu hidup kembali."

Han Bu Ong tertawa. "Ha, ha, mana mungkin Kwa Sin Liong dapat hidup kembali? Dia sudah di lempar di sumur ular, andaikata dia tidak mati oleh ular-ular itu, tentu selama dua tahun dikubur hidup-hidup di sumur itu dia kini sudah menjadi setan tengkorak, tinggal rangkanya saja. Mengapa khawatir? Hayo bongkar! Kalau tidak dibongkar, terowongan ini tertutup sampai di sini, padahal kita amat membutuhkan sebagai jalan rahasia yang amat penting bagi perkumpulan kita."

Karena alasan yang dikemukakan ketua cilik ini memang tepat, maka beramai-ramai para manusia katai itu segera bekerja keras, membongkari batu-batu yang besar-besar dan berat itu, menggunakan alat pendongkel dan lain-lain. Hiruk pikuk suara di dalam terowongan itu dan pekerjaan yang berat itu biarpun dilakukan oleh hampir lima puluh orang, tetap saja memakan waktu yang cukup lama. Memang sesungguhnyalah bahwa merusak itu mudah membangun itu sukar, mengotori itu mudah membersihkannya tidak semudah itu.

Setelah bekerja keras selama sepekan, barulah batu besar terakhir yang menutupi sumur dapat disingkirkan. Han Bu Ong dan para anak buahnya seperti berlomba lari menghampiri sumur dan melongok ke dalam sumur yang amat gelap itu. Pada saat itu, terdengar suara angin menyambar dari bawah dan berkelebatlah bayangan orang yang melayang dari bawah, Han Bu Ong dan semua orang terkejut. Ketika mereka menoleh dan memandang bayangan orang yang tadi meloncat melewati kepala mereka, mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di situ sambil tersenyum, seorang pemuda yang berwajah tampan, yang memiliki sepasang mata yang lembut pandangannya namun bersinar cahayanya, pemuda yang pakaiannya lapuk dan compang camping. Tidak ada orang kerdil yang mengenal pemuda ini karena memang keadaannya jauh berbeda dengan tahun yang lalu. Akan tetapai Han Bu Ong dengan suara gemetar membentakkan perintah, "Serbu! Bunuh dia...!!"

Orang -orang katai yang tadinya bengong terheran-heran dan ketakutan karena menduga keras bahwa tentu hanyalah siluman saja yang keluar dari sumur tertutup itu, ketika mendengar bentakan ini menjadi sadar. Kini mereka pun ingat bahwa tentu ini pemuda yang dua tahun yang lalu dilempar ke dalam sumur. Biarpun mereka bergidik ngeri dan gentar mendapat kenyataan bahwa orang yang dua tahun lalu dilempar ke sumur ular yang tertutup kini ternyata masih hidup, namun karena maklum bahawa ini adalah musuh mereka dengan teriakan-teriakan ganasa mereka menyerang orang itu.

Memang benar dugaan Han Bu Ong. Orang ini bukan lain adalah Kwa Sin Liong. Ketika Sin Liong akhirnya dari bawah mendengar suara hirup pikuk disebelah atas kemudian melihat cahaya turun melalui terowongan kecil jalan ular, dia menyebrangi terowongan dan tiba di dasar sumur pertama. akhirnya dia melihat betapa atap sumur yang tadinya tertutup batu besar itu terbuka dan melayanglah dia keluar. karena selama dua tahun dia tidak bertemu orang, begitu melihat Bu Ong dan orang-orang kerdil, dia tersenyum girang.



Akan tetapi orang-orang kerdil itu dengan bermacam senjata telah menyerangnya. Sin Liong hanya mengerahkan sinkangnya membiarkan belasan senjata tajam menimpa tubuhnya. Terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena semua senjata, baik yang tajam maupun yang tumpul, begitu mengenai tubuh pemuda itu, membalik seperti mengenai gumpalan karet yang amat kuat.

"Adik Bu Ong...bukankah engkau sute (Adik Seperguruan)...?"Sin Liong berkata halus sambil memandang kepada Han Bu Ong.

"Iblis! Siluman! Bunuh dia...!!"Bu Ong berteriak-teriak dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Biarpun hati mereka gentar sekali, namun orang katai itu kembali menyerbu dan hujan senjata menyambar tubuh Sin Liong. Kembali senjata-senjata itu mental, bahkan ada yang terlepas dari pegangan tangan pemiliknya. Sin Liong menarik napas panjang, menunduk dan memandang pakaiannya yang menjadi makin compang-camping, terkena bacokan senjata-senajata itu, kemudian sekali bergerak tubuhnya berkelebat melewati kepala para pengeroyoknya yang bertubuh pendek dan lenyap.

Gegerlah para orang katai. Akan tetapi Han Bu Ong menyambarkan dan menenangkan hati mereka. Dia merasa yakin bahwa betapapun lihainya Sin Liong, pemuda itu agaknya tidak akan mengganggunya. Maka dia melanjutkan rencananya dan melakukan perundingan dengan para anak buahnya. Seperti juga ibunya dahulu, pemuda tanggung ini sudah mulai dengan usahanya untuk mencari kedudukan dengan menghubungi seorang "pangeran" baru yang juga merasa tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya setelah perjuangan mereka berhasil. Pangeran ini dahulunya adalah seorang pemberontak rakyat petani yang bergabung dengan An Lu Shan, bernama Shi Su beng yang kini dianugerahi pangkat "pangeran" oleh An Lu Shan. Shi Su Beng bermaksud untuk merebut tahta kerajaan dari An Lu Shan, dan apabila terjadi kegagalan, maka terowongan bawah tanah milik Han Bu Ong itulah yang akan dijadikan tempat persembunyian.

Setelah selesai mempersiapkan segala-galanya dan tempat itu ditinjau sendiri oleh Pangeran Shi Su Beng, Han Bo Hong lalu pergi ke kota raja bersama sekutunya itu untuk mulai melaksanakan siasat yang sudah mereka rencanakan lebih dahulu. Memang selam dua tahun itu terjadi dua hal yang banyak tercatat dlam sejarah.

Kemenangan An Lu Shan ternyata tidak mendatangkan kemakmuran atau keamanan, bahkan sebaliknya. Selain kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan dan menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya itu kini menyusun kekuatan di barat untuk menyerbu dan merampas kembali kota raja, juga di dalam istana pemerintah baru sendiri terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan!

Semua ini terjadi karena memang sesungguhnya para pemimpin pemberontak yang dahulu memberontak terhadap pemrintah dengan dalih "demi rakyat" atau demi keadilan, demi kebenaran, demi negara dan lain istilah muluk-muluk lagi itu sesungguhnya hanyalah "berjuang" demi dirinya sendiri saja! Semua istilah itu tak lain tak bukan hanyalah untuk dijadikan "modal" perjuangannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri. Hal ini sudah terlalu sering terjadi di dunia, berulang-ulang, namun sampai sekarang rakyat di seluruh dunia tetap bodoh, mau saja di peralat dan dicatut namanya oleh orang-orang yang berambisi untuk diri pribadi. Betapa banyaknya bukti akan kepalsuan ini dapat dilihat dalam sejarah di negara manapun di dunia ini. Sekelompok orang berambisi untuk keuntungan mereka sendiri, dengan siasat cerdik menggunakan nama rakyat untuk mencapai tujuan mereka, kalau perlu mereka mengorbankan rakyat. Rakyat sudah cukup puas memperoleh gelar "pahlawan" kalau sampai tewas dalam perjuangan yang sebenarnya adalah menyalah gunakan demi keuntungan kelompok yang mempergunakan mereka itu.

Inilah sebabnya maka jika perjuangan telah berhasil, jika para kelompok pimpinan yang berambisi sudah memperoleh apa yang mereka kejar-kejar, maka rakyat pun dilupakan sudah! Bukan sengaja dilupakan, melainkan karena mereka yang sudah berhasil merampas kedudukan itu pun harus menghadapi lawan atau saingan yang juga ingin merebut kedudukan itu. Rakyat adalah orang yang berada dibawah, dan yang terinjak memang selalu yang berada di bawah. yang berada di atas tidak akan terinjak, akan tetapi mereka itu saling berebutan di antara mereka sendiri, memperebutkan kedudukan yang lebih enak dan empuk dari pada kedudukan yang telah dimilikinya.

Demikianlah pula dengan An Lu Shan dan teman-temannya yang telah berhasil dalam "perjuangan" mereka merampas kedudukan tahta kerajaan. Teman-teman yang tadinya berjuang bahu-membahu, menjadi kawan senasib sependeritaan, yaitu di waktu mereka memberontak, kini setelah memperoleh apa yang mereka cita-citakan , berbalik mencurigai, saling iri!

Memang belum ada yang secara berterang berani menentang An Lu Shan, bekas panglima yang masih amat kuat kedudukannya, didukung oleh pasukan-pasukan inti dan tampaknya semua pembantunya sudah menyetujui sebulatnya kalau An Lu Shan menjadi Kaisar. Akan tetapi diam-diam, banyak yang mepersoalkan pembagian pangkat dan kedudukan. Tentu saja yang merasa tidak puas adalah mereka yang memperoleh pangkat agak kecil, sedangkan yang menerima pangkat besar merasa curiga dan hati-hati menghadapi bekas teman yang memperoleh pangkat yang lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi diantara mereka.

Ke manakah perginya Swat Hong dan Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari keluar dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan kegelapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat.

Setelah terang tanah dan mereka tiba di dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti, terengah-engah dan Swat Hong menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat biarpun muka dan lehernya penuh keringat yang di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar.

Kwee Lun juga menghapus peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. beberapa kali dia menggerakkan bibir hendak bicara namun ditahannya lagi. Pemuda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang amat dicintainya. Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya menghadapi kematian, dia melupakan kedukaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali. Kalau dibiarkan saja, gadis ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau terserang batinnya lebih berbahaya lagi.

Akhirnya dia memberanikan diri berkata lirih dan halus, "Mati hidup adalah berada di tangan Thian, kota manusia tak dapat menguasainya, Nona."

Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang, akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya terdengar suara meragu, "Hemm....?"

Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun. Maka pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan, "Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa."

Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak, seolah-olah baru sadar dan bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras, ".....Ibu.....? Ibu...., Ibu....!" Swat Hong menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ibunya.

"Tenanglah, Nona. Tenanglah....." Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau dan agak tersedu.

"Ibu....! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri....? Ibu....! Hu-hu-huuuuuuuk, Ibuuuuuuuu.....!"

Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan, akan tetapi melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir.

"Ingatlah, Nona. Ingatlah pesan Ibumu..... tentang pusaka Pulau Es...."

Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah air mata, dia menubruk. "Toako.... ahhhh, Toako....!" Dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini.

Kwee Lun memejamkan mata dan membiarkan gadis itu menangis terisak-isak. Dengan sesenggukan Swat Hong berkata, "Ibu tewas..... di depan mataku..... dan aku tidak dapat menolongnya..... hu-hu-huuuuuuuhhhh...... dan Ayah pun sudah tiada, Suheng juga...... hu-huuuuuuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke Pulau Es?'

Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu melompat bangun mengepal tinju. "Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan suheng satu-satunya orang yang kucinta..... dia pun tidak ada lagi......! katakan, apa perlunya aku hidup lebih lama?"

Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya, akan tetapi dia menekan kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, "Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa! Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan ? Pusaka itu telah diselamatkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera menyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es."

Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun.

"Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan tugasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku......"

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.....aku mencinta Soan Cu....... aku mencintanya......"

"Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku......"

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.... aku mencinta Soan Cu.... aku mencintanya........"

"Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai Gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri..... ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih."Swat Hong berkelebat dan meloncat pergi.

"Nanti dulu! Hong-moi.... biarlah aku membantumu....."

"Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka ke Puncak Awan Merah, kemudian aku akan kembali ke Pulau Es.... untuk.... untuk selamanya. Selamat tinggal!" Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Kwee Lun yang menjadi lemas. Pemuda ini menjatukan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya air matanya dan baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam-hai Seng-jin yang seperti orang tuanya sendiri. Dia harus kembali ke Pulau Kura-kura di Lam-hai dan terbayang olehnya betapa suhunya itu akan terheran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es!

Dengan perasaan yang kosong dan sunyi, ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan berlahan-lahan Kwee Lun meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya.

Sementara itu, dengan mata masih merah oleh tangisnya, Han Swat Hong melanjutkan perjalanan seorang diri dengan cepat untuk mengejar Swi Nio dan Toan KI. Kalau dia dapat menyusul mereka dan minta kembali Pusaka Pulau Es dia dapat langsung kembali ke Pulau Es dan selanjutnya...... entah, dia sendiri tidak tahu apakah dia ada niat untuk kembali ke daratan besar. Tidak, dia akan tinggal di pulau itu, di mana dia terlahir. Biarpun pulau itu sudah kosong, dia akan tinggal di tempat kelahirannya itu sampai mati! Bercucuran pula air matanya ketika dia berpikir sampai di situ dan terkenang kepada suhengnya. Kalau saja ada suhengnya di sisinya, tentu tidak akan begini merana hatinya.

Akan tetapi, betapapun cepat Swat Hong melakukan pengejaran, tetap saja dia tidak berhasil menyusul Swi Nio dan Toan Ki. Bahkan ketika dia tiba di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw, di tempat ini dia hanya disambut oleh Ang-in Mo-ko Thio Sam, kakek yang menjadi murid kepala Tee-tok itu yang menceritakan bahwa Tee-tok bersama puterinya telah beberapa pekan pergi turun gunung dan bahwa selama itu tidak ada tamu, juga tidak ada Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki seperti yang ditanyakan oleh gadis itu.

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya mulai bertanya-tanya. Ccelaka, pikirnya, jangan-jangan dia telah salah memilih orang untuk dipercaya menyelamatkan Pusaka Pulau Es! Jangan-jangan dua orang muda itu sengaja melarikan pusaka-pusaka itu dan bersembunyi! Timbul kecurigaan yang diikuti kemarahan di hatinya, dan berbareng dengan perasaan ini timbul pula semangatnya yang tadinya amat menurun itu. Hidupnya masih perlu dan ada gunanya, setidaknya dia harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Perasaan marah dan khawatir ini mendatangkan perasaan bahwa dia masih amat dibutuhkan untuk hidup terus.

Sambil menahan kemarahannya, dia berkata kepada murid kepala Tee-tok itu, "Andaikata ada datang Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, harap minta kepada mereka untuk menanti saya di sini. Dua bulan lagi saya akan kembali menemui mereka."

Ang-in Mo-ko Thio Sam yang sudah mengetahui kelihaian dara yang pernah menggegerkan Awan Merah ini, mengangguk-angguk. Kemudian Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah untuk mengambil jalan kembali ke jurusan kota raja untuk mencari kalau-kalau dua orang muda itu dapat berjumpa dengannya di jalan.

Namun semua perjalanannya sia-sia belaka. Dua bulan kemudian, kembali dia tiba di Puncak Awan Merah dan untuk kedua kalinya Ang-in Mo-ko (Iblis Tua Awan Merah) menyatakan penyesalannya bahwa dua orang muda yang dicari itu belum juga datang, bahkan gurunya juga belum pulang.

"Saya malah merasa gelisah juga memikirkan Suhu." kata kakek itu. "Keadaan di mana-mana sedang ribut dengan perang, akan tetapi Suhu pergi begitu lamanya belum juga pulang."

Swat Hong menahan kemarahannya. Tidak salah lagi, pikirnya. Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki tentu berlaku khianat, menginginkan pusaka-pusaka itu untuk diri mereka sendiri. Aku harus mencari mereka dan selain merampas kembali pusaka, juga akan kuhajar mereka! Dia berpamit lalu pergi lagi, di sepanjang jalan dia memaki-maki Bu Swi Nio yang dipercaya. "Dasar murid iblis betina itu," gerutunya. "Gurunya sudah mati, kini muridnya yang menyusahkan aku!"

Mulailah Swat Hong mencari-cari kedua orang itu tanpa hasil. sampai dua tahun dia berkelana mencari-cari kedua orang muda itu namun anehnya, tidak ada seorang pun manusia yang tahu akan mereka. Akhirnya timbullah pikirannya bahwa sangat boleh jadi Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang tadiny adalah anak buah An Lu Shan yang kini membalik dan berkhianat itu takut kepada pembalasan pemerintah baru dan telah lari mengungsi ke barat, ke Secuan. Sangat boleh jadi! Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan dan berangkatlah dia ke Secuan. Samnbil mencari pusaka, dia pun ingin membantu Kaisar yang kabarnya sedang menyusun kekuatan untuk menyerang dan merebut kembali tahta kerajaan. Sebaliknya klau dia membantu, pikirnya. Selain untuk mengisi kekosongan hidupnya, juga sekalian untuk mencari Bu Swi Nio an Liem Toan Ki, juga untuk menghancurkan semua kaki tangan An Lu Shan termasuk Ouwyang Cin Cu, dan juga mengingat bahwa ayahnya adalah seorang keturunan pangeran atau raja muda, maka sebenarnya dia masih berdarah bangsawan dan masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar sehingga sepatutnyalah kalau dia membantu. Sementara itu, di ibu kota yang telah diduduki An Lu Shan, di dalam istana di mana An Lu Shan mengangkat diri sendiri menjadi raja, terjadilah hal-hal yang hebat!

An Lu Shan sendiri masih melanjutkan wataknya yang kasar dan mau menang sendiri. Satu di antara kesukaannya adalah wanita, maka begitu dia berhasil, tak pernah berhenti setiap malam dia berganti wanita mana saja yang dipilih dan ditunjuknya, tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang lain sekalipun! pada suatu malam, dalam keadaan mabok dan sedang gembiranya, An Lu Shan lupa diri dan dalam keadaan setengah sadar dia memasuki kamar mantu perempuannya yang sudah lama sekali dia rindukan secara diam-diam. Kalau sadar dan tidak mabok, dia masih menahan hasrat hatinya. Akan tetapi malam itu, dalam keadaan mabok, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi dan memasuki kamar mantunya! Tidak ada seorang pun manusia di dalam istana yang berani melarang, dan pada saat itu, putera An Lu Shan sedang tidak berada di situ.

Dengan penuh perasaan duka dan ketakutan, mantu yang muda dan cantik jelita itu tidak kuasa menolak atau memberontak, sambil menangis dia terpaksa membiarkan dirinya dipeluk dan diciumi mertua yang mabok itu. Dengan suara lirih dan membujuk dia masih berusaha mengingatkan An Lu Shan, namun seorang laki-laki yang tidak hanya mabok arak, melainkan juga mabok cinta berahi, tidak mempedulikan apa pun. wanita hanya dapat merintih dan menangis, diseling suara ketawa gembira dari An Lu Shan.

Ketika pintu kamar itu dengan paksa dibuka dari luar oleh pangeran, An Lu Shan telah tidur mendengkur kelelahan dengan muka merah karena banyak arak, sedangkan isteri pangeran itu menangis terisak-isak, berlutut di atas lantai. pangeran itu menjadi mata gelap, pedang dicabut dan sekali meloncat dia telah menikam dada ayahnya sendiri.

"Crappp....!"

"Auhhh.... haiii.... kau.... kau.....?" An Lu Shan yang bertubuh kuat itu, biarpun pedang telah menembus dadanya, masih dapat meloncat dan memcengkeram ke arah puteranya. Akan tetapi pangeran yang sudah mata gelap itu mengelak, kakinya menendang sehingga An Lu Shan terdorong jatuh, membuat pedang itu masuk makin dalam. Dia berkelojotan dan tak bergerak lagi!

"Tangkap pembunuh.....!!" teriakan ini keluar dari mulut Shi Su Beng yang bersama dengan Han Bu Ong sudah lari ke dalam kamar. Shi Su Beng menggerakkan pedangnya dan terdengar teriakan mengerikan ketika pangeran itu roboh pula di dekat mayat ayahnya dalam keadaan tak bernyawa pula karena lehernya hampir putus terbabat pedang Pangeran Shi Su Beng!

Gegerlah seluruh istana. rapat kilat diadakan dan Shi Su Beng yang dianggap membela Kaisar itu mempergunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukan Kaisar! Dalam keadaan kacau balau itu, Shi Su Beng mengangkat diri sendiri sebagai raja dan Han Bu Ong menjadi raja muda pembantunya yang setia! Hanyalah mereka berdua saja yang tahu bahwa semua peristiwa itu memang digerakan oleh mereka berdua! Shi Su Beng yang membangkitkan berahi An Lu Shan terhadap mantu perempuannya, bahkan di dalam mabok, Shi Su Beng yang membujuk supaya Kaisar baru itu memasuki kamar dengan mengatakan bahwa di dalam kamar itu dia telah menyediakan seorang wanita cantik mirip mantunya itu untuk An Lu Shan! Dan selagi An Lu Shan yang mabok itu menggagahi mantunya sendiri, diam-diam Han Bu Ong menghubungi pangeran dan membisikan bahwa ada penjahat memasuki kamarnya. Maka terjadilah seperti apa yang telah direncanakan oleh mereka berdua, yaitu kematian An Lu Shan di tangan puteranya sendiri dan kemudian kmatian pangeran di tangan Shi Su Beng.

Terjadilah perubahan besar-besaran di kota raja, pergantian kekuasaan dan kembali Han Bu Ong berhasil mengangkat dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan ibunya, yaitu menjadi seorng pangeran yang berkuasa, jauh lebih berkuasa dari pada diwaktu ibunya masih hidup, yaitu menjadi tangan kana penguasa baru yang menjadi sekutunya!

Akan tetapi, jatuhnya An Lu Shan dan berpindahnya kekuasaan di tangan Shi Su Beng, masih saja belum meredakan ketegangan-ketegangan di kota raja akibat perebutan kekuasaan. Seperti biasa penguasa baru mengangkat teman-temannya sendiri menduduki jabatan tinggi, melakukan penggeseran-penggeseran sehingga menimbulkan dendam dari kawan-kawan yang berbalik menjadi lawan.

Dalam keadaan seperti itu, kacau rencana perebutan kekuasaan, kalau perlu dengan cara halus maupun kasar, para pemberontak yang kini memegang tampuk kerajaan itu menjadi lalai. Mereka terlalu memandang rendah Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan, menganggap keluarga Kaisar lama itu sudah jatuh benar-benar. Kesibukan untuk kepentingan ambisi pribadi membuat mereka lengah dan kuran memperhatikan pertahanan sehingga mereka tidak tahu betapa Kaisar dan keluarganya di Secuan telah emmbentuk kekuatan baru untuk melakukan pembalasan!

Kaisar Tua Hian Tiong, yang hancur lahir batinya karena bukan hanya mahkota kerajaan dirampas oleh pemberontak An Lu Shan, akan tetapi terutama sekali karena selirnya tercinta, Yang Kui Hui, harus mati digantung oleh keputusannya sendiri, setibanya di Secuan, menjadi seorang kakek yang patah semangat dan selalu tenggelam dalam duka cita. Dalam keadaan mengungsi itu, di Secuan, keluarga kaisar dan para pengikutnya yang masih setia, menerima keputusan Kaisar Tua untuk mengankat Kaisar baru, yaitu putera mahkota yang bergelar Su Tiong. Pada waktu itu sisa pasukan pemerintah yang telah kalah perang terhadap An Lu Shan, di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I, telah menyusul pula ke Secuan.

Kaisar Su Tiong lalu menghimpun kekuatan dari rakyatnya di daerah Secuan, dan minta bantuan kepada negara-negara tetangga yang bersahabat. Maka terkumpullah pasukan-pasukan campuran yang terdiri dari bermacam suku, bahkan terdapat pula bangsa Turki, Tibet, dan kemudian sekali datang pula bala bantuan dari pasukan Arab yang dikirim sebagai tanda bersahabat oleh Kalipu. Pasukan-pasukan itu disusun menjadi barisan besar dan diberi latihan-latihan berat dalam persiapa kaisar Su Tiong untuk merampas kembali kerajaannya, Kok Cu I.

Tidak ada hal penting terjadi selama perjalanan Swat Hong menuju ke Secuan. Gadis yang dahulu berwatak periang dan jenaka itu, yang wajahnya selalu berseri dan gembira, kini menjadi pendiam dan ada garis-garis dan bayangan muram di wajahnya yang tetap cantik jelita walaupun tidak pernah bersolek. Perantauan selama dua tahun mencari-cari pusakanya yang hilang tanpa hasil itu membuat dia merasa berduka dan juga penasaran sekali. Di dalam hatinya di berjanji bahwa dia takkan pernah berhenti mencari sebelum mendapatkan pusaka Pulau Es itu. Dalam perantauannya itu dia mendengar pula tentang kematian An Lu Shan dan puteranya.

Ketika dia tiba di Secuan, pada waktu itu Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Si Tiong, memang sedang menyusun tenaga di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I sendiri. panglima Kok ini menyebar para pembantunya, yaitu panglima-panglima bawahan di seluruh daerah Secuan untuk menerima dan mendaftar para sukarelawan yang hendak masuk menjadi tentara.

Seorang di antara bawahannya yang bertugas mengumpulkan bala bantuan bahkan menghubungi orang-orang asing dari barat ini adalah Panglima Bouw Kiat. Panglima inilah yang telah berjasa menghubungi orang-orang Arab sehingga akhirnya Kaliphu (yang kuasa di Arab) sendiri mengirim pasukan bala bantuan. Bouw Kiat berkedudukan di sebuah dusun daerah selatan dan di sini dia menyusun pasukannya sambil menjamu pasukan dari Arab yang sebagian kecil sebagai pasukan pelopor telah tiba di situ. panglima Kok Cu I yang cerdik memisah-misahkan para pasukan asing yang membantunya agar menjauhkan terjadinya bentrokan. Pasukan bantuan dari Turki berada di utara, dari Tibet berada di selatan dan dari timur adalah pasukan yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa.

Pada suatu hari, Swat Hong tiba di daerah yang dikuasai oleh Panglima Bouw Kiat inilah. Dara ini merasa heran ketika melihat ada banyak tentara asing yang bertubuh jangkung, bersikap gagah dan berkulit colat gelap, bermata tajam dan bercambang bauk berkeliaran di daerah itu.

Di tengah jalan, dia melihat seorang laki-laki asing yang tinggi besar dan gagah, memegang gandewa dan akan panah dikelilingi prajurit-prajurit Han dan Arab sambil tertawa-tawa. Laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang gagah itu berkata dalam bahasa Han yang kaku, "Lihat burung-burung itu! Aku akan menurunkannya sekaligus tiga ekor. Yang mana kalian pilih?"

Swat Hong tertarik , berhenti dan memandang ke atas. Diam-diam dia terkejut dan menganggap orang itu sombong. Mana bisa menjatuhkan burung-burung yang terbang begitu tinggi sekaligus tiga ekor kalau orang ini bukan seorang ahli panah yang sakti?

"Tiga ekor dari depan!" terdengar teriakan.

"Tidak, yang paling belakang adalah paling sukar!" kata orang lain.

Perwira bang sa Arab itu tersenyum dan tampaklah giginya yang rata dan putih berkilauan, kumisnya bergerak-gerak. "Biar kujatuhkan dua terdepan dan burung terakhir!"

Kelompok burung yang terbang tinggi sudah tiba tepat di atas mereka. Perwira itu memasang tiga batang anak panah pada gendewanya, lalu menarik tali gendewa . Terdengar suara menjepret dan meluncurlah tiga batang anak panah seperti tiga sinar berkilauan ke atas. Dari bawah tidak kelihatan bagaimana burung-burung itu terkena anak panah, namun jelas tampak betapa dua ekor burung terdepan dan seekor paling belakang tiba-tiba runtuh ke bawah. Ketika tiga ekor burung itu jatuh ke tanah dan semua orang melihat bahwa dada burung itu tertusuk anak panah, mereka bersorak dan bertepuk tangan memuji.

"Boleh juga dia," pikir Swat Hong sungguhpun dia maklum bahwa kepandaiannya memanah seperti itu hanyalah berguna untuk pertempuran jarak jauh dan sama sekali tidak ada artinya untuk pertandingan berdepan. Tentu kalah cepat oleh am-gi (senjata rahasia) seperti jarum, paku, piauw dan lain-lain

"hai, Nona! Tepuk tangan untuk kelihaian Perwira Ahmed!" Tiba-tiba ada seorang laki-laki menegur Swat Hong. Laki-laki ini adalah seorang perajurit Han dan sambil menyeringai dia bertepuk tangan dan mendesak Swat Hong untuk ikut bertepuk tangan.

Akan tetapi Swat Hong tidak mau melayaninya, membuang muka dan melanjutkan langkahnya. Akan tetapi laki-laki itu melompat dan menghadang didepanya sambil bertolak pinggang. "Eitt..... nanti dulu! Berani kau menghina Perwira Ahmed? Dia bukan hanya lihai dan menembak tepat, juga banyak wanita tergila-gila kepadanya! Dan kau berani memandang rendah?"

Swat Hong memandang dengan mata melotot lalu mendengus, "Pergilah!" sambil melangkah terus.

"Dan kau laki-laki kurang ajar!" Swat Hong berkata dan sekali dia menggerakkan lengannya yang terpegang, dia berbalik sudah memegang pergelangan tangan laki-laki itu dan begitu dia membetot, laki-laki itu jatuh tersungkur mencium tanah!

"Aihhh, berani kau memukulku?" Perajurit itu marah sekali dan cepat melompat dan menubruk.

"Plakkk! Augghhh....!" Perajurit itu terlempar dan mengaduh-aduh, mukanya membengkak.

Melihat ini, lima orang perajurit kawan orang pertama itu menjadi marah dan menerjang maju. "Tangkap, dia tentu mata-mata!"

Swat Hong merasa muak sekali dan juga marah. Melihat lima orang itu menerjang dan hendak berlumba menangkap dan merangkulnya, kaki tangannya bergerak dan dalam segebrakan saja, lima orang itu pun roboh tersungkur dan tidak dapat berlagak lagi karena mengaduh-aduh kesakitan.

Tentu saja keadaan menjadi ribut dan banyak anak buah pasukan mengurung, akan tetapi tiba-tiba perwira yang ahli menggunakan anak panah tadi meloncat maju dan menghadik. "Mundur semua!"

Setelah orang-orang mundur tidak melanjutkan gerakan mereka untuk mengeroyok, perwira itu membungkuk di depan Swat Hong sambil berkata, "Harap Nona maafkan. Sudah lajim bahwa anak buah pasukan selalu bersikap kasar. Nona tentu bukan orang sini, kalau boleh bertanya hendak ke manakah?"

"Hemm, pikir Swat Hong. Pantas kalau banyak wanita tergila-gila. Memang perwira yang bernama Ahmed ini gagah sekali, gagah dan tampan, amat keras daya tariknya terhadap wanita terutama sekali sepasang matanya yang tajam dengan bulu mata panjang lentik dan alis yang tebal itu. Juga dagunya berlekuk dan menambah kejantanannya. Selain tampan dan gagah, juga laki-laki ini pandai bersikap manis terhadap wanita.

"Sudahlah," kata Swat Hong. Aku pun tidak, ingin mencari permusuhan, asal mereka jangan kurang ajar. Bahkan aku ingin menghadap Kaisar untuk membantu perjuangannya. Di manakah aku dapat menghadap Kaisar?"

Mendengar ucapan gadis yang cantik jelita dan gagah itu, seketika lenyaplah kemarahan para perajurit.

"Aih, kiranya seorang lihiap (pendekar wanita)!"

"Tentu tokoh kang-ouw kenamaan!"

Perwira Ahmed menghentikan ribut-ribut itu dan kembali dia tersenyum, manis dan menarik sekali. "Untuk membantu perjuangan, tidak perlu menghadap Sri Baginda, Nona. Tidak mudah menghadap Sri Baginda yang sedang sibuk. Kebetulan di sini juga merupakan markas dan dipimpin Bouw-ciangkun. Banyak pula orang-orang kang-ouw yang telah diterima menjadi sukarelawan. Akan tetapi baru sekarang datang seorang sukarelawati seperti Nona. Ahh, terimalah hormat dan rasa kagumku, Nona. engkau tentulah yang disebut pendekar wanita dari dunia kang-ouw, bukan?"

Swat Hong tidak peduli, yang penting adalah membantu perjuangan untuk membasmi An Lu Shan dan keturunan atau penggantinya. "Dapatkah aku bertemu dengan Bouw-ciangkun?"

"Tentu saja. Akan tetapi, perkenankanlah aku memuaskan keinginan hatiku yang sudah terpendam bertahun-tahun untuk menyaksikan kelihaian seorang pendekar wanita dari timur, Nona." Perwira Ahmed memperlihatkan gendewanya. "Dapatkah Nona mainkan gendewa dan anak panah?"

Swat Hong maklum bahwa dia hendak diuji, dan siapa tahu, mungkin perwira ini termasuk seorang di antara para pengujinya. "Senjata ini kurang praktis untuk pertandingan jarak dekat dan terang-terangan."

Perwira Ahmed mengerutkan alisnya, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum manis. "Benarkah? Nona, dengan gendewa ini aku dapat merobohkan musuh dalam jarak seratus langkah, biarpun musuh itu menggunakan senajta apa pn untuk melindungi dirinya. Aku dapat melepaskan anak panah terus-menerus dan bertubi-tubi sampai puluhan batang!"

"Hemm, mungkin berhasil merobohkan segala burung dan manusia yang bodoh saja."

"Wah....!" Ahmed membelalakan matanya. "Apakan di dunia ini ada orang yang sanggup menyelamatkan diri dalam jarak seratus langkah dari gendewaku?"

"Boleh kaucoba. Aku bersedia."

"Eiiiihhh, jangan, Nona! Aku akan menyesal selama hidupku kalau sampai melukaimu, apalagi membunuhmu!"

"Tidak perlu khawatir, aku malah akan menghadapi hujan anak panahmu itu dengan tangan kosong!"

"Mustahil!"

Orang Han yang pertama kali dirobohkan Swat Hong, kini mendekat dan karena dia maklum akan kelihaian dara itu, kini dia hendak mencari muka dan berkata, "Saudara Ahmed, jangan memandang rendah seorang lihiap. Dia pasti akan sanggup memenuhi kata-katanya."

Atas dorongan dan desakan banyak orang, akhirnya Ahmed mau juga mencoba kepandaian wanita cantik jelita itu. Dengan tenang Swat Hong melangkah sambil menghitung sampai seratus, langkah pendek-pendek saja, kemudian membalik dan menghadapi Ahmed dengan mata tak berkedip.

"Wah, terlalu dekat....! Terlalu dekat sekali! langkahmu begitu pendek-pendek, Nona. Ini hanyalah lima puluh langkah, tidak ada seratus!" Ahmed berteriak sambil melangkah mundur sampai lima puluh langkah. Diam-diam Swat Hong memuji kejujuran dan niat baik di hati perwira asing itu.

"Terserah kepadamu. Nah, aku sudah siap." katanya.

Ahmed ragu-ragu, mukanya agak pucat. "Tapi...... tapi, setidaknya kau harus membawa pedang untuk menangkis atau sebuah perisai."

"Tidak perlu. Seranglah!"

Didesak oleh orang banyak, dan memang di dalam hatinya dia juga merasa penasaran sekali, Ahmed lalu memasang lima batang anak panah di gendewanya, dan masih ada puluhan batang di tempat anak panah yang siap untuk disambar tangan kanan menyusul rombongan anak panah terdahulu.

"Nona, siap dan hati-hatilah!" teriaknya dan terdengar suara menjepret ketika tampak lima sinar berturut-turut meluncur ke arah Swat Hong, diikuti oleh puluhan pasang mata yang tidak berkedip dan dengan hati penuh ketegangan.

Swat Hong melihat betapa lima batang anak panah itu meluncur disekeliling tubuhnya. Tahulah dia bahwa orang itu memang amat hebat ilmu panahnya akan tetapi juga amat lembut hatinya terhadap wanita sehingga sengaja membuat anak panah rombongan pertama menyeleweng. Dia diam saja tidak bergerak membiarkan lima batang anak panah itu lewat, diikuti seruan menahan napas dari semua orang yang sudah merasa ngeri melihat nona itu sama sekali tidak mengelak!

Ahmed membelalakan matanya. hampir dia tidak percaya. Anak panahnya itu hanya sedikit saja selisihnya dari kulit tubuh wanita itu, namun wanita itu dengan tenang saja berdiri diam tidak bergerak!

"Tidak perlu sungkan, bidik yang tepat!" Swat Hong berkata setelah dia merasa yakin bahwa luncuran anak panah itu dapat diikuti dengan pandang matanya sehingga mudah bagi dia untuk menjaga diri.

Lima batang lagi anak panah sudah berada di gendewa Ahmed dengan cepat bukan main dan kembali terdengar suara menjepret ketika lima batang anak panah itu menyambar seperti kilat ke arah Swat Hong. Dara itu melihat betapa lima batang ini menyambar ke arah kakinya semua, maka dia mengerti bahwa Ahmed masih saja khawatir kalau-kalau mencelakainya, maka dia meloncat dan sekaligus menendang ke bawah sehingga dia bukan hanya mengelak, bahkan berhasil menendang runtuh semua anak panah itu!

Ahmed mengeluarkan seruan kagum dan kini dia pun tidak ragu-ragu lagi akan kehebatan pendekar wanita itu. Anak panahnya meluncur bertubi-tubi seperti hujan derasnya, susul menyusul ke arah tubuh Swat Hong dan dara ini pun memperlihatkan kepandaiannya. Sambil mengelak berloncatan ke sana-sini, tangannya menyambar dan dua batang anak panah ditangkapnya dengan kedua tangannya, lalu dia menggunakan dua batang anak panah itu untuk menangkis semua anak panah yang datang menyambar, kemudian dengan cepat dan tak terduga-duga dia menyambitkan sebatang anak panah yang meluncur cepat ke arah Ahmed.

Auhhh....!" Ahmed berteriak kaget dan gendewanya terlepas dari tangan kirinya karena tangan kirinya itu kena sambar sebatang anak panah. Gendewanya terlepas akan tetapi tangan kirinya tidak terluka karena anak panah yang menyambar tangannya itu dilepas dengan cara dibalik sehingga bukan ujung yang runcing yang mengenai tangannya, melainkan ujung belakang yang bulu-bulunya telah dibuang .

Ahmed segera lari menghampiri Swat Hong, memandang penuh kagum, kemudian dia membungkuk sampai dalam sambil berkata, "Duhai....., Nona adalah setangkai bunga di tengah padang pasir! Satu di antara puluhan ribu wanita belum tentu ada yang seperti Nona...... saya merasa kagum dan hormat sekali.......!"

Wajah Swat Hong menadi merah. Bukan main hebatnya pujian yang keluar dari mulut pria ini, pujian yang aneh dan istimewa. Akan tetapi sebelum dia menjawab terdengar kaki kuda berderap dan muncullah seoran panglima sebangsa Ahmed naik kuda. Usianya tentu sudah empat puluhan tahun, tinggi besar dan berwibawa, gagah dan juga tampan, akan tetapi begitu bertemu pandang, Swat Hong merasa tidak suka kepada panglima ini karena pandang mata itu seolah-olah hendak menelanjangi dan sinar mata orang itu seperti dapat menembus pakaiannya!

Ahmed cepat berdiri dengan tegak memberi hormat kepada atasannya. Panglima itu lalu bertanya kepada Ahmed dalam bahasa mereka sendiri yang tidak dimengerti oleh Swat Hong, dijawab pula oleh Ahmed. Panglima itu mengangguk-angguk, bicara lagi lalu memutar kudanya pergi dari tempat itu setelah melempar kerling penuh gairah dan kagum ke arah Swat Hong.

"Nona, Komandanku tadi bertanya tentang Nona dan menyuruh Nona langsung saja menghadap Bouw-ciangkun untuk melapor. Tentu saja banruan tenaga seorang yang berkepandaian tinggi seperti Nona amat dihargai dan dibutuhkan. Mari Nona, saya antar."

"kau baik sekali, terima kasih," jawab Swat Hong yang merasa memperoleh seorang sahabat dalam diri perwira yang simpatik ini.

"Nama saya Ahmed, Nona."

Swat Hong tersenyum, mengerti bahwa itulah cara yang sopan dari sahabat barunya untuk menanyakan namanya.

"Dan namaku Han Swat Hong."

Mereka memasuki sebuah bangunan besar dan di ruangan dalam, Ahmed membawa Swat Hong ke dalam sebuah kamar di mana duduk seorang tua berpakaian panglima perang. Orang ini berusia lima puluh tahun lebih, mukanya bulat dan matanya sipit menjadi agak lebar ketika dia memandang Swat Hong yang datang bersama Ahmed.

Setelah memberi hormat, Ahmed berkata "Nona Han Swat Hong ini ingin menjadi sukarelawati."

"Hemm, aku sudah mendengar dari komandanmu. Kau boleh pergi meninggalkan Nona ini di sini," jawab Panglima Bouw dengan sikap angkuh. Menyaksikan sikapnya ini saja Swat Hong sudah merasa kurang senang.

Ahmed memberi hormat, melirik kepada Swat Hong lalu melangkah keluar dengan tegap. Setelah derap kaki Ahmed tidak terdengar lagi, kamar itu menjadi sunyi sekali biarpun di situ, selain Bouw-ciangkun dan Swat Hong, masih terdapat empat orang pengawal yang berdiri di sudut kamar seperti arca.

"Silahkan duduk, Nona." Suara Bouw-ciangkun berubah, tidak singkat dan keras seperti tadi, melainkan lunak dan manis.

hal ini membuat Swat Hong makin tidak senang lagi, akan tetapi karena kedatangannya hendak membantu kerajaan melawan pemberontak, bukan hendak berhubungan dengan orang ini, dia tidak banyak cakap, lalu duduk.

"Kami telah mendengar akan kelihaian Nona yang mendemonstrasikan kepandaian di luar tadi. Kebetulan sekali kedatangan Nona, karena Kaisar memang membutuhkan seorang pengawal wanita untuk menjaga keselamatan keluarga Kaisar. Oleh karena itu, harap Nona menanti di dalam pesanggrahan, kalau kesempatan sudah terbuka, kami akan mengantarkan Nona untuk menghadap Kaisar sendiri."

Girang juga hati Swat Hong karena dia lebih senang untuk bekerja dekat dengan keluarga Kaisar daripada bekerja sama dengan para prajurit Kaisar itu. Pula, memang karena merasa bahwa ayahnya adalah masih sedarah dengan keluarga Kaisar maka dia berkeinginan membantu keluarga Kaisar, maka pekerjaan menjadi pengawal untuk melindungi keselamatan keluarga Kaisar amatlah cocok baginya.

"Baik, saya akan menanti," jawabnya.

Setelah mencatatkan nama Swat Hong, Bouw-ciangkun sendiri lalu mengantarkan dara itu pergi ke pesanggrahan, yaitu sebuah bangunan yang terpencil, berada di pinggir gunung, bangunan yang bentuknya indah dan mungil. Ketika menuju ke bangunan ini, Swat Hong melihat beberapa orang penjaga yang jumlahnya hanya belasan orang akan tetapi senjata mereka aneh, yaitu sebatang pedang yang bengkak-bengkok seperti ular dan memegang perisai yang bentuknya seperti batok kura-kura.

"Mereka ini adalah pasukan istimewa, pasukan pengawalku." kata Bouw-ciangkun menjelaskan dengan nada suara bangga ketika Swat Hong memandang mereka itu yang berdiri tegak dan memebri hormat kepada Bouw-ciangkun dengan gagah. Setelah mereka memasuki pesanggrahan, Bouw-ciangkun melanjutkan, "Mereka terdiri dari orang-orang pilihan, bermacam suku bangsa di barat dan utara."

Akan tetapi Swat Hong sudah tidak memperhatikan lagi cerita tentang pasukan pengawal tadi, karena dia sedang memperhatikan keadaan pesanggrahan yang cukup mewah itu.

"Rumah ini kosong?" tanyanya.

"Memang di kosongkan dan disediakan untuk tamu agung. Karena sekarang tidak ada tamu, maka Nona boleh beristirahat di sini barang sehari dua hari untuk menanti kesempatan Kaisar dapat menerima Nona menghadap. saya akan mengirim dua orang pelayan wanita untuk melayani segala keperluan Nona, dan sekarang juga saya akan berusaha melaporkan kedatangan Nona kepada kaisar."

Swat Hong hanya memangguk dan pembesar itu pergi meninggalkannya. Ketika Swat Hong sedang memeriksa keadaan pesangrahan itu yang ternyata mewah dan lengkap dengan kamar tidur yang indah, masuklah dua orang pelayan wanita membawa perlengkapan dan bahan masakan.

"Kami menerima perintah untuk melayani Nona di sini," kata mereka dan segera mereka sibuk di dapur.

Swat Hong merasa tidak enak hatinya. Dia melamar untuk menjadi pejuang membantu Kaisar, akan tetapi dia diterima seperti seorang tamu agung, ditempatkan di rumah mungil dan dilayani dengan istimewa seperti dimanja! Apakah karena dia wanita? Ataukah karena dia memperlihatkan kepandaiannya tadi dan dipilih menjadi pengawal keluarga Kaisar?

Dia ingin melihat-lihat keadaan di luar. Akan tetapi baru saja dia meninggalkan pondok itu sejauh belasan langkah, tiba-tiba muncullah tiga orang mengawal istimewa yang bersenjata pedang berbentuk ular dan perisai kura-kura tadi.

"Harap Nona jangan meninggalkan pondok . Kami diperintah untuk menjaga pesanggrahan dan kalau Nona memaksa pergi kami harus mengawal Nona."

Swat Hong mengerutkan alisnya. Akan tetapi karena maksud itu baik, biarpun dianggapnya tidak ada gunanya, aneh dan menyebalkan, dia tidak menjawab melainkan kembali memasuki pondok, terus ke kamar dan merebahkan diri di atas pembaringan. Dia merasa seperti seorang asing di situ. Tiba-tiba dia tersenyum teringat kepada Ahmed. Untung ada orang yang simpatik itu. Setidaknya, dia yakin bahwa dia mempunyai seorang sahabat yang boleh dipercaya.

Akan tetapi baru saja dia beristirahat di atas tempat tidur yang lunak itu, terdengar suara hiruk pikuk di luar. Swat Hong yang memang selalu merasa tidak enak itu meloncat dan berlari ke luar. Kagetlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Bouw-ciangkun dan Panglima Arab tinggi besar yang menjadi atasan Ahmed tadi, diiringkan oleh tujuh orang pelayan pria yang membawa baki tertutup.

Begitu berhadapan, Bouw-ciangkun menjura dengan hormat sambil berkata, "Kiong-hi (selamat), Nona Han. Kami telah menghadap Kaisar dan karena Beliau masih sibuk, mulai besok lusa Nona boleh menghadap sendiri. Sementara itu, Beliau mengirim kami berdua untuk menemani Nona menerima hidangan yang dikirim dari dapur keluarga Kaisar!"

Hati Swat Hong tidak senang dan curiga, akan tetapi karena nama Kaisar disebut-sebut, dia tidak berani menolak. Dia tahu bahwa penolakan hadiah dari Kaisar dapat diartikan penghinaan dan pemberontakan! Banyak dia mengerti tentang peraturan kerajaan, karena selain dia sendiri adalah puteri raja di Pulau Es juga dia banyak membaca kitab-kitab ayahnya tentang penghidupan keluarga Raja di daratan besar.

Terpaksa dia membalas dengan menjura penuh hormat, kemudian bersama dua orang panglima itu dia memasuki pondok dan duduk menghadapi meja besar bersama mereka berdua.

Setelah hidangan yang lengkap dan masih panas diatur di atas meja dan para pelayan mudur berdiri di sudut, dua orang pelayan wanita muncul melayani mereka makan minum. Bouw-ciangkun memperkenalkan panglima itu sebagai panglima yang menjadi komandan dari pasukan Arab yang membantu.

"kami mengandalkan bantuan sahabat-sahabat dari barat ini untuk merampas kembali kota raja." antara lain Bouw-ciangkun berkata, akan tetapi urusan itu hanya didengarkan sepintas lalu saja oleh Swat Hong yang menghendaki agar pertemuan ini cepat selesai.

Dengan tangannya sendiri Bouw-ciangkun lalu mengisi cawan-cawan kosong di depan Swat Hong, Panglima Arab, dan dia sendiri, lalu mengangkat cawan arak sambil berkata, "mari kita mulai makan minum bersama dengan mengucapkan terima kasih kepada Sri Baginda dengan mengangkat cawan penghormatan untuk kejayaan Sri Baginda Kaisar!"

Swat Hong mengangkat cawan dan minum bersama mereka, kemudian Bouw-ciangkun mempersilahkan Swat Hong dan Panglima Arab itu untuk mulai makan. Sambil makan, Bouw-ciangkun dengan gembira menceritakan keadaan mereka, kekuatan yang sedang mereka susun, juga menceritakan kekacauan di kota raja sebagai akibat perebutan kekuasaan di antara para peberontak sendiri. Betapa An Lu Shan dan puteranya tewas dan sekarang Shi Su Beng yang berkuasa juga menghadapi bersaingan dari bekas kawan-kawannya sendiri.

"Ha-ha-ha, seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang!" Dia menutup ceritanya sambil tertawa-tawa.

Panglima Arab itu yang diperkenalkan tadi bernama Hussin bin Siddik, mengeluarkan sebuah guci yang bentuknya seperti tanduk kerbau, membuka tutupnya dan mencium bau harum yang aneh. Sambil tertawa dia mengacungkan guci tanduk kerbau itu sambil berkata, "Nona adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi dan dipilih untuk menjadi pengawal Sri Baginda. karena itu sudah sepatutnya menerima penghormatan kami dengan anggur padang pasir ini! Marilah kita minum tiga cawan untuk pertama, demi keselamatan Sri Baginda sekeluarga!" Dia mengisi cawan arak di depan Swat Hong dengan minum dari guci tanduk kerbau itu, tidak banyak, hanya setengah cawan kurang.

karena dia diajak minum demi keselamatan keluarga kaisar, tentu saja Swat Hong tidak menolak, apalagi karena dia melihar betapa Bouw-ciangkun dan Panglima Hussin sendiri juga minum. Diminumnya cawannya dan ternyata anggur itu enak dan tidak begitu keras, manis dan harum sungguhpun agak aneh harumnya.

"Secawan lagi kita minum demi persahabatan kita!"

Kembali Swat Hong minum dari cawan araknya yang sudah diisi lagi setengahnya.

"Dan cawan terakhir kita minum untuk kemenangan perjuangan kita!"

Sekali ini cawan itu dipenuhi dan karena anggur itu sama sekali tidak mendatangkan pengaruh apa-apa, Swat Hong tidak khawatir dan minum anggur sampai habis. panglima Hussin dan Bouw-ciangkun tertawa girang dan melanjutkan makan minum sepuas-puasnya.

Setelah kenyang, kedua orang panglima itu berpamit dan sambil tertawa Bouw-ciangkun berkata, "Harap Nona jangan pergi meninggalkan pesanggrahan ini karena siapa tahu tiba-tiba saja Sri Baginda Kaisar telah siap menerima kunjungan Nona. hal itu bisa saja terjadi di siang hari atau di malam hari. Sebaiknya kalau Nona mengaso saja dalam pesanggrahan dan sewaktu-waktu, kalau Sri Baginda menghendaki, aku sendiri atau Panglima Hussin yang akan datang menjemput Nona."

Swat Hong mengangguk dan setelah dua orang panglima itu pergi dan meja dibersihkan lalu ditinggal pergi oleh para pelayan, dia lalu minta kepada wanita pelayan untuk menyediakan air. Setelah mandi dan tukar pakaian, Swat Hong kembali beristirahat di dalam kamar yang indah itu. Berada di dalam kamar ini teringatlah dia akan kamarnya sendiri di Pulau Es, kamar yang lebih indah dan lebih menyenangkan lagi.

Dia menutup mulut dengan tangan dan menguap..... goyang-goyang kepalanya. Mengapa dia begini mengantuk? Dia menguap lagi. Bukan main! Rasa kantuk sukar dipertahankannya lagi. Aneh sekali! Hari baru menjelang senja, belum malam. Pula habis makan dan mandi, mana bisa mengantuk?

Kembali dia menguap dan Swat hong meloncat bangun, duduk sambil memegangi kedua pelipisnya. Ini tidak wajar, pikirnya! Rasa kantuk yang amat hebat dan terbayanglah wajah Panglima Hussin yang mengajaknya minum sampai tiga kali, kemudian terbayanglah dan terdengar lagi kata-kata Bouw-ciangkun yang menyatakan bahwa kalau Kaisar menghendaki, sewaktu-waktu dia atau Panglima Hussin akan datang menjenguknya. Semua ini dilakukan sambil tertawa-tawa dan seakan-akan ada "main mata" di antara kedua orang panglima itu!

"Celaka....!" dia mengeluh, ingin dia turun membasahi muka denan air, akan tetapi dia tidak kuat, baru saja dia turun, dia sudah terguling ke atas lantai karena kepalanya pening dan Swat Hong sudah tidur di atas lantai dengan pulasnya!

Tak lama kemudian, setelah matahari mulai condong ke barat, sesosok bayangn seorang pemuda berkelebat dan mengintai pesangrahan itu dari balik batu-batu gunung. pemuda ini tinggi besar, gagah dan tampan, dengan sebatang pedang di punggungnya, berpakaian sederhana dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

Pemuda ini adalah Kwee Lun! Bagaimana dia dapat datang di tempat jauh itu? Seperti telah dituturkan di bagian depan, dua tahun yang lalu pemuda ini berpisah dari Swat Hong dan langsung dia pulang ke Pulau Kura-kura di Lam-hai. Tepat seperti dugaannya semula, gurunya, Lam-hai Seng-jin, terheran-heran dan kagum mendengar penuturan muridnya terutama pengalaman muridnya yang bertemu dan bersahabat dengan penghuni Pulau Es! Setelah muridnya selesai menceritakan semua pengalamannya, juga tentang kematian Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang dicintainya dengan suara berduka, kakek itu berkata, "Pengalamanmu sudah cukup, muridku. Sekarang biarlah aku memperdalam ilmumu dan menerima sisa-sisa dari semua kepandaianku. Setelah itu, berangkatlah kau lagi ke daratan besar. Negar sedang kacau balau dilanda oleh para pemberontak. Tenagamu dibutuhkan. Kabarnya kaisar mengungsi ke Secuan, maka sebaiknya kalau kau kelak menyusul ke sana untuk membantu kaisar, jangan membiarkan dirimu terbujuk oleh kaum pemberontak."

Demikianlah, Kwee Lun berlatih silat untuk yang terakhir dari gurunya, terutama sekali memperhebat ilmu pedang yang dimainkan bersama dengan kipas di tangan kirinya. Setahun kemudian berangkatlah dia meninggalkan Pulau Kura-kura untuk kedua kalinya, mendarat di daratan besar dan langsung dia pergi ke barat, ke Secuan! Kebetulan sekali dia tiba pada hari itu juga, berbareng dengan datangnya Swat Hong! Hanya bedanya, kalau Swat Hong datang dari timur, adalah Kwee Lun datang dari selatan, akan tetapi mereka memasuki daerah yang sama yaitu yang dikuasai oleh Bouw-ciangkun. Kwee Lun terus melaporkan diri dan langsung diterima sebagai sukarelawan.

Dia tidak tahu bahwa pada siang hari itu juga Swat Hong datang dan bertemu dengan perwira Ahmed dari pasukan Arab yang diperbantukan.

tanpa disengaja, ketika Kwee Lun berjalan-jalan dan bertemu dengan para perajurit Han, bertanya-tanya tentang keadaan, dia mendengar kelakar seorang di antara para prajurit itu.

"Wah, enak juga menjadi panglima tentara asing! Selain jaminannya lebih hebat, juga hiburannya lebih luar biasa lagi. bayangkan saja, dara perkasa yang mengebohkan siang tadi, kabarnya akan diserahkan sebagai hadiah kepada Panglima Hussin!"

"Ah, masa?"

"Hem, jelita sekali dia!"

"Dan masih perawan hijau lagi!"

"Akan tetapi ilmu silatnya hebat! jangan-jangan panglima itu akan mampus olehnya!"

"Mudah-mudahan begitu!"

"tapi panglima itu terkenal pandai, dan lihat saja Perwira Ahmed itu, dimana-mana para wanita tergila-gila kepadanya. Agaknya mereka memiliki jimat untuk menundukan hati wanita."

mendengar ini, Kwee Lun mengerutkan alisnya. Tak disangkanya, di tempat seperti ini dia mendengarkan peristiwa yang sepantasnya terjadi di dunia penjahat. Seorang dara dihadiahkan begitu saja! Mendengar bahwa dara itu lihai ilmu silatnya, dia tertarik.

"Kalau wanita itu lihai, mana bisa dia dihadiahkan begitu saja?" dia ikut bicara sambil tersenyum.

"Aha, kau tidak tahu, kawan. Banyak jalan yang dapat dilakukan oleh Bouw-ciangkun. Dan kabarnya, tidak pernah ada wanita yang dapat melawan apabila dikehendaki oleh Panglima Hussin itu. Apalagi kalau Bouw-ciangkun sudah mengijinkannya, dan dalam hal ini, agaknya Bouw-ciangkun selalu berusaha mengambil hati orang-orang berkulit hitam itu!"

Kwee Lun makin tak senang hatinya. Dia mendengarkan dengan teliti dan akhirnya memperoleh keterangan bahwa dara yang hendak dihadiahkan itu kabarnya telah dikurung di dalam pesanggerahan, yaitu rumah kecil terpencil yang oleh para perajurut diberi nama tempat penjagalan perawan!

"Hem, semenjak kecil suhu menanamkan sifat pendekar, membela keadilan dan kebenaran kepadaku." Kwee Lun berpikir, "Biarpun sekarang aku menjadi seorang pejuang, tetap aku harus menentang kejahatan, dari siapapun juga datangnya!"

Dengan pikiran ini, Kwee Lun mulai melakukan penyelidikan dan pada sore hari itu dia sudah mendekati rumah pesanggerahan itu dan menyelinap untuk menyelidiki dari jarak dekat, kalau mungkin memasuki rumah itu dan menolong si gadis yang hendak dijadikan korban.

Melihat betapa di empat penjuru terdapat empat orang penjaga yang selalu melakukan perondaan mengelilingi pesanggerahan itu, Kwee Lun bersembunyi dan mengintai. Penjaga-penjaga yang memegang pedang ular dan perisai kura-kura itu kelihatanya bukan penjaga-penjaga sembarangan.

Dia harus menanti sampai malam tiba, barulah ada harapan baginya untuk dapat memasuki pesanggrahan itu tanpa diketahui orang. Asal saja dia tdak terlambat, pikirnya.





























Bu Kek Siansu

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Buku 12

Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat seorang perwira Arab yang berkumis rapi datang menghampiri pesanggerahan itu. Empat orang penjaga menghadangnya, mereka bercakap-cakap dan perwira itu dibiarkan oleh para penjaga memasuki pesanggrahan. Hemm, ini agaknya pembesar yang di "hadiahi" gadis itu, pikir Kwee Lun dengan marah sekali. Kalau dia harus menanti lebih lama lagi , mungkin dia akan terlambat.

Kebetulan sekali terdapat seorang penjaga meronda di dekat tempat dia bersembunyi, "Keparat busuk!" Kwee Lun berseru marah dan dia meloncat dari tempat sembunyinya.

Penjaga itu terkejut cepat menarik perisai kura-kura di depan dadanya dan mengangkat pedangnya, siap untuk menyerang.

"Haaaaiiiiittttt!!!" Tubuh Kwee Lun yang meloncat ke atas itu langsung menendang dengan tumit kaki kanan di depan.

"Bresss....!!"

Perisai kura-kura itu ternyata kuat menahan tendangan Kwee Lun, akan tetapi pemegangnya terdorong dan terjengkang bergulingan. Mendengar suara berisik ini, berdatanganlah para penjaga lain dan dalam waktu sebentar saja Kwee Lun terpaksa harus mencabut pedang dan kipasnya, mengamuk dikepung oleh belasan orang penjaga yang bersenjata pedang ular dan perisai kukra-kura itu.

Sementara itu, perwira berkumis yang bukan lain adalah Perwira Ahmed tadi, setelah berhasil meyakinkan para penjaga bahwa dia datang untuk memeriksa apakah dara itu masih berada di pesanggrahan, terkejut mendengar ribut-ribut dan ketika dia menengok, dia melihat seorang pemuda perkasa sedang dikepung para penjaga. Perwira yang cerdik ini menduga bahwa tentu pemuda itu datang untuk menolong Swat Hong, maka dia bergegas memasuki rumah itu. Dua orang pelayan wanita dibentaknya untuk minggir.

"Aku harus menjaga dia, ada orang jahat datang!

Didorongnya dau pintu kamar dan cepat ditutupnya dari dalam. Melihat Swat Hong rebah terlentang dan tidur pulas di atas lantai, Ahmed cepat berlutut dan mengeluarkan sebuah botol hijau dari sakunya.

"Huh, benar jahat! Mengorbankan siapa saja tanpa pilih bulu!" gerutunya sambil membuka tutup botol hijau yang cepat dia tempelkan di depan hidung Swat Hong.

tak lama kemudian dara itu terbangun, mengeluh dan merintih, "Aduhh....pening kepalaku....."

"Sttt..... Nona Swat Hong...... sadarlah...... aku datang menolongmu......" Ahmed mengguncang-guncang dara itu.

Swat Hong membuka matanya dan terkejut melihat Ahmed berlutut di dekatnya. "Lekas kaucium ini....." Ahmed kembali mendekatkan botol di depan hidung Swat Hong.

Gadis itu memang sudah mempunyai kesan baik terhadap diri Ahmed, maka dia tidak membantah dan disedotnya botol itu. Tercium bau keras dan dia tersedak lalu berbangkis.

Apa.... apa yang terjadi......?" Swat Hong bertanya, kepalanya masih agak pening.

"Lekas kau telan ini...." Ahmed memberikan sebutir pel hitam. "Engkau telah terkena racun Hashish yang dicampurkan di dalam anggur. Ini obat penawarnya."

Teringatlah Swat Hong dan tahulah dia mengapa dia tertidur di lantai. Tanpa bertanya lagi dia lalu menelan pel kecil itu dan benar saja, peningnya hilang dan pikirannya terang kembali.

"Nona, aku mendengar bahwa siang tadi kau dijamu oleh mereka. Tahulah aku bahwa kau tentu diberi anggur bercampur hashish. Lekas kau keluar, di luar sedang terjadi pertempuran. Seorang pemuda agaknya datang hendak menolongmu, dia bersenjata pedang dan kipas...."

"Kwee Lun.....!" Swat Hong berseru kaget, menyambar pedangnya di atas meja dan hendak lari keluar.

"Nanti dulu, Nona."

Swat Hong berhenti. "kau baik sekali, Saudara Ahmed. Aku berterima kasih kepadamu."

"Bukan itu. kau....kau harus lukai aku dengan pedang itu. Kalau tidak, aku akan dihukum mati sebagai pengkhianat."

Barulah sadar Swat Hong betapa perwira ini telah menolongnya dengan taruhan nyawa sendiri.

"Kau adalah seorang yang amat baik, bagaimana mungkin aku tega untuk melukaimu? Kau sahabatku..... dan ternyata di segala bangasa, ada saja manusianya yang jahat dan baik, tidak ada bedanya dengan bangsa lain. Aku mengerti maksudmu, saudara Ahmed, nah, biar kurobohkan aku dengan totokan!" Swat Hong bergerak cepat sekali, dan tahu-tahu dua jalan darah di tubuh Ahmed telah di totoknya dan perwira itu terguling roboh dan tak mampu bergerak karena kaki tangannya menjadi lumpuh, tubuhnya lemas tak mampu bergerak.

Swat Hong cepat menyambar botol dan sisa obat penawar, memasukannya di dalam sakunya, kemudian dia menendang meja kursi sampai terpelanting ke kanan kiri sehingga menimbulkan kesan seolah-olah di kamar itu telah terjadi pertempuran, mencabut pedang dari pinggang Ahmed dan melemparkan pedang di lantai, kemudian dia memegang tangan Ahmed dan berkata, suaranya terharu, "Selamat tinggal!" Saudara Ahmed. Sekali lagi terima kasih dan kita takkan bertemu kembali."

Hanya dengan bibir dan pandang matanya saja Ahmed tersenyum penuh kagum, mulutnya hanya dapat berkata," Kau..... setangkai bunga di padang pasir........"

Swat Hong melompat dan berlari ke luar. Dua orang pelayan wanita yang lari mendatangi dia tendang terguling dan menjerit-jerit, kemudian dia terus lari ke luar. Heran juga ketika dia melihat bahwa dugaannya tadi benar ketika mendengar penuturan Ahmed tentang seorang pemuda bersenjata kipas dan pedang. Kwee Lun telah datang dan mengamuk di luar pesanggrahan! Gerakan pemuda itu hebat bukan main karena memang selama satu tahun dia berlatih dengan tekun. Akan tetapi ternyata para pengeroyoknya juga merupakan pasukan yang terlatih dan memiliki keistimewaan. Bukan hanya senjata mereka yang aneh, yaitu pedang ular dan perisai kura-kura, akan tetapi juga mereka itu membentuk barisan yang kokoh kuat, saling membantu dan banyak menggunakan perisai untuk berlindung, kemudian pedang ular itu meluncur dari depan perisai, persis gerakan seekor kura-kura menyerang dan menyembunyikan kepala di dalam batoknya.

Menghadapi kepungan yang ketat ini, Kwee Lun merasa kewalahan juga. Akan tetapi dia mengamuk dengan penuh keberanian dan akhirnya dia dapat membobolkan kepungan dengan jalan berloncatan ke sana-sini, kemudian mendadak dia meloncat melewati kepala pengepung yang berada di belakangnya dan begitu berada di luar kepungan dia berhasil merobohkan dua orang pengeroyok dengan pedang dan kipasnya.

Empat belas orang sisa pasukan itu sudah mengepung lagi, akan tetapi mendadak terdengar lengking nyaring dan robohlah empat orang diserang oleh Swat Hong dari luar kepungan.

"Nona Han....!"

"Kwee-toako, mari kita basmi mereka ini!" seru Swat Hong.

Kwee Lun girang bukan main, tak pernah disangkanya bahwa dara yang hendak dijadikan korban itu adalah Han Swat Hong. Dia merasa kecelik juga, karena ternyata bahwa gadis yang akan ditolongnya itu berbalik malah menolongnya!

"Kita lari saja, Nona. tidak perlu melawan tentara yang amat banyak!"

"Tidak aku harus bunuh dulu si keparat she Bouw....!"

Pada saat itu terdengar suara hiruk pikuk dan berbondong-bondong datanglah pasukan besar dipimpin oleh Bouw-ciangkun sendiri! Melihat Bouw-ciangkun, Swat Hong menjadi marah sekali. Dari mulutnya terdengar suara melengking nayring dan tubuhnya melesat seperti terbang cepatnya, pedangnya menyambar sebagai sinar kilat ke arah Bouw-ciangkun. panglima ini terkejut, menggerakkan pedang menangkis. Terdengar suara berdencing nyaring dan pedang di tangan panglima itu patah disusul robohnya tubuhnya yang berkelojotan karena ternyata lehernya hampir putus terbabat pedang di tangan Swat Hong!

"Nona, jangan...." Kwee Lun lari mendekat dan mereka sudah dikepung oleh ratusan orang perajurit yang menjadi bengong menyaksikan kematian komandan mereka secara yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Semua orang menduga bahwa tentu nona yang tadinya melamar sebagai sukarelawati dan pemuda yang menjadi sukarelawan ini tentulah mata-mata dari pihak pemberontak!

"Tangkap mata-mata!"

"Bunuh mereka!"

"Tahan semua senjata....!!" Kwee Lun berteriak dan suaranya mengatasi semua keributan itu, semua orang menahan senjata dan memandang kepada pemuda itu dengan marah. Mau bicara apa lagi mata-mata yang sudah membunuh komandan mereka ini?

"Saudara-saudara sekalian! Kami berdua bukan mata-mata pemberontak, sama sekali bukan! Bahkan kami adalah musuh-musuh pemberontak. Kami berdua adalah sungguh-sungguh hendak membantu gerakan Sri Baginda Kaisar untuk menghalau pemberontak dari kota raja. Akan tetapi celakanya, Nona Han Swat Hong yang beriktikad baik ini dicurangi oleh Bouw-ciangkun. Sukarelawati yang gagah perkasa ini, yang akan dapat membantu banyak sekali kepada Sri Baginda, oleh Bouw-ciangkun hendak dikorbankan sebagai hadiah kepada panglima Arab, untuk diperkosa! Tentu saja kami melawan kejahatan ini!"

"Tangkap......!"

"Bunuh.....! Dia telah membunuh Bouw-ciangkun......!"

"Jangan percaya hasutan mulut mata-mata pemberontak!"

Kini tempat itu penuh dengan perajurit, tidak hanya ratusan, bahkan ribuan banyaknya. Mereka sudah marah semua karena biarpun di antara mereka ada yang dapat memaklumi kebenaran ucapan Kwee Lun, namun kenyataan dibunuhnya Bouw-ciangkun tentu saja menggegerkan dan mengacaukan mereka. Dengan senjata di tangan mereka sudah mengeroyok dua orang itu.

"Menyesal tidak berhasil, Nona."

"Tidak apa, Toako. Mati di sampingmu membesarkan hati."

"Benarkah?"

"Tentu saja, karena engkau seorang yang baik sekali, Kwee-toako."

"Kalau begitu, marilah mati bersama!" Pemuda itu dengan wajah berseri sudah siap dengan sepasang senjatanya, mereka saling membelakangi dan saling melindungi.

Para perajurit sudah berdesak-desakan hendak menyerbu. Tiba-tiba terdengar suara yang halus dan tenang, namun penuh wibawa, "Harap Cu-wi sekalian tidak menggerakkan senjata.......!"

Sungguh ajaib sekali. Biarpun ada di antara mereka yang tidak mempedulikan kata-kata ini dan hendak tetap menyerang, tiba-tiba saja merasa bahwa tangan mereka tidak mampu bergerak! Terdengar seruan-seruan kaget dan heran, dan kini semua mata memandang kepada seorang pemuda yang dengan tenangnya berjalan memasuki kepungan itu, dengan membuka jalan di antara para perajurit.

Juga Kwee Lun dan Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan. Mereka berdua pun merasa betapa tangan mereka tidak dapat digerakkan! Otomatis mereka pun menoleh dan melihat pula seorang pemuda yang memasuki kepungan itu dengan sikap tenang sekali. Seorang pemuda yang berpakaiannya sederhana, agak kurus, matanya memancarkan sinar yang luar biasa, pemuda yang memandang kepada Swat Hong dengan senyum di bibir.

"Su.... Suhenggggg.....!" Tiba-tiba Swat Hong menjerit, pedangnya terlepas dari pegangan dan sambil terisak dia lari menghampiri lalu menubruk pemuda itu yang bukan lain adalah Kwa Sin Liong!

"Suheng..... aihhh, Suheng...... Ibuku....."

"Tenanglah, Sumoi, tenanglah........" Suara Sin Liong mengandung wibawa yang luar biasa sehingga Swat Hong yang dilanda kekagetan dan keharuan hebat karena sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya masih hidup itu, dapat menenangkan hatinya.

"Suheng..... betapa bahagia rasa hatiku! Suheng, jangan kautinggalkan aku lagi....."

"Tidak, Sumoi. Tidak lagi."

"Aku cinta padamu, Suheng! Aku cnta padamu!" Tanpa malu-malu Swat Hong meneriakan suara hatinya ini di tengah-tengah kepungan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit!

Kwee Lun memandang semua itu dan dua titik air mata membasahi bulu matanya. Dia merasa terharu, juga girang sekali, girang melihat kebahagian Swat Hong dan sekaligus dia teringat kepada Soan Cu. Dia pun sudah dapat bergerak, melangkah maju dan berkata, "Kwa-taihiap, sukur bahwa engkau masih dalam keadaan selamat. Sungguh aku ikut merasa girang...."

Sin Liong tersenyum kepadanya. "Kwee-toako, engkau seorang sahabat yang baik. Simpanlah pedang dan kipasmu, tidak perlu melanjutkan pembunuhan yang tidak ada gunanya ini."

Kwee Lun menurut, akan tetapi matanya memandang ragu dan sambil menyarungkan pedang dan menyimpan kipasnya, dia bertanya, "Akan tetapi.... mereka itu....?"

Terdengar teriakan-teriakan dari para pengepung. "Tangkap mata-mata musuh!"

"Bunuh pemberontak!"

"Tangkap pembunuh Bouw-ciangkun!"

Ribuan orang perajurit sudah bergerak lagi. Swat Hong memegang lengan suhengnya dan Kwee Lun juga mendekati Sin Liong. Betapapun juga, gentar dia menghadapi ribuan orang yang berteriak itu, apalagi dia tidak boleh melawan. Ketenangan Sin Liong membuat dia mencari perlindungan dekat pemuda ini.

Sin Liong memegang lengan sumoinya dan terdengarlah suaranya penuh kesabaran dan ketenangan yang wajar, "Cu-wi sekalian tahu bahwa mereka berdua ini bukan mata-mata, dan Cu-wi tahu apa yang telah terjadi. Maka harap Cu-wi perkenankan kami pergi, kemudian sebaiknya melaporkan kepada Sri Baginda apa yang telah terjadi sehingga dapat diambil tidakan tepat, demi ketertiban."

Suara ini demikian halus, akan tetapi mengatasi semua teriakan dan anehnya orang-orang itu tidak berteriak-teriak lagi.

"Kami hendak pergi sekarang!"

Sin Liong memegang lengan Swat Hong dengan tangan kanannya, memegang lengan Kwee Lun dengan tangan kiri, lalu menarik kedua orang itu keluar dari kepungan. Swat Hong dan Kwee Lun melangkah dengan bengong, merasa seperti dalam mimpi saja karena ketika mereka melangkah pergi melalui ribuan orang pasukan itu, tidak ada seorang pun di antara para perajurit yang mencoba untuk menghalangi mereka, bahkan ajaibnya, tidak ada seorang pun yang memandang mereka, seolah-olah para perajurit itu tidak melihat mereka!

Dan memang begitulah. Para perajurit itu pun bengong ketika secara tiba-tiba setelah pemuda tampan halus itu berpamit, tiga orang itu tiba-tiba saja lenyap dari situ tanpa meninggalkan bekas! Setelah Sin Liong dan dua orang temanya pergi jauh, barulah gempar di tempat itu dan akhirnya Kaisar memperoleh laporan tentang semua peristiwa yang terjadi. panglima Hussin dikirim pulang dan pimpinan pasukannya diserahkan kepada Ahmed!

Sementara itu, Sin Liong, Kwee Lun dan Swat Hong pergi meninggalkan Secuan. Ketika mereka tiba jauh dari daerah itu, mereka berhenti dan Swat Hong berkata, "Suheng, mengapa kita meninggalkan Secuan? Aku ingin sekali menjadi sukarelawati, membantu Kaisar dan membasmi pemberontak yang telah mengakibatkan kematian Ibu, kematian Soan Cu dan Ayahnya, bahkan kematian kakek buyutku!"

"Benar apa yang dikatakan Nona Swat Hong, Kwa-taihiap. Perjuangan menanti tenaga kita. Marilah kita bertiga membantu kerajaan membasmi pemberontak."

Sin Liong menarik napas panjang, memegang tangan sumoinya dan diajak duduk di atas rumput. Swat Hong duduk dekat suhengnya dan memandang wajah suhengnya dengan penuh kagum dan kasih sayang.

"Kwee-toako, benarkah engkau tertarik dengan perang, dengan saling bunuh membunuh antara manusia, antara bangsa sendiri itu? Betapa mengerikan, Toako. Menggunakan ilmu silat untuk membela yang lemah, untuk menentang yang jahat masih dapat dimengerti dan masih mending. Akan tetapi bunuh-membunuh hanya untuk membela sekelompok manusia lain saling memperebutkan kemulian duniawi, sungguh patut disesalkan. Mereka itu hanya ingin mempergunakan orang lain demi mencapai cita-cita sendiri.

"Aih, apa yang dikatakan Suheng memang tepat, Kwee-toako. Ingat saja pengalamanku. Aku jauh-jauh datang untuk menjadi sukarelawati, membantu mereka, akan tetapi belum apa-apa aku sudah akan dikorbankan demi untuk menyenangkan hati panglima asing itu." Swat Hong berkata kemudian dia menceritakan pengalamannya kepada Sin Liong, semenjak mereka berpisah dan dia ditolong oleh kakek buyutnya, sampai dia berpisah dari Kwee Lun meninggalkan ibunya yang menghadapi maut.

"Aku tidak berhasil mencari Swi Nio dan Toan Ki yang kutitipi pusaka-pusaka Pulau Es. maka aku berniat membantu Kaisar sekaligus mencari mereka yang kurasa melarikan diri membawa pusaka-pusaka itu untuk mereka sendiri. Sungguh menggemaskan!"

"Jangan tergesa-gesa berperasangka buruk terhadap orang lain, Sumoi. Kelak kita memang harus mencari mereka dan meminta kembali pusaka-pusaka itu untuk kita bawa kembali ke Pulau Es."

Kwee Lun juga menceritakan riwayatnya semenjak dia berpisah dari Swat Hong. Kemudian mereka minta agar Sin Liong suka menceritakan riwayatnya. "Bagaimana engkau yang menurut cerita Kakek buyut dilempar ke sumur ular dan ditutup dengan reruntuhan guha, dapat menyelamatkan diri, Suheng?" dan selama ini engkau kemana saja?"

Sin Liong tersenyum. "Aku memang nyaris tewas di sumur itu, akan tetapi memang agaknya belum tiba saatnya aku mati, maka batu mustika hijau kepunyaanmu ini telah menolongku, Sumoi." Sin Liong mengeluarkan mustika hijau itu.

Swat Hong menerima batu itu dan menciumnya. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan Suheng!" katanya girang.

Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat keadaannya selama dua tahun di dalam sumur ular sampai dia berhasil keluar ketika sumur itu dibongkar oleh Han Bu Ong dan orang-orang kerdil.

"Ahh, Ibunya yang mencelakanmu, anaknya yang tanpa sengaja menolongmu!" Swat Hong berseru heran. "lalu bagaimana kau bisa datang ke Secuan dan menyelamatkan aku dan Kwee-toako?"

"Mula-mula aku pergi ke kota raja dan mendengar betapa Ibumu, juga Soan Cu telah tewas di sana, akan teteapi juga bahwa ibu tirimu The Kwat Lin juga tewas pula. Karena aku menduga bahwa peristiwa itu tentu membuat engkau dimusuhi oleh para pemberontak, maka aku yakin bahwa kau tentu membantu Kaisar di Secuan, maka aku segera menyusul ke sini dan kebetulan sekali melihat engkau dan Kwee-toako dikeryoyok para perajurit." Sin Liong tidak memberitahukan bahwa sesungguhnya telah terjadi keajaiban pada dirinya sehingga seolah-olah dia tahu bahwa sumoinya berada di Secuan. Seolah-olah apa yang terjadi bukan merupakan rahasia lagi baginya!

Tiba-tiba Kwee Lun bertanya nada suaranya hati-hati dan penuh sungkan, "Kwa-taihiap, sejak dulu saya tahu bahwa Taihiap memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi..... tadi di sana seruan taihiap membuat ribuan orang berhenti bergerak, bahkan aku pun..... tidak mampu bergerak. Kemudian....... ketika kita pergi, terjadi keajaiban, seolah-olah mereka itu sama sekali tidak melihat kita pergi....."

Sin Ling hanya tersenyum dan mengangkat pundak tanpa menjawab.

"Benar! Apa yang telah aku lakukan tadi, Suheng?" Swat Hong juga bertanya.

"Tidak apa-apa, Sumoi. Engkau pun melihat sendiri. Kita pergi dari mereka, dan karena tidak ada permusuhan atau kebencian di hatiku, tentu saja mereka pun tidak melakukan apa-apa."

Swat Hong memang sejak dahulu sudah tahu akan keanehan watak Suhengnya dan kadang-kadang ucapan suhengnya tidak dimengerti sama sekali, maka jawaban sederhana ini cukup baginya. Tidak demikian dengan Kwee Lun. Pemuda ini menduga bahwa Pemuda Pulau Es itu bukanlah manusia biasa, maka cepat dia berkata, "Kwa-taihaip, jika Taihiap berkenan, saya....... saya mohon petunjuk......"

Sin Liong menoleh, memandang. Mereka bertemu pandang dan Sin Liong tersenyum lagi. "Kau sebaiknya pulang saja ke Pulau Kura-kura, Kwee-toako. Dan mengingat engkau suka sekali akan ilmu silat dan aku yakin bahwa engkau tidak akan menggunakan ilmu itu untuk berbuat jahat, maka mungkin aku dapat menambahkan sedikit tingkat ilmumu itu. Harap kau coba-coba mainkan pedang dan kipasmu itu sebaik mungkin."

Bukan main girangnya hati Kwee Lun. Dia menjura dengan hormat sambil mengucapkan terima kasih, kemudian dia mencabut pedang dan kipanya lalu bermain silat di depan Sin Ling dan Swat Hong. Seperti kita ketahui, dari kitab kuno Sin Liong memperoleh ilmu luar biasa, yaitu mengenal semua inti ilmu silat dari gerakan pertama saja. Maka setelah Kwee Lun mainkan jurus-jurus simpanan yang paling lihai dan menghentikan permainan silatnya, Swat Hong bertepuk tangan memuji, sedangkan Sin Liong berkata, "Ada kelemahan-kelemahan di dalam beberapa jurusmu, Toako."

Pemuda luar biasa ini lalu memberi petunjuk kepada Kwee Lun yang menjadi terheran-heran, kagum dan girang sekali. Petunjuk-petunjuk itu merupakan penyempurnaan dari semua ilmu silatnya.Dia menerima dan melatih petunjuk-petunjuk ini dan demikianlah, sampai hampir sebulan lamanya, tiga orang ini melakukan perjalanan ke timur dan disepanjang perjalanan, Kwee Lun menerima petunjuk-petunjuk dari Sin Liong, bahkan Kwee Lun menerima pelajaran latihan untuk menghimpun tenaga sinkang.

Selama sebulan itu, Kwee Lun memperoleh keyakinan bahwa pemuda Pulau Es ini benar-benar bukan seorang manusia biasa. Tidak tanduknya, bicaranya, pandang matanya, dan betapa pemuda itu dapat mengerti ilmu silatnya lebih sempurna daripada dia sendiri! Maka ketika tiba saatnya berpisah, dia tanpa ragu-ragu menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

"Harap jangan berlebihan, Kwee-toako," kata Sin Liong.

"Wah, Toako. Apa-apaan ini?" Swat Hong juga mencela.

"Kwa-taihiap, saya boleh dibilang adalah murid Taihiap. Dan Han-lihiap, agaknya belum tentu selama hidupku akan dapat bertemu lagi dengan Ji-wi (Kalian). Perkenankan saya, Kwee Lun, menghaturkan terima kasih dan selama hidup saya tidak akan melupakan Ji-wi!"

"Hushhhh..... sudahlah, Toako. Kita berpisah di sini. Engkau ke selatan dan akmi akan terus ke timur. Mari, Sumoi, kita lanjutkan perjalanan," kata Sin Long dengan suara tenang dan biasa saja, lalu mengajak sumoinya pergi dari situ. Swat Hong beberapa kali menengok dan melihat Kwee Lun maish berlutut dengan mata basah air mata! Dia pun terharu, akan tetapi tidak lagi merasa sengsara seperti ketika dia berpisah dari Kwee Lun hampir dua tahun yang lalu. Kini Sin Liong, suhengnya, pria yang dicintainya, berada di sampingnya. Tidak ada lagi perkara apa pun di dunia ini yang dapat menyusahkan hatinya lagi! Sudah terlalu lama kita meninggalkan Bu Swi Nio dan Lie Toan Ki, dua orang muda yang dipercaya oleh Swat Hong untuk menyelamatkan pusaka-pusaka Pulau Es. Benarkah dugaan Swat Hong bahwa mereka itu bertindak curang, mengangkangi sendiri pusaka-pusaka yang secara kebetulan terjatuh ketangan mereka itu? Sama sekali tidak demikian dan mari kita mengikuti perjalanan mereka semenjak mereka meninggalkan kota raja.

Malam hari itu, mereka berhasil lolos keluar dari kota raja dan semalam suntuk terus melarikan diri ke barat. Pada keesokan harinya, dengan tubuh lesu dan lelah, mereka sudah tiba jauh dari kota raja dan selagi mereka hendak mengaso, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang. Mereka terkejut dan cepat menyelinap ke dalam semak-semak untuk bersembunyi.

Akan teteapi, empat orang yang menunggu kuda itu sudah melihat mereka dan begitu tiba di tempat itu, mereka meloncat turun, mencabut senjata dan seorang di antara mereka berseru, "Dua orang pengkhianat rendah, keluarlah!"

dari tempat persembunyian mereka, Swi Nio dan Toan Ki mengenal empat orang itu. Mereka adalah bekas-bekas teman mereka ketika masih membantu An Lu Shan dahulu di masa "perjuangan". Karena mengenal mereka dan tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang kang-ouw yang dahulu juga membantu pemberontakan karena sakit hati kepada kelaliman Kaisar, Swi Nio dan Toan Ki meloncat keluar. Liem Toan Ki tersenyum memandang kepada kakek berusia lima puluh tahun yang memimpin romongan empat orang itu. Kakek ini bernama Thio Sek Bi, murid dari seorang tokoh kang-ouw kenamaan, yaitu Thian-tok Bhong Sek Bin! adapun tiga orang yang lain adalah orang-orang kang-ouw yang agaknya tunduk kepada Thio Sek Bi ini, namun menurut pengetahuan Toan Ki, kepandaian mereka tidaklah perlu dikhawatirkan. Hanya orang she Thio ini lihai.

"Thio-twako, kita sama mengerti bahwa perjuangan kita hanya untuk menghalau Kaisar lalim. Urusan kami di istana The Kwat Lin sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan perjuangan. Harap Toako tidak mencampuri urusan pribadi dan suka mengalah, membiarkan kami pergi dengan aman."

"ha-ha-ha-ha! Liem Toan Ki, enak saja kau bicara! Setelah berhasil memperoleh pusaka-pusaka keramat, mau lolos begitu saja dan melupakan teman! Kami berempat tentu akan menerima uluran tanganmu yang bersahabat kalau saja persahabatan itu kau buktikan dengan membagikan sebagian pusaka itu. Demikian banyaknya, buat apa bagi kalian? Membagi sedikit kepada kawan, sudah sepatutnya, ha-ha!" Thio Sek Bi berkata sambil menudingkan senjata toya ditangannya ke arah punggung Toan Ki, di mana terdapat buntalan pusaka yang dititipkan kepadanya oleh Swat Hong.

"Ya, sebaiknnya bagi rata, bagi rata antara teman sendiri, Saudara Liem Toan Ki dan Nona Bu Swi Nio!" kata orang ke dua sedangkan teman-temannya juga mengangguk setuju.

Toan Ki terkejut. Mengertilah dia bahwa tentu empat ini malam tadi ikut mengepung dan mereka mendengar penitipan pusaka itu oleh Swat Hong , maka mereka lalu diam-diam mengejar sampai di hutan ini.

"Hem, saudara-saudara. Kalau kalian tahu bahwa ini adalah pusaka tentu kalia ntahu pula bahwa ini bukanlah milikku, dan aku hanya dititipi saja dan tidak berhak membagi-bagikan kepada siapapun juga."

Ha-ha-ha! Lagaknya! Siapa mau percaya omonganmu? Pusaka-pusaka dari Pulau Es yang hanya dikenal di dunia kang-ouw sebagai dalam dongeng telah berada di tangan kalian dan kalian benar-benar tidak menghendakinya? Bohong!" kata Thio Sek Bi sambil tertawa mengejek.

Bohong atau tidak, apa yang dikatakan oleh Ki-koko adalah tepat! kami tidak akan membagi pusaka kepada kalian atau siapapun juga. Habis kalian mau apa?" Bu Swi Nio membentak sambil mencabut pedangnya.

"Ha-ha, wah lagaknya! Kalau begitu, pusaka itu akan kami rampas dan kalian berdua, mati atau hidup, akan kami seret kembali ke kota raja!" kata Thio Sek Bi sambil memutar toyanya, diikuti oleh tiga orang kawannya.

Swi Nio dan Toan Ki menggerakkan senjata dan melawan dengan mati-matian. Ilmu toya yang dimainkan oleh Thio Sek Bi amat hebat dan aneh karena dia adalah murid dari Thian-tok. Thian-tok (Racun langit) terkenal sebagai seorang ahli racun dan sebagai pemuja tokoh dongeng Kauw-cee-thian Si Raja Monyet, maka yang paling hebat di antara ilmu silatnya adalah ilmu silat toya panjang yang disebut Kim-kauw-pang seperti senjata tokoh dongeng Kau-cee-thian sendiri! Muridnya ini, biarpun senjatanya toya, namun dimainkan dengan gerakan yang amat aneh dan sebentar saja Toan Ki sudah terdesak olehnya.

Namun, Liem Toan Ki adalah seorang murid Hoa-san-pai yang memiliki dasar ilmu yang bersih dan kuat. Selain itu, dia sudah mempunyai banyak pengalaman, bahkan tidak ada yang tahu bahwa dia adalah murid Hoa-san-pai karena selain dia tidak pernah mengaku karena takut membawa-bawa nama Hoa-san-pai dengan pemberontakan, juga ilmu silatnya sudah dia campur dengan ilmu silat lain sehingga tidak kentara benar. Dengan gerakan pedang yang indah dan cepat, dia dapat menjaga diri dari desakan toya di tangan Thio Sek Bi.

Di lain pihak, Swi Nio yang menghadapi pengeroyokan tiga orang itu, tidak mengalami banyak kesulitan. Wanita muda ini pernah digembleng oleh The Kwat Lin, sedikit banyaknya telah mewarisi ilmu yang dahsyat dari wanita itu, maka kini dikeroyok oleh tiga orang lawan yang tingkatnya dibawah dia, tentu saja dia dengan mudah dapat mempermainkan mereka. Terdengar Swi Nio mengeluarkan suara melengking berturut-turut seperti yang biasa dikeluarkan oleh The Kwat Lin, dan tiga orang lawannya roboh berturut-turut dan terluka parah, tidak mampu melawan lagi.

Sambil melengking keras, Swi Nio meloncat dan membantu kekasihnya yang terdesak oleh toya Thio Sek Bi.

"Cring! Tranggggg......!" Swi Nio terhuyung, akan tetapi Thio Sek Bi merasa betapa telapak tangannya panas.

Liem Toan Ki tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, menubruk maju dan memutar pedangnya kemudian dibantu oleh kekasihnya dia terus mendesak sehingga permainan toya dari murid Thian-tok itu menjadi kacau. Akhirnya, tiga puluh jurus kemudian, robohlah Thio Sek Bi, lengan kanannya terbacok dan terluka parah, juga pundak kirinya terobek ujung pedang Swi Nio.

"Lekas.....! Kita pakai kuda mereka!" Liem Toan Ki berkata kepada kekasihnya. Swi Nio menyambar kendali dua ekor kuda terbaik, sedangkan Toan Ki lalu mencambuk dua ekor kuda yang lain sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan. Kemudian mereka meloncat ke atas punggung kuda rampasan itu dan membalapkan kuda meninggalkan tempat itu.

"Mestinya mereka itu dibunuh, akan tetapi aku tidak tega melakukannya," kata Toan Ki.

"Benar, belum tentu mereka itu jahat."

"Moi-moi, berhenti dulu," tiba-tiba Toan Ki berkata.

Swi Nio menahan kudanya dan melihat kekasihnya seperti orang bingung.

"Ada apakah?"

"Tidak baik kalau kita menuruti permintaan Nona Han Swat Hong pergi ke Awan Merah."

Bu Swi Nio mengerutkan alisnya dan memandang kepada kekasihnya dengan penuh selidik. Selama ini, dia selain mencinta, juga kagum dan percaya penuh kepada kekasihnya yang dianggapnya seorang pria yang gagah perkasa dan patut dibanggakan. Akan tetapi sekarang dia memandang penuh curiga. jangan-jangan kekasihnya juga ketularan penyakit seperti empat orang tadi, menginginkan pusaka Pulau Es! Biarpun dia sendiri belum pernah membuka-buka pusaka-pusaka itu, namun dia maklum bahwa pusaka-pusaka Pulau Es yang berada di tangan gurunya adalah pusaka yang tak ternilai harganya, benda keramat yang tentu mengandung ilmu-ilmu mujijat!

"Kok, apa..... apa maksudmu?"

Mendengar nada suara kekasihnya, Toan Ki mengangkat muka memandang. Mereka bertemu pandang dan Toan Ki tersenyum, memegang tangan kekasihnya dan mencium tangan itu.

"Ihhhh! kau berdosa padaku, memandang penuh curiga seperti itu!" katanya tertawa. "Tidak, Moi-moi, tidak ada pikiran yang bukan-bukan di dalam hatiku. Aku hanya teringat akan bahaya besar kalau kita ke Awan Merah. Thio Sek Bi tadi adalah murid Thian-kok, sedangkan Thian-kok adalah suheng dari Puncak Awan Merah di tai-hang-san! Kalau murid dari Sang Suheng seperti Thio Sek Bi tadi, apakah kita dapat mengharapkan sute akan lebih baik? Jangan-jangan kita seperti ular-ular menghampiri penggebuk!"

"Sialan! Kausamakan aku dengan ular? Koko, kalau begitu, bagaimana baiknya sekarang?" Swi Nio menghentikan kelakarnya karena menjadi khawatir juga.

"Swi-moi, tugas yang kita pikul bukanlah ringan. Apalagi karena agaknya sudah banyak yang tahu bahwa kita berdualah yang memegang pusaka-pusaka Pulau Es, maka kurasa langkah-langkah kita tentu akan dibayangi orang-orang kang-ouw yang ingin merampas Pusaka Pulau Es. Ke mana pun kita pergi, kita tentu akan dicari oleh mereka."

Swi Nio menjadi pucat. Baru dia sadar betapa berat dan berbahaya tugas mereka. "Aihh, kalau begitu bagaimana baiknya?'

"Tidak ada jalan lain kecuali berlindung ke Hoa-san. Aku akan minta bantuan Hoa-san-pai agar suka menerima kita bersembunyi di sana dan menyembunyikan pusaka di sana. Hanya Hoa-san-pai saja yang dapat kupercaya dan kiranya tidak sembarangan orang berani main gila di Hoa-san-pai."

"Engkau benar, Koko dan aku setuju sekali. Akan tetapi, bagaimana nanti kalau yang mempunyai pusaka ini menyusul kita ke Puncak Awan Merah dan tidak mendapatkan kita di sana?"

"Lebih baik begitu daripada mendapatkan kita di sana tanpa pusaka lagi, atau mendengar bahwa kita tewas dan pusaka dirampas orang! Sebagai orang-orang yang sakti, tentu mereka akan dapat mencari kita atau menduga bahwa aku berlindung ke Hoa-san-pai. Mari kita berangkat, Moi-moi, hatiku tidak enak sebelum kita tiba di Hoa-san."

Demikianlah, dua orang itu lalu bergegas melanjutkan perjalanan ke Hoa-san. Setelah tanpa halangan mereka tiba di bukit itu, Toan Ki mengajak kekasihnya langsung menghadap ketua Hoa-san-pai yang terhitung twa-supeknya (uwak guru pertama) sendiri yang tidak pernah dijumpainya. Setelah bertemu dengan Kong Thian Cu, ketua Hoa-san-pai pada waktu itu, seorang kakek tinggi kurus yang bersikap lemah lembut dan rambutnya sudah putih semua, serta merta kedua orang muda itu menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu Liem Toan Ki menghaturkan hormat kepada Twa-supek," kata Toan Ki.

"Teecu Bu Swi Nio menghaturkan hormat kepada Locianpwe," kata Swi Nio penuh hormat.

Kakek itu mengangguk-angguk. "Duduklah dan bagaimana engkau dapat menyebut pinto sebagai Twa-supek, orang muda?"

"Teecu adalah murid dari Suhu Tan Kiat yang membuka perguruan silat di Kun-min dan menurut Suhu, katanya beliau adalah sute dari Twa-supek yang menjadi ketua di Hoa-san-pai, sungguhpun Suhu berpesan agar teecu tidak menyebut-nyebut nama Hoa-san-pai kepada siapapun juga."

Kakek itu kelihatan terkejut, lalu menarik napas panjang, mengelus jenggotnya dan kembali mengangguk-angguk. "Tan-sute memang murid Suhu, akan tetapi sayang, pernah dia membuat mendiang Suhu marah dan mengusirnya. Padahal bakatnya baik sekalli. Kiranya dia membuka perguruan silat? Dan dia pesan agar muridnya tidak membawa nama Hoa-san-pai? Bagus, ternyata dia jantan juga. Di manakah dia sekarang dan bagaimana keadaannya?"

"Suhu telah tewas dalam keadaan penasaran, difitnah pembesar sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman mati."

"Ahhh....!"

"Karena itulah maka teecu sebagai muridnya yang juga mendrita karena orang tua teecu juga menjadi korban keganasan pembesar pemerintah, lalu ikut berjuang bersama An Lu Shan, kemudian setelah berhasil tecu mengundurkan diri karena teecu tidak menghendaki kedudukan apa-apa. Apalagi melihat betapa An-goanswe menerima bantuan orang-orang dari kaum sesat, maka teecu mengundurkan diri."

"Bagus, baik sekali engkau mengambil keputusan itu, karena biarpun engkau tidak menyebut nama Hoa-san-pai, namun pinto akan ikut merasa menyesal kalau ada orang yang mewarisi kepandain Hoa-san-pai mempergunakan kepandaian itu untuk urusan pemberontak. Sekarang engkau bersama Nona ini datang menghadap pinto ada keperluan apakah?"

"Teecu datang untuk mohon pertolongan Twa-supek. Nona ini adalah tunangan teecu, dia puteri dari mendiang Lu-san Lojin."

"Siancai....! Lu-san Lojin sudah meninggal? Pinto pernah bertemu satu kali dengan ayahmu, Nona. Seorang yang gagah perkasa!" Kemudian kakek ini menoleh kepada Liem Toan Ki dan bertanya, "Pertolongan apakah yang kalian harapkan dari pinto?"

Dengan terus terang tanpa menyembunyikan sesuatu Liem Toan Ki lalu menceritakan tentang penyerbuannya bersama para penghuni Pulau Es, betapa kemudian puteri Pulau Es telah menitipkan Pusaka Pulau Es kepada mereka berdua, kemudian betapa mereka dihadang orang jahat yang hendak merampas pusaka dan mereka mengambil keputusan untuk bersembunyi di Hoa-san-pai.

Kakek itu menjadi bengong mendengar penuturan panjang lebar itu, beberapa kali memandang ke arah buntalan di punggung Toan Ki dan memandang wajah mereka berdua seperti orang yang kurang percaya. "Siancai.... kalau tidak melihat wajah kalian berdua yang agaknya bukan orang gila dan bukan pembohong, pinto sukar untuk percaya bahwa kalian telah bertemu bahkan bertanding bahu-membahu dengan orang-orang Pulau Es! Pinto kira bahwa nama Pulau Es hanay terdapat dalam dongeng belaka."

"Karena teecu yakin bahwa tentu orang-orang di dunia kang-ouw akan saling berebut untuk merampas pusaka-pusaka ini, maka teecu berdua mengambil keputusan untuk berlindung di Hoa-san-pai sampai yang berhak atas pusaka-pusaka itu datang mengambilnya."

Sampai lama kakek itu termenung dan menundukan kepalanya, dipandang dengan hati gelisah dan tegang oleh Toan Ki dan Swi Nio. Akhirnya kakek itu mengangkat mukanya memandang dan berkata, suaranya bersungguh-sungguh. "Selamanya Hoa-san-pai menjaga nama dan kehormatan sebagai partai orang-orang gagah. Entah berapa banyak anak murid Hoa-san-pai tewas dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan, bahkan ada pula yang tewas tanpa pinto ketahui apa sebabnya dan di mana tewasnya seperti Kee-san Ngo-han, lima orang murid pinto yang dahulu bertugas melindungi Sin-tong....."

"Aihhhh....!!" Tiba-tiba Swi Nio mengeluarkan teriakan tertahan dan ketika kakek itu memandang kepadanya, dia cepat berkata, "Mendiang Subo adalah bekas ratu Pulau Es yang menyeleweng dan bersekutu dengan Kiam-mo Cai-li Liok Si memberontak kepada pemerintah. Pernah teecu mendengar penuturan Subi ketika menceritakan kelihaian Kiam-mo Cai-li bahwa Kee-san Ngo-hohan terbunuh oleh Kiam-mo Cai-li itu."

Ketua Hoa-san-pai itu kelihatan terkejut dan sinar matanya menjadi keras, "Hemm, kiranya iblis betina itu yang membunuh murid-murid pinto....!

"Akan tetapi iblis itu telah tewas di tangan Nona Han Swat Hong puteri Pulau Es yang menitipkan pusaka kepada teecu berdua, Twa-supek," Toan Ki berkata.

Kakek itu mengangguk-angguk dan mendengarkan penuturan mereka berdua tentang penyerbuan hebat di kota raja, di dalam istana dari The Kwat Lin, bekas Ratu Pulau Es yang minggat dan melarikan Pusaka-pusaka Pulau Es itu.

"Kalau begitu, sudah sepatutnya kalau Hoa-san-pai membantu para penghuni Pulau Es. Kalian boleh tinggal di sini dan biarlah Hoa-san-pai yang melindungi kalian dan pusaka-pusaka itu sampai yang berhak datang mengambilnya."

"Sebelumnya teecu berdua menghaturkan banyak terima kasih atas kebijaksanan dan kemuliaan hati Twa-supek. dan teecu ingin mengajukan permohonan ke dua......"

Kakek itu tersenyum. "Permohonanmu yang paling hebat, menegangkan dan berbahaya telah pinto terima dan urusan pusaka ini hanya kita bertiga saja yang mengetahuinya, tidak boleh kalian bocorkan keluar agar tidak menimbulkan keributan. Sekarang, ada permohonan apa lagi yang hendak kaukemukakan?"

"Teecu...... mohon .....karena teecu berdua sudah tidak mempunyai keluarga lagi, dan teecu berdua sudah cukup lama bertunangan, maka.... teecu mohon berkah dan doa restu Twa-supek untuk menikah di sini." Toan Ki yang hidupnya sudah penuh dengan segala macam pengalaman hebat itu, tidak urung tergagap ketika mengucapkan permintaan ini, sedangkan Bu Swi Nio menundukan mukanya yang menjadi mereh sekali.

Kong Thian-cu tertawa bergelak, lalu berkata, "Pernikahan adalah peristiwa amat menggembirakan. Tentu saja pinto suka sekali memenuhi permintaan ini. Liem Toan Ki, engkau adalah murid Hoa-san-pai pula, tentu saja engkau berhak untuk menikah di sini, disaksikan oleh semua murid Hoa-san-pai yang berada di sini."

Demikianlah, Pusaka-pusaka Pulau Es yang di rahasiakan itu disimpan oleh Kong Thian-cu sendiri di dalam kamar pusaka yang tersembunyi, tidak ada anggauta Hoa-san-pai lain yang mengetahuinya dan sebulan kemudian diadakanlah perayaan sederhana namun khidmat untuk melangsungkan upacara pernikahan antara Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio. Pada malam pertama pernikahan itu Bu Swi Nio menangis di atas dada suaminya, menangis dengan penuh keharuan, kedukaan yang bercampur dengan kegembiraan mengenangkan semua pengalamannya, kematian ayahnya dan kakaknya, malapetaka yang menimpa dirinya ketika dalam keadaan mabok dan tidak ingin diri dia diperkosa oleh Pangeran Tan Sin Ong. Dia memeluk suaminya dan berterima kasih sekali karena dia dapat membayangkan bahwa kalau tidak ada pria yang kini menjadi suaminya dengan syah dan terhormat ini tentu dia sudah membunuh diri dan andai kata dalam keadaan hiduppun ia akan mendrita aib dan terhina.

sampai dua tahun suami isteri yang saling mencinta dan berbahagia ini hidup di Hoa-san-pai, menjadi anggota-anggota dan anak murid Hoa-san-pai yang tekun berlatih dan rajin bekrja. Akan tetapi mereka gelisah sekalli karena sampai selama ini, Han Swat Hong atau lain tokoh Pulau Es tidak ada yang muncul bahkan gadis luar biasa dari Pulau Neraka, Ouw Soan Cu, juga tidak muncul. Tentu saja hati mereka akan menjadi lebih lega dan bebas dari kekhawatiran kalau saja pusaka-pusaka Pulau Es itu sudah diambil oleh yang berhak dan tidak menjadi tanggung jawab mereka..

Lebih hebat lagi kegelisahan hati mereka ketika pada suatu hari Ketua Hoa-san-pai, Kong Thian-cu yang sudah tua itu, meninggal dunia karena sakit. Sebelum meninggal dunia, Kong Thian-cu memberitahukan di mana dia menyembunyikan pusaka-pusaka itu yang tidak diketahui orang lain. Setelah Kong Thian-cu meninggal dunia, kedudukan Ketua Hoa-san-pai digantikan oleh seorang tokoh Hoa-san-pai lain, terhitung sute dari Kong Thian-cu yang telah menjadi seorang tosu yang saleh, berjuluk Pek Sim Tojin. Ketua yang baru ini pun tidak tahu akan rahasia Pusaka Pulau Es, sehingga kini rahasia pusaka itu seluruhnya menjadi tangung jawab Liem Toan Ki dan isterinya.

Biarpun selama dua tahun itu tidak terjadi sesuatu, namun hati suami isteri ini selalu merasa tidak tenteram. Bahkan mereka berdua seringkali merundingkan bagaimana baiknya. Hendak meninggalkan Hoa-san-pai dan mencari Swat Hong, mereka tidak berani meninggalkan Hoa-san-pai di mana pusaka itu disimpan, juga mereka tidak tahu ke mana harus mencari Han Swat Hong. Tinggal diam saja di Hoa-san mereka merasa makin lama makin gelisah. Selama itu, tidak ada satu kali pun mereka berani memeriksa pusaka yang disimpan di tempat yang amat rapat di kamar pusaka oleh mendiang Kong Thian-cu. Akhirnya mereka terpaksa menahan diri, dan saling berjanji bahwa kalau setahun lagi pemilik pusaka yang sah tidak muncul, mereka akan menghadap Pek Sim Tojin, menceritakan dengan terus terang dan menyerahkan pusaka itu untuk dipelajari bersama sehingga dengan demikian pusaka itu ada manfaatnya demi kemajuan dan kebaikan Hoa-san-pai sendiri.

"Suheng, kita berhenti istirahat dulu di sini!" Swat Hong berkata.

Sin Liong menoleh kepada dara itu, tersenyum dan berkata, "Engkau lelah, Sumoi?"

Swat Hong mengangguk dan Sin Liong menghentikan langkahnya, lalu keduanya duduk dibawah sebatang pohon besar di lereng bukit itu. Tempat perhentian mereka itu ditepi jalan yang merupakan lorong setapak, di sebelah kiri terdapat dinding bukit, di sebelah kanan jurang yang amat curam. Pemandangan di seberang jurang amatlah indahnya, tamasya alam yang tergelar di bawah kaki mereka, sehelai permadani hidup yang permai dengan segala macam warna berselang-seling, kelihatan kacau namun menyedapkan pandangan karena di dalam kekacauan itu terdapat keselarasan yang wajar. Sawah ladang bekas hasil tangan manusia berpetak-petak, digaris oleh sebatang sungai yang berbelok-belok, dengan rumpun di sana-sini diseling pohon-pohon besar yang masih bertahan di antara perobahan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Sebatang pohon yang daun-daunnyatelah menguning dan banyak yang rontok, kelihatan menyendiri dan menonjol di antara segala tumbuh-tumbuhan menghijau , dan seolah-olah segala keindahan berpusak kepada pohon menguning hampir mati itu. Matahari yang berada di atas kepala tidak menimbulkan bayangan-bayangan sehingga hari tampak cerah sekali. Sinar matahari dengan langsung dan bebas menyinari bumi dan segala yang berada di atasnya, terang menderang tidak ada gangguan awan.

Di dalam keheningan itu, Swat Hong dapat melihat ini semua. Ketika tanpa disengaja tangannya yang digerakkan untuk menyeka keringat bertemu dengan lengan Sin Liong, barulah dia sadar akan dirinya dan sekelilingnya. Dan dia terheran. Semenjak dia bertemu dengan suhengnya dan melakukan perjalanan ini, seringkali dia tenggelam ke dalam keindahan yang amat luar bias, yang sukar dia ceritakan dengan kata-kata. Dia merasa tenteram, tenang dan penuh damai sungguhpun suhengnya jarang mengeluarkan kata-kata. Dia seperti merasa betapa diri pribadi suhengnya bersinar cahaya yang hangat dan aneh, terasa ada getaran yang ajaib keluar dari pribadi suhengnya yang mempengaruhinya dan mendatangkan suatu perasaan yang menakjubkan, yang mengusir segala kekesalan, segala kerisauan, dan segala kedukaan. Sudah beberapa kali dia ingin mengutarakan ini kepada suhengnya, namun setiap kali dia hendak bicara, mulutnya seperti dibungkamnya sendiri oleh keseganan yang timbul dari perasaan halus dan lembut terhadap suhengnya itu, sesuatu yang belum pernah dirasakannya semula. Dia mencinta suhengnya, ini sudah jelas. Namun sekarang timbul perasaan lain yang lebih agung daripada sekedar cinta biasa, perasaan yang membuat dia penuh damai.

"Suheng......." Dia memberanikan hatinya berkata.

"Ya......?" Sin Liong mengangkat muka memandangnya sambil tersenyum. Senyumnya begitu lembut penuh kasih, pandang matanya begitu bersinar penuh pengertian sehingga Swat Hong merasa betapa seolah-olah sebelum dia bicara, suhengnya itu telah tahu apa yang terkandung di dalam hatinya! Inilah yang biasanya membuat membungkam dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Kini dia mengeraskan hati dan berkata dengan suara lirih,

"Suheng, kita akan ke manakah?"

"Ke Hoa-san, sudah kuberitahukan kepadamu," jawabnya sederhana.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka berada di Hoa-san?"

Sin Liong tersenyum, senyum cerah, secerah sinar matahari di saat itu, senyum yang bebas dan wajar tidak menyembunyikan sesuatu tidak membawa arti sesuatu. "Sumoi, pusaka itu kau berikan kepada Liem Toan Ki dan tunangannya, dan karena Liem Toan Ki adalah murid Hoa-san-pai, maka tentu saja mereka berada di Hoa-san."

Swat Hong mengangguk-angguk, memang dia tahu bahwa Toan Ki adalah murid Hoa-san, akan tetapi dia lupa bahwa dia tidak pernah menceritakan hal ini kepada suhenngya!

"Bagaimana kalau mereka tidak berada si sana, Suheng?"

Kembali senyum itu. Senyum seorang yang begitu pasti akan segala sesuatu, senyum penuh pengertian, seperti senyum seorang tua yang melihat kenakalan anak-anak dan maklum pengapa anak itu nakal! "Sumoi, apakah gunanya memikirkan hal-hal yang belum terjadi? Membayangkan hal-hal yang belum terjadi adalah permainan buruk dari pikiran, karena hal itu hanya akan menghasilkan kecemasan dan kekhawatiran belaka. Apa yang akan terjadi kelak kita hadapi sebagaimana mestinya kalau sudah terjadi di depan kita."

Swat Hong tertarik sekali. "Apakah rasa cemas itu timbul dari pikiran yang membayangkan masa depan, Suheng?"

"Agaknya jelas demikian, bukan? Yang takut akan sakit tentulah dia yang belum terkena penyakit itu, kalau sudah sakit, dia tidak takut lagi kepada sakit, melainkan takut kepada kematian yang belum tiba. Perlukah hidup dicekam rasa takut dan rasa kekhawatiran? Pikiran yang bertanggung jawab atas timbulnya rasa takut. Pikiran mengingat-ingat kesenangan di masa lalu, dan mengharapkan terulangnya kesenangan itu di masa depan, maka timbullah kekhawatiran kalau-kalau kesenangan itu tidak akan terulang. Pikiran mengenang penderitaan masa lalu dan ingin menjauhinya, ingin agar di masa depan hal itu tidak terulang kembali maka timbulah kekhawatiran kalau-kalau dia tertimpa penderitaan itu lagi!"

"Habis bagaimana, Suheng?"

"Hiduplah saat ini, curahkan seluruh perhatian, seluruh hati dan pikiran, untuk menghadapi saat ini, apa yang terjadi kepadamu di saat ini, bukan apa yang boleh terjadi di masa depan, bukan pula mengenang apa yang telah terjadi di masa lalu."

"Kalau begitu kita menjadi tidak acuh dan bersikap masa bodoh....."

"Justru biasanya kita bersikap masa bodoh dan tidak acuh, tidak menaruh perhatian yang mendalam terhadap saat ini, karena seluruh perhatian kita sudah dihabiskan untuk mengingat-ingat masa lalu dan untuk membayang-bayangkan masa depan dengan seluruh pengharapannya, seluruh cita-citanya, seluruh nafsu keinginannya, seluruh kesenangan dan kekecewaannya. Justeru kalau bebas dari masa lalu tidak lagi ada bayangan masa depan dan kita hidup saat demi saat penuh perhatian, dan ini barulah di namakan hidup sepenuhnya, hidup sempurna dan lengkap karena kita menghayati hidup dengan penuh kewajaran, tidak terbuai dalam aalam kenangan dan harapan yang muluk-muluk namun sesungguhnya kosong belaka."

Sampai lama hening di situ. Pengertian yang mendalam meresap di hati sanubari Swat Hong dan di dalam keheningan itu tercakup seluruh alam mayapada.

"Suheng, telah dua tahun pusaka itu berada di tangan mereka. Aku telah mencari ke mana-mana, hanya ke Hoa-san-pai yang belum. Kurasa mereka itu tidak jujur, dan agaknya tentu mereka telah menyembunyikan pusaka itu. Kalau tidak demikian mengapa mereka tidak pergi menanti aku di Puncak Awan Merah seperti yang kupesankan? Memang hati manusia tidak atau jarang sekali ada yang jujur. Sekali saja melihat sesuatu yang dapat menguntungkan diri pribadi, maka terlupalah semua pelajaran tentang kegagahan dan kebaikan. Aku ingin mencari dan menghajar mereka itu!"

"Sumoi, prasangka adalah satu di antara racun-racun yang merusak kehidupan kita. Prasangka di lahirkan oleh pikiran yang mengada-ada, yang membayangkan sesuatu yang direka-reka, yang timbul karena kekhawatiran. Prasangka adalah suatu kebodohan yang menyiksa diri sendiri. Kalau kita sudah bertemu dengan mereka dan sudah melihat keadaan yang sesungguhnya, apakah kegunaannya prasangka? Prasangka dan sebagainnya lenyap setelah kita membuka mata melihat kenyataan apa adanya, dan sebelum itu, berprasangka berarti membiarkan pikiran mempermainkan diri. Apakah kegunaannya bagi kehidupan kita?"

Kembali hening. Swat Hong tak mampu menjawab karena dia dihadapkan dengan keadaan yang nyata. Memang, dia memikirkan hal-hal yang belum terjadi, maka timbullah kekhawatiran, dan dari kekhawatiran ini timbulah prasangka yang bukan-bukan. Yang salah dalam semua itu adalah pikiran!

Setelah tubuh mereka beristirahat dengan cukup, keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Hoa-san. Makin lama Swat Hong makin mendapat kesan bahwa suhengnya benar-benar telah berubah, jahu bedanya dengan dahulu. Pada suatu hari, ketika mereka tiba di kaki Pegunungan Hoa-san dan beristirahat, Swat Hong tidak dapat menahan rasa keinginan tahunya dan dia berkata, "Suheng, setelah dua tahun berpisah denganmu dan berjumpa kembali, aku memperoleh kenyataan bahwa engkau telah berubah sekali!"

"Begitukah, Sumoi?"

"Aku tidak tahu apanya yang berubah, memang kelihatannya engkau masih biasa sepeti dulu, Suhengku yang sabar, tenang dan bijaksana. Akan tetapi entahlah, engkau berubah benar, sungguhpun aku sendiri tidak dapat mengatakan apanya yang berubah."

Sin Liong tersenyum dan sinar matanya berseri. "Memang setiap manusia seyogianya mengalami prubahan, Sumoi. Kita masing-masing haruslah berubah, tidak terikat dengan masa lalu, dengan segala macam kebiasaan masa lalu, setiap hari, setiap detik kita haruslah baru! Kalau demikian, barulah hidup ada artinya!" Swat Hong hendak berkata lagi, akan tetapi tiba-tiba Sin Liong memegang tangannya dan mengajaknya bangkit berdiri lalu berlahan-lahan melanjukan perjalanan mulai mendaki bukit pertama.

Ketika Swat Hong hendak menanyakan sikap yang tiba-tiba ini dari suhengnya, dia mendengar suara orang dan tampaklah olehnya banyak orang berbondong-bondong naik ke pegunungan Hoa-san, datangnya dari berbagai penjuru. Mereka itu terdiri dari bermacam orang, dengan pakaian yang bermacam-macam pula, namun jelas bahwa rata-rata memiliki gerakan yang ringan dan tangkas dan mudah bagi Swat Hong untuk mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw!

Melihat kenyataan bahwa tidak ada di antara mereka yang memperhatikan Sin Liong dan Swat Hong, hanya memandang sepintas lalu saja seperti mereka itu saling memandang, tahulah Swat Hong bahwa mereka itu bukan merupakan satu rombongan, melainkan terdiri dari banyak rombngan sehingga tentu saja mereka mengira bahwa dia dan suhengnya adalah anggauta rombongan lain.

Hati Swat Hong diliputi penuh pertanyaan. Siapakah mereka dan apa kehendak mereka itu? Apakah di Puncak Hoa-san terdapat perayaan dan mereka ini adalah para tamu yang berkujung ke Hoa-san-pai"Akan tetapi melihat sikap suhengnya diam dan tenang saja, Swat Hong merasa malu untuk bertanya dan teringatlah dia akan kata-kata suhengnya tentang permainan pikiran yang membayangkan masa depan yang menimbulkan kekhawatiran belaka. Mau tidak mau dia harus membenarkan karena kini dia merasakan sendiri. Biarlah dia hadapi apa yang sedang terjadi sebagaimana mestinya dan sebagai apa adanya tanpa merisaukan hal-hal yang belum terjadi!

Ketia akhirnya mereka tiba di Puncak Hoa-san, di depan markas perkumpulan Hoa-san-pai yang besar, Swat Hong menjadi terkejut. Di tempat itu ternyata tidak terdapat perayaan apa-apa dan kini banyak tosu dan anggauta Hoa-san-pai berkumpul dan berdiri di ruangan depan yang tinggi, sedangkan di bawah anak tangga, di halaman depan penuh dengan orang-orang kang-ouw yang bersikap menantang! Ketika dia melirik ke arah suhengnya, dia melihat Sin Liong bersikap masih biasa dan tenang, dan suhengnya ini pun memandang ke depan dengan perhatian sepenuhnya. Maka dia pun lalu memandang lagi dan dia melihat seorang tosu berambut putih dengan tenang berdiri menghadapi para orang-orang kang-ouw itu sambil menjura dengan sikap hormat lalu berkata dengan suara halus namun cukup nyaring, "Harap Cu-wi sekalian sudi memaafkan kami yang tidak tahu akan kedatangan Cu-wi maka tidak mengadakan penyambutan sebagaimana mestinya. Pinto melihat bahwa Cu-wi adalah tokoh-tokoh kang-ouw dari bermacam golongan dan tingkat, dan pada hari ini berbondong datang mengunjungi Hoa-san-pai, tidak tahu ada keperluan apakah?"

Swat Hong memandang para orang kang-ouw itu dan diantaranya banyak tokoh aneh yang tidak dikenalnya itu, dengan heran dia melihat adanya Siang-koan Houw Tee Tok, tokoh yang tinggal di Puncak Awan Merah di tai-hang-san itu!

"Suheng, itu Tee Tok berada pula di sini," bisikannya sambil menyentuh lengan suhengnya.

"Aku sudah melihatnya," kata Sin Liong perlahan, "dan yang di sebelah sana itu adalah Bhong Sek Bin yang berjuluk Thian-tok (Racun Langit). Bekas suheng dari Tee Tok, dan itu adalah Thian-he Tee-it Ciang Ham Ketua kang-jiu-pang di Secuan. yang di sana itu adalah Lam-hai Seng-jin, tosu majikan Pulau Kura-kura di Lam-hai....."

"Guru Kwee-toako?"

Sin Liong mengangguk. Swat Hong memandang penuh perhatian dan terheran-heran melihat suhengnya mengenal orang-orang yang memiliki julukan aneh-aneh itu. Thian-he Tee-it berarti Di Kolong Langit Nomer Satu! Dan Lam-hai Seng-jin berarti Manusia dari laut Selatan!

"Dan itu adalah Gin-siauw Siucai (Pelajar Bersuling Perak), seorang bertapa di Bukit Bengsan dan yang di ujung itu adalah seorang yang pernah menyerang Pulau Neraka seperti yang pernah kuceritakan kepadamu, Sumoi. Dialah Tok-gan Hai-liong

(Naga Laut Mata Satu) Koan Sek, seorang bekas bajak laut."

"Wah, begitu banyak orang pandai mendatangi Hoa-san-pai, ada apakah, Suheng?"

"Kita melihat dan mendengarkan saja."

Sementara itu, ucapan dan pertanyaan Ketua Hoa-san-pai tadi mendatangkan suasana berisik ketika para pendatang yang jumlahnya ada lima puluhan orang itu saling bicara sendiri tanpa ada yang menjawab langsung pertanyaan Ketua Hoa-san-pai. Agaknya mereka itu merasa sungkan dan saling menanti, menyerahkan jawaban kepada orang lain yang hadir di situ. Betapapun juga, para tokoh kang-ouw itu mrasa segan juga karena Hoa-san-pai terkenal sebagai sebuah perkumpulan atau partai persilatan yang besar, yang selama ini tidak pernah mencampuri urusan perebutan kekuasaan atau tidak pernah pula mencampuri urusan kang-ouw yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Orang-orang Hoa-san-pai terkenal sebagai orang-orang gagah yang disegani di dunia persilatan, maka tentu saja mereka itu diliputi perasaan sungkan.

Pek Sim Tojin yang berambut putih dan bersikap tenang itu melihat seorang kakek tinggi besar bermuka tengkorak yang menyeramkan maju ke depan, maka melihat bahwa belum juga ada yang mau menjawab, dia lalu berkata ditujukan kepada kakek tinggi besar bermuka tengkorak itu. "Kalau pinto tidak salah mengenal orang, Sicu adalah Thian-tok Bhong Sek Bin. Sicu adalah seorang yang amat terkenal di dunia kang-ouw dan mengingat bahwa kedatangan Sicu pasti mempunyai kepentingan besar, maka pinti harap Sicu suka berterus terang mengatakan apa keperluan itu."

Thian-tok Bhong Sek Bin menyeringai penuh ejekan. "Ha-ha-ha, engkau benar, Totiang! Aku adalah Bhong Sek Bin dan memang bukan percuma jauh-jauh aku datang mengunjungi Hoa-san-pai. Tentang mereka semua ini aku tidak tahu, akan tetapi kedatanganku adalah untuk bicara dengan dua orang yang bernama Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio. Suruh mereka berdua keluara bicara dengan aku dan aku tidak akan membawa-bawa Hoa-san-pai!"

Ucapan ini disambut oleh suara berisik lagi di antara para tamu, bahkan banyak kepala dianggukan tanda setuju dan di sana sini terdengar teriakan, "Suruh mereka keluar!"

Pek Sim Tojin mengerutkan alisnya dan mengelus jenggotnya yang putih. "Pinto tidak menyangkal bahwa di antara anak murid Hoa-san-pai terdapat dua orang yang bernama Liem Toan Ki dan isterinya bernama Bu Swi Nio. Akan tetapi, selama ini mereka adalah murid-murid Hoa-san-pai yang tekun dan baik, bahkan tidak pernah turun dari Hoa-san, tidak pernah melakukan keonaran di luar, apalagi membuat permusuhan dengan golongan manapun. Kini Cu-wi sekalian berbondong datang, agaknya bersatu tujuan untuk menemui mereka! Pinto sebagai ketua Hoa-san-pai yang bertanggung jawab atas semua sepak terjang murid-murid Hoa-san-pai, berhak mengetahui apa yang terjadi antara Cu-wi dengan mereka!"

hening sejenak dan agaknya semua tamu kembali merasa sungkan dan ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu, hati Swat Hong terasa tegang begitu mendengar nama Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio disebut-sebut. Dia menunjukan pandang matanya ke atas ruangan depan, namun di antara para anggauta Hoa-san-pai, dia tidak meliahat adanya kedua orang itu.

"Suheng...., agaknya mereka benar berada di sini seperti yang Suheng duga...." bisik Swat Hong dengan hati tegang, akan tetapi suhengnya memberi isyarat agar dia tenang saja.

"Sumoi, aku berpesan, kalau nanti terjadi apa-apa, kau serahkan saja kepadaku dan jangankau ikut turun tangan, ya!"

Dengan penuh kepercayaan akan kemampuan suhengnya, Swat Hong mengangguk akan tetapi hatinya berdebar penuh ketegangan. Tidak salah lagi, pikirnya yang menduga-duga, tentu orang-orang kang-ouw ini mencari Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio berhubung dengan Pusaka-pusaka Pulau Es itu! Kalau tidak demikian apalagi?

Melihat bahwa tidak ada orang yang menjawab pertanyaan Ketua Hoa-san-pai itu, Thian-he Tee-it Ciang Ham yang datang bersama lima orang muridnya, mengacungkan tombak di tangan kanannya, ke atas dan berteriak. "Totiang, sebagai Ketua Hoa-san-pai tentu saja kau berhak mengetahui sepak terjang muridmu, akan tetapi kalau urusan ini tidak menyangkut Hoa-san-pai, bagaiman kami dapat bicara denganmu? Ini adalah urusan pribadi, urusan Liem Toan Ki sendiri, maka suruh dia keluar agar kami dapat bicara dengan dia! Kalau Totiang bersikeras, berarti Hoa-san-pai akan mencampuri urusan pribadi!"

Berkerut alis Ketua Hoa-san-pai itu. Ucapan tadi, biarpun tidak secara langsung, sudah merupakan tantangan dan hanya terserah kepada Hoa-san-pai untuk melayani tantangan itu ataukah tidak. Maka dia tidak mau bertindak sembrono dan ingin melihat dulu bagaimana duduk perkaranya. Ketua Hoa-san-pai ini memang belum sempat diberi tahu oleh Liem Toan Ki dan isterinya tentang pusaka Pulau Es itu.

"Supek, biarlah teecu berdua yang menghadapi mereka!" Tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah Liem Toan Ki dan isterinya dari dalam, mereka sudah kelihatan mempersiapkan diri dengan senjata pedang di pinggang dan pakaian ringkas. Wajah mereka agak pucat, namun sikap mereka gagah dan tidak jerih.

Liem Toan Ki meloncat ke depan, Di atas ruangan depan itu berdampingan dengan istrinya, menghadapi orang-orang kang-ouw itu sambil berkata, "Sayalah Liem Toan Ki dan isteri saya Bu Swi Nio. Tidak tahu urusan apakah yang membawa Cu-wi sekalian datang mencari kami di Hoa-san?"

Hiruk pikuklah para tamu itu setelah mereka melihat sepasang suami isteri muda muncul dari dalam. Pertama-tama yang berteriak adalah Thian-tok Bhong Sek Bin, "Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio, kalian telah berani melukai muridku! Aku baru bisa mengampuni kalian kalau kalian menyerahkan pusaka-pusaka yang kaubawa itu!"

Liem Toan Ki tersenyum. "hemm, kami terpaksa melukai muridmu karena dia menyerang kami, Locianpwe. Pusaka apa yang Locianpwe maksudkan?"

"Pura-pura lagi, keparat! Pusaka Pulau Es!" teriak Thian-tok marah.

"Serahkan Pusaka Pulau Es kepada kami!"

"Kepada kami!"

"Bagi-bagi rata!"

"Dijadikan sayembara!"

Macam-macam teriakan para tokoh kang-ouw dan Liem Toan Ki mengangkat kedua lengannya ke atas. "Cu-wi sekalian, apa buktinya bahwa kami berdua menyimpan Pusaka Pulau Es?"

"Orang she Liem, kau masih berpura-pura lagi bertanya? Aku dan banyak orang melihat betapa gadis Pulau Es itu menyerahkan pusaka itu kepadamu!" Tiba-tiba terdengar suara orang yang bukan lain adalah Thio Sek Bi, murid Thian-tok yang pernah berusaha merampok pusaka itu.

Mendengar ucapan ini dan melihat munculnya murid Thian-tok dan beberapa orang bekas pengawal yang dulu ikut bertempur di istana The Kwat Lin, tahulah Toan Ki dan Swi Nio bahwa menyangkal tidak akan ada gunanya lagi.

"Kita harus mempertahankan mati-matian," bisik Swi Nio kepada suaminya yang mengangguk dan berkata dengan suara lantang,

Cu-wi sekalian! Kami berdua tidak menyangkal lagi bahwa memang kami telah dititipi pusaka oleh Nona Han Swat Hong, dua tahun yang lalu. Akan tetapi, kami tidak akan menyerahkan pusaka itu kepada siapapun juga kecuali kepada yang berhak, yaitu Nona Han Swat Hong!"

teriakan-teriakan hiruk pikuk menyambut ucapan lantang ini. "Kalau begitu, kalian akan menjadi tawananku!" Thian-tok membentak marah sambil melangkah ke depan, akan tetapi gerakannya ini segera diikuti oleh banyak orang dan jelas bahwa mereka hendak memperebutkan Liem Toan Ki dan istrinya agar menjadi orang tawanan mereka, tentu untuk dipaksa menyerahkan pusaka!

"Siancai..... harap Cu-wi bersabar dulu.....!" Tiba-tiba dengan suara yang halus namun berpengaruh, Ketua Hoa-san-pai berkata sambil mengangkat kedua tangan ke atas, "Biarkan pinto bicara dulu!"

"Totiang, kau hendak bicara apa lagi?" Thian-tok membentak marah, alisnya berdiri dan matanya melotot.

"Pinto mengaku bahwa urusan pusaka Pulau Es itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Hoa-san-pai dan Hoa-san-pai pun tidak mengetahuinya. Maka sebagai Ketua Hoa-san-pai, pinto hendak bertanya dulu kepada murid Liem Toan Ki. Ini adalah urusan dalam dari Hoa-san-pai, kiranya Cu-wi tidak akan mencampurinya!"

Terdengar teriakan-teriakan, "Silahkan! Silahkan, tapi cepat dan serahkan mereka kepada kami!"

Pek Sim Tojin lalu menghadapi Liem Toan Ki dan bertanya, "Toan Ki, apa artinya ini semua? Benarkah kalian menyembunyikan Pusaka Pulau Es di Hoa-san-pai?"

Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ketua Hoa-san-pai itu. Liem Toan Ki segera berkata, "Harap Supek mengampunkan teecu berdua. Adalah mendiang Twa-supek yang mengijinkan teecu berdua dan Beliau yang melarang teecu berdua menceritakan kepada siapapun juga, bahkan Beliau yang membantu teecu berdua dalam hal ini. Karena sekarang mereka telah mengetahuinya dan hendak menggunakan paksaan, biarlah teecu berdua menghadapinya sendiri tanpa membawa-bawa Hoa-san-pai." Setelah berkata demikian, Toan Ki dan Bu Swi Nio meloncat bangun, mencabut pedang dan berkatalah Toan Ki dengan suara lantang, "Haiiii, kaum kang-ouw dengarlah! Urusan ini adalah urusan kami berdua suami isteri, bukan sebagai murid Hoa-san-pai, maka kalau kalian begitu tidak tahu malu hendak merampas Pusaka Pulau Es, biar kami menghadapi kalian sampai titik darah penghabisan!"

"Keparat, aku tidak membiarkan kau mapus sebelum kalian menyerahkan pusaka itu." Thian-tok membentak.

"Tahan!" Tiba-tiba Pek Sim Tojin membentak dan sikapnya angker sekalil. "Cu-wi sekalian sungguh terlalu, memperebutkan pusaka milik orang lain dan sama sekali tidak memandang mata kepada Hoa-san-pai, hendak membikin ribut di sini. Siapa saja tidak akan pinto ijinkan untuk menggunakan kekerasan di Hoa-san-pai!"

"Tepat sekali! Aku Tee-tok Siangkoan Houw pun bukan seorang yang tak tahu malu! Aku tidak akan membolehkan siapa pun menjamah Pusaka Pulau Es yang menjadi milik Nona Han Swat Hong!" Tiba-tiba tokoh Tai-han-san yang tinggi besar itu sudah melompat ke atas ruangan luar dan mendampingi Toan Ki dan Swi Nio dengan sikap gagah!

"ha-ha-ha, itu baru namanya laki-laki sejati! Tee-tok, kau membikin aku merasa malu saja! Aku pun tua bangka yang tidak berguna mana ingin memperebutkan pusaka orang lain? Aku pun tidak membiarkan siapa pun memperebutkan pusaka itu!" Lam-hai Seng-jin, guru Kwee Lun, tosu yang bersikap halus dengan tangan kiri memegang kipas dan tangan kanan memegang hudtim (kebutan pertapa), telah melangkah ke ruangan depan mendampingi Tee-tok.

"Masih ada aku yang menentang orang-orang kang-ouw tak tahu malu hendak merampas pusaka lain orang!" Tampak bayangan berkelebat disertai suara halus melengking dan diruang depan itu nampak Gin-siauw Siucai Si Sastrawan yang bersenjata suling perak dan mauwpit!

Melihat ini Thian-tok tertawa bergelak dengan hati penuh kemarahan, apalagi melihat bekas sutenya, Tee Tok, memelopori lebih dulu membela Hoa-san-pai dan murid Hoa-san-pai yang membawa Pusaka Pulau Es yang amat dikehendakinya. "Ha-ha-ha! Kalian pura-pura menjadi pendekar budiman? Hendak kulihat sampai di mana kepandaian kalian!" Thian-tok sudah lari ke depan, diikuti oleh banyak tokoh kang-ouw lagi dan dapat dibayangkan betapa tentu sebentar akan terjadi perang kecil yang amat hebat antara para anggauta Hoa-san-pai dibantu oleh tiga tokoh kang-ouw itu melawan para orang kang-ouw yang memperebutkan pusaka.

"Tahan....!"

Seruan ini halus dan ramah, tidak mengandung kekerasan sesuatu pun, akan tetapi anehnya, semua orang merasa ada getaran yang membuat mereka menghentikan gerakan mereka mencabut senjata dan kini semua mata memandang ke arah ruangan depan itu karena tadi ada berkelebat dua sosok bayangan orang ke arah situ.

Ternyata Sin Liong dan Swat Hong telah berdiri di ruangan depan markas Hoa-san-pai. Dengan sikap tenang sekali Sin Liong menghadapi semua orang, terutama sekali memandang tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang hadir, dan yang semua memandang kepadanya dengan mata terbelalak, kemudian terdengar pemuda ini berkata, "Cu-wi Locian-pwe mengapa sejak dahulu sampai sekarang gemar sekali memperebutkan sesuatu?"

Thian-tok Bhong Sek Bin yang berwatak kasar memandang dengan terbelalak, demikian pula Thian-he Tee-it Ciang Ham, Lam-hai Seng-jin, Gin-siauw Siucai dan para tokoh lain yang belasan tahun lalu pernah hendak memperebutkan bocah ajaib, Sin-tong yang bukan lain adalah Sin Liong sendiri. Mereka merasa kenal dengan pemuda ini, akan tetapi lupa lagi.

"Ka...... kau siapakah.....?" akhirnya Thian-tok bertanya.

"Ha-ha-ha, kalian lupa lagi siapa dia ini?" Tiba-tiba Tee Tok Siangkoan Houw berseru keras, hatinya girang dan lega bukan main bahwa dia tadi tidak ragu-ragu melindungi Pusaka Pulau Es. Melihat munculnya pemuda yang dia tahu memiliki kelihaian yang luar biasa itu, dia girang sekali. "Coba lihat dengan baik-baik, belasan tahun yang lalu di lereng Pegunungan jeng-hoa-san kalian juga memperebutkan sesuatu. Siapa dia?"

"Sin-tong....!"

"Bocah ajaib......!!"

Teringatlah mereka semua dan kini memandang Sin Liong dengan mata terbelalak. "Mau apa kau datang ke sini?" thian-tok bertanya dengan suara agak berkurang galaknya.

Sin Liong sudah menjura kepada Ketua Hoa-san-pai, kepada Tee tok dan lain tokoh yang tadi membela Hoa-san-pai, diikuti oleh Swat Hong kemudian Swat Hong berkata kepada Toan Ki dan Swi Nio, "Terima kasih kami haturkan kepada Ji-wi (Kalian Berdua) yang ternyata adalah orang-orang gagah yang pantas dipuji dan dikagumi kesetiaan dan kegagahannya. Sekarang saya harap Ji-wi suka mengembalikan pusaka-pusaka itu kepadaku."

Toan Ki dan Swi Nio menjura an Toan Ki menjawab, "Harap Lihiap suka menanti sebentar." kemudian pergilah dia bersama Swi Nio ke sebelah dalam, diikuti pandang mata Ketua Hoa-san-pai yang menjadi terheran-heran.

"Mau apa kalian dua orang muda datang ke sini?" kembali Thian-tok bertanya.

"Harap Locianpwe ketahui bahwa kami berdua adalah penghuni Pulau Es yang datang untuk mengambil kembali Pusaka Pulau Es. Pusaka itu adalah milik Pulau Es dan harus dikembalikan ke sana."

"Penghuni Pulau Es....??" Suara ini bukan hanya keluar dari mulut para tamu, tetapi juga dari pihak Hoa-san-pai dan mereka yang membelanya, kecuali Tee Tok Siangkoan Houw yang sudah tahu akan keadaan pemuda dan pemudi itu.

Tak lama kemudian muncullah Toan Ki dan Swi Nio. Toan Ki membawa bungkusan yang dulu dia terima dari Swat Hong, lalu menyerahkan bungkusan itu kepada Swat Hong sambil menjura dan berkata, "Dengan ini kami mengembalikan pusaka yang Lihiap titipkan kepada kami dengan hati lega!" Memang hatinya lega dan girang sekali dapat terlepas dari tanggung jawab yang amat berat itu.

Swat Hong membuka dan meneliti pusaka-pusaka itu. Melihat bahwa pusaka itu masih lengkap, dia makin kagum. "Suheng tidak pantas kalau kita tidak membalas budi mereka ini."

Sin Liong tersenyum, mengangguk, kemudian dia berkata kepada Thian-tok dan lain tamu yang masih memandang dengan bengong dan kini dari mata mereka itu terpancar ketegangan dan keinginan besar. Setelah Pusaka Pulau Es yang terkenal itu tampak di depan mata, mana mungkin mereka mundur begitu saja tanpa usaha untuk mendapatkannya?

"Cu-wi Locianpwe jauh-jauh datang ke sini, harap suka memaklumi bahwa pusaka-pusaka ini telah kembali ke pemiliknya dan akan dikembalikan ke Pulau Es. Maka kami berdua mengharap sudilah Su-wi tidak mengganggu lagi Hoa-san-pai dan suka meninggalkan tempat ini."

"Kami harus mendapatkan pusaka itu!"

"Kami juga!"

"Kami minta bagian!"

Teriakan-teriakan itu terdengar riuh rendah dan Sin Liong lalu berkata lagi dengan halus, "Kami berdua akan berada di sini selama tiga hari, kemudia kami akan meninggalkan Hoa-san-pai. Kalau kita tidak berada di sini, masih belum terlambat bagi kita untuk bicara lagi tentang pusaka. Amatlah tidak baik bagi nama Cu-wi Locianpwe kalau mengganggu Hoa-san-pai yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini. Nanti kalau kami sudah meninggalkan Hoa-san-pai, boleh kita bicara lagi."

Melihat sikap orang-orang Hoa-san-pai, dan sekarang sudah jelas bahwa pusaka itu berada di tangan Sin-tong dan dara muda itu, Thian-tok lalu mendengus dan berkata, "Baik, kami menanti di bawah bukit. Kalian berdua tidak akan dapat terbang lalu."

Pergilah mereka itu meninggalkan Hoa-san-pai, akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa mereka tentu akan mengurung tempat itu dan tidak akan membiarkan Sin Liong dan Swat Hong lolos dari situ membawa pergi pusaka-pusaka Pulau Es yang amat mereka inginkan itu.

Sin Liong lalu menjura kepada Ketua Hoa-san-pai, para tokoh Hoa-san-pai, Toan Ki dan Swi Nio, juga kepada Tee Tok dan mereka yang tadi membela Hoa-san-pai, kemudian berkata, "Terutama kepada Saudara Liem Toan Ki dan Nyonya, sudah sepantasnya kalau kami meninggalkan sedikit ilmu untuk Jiwi pelajari. Dan kepada para Locianpwe, kiranya akan ada manfaatnya kalau saya melayani para Locianpwe main-main sedikit untuk memperluas pengetahuan ilmu silat."

Semua orang menjadi ragu-ragu karena tidak tahu akan maksud hati pemuda yang aneh itu, akan tetapi Tee-tok Siangkoan Houw sudah tertawa bergelak lalu meloncat ke halaman depan. "Marilah, ingin aku tua bangka ini memperdalam sdikit kepandaianku!"

Sin Liong tersenyum lalu melangkah perlahan ke pekarangan. "Silahkan Siangkoan Locianpwe menggunakan Pek-liu-kun (Ilmu Silat Tangan Geledek)!" katanya tenang. "Harap Locianpwe jangan sungkan dan keluarkanlah jurus-jurus simpanan dari Pek-liu-kun!"

Tee Tok sudah maklum akan kehebatan pemuda ini, dan setelah dua tahun tidak jumpa, kini sikap pemuda ini luar biasa sekali, bahkan dengan kata-kata biasa saja pemuda itu sudah mengundurkan semua orang yang tadi sudah bersitegang hendak menggunakan kekerasan. Dia dapat menduga bahwa bukanlah percuma pemuda ini mengajak dia berlatih silat, tentu ada niat-niat tertentu. Karena dia merasa bahwa dia tidak mempunyai maksud jahat dan tadi membela Pusaka Pulau Es dengan sungguh hati, dia kini pun tanpa ragu-ragu lagi lalu mengeluarkan gerengan keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan sepenuh tenaga dan perhatiannya, dia menyerang pemuda itu dengan jurus-jurus simpanan dari Ilmu Silat Pek-lui-kun yang dahsyat.

"Haiiittt..... eihhh.....?" Bukan main heran dan kagetnya ketika melihat pemuda itu menghadapi dengan gerakan-gerakan yang sama! Tiap jurus yang dimainkannya, dihadapi oleh Sin Liong dengan jurus yang sama pula dan dipakai sebagai serangan balasan namun dengan cara yang sedemikian hebatnya sehingga jurus yang dimainkannya itu tidak ada artinya lagi! Jurus yang dimainkan oleh pemuda itu untuk menghadapinya jauh lebih ampuh, dan sekaligus menutup semua kelemahan yang ada, menambah daya serang yang amat hebat sehingga dalam jurus pertama saja, kalau pemuda itu menghendaki, tentu dia sudah dirobohkan sungguhpun dia sudah hafal benar akan jurusnya sendiri itu!

Bukan main girang hati kakek itu. Dia terus menyerang lagi dengan jurus lain, dan sama sekali dia menggunakan delapan belas jurus terampuh dari Pek-lui-kun dan yang kesemuanya selain dapat dihindarkan dengan baik oleh Sin Liong, juga telah dengan sekaligus "diperbaiki" dengan sempurna. Semua gerakan ini dicatat oleh Tee Tok dan setelah dia selesai mainkan delapan belas jurus pilihan itu, dia melangkah mundur dan menjura sangat dalam ke arah Sin Liong.

"Astaga.... kepandaian Taihiap seperti dewa saja......., saya...... saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Taihiap....." katanya agak tergagap.

"Ah, Locianpwe terlalu merendah," jawab Sin Liong.

Tee Tok lalu menjura ke arah Ketua Hoa-san-pai dan yang lain-lain, seketika pamit dan pergi dengan langkah lebar dan wajah termenung karena dia masih terpesona dan mengingat-ingat gerakan-gerakan baru yang menyempurnakan delapan belas jurus pilihannya tadi!

Lam Hai Seng-jin bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh kawakan yang berilmu tinggi. Melihat peristiwa tadi, tahulah dia bahwa pemuda ini memang bukan orang sembarangan dan agaknya telah mewarisi ilmu mujijat yang kabarnya dimiliki oleh penghuni Pulau Es. Maka dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan dai sudah meloncat maju dengan senjata hudtim dan kipasnya. "Orang muda yang hebat, kauberilah petunjuk kepadaku!"

"Totiang, muridmu Kwee Lun Toako adalah sahabat baik kami, harap Totiang sudi mengajarnya baik-baik," jawab Sin Liong dan dia pun segera menghadapi serangan kipas dan hudtim dengan kedua tangannya. Biarpun dia tidak menggunakan kedua senjata itu, namun kedua tangannya digerakan seperti kedua senjata itu, dan dia pun mainkan jurus-jurus yang sama, namun gerakannya jauh lebih hebat, bahkan sempurna. Seperti juga tadi, kakek ini memperhatikan dan dia telah menghafal dua puluh jurus campuran ilmu hudtim dan kipas.

"Terima kasih, terima kasih..... Siancai, pengalaman ini takkan kulupakan selamanya." Dia menjura kepada yang lain lalu berlari pergi.

"Totiang, sampaikan salamku kepada Kwee-toako!" seru Swat Hong, akan tetapi kakek itu hanya mengangguk tanpa menoleh karena dia pun sedang mengingat-ingat semua jurus tadi agar tidak sampai lupa.

Berturut-turut Gin-siauw Siucai juga menerima petunjuk ilmu silat suling perak dan mauwpitnya, kemudian Ketua Hoa-san-pai juga menerima petunjuk ilmu pedang Hoasan-kiamsut.

para tokoh kang-ouw yang mengurung tempat itu di lereng puncak, terheran-heran melihat tiga orang tokoh itu meninggalkan puncak seperti orang yang termenung. Akan tetapi diam-diam mereka menjadi girang karena tiga orang lihai itu tidak membantu atau mengawal muda-mudi Pulau Es yang mereka hadang.

Tiga hari lamanya Sin Liong dan Swat Hong tinggal di Hoa-san, setiap hari menurunkan ilmu-ilmu tingi kepada Toan Ki dan Swi Nio sehingga kedua orang suami isteri ini kelak akan menjadi tokoh-tokoh kenamaan dan mengangkat nama Hoa-san-pai sebagai partai persilatan yang besar dan lihai. Pada hari ke empatnya, pagi-pagi mereka meninggalkan markas Hoa-san-pai, diantar sampai ke pintu gerbang oleh Ketua Hoa-san-pai, Toan Ki, Swi Nio dan para pimpinan Hoa-san-pai.

"Taihiap, Lihiap, pinto khawatir Jiwi akan mengalami gangguan di jalan. Menurut laporan para anak murid pinto, orang-orang kang-ouw itu maish menanti di lereng gunung." Pek Sim Tojin berkata dengan alis berkerut. "Bagaimana kalau kami mengantar Ji-wi sampai melewati mereka dengan selamat?"

Sin Liong tersenyum. "Terima kasih, Locianpwe. Akan tetapi, menghindari mereka berarti membuat mereka terus merasa penasaran. Sebaiknya malah kalau kami berdua menemui mereka dan membereskan persoalan seketika juga."

Toan Ki dan Swi Nio yang selama tiga hari menerima petunjuk dari Sin Liong, telah menaruh kepercayaan penuh akan kesaktian pemuda Pulau Es ini, maka mereka tidak merasa khawatir. Mereka maklum bahwa pemuda dan gadis dari Pulau Es itu bukanlah manusia sembarangan, apalagi pemuda itu memiliki wibawa yang tidak lumrah manusia, gerak-geriknya demikian penuh kelembutan, penuh belas kasih sehingga tidaklah mungkin dapat terjadi sesuatu yang buruk menimpa seorang manusia seperti ini!

Memang benar seperti yang dilaporkan oleh anak buah Hoa-san-pai bahwa para tokoh kang-ouw itu, dipelopori oleh Thian-tok, masih menghadang di lereng puncak. Thian-tok yang tadinya mengandalkan kepandaiannya sendiri, setelah menyaksikan betapa pemuda dan dara Pulau Es itu telah mendapatkan kembali pusaka-pusakanya, diam-diam telah mengajak semua tokoh lain bersekutu dengan janji bahwa kalau pusaka dapat dirampas, dia akan membri bagian kepada mereka semua. Terutama yang menjadi pembantunya sebagai orang ke dua adalah Thian-he Tee-it Ciang Ham yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih atau kalah sedikit saja dibandingkan dengan kepandaian Racun Langit itu.

Maka ketika Sin Liong yang membawa pusaka di punggungnya bersama Swat Hog berjalan berlahan dan tenang melalui tempat itu, segera para tokoh kang-ouw itu muncul dan telah mengurung dua orang muda itu dengan ketat, mempersiapkan senjata masing-masing dengan sikap mengancam.

"Ha-ha-ha!" Thian-tok tertawa bergelak sambil melintangkan senjata tongkat panjang Kim-kauw-pang. "Engkau memang seorang muda yang memegang janji. Jangan kepalang dengan sikap baikmu itu, orang muda. Serahkan saja pusaka di punggungmu itu secara baik-baik kepada kami, dan percayalah, kami tidak akan mengganggu kalian lagi, bahkan kalau kalian suka, aku Thian-tok Bhong Sek Bin mau menerima kalian menjadi muridku!"

"Sin Liong itu memang patut menjadi muridmu, Thian-tok. Akan tetapi Nona ini biarlah aku yang mendidiknya, heh-heh-heh!" Thian-he Tee-it Ciang Ham berkata terkekeh dengan sikap ceriwis. Biasanya orang ini pendiam, keras dan kasar, akan tetapi menghadapi pusaka-pusaka Pulau Es di depan mata, dia merasa tegang sekali dan memaksa diri berkelakar sehingga kelihatan ceriwis dan tidak pantas.

Swat Hong sudah menjadi merah mukanya akan tetapi Sin Liong tersenyum kepadanya dan seketika lenyaplah perasaan maranya tadi. Dia diam saja, memandang dengan sikap tenang, menyerahkan semua kepada suhengnya. Pemuda itu lalu menghadapi mereka dan berkata, "Sekarang kita tidak mengganggu dan menyeret Hoa-san-pai dalam urusan kita, dan memang sebaiknya kalau kita selesaikan rasa penasaran yang mengganggu Cu-wi sekalian. Sebenarnya, apakah yang Cu-wi kehendaki?"

"Apalagi? Kami minta semua pusaka itu diberikan kepada kami!" Thian-tok berkata dengan suara lantang.

Sin Liong menggeleng-gelengkan kepala. "Hal itu tidak bisa dilakukan, Cu-wi Locianpwe. Pusaka-pusaka ini adalah milik Pulau Es turun-temurun, mana mungkin sekarang diserahkan kepada orang lain? Setelah kami berdua berhasil menemukannya kembali, kami harus mengembalikannya kepada Pulau Es, tempatnya semula. Maka harap Cu-wi suka memaklumi hal ini dan tidak memaksa kepada kami."

"Orang muda yang keras kepala! Kalau kami memaksa, bagaimana?"

"Terserah kepada Cu-wi sekalian. Sumoi, harap Sumoi suka pergi dulu ke pinggir, jangan menghalangi para Locianpwe ini."

Swat Hong mengangguk dan tersenyum, kemudian tubuhnya berkelebat dan terkejutlah semua orang kang-ouw itu ketika melihat gadis itu meloncat seperti terbang saja, melayang melalui kepala mereka dan kini telah berdiri di luar kepungan! Sungguh merupakan bukti kepandaian ginkang (Ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat!

Sin Liong sengaja menyuruh sumoinya pergi keluar dari kepungan karena tidak menghendaki sumoinya itu naik darah dan turun tangan menggunakan kekerasan terhadap orang-orang kang-ouw ini. Setelah kini melihat sumoinya keluar dari kepungan, dia lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berkata, "Silahkan kepada Cu-wi apa yang hendak Cu-wi lakukan setelah jelas kukatakan bahwa Pusaka Pulau Es tidak akan kuberikan kepada Cu-wi."

Melihat sikap tenang dan penuh tantangan ini, para tokoh kang-ouw menjadi marah juga. Pemuda itu tidak memegang senjata, berdiri dalam kepungan dan pusaka itu berada di dalam buntalan yang berada di punggungnya. Maka serentak orang-orang kang-ouw yang sudah mengilar dan ingin sekali merampas pusaka itu menerjang maju dan berebut hendak menyerang Sin Liong dan mengulur tangan hendak merampas buntalan. Pemuda itu hanya berdiri tersenyum, berdiri tegak dan menyilangkan kedua lengannyasambil memandang tanpa berkedip mata.

"Ahhh....!"

"Hayaaa.....!"

"Aihhhh.....!"

Semua orang terhuyung-huyung mundur karena belum juga tangan mereka menyentuh pemuda itu, hati mereka sudah lemas dan luluh menghadapi wajah yang tersenyum itu, tangan mereka seperti lumpuh dan tenaga mereka seperti lenyap seketika membuat mereka terhuyung dan hampir jatuh saling timpa!

Thian-tok dan Thian-he Tee-it menjadi kaget dan marah sekali melihat keadaan teman-teman mereka itu. Kedua orang itu berilmu tinggi ini memang membiarkan teman-teman mereka turun tangan lebih dulu untuk menguji kepandaian pemuda yang keadaannya amat mencurigakan karena terlampau tenang itu. Kini melihat betapa teman-temannya mundur tanpa pemuda itu menggerakkan sebuah jari tangan pun, kedua orang itu terkejut marah dan penasaran. Thian-tok menerjang ke depan dengan senjata Kim-kauw-pang di tangannya, sedangkan Ciang Ham juga sudah meloncat dekat dengan senjata tombak di tangan.

"Orang muda, serahkan pusaka itu!" Thian-tok membentak.

"Sin-tong, jangan sampai terpaksa aku menggunakan tombak pusakaku!" Ciang ham juga menghardik.

Akan tetapi Sin Liong tetap tidak bergerak hanya berkata, "Terserah kepada Ji-wi Locianpwe, Ji-wi yang melakukan dan Ji-wi pula yang menanggung akibatnya."

"Keras kepala!" Thian-tok membentak dan tongkatnya yang panjang sudah menyambar ke arah kepala pemuda itu. Sin Liong sama sekali tidak mengelak, bahkan berkedip pun tidak ketika melihat tongkat itu menyambar ke arah kepalanya, disusul tombak di tangan Thian-he Tee-it Ciang Ham yang menusuk ke arah lambungnya.

"Desss! Takkkk!!"

"Aihhh.......!"

"Heiiii....."

Thian-tok Bhong Sek Bin dan Thian-he Tee-it Ciang ham berteriak kaget dan meloncat ke belakang.Tongkat itu tepat mengenai kepala dan tombak itu pun tepat menusuk lambung, namun kedua senjata itu terpental kembali seperti mengenai benda yang amat kuat, bahkan telapak tangan mereka terasa panas! Tentu saja mereka merasa penasaran, biarpun ada rasa ngeri di dalam hati mereka. Pada saat itu, orang-orang kang-ouw lainnya yang melihat betapa dua orang lihai itu sudah menyerang dengan senjata, juga menyerbu ke depan.

Sin Liong tetap diam saja ketika belasan batang senjata yang bermacam-macam itu datang bagaikan hujan menimpa tubuhnya. Semua senjata tepat mengenai sasaran, akan tetapi tidak ada sedikit kulit tubuh pemuda itu yang lecet, kecuali pakaiannya yang robek-robek dan orang-orang itu terpelanting ke sana-sini, bahkan ada yang terpukul oleh senjata mereka sendiri yang membalik. Makin keras orang menyerang, makin keras pula senjata mereka membalik. Bahkan Thian-tok sudah mengelus kepalanya yang benjol terkena kemplangan tongkatnya sendiri, sedangkan paha Ciang ham berdarah karena tombaknya pun membalik tanpa dapat ditahannya lagi ketika mengenai tubuh Sin Liong untuk yang kedua kalinya.

Ketika mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Sin Liong, mereka melihat pemuda itu masih tersenyum-senyum, masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada, hanya bedanya, kini pakaiannya robek-robek dan penuh lobang.

Thian-tok dan Thian-he Tee-it adalah orang-orang yang terkenal di dunia persilatan sebagai tokoh-tokoh besar yang sudah banyak mengalami pertempuran. Mereka tahu pula bahwa orang yang memiliki sinkang amat kuat dapat menjadi kebal, akan tetapi selama hidup mereka belum pernah menyaksikan kekebalan seperti yang dihadapi mereka sekarang ini. Kekebalan yang agaknya tanpa disertai pengerahan tenaga. Apalagi melihat cahaya aneh seperti melindungi tubuh pemuda itu, mereka maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Tanpa melawan saja pemuda ini telah membuat mereka tidak berdaya, betapa hebatnya kalau pemuda ini mengangkat tangan membalas!

"Maafkan kami......!" Thian-tok berseru lalu melompat dan berlari pergi.

"Sin-tong, maafkan......!" Ciang Ham juga berkata lalu menyeret tombaknya, terpincang-pincang pergi dari situ.

Tentu saja para tokoh lain yang memang sudah merasa ngeri dan jerih, melihat kedua orang yang diandalkan itu lari, cepat membalikkan tubuh dan berserabutan lari dari situ meninggalkan Sin Liong yang masih berdiri tegak di tempat itu.

Swat Hong lari menghampiri suhengnya, lalu memeluk suhengnya itu. "Suheng......., kau tidak apa-apa......?" tanyanya.

Sin Liong menggeleng kepala dan tersenyum.

"Pakaianmu hancur......"

"Pakaian rusak mudah diganti, akhlak yang rusak lebih menyedihkan lagi karena mendatangkan malapetaka."

"Suheng, kau......"

"Ada apakah, Sumoi......?"

Swat Hong menggelengkan kepala dan dia melepaskan rangkulannya, melangkah mundur dua tindak dan memandang suhengnya dengan pandang mata penuh takjub dan juga jerih. "Suheng, kau...... kau berbeda dari dulu......."

"Aih, Sumoi, aku tetap Sin Liong suhengmu yang dahulu."

"Tidak, tidak.....! kau berbeda sekali. Ilmu apakah yang kau pergunakan tadi? Mendiang Ayahku sekalipun tidak pernah memperlihatkan ilmu mujijat seperti itu........"

"Apakah keanehannya, Sumoi? Ilmu yang berdasarkan kekerasan tentu hanya mengakibatkan pertentangan dan kerusakan belaka, dan setiap bentuk kekerasan hanya akan mecelakakan diri sendiri."

"Suheng, ajarilah aku ilmu tadi....."

"Tidak ada yang bisa mengajar, kelak kau akan mengerti sendiri, Sumoi. marilah kita lanjutkan perjalanan kita."

Setelah berkata demikian, Sin Liong memegang tangan sumoinya dan terdengar jerit tertahan dara itu ketika dia merasa bahwa dia dibawa lari oleh suhengnya dengan kecepatan seperti terbang saja! Dia sendiri adalah seorang ahli ginkang yang memiliki ilmu berlari cepat cukup luar biasa, akan tetapi apa yang dialaminya sekarang ini benar-benar seperti terbang, atau seperti terbawa oleh angin saja! Makin yakinlah hatinya bahwa suhengnya telah menjadi seorang yang amat luar biasa kesaktiannya, menjadi seorang manusia dewa! Gerakan pembalasan yang dilakukan oleh Kaisar Kerajaan Tang yang baru, yaitu kaisar Su Tiong, yang dilakukan dari Secuan, amat hebat. Gerakan pembalasan untuk merampas kembali ibu kota Tiang-an dari tangan pemberontak ini dibantu oleh pasukan yang dapat dikumpulkan di Tiongkok bagian barat, dibantu pula oleh pasukan Turki, bahkan pasukan Arab. Dengan bala tentara yang besar dan kuat, Kaisar Su Tiong melakukan serangan balasan terhadap pemerintah pemberontak yang tidak lagi dipimpin oleh An Lu Shan karena jenderal pemberontak itu telah tewas.

Perang hebat terjadi selama sepuluh tahun, dan di dalam perang ini, para pemberontak dapat dihancurkan dan kota demi kota dapat dirampas kembali sampai akhirnya ibu kota dapat direbut kembali oleh Kaisar Su Tiong. Di dalam perang ini, Han Bu Ong putera The Kwat Lin yang bersama orang-orang kerdil membantu pemerintah pemberontak, tewas pula dalam pertempuran hebat sampai tidak ada orang pun orang kerdil tinggal hidup.

Dalam tahun 766 berakhirlah perang yang mengorbankan banyak harta dan nyawa itu, namun kerajaan Tang telah menderita hebat sekali akibat perang yang mula-mula ditimbulkan oleh pemberontak An Lu Shan itu. Kematian yang diderita rakyat, pembunuhan-pembunuhan biadab yang terjadi di dalam perang selama pemberontakan ini adalah yang terbesar menurut catatan sejarah. Menurut catatan kuno, tidak kurang dari tiga puluh lima juta manusia tewas selama perang yang biadab itu! Bukan hanya kerugian harta dan nyawa saja, akan tetapi juga setelah perang berakhir, Kerajaan Tang kehilangan banyak kekuasaan atau kedaulatannya! Bantuan-bantuan yang diterima oleh Kaisar di waktu merebut kembali kerajaan, membuat Kaisar terpaksa membagi-bagi daerah kepada para pembantu yang diangkat menjadi gubernur-gubernur yang lambat laun makin besar kekuasaannya dan seolah-olah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat sendiri.

Di samping itu, pemberontak An Lu Shan membentuk pasukan-pasukan yang ketika pemberontak dihancurkan, melarikan diri ke perbatasan dan menjadi pasukan-pasukan liar yang selalu merupakan gangguan terhadap kekuasaan pemerintah.

Demikianlah, dengan dalih apapun juga, pemberontakan lahiriah hanya mendatangkan kerusakan dan malapetaka, karena tidaklah mungkin perdamaian diciptakan oleh perang! Menurut sejarah di seluruh dunia, tidak pernah ada revolusi jasmani mendatangkan perdamaian dan kesejahteraan. Kiranya hanyalah revolusi batin, revolusi yang terjadi di dalam diri setiap orang manusia, yang akan dapat mengubah keadaan yang menyedihkan dari kehidupan manusia di seluruh dunia ini.

Dengan tewasnya Han Bu Hong di dalam perang itu, maka habislah semua tokoh yang keluar dari Pulau Es dan Pulau Neraka. Yang tinggal hanyalah Sin Liong dan Swat Hong berdua saja, akan tetapi kedua orang ini pun sudah kembali ke Pulau Es dan semenjak peristiwa di Hoa-san-pai itu, tidak ada lagi yang tahu bagaimana keadaan kedua orang itu dan, di mana adanya mereka!

Yang jelas, Pulau Es masih ada dan kedua orang suheng dan sumoi yang saling mencinta itu pun masih hidup. Buktinya, beberapa tahun kemudian kadang-kadang mereka itu muncul sebagai manusia-manusia sakti menyelamatkan belasan orang nelayan yang perahunya diserang badai. Didalam kegelapan selagi badai mengamuk dahsyat itu, ketika perahu-perahu mereka dipermainkan badai dan nyaris terguling, tiba-tiba muncul sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita cantik, dan kedua orang ini dengan kesaktian luar biasa menggunakan tali untuk menjerat perahu-perahu itu kemudian menariknya keluar dari daerah yang diamuk badai!

Apakah mereka itu Sin Liong dan Swat Hong, tidak ada orang yang mengetahuinya karena setiap kali muncul menolong para nelayan dan para penghuni pulau-pulau yang berada di utara, kedua orang itu tidak pernah memperkenalkan nama mereka.

Kalau benar mereka itu adalah Sin Liong dan Swat Hong, bagaimanakah jadinya dengan mereka? Apakah suheng dan sumoi yang saling mencinta dan yang telah kembali ke Pulau Es itu langsung menjadi suami isteri? Hal ini pun tidak ada yang tahu, karena agaknya bagi mereka berdua, menjadi suami isteri atau bukan adalah hal yang tidak penting lagi. Diri mereka telah dipenuhi oleh cinta kasih, bukan cinta kasih yang biasa melekat di bibir manusia pada umumnya, karena cinta kasih seperti itu telah diselewengkan artinya, cinta kasih kita manusia hanya akan mendatangkan kesenagan dan kesusahan belaka dan justeru karena cinta kasih kita itu mendatangkan kesenangan maka dia mendatangkan pula kesusahan karena kesenangan dan kesusahan adalah saudara kembar yang tak mungkin dapat dipisah. Menerima yang satu harus menerima pula yang ke dua, yang mau menikmati kesenangan harus pula mau menderita kesusahan. Tidak, cinta kasih mereka bukan seperti cinta kasih palsu yang kita punyai! Pernah ada seorang anak nelayan yang diwaktu malam hari, ketika perahunya diayun-ayun gelombang kecil dan dia sedang menggantikan ayahnya yang tertidur untuk menjaga kail, mendengar nyanyian halus yang dinyanyikan oleh seorang wanita cantik di atas perahu dan yang kelihatan remang-remang di bawah sinar bulan purnama di malam itu. Anak yang cerdas ini masih teringat akan bunyi nyanyian itu seperti berikut: "Langit, Bulan dan Lautan kalian mempunyai Cinta kasih namun tak pernah bicara tentang Cinta kasih! Kasihanilah manusia yang miskin dan haus akan Cinta Kasih, bertanya-tanya apakah Cinta Kasih itu? Bilamana tidak ada ikatan tidak ada pamerih dan rasa takut tidak memiliki atau dimiliki tidak menuntut dan tidak merasa memberi. Tidak menguasai atau dikuasai tidak ada cemburu, iri hati tidak ada dendam dan amarah tidak ada benci dan ambisi. Bilamana tidak ada iba diri tidak mementingkan diri pribadi, bilamana tidak ada "Aku" barulah ada Cinta Kasih........" Puluhan tahun, bahkan seratus tahun kemudian di dunia kang-ouw timbul semacam cerita setengah dongeng tentang seorang manusia dewa yang mereka sebut Bu Kek Siansu, seorang laki-laki tua yang sederhana namun yang pribadinya penuh cinta kasih, cinta kasih terhadap siapa pun dan apa pun. Bu Kek Siansu yang dikenal sebagai tokoh Pulau Es dan menurut cerita tradisi dari keturunan tokoh-tokoh seperti Tee Tok Siangkoan Houw, Lam Hai Sengjin dan muridnya, Kwee Lun, Gin-siauw Siucai, tokoh-tokoh Hoa-san-pai, katanya bahwa Bu Kek Siansu itu adalah anak yang dahulu disebut Sin-tong (Anak Ajaib), yaitu pemuda Kwa Sin Liong yang menghilang bersama sumoinya, Han Swat Hong, dan yang kabarnya menetap di Pulau Es, tidak pernah lagi terjun ke dunia ramai. Dan memang seorang manusia seperti Bu Kek Siansu tidak pernah mau menonjolkan diri, selalu bergerak tanpa pamrih, hanya digerakan oleh cinta kasih. Maka kita pun tidak mungkin dapat mengikuti seorang manusia seperti Bu Kek Siansu, dan hanya kadang-kadang saja dapat melihat muncul di antara orang banyak, dan di dalam dunia persilatan, Bu Kek Siansu akan muncul di dalam ceritera "Suling Emas".

Demikinlah, terpaksa pengarang menutup cerita "Bu Kek Siansu" ini yang hanya dapat menceritakan pengalaman pemuda Kwa Sin Liong sewaktu dia belum menjadi seorang Bu Kek Siansu, sewaktu dia belum memiliki cinta kasih sehingga masih diombang-ambingkan oleh suka dan duka dalam kehidupannya. Dengan mengenangkan isi nyanyian yang dinyanyikan oleh anak nelayan itu, penulis mengajak para Pembaca Budiman untuk sama-sama mempelajari dan mudah-mudahan kita pun akan memiliki Cinta Kasih melalui pengenalan diri pribadi. Teriring salam bahagia dari pengarang dan sampai jumpa kembali di lain cerita, yaitu : SULING EMAS.

TAMAT